Till The End Of Time [ Inuyasha Fanfiction ]

Till The End Of Time [ Inuyasha Fanfiction ]
Chapter 152


__ADS_3

"Toga-sama.." Bokuseno memanggil pelan Inu No Taisho yang ada di depannya. Berada dalam hutan, sekeliling mereka sangat sunyi.


Inu No Taisho tidak membalas panggilan Bokuseno. Berdiri diam membisu, inuyoukai itu menatap fushi no kusuri yang belum sempurna di tangannya. Namun, beberapa detik kemudian, dia menutup matanya perlahan. Youkai pohon tersebut tidak tahu apa yang dipikirkannya, wajah tuannya tersebut datar tanpa ekspresi.


"Toga-sama," panggil Bokuseno lagi. Dia menatap penuh harap Inu No Taisho di depannya. "Apakah anda telah berhasil menyempurnakan Fushi No Kusuri?"


Membuka mata, Inu No Taisho tersenyum kecil dan menghela napas. Namun, siapapun bisa melihat bahwa senyum itu bukanlah senyum bahagia karena telah berhasil mengapai apa yang dia inginkan—senyumnya adalah seulas senyum sendu.


"Toga-sama..." Bokuseno bisa melihat ketidak normalnya tuan yang begitu dia hormati di depan. Tidak pernah dia melihat inuyoukai dengan kebanggaan diri tinggi itu berwajah seperti ini. "Ada apa?"


"Bokuseno," panggil Inu No Taisho kemudian. Suaranya pelan dan tenang seakan tidak terjadi apa-apa. "Fushi No Kusuri tidak berguna untuk Izayoi."


Bokuseno diam membisu mendengar jawaban yang dia dapatkan.


"Fushi No Kusuri tidak bisa menghentikan waktu dari mereka yang telah mati dan dihidupkan kembali."


Apa yang diucapkan Inu No Taisho benar membuat Bokuseno tidak tahu harus mengatakan apa. Dia adalah satu-satunya orang yang tahu betapa besar pengorbanan inuyoukai di depannya untuk menciptakan fushi no kusuri. Dari meminta bantuan Meido seki, mencari bahan dari ujung barat ke timur dan utara ke selatan, waktu serta usaha, namun—fushi no kusuri tidak berguna untuk Izayoi-sama?


"Kupikir aku dan Izayoi akan dapat melewati garis yang memisahkan kami. Kupikir harapan kami akan terwujud," lanjut Inu No Taisho lagi dan mengangkat kepala menatap langit biru di atas. "Tapi—ternyata ini adalah sebuah angan-angan belaka."


Bokuseno tetap diam membisu. Hubungan antara youkai dan manusia, jarak yang memisahkan, waktu berjalan yang berbeda—pada akhirnya; tidak pernah ada keajaiban menua bersama.


"Bahan terakhir menyempurnakan fushi no kusuri adalah air mata meido seki," ujar Inu No Taisho lagi dengan pelan. "Meido seki mungkin akan memberikannya padaku. Tapi, aku tidak membutuhkannya lagi."


Bokuseno masih diam membisu. Mendengar kata 'tidak membutuhkan lagi' dari mulut Inu No Taisho, dia tahu mengatakan apa untuk tuan yang dihormatinya.


Membalikkan badan, Inu No Taisho melemparkan fushi no kusuri kepada Bakuseno yang dengan sigap menangkapnya. Menatap inuyoukai di depannya bingung, youkai pohon itu menatapnya penuh tanda tanya.


"Kuberikan padamu, Bokuseno," senyum Inu No Taisho. Ekspresi wajahnya telah kembali pasa ekspresi biasanya sang penguasa tanah barat yang selalu bebas. "Walau tidak berguna, anggaplah ini sebagai hadiah karena telah membantuku; Fushi no kusuri."


Bokuseno tetap tidak mengatakan apa-apa. Mengenggam erat fushi no kusuri, dia masih menatap lurus Inu No Taisho.


"Dan Bokuseno," lanjut Inu No Taisho lagi. "Berjanjilah padaku untuk tidak memunculkan fushi no kusuri di dunia lagi."


"Toga-sama.." panggil Bokuseno pelan.


"Para manusia yang tamak dan serahkah akan menginginkan Fushi no kusuri meski harus berperang. Lalu untuk youkai—" menangakat kepala ke atas lagi, Inu No Taisho tertawa. "Ahh, mungkin tidak akan ada youkai yang akan mencari fushi no kusuri di dunia ini sepertiku lagi."


Bokuseno menatap tawa Inu No Taisho yang lepas. Ucapan tuannya, janji yang ada, dia mengerti. Fushi no kusuri adalah sesuatu yang sangat diharapkan inuyoukai itu, namun harapan itu adalah sebuah kemustahilan. Fushi no kusuri baginya adalah sebuah jurang keputusasaan; kenyataan yang menyakitkan.


Youkai dan manusia.


Mereka adalah dua spesies makhluk hidup yang berbeda. Pada dasarnya, mereka mungkin memang tidak seharusnya bersama—tidak akan pernah ada akhir bahagia untuk kebersamaan mereka.


"Baiklah, Toga-sama. Hamba berjanji pada anda untuk tidak akan pernah memunculkan fushi no kusuri di dunia ini."


Bokuseno mengingat jelas pembicaraannya dengan Inu No Taisho puluhan tahun yang lalu. Inuyoukai itu benar, jika keberadaannya fushi no kusuri diketahui manusia, walau tidak sempurna, mereka yang tamak dan berkuasa akan berlomba-lomba mencarinya. Lalu, untuk youkai—tidak akan ada youkai yang akan mencari fushi no kusuri, karena tidak akan ada youkai yang mungkin mencintai seorang manusia hingga ingin bersama selamanya.


Namun, kenyataannya, Inu No Taisho dan dirinya—salah. Puluhan tahun berlalu, ternyata ada seorang youkai yang mati-matian mencari fushi no kusuri hingga rela mengorbankan segalanya. Semua hanya demi memanjangkan hidup seorang wanita manusia yang dicintainya. Ironisnya lagi, youkai itu tidak lain adalah Sesshoumaru, putra sulung dari Inu No Taisho sendiri.


Menatap Sesshoumaru yang ada di depannya, Bokuseno tahu, Sesshoumaru mencintai seorang wanita manusia sebagaimana Inu No Taisho mencintai Izayoi, dan seperti kisah yang terulangi, sekali lagi, fushi no kusuri menjadi jurang keputusasaan bagi inuyoukai itu seperti ayah kandungnya.


"Kenapa kau merahasiakan hal seperting ini, Bokuseno?" tanya Inukimi. Dia menatap lurus Bokuseno yang duduk bersimpul menatap Sesshoumaru di depannya.


Inuyasha, Miroku, Kohaku, Kenji dan Myoga yang juga berada dalam ruang kerja Sesshoumaru tidak mengatakan apa-apa. Mata mereka semua tertuju pada Bokuseno yang duduk tenang seakan tidak terjadi apa-apa.


Bagaimana mereka semua bisa berada dalam ruangan ini sekarang, mereka sebenarnya tidak mengingatnya jelas, karena keributan dan juga informasi mengejutkan yang di dapatkan. Semua terjadi sangat cepat dan juga terselesaikan dengan sangat cepat. Akiko dan rombongannya yang kembali ke tanah timur penuh tawa, Akihiko dan Tsubasa yang menghilang tidak tahu kemana serta,  Rin yang tersenyum dan ingin beristirahat dalam kamarnya.


Sesshoumaru sendiri juga tidak memperlihatkan reaksi apapun akan apa yang terjadi. Inuyoukai itu tetap tenang dan meminta Bokuseno menghadapnya di ruang kerja. Inuyasha, Miroku, Kohaku, Inukimi, Kenji dan Myoga hanya dapat mengikuti youkai pohon tersebut ke dalam ruang kerja penguasa tanah barat. Untuk Sango dan Shippo, mereka kembali menemani para anak-anak, sedangkan Kagome menemani Rin dan Shura.


Pembicaraan yang ada mungkin tidak akan menyenangkan, dan ketidak pastian kembali melanda, tapi semua yang ada dalam ruang kerja penguasa tanah barat tahu, mereka harus mengetahui kebenaran dan langkah apa yang harus diambil ke depannya.


"Karena hamba berjanji pada Toga-sama untuk tidak pernah memunculkan fushi no kusuri di dunia," jawab Bokuseno tenang tanpa menatap Inukimi yang ada di samping Sesshoumaru. "Beliau tahu, fushi no kusuri bukanlah harapan sejak awal. Fushi no kusuri adalah—jurang keputusasaan baginya."


Inukimi terdiam mendengar jawaban Bokuseno. Jurang keputusasaan?—berpikir dan berpikir, mantan penguasa tanah barat bertanya dalam hatinya sendiri. Putus asa kah sahabatnya sejak kecil itu akan kenyataan akhir kisahnya dengan Izayoi? Itukah alasan lain kenapa inuyoukai itu rela mati demi Izayoi dan Inuyasha saat itu?—karena dia tidak tahu bagaimana hidup jika Izayoi menghilang dari hidupnya?


Bagaimana Inu No Taisho mencintai Izayoi, melebihi semua orang, Inukimi lah yang paling tahu. Mereka dibesarkan bersama, saudara sepupu yang menjadi sahabat karib. Berperang dan berjuang membangun tanah barat bersama. Lalu, dengan mata kepala sendiri dia melihat inuyoukai itu mencintai dan dicintai.


Menutup mata, Inukimi kemudian tertawa. Namun, tawanya adalah tawa penuh kesedihan. Semuanya masuk akal kalau begitu. Setelah sekian lama, kepingan terakhir dari teka-teki kematian Inu No Taisho akhirnya sempurna. Ah—sahabatnya yang bodoh. Kenapa dia bisa gugur saat itu? Meski dia terluka parah setelah melawan Ryukotsusei, dia yang begitu kuat tidak seharusnya kalah dan mati saat melawan manusia.


Kenapa?


Kenyataannya, Inu No Taisho bukanlah kalah melawan manusia. Inuyoukai itu kalah karena kelemahan hatinya. Karena meski terlihat kuat dan kokoh, dalam hati, dia; ketakutan dan putus asa. Saat kau kehilangan orang yang paling berarti dan kau cintai di dunia ini—bagaimana menakutkannya hidup itu ke depannya? Bagaimana kau akan menjalani sisa hidupmu tanpanya?


"Hahahahahahaha," terus tertawa kuat tifak terhentikan, Inukimi kemudian terduduk ke bawah. Membuka mata, dia mengangkat kepala ke atas memikirkan sahabatnya. "Dasar bodoh! Kau benar-benar bodoh! Alasan paling bagus untuk mati!! Kau mati karena ketakutan dan keputusasaan dalam hatimu sendiri!! Kau mati karena tidak berani menghadapi hidup tanpa Izayoi!!!"


Hati Inukimi terasa sakit. Kenapa? Kenapa Inu No Taisho tidak menceritakan ketakutan dan keputusasaan dalam hati padanya?—mereka adalah sahabat bukan? Dan yang terpenting, kenapa dia tidak menyadarinya?—Ah, dia telah gagal menjadi sahabat inuyoukai itu.


Kenji dan Myoga yang mendengar tawa dan ucapan Inukimi berdiri diam mematung. Tapi, hati mereka tidak kalah sakitnya dari mantan penguasa tanah barat di depan mereka, sebab pertanyaan terakhir kematian tuan mereka akhirnya terjawab. Ketakutan terbesar Inu No Taisho adalah kehilangan—kehilangan Izayoi untuk selamanya.


Miroku dan Kohaku tidak tahu harus memberikan reaksi apa untuk Inukimi, Kenji dan Myoga. Diam membisu, mereka merasa pembicaraan yang ada begitu berat. Perlahan, mata mereka terarah pada Inuyasha yang ada di samping.


Inuyasha sendiri tidak memberikan reaksi apapun. Wajahnya tanpa ekspresi. Untuk ayah kandung yang tidak pernah dilihatnya tapi mencintai ibunya dengan sepenuh hati—dia tidak tahu harus sedih atau bahagia.


'Inuyasha.'


Senyum lembut Izayoi yang memanggil namanya terbayang dalam kepala Inuyasha. Menutup mata, dia mengepal kuat kedua jari-jemarinya. Apakah ibunya akan menyesal dan menyalahkan dirinya sendiri saat mengetahui kebenaran kematian ayahnya?—cinta kedua orang tuanya pada akhirnya memang tidak pernah—bahagia.


Sesshoumaru tetap duduk tenang ekspresi wajah tidak berubah melihat apa yang terjadi di depannya. Menutup mata, jauh dalam hati, dia tidak merasakan apapun. Kenapa?—karena dia mengerti perasaan ayah kandungnya.


Bodoh.


Ya. Benar sekali, ayah kandungnya memang bodoh. Alasan terbodoh untuk mati, dan Sesshoumaru tahu—sebodoh itu jugalah dirinya.


Cinta adalah sebuah perasaan yang tidak berguna. Cinta adalah sesuatu yang akan membuatmu menjadi lemah dan musnah. Cinta adalah kelemahan.


Kata-kata yang diajarkan sejak dirinya kecil pada akhirnya terbukti; benar. Youkai tidak seharusnya mencintai. Mereka yang terlahir di puncak tidak seharusnya merasakan perasaan itu, sebab sekali mereka merasakannya, mereka tenggelam. Tidak ingin kehilangan, ingin selamanya bersama—cinta adalah kelemahan.


Tapi, seperti Inu No Taisho, Sesshoumaru sudah terlanjur mengenal apa itu cinta, dan meski dia tahu cinta adalah kelemahan, dia tidak akan pernah dapat melenyapkan cinta dalam hatinya.


'Sesshoumaru-sama.'


Senyum dan tawa Rin yang seindah musim semi terbayang dalam pikiran. Ahh, Sesshoumaru tidak mau memikirkan ini lagi. Tidak ada penyelesaian tidak peduli berapa lama dia mencarinya dalam hati. Sebab, Rin selamanya adalah kelemahan tidak terbantah dalam hidupnya.


Membuka mata, tidak peduli semua yang ada dalam ruangan, Sesshoumaru kemudian berdiri. Dengan wajah tanpa ekspreski, dia berjalan menuju pintu ruangan yang tertutup. Dia tidak akan menemukan jawaban apapun di dalam keadaan sekarang ini.


"Sesshoumaru.." panggil Inuyasha binggung melihat Sesshoumaru yang ingin meninggalkan ruangan.


"Sesshoumaru ini akan menemani Rin," balas Sesshoumaru dengan suaranya yang tenang dan datar. "Sesshoumaru ini tidak peduli. Jika fushi no kusuri tidak berguna, maka Sesshoumaru ini akan mencari jalan lain. Rin tidak akan pernah mati lagi untuk ketiga kalinya."


"Sesshoumaru-sama," panggil Bokuseno yang dari tadi diam membisu menyela. Dia tidak menatap Sesshoumaru, youkai pohon itu masih duduk tanpa gerak di tempatnya. "Anda bukanlah Tuhan. Hidup dan mati; itu adalah lingkaran kehidupan—anda tidak bisa melakukan apapun untuk menghentikannya."

__ADS_1


"Kalau begitu," balas Sesshoumaru tidak peduli. Seperti halnya Bokuseno, dia juga tidak menoleh ke belakang menatap youkai tersebut. "Sesshoumaru ini akan melewati Tuhan dan menghentikan lingkaran itu."


....xOxOx....


Kegelapan yang tidak berujung dengan kedinginan menusuk tulang, Rin menemukan dirinya kembali berada di sana. Berbaring dan meringkuk badannya yang bergemetaran bagaikan bola, kedua kelopak matanya tertutup rapat. Garis-garis hitam pekat memenuhi kakinya, bergerak dan merayap-rayap bagaikan hidup. Dalam kesendirian, dia bertahan menghadapi rasa sakit yang mencabik seluruh badannya.


Mulut mungil Rin terbuka, dengan pelan dia bergumam nama kedua orang paling penting dalam hidupnya. "S-sesshoumaru-sama.. Shur-ra...Sess-shoumaru-sama...S-shura..."


Bagaikan mantra tidak terputus, Rin terus mengumamkan nama suami dan putranya. Karena dia tahu, mengumamkan nama dan memusatkan pikirannya pada mereka berdua, dia bisa mendapatkan kekuatan untuk melalui rasa sakit luar biasa ini dalam kesendirian.


"Rinku sayang..."


Suara pelan memanggilnya. Suara aneh yang tidak pernah asing bagi Rin. Berhenti mengumamkan nama Sesshoumaru dan Shura, kedua matanya terbuka. Dia ingin menoleh kepala menatap sumber suara, tapi-dia tidak bisa. Kedinginan dan kesakitan luar biasa yang menyerangnya tanpa henti membuat dia tidak dapat bergerak.


Perlahan, sebuah bola cahaya terbang turun dari atas tepat ke samping wajah Rin. Bola itu bersinar terang dan hangat, namun itu tidak dapat lagi dirasakan oleh wanita manusia yang meringkuk di dalam kegelapan.


"M-meido seki-sama.." panggil Rin pelan terbata-bata. Seulas senyum memenuhi wajahnya yang pucat saat menatap bola cahaya tersebut.


Meido seki tidak membalas panggilan Rin. Diam membisu, dia tidak bergerak menatap wanita manusia yang sedang menderita di depannya.


"J-jangan b-bersedih, Meido seki-sama..." Ujar Rin pelan. Walau yang di depannya adalah keberadaan dengan wujud sebuah bola cahaya, dia bisa merasakan jelas kesedihannya.


Meido seki tetap tidak membalas ucapan Rin. Dia hanya bersinar seperti biasanya dalam kegelapan tidak berujung.


"M-meido seki-sama," panggil Rin lagi. Senyum lemah masih memenuhi wajahnya. "A-anda sudah tahu, kan? Fushi n-no kusuri tidak berguna untuk Rin."


Masih diam membisu, Meido seki tidak membalas pertanyaan yang terarah padanya.


"K-kenapa anda t-tidak memberitahu Rin, Meido seki-sama?" senyum masih memenuhi wajah Rin. Tapi, senyumnya bukanlah senyum musim semi yang hangat, melainkan senyum sendu penuh—kesedihan.


"Rinku sayang," balas Meido seki kemudian untuk pertama kali akan pertanyaan Rin. Suaranya pelan dan lirih. "Tidak ada cara untuk memperpanjang hidupmu di dunia kehidupan lagi. Dunia kehidupan bukanlah duniamu lagi—kau tahu itu."


Jawaban Meido seki membuat Rin tertegun. Bukan dunianya lagi. Dia yang masih hidup padahal seharusnya telah mati—dia tahu.


"Aku tidak bisa memberitahumu karena—aku tidak tahu harus bagaimana memberitahumu..."


Hidup Rin.


Dalam setiap tawa dan air matanya. Untuk segala perjuangan dan penderitaanya, untuk harapan yang dia bangun demi kebahagiaan yang diharapkan—bagaimana Meido seki bisa mengatakan pada wanita manusia itu bahwa fushi no kusuri tidak berguna baginya?


Saat melihat Rin mempertaruhkan semuanya pada fushi no kusuri, Meido seki berharap bahwa fushi no kusuri tidak akan pernah muncul lagi di dunia—berharap hingga terakhir kalinya, wanita manusia yang begitu lembut itu tidak mengetahui kenyataan yang begitu kejam.


Jika saja dia tahu inilah yang akan terjadi, Meido seki tidak akan pernah membantu Inu No Taisho menciptakan fushi no kusuri dulu. Dia sudah pernah melihat inuyoukai yang begitu kuat penuh kebanggaan diri hancur karena fushi no kusuri, dan kini, dia kembali melihat wanita manusia yang begitu dicintainya hancur.


Meido seki ingin melindungi Rin. Dia tidak ingin wanita manusia itu terluka dan terluka lagi. Namun pada akhirnya, kenyataan yang dia rahasiakan terbuka; Rin kembali terluka dan hancur.


Harapan Rin yang begitu sederhana, yakni bahagia bersama keluarga kecilnya—meido seki ingin memberikannya. Tapi; dia tidak bisa. Tidak peduli apa dia lakukan, dia hanya dapat melihat dan menemaninya seperti ini.


Rin yang mendengar ucapan Meido seki hanya dapat menutup mata dengan senyum yang tidak kunjung menghilang. Dia merasa lucu, padahal yang di depannya adalah sebuah bola cahaya, tapi dengan menatapnya, semua perasaan meido seki tersampaikan—perasaan bersalah karena tidak bisa melindunginya.


"Terima kasih, Meiso seki-sama..." membuka mata, Rin tetap tersenyum pada Meido seki. "T-terima kasih untuk s-semua yang telah anda lakukan.."


Meido seki tertegun dengan ucapan Rin. Bagaimana wanita manusia ini masih bisa mengucapkan terima kasih padanya? Kenyataan yang dia rahasiakan, harapan yang hancur—dia tidak menyalahkannya sama sekali.


"Rinku sayang," panggil Meido seki sekali lagi. "Bisakah kau menghentikan semua ini?"


"Meido seki-sama," Rin tertawa mendengar pertanyaan Meido seki. Namun, kesedihan terdengar jelas di suaranya yang pelan. "A-apakah anda meminta Rin untuk—mati?"


Meido seki terdiam. Namun sejenak kemudian dia menjawab. "Iya."


"Baik di alam sadar maupun alam bawah sadarmu, kau selalu menderita," lanjut Meido seki pelan penuh kesedihan. "Aku tidak sanggup melihatmu seperti ini terus."


Bagi Rin sekarang, alam bawah sadar bukanlah tempat dirinya bisa terhindar dari penderitaan lagi, sebab jiwanya telah tercabik dan rusak sangat parah. Garis-garis hitam yang memenuhi ujung kakinya, perlahan akan memenuhi seluruh tubuhnya—tanda jiwa yang akan segera hancur. Sedangkan untuk raganya di dunia sadar, dia masih bisa bertahan karena Meido seki menyokongnya. Tapi berapa lama Meido seki bisa menyokongnya? Raga itu perlahan sudah mulai berhenti berfungsi. Diiringi dingin dan rasa sakit luar biasa, tidak lama lagi, Rin akan mulai menolak makanan dan minuman. Bagaimana manusia bisa bertahan tanpa makan dan minum?


Membuka mata, Rin kembali tersenyum. "Meido seki-sama, R-rin tidak bisa—Rin tidak akan p-pernah menyerah untuk tetap hidup..."


"Rinku sayang," Meido seki kembali memanggil Rin pelan. "Kau sendiri tahu, bukan?—tidak ada cara untuk memanjang hidupmu lagi. Kenapa kau terus membohongi dirimu sendiri?"


Tidak ada cara.


Ya. Rin tahu. Tapi Rin ingin bertaruh untuk keajaiban. Selama dia masih hidup, dia percaya, harapannya akan terjawab. Tidak akan ada harapan lagi jika dia mati—karena itulah dia tidak boleh menyerah. Semua orang boleh mengatakan hidupnya tidak mungkin lagi, tapi dia akan mengatakan hidupnya masih—mungkin.


Menutup mata lagi, Rin kembali tertawa pelan. "S-selama Rin masih hidup, Rin m-masih memiliki harapan—Rin akan hidup.."


Keras kepalanya Rin, Meido seki tahu. Wanita manusia itu tidak akan mengubah keputusannya tidak peduli apapun dikatakannya. Di dunia kehidupan, ada berapa banyak jiwa yang memilih mati saat menghadapi masalah sulit? Dan berapa banyak yang bertahan dan berjuang untuk tetap hidup? Tapi, adakah jiwa yang bertahan dan berjuang melebihi jiwa murni di depannya sekarang?—seberharga itulah hidup baginya.


Jiwa termurni di dunia, tapi sekaligus merupakan jiwa paling menderita di alam kehidupan maupun kematian—Meido seki


tidak dapat mengatakan apa-apa lagi. Takdir yang kejam—hidup Rin memang bukanlah sebuah kisah yang bahagia.


Perlahan, Meido seki terbang ke atas. Bola cahaya itu tidak ingin Rin menderita di kegelapan tidak berujung ini lagi. Setidaknya untuk sementara, dunia kehidupan masih lebih baik daripada di sini. Bersinar terang, dia hanya dapat kembali berujar pelan.  "Kembalilah ke dunia kehidupan, Rinku sayang.."


Rin membuka mata dan menoleh wajahnya mengikuti Meido seki meski penuh kesulitan. Keinginannya, keegoisannya—dia berharap bola cahaya itu mengerti.


"T-terima kasih, Meido seki-sama..."


Rin membuka mata dan menemukan dirinya berada dalam kamar di atas furon. Seperti biasa, rasa sakit dan nyeri di seluruh tubuh dirasakannya. Namun, untuk pertama kali, diiringin sakit dan nyeri, dia juga merasa dingin yang membakar dari dalam menemani tanpa henti.


Memejamkan mata lagi dan menelan ludah dengan susah payah, Rin berusaha menahan semua yang dirasakannya. Dia tetap tenang, wajahnya tidak memperlihatkan sedikitpun akan apa yang dialaminya.


"Rin-chan, kau sudah bangun?" suara pelan Kagome terdengar dari samping.


Membuka mata, perlahan Rin menoleh pada Kagome yang ada di samping. Seulas senyum segera memenuhi wajahnya. "Iya, Kagome-sama. Rin sudah bangun."


Pandangan Rin kemudian jatuh pada sosok Shura yang tertidur di sampingnya. Melihat wajah tampan dan tenang putranya, serta tangan kecil yang mengenggam erat rambutnya, senyum di wajahnya hanya semakin melebar. "Apakah Shura sempat bangun dan merepotkan anda, Kagome-sama?"


"Tidak," jawab Kagome cepat sambil tertawa pelan. "Shura terus tidur. Dia benar-benar anak yang jago tidur."


Shura yang sama sekali tidak terbangun akan keributan yang terjadi, Kagome benar-benar kagum. Tapi, mungkin juga karena dia berada dalam pelukan Sesshoumaru dan Rin saat itu—tempat teraman dan terhangat baginya.


"Rin-chan," panggil Kagome dengan senyum di wajah. "Karena kau sudah bangun, ijinkan aku memeriksa badanmu, ya?"


Rin mengangguk kepala pelan. Kagome yang setiap hari memeriksa kesehatannya saat dia terbangun dari tidur, kisaki tanah barat sudah sangat terbiasa.


Dengan senyum yang tetap ada Kagome kemudian menyentuh tangan Rin untuk memeriksa kondisi tubuhnya. Namun, begitu kulit mereka bersentuhan, senyum di wajah miko masa depan membeku. Tangan mungil yang disentuhnya sangat dingin. Saking dinginnya, dia bagaikan menyentuh es—perubahan apa lagi yang terjadi dengan tubuh wanita manusia di depannya?


Rin menyadari perubahan ekspresi di wajah Kagome. Namun, dia tidak mengatakan apa-apa. Kondisinya—ada banyak yang ingin dia sembunyikan, hanya saja tidak gampang menyembunyikannya.


Kagome tersadar dari rasa terkejutnya. Menatap Rin yang menatapnya lurus, dia segera memaksakan sebuah tawa di wajahnya. "Suhu badanmu turun dratis Rin-chan. Tapi tenang, aku akan membuat ramuan untuk menghangatkan badanmu. Kau akan sembuh seperti sedia kala."


Rin tersenyum mendengar ucapan Kagome. Dia sangat menyukai sifat miko masa depan ini. Optimis meski dia tahu segala sesuatu tidaklah lagi benar—sifat yang juga sedang dia pertahankan mati-matian.

__ADS_1


Senyum Rin hanya membuat Kagome tidak tahu harus mengatakan apa. Suhu badan yang turun dratis dengan begitu menakutkan, wanita manusia itu pasti bisa merasakannya—bagaimana dia masih bisa tersenyum?


Menoleh mata menatap langit-langit di atasnya, dengan senyum tidak berubah di wajah, Rin kemudian menutup mata dengan pelan. "Ne, Kagome-sama," panggilnya pelan. "Menurut anda, berapa usia kehidupan seorang manusia?"


Pertanyaan Rin membuat Kagome tertegun. Kedua matanya terbelalak, tapi dia tidak menemukan kekuatan untuk menjawabnya.


"Delapan puluh? Sembilan puluh? Seratus atau lebih?" lanjut Rin lagi sambil membuka matanya. Masih menatap langit-langit, dia tidak menoleh kepalanya menatap Kagome sedikitpun. "Menurut anda, sampai usia berapa Rin bisa hidup?"


"R-rin-chan..." Memanggil nama Rin. Kagome benar-benar tidak tahu harus menjawab apa pertanyaan yang diarahkan padanya.


"Pada usia berapa rambut hitam Rin memutih? Kapan kulit Rin akan mulai keriput?" tanya Rin terus dengan senyum lembut di wajahnya.


Kagome terdiam. Duduk membisu menatap wajah Rin, dia diam membisu seribu bahasa dengan ekspresi wajah tidak terjelaskan.


"Rin berharap Rin bisa hidup sangat-sangat lama," tawa Rin pelan. Kedua matanya berbinar bahagia menatap terus langit-langit di atasnya. "Sampai seratus tahun atau lebih. Rin ingin melihat Shura dewasa—Rin ingin...."


Menutup mata, Rin tidak dapat menyelesaikan ucapannya lagi. Apa yang dia inginkan?—selamanya bersama yang tidak lagi mungkin.


Kau sendiri tahu, bukan?—tidak ada cara untuk memanjang hidupmu lagi. Kenapa kau terus membohongi dirimu sendiri?


Ucapan Meido seki memenuhi pikiran Rin, dan itu sekali lagi menghancurkan hatinya yang hancur. Selamanya bersama dengan Sesshoumaru dan Shura adalah sesuatu yang mustahil, karena itu—bolehkah dia merubahnya? Tidak apa-apa jika tidak bisa selamanya. Berikanlah dia waktu seratus tahun lagi, lima puluh tahun juga tidak apa-apa—biarkanlah mereka bahagia untuk beberapa saat.


Selamanya bersama dan cinta yang terjalin di antara mereka. Betapa indah cinta mereka? Namun sekaligus juga, betapa tragis cinta tersebut.


Kakak mencintaimu, Rin.


Ucapan Kagome melintas dalam pikiran, dan Rin merasa—bersalah.


Cinta Sesshoumaru.


Cinta dari satu-satunya pria yang dia cintai. Cinta tulus dari suami dan juga ayah dari putranya—betapa Rin mengharapkan cinta itu sesungguhnya. Namun dalam keadaan sekarang ini, dirinya tidak tahu lagi, apakah dia boleh bahagia karena cintanya yang terbalas?


Cinta adalah sebuah perasaan yang tidak berguna. Cinta adalah sesuatu yang akan membuatmu menjadi lemah dan musnah. Cinta adalah kelemahan.


Kata-kata itu benar—Rin tidak meragukannya lagi. Saat kecil, saat dia pertama kali menyadari cintanya, dia berkata tidak apa-apa jika cintanya tidak terbalas, sebab dia ingin inuyoukai itu tetap kuat sebagai mana mestinya—tanpa kelemahan. Namun, masa depan tidaklah seperti yang dia pikirkan saat kecil. Demi dirinya, Sesshoumaru berperang, dan demi dirinya juga, Sesshoumaru bersedia membuang segalanya. Cinta Sesshoumaru untuk dirinya—dialah kelemahan satu-satu inudaiyoukai penguasa tanah barat.


Dunia mungkin sudah tahu. Semua youkai maupun manusia pasti telah menyadari bahwa dirinya, seorang wanita manusia biasa adalah kelemahan dari inuyoukai tidak terkalahkan di dunia tersebut.


Kelak, akan ada berapa banyak youkai maupun manusia yang akan memanfaatkan dirinya untuk menjatuhkan inuyoukai itu? Tidak peduli dirinya hidup maupun mati—mereka akan selalu menggunakan dirinya.


Ah, wajah miko bernama Kikyo yang ditemuinya saat dia kecil dan berkelana di alam bebas bersama Sesshoumaru terlintas. Mayat hidup yang dibangkitkan kembali dengan tulang dan juga tanah oleh youkai—apakah musuh Sesshoumaru juga akan melakukan itu? Menggunakan tubuh tanpa jiwanya untuk melawan inuyoukai itu?


Rin membuka mata kembali dan tertawa kecil. Masih tetap menatap langit-langit di atas, dia memanggil pelan Kagome. "Ne, Kagome-sama..."


"Iya, Rin-chan." Balas Kagome cepat. Dia tidak tahu arah pembicaraan Rin, tapi dia tahu dia harus merubah topik pembicaraan mereka—tidak baik bagi Rin untuk terus memikirkan ini semua.


"Jika suatu hari nanti Rin benar-benar telah tiada. Bakarlah raga Rin. Biarkan abu Rin hilang dibawa angin. Sebab Rin tidak ingin raga tanpa jiwa Rin digunakan sebagai senjata untuk melawan Sesshoumaru-sama bagi siapa pun juga..."


Jika suatu hari dia telah tiada, Rin tahu, jiwanya akan menghilang, itu adalah konsekuensinya yang telah menang melawan sang kematian. Karena itu, dia tidak boleh meninggalkan apa-apa kelak. Tidak untuk tulangnya, tidak juga untuk abunya—dia harus menghilang dengan sempurna dari dunia ini demi; Sesshoumaru.


....xOxOx....


"Jika suatu hari nanti Rin benar-benar telah tiada. Bakarlah raga Rin. Biarkan abu Rin hilang dibawa angin. Sebab Rin tidak ingin raga tanpa jiwa Rin digunakan sebagai senjata untuk melawan Sesshoumaru-sama bagi siapa pun juga..."


Sesshoumaru berdiri tidak bergerak di depan pintu kamar yang tertutup. Tidak membuka pintu shoji kamar yang tertutup, dia mendengar setiap pertanyaan dan ucapan Rin. Kesakitan dirasakannya, diiringi dengan dingin yang tidak terjelaskan. Tapi, dia tidak tahu, apakah ini adalah karena Rin atau memang karena—perasaannya sendiri.


Menurtup mata, Sesshoumaru berpikir, dengan ekspresi seperti apa Rin mengatakan itu semua?—tersenyumkah? Tapi, kenapa rasa sakit dalam hati yang ada hanya semakin menguat tidak tertahankan.


Kelemahan.


Rin tahu dirinya adalah kelemahan bagi Sesshoumaru, dan Sesshoumaru sendiri juga tahu, wanita manusia itu tidak ingin menjadi kelemahannya. Karena itulah dia mengatakan itu semua—dia lebih memilih menghilang sepenuh dari dunia jika akan mencelakainya.


Tapi, bagaimana Sesshoumaru bisa mengijinkan itu terjadi? Jika Rin menghilang dari hidupnya tanpa meninggalkan apapun—bagaimana dia bisa menghadapi dunia lagi? Kematian Inu No Taisho karena ketakutan kehilangan Izayoi, seperti itu jugalah ketakutannya. Semakin dia mencintai Rin, semakin dia takut.


Membuka mata, Sesshoumaru kemudian menggerakkan tangannya membuka pintu shoji yang tertutup. Berjalan masuk dengan pelan, ekspresi wajahnya tidak berubah, sedangkan kedua matanya langsung tertuju pada Rin yang berada di atas futon.


"Sesshoumaru-sama..." panggil Rin pelan dengan seulas senyum indah di wajah.


Seperti biasa, Sesshoumaru tidak membalas panggilan Rin. Mendekatinya, tidak peduli akan keberadaan Shura yang tertidur dan Kagome di samping, dia mengangkat badan mungil itu. Tidak peduli dingin yang dirasakan, penguasa tanah barat tersebut menutup mata dan memeluk kisakinya dengan erat.


"Sesshoumaru-sama.." panggil Rin lagi dalam pelukan Sesshoumaru. Menyandarkan kepalanya di dada inuyoukai itu, dia tertawa kecil. "Rin akan merepotkan anda untuk mencari cara lain memanjangkan hidup Rin selain fushi no kusuri..."


Sesshoumaru mengangguk kepala tanpa membuka mata. "Iya. Sesshoumaru ini pasti akan menemukannya."


"Iya," tawa Rin lagi dan menutup matanya. "Rin percaya..."


Ucapannya barusan, Rin tahu, Sesshoumaru mendengarnya, tapi inuyoukai itu berpura-pura tidak mendengarnya. Karena itu adalah yang terbaik untuk mereka sekarang. Seperti Rin yang ingin percaya bahwa selama dia masih hidup, keajaiban akan terjadi, begitu juga dengan Sesshoumaru. Tanpa landasan, tanpa pegangan—mereka berdua tahu mereka harus percaya akan kebersamaan sampai selamanya masih memungkinkan.


Hidup dan mati.


Karena kebersamaan begitu berharga, karena cinta begitu indah, pada akhirnya baik Rin maupun Sesshoumaru sadar, sebenarnya kematian tidaklah menakutkan, yang menakutkan sebenarnya adalah—perpisahaan.


"—selamanya bersama..."


"Ya, selamanya bersama..."


Kagome yang melihat Sesshoumaru dan Rin tidak tahan lagi. Mengumpulkan segenap tenaganya, dia berusaha tersenyum dalam suaranya yang bergetar. "K-kakak, karena kau sudah datang. J-jaga Rin-chan, ya?"


Sesshoumaru mengangguk kepala sekali lagi dalam diam. Dia masih tidak membuka matanya maupun melepaskan pelukan eratnya sedikitpun.


"S-sampai nanti, Rin-chan." Ujar Kagome lagi tanpa menatap Rin. Tidak menunggu jawaban wanita manusia itu lagi, miko masa depan tersebut langsung membalikkan badannya untuk berjalan keluar secepat yang dia bisa.


Yang pertama kali dilihat Kagome saat dia membuka pintu kamar adalah Inuyasha. Berdiri dengan wajah penuh kesedihan, inuhanyou itu diam membisu menatap dirinya.


Tetap tidak mengatakan apa-apa, Kagome melangkah keluar dan menutup pintu di belakang. Air mata mengalir menuruni pipinya tidak tertahankan lagi. Berusaha menahan isak tangis yang akan pecah, dia memeluk dan membenamkan wajahnya pada dada Inuyasha.


Sangat menyakitkan.


Apa yang dia lihat dengan kepala mata sendiri adalah sesuatu yang sangat menyakitkan. Cinta yang indah namun sekaligus sangat menyedihkan.


Selamanya bersama.


Dengan perasaan seperti apa Rin mengucapkan itu, dan juga, dengan perasaan seperti apa Sesshoumaru mengucapkan itu. Mereka tidak mengharapkan lebih, hanya ingin selalu bersama—sesuatu yang begitu sederhana. Namun, sekaligus begitu berat. Seperti apa akhir kisah mereka nantinya?—Kagome berharap seperti kisah yang dia lihat di Tv atau baca di novel di jaman dimana dia dilahirkan. Kisah cinta yang penuh perjuangan dan air mata, tapi pada akhirnya akan ditutup dengan kata; bahagia selamanya.


Inuyasha membalas pelukan Kagome dengan erat. Dia menundukkan kepala dan berusaha mengontrol perasaan dalam hatinya. Menatap pintu kamar shoji yang tertutup, dia tidak mengatakan apapun.


Sesshoumaru ini tidak peduli. Jika fushi no kusuri tidak berguna, maka Sesshoumaru ini akan mencari jalan lain. Rin tidak akan pernah mati lagi untuk ketiga kalinya.


Ucapan Sesshoumaru tergiang dalam kepala Inuyasha begitu juga dengan ucapan Inukimi.


Dasar bodoh! Kau benar-benar bodoh! Alasan paling bagus untuk mati!! Kau mati karena ketakutan dan keputusasaan dalam hatimu sendiri!! Kau mati karena tidak berani menghadapi hidup tanpa Izayoi!!

__ADS_1


Seperti ayah mereka yang tidak berani menghadapi hidup tanpa ibunya, ada ketakutan memenuhi hati Inuyasha. Sedalam apa Sesshoumaru mencintai Rin, sepenting apa wanita manusia itu bagi inuyoukai itu—apa yang akan terjadi pada Sesshoumaru jika Rin benar menghilang dari dunia ini?


....xOxOx....


__ADS_2