![Till The End Of Time [ Inuyasha Fanfiction ]](https://asset.asean.biz.id/till-the-end-of-time---inuyasha-fanfiction--.webp)
Dalam ruang kerjanya, berdiri sendirian, Akihiko membaca surat di tangannya. Surat ini tiba di tanah selatan hari ini, dan surat ini adalah surat kedua yang dituliskan Shui, sang pemimpin tanah netral kepadanya.
Menutup mata biru langitnya, Akihiko meremas surat itu kuat. Surat itu adalah undangan—undangan kepadanya selaku penguasa tanah selatan untuk menghadiri pertemuan yang akan diadakan di kediaman pemimpin tanah netral satu minggu ke depan.
Di surat ini tertulis jelas bahwa tanah barat telah menolak menurunkan kisaki tanah barat dan juga, tetap pada pendirian akan hak pengwarisan tanah barat pada seorang hanyou. Tujuan dari pertemuan yang akan diadakan tidak lain adalah langkah yang akan mereka ambil ke depannya.
Langkah yang akan diambil ke depannya—Akihiko tahu jelas; perang. Semakin ke sini, penguasa tanah selatan tahu, manusia yang menyerang, desa youkai yang musnah, tanah netral yang ketakutan dan meminta bantuan—semua telah terencana dengan baik. Sasarannya adalah; tanah barat.
Akihiko yakin, Shui, sang pemimpin youkai netral lah dalang dari semua ini, dan dia juga yakin, tidak hanya dirinya, Takeru dari tanah utara dan juga Asano dari tanah timur juga telah mengetahui semua ini. Hanya saja, mereka menutup mata dan berpura-pura tidak tahu.
Tidak tahu sebagai penonton atau sebagai apa di ke depannya, tapi baik tanah utara dan tanah timur terlihat jelas tidak berniat menyelidiki lebih dalam desa-desa klan youkai di bawah mereka yang telah hancur. Mereka rela mengorbankan desa-desa tersebut berserta isinya demi keuntungan mereka. Jika tanah barat hancur, jika puncak dari segala puncak runtuh, keuntungan yang mereka dapatkan tidak terkirakan, satu atau dua desa lemah yang hancur tidaklah ada artinya.
Lalu—tanah selatan.
Permintaan Shui, Akihiko belum menjawabnya. Dia belum memberikan jawaban akan persetujuan menyatukan kekuatan untuk menekan tanah barat pada pemimpin tanah netral, sebab, dia tidak bisa menerima alasan rendahan seperti ketakutan pada manusia, dan juga, nyawa dari para youkai laba-laba emas yang menghilang dalam konspirasi ini—bagaimana dia sebagai penguasa tanah selatan membiarkannya?
Tapi—
Aku bisa memberikan Rin padamu.
Ucapan Shui tergiang dalam kepala Akihiko. Memberikan Rin padanya—mendapatkan wanita manusia yang begitu diinginkannya?
Akihiko-sama.
Suara bagaikan dentingan lonceng yang memanggil namanya, senyum dan tawa wanita cantik yang seperti musim semi, kehangatan seperti matahari—Rin.
Yang dikatakan Shui tidak salah. Jika dirinya setuju dengan permintaan tanah netral, maka, saat tanah barat runtuh, saat Sesshoumaru telah tiada—memiliki Rin tidaklah mustahil.
Jika tanah barat telah menghilang, jika Sesshoumaru mati, Rin tidak akan memiliki apa-apa dan siapapun lagi. Wanita manusia itu mau tidak mau akan mengikutinya dirinya jika dia mengulurkan tangan—Rin akan menjadi miliknya; Akihiko sang penguasa tanah selatan.
Hanya saja, sanggupkah? Sanggupkah dirinya membiarkan Rin mengalami semua hal tragis seperti itu? Apakah wanita manusia itu masih dapat tersenyum dan tertawa setelah melalui itu semua?—Akihiko sungguh tidak tahu.
Baik dunia manusia maupun dunia youkai, Rin terseret ke dalam masalah sebenarnya adalah karena; Sesshoumaru. Jika saja wanita manusia itu bukanlah kisaki tanah barat, jika saja Rin tidak mengandung anak Sesshoumaru, tidak berada di samping inuyoukai itu, tidak mengenal anjing itu—maka hidup Rin akan sangat tentram dan damai.
Membuka matanya, Akihiko kemudian memutuskan. Rin tidak bisa melihat apa yang ada di masa depannya jika masih berada di tanah barat, tapi dia bisa. Karena itu, dia tidak ingin wanita manusia tersebut terseret lebih dalam lagi akan masalah ini. Sebelum semuanya terlambat—dia harus bergerak.
Tidak jauh dari ruang kerja Akihiko, dalam taman yang gersang dan dingin, Tsubasa berdiri menatap youkai serigala itu melalui jendela yang terbuka.
Melihat surat yang diremas dan mata biru langit Akihiko, Tsubasa memang tidak tahu sepenuhnya apa yang ada dipikiran penguasa tanah selatan. Tapi ratusan tahun yang dihabiskannya melayani dan menemani youkai serigala itu cukup dapat membuatnya bisa menebak apa yang mungkin dipikirkan.
Mengangkat kepala menatap langit biru di atas, Tsubasa menutup mata. Akihiko yang bodoh, atau dirinyalah yang bodoh—youkai burung itu tidak tahu lagi.
Memaksa tidaklah baik, tapi menyerah juga tidak bisa. Jalan terbaik mungkin adalah melupakan. Hanya saja, melupakan itu—mustahil.
....xOxOx....
"Kau tidak kembali ke tanah barat, Kenji-san?" tanya Bokuseno menatap Kenji yang duduk menyandarkan badan pada batang pohonnya.
"Tidak," jawab Kenji sambil menguap lebar. "Aku tidak akan kembali ke tanah barat untuk sementara waktu."
"Hmn," gumam Bokuseno pelan. Dia mengangkat pandangannya ke atas langit, menerawang mengingat masa lalu. "Kau tetap saja tidak berubah."
Kenji tertawa keras mendengar ucapan Bokuseno. "Kau juga tidak berubah. Buktinya kau tetap saja berdiam diri meski sudah tahu semuanya."
"Hmnnn," gumam Bokuseno lagi menurunkan pandangan matanya pada Kenji. "Aku sudah terlalu tua untuk bergerak."
"Aku juga sudah terlalu tua untuk bergerak," balas Kenji dengan senyum menyeringai. "Dan juga, jika aku kembali ke tanah barat sekarang, Shui pasti akan mengutuskan orang untuk mengawasiku terus. Aku tidak suka ada yang memperhatikan setiap gerak-gerikku."
Bokuseno mengangguk kepala setuju. "Kau benar."
"Di tambah lagi," lanjut Kenji dengan senyum lebar. Kedua matanya berbinar penuh keisengan dan juga kegembiraan. "Tidakkah kau tertarik melihat apa yang dilakukan Sesshoumaru, anak kebanggaan anjing itu menghadapi ini?"
Kali ini giliran Bokuseno yang tertawa. "Apa yang menarik dari anak itu?—dia akan berperang. Sesshoumaru terlalu mirip dengan ayahnya, Toga-sama."
"Ya," senyum Kenji semakin lebar. "Tidakkah kau ingin melihat sosoknya yang seperti itu?—dulu dia mengatakan bahwa dia membenci manusia dan hanyou, tapi sekarang, dia bersedia menghadapi seluruh dunia ini demi seorang manusia dan hanyou."
Bokuseno terdiam sejenak dan akhirnya kembali tertawa. "Kau ingin mengatakan dia telah menerima karmanya?"
__ADS_1
Kenji mengangguk kepala cepat dan ikut tertawa. "Mulutmu, harimaumu. Kurasa anak itu sekarang tidak dapat berkata apapun lagi akan kesombongannya di masa lalu."
"Hmnn," senyum Bakuseno kemudian menatap Kenji. "Aku sungguh penasaran dengan wanita manusia yang bisa membuat anak berharga diri tinggi itu bertekut lutut."
"Rin-rin terlalu menawan," jawab Kenji. Bayangan wanita manusia yang tersenyum seindah musim semi terbayang dalam pikirannya. "Pesonanya terlalu luar biasa. Karena itu, Sesshoumaru tidak dapat berkutik."
"Dulu Toga-sama mengorbankan dirinya untuk Izayoi-sama dan Inuyasha. Kini Sesshoumaru juga akan mengorbankan diri untuk kisaki dan anak mereka," ujar Bokuseno pelan, ada seulas senyum di wajah youkai pohon tersebut. "Buah memang tidak jatuh jauh dari pohonnya. Sejarah terulang lagi, anak itu memilih pilihan yang sama dengan ayahnya, dia akan menjadi seperti Toga-san."
"Oh, tidak," sela Kenji cepat. "Sesshoumaru tidak akan seperti anjing itu."
Ucapan Kenji membuat Bokuseno menatap bingung youkai monyet tersebut.
"Ah, maksudku," ujar Kenji sambil menggaruk kepala menjelaskan maksud ucapannya. "Untuk pilihan yang dipilihnya, Sesshoumaru tidak akan gugur seperti Toga."
"Situasi mereka mirp tapi sekaligus tidak mirip. Terlebig lagi—" Mengangkat kepala menatap langit, Kenji tersenyum menyeringai. "Ada aku."
Bokuseno tertawa keras mendengar ucapan Kenji yang penuh kepercayaan diri. "Dan kau baru akan muncul di detik terakhir?"
"Tentu," balas Kenji dengan senyum menyeringai yang masih ada di wajahnya. "Tokoh utama selalu muncul terlambat. Lagian, aku kan ingin memberikan kejutan kepada adik Toga tercinta."
Dengan tawa yang semakin keras, Bokuseno menggeleng kepala. Temannya satu ini memang tidak pernah berubah sedikitpun, dia tetaplah youkai monyet yang telah dikenalnya ratusan tahun yang lalu.
"Kenji-sama! Bokuseno!" suara teriakan memanggil nama Kenji dan Bokuseno merebut perhatian kedua youkai yang sedang tertawa tersebut.
Menoleh pandangan pada sumber suara, mereka melihat Myoga, sang youkai kutu meloncat-loncat di dekat kaki Kenji.
"Myoga, kau masih di sini?" tanya Kenji menatap Myoga yang kini telah meloncat ke atas bahunya.
"Tentu saja," jawab Myoga sedih. "Aku tidak mungkin pulang sebelum mendapatkan informasi mengenai fushi no kusuri."
"Kau masih mencari fushi no kusuri itu??" tanya Kenji terkejut. Dia tidak mengira Myoga masih setia dengan tugasnya mencari obat keabadian tersebut. Sepertinya, youkai kutu ini memang lebih takut pada Sesshoumaru daripada Inu No Taisho, buktinya, dia masih berani mengabaikan perintah tuan mereka dulu.
"Iya," balas Myoga sambil menangis. "Jika aku ditemukan Sesshoumaru dan tidak memiliki informasi sedikitpun—dia pasti tidak akan ragu sedikitpun membunuhku!!"
Myoga yang masih menangis sedih merasa sedikit bersalah sekarang. Di saat tanah barat dalam ancaman bahaya, dia malah bersyukur. Sebab, dalam keadaan seperti ini, Sesshoumaru pasti tidak memiliki waktu untuk memikirkannya dan fushi no kusuri. Walau dia sendiri juga tidak tahu apa yang harus dilakukannya jika semua ancaman ini telah berlalu.
Memikirkan masa depannya yang gelap dan suram selama dia tidak memiliki petunjuk, Myoga hanya dapat menangis semakin keras. "Toga-sama!! Dalam mimpipun tidak apa-apa!! Temui hambamu ini dan beritahu di mana anda menyembunyikan fushi no kusuri!!"
Menghela napas, Kenji kemudian menoleh wajahnya ke depan lagi. Senyum menyeringai memenuhi wajahnya saat dia melihat sosok tiga youkai kecil yang berlari sambil tertawa dari kejauhan ke arah mereka.
Bokuseno juga tidak menatap Myoga lagi. Dia mengangkat kepala menatap langit di atas dan menutup mata. "Fushi no kusuri, untuk kisaki manusia yang telah dihidupkan dua kali," gumam Bokuseno dengan suaranya yang sangat pelan bagaikan berbisik. "Sesshoumaru, kau sungguh bodoh.."
....xOxOx....
"Kakak?" panggil Kagome pelan, pandangan matanya jatuh pada sosok Sesshoumaru yang berada tidak jauh di depannya. "Kau mau kembali ke kamar?"
Sesshoumaru yang menyadari keberadaan Kagome dan juga Inuyasha tidak jauh darinya tidak membalas pertanyaan miko masa depan tersebut. Meski membelakangi mereka, dari bau pahit ramuan obat yang tercium, inuyoukai tersebut tahu bahwa mereka berdua juga pasti dalam perjalanan menuju kamarnya dan Rin.
Berjalan cepat mendekati Sesshoumaru dengan mapan berisi ramuan hitam untuk Rin, Kagome tertawa. "Kami juga menuju kamar. Ayo, kita pergi sama-sama."
Sesshoumaru tetap tidak memberikan reaksi sedikitpun. Namun, tidak untuk Inuyasha. Inuhanyou itu menatap Kagome dengan wajah pasrah bercampur tidak percaya. Kenapa istrinya itu selalu berusaha mengakrabkan diri dengan kakak seayahnya itu?
Tidak mengatakan apa-apa, Inuyasha hanya dapat menghela napas dan mengikuti Sesshoumaru dan Kagome dari belakang. Melihat istrinya yang terus berbicara dan kakak seayahnya yang tidak memberikan reaksi, dia berpikir; apakah miko masa depan itu tidak merasa risih tidak dipedulikan seperti ini?
Sesshoumaru terlihat mulai sibuk beberapa hari ini. Dia tidak lagi menemani Rin seharian dan menyelesaikan tugasnya sebagai penguasa dalam kamar. Semua tahu, perang akan kembali melanda tanah barat, dan sebagai penguasa tanah barat, Sesshoumaru memiliki kewajibannya dan perintah yang harus dijalankan.
Semakin mendekati kamar tidur penguasa tanah barat, telinga Sesshoumaru dan Inuyasha yang tajam bisa mendengar jelas suara nyanyian bagaikan dentingan lonceng yang mengalir di udara.
Nama no naka
Kaze no naka
Yume no naka
Tanpa melihatpun, Inuyasha tahu siapa yang sedang bernyanyi. Di dunia ini, mungkin hanya wanita manusia itu seorang saja yang akan menyanyikan lagu aneh ini tanpa henti—Rin.
Sesshoumaru-sama doko ni iru
__ADS_1
Jakken-sama wo shita naete
Perlahan, Inuyasha menolehkan pandangannya pada punggung Sesshoumaru yang ada di depannya. Ada rasa penasaran dalam hatinya, apa yang dirasakan Sesshoumaru saat mendengar Rin menyanyikan lagu ini saat menunggunya?
Senang? Malu? Tidak suka? Terganggu? atau—biasa-biasa saja? Tapi, dalam lagu yang dinyanyikan Rin sejak kecil ini, Inuyasha bisa merasakan betapa berartinya Sesshoumaru dalam hidup Rin. Jika dia adalah Sesshoumaru, atau yang bernyanyi adalah Kagome, maka—dia pasti akan sangat bahagia.
Watashi wa hitori de machimashou
Shura wa hitori de machimashou
Wareware wa hitori de machimashou
Kagome bisa mendengar suara Rin yang sedang bernyanyi. Seulas senyum memenuhi wajahnya saat dia mendengar lirik yang dinyanyikan wanita manusia tersebut.
Mencuri lihat ke samping, senyum Kagome hanya bertambah lebar saat melihat Sesshoumaru. Meski wajah inuyoukai tersebut tetap tanpa ekspresi, dia bisa melihat betapa lembut mata emasnya sekarang.
Sesshoumaru tidak pernah mengatakan, tapi dari apa yang dilakukannya, Kagome tahu, betapa penting keberadaan Rin dalam hatinya—betapa inuyoukai itu mencintai wanita manusia yang diselamatkannya dulu.
Demi Rin dan anak mereka, Sesshoumaru bersedia melakukan apapun. Dari melawan dunia manusia hingga melawan dunia youkai—cinta Sesshoumaru kepada Rin dan Shura; Kagome sungguh tersentuh melihatnya.
Sesshoumaru-sama omodori wo
Tiba di depan kamar tidur sang penguasa tanah barat, Kiri yang menjaga di luar pintu segera memberikan hormat pada Sesshoumaru dan membuka pintu shoji kamar yang tertutup.
Melangkah masuk, yang pertama kali dilihat Sesshoumaru tidak lain adalah senyum yang terukir abadi dalam hatinya; senyum musim semi—senyum Rin.
"Sesshoumaru-sama," panggil Rin gembira. Duduk di atas futon, kedua matanya berbinar gembira saat melihat Sesshoumaru. Lalu, saat pandangan jatuh pada Kagome dan Inuyasha, dia juga segera memanggil nama mereka. "Kagome-sama, Inuyasha-sama."
Seperti biasa, Sesshoumaru tidak membalas sapaan Rin, mendekatinya, dia kemudian duduk di samping wanita manusia itu. Kedua matanya menatap penuh kekhawatiran kisakinya yang masih lemah serta perut besarnya.
Kagome tertawa. Melangkah cepat, miko masa depan itu segera duduk di samping Sesshoumaru dan menyerahkan ramuan obat di tangannya ada Rin. "Minumlah, Rin."
Inuyasha juga tidak membalas pangilan Rin. Duduk tidak jauh di belakang Sesshoumaru dan Kagome, inuhanyou itu melipat kedua tangan di dada dan diam membisu.
Beberapa hari telah berlalu sejak kedatangan Shui. Namun, sepertinya kedatangan dan apa yang dikatakan youkai bermata putih itu tidak mempengaruhi Rin sedikitpun. Wanita manusia itu tetap seperti dirinya biasanya; penuh senyum dan tawa.
Menatap Rin yang kini sedang meminum ramuan obatnya dengan tenang, baik Inuyasha dan Kagome teringat dengan apa yang mereka lihat beberapa hari yang lalu, yakni; ucapan dan perintah Rin.
Ucapan Rin yang mengatakan bahwa anaknya akan terlahir sebagai youkai sejati—Inuyasha dan Kagome benar tidak mengerti dari mana wanita manusia ini memiliki keyakinan seperti itu? Sebab, tidak mungkin penyatuan antara manusia dan youkai bisa melahirkan seorang youkai sejati. Mungkin karena tidak menginginkan anaknya menderitalah Rin mengatakan itu—dan mereka hanya berharap saat anaknya telah lahir, wanita manusia itu tidak akan bersedih karena anaknya tetaplah seorang hanyou.
Lalu—perintah.
Perintah yang diucapkan oleh Rin kepada Sesshoumaru. Rin yang selama ini selalu lemah lembut dan tersenyum, memberikan perintah dengan serius dan tegas pada inuyoukai penguasa tanah barat yang ditakuti semua makhluk hidup—perintah sebagai seorang kisaki. Siapa yang pernah menyangkanya?
Begitu juga dengan Sesshoumaru, inuyoukai berkebanggaan dan harga diri tinggi itu dengan senang hati menuruti perintah seorang manusia?—jika tidak melihat secara langsung, tidak akan ada seorangpun yang akan mempercayainya.
Rin menurunkan mangkuk berisi ramuan obat yang telah dihabisinya. Seperti biasa, tidak ada perubahan ekspresi sedikitpun di wajahnya meski obat itu sangat pahit. Seulas senyum kembali merekah di wajah cantiknya yang pucat.
Tidak mengatakan apa-apa, Sesshoumaru segera menggerakkan tangan kanannya. Dengan hati-hati, dia mengelap sisa ramuan yang ada di ujung bibir wanita manusia yang dicintainya.
Senyum Kagome hanya bertambah lebar melihat sikap Sesshoumaru. Siapa yang menyangka bahwa inuyoukai yang terkenal begitu dingin dan tidal berperasaan itu sebenarnya adalah orang yang sangat perhatian terhadap wanita yang dicintainya? Beda sekali dengan Inuyasha yang cuek dan tidak peka.
Rin tertawa dan menatap lembut Sesshoumaru. "Terima kasih, Sesshoumaru-sama."
Sesshoumaru tetap diam membisu tidak membalas ucapan terima kasih Rin. Tapi, pandangan matanya yang lembut semakin lembut.
Inuyasha yang dari tadi diam membisu, tidak tahan lagi dengan keheningan yang ada. Mencibir, dia mengeluarkan suaranya untuk memecahkan keheningan, "Cih, Rin, kau—"
Namun, ucapannya tidak terselesaikan. Wajahnya seketika berubah menjadi serius, begitu juga dengan Sesshoumaru yang segera menolehkan pandangannya pada pintu shoji yang tertutup.
"Apa maksudnya ini???!" teriak Inuyasha sambil berdiri penuh kemarahan tidak mempedulikan kebingungan Rin dan Kagome yang melihat perubahan sikap kedua inu bersaudara tersebut.
Tidak membuang waktu sedikitpun, Inuyasha langsung melangkah dan membuka lebar pintu kamar yang tertutup. Pandangan matanya jatuh pada Kiri yang berdiri tepat di depan pintu dengan posisi siap menyerang.
Seringai kemarahan memenuhi wajah pengawal pribadi kisaki tanah barat tersebut, begitu juga dengan matanya yang telah berubah menjadi merah darah.
Mengikuti pandangan mata Kiri, Inuyasha berteriak keras menatap sosok seorang youkai serigala yang terbang turun dari langit dan mendarat dalam taman—Akihiko.
__ADS_1
"Apa maumu kemari lagi, sialan??!!"
....xOxOx....