Till The End Of Time [ Inuyasha Fanfiction ]

Till The End Of Time [ Inuyasha Fanfiction ]
Chapter 84


__ADS_3

Sakura dalam taman paviliun timur istana tanah barat telah mekar sepenuhnya, begitu juga dengan bunga-bunga lainnya di atas tanah. Berdiri sendiri, seorang gadis manusia menutup mata dan menghirup udara segar.


Angib lembut menerbangkan rambut hitam panjangnya yang indah. Membiarkan matahari hangat menyinari dirinya, seulas senyum damai menghiasi wajah cantik itu. Di balut kimono indah berwarna putih berlambang barat—gadis itu bagaikan salah satu bunga yang sedang mekar.


"Lin-chan!!!"


"Rin-chan!!"


Suara panggilan nyaring anak kecil terdengar tiba-tiba terdengar oleh telinga gadis manusia itu.


Membuka mata, senyum di wajah Rin, sang gadis manusia itu semakin melebar. Dari kejauhan, dia bisa melihat sosok, Shiro dan Mamoru yang berlari ke arahnya dengan Kagome, Inuyasha, Miroku, Sango dan kedua putrinya di belakang.


Berlari kecil mendekati Shiro dan Mamoru, Rin segera membuka tangan memeluk kedua bocah yang meloncat gembira ke arahnya. "Shiro-chan, Mamoru-chan."


Shiro dan Mamoru tertawa lepas merasakan pelukan gadis cantik sehangat musim semi itu. Bau harum bunga dicium mereka, terutama untuk Shiro yang merupakan seorang hanyou—dia bisa mencium bau musim semi yang sangat menyenangkan.


"Kalian berdua, lepaskan pelukan kalian," perintah Kagome sambil tertawa saat berada di depan Rin. "Kalian berdua sangat berat, tau?"


Mamoru langsung melepaskan pelukannya mendengar ucapan Kagome. Menatap miko itu, dia tersenyum. "Artinya Mamoru cudah becar. Kelak Mamoru yang akan gendong Rin-chan. Rin-chan akan jadi istri Mamoru."


Sango menggeleng kepala mendengar ucapan Mamoru. Kenapa putranya ini mirip sekali dengan Miroku?


Miroku tertawa mendengar ucapan putranya. Berjongkok ke bawah hingga matanya sejajar dengan Mamoru, dia menepuk-nepuk pelan pundak anaknya. "Mamoru, cari istri lain saja, lupakan Rin-chan. Ayah masih ingin melihatmu tumbuh besar."


"Eh?? Kenapa??" tanya Mamoru terkejut.


Tersenyum, Miroku kemudian berbisik di telingan Mamoru pelan. "Rin-chan calon istri Sesshoumaru. Kau harus menghadapinya jika ingin menikahi Rin-chan."


Ucapan Miroku membuat badan Mamoru langsung membeku. Sesshoumaru?—anak laki-laki berusia empat tahun itu jelas ingat sosok inuyoukai mengerikan yang selalu berwajah tanpa ekspresi itu. Itukah calon suami Rin-chan?


"M-mamoru tidak mau menghadapinya!!" ujar Mamoru cepat dengan wajah pucat. Namun, sejenak kemudian air mata memenuhi wajahnya. Dia merasa gagal sebagai seorang pria sejati karena tidak berani memperjuangkan cinta pertamanya.


"Kalau begitu, lupakanlah Rin-chan." ujar Miroku lagi pelan sambil tertawa melihat putra jahilnya yang ketakutan.


"Jangan menggoda putramu lagi, Miroku." potong Sango tiba-tiba. Dia segera memukul kepala Miroku dan menggendong Mamoru. "Dan, kau jangan menangis lagi, Mamoru."


Rin yang tidak tahu kenapa Mamoru menangis hanya dapat menatap khawatir bocah laki-laki itu dengan Shiro yang masih dalam pelukannya.


"Shiro, turun." Perintah Inuyasha kemudian melihat putranya yang menutup mata dan menyamankan diri dalam pelukan Rin.


Shiro membuka mata menatap Inuyasha dan menggeleng kepala. "Tidak, Ayah. Chilo tidak mau."


Kagome tertawa, dia kemudian mendekati Rin dan menarik paksa Shiro yang tidak mau melepaskan pelukannya. "Jangan merepotkan, Rin-chan, Shiro."


"Tidak!!!" protes Shiro keras. Namun, Inuyasha menjitak kepala putranya itu kuat. "Dengarkan ibumu!!"


"cakit!!!" teriak Shiro melepaskan badan Rin dan menyentuh kepalanya. Kedua mata emasnya berair menatap Inuyasha dalam pelukan Kagome.


Kagome menggeleng kepala melihat sikap ayah-anak antara Inuyasha dan Shiro. Untuk manusia, sikap mendidik Inuyasha mungkin terlalu keras, tapi Shiro adalah hanyou—hanyou yang sama keras kepalanya dengan ayahnya. Putranya bukan anak yang gampang dibujuk.


Rin tertawa kecil melihat apa yang terjadi antara dua keluarga di depannya. Hatinya terasa hangat, tersenyum, dia bertanya, "Kagome-sama, Inuyasha-sama, Miroku-sama, Sango-sama, ada apa kalian datang ke istana tanah barat?"


....xOxOx....


Inukimi tertawa keras membaca surat yang ditujukan pada Rin dalam ruang perpustakaan istana tanah barat. Di depannya, Kira berlutut tanpa mengatakan apa-apa.


"Menurutmu, kenapa ada surat ini, Kira?" tanya Inukimi kemudian. Dia meletakkan surat yang dibacanya di atas meja.


"Menurut hamba, informasi bahwa Rin-sama bisa menggunakan meido seki serta kekuatan asli meido seki sudah tersebar." jawab Kira datar. Kepalanya terangkat menatap Inukimi yang duduk di depan sebuah meja.


Inukimi mengangguk kepala. Berdiri, dia berjalan mendekati jendela yang terbuka. "Utara sudah tahu, timur juga aku yakin juga sudah tahu."


Kira tidak mengatakan apa-apa, dia tetap berlutut.


"Sepertinya ada mulut youkai selatan yang bocor," tawa Inikimi lagi. "Tapi, tidak apa, aku dan Sesshoumaru sudah menduganya."


Mengangkat kepala ke atas langit biru, tawa Inukimi terhenti. Wajahnya yang tadi tertawa gembira berubah menjadi serius. "Perketat keamanan di sekitar Rin kecil. Aku tidak ingin terjadi apa-apa lagi dengannya."


"Baik." Balas Kira datar.

__ADS_1


Menurunkan kepala yang menatap langut, Inukimi membalikkan badan dan menatap meja yang tadi digunakannya. Kedua matanya terarah kepada selembar surat di atasnya—surat undangan kepada Rin untuk mengunjungi utara dari Takeru, penguasa tanah utara.


....xOxOx....


Kagome, Miroku dan Sango meminum teh yang ada di tangannya dengan damai dalam kamar Rin. Suara petikan shamisen yang jernih dan indah ditangkap telinga mereka, begitu juga untuk Inuyasha yang ada di samping istrinya. Hanyou itu duduk tenang dan menutup mata menikmati suara petikan shamisen yang mengalir indah memenuhi kamar.


Menurunkan cangkir teh, Kagome kemudian tersenyum menatap Rin yang duduk anggun di depannya mengajari Aya dan Maya cara memainkan shamisen.


"Sekarang, kalian berdua coba mainkan shamisen ini." senyum Rin dn menyerahkan shamisen di tangannya pada Aya.


Aya menerima shamisen dan bachi dengan wajah penuh suka cita. Perlahan, dia memetik shamisen itu seperti yang diajarkan Rin. Namun, tangannya yang kaku membuat nada yang keluar sangat sumbang.


"Sulit sekali." ujar Aya putus asa dan menyerahkan shamisen dan bachi di tangan pada Maya.


Maya yang menerima shamisen dan bachi dari Aya tidak membuang waktu. Dengan penuh semangat, dia memainkan shamisen. Tapi, seperti halnya saudara kembarnya, musik yang keluar juga sangat sumbang.


"Sepertinya kalian berdua tidak berbakat dalam seni." Senyum Sango. Meskipun memiliki semangat belajar, kedua putrinya memang tidak memiliki jiwa seni yang menonjol.


"Bakat mereka itu menjadi taijiya." Tambah Miroku tertawa.


Wajah Aya dan Maya menjadi cemberut. Kecantikan dan keanggunan Rin saat memainkan shamisen yang dilihat mereka mau tidak mau membuat hati kedua gadis kecil ini bersorak gembira saat Rin mau mengajari mereka. Mereka berpikir, jika mereka bisa memainkan shamisen seindah itu, mereka akan menjadi seperti Rin-seorang hime dalam dunia nyata.


"Kak Aya dan Kak Maya cuma bica bertarung. Mereka kacar, tidak ceperti Rin-chan," sela Mamoru tiba-tiba sambil tersenyum dan menoleh wajah menatap Shiro. "Benarkan Chiro?"


Shiro mengangguk kepala cepat dan tertawa. "Kacar!! kacar!!"


"Mamoru!!! Shiro!!" teriak Aya dan Maya bersamaan penuh kemarahan. Mereka berdua langsung berdiri dan berlari ke arah Shiro dan Mamoru yang dari tadi menonton mereka memainkan shamisen.


Shiro dan Mamoru tertawa semakin keras. Berdiri, mereka langsung berlari menghindari Aya dan Maya. "Kacar! Kacar!!"


"Shiro!! Mamoru! Aya! Maya!" panggil Kagome dan Sango. Tapi mereka empat tidak peduli, berlari keluar dari kamar Rin menuju halaman, mereka tertawa keras.


"Kalian berempat jangan berlari terlalu jauh!!" teriak Miroku melihat anak-anak yang bermain kejar-kejaran di halaman.


Rin yang melihat keempat anak kecil itu bermain hanya dapat tertawa. Masa kecil memang harus seperti itu, harus penuh tawa dan keceriaan.


Kagome yang melihat Rin tertawa kemudian tersenyum, menatap gadis manusia itu dia merasa betapa Rin telah berbeda dengan Rin kecil yang dulu pertama kali dilihatnya.


"Rin-chan, apakah kakak mengatakan sesuatu padamu sebelum meninggalkan istana tanah barat?" tanya Kagome kemudian dengan pelan.


Pertanyaan Kagome dengan segera merebut perhatian Inuyasha, Miroku dan Sango. Mata mereka terarah pada gadis manusia itu menunggu jawaban.


"Sesshoumaru-sama meminta Rin menunggu beliau pulang." Jawab Rin sambil tersenyum.


"Dan?" tanya Sango yang tidak bisa menahan perasaan penasarannya.


"Dan?" tanya Rin kembali penuh kebingungan.


"Kakak tidak mengatakan apa-apa lagi?" sela Kagome cepat.


Rin menggeleng kepala penuh kebingungan. "Sesshoumaru-sama tidak mengatakan apa-apa. Sesshoumaru-sama meninggalkan istana tanah barat bersama Jaken-sama tidak lama setelah kami mencapai istana."


Jawaban Rin membuat Inuyasha, Kagome, Miroku dan Sango terkejut. Sepertinya Rin sampai sekarang masih tidak tahu apa yang dilakukan Sesshoumaru.


"Rin-chan," panggil Kagome pelan lagi penuh keseriusan. "Apakah kau pernah memikirkan masa depanmu?"


Pertanyaan Kagome membuat Rin tertegun. Namun, sejenak kemudian senyum menghiasi wajahnya. "Tentu pernah. Masa depan yang Rin pikirkan adalah selalu bersama Sesshoumaru-sama."


"Sebagai apa?" tanya Kagome lagi.


"Rin tidak peduli sebagai apa," tawa Rin bahagia. Kedua mata coklatnya berbinar. "Sebagai bawahan, sebagai pelayan, sebagai apa saja tidak masalah. Rin ingin selalu bersama Sesshoumaru-sama sampai Rin akhir hidup Rin."


Jawaban polos Rin mau tidak mau membuat Kagome, Sango dan Miroku tersenyum. Bawahan? Pelayan?—betapa naifnya gadis manusia ini. Tidak tahukah dia sebagai apa inuyoukai penguasa tanah barat menginginkannya?


"Cih," cibir Inuyasha kesal. Melipat kedua tangannya, dia menatap Rin. "Apa kau bahagia di samping si berengesk itu?"


"Bahagia!!" jawab Rin cepat setengah berteriak. Senyum di wajahnya semakin melebar, membuat wajah cantiknya semakin cantik bagaikan bunga yang mekar. "Rin bahagia. Bersama Sesshoumaru-sama adalah kebahagiaan terbesar dalam hidup Rin."


Inuyasha tidak bisa berkata apa-apa lagi. Sampai sekarang, dia merasa Sesshoumaru tidak pantas untuk gadis manusia ini; Rin terlalu bagus untuk inuyoukai itu. Tapi, melihat senyum di wajah Rin—inuhanyou itu tahu gadis itu tidak berbohong; kebahagiaan bersama Sesshoumaru.

__ADS_1


Begitu juga untuk Kagome, Miroku dan Sango. Tersenyum, jawaban Rin membuat mereka hati mereka tenang, sebab, mereka memang mengharapkan kebahagiaan seumur hidup untuk gadis manusia yang cantik dan polos ini.


"Oh, iya, Inuyasha-sama, Kagome-sama, Miroku-sama, Sango-sama," seru Rin tersadar akan sesuatu. "Kalian masih belum menjawab pertanyaan Rin, ada apa kalian semua datang kamari?


Pertanyaan Rin ini membuat Inuyasaha dan yang lainnya tertegun. Namun, sejenak kemudian mereka kembali tertawa, kecuali Inuyasha yang membuang muka.


"Kami datang untuk melihat kebahagiaan." Jawab Kagome kemudian. Kedua mata hitamnya berbinar gembira melihat Rin yang sama sekali tidak mengerti.


....xOxOx....


Jaken berlari cepat mengejar Sesshoumaru yang ada di depannya, kedua kakinya yang pendek sama sekali tidak bisa menyeimbangi langkah kaki tuannya yang panjang. "Sesshoumaru-sama, tunggu!!!" teriaknya keras.


Sesshoumaru yang berjalan di depan sama sekali tidak mempedulikan Jaken. Terus melangkah, kakinya memasuki sebuah perkarangan sebuah rumah besar yang berdiri sendiri dalam hutan.


Pintu rumah yang tertutup rapat langsung terbuka saat kaki Sesshoumaru menginjak perkarangan rumah. Perlahan, seorang wanita tua berambut putih dengan keriput di wajah dan badannya berjalan keluar dan memberi hormat pada inuyoukai penguasa tanah barat itu.


"Apa yang membuat anda datang ke tempat hamba ini yang sederhana, Sesshoumaru-sama?" tanya wanita tua itu pelan.


"Sesshoumaru ini dengar, kau adalah pembuat kimono terhebat di jepang, Onimura." Jawab Sesshoumaru datar tanp ekspresi.


"Hamba tersanjung dengan ucapan anda," balas Onimura, wanita tua itu sambil tersenyum. "Adakah yang bisa hamba bantu, Sesshoumaru-sama?"


"Sesshoumaru ini ingin kau membuatkan kimono." Lanjut Sesshoumaru lagi tidak mempedulikan Onimura. "Kimono terindah yang cuma ada satu dan menjadi maha karyamu."


Ucapan Sesshoumaru membuat Onimura tertegun. Namun, sejenak kemudian dia kembali tersenyum. "Apakah kimono untuk hime dari barat, Sesshoumaru-sama?"


Sesshoumaru mengangguk kepala mendengar pertanyaan Onimura.


"Sesshoumaru-sama," balas Onimura kemudian dan tertawa. "Maafkan hamba karena tidak bisa menjalankan perintah anda. Hamba tidak bisa membuat kimono baru untuk Hime-sama lagi. Beliau sudah memiliki semua kimono karya hamba."


Balasan Onimura membuat Sesshoumaru terdiam. Dia menatap wanita tua itu datar tanpa ekspresi.


"Tiap penggantian musim selama lima tahun belakangan ini, baik anda maupun Inukimi-sama selalu memasan kimono untuk hime-sama. Di jepang ini, dari karya biasa hingga maha karya, kurasa hime dari barat lah satu-satunya yang memiliki koleksi sempurna akan kimono karyaku." jelas Onimura menjelaskan. "Hamba tidak memiliki karya untuk hime-sama lagi, Sesshoumaru-sama."


"Kurang ajar!!" teriak Jaken yang ada disamping Sesshoumaru keras. "Sesshoumaru-sama sudah sampai kemari, dan kau mengatakan tidak ada kimono lagi??! Kalau tidak ada, maka buatlah maha karya baru!!"


"Buat maha karya baru katamu!!??" teriak Onimura keras penuh kemarahan. Kedua matanya tiba-tiba berubah menjadi hitam besar tidak normal menatap Jaken. "Kau tau apa tentang karyaku!!?"


Jaken langsung bersembunyi di belakang Sesshoumaru karena ketakutan melihat kemarahan Onimura.


Mendekati Jaken, dari punggung Onimura empat kaki laba-laba yang besar dan panjang tiba-tiba melesat keluar. Membungkukkan badannya yang tergantung ke atas, dia menatap lekat Jaken yang pucat pasi. "Aku harus mencari bahan, aku harus mencari ide, aku harus mencari warna-kau kira itu mudah??!!"


"Kau cukup membuatnya sesuai apa yang Sesshoumaru ini inginkan?" sela Sesshoumaru tiba-tiba. Inuyoukai itu tidak mempedulikan sedikitpun kemarahan Onimura yang tertuju pada Jaken.


"Apa?"


"Eh?"


Seru Onimura dan Jaken bersamaan. Mereka berdua menoleh wajah menatap Sesshoumaru yang masih tidak bergerak sama sekali.


Perlahan, Sesshoumaru menoleh wajahnya menatap Onimura. "Musim semi."


"Musim semi?" tanya Onimura berusaha mencerna ucapan Sesshoumaru.


Kimono untuk Rin. Sesshoumaru tahu akan seperti apa. Kimono itu akan seperti gadis manusia itu. Putih yang suci, indah yang memesona, polos yang menyilaukan, lembut yang hangat dan warna-warna yang melambangkan musim semi; bunga sakura yang dicintainya.


"Musim semi saat bunga sakura mekar." Lanjut Sesshoumaru lagi. Ya, itulah gadis manusia itu; musim semi yang abadi.


Onimura tidak membalas lagi ucapan Sesshoumaru. Kedua mata hitam besarnya menatap lekat inuyoukai di depannya. Melihat dan melihat, tidak lama kemudian tiba-tiba, youkai pemintal benang itu tertawa keras sambil mengangkat kepala ke atas. "Hamba mengerti!! Hamba mengerti!! Hamba tahu kimono seperti apa yang anda inginkan."


"Eh??" Jaken terkejut melihat reaksi Onimura. Bukankah tadi dia marah dan mengatakanbtidak punya ide?


"Kimono yang melambangkan musim semi. Kimono yang akan menjadi maha karyaku, Onimura sang pemintal benang sepanjang hidupnya," ujar Onimura, perlahan wujudnya kembali menjadi seorang wanita tua. Mengangkat kepala, dia kembali menatap Sesshoumaru dengan seulas senyum lebar. "Tapi, hamba menginginkan anda memberikan hamba dua bahan, Sesshoumaru-sama."


"Dua bahan??" tanya Jaken cepat kebingungan.


"Katakan." balas Sesshoumaru tidak mempedulikan Jaken, dia menatap balik Onimura dengan wajah datar.


Senyum Onimura yang lebar semakin lebar, jika dia benar-benar bisa mendapatkan kedua bahan ini, maka—kimono maha karyanya akan menjadi kimono satu-satunya di dunia.

__ADS_1


....xOxOx....


__ADS_2