Till The End Of Time [ Inuyasha Fanfiction ]

Till The End Of Time [ Inuyasha Fanfiction ]
Chapter 141


__ADS_3

Kagome duduk diam begitu dia menjelaskan kondisi Rin pada Inukimi, Jinenji dan Kaeda yang ada di depannya. Matanya bisa melihat, baik inuyoukai, hanyou maupun miko tua yang memiliki pengetahuan luas akan pengobatan tidak mengetahui penyebab serta solusi untuk kesehatan Rin yang memburuk.


"Meido seki—" ujar Kaeda pelan memecahkn keheningan yang ada. "Bagaimana dengan Meido seki?"


"Kata kakak, Meido seki masih berdetak seiring dengan detak jantungnya seperti biasa," jawab Kagome cepat. Suaranya mengecil penuh ketidak pastiaan "—hanya jantung Rin-chan yang berdetak sangat lambat."


Jantung adalah organ terpenting seorang manusia. Fungsi jantung yang utama adalah memompa darah ke seluruh tubuh. Sebagai alat transportasi dalam tubuh, darah bertugas membawa nutrisi dan oksigen yang dibutuhkan oleh organ-organ tubuh. Apa yang terjadi jika jantung seorang manusia berhenti berdetak? Berhenti memompa darah ke seluruh tubuh?—jawabannya hanya satu; kematian.


Jinenji menggaruk kepalanya. "Sejak kecil, Rin-sama memiliki kondisi dan kesehatan tubuh yang sangat baik. Tumbuh besar di istana tanah barat, aku selalu memeriksa dan memastikan beliau selalu mendapatkan asupan nutrisi terbaik—aku benar tidak tahu apa yang terjadi pada beliau."


Ucapan Jinenji hanya membuat Kagome dan Kaeda menatap hanyou tersebut. Mereka tahu betapa baiknya Rin dibesarkan di istana tanah barat ini—dia dibesarkan dengan standart kehidupan seorang putri kerajaan.


"Apakah ada kemungkinan Meido seki? Meido seki yang kini melekat dan berdetak, apakah ada kemungkinan dialah penyebab kondisi Rin seperti ini?" tanya Kaeda pelan. Menatap Inukimi, dia menunggu jawaban. Kondisi Rin mulai memburuk pertama kali adalah karena Meido seki yang bersinar—apakah pusaka tanah barat itulah penyebabnya?


"Tidak. Meido seki tidak mungkin mencelakai Rin kecil," Inukimi menggeleng kepala menjawab dan menghela napas. "Meido seki terlalu mencintai Rin kecil."


Kata cinta yang diucapkan Inukimi hanya membuat Kagome, Jinenji dan Kaeda kebingungan, sebab sampai sekarang mereka sama sekali tidak mengerti apa maksud dari kata, 'Meido seki mencintai Rin'. Apa itu Meido seki sesungguhnya, mereka juga tidak tahu.


"Apakah anda punya pendapat kenapa kondisi Rin, Inukimi-san?" tanya Kaeda lagi. Dia tidak memiliki jawaban, pengalamannya sebagai miko puluhan tahun sama sekali tidak berguna sekarang. Hanya Inukimi yang telah berusia ribuan tahun saja yang bisa mereka andalkan sekarang.


"Aku—" jawab Inukimi pelan. Namun, ucapannya terhenti kareba pintu ruangan yang tiba-tiba terbuka.


Menatap pintu yang terbuka, Kagome, Inukimi, Jinenji dan Kaeda melihat Sesshoumaru berjalan masuk. Wajahnya tenang dan datar tanpa emosi, tapi, semua yang melihat tahu, emosi sang penguasa tanah barat itu tidak stabil sekarang. Kondisi emosinya bahkan terlihat lebih parah dari pada saat Rin hamil.


"Ibunda," panggil Sesshoumaru datar. Mata emasnya hanya menatap Inukimi tidak mempedulikan Kagome, Jinenji maupun Kaeda yang juga ada dalam ruangan. "Apa penyebab kondisi Rin?"


Inukimi diam membisu tidak menjawab pertanyaan Sesshoumaru, karena—dia tidak memiliki jawabannya.


Melihat Inukimi yang diam membisu, Sesshoumaru sadar, ibu kandungnya itu tidak memiliki jawaban. "Apa kau bisa menyembuhkan Rin?"


Inukimi tetap diam membisu. Ekspresi wajah tidak berubah. Mata emasnya hanya menatap balik mata Sesshoumaru dengan emosi tidak terjelaskan.


Sesshoumaru menutup mata melihat tatapan mata Inukimi. Tanpa mendengar jawabannyapun, dia sudah mendapatkan jawabannya adalah; tidak bisa.


Membuka matanya, mata emas Sesshoumaru yang datar tidak dapat menyembunyikan emosi dalam hatinya lagi—ketidakberdayaan. "Jika ini terus berlanjut, akankah—" terdiam sejenak, dia berusaha keras mencari suaranya yang menghilang. "Akankah Rin mati?"


Mata semua yang ada terbelalak mendengar pertanyaan Sesshoumaru.


Akankah Rin mati?


Pertanyaan tersebut, baik Kagome, Inukimi, Jinenji dan Kaeda memiliki jawabannya. Tapi, apakah mereka berani menjawabnya? Menyampaikan jika keadaan ini terus berlanjut, jika detak jantung wanita manusia itu terus melemah dan melemah, cepat atau lambat, Rin


akan—mati.


Sesshoumaru hanya dapat kembali menutup mata. Sekali lagi, tanpa di jawabpun dia mendapatkan jawabannya—jawaban yang paling ditakutinya.


Mati.


'Sesshoumaru-sama'


Senyum dan tawa Rin yang begitu cemerlang terbayang dalam pikiran Sesshoumaru. Ibu dari putranya, kisakinya—wanita yang dicintainya. Apakah dia bisa membiarkan wanita itu menghilang dari hidupnya?


Membuka matanya, mata emas Sesshoumaru kembali menatap Inukimi penuh perintah. "Ibunda, carikan penyihir untuk Rin."


Permintaan Sesshoumaru yang tiba-tiba membuat Kagome, Jinenji dan Kaeda kebingungan. Mereka tidak mengerti kenapa inuyoukai itu tiba-tiba meminta Inukimi mencarikan penyihir.


Namun, tidak untuk Inukimi. Dia tetap tenang menatap Sesshoumaru. "Kau ingin menghidupkan Rin kecil sebagai mayat hidup jika dia mati?"


Jika permintaan Sesshoumaru membuat bingung Kagome, Jinenji dan Kaeda, maka pertanyaan Inukimi membuat terkejut mereka. Penyihir? Mayat hidup?—apakah Seshoumaru bermaksud membangkitkan Rin seperti Kikyo dulu?


Sesshoumaru mengepal erat kedua telapak tangannya. Wajahnya tetap tanpa ekspresi, dia menahan habis-habis segala emosi berkecamuk dalam hatinya. "—Sesshoumaru ini tidak bisa kehilangan Rin."


Sesshoumaru benar-benar tidak bisa kehilangan Rin. Tidak apa-apa meski wanita itu kelak akan berada di sampingnya sebagai mayat hidup, tidak apa-apa meski bau dan kehangatan badannya akan menghilang—asal selalu di sampingnya, asal dia bisa selalu melihat senyum dan tawa yang terukir abadi dalam keberadaannya; asal Rin selalu ada bersamanya.


Shura sudah terlahir dengan selamat di dunia ini. Nyawa anak mereka yang berharga telah lolos dari segala bahaya. Karena itu, jika nyawa manusia Rin benar tidak dapat terselamatkan sekarang, tidak apa-apa—mereka masih bisa bersama. Seperti apapun Rin nantinya, Sesshoumaru tidak peduli. Cintanya untuk wanita manusia itu tidak akan pernah berubah sedikitpun—asal dia adalah Rinnya.


Jawaban Sesshoumaru membuat Inukimi menutup matanya. Hatinya hancur melihat putranya sekarang, karena apa yang akan disampaikannya adalah sesuatu yang tidak akan pernah diharapkan.


"Sesshoumaru," panggil Inukimi pelan dan kembali membuka mata menatap Sesshoumaru. "Rin tidak akan dapat dihidupkan kembali sebagai mayat hidup..."


Apa yang dikatakan Inukimi seketika membuat Sesshoumaru tertegun tidak tahu harus mengatakan apa.


"Aku sudah mengatakan padamu dulu, kematian ke tiga Rin adalah kematian sesungguhnya, dia tidak akan dapat dihidupkan kembali," lanjut Inukimi pelan. Mata emasnya hanya dapat menatap sedih Sesshoumaru. "Jiwa yang telah diselamatkan dari cengkraman kematian dua kali, saat mati ketiga kalinya—tidak akan dapat berada di dunia ini lagi, tidak peduli apa yang kau lakukan..."


Kemarahan memenuhi hati Sesshoumaru. Dalam satu kedipan mata, dia telah berjongkok tepat di depan ibu kandungnya. Mata emasnya menjadi merah, ujung bibirnya terangkat menyeringai menyeramkan. Suaranya merendah penuh niat membunuh. "Kau memberitahu Sesshoumaru ini bahwa Rin tidak akan terselamatkan?"


Bulu kuduk Kagome, Jinenji dan Kaeda berdiri, mereka bisa merasakan jelas kemarahan dan niat membunuh inudaiyoukai penguasa tanah barat yang terkenal begitu berbahaya tersebut.


Inukimi diam membisu menatap Sesshoumaru. Tidak ada ketakutan di wajahnya menatap wajah putra kandungnya tersebut. Kemarahan yang ada, mantan penguasa tanah barat bersedia menerimanya—daripada ekspresi putus asa di wajah itu.


Menatap terus wajah tanpa ekspresi Inukimi, Sesshoumaru kemudian menutup matanya. Inuyoukai itu tahu, kesalahan tidak ada pada mantan penguasa tanah barat di depannya. Dia harus menguasai dirinya, sekarang bukan saatnya dia bersikap seperti ini—yang paling penting adalah mencari cara menyelamatkan Rin.


Berdiri, Sesshoumaru kemudian membuka mata. Tanpa menatap sedikitpun Inukimi atau yang lainnya, dia membalikkan badan dan berjalan keluar dari ruangan.


Tidak ada seorangpun yang menghentikan Sesshoumaru, mereka hanya dapat diam membisu menatap punggung sang penguasa tanah barat tersebut. Punggung yang sangat tegap dan kokoh, namun juga terlihat rapuh dan berbahaya dalam waktu yang bersamaan. Dalam ketidakpastian dan kebingungan ini, ke depan, jika mereka tidak menemukan jalan, apa yang akan terjadi?—mereka tidak berani membayangkannya.


....xOxOx....


Nama no naka


Kaze no naka


Yume no naka


Suara yang sangat lembut dan merdu bagaikan dentingan lonceng. Shiro berdiri dalam diam di pintu shoji yang terbuka. Mata emasnya menatap lekat wanita manusia yang sedang bernyanyi dalam kamar. Duduk di atas futon wanita itu membuai seorang bayi dalam gendongannya.


Bagi Shiro, sejak kecil sampai sekarang, wanita di depannya selalu sangat cantik. Rambut sehitam langit malam tanpa bintang, kulit seputih salju, hidung yang mancung, bibir yang munggil, mata coklat besar jernih yang bersinar penuh kasih sayang—sungguh dia adalah wanita tercantik yang pernah dilihatnya. Istri dari pamannya, bibi kesayangannya; Rin.


Wajah Rin memang terlihat sangat pucat, tidak seperti biasanya. Namun, Shiro juga tidak dapat mempungkiri kebahagiaan yang terpancar dari wajah menawan tersebut. Memeluk bayi kecil itu, dia terlihat bagaikan sedang memeluk harta tidak ternilai dalam dunia ini.


Wajah Rin kemudian terangkat menatap Shiro. Senyum masih tetap ada di wajahnya, begitu juga dengan lagu yang mengalun dari bibir munggilnya. Mata coklatnya berbinar, dia mengangguk pelan kepala seakan menyuruh inuhanyou kecil di depan untuk bergabung dengan dirinya, dan tidak membuang waktu, inuhanyou kecil itu pun melangkahkan kaki mendekatinya.


Sesshoumaru-sama doko ni iru


Jakken-sama wo shita naete


Tiba di depan Rin, dengan penuh rasa ingin tahu, Shiro berusaha mengintip wajah dari Shura, sepupunya yang ada dalam gendongan.


Sadar dengan keinginan Shiro, Rin dengan pelan menurunkan gendongannya, membiarkan inuhanyou itu melihat wajah sang bayi. Kedua mata coklat masih berbinar penuh kegembiraan, kebanggaan, ketidak percayaan dan juga kasih sayang cinta tiada tara untuk anaknya.


Watashi wa hitori de machimashou


Shura wa hitori de machimashou


Wareware wa hitori de machimashou


Sesshoumaru-sama omodori wo


Lagu mengalun di udara kemudian terhenti. Shiro bisa melihat jelas wajah bayi yang ada dalam pelukannya itu sekarang. Berambut perak dengan kulit berwarna putih, tanda bulan sabit di dahi serta satu garis keungguan di pipi. Mata sang bayi tertutup, tapi dia mengakui, bayi ini sangat tampan dan memang—mirip dirinya yang juga sangat tampan.


Tangan kecil Shiro kemudian terangkat untuk menyentuh wajah Shura dengan ragu-ragu, sebab dia takut membangunkannya dari tidur yang terlihat begitu damai dan nyenyak. Namun, saat tangannya hampir berhasil menyentuh pipi sang bayi, mata sang bayi langsung terbuka, memperlihatkan sepasang mata berwarna emas seperti miliknya.


Shiro tertegun. Sepasang mata yang kini menatapnya dengan lurus tanpa rasa takut atau pun penasaran membuatnya merasa, bayi ini pasti akan tumbuh menjadi youkai yang sangat kuat dan tangguh—seperti ayah kandungnya; paman Sesshoumaru.

__ADS_1


"Jika kelak, Shura mengalami kesulitan, apakah Shiro bersedia membantunya?" tanya Rin dengan suara lembut.


Shiro segera mengangkat kepala menatap wajah Rin, terkejut dengan pertanyaan yang tiba-tiba. "Bersediakah Shiro membantu Rin menjaga Shura kelak?" tanyanya lagi.


Shiro hanya bisa mengangguk kepalanya dengan cepat. Dia sangat terpesona melihat wajah Rin yang begitu dekat dengannya sekarang. Kata orang, bibinya ini adalah wanita tercantik di dunia, dan inuhanyou itu yakin hari ini—itu benar.


Tertawa, Rin mengangkat jari kelingking kanannya. "Janji?"


Shiro segera mengaitkan jari kelingkingnya pada kelingking Rin. Siapa yang sanggup menolak permintaan bibinya ini?—bahkan paman Sesshoumaru yang menyeramkan itu saja, mungkin juga tidak mampu. Tersenyum, inuhanyou kecil itu kemudian tertawa. "Aku janji, Rin. Aku, Shiro berjanji padamu, Shiro pasti akan menjaga Shura kelak."


Rin tertawa semakin lebar dengan suaranya yang bagaikan dentingan lonceng. Namun, Shura yang ada dalam gendongannya tiba-tiba mengangkat tangan memukul tangan Shiro, kedua matanya menatap tidak suka dan penuh kemarahan pada saudara sepupunya itu.


Shiro yang terkejut segera melepasakan jari kelingkingnya yang terkait dengan jari keringking Rin. Menatap wajah Shura, perasaan kesal memenuhi hati. "Apaan? Kenapa Shiro tidak boleh menyentuh Rin-chan?? Rin-chan adalah bibi Shiro!!"


Tatapan Shura hanya semakin tajam terarah pada Shiro. Tetap tidak ada ketakutan sedikitpun dalam mata emasnya.


Semakin kesal, Shiro kemudian melompat ke samping Rin. Kedua tangannya segera terbuka lebar memeluk pinggang wanita manusia tersebut. "Shiro boleh menyentuh Rin-chan sesuka Shiro!!"


Kemarahan seketika memenuhi wajah Shura. Mata emasnya berubah menjadi merah, dan dia menyeringai marah memperlihatkn taring kecilnya yang panjang. Kedua tangannya bergerak-gerak ingin mengapai Shiro yang ada di luar jangkauannya.


Namun, Shiro tidak peduli. Mendengus pelan, dia menjulurkan lidahnya mengejek. "Kau kira Shiro akan takut padamu, hah??"


Rin hanya dapat tertawa kecil dan menggeleng kepala melihat sikap Shura dan Shiro. Apakah kelak kedua saudara sepupu ini masih akan seperti ini?


Menghela napas, Rin kemudian mendekap Shura di dadanya. "Jangan marah, putraku dari barat. Yang memeluk Rin sekarang adalah kakakmu, saudaramu."


Shura tidak memberontak saat didekap Rin. Tapi, suara geramannya masih terdengar karena dia tahu, Shiro masih memeluk ibunya. Dia tidak pernah ingin berbagi ibu kandungnya sedikitpun dengan siapa saja kecuali ayah kandungnya.


Merasa menang, Shiro kemudian melepaskan pelukannya di pinggang Rin. Tidak mempedulikan Shura, mata emasnya menatap wanita manusia itu lagi. "Rin-chan tidak apa-apa?"


Pertanyaan Shiro membuat Rin tertegun. Menatap inuhanyou di sampingnya, dia tersenyum. "Rin tidak apa-apa, Shiro."


"Syukurlah kalau begitu." Shiro mengangguk kepala. Dia memang tidak tahu apa yang terjadi, tapi keributan kemarin masih diingatnya. Meido seki yang bersinar, mereka yang terhempas keluar, kekai yang menutup seluruh kamar, ayah dan ibunya serta lainnya yang panik, lalu—paman Sesshoumaru yang tidak seperti biasanya.


"Rin-chan harus cepat sehat," ujar Shiro lagi dan tersenyum, "Nanti, kita bermain bola lagi," mata emasnya kemudian terarah pada Shura yang wajahnya tidak dapat dilihatnya karena didekap Rin. "Shiro juga akan mengajak Shura main walau dia menyebalkan."


Rin hanya bisa tertegun dan sejenak kemudian kembali tertawa. Dia benar tidak tahu harus mengatakan apa untuk inuhanyou kecil di sampingnya. Berhenti tertawa, kisaki tanah barat kembali tersenyum. "Iya, baiklah Shiro. Rin akan cepat sehat."


"Bagus-bagus!" tawa Shiro keras. Kedua ujung bibirnya terangkat ke atas tersenyum lebar dengan wajah penuh kegembiraan. "Shiro akan menunggunya!!"


Rin mengangguk kepala dan ikut tertawa gembira seperti hanlnya Shiro. Ya, dia akan segera sembuh sesuai ucapan inuhanyou di depannya, dan dia juga ingin sekali melihat Shura yang bermain bola dengan gembira kelak.


Suara tawa Rin dan Shiro terdengar memenuhi kamar. Namun, tawa inuhanyou itu tidak bertahan lama karena merasakan aura menakutkan yang mendekati mereka.


Shura yang menggeram penuh kemarahan juga segera berhenti, dan itu membuat Rin segera sadar akan siapa yang datang. Tersenyum semakin lebar, sepasang mata coklat jernihnya terarah pada arah pintu yang terbuka.


Perlahan, mata Rin dan Shiro bisa melihat sosok yang berjalan pelan ke kamar. Tinggi dan ramping, tampan namun penuh karisma—Sesshoumaru, sang penguasa tanah barat.


"Sesshoumaru-sama, okaeri." Sapa Rin dengan senyum musim seminya yang hangat.


Sesshoumaru tidak mengatakan apa-apa, tapi kedua mata emasnya jatuh pada Shiro yang ada di samping Rin.


Meski tatapan mata emas itu mirip tatapan Shura, tapi Shiro bisa merasakan perbedaannya sekarang. Datar tanpa emosi, tenang namun penuh intimidasi—membuatnya ketakutan.


Berdiri, Shiro segera meloncat menjauh dari samping Rin. Menunduk ke bawah, dia tidak berani mengangkat kepala menatap pamannya tersebut. Pamannya adalah inudaiyoukai yang kuat dan menyeramkan—alpha dari alpha yang tidak boleh dilawan.


Tidak mempedulikan Shiro sedikitpun, Sesshoumaru mendekati Rin. Duduk di belakang wanita manusia itu, kedua tangannya memeluk pinggang ramping yang ada dengan lembut, namun erat.


"Tadaima, Rin." ujar Sesshoumaru kemudian. Pelan dan datar seperti biasanya.


Rin—wanita paling berharga baginya. Sesshoumaru hanya dapat bersikap senatural mungkin di depannya sekarang. Tidak peduli apapun dirasakannya sekarang, apapun yang terjadi ke depannya—dia tidak akan gagal menyelamatkannya.


Pelukan dan ucapan Sesshoumaru, Rin bisa merasakan perbedaannya dengan biasanya. Namun kali ini, dia mengabaikannya—dia tidak mau mengetahuinya.


Tersenyum semakin lebar, Rin memutar badannya ke belakang dan menjauhkan Shura dari dekapan dadanya. Mengangkat lebih tinggi badan kecil dalam gendongan, dia membiarkan Sesshoumaru melihat putra mereka yang kini tersenyum dan tertawa bahagia. Kedua tangan kecilnya terarah pada orang tuanya penuh semangat.


Menutup mata, Sesshoumaru menundukkan kepalanya ke bawah mendekati Shura, membiarkan kedua tangan kecil putra mereka menyentuhnya. Seulas senyum kecil memenuhi hatinya saat kehangatan yang ada tersalur padanya—sepasang tangan kecil ini selamanya akan menjadi tangan kecil yang akan selalu dijaganya seperti tangan Rin; hartanya yang tidak ternilai.


Tawa Shura semakin gembira saat dia berhasil menyentuh wajah sang ayah. Kedua mata emasnya berbinar indah memancarkan segala cahaya kebahagiaan yang ada di dunia.


Rin ikut tertawa melihat interaksi Sesshoumaru dan Shura. Hatinya terasa sangat damai dan juga bahagia. Bisa melihat dan selalu bersama kedua inuyoukai paling penting dalam hidupnya—dia sungguh tidak akan meminta hal lain lagi.


Menempelkan pelan kepalanya pada kepala Sesshoumaru, Rin menutup mata. Seulas senyum kecil memenuhi wajahnya. "Sesshoumaru-sama mencintaimu, Rin juga mencintaimu—kami selalu mencintaimu, putra dari barat..."


Shiro yang berada di samping tidak bergerak sedikitpun. Kedua mata emasnya menatap apa yang ada di depannya sekarang tanpa berkedip. Rin yang begitu cantik dan penuh kasih sayang, Shura yang tertawa bahagia, lalu Sesshoumaru, pamannya yang begitu menakutkan tersenyum kecil—betapa keluarga kecil di depannya yang sangat-sangat indah.


Cinta.


Kata cinta yang diucapkan Rin membekas dalam hati Shiro. Hanya melihat saja, inuhanyou kecil itu bisa merasakan, betapa penting dan berharganya Shura bagi paman dan bibinya. Apakah ibu dan ayahnya juga mencintainya seperti itu? Jika juga seperti itu, maka—betapa bahagianya dia.


Ikatan.


Ikatan yang ada antara mereka, ikatan keluarga yang mengikat dengan begitu kuat tidak terputuskan—meski Shiro tidak mengerti apa itu, dia tahu, cinta Paman dan Bibinya untuk saudara sepupunya itu, selamanya tidak akan pernah berubah sedikitpun.


"Hei!! Ternyata kau ada di sini, Shiro!!" suara keras Inuyasha tiba-tiba terdengar dan membuat Shiro terkejut.


Menoleh kepalanya menatap pintu shoji yang terbuka, Shiro melihat Inuyasha berdiri dengan wajah penuh kekesalan menatapnya.


Melangkah masuk mendekati Shiro, Inuyasha menjitak keras kepala putranya tersebut. "Jangan lari sembarangan! Kau membuatku khawatir saja, Shiro!"


"Sakit!!" memegang kepalanya, air mata mengalir keluar dari mata Shiro karena pukulan yang didapatkannya.


Inuyasha sama sekali tidak peduli akan teriakan kesakitan Shiro, menatap Sesshoumaru, Rin dan Shura yang menatapnya, dia menggaruk kepalanya yang tidak gatal. "Maaf menganggu kalian."


Rin menggeleng kepala dan tersenyum. "Tidak, Inuyasha-sama. Shiro-chan datang menemani Rin dan Shura, Rin justru senang."


Ucapan dan senyum Rin membuat Inuyasha tertegun. Kondisi Rin yang berbahaya, inuhanyou itu sudah tahu semuanya dari Kagome. Karena itu, menatap wanita manusia itu lagi, dia tidak tahu harus mengucapkan apa.


"Shiro tidak menganggu Rin-chan dan Shura!!" protes Shiro sambil memeluk kaki Inuyasha. Mengangkat kepalanya, mata emasnya menatap lekat ayahnya. "Pintu kamar Rin-chan tidak tertutup, Kiri-san yang berada di luar juga tidak menghentikan, karena itulah Shura berjalan masuk."


Pintu kamar yang terbuka.


Keanehan yang tidak dipermasalahkan sedikitpun oleh Rin. Karena dia tahu, pintu yang terbuka itu adalah perintah dari Sesshoumaru. Lalu alasan di balik pintu yang dibiarkan terbuka, meski dirinya tahu, kisaki tanah barat tidak berani memikirkannya lebih jauh.


Sesshoumaru tetap diam membisu. Perlahan, dia kemudian menatap Rin. Pintu yang terbuka dan akan dibiarkan terbuka, sang penguasa tanah barat hanya dapat berpikir, apakah wanita manusia dalam pelukannya tahu alasannya?—akan sangat baik jika dia tahu.


"Inuyasha," suara Sesshoumaru yang datar tiba-tiba terdengar. "Keluar jika tidak ada urusan."


"Eh?" seru Inuyasha tertegun dengan perintah Sesshoumaru. Namun, sejenak kemudian di segara sadar. Kedua tangamnya segera mengendong Shiro yang sedang memeluk kakinya. "Iya-iya, aku tidak akan menganggu kalian."


Rin menggeleng kepala dan tersenyum. "Anda tidak pernah menganggu kami, Inuyasha-sama."


"Hah," cibir Inuyasha. Kedua mata emasnya kemudian jatuh pada Shura yang ada dalam gendongan Rin. "Hanya kau saja yang berpikir seperti itu, Rin. Lihat wajah si kecil itu! Dia sepertinya sudah siap menerkamku jika aku masih berada di sini."


Menurunkn pandangannya pada Shura, Rin hanya bisa menggeleng kepala pelan. Mata tajam Shura yang terarah pada Inuyasha jelas penuh ketidak sukaan dan kebencian. Apa sebenarnya yang membuat putranya begitu tidak suka dengan pamannya tersebut?


Namun, tiba-tiba saja, di dalam kamar mereka yang aman, dalam pelukan Sesshoumaru yang begitu hangat, Rin merasakan sesuatu yang kembali datang.


Mengendalikan perasaannya, Rin menutup mata dan menenangkan diri. Ah, dia tahu, dirinya tidak boleh panik—dia harus berpikir cepat melakukan sesuatu sebelum segalanya terlambat.


Membuka mata lagi, Rin kemudian menatao keluat pintu kamar yang terbuka. Seulas senyum memenuhi wajah cantiknya. "Ah!! Salju!!!"


"Eh??" bersamaan Inuyasha dan Shiro menoleh wajah ke arah pintu yang terbuka. Namun, mereka sama sekali tidak melihat salju.

__ADS_1


"Salju turun lagi!!" tawa Rin kemudian. Menatap Sesshoumaru, kedua mata coklatnya berbinar bahagia. "Apakah anda juga melihatnya, Sesshoumaru-sama?"


Sesshoumaru membalas tatapan Rin. Wajahnya datar, tapi ada kebingungan dalam mata emasnya, sebab indra penglihatannya yang tajam sama sekali tidak melihat salju, begitu juga dengan indra penciumannya—tidak ada bau salju yang ditangkapnya.


"Salju belum turun, Rin." Jawab Sesshoumaru kemudian. Tidak ada perubahan sedikitpun di wajahnya menjawab.


Rin menggeleng kepala cepat. "Tidak. Salju telah turun."


"Salju belum turun, Rin," sela Inuyasha, dia yang melihat keluar sama sekali tidak melihat salju yang turun. "Kiri-san, apakah salju sudh turun??" tanya Inuyasha sambil berteriak pada Kiri yang berada di luar menjaga pintu.


"Salju belum turun." Balas suara Kiri dari luar. Suaranya juga datar tanpa emosi seperti biasa.


"Tidak, salju susah turun," tetap pada pendiriannya, Rin kemudian tersenyum. "Baiklah, bagaimana kalau kita semua bertaruh?—Rin mengatakan salju benar sudah turun."


"Ayo!!" seru Shiro gembira dan membuat Rin menatapnya. Berada dalam gendongan Inuyasha, dia balas menatap wanita manusia itu gembira. "Shiro bertaruh bahwa salju belum turun!!"


"Baiklah," tawa Rin gembira. Menoleh menatap Sesshoumaru lagi, tawanya semakin lebar. "Sesshoumaru-sama, apakah anda bersedia membantu Rin memastikannya di luar bahwa salju sudah turun?"


Sesshoumaru tidak mengatakan apa-apa, diam membisu dia menatap wajah Rin. Taruhan yang ada, tanpa memastikanpun dia tahu, Rin telah kalah. Salju memang belum turun di luar sana, namun untuk tawa dan binar gembira di wajah itu, sang penguasa tanah barat tidak menemukan kekuatan untuk mengatakannya.


"Rin mohon.." pinta Rin lagi, kedua matanya menatap penuh harap Sesshoumaru yang tidak bergeming sedikitpun.


Permintaan Rin dan wajahnya membuat Sesshoumaru kemudian mengangguk kepala pelan—betapa lemah dirinya di hadapan wanita manusia yang dicintainya ini.


Senyum Rin semakin lebar melihat anggukan kepala Sesshoumaru. Tertawa lagi, dia kemudian menyerahkan Shura dalam gendongan ada ayahnya. "Bawa Shura juga Sesshoumaru-sama, kalian berdua harus memastikan kemenangan Rin."


Sesshoumaru menerima Shura dan mengendongnya. Melihat wajah putranya yang berkerut karena terpisah dari sang ibu, inuyoukai itu hanya dapat berpikir bahwa antara dirinya dan Rin, Shura mungkin lebih memilih Rin.


Mengelus kepala Shura pelan, Rin kemudian mencium keningnya lembut penuh kasih sayang. "Pastikan kemenangan ibunda ya, putraku dari barat..."


Sesshoumaru tersenyum sangat kecil melihat sikap Rin yang sungguh kekanakan. Namun, dia tidak membencinya sedikitpun. Bangkit berdiri, inuyoukai itu kemudian melangkah ke arah pintu yang terbuka dengan Shura dalam gendongannya.


Inuyasha juga ikut melangkah. Dengan Shiro dalam pelukannya, dia berjalan bersama dengan Sesshoumaru keluar dari pintu yang terbuka.


Berada dalam gendongan Inuyasha, meski berjalan bersama Sesshoumaru, Shiro tidak merasa sangat takut seperti sebelumnya. Setidaknya dia tahu, ayahnya akan melindunginya jika pamannya itu tiba-tiba menyerangnya. Sedangkan untuk Shura, inuyoukai kecil itu sama sekali tidak peduli. Kepalanya berusaha terus melihat ke belakang pada sosok ibunya.


Berdiri sejajar dengan Kiri yang berada di samping luar pintu yang terbuka, mata Sesshoumaru, Shura, Inuyasha dan Shiro yang identik menatap taman di luar. Sejauh mata memandang, mereka sama sekali tidak melihat salju.


"Shiro menang!!" tawa Shiro gembira. Suaranya bergema memenuhi kamar dan taman yang hening. "Salju belum turun!! Shiro menang!!"


Sesshoumaru tetap diam membisu. Namun, tiba-tiba saja rasa sakit yang luar biasa dirasakannya. Rasa sakit yang bukan miliknya, rasa sakit yang sangat ditakutkannya—Rin.


Membalikkan badannya ke belekang, mata Sesshoumaru terbelalak. Di atas futon, Rin duduk dengan seulas senyum di wajah dan Meido seki yang bersinar di dada.


"Rin kalah taruhan, Sesshoumaru-sama," ujar Rin pelan dengan senyum yang terus mengembang di wajah. "Sebagai hukuman, Rin akan dikurung dalam kamar untuk beberapa saat."


"Rin!!" berteriak keras, Sesshoumaru melangkah, ingin berlari. Namun, sebuah kekai muncul di depan pintu yang terbuka menghentikannya.


Dengan tangan kiri yang mengendong Shura dan tangan kanan yang terus memukul kekai, mata Sesshoumaru menatap lekat pada Rin. Ketakutan, kekhawatiran dan kemarahan bercampur di wajahnya yang biasa datar tanpa ekspresi. "Rin!! Buka kekai ini!!!"


Semua yang terjadi sangat cepat, baik Inuyasha dan Kiri yang melihat hanya dapat membeku di tempat. Shiro yang berada dalam gendongan Inuyasha bergemetaran ketakutan, sedangkan untuk Shura, inuyoukai itu mulai menangis.


Rin tetap tidak bergerak, kedua matanya hanya terus menatap Sesshoumaru yang mati-matian ingin menghancurkan kekai serta Shura yang menangis dalam pelukannya.


Perlahan, pintu yang terbuka kemudian bergerak, tertutup dengan sendirinya tanpa ditarik oleh siapapun.


"Rin!!!" teriak Sesshoumaru. Matanya berubah menjadi merah darah. Kemarahannya tidak terkendalikannya kini tertuju pada Rin yang berada dalam kekai. "Biarkan Sesshoumaru ini masuk!!"


Namun Rin hanya tetap tersenyum. Mata coklatnya menatap lembut Shura kemudian jatuh pada Sesshoumaru. "Sessshoumaru-sama," panggilnya pelan. "Rin mohon, jaga Shura sampai Rin membuka pintu ini lagi..."


Permohonan Rin membuat Sesshoumaru tertegun. Dia tidak tahu harus melakukan apa lagi, mata merahnya kembali menjadi emas, namun kini penuh keputusasaan. "Rin..."


Mata emas yang beradu dengan mata coklat. Dalam setiap detik yang ada, dalam setiap gerakan pintu yang menutup, bagi Sesshoumaru dan Rin, waktu bagaikan melambat.


Pintu.


Alasan pintu yang terbuka. Rin hanya dapat memikirkannya sekarang walau dia tidak mau. Kenapa Sesshoumaru tidak mau menutup pintu tersebut?—karena bagi mereka sekarang, saat pintu itu tertutup lagi, dunia mereka terpisah.


Pintu akan memisahkan mereka.


Sesshoumaru tidak akan dapat mengapainya, walau dia mengetahui segala kesakitannya melalui tanda yang menghubungkan mereka.


Pintu yang tertutup.


Rin sesungguhnya tidak ingin pintu itu tertutup, tidak ingin dunia mereka terpisah. Tapi, jika terbuka—bagaimana bisa dia menunjukkan sosoknya yang begitu menyedihkan saat melawan kematian kepada Sesshoumaru dan Shura?


Terbuka atau tertutup—Rin tidak tahu mana yang seharusnya dia pilih. Tidak dapat berbuat apa-apa, namun mengetahui derita orang yang kau cintai—itu adalah kutukan. Tapi, melihat orang yang kau cintai hancur karena tidak bisa melakukan apapun untuk menghentikan deritamu—itu jugalah sebuah; kutukan.


Terbuka atau tertutup.


Itu adalah sebuah pilihan; pilihan yang sangat kejam, dan dalam waktu singkat, dia dipaksa memilih.


Tidak ada yang salah dan juga tidak ada yang benar, karena itu meski hatinya hancur, Rin hanya dapat memilih untuk—menutup pintu


"Tidak apa-apa," senyum Rin berubah menjadi tawa. Seakan rasa sakit luar biasa yang menyerangnya tidak ada artinya. "Rin tidak apa-apa, karena itu, tenanglah. Sesshoumaru-sama..."


"Rin!!! Hentikan!!!" teriak Sesshoumaru keras. Tangannya kembali terangkat memukul kekai yang ada. "Hentikan!!!"


Teriakan Sesshoumaru memenuhi paviliun timur istana tanah barat. Namun, tidak peduli bagaimana dia berteriak, pintu yang tertutup semakin tertutup seakan merebut wanita manusia yang begitu dicintainya dari dirinya.


Yang terlihat di mata emas Sesshoumaru sebelum pintu tertutup rapat adalah sosok tersenyum wanita manusia yang begitu cantik. Mulutnya bergerak pelan dan bergumam. "Rin mencintai anda, Sesshoumaru-sama..."


"Rin!!!!!"


....xOxOx....


"Rin!!!!"


Suara keras yang memanggil namanya, Rin menghempaskan badannya ke belakang, jatuh berbaring pada futon besar di bawahnya. Senyum masih mengembang di wajahnya, namun air mata mengalir turun tidak terhentikan.


"Rin!!!!"


"Oaaa!!! Oaaa!!"


Suara teriakan Sesshoumaru dan juga tangisan Shura. Rin hanya dapat berpikir betapa kejam dirinya, membuat kedua orang yang begitu berharga baginya menjadi seperti ini. Hei, jika kau berada di posisinya, pilihan apa yang akan kau pilih?


Rasa sakit yang terus menyerang. Dingin yang membakar dari dalam, raga yang terasa tercabik-cabik tanpa belas kasihan. Tapi, semua itu tidak sesakit hatinya yang hancur lebur.


Kematian yang kembali datang, dan dia yang tidak memiliki pilihan lain selain berjuang melawannya—Rin tidak memiliki keberanian memberitahu siapapun kebenaran yang ada.


Kenapa? Kenapa harus dia yang mengalami ini? Di mana dirinya salah sehingga dia harus mengalami ini semua? Dia hanya ingin hidup bersama mereka yang dicintainya?—salahkah dirinya karena menginginkan kebahagiaan yang telah dia dambakan selama ini?


Pertanyaan demi pertanyaan yang ada terarahkan, namun pada akhirnya, tidak ada jawaban di dapatkannya—Rin hanya bisa tertawa dan terus tertawa. Hei, kematian, kau sungguh kejam...


Kegelapan kembali datang. Pandangan mata Rin yang terbuka lebar kembali menjadi gelap, suara yang ada menjauh dan menjauh hingga—menghilang.


Rin tahu, semua akan kembali terulangi lagi. Dia akan dipaksa lagi menonton pertunjukan kehidupannya dalam segala kesakitan dan penderitaan yang ada.


Mengumpulkan segenap tenaga yang ada, Rin meringkuk badannya di atas futon. Meski mata yang terbuka tidak dapat melihat, meski tidak ada suara yang didengar, dia tahu, dia pasti bisa melewati neraka ini sekali lagi seperti sebelumnya.


Memusatkan pikiran, Rin membayangkan dua wajah dari inuyoukai yang paling penting dalam keberadaannya—Sesshoumaru dan Shura.


Dalam kamar yang tidak ada suara lagi, bagaikan boneka tanpa jiwa yang rusak, mulutnya terbuka mengulangi terus nama dua inuyoukai yang dicintainya—mereka yang menjadi kekuatannya saat kematian datang.

__ADS_1


"Sesshoumaru-sama...Shura...Sesshoumaru-sama...Shura...Sesshoumaru-sama...Shura..."


....xOxOx....


__ADS_2