Till The End Of Time [ Inuyasha Fanfiction ]

Till The End Of Time [ Inuyasha Fanfiction ]
Chapter 25


__ADS_3

"Kita akan mencapai istana barat minggu depan. Musim dingin sudah tiba, semoga saja istana tanah barat masih memiliki kamar yang dapat menghangatkan badan kita pada malam hari." Kata Mamoru sambil menatap langit malam musim dingin di atasnya. Mereka berada dalam sebuah hutan di perbatasan barat dan selatan.


"Hanya itu saja kah yang ada dalam kepalamu, Mamoru?" tanya Shiro kesal.


"Tidak, Shiro. Aku juga berpikir, apakah ada makanan enak di sana." Balas Mamoru sambil tersenyum lebar dan membuat Shiro menjitak kepalanya dengan keras karena kesal. Meski keadaan mereka sekarang cukup serius, pemuda di depannya ini tetap saja bisa bercanda.


Shura yang ada di samping mereka tidak mempedulikan sedikit pun kedua pemuda yang sudah mulai beradu mulut. Dia hanya diam membisu menatap api unggun di depannya. Namun, tangan kecil Sakura tiba-tiba menarik lengan haorinya, merebut perhatian. "Kak Shura, apakah kakak baik-baik saja? Apakah luka kakak masih sakit? Apakah kakak kedinginan?" tanya hanyou kecil itu terus sambil menatap lekat-lekat wajah Shura.


"Aku tidak apa-apa." Jawab Shura pelan.


"Baguslah kalau begitu. Sakura sangat senang." senyum Sakura lebar. Tangan kecilnya segera melepaskan lengan haori Shura. Hanyou kecil itu kemudian menoleh kepala menatap api unggun, kedua tangan kecil terangkat mendekati bibir munggilnya. Dengan pelan, dia menggosok-gosok tangan dan meniupnya, berusaha mengusir kedinginan yang menyerangnya.


Melihat itu, Shura tiba-tiba menarik badan kecil hanyou itu. Dia segera menempatkan Sakura di depannya. Kedua tangannya segera melingkar di pinggang Sakura. Awalnya Sakura sangat terkejut dengan sikap Shura yang tiba-tiba. Namun, sejenak kemudian, dia tertawa. Dia tahu, Shura bermaksud menghangatkan badannya. Selalu melakukan sesuatu tanpa mengatakan sepatah katapun, itu adalah sikap Shura. Dengan pelan dan hati-hati, hanyou kecil itu menyadarkan punggungnya pada dada Shura yang baru saja sembuh dari luka tusukan Akihiko. Kedua tangan munggilnya bergerak menyentuh tangan Shura dan matanya tertutup. Dia membiarkan bau dan kehangatan badan inuyoukai itu menyelimutinya.


Shiro langsung menghentikan adu mulutnya dengan Mamoru begitu melihat Shura dan Sakura. Alisnya langsung terangkat ke atas. Lagi-lagi, Shura memeluk Sakura seakan adiknya itu adalah miliknya. Menggeram penuh kekesalan, dia menatap tajam Shura, memberikan perintah supaya melepaskan Sakura. Namun, Shura tetap saja tidak peduli seperti biasanya, malahan dia membuang muka dan mempererat pelukannya.


"Adikmu sudah menemukan penggantimu, Shiro. Percayalah, adikmu akan menikah dan meninggalkanmu untuk selamanya tidak lama lagi." Goda Mamoru sambil tertawa geli melihat sikap Shura dan Shiro.


Kekesalan Shiro semakin memuncak, dia segera berjalan mendekati Shura dan Sakura. Tangannya segera terangkat untuk menarik Sakura. Namun, Shura segera menepis tangan itu. Mata emasnya menatap tajam hanyou tersebut. Dan seperti biasanya lagi, hanyou itu pun membalas tatapan mata inuyoukai itu dengan sama tajamnya.


Sakura yang berada di tengah-tengah mereka menatap penuh kebingungan inuyoukai dan hanyou tersebut. Lalu, sejenak kemudian, kegembiraan di wajahnya berubah menjadi kesedihan. Lagi-lagi mereka berdua berkelahi dan bermusuhan, padahal saat dia melihat kakaknya membela dan menggendong Shura keluar dari istana tanah selatan, dia berpikir mereka tidak akan bermusuhan lagi.


Perubahan suasana Sakura segera disadari inuyoukai dan hanyou di sampingnya. Dua pasang mata emas segera menatap hanyou kecil tersebut. "Sakura, ada apa?" tanya Shiro pelan. Shura tidak mengatakan apa-apa, tapi matanya yang menatap hanyou kecil itu jelas juga bertanya sama.


Sakura menggeleng kepala dan menunduk ke bawah, menolak untuk menjawab pertanyaan tersebut. Khawatir, Shiro segera berlutut dan mengangkat kepala adiknya. Kedua mata emasnya dan Shura langsung terbelalak saat melihat air mata telah memenuhi sepasang mata emas yang identik dengan mereka.


"Sakura! Kenapa? Kenapa kau menangis? Apakah ada yang sakit?" tanya Shiro panik, sedangkan tangan Shura yang sedang melingkar di pinggang Sakura segera terangkat menghapus air mata yang telah jatuh menuruni pipi hanyou kecil itu. "Kenapa kau menangis?" tanyanya datar dengan wajah tanpa ekspresi, walau terlihat sekali ada kepanikan di sepasang emas matanya sekarang.


"S-Sakura sayang dengan Kak Shura dan Kak Shiro.." jawab Sakura sambil terisak-isak. "S-Sakura tidak suka kakak berdua saling membenci terus. S-Sakura ingin k-kakak berbaikan dan t-tidak pernah bertengkar lagi.."


Permintaan Sakura membuat Shura dan Shiro tertegun. Kepala mereka langsung terangkat untuk saling menatap, dan saat mata mereka bertemu, Shiro hanya bisa menghela napas panjang. Dengan pelan, dia mengangkat tangan mengnyentuh pipi Sakura, tanpa mempedulikan tangan Shura yang juga ada di sana serta tatapan tajam inuyoukai tersebut yang jelas-jelas tidak suka. "Sakura, dengar baik-baik, ya?" Ujarnya tegas. "Pertama, aku tidak membenci Shura. Kedua, sikap kami ini buka saling membenci atau pun berkelahi. Kau lihat, kan? Kakak sering beradu mulut dengan Mamoru. Ini tanda sayang Kakak kepadanya. Ketiga, Shura itu secara garis besar sebenarnya juga termasuk adikku, seperti kamu."


"Aku bukan adikmu." Protes Shura pelan sambil menatap Shiro. Dia sebenarnya sangat terkejut dengan penjelasan hanyou itu. Namun, dia menolak untuk menunjukkannya.


Shiro tidak mempedulikan protes Shura, dia tersenyum menatap adiknya. "Tenang, Sakura. Bukankah kakak sudah mengatakan kemarin, Darah yang mengalir dalam nadi Shura juga mengalir dalam nadiku. Dia adalah sepupuku, keluargaku, adikku..."


Sebuah senyum lebar langsung terlukis di wajah Sakura. Dia tertawa kecil dan mengangkat tangan menyentuh tangan Shiro dan Shura yang ada di pipinya. Kepalanya kemudian menoleh menatap Shura. "Kak Shura juga seperti itu, ya? Sakura mengerti sekarang, kita adalah sekeluarga. Kak Shura pasti juga menyayangi Kak Shiro seperti Sakura dan Kak Shiro menyayangi Kak Shura, kan?"


Pertanyaan tidak terduga Sakura membuat Shura tertegun dan diam membisu. Menyayangi? Sakura? Shiro? Inuyoukai itu ingin menjawab, tidak, tapi, tidak tahu mengapa, kepalanya tiba-tiba mengangguk pelan menjawab pertanyaan tersebut.


Tertegun sejenak karena jawaban yang baru saja diberikan, Shura ingin mengoreksinya, namun saat melihat senyum di wajah Sakura yang semakin lebar, dia segera membatalkan niatnya itu. Dia tidak ingin senyum itu menghilang. Dirinya bukan menjawab pertanyaan tersebut, dia memang hanya ingin mengangguk kepalanya barusan. Ya, pasti itu. Dia tidak mungkin menyayangi kedua hanyou ini, kan? Terutama sang kakak?


Shiro yang melihat Shura mengangguk kepalanya tiba-tiba merasakan kegembiraan yang sangat besar memenuhi hatinya. Dia bahkan tidak bisa menghentikan lagi senyum yang terbentuk di wajah tampannya. Tertawa, dia segera mengangkat tangan mengacak-acak rambut kedua adiknya tersebut.

__ADS_1


Sakura tertawa gembira dan mengangkat tangan untuk menutupi kepalanya, sedangkan Shura kembali menatap tajam Shiro, megirimkan perintah pada hanyou itu untuk menghentikan apa yang sedang dilakukannya. Namun, bukannya berhenti, hanyou itu malah semakin menjadi-jadi.


"Kakak! Kak Shiro! Kak Shura!" panggil Sakura tiba-tiba sambil menatap Shura dan Shiro. Senyum lebar masih ada di wajahnya, sedangkan kedua matanya berbinar-binar penuh harap. "Sebagai tanda kalian saling menyayangi, maukah kalian berdua berpelukan? Lalu, malam ini, kita bertiga tidur bersama-sama, ya?"


Ucapan Sakura yang diluar dugaan, sekali lagi membuat Shura dan Shiro tertegun. Mata emas mereka berdua terbelalak karena terkejut, tawa Shiro langsung terhenti. Tidur bersama? Mungkin masih bisa diterima. Tapi, berpelukan?


Mamoru yang melihat semua interaksi keluarga Inu di depannya benar-benar tidak dapat menahan tawanya lagi. Dia langsung tertawa terbahak-bahak sambil memegang perutnya. "A-aduh, sakit perutku menahan tawa.. Ahahahaha, Sakura-chan, kau memang hebat! Mereka berdua benar-benar tidak berkutik saat menghadapimu.. Ahahahahaha.."


Sakura yang tidak mengerti ucapan Mamoru kembali menatap Shura dan Shiro penuh kebingungan. "Apa maksud ucapan Kak Mamoru, Kakak?" tanyanya polos.


Pertanyaan Sakura kembali membuat tawa Mamoru semakin keras. Dia benar-benar tidak bisa menahan tawa lagi melihat ekspresi wajah Shura dan Shiro yang terkejut, bingung, tidak tahu harus menjawab apa serta; jijik. Tanpa disadarinya sendiri, Sakura benar-benar telah berhasil memegang kendali akan inuyoukai dan hanyou yang lebih tua darinya.


"Apa yang kau tertawakan hingga seperti itu, Mamoru?" tanya Aya tiba-tiba.


Semua yang ada di sana segera menoleh menatap kedua saudara kembar Aya dan Maya yang muncul dari balik semak-semak, "T-tidak apa-apa, kak Aya, Kak Maya.. Aku hanya mentertawakan keluarga inu yang sangat mengelikan.." jawab Mamoru sambil menahan tawanya.


Aya dan Maya hanya menatap penuh kebingungan Shura, Shiro dan Sakura saat mendengar jawaban Mamoru. Namun, sejenak kemudian, mereka berdua menghela napas. Apa yang terjadi pada inuyoukai dan kedua hanyou tersebut saat mereka tidak ada, mungkin sangat lucu dan menggemaskan, tapi, ini bukan saat bagi mereka untuk tertawa, ada sesuatu yang mesti mereka sampaikan.


"Kami menerima surat dari burung merpati yang Ibu kirimkan lagi lagi." Kata Aya tenang memulai pembicaraan.


Tawa Mamoru langsung terhenti, dia segera menatap kedua kakaknya dnegan serius, begitu juga Shura, dan Shiro. "Apa yang dituliskan, Sango-san?" tanya Shiro.


"Keadaan barat sekarang tidak begitu aman, karena utara benar-benar berhasil mendesak barat," jelas Maya pelan. "Dan alasan kenapa barat bisa jadi seperti ini adalah karena ada penghianat di barat."


"Penghianat?" tanya Shiro lagi, bingung.


"Akiko? Siapa dia? Nama itu tidak terasa asing, tapi aku tidak bisa mengingatnya," Kata Mamoru, berusaha keras mengingatnya. Dengan pelan dia kemudian menoleh wajah menatap Shura. "Kau kenal itu siapa, Shura?"


Shura membalas tatapan Mamoru, wajahnya tetap saja tenang, tidak berekspresi seperti biasanya, seakan apa yang didengarnya barusan tidak ada artinya. "Iya. Aku kenal dia. Dia adalah wanita yang dikatakan melahirkanku."


....xOxOx....


Perjalanan mereka menuju istana tanah barat tidaklah mudah. Sesuai dengan apa yang tertulis dalam surat dari ibu tiga bersaudara taijiya, keadaan barat memang tidak seaman dulu lagi. Youkai-youkai dari utara berkeliaran di mana-mana, desa manusia yang hancur dan juga, mayat-mayat manusia yang tanpa jiwa.


Mereka berusaha keras menghindari para youkai dan juga desa manusia. Apa yang terjadi jika para youkai dari utara tahu, Shura, putra satu-satunya dari Sang Penguasa Tanah Barat ada di tempat alam bebas ini. Kefatalan pasti akan terjadi. Lalu, mereka juga tidak mau memperlihatkan pemandangan kematian yang menakutkan itu pada Sakura yang masih kecil.


Mereka cukup beruntung, karena dengan indera penciuman Shura dan Shiro yang tajam, mereka dapat mengetahui arah mana yang aman dari para youkai dan juga mayat manusia. Pertama kalinya, Shura sangat menolak untuk bersembunyi, sebab harga dirinya yang tinggi tidak bisa membiarkannya bersembunyi. Namun, setelah Mamoru mengatakan bahwa semuanya demi keselamatan Sakura, inuyoukai itu pun akhirnya mengalah untuk pertama kali dalam hidupnya.


Dilain pihak, luka di sekujur tubuh Shura pun telah sembuh total. Shiro dan tiga bersaudara taijiya hanya dapat menatap penuh kekaguman dengan kemampuan menyembuhnya yang begitu luar biasa.


"Aku benar-benar iri dengan kemampuan menyembuh Shura yang luar biasa." kata Mamoru sambil menatap penuh keirian Shura. "Dia benar-benar mewarisi semua kemampuan yang dimiliki ayahnya."


"Iya, dan jangan kau lupakan, dia juga mewarisi harga diri tinggi yang sebetulnya tidak diperlukan dalam keadaan kita sekarang ini." Tambah Shiro kesal, saat teringat sikap tidak suka dan terhina Shura saat mereka menghindari youkai yang ada.

__ADS_1


"Benar. Anak laki-laki pertama dalam keluarga Inu mungkin memang ditakdirkan mirip dengan ayah mereka. Lihat saja dirimu, kau juga mewarisi wajah dan sikap keras kepala ayahmu."


"Hei! Apa maksud ucapanmu barusan?!" teriak Shiro kesal.


"Sudah, sudah, hentikan sikap kalian berdua itu," sela Aya tiba-tiba. "Ini bukan saatnya membahas itu. Sampai kapan aku harus melarai pertengkaran memalukan kalian berdua?"


"Bertahanlah sebentar lagi Aya, kita sudah akan mencapai Istana tanah barat." Kata Maya sambil menepuk pundak saudara kembarnya, memberi dorongan semangat.


Shura yang ada di belakang mereka tidak mengatakan apa-apa. Dia hanya dia berjalan menatap ke depan. Mereka kini berada dalam hutan di dekat istana tanah barat. Inuyoukai kecil itu kenal dengan baik hutan ini, sebab hutan ini merupakan tempatnya bermain dulu.


"Kak Shura," panggil Sakura yang ada di samping Shura tiba-tiba, merebut perhatiannya. "Apakah Kakak senang kembali ke rumah?" tanyanya pelan.


Shura tidak menjawab dia diam membisu.


"Lalu, Kak Shura. Wanita bernama Akiko yang dikatakan menghianati barat," lanjut Sakura lagi. "Sakura memang tidak mengerti apa itu menghianati, tapi Sakura tahu, itu pasti bukan perbuatan yang baik dan benar..."


"Apa yang ingin kau tanyakan? Ucapkan saja secara terus terang." Perintah Shura pelan tanpa menolehkan wajahnya dari Sakura.


"Kata Kakak, Akiko adalah wanita yang melahirkan kakak. Dia adalah ibu kakak, kan? Apa yang akan kakak lakukan?"


Pertanyaan Sakura membuat sebuah senyum kecil mengembang menghiasi wajah Shura. Namun, senyum itu adalah sebuah senyum menghina. "Aku tidak akan melakukan apa-apa. Dan kau tidak perlu memikirkan itu. Akiko hanyalah seorang penghianat." Jawab Shura dingin.


"Tapi-"


"Sudah sampai! Akhirnya kita mencapai istana tanah barat!" teriak Mamoru penuh kegembiraan memotong ucapan Sakura.


Shura dan Sakura segera menoleh wajah menatap ke depan. Di hadapan mereka semua sekarang berdiri sebuah istana besar dan megah yang dikelilingi tembok tinggi dan kokoh—istana tanah barat.


Beberapa prajurit yang ada di atas benteng langsung mengarahkan panah dan senjata mereka saat menyadari keberadaan Shura dan yang lainnya. Namun, saat mengetahui siapa yang sesungguhnya ada di hadapan mereka, mereka langsung menurunkan senjata mereka dan berteriak kepada prajurit di bawah untuk membuka pintu benteng istana.


Dengan tenang, tegap dan mantap, Shura langsung melangkahkan kakinya memasuki istana. Semua prajurit yang ada langsung membungkuk memberikan salam hormat kepada inuyoukai kecil tersebut.


"Shura memang berbeda denganmu, Shiro. Dia dilahirkan dengan aura seorang penguasa, sedangkan kau, kau mungkin dilahirkan dengan aura seo—" bisik Mamoru pada telinga Shiro pelan. Namun, dia tidak bisa menyelesaiakn ucapannya, sebab hanyou itu telah mengangkat tangan menjitak kepala pemuda tersebut.


Shura tidak mempedulikan hanyou dan manusia di belakangnya, dia terus berjalan, hingga akhirnya dia merasakan tangan kecil Sakura mengenggam tangannya. "Kak Shura, i-ini rumah Kakak, ya?" tanyanya pelan.


Shura mengangguk kepala menjawab pertanyaan tersebut. Sakura hanya bisa menelan ludahnya. Meski terlihat agak berantakan dan penuh kewaspadaan, istana ini tidak diragukan adalah istana terbesar dan termegah yang penah dilihatnya. Dia baru saja menyadari, Shura yang selalu ada di sampingnya ternyata memang merupakan seseorang yang sangat penting dan besar. Seseorang yang sangat berbeda dengan dirinya.


"Selama datang, Shura-sama. Hamba senang sekali akhirnya anda pulang." Salam seorang prajurit dalam istana tanah barat tiba-tiba.


"Di mana Ayahndaku?" tanya Shura datar, mengabaikan salam yang ditujukan padanya.


Mata prajurit itu terbelalak. Ada keraguan dalam dirinya untuk menjawab pertanyaan tuan mudanya. Namun, setelah mengumpulkan segenap keberanian, dia akhirnya menjawab pertanyaan tersebut. "S-Seshoumaru-sama, beliau ada di pavilium timur istana."

__ADS_1


Mata Shura langsung terbelalak. Namun, sejenak kemudian, ekspresi wajahnya kembali menjadi tanpa ekspresi. Tidak mempedulikan apa pun lagi, inuyoukai itu pun kembali melangkahkan kaki menuju sisi timur istana tanah barat. Dia sama sekali tidak mempedulikan prajurit yang memintanya berhenti atau pun tatapan kebingungan Sakura, Shiro, Mamoru, Aya dan Maya. Dia sudah pulang. Ayahandanya pasti ada dalam kamar Rin—bersama lukisan Rin. Kini, sudah tiba saatnya bagi semua kebohongan untuk berakhir, saat bagi dirinya untuk mendapakan kepastian akan kebenaran yang telah dirahasiakan dalam hidupnya.


....xOxOx....


__ADS_2