![Till The End Of Time [ Inuyasha Fanfiction ]](https://asset.asean.biz.id/till-the-end-of-time---inuyasha-fanfiction--.webp)
"Minggir! Minggir! Minggir!" teriak Jaken keras memerintahkan para youkai rubah dan kucing yang sedang membersihkan lantai di depannya untuk menyingkir. Youkai katak itu berlari dengan secepat yang bisa dilakukan kedua kaki pendeknya. Tangannya membawa segunung gulungan dokumen-dokumen penting yang dia tahu, harus segera diantarkan ke ruang kerja Sang Penguasa Tanah Barat.
Para youkai rubah serta kucing yang merupakan pembantu dari Istana Tanah Barat hanya menggeleng kepala dan mengacuhkannya. Jaken yang berlari dan memerintah mereka menyingkir seenaknya sudah bukan sesuatu yang aneh, mereka sudah menyaksikan hal itu setiap harinya selama setahun ini.
"Minggir kalian semua! Jangan halangi jalanku!" teriak Jaken lagi. "Sesshoumaru-sama tidak akan senang jika aku yang merupakan bawahan tersetia dan terpercayanya terlambat!"
Selalu menyombongkan diri dan menggunakan nama Sesshoumaru, Sang Penguasa Tanah Barat. Tapi, jika youkai katak itu berpikir semua penghuni Istana Tanah Barat akan percaya, maka dia salah besar. Tidak ada seorangpun diantara mereka mempercayainya, mereka semua tetap melakukan tugas membersihkan lantai.
Kesal dengan sikap para youkai di depannya, Jaken kemudian mendengus dan berusaha menghindar mereka yang ada di depannya. Dia tidak mau terlambat, sebab jika dia terlambat, pasti akan ada batu atau tendangan yang akan melayang ke kepalanya lagi, "Akan aku laporkan sikap kalian ini pada Sesshoumaru-sama. Akan aku pastikan kalian semua dihukum!" ancam Jaken pelan saat berhasil melewati kerumunan para youkai pembantu itu. Namun, sekali lagi, para youkai itu tetap tidak peduli
Saat Jaken telah menghilang dari hadapan mereka, beberapa youkai pembantu itu menghentikan tugas dan menjululkan lidah menghina, sedangkan sebagian lagi tertawa terkekeh.
"Akan aku laporkan sikap kalian ini pada Sesshoumaru-sama. Akan kupastikan kalian semua dihukum!" ulang seorang youkai rubah wanita berambut coklat pendek meniru Jaken. "Kau kira Sesshoumaru-sama akan menghukum kami hanya karena ucapanmu!? Bodoh!"
"Sudahlah, Rei," tawa seorang youkai kucing wanita berambut merah sambil menepuk pundak youkai rubah berambut coklat tersebut. "Kita semua tahu Sesshoumaru-sama tidak akan menghukum kita, terutama," matanya kemudian terarah pada sosok kecil dalam kerumunan mereka yang sedang membersihkan lantai, "Saat Hime-sama ada diantara kita."
"Benar sekali, Rika. " Setuju Rei sambil tertawa terbahak-bahak, diikuti semua youkai yang ada di sana. Mata mereka semua terarah pada sosok kecil yang berada diantara mereka.
Sesungguhnya di dalam kelompok youkai pembantu itu, terdapat sosok seorang gadis manusia cilik berusia sekitar sebelas tahun. Gadis cilik itu mengenakan baju pembantu yang sama dengan para youkai pembantu dalam Istana Tanah Barat, dengan rambut panjang sehitam langit malam tanpa bintangnya tersembunyi dalam balutan kain putih yang menutup kepala. Bau harum unik bagaikan bau musim semi yang terpancar, kulit putih bagaikan salju, bibir dan pipi yang merona merah bagaikan mawar musim semi, hidung mancung serta sepasang mata coklat besar yang jernih dan hangat—Jaken sungguh buta karena tidak menyadari siapa yang ada diantara mereka.
"Rei-nee, Rika-nee, semuanya" panggil gadis cilik itu pelan, ada kekhawatiran di wajahnya. "A-apakah kalian yakin Sesshoumaru-sama tidak akan menghukum kita?"
Pertanyaan gadis cilik itu seketika juga membuat semua yang ada di sana terdiam, mata mereka terbelalak menatapnya.
"Jaken-sama pasti akan mengadukan kita pada Sesshoumaru-sama," sambung gadis cilik itu lagi. Mata coklat besarnya jadi berkaca-kaca. "B-bagaimana jika Sesshoumaru-sama marah dan menghukum kita semua? R-Rin tidak mau... Rin tidak mau kalian semua dihukum.."
Apa yang diucapkan gadis cilik itu langsung membuat para youkai pembantu itu menghela napas dan tersenyum. Betapa polosnya gadis manusia itu, di dunia ini, mungkin dialah satu-satunya makhluk hidup yang mempercayai kata Jaken.
Mendekati gadis cilik itu, Rei mengangkat tangan menyentuh pundak kecil tersebut. "Rin-chan, jangan khawatir," senyumnya "Bukankah sudah kami semua katakan, jangan pernah mempercayai apa yang diucapkan Si Pembual Jaken."
"T-tapi," sanggah Rin cepat, kepalanya tertunduk ke bawah. "Bagaimana kalau Jaken-sama benar-benar melaporkannya pada Sesshoumaru-sama? Bagaimana kalau Sesshoumaru-sama marah? Bagaimana kalau Sesshoumaru-sama menghukum kita?" tanyanya bertubi-tubi. Namun, belum sempat Rei, Rika atau siapapun yang menjawabnya, kepala Rin tiba-tiba terangkat. Ekspresi khawatir di wajahnya segera berubah menjadi ekspresi penuh tekad. "Tidak! Rin tidak mau kalian dihukum! Biar Rin saja yang menerima hukuman nanti! Biar Rin menjelaskan pada Sesshoumaru-sama saja kalau sikap kita tadi menghalangi Jaken-sama adalah permintaan Rin!"
Ucapan Rin lagi-lagi mengejutkan semua youkai pembantu tersebut. Namun, sejenak kemudian, mereka kembali tersenyum. Betapa baik dan memesonakannya gadis cilik manusia di depan mereka itu, selalu menghawatirkan serta mau manangis untuk mereka yang memiliki derajat begitu rendah. Dalam kehidupan yang begitu panjang, tidak pernah mereka menemukan seseorang yang bisa bersikap seperti itu untuk mereka.
"Tenanglah, Rin-chan," Rei mengangkat kedua tangan memeluk Rin. "Kau tidak perlu melakukan itu. Sesshoumaru-sama tidak akan marah, beliau tidak akan menghukum kita," sebuah senyum kecil mengembang di wajahnya. "Terutama kau, Rin-chan. Beliau tidak akan mungkin menghukummu. Tidak akan mungkin..."
Tidak mengerti ucapan Rei, Rin menjauhkan melepaskan diri dari pelukan youkai rubah itu dan menatapnya lurus. "Kau yakin, Rei-nee?" tanyanya.
"Iya," jawab Rika tiba-tiba disertai anggukan semua youkai pembantu lainnya. "Kita semua tidak akan menerima hukuman sedikit pun, Rin-chan."
Meski masih kurang percaya, Rin akhirnya memutuskan untuk mempercayai perkataan para youkai itu. Mengangguk kepala dengan cepat, sebuah senyum langsung merekah di wajah cantiknya—senyum seindah dan sehangat musim semi.
Semua youkai pembantu yang melihat senyum tersebut hanya bisa kembali tersenyum. Ada kehangatan yang dirasakan dalam hati mereka.
Rin.
Gadis cilik manusia yang begitu aneh dan memesonakan. Setahun semenjak gadis itu tinggal di Istana Tanah Barat ini, dia telah berhasil merubah suasana istana yang biasanya begitu dingin dan gelap menjadi begitu hangat dan cerah. Gadis cilik itu sangat ringan tangan, dia selalu berinsiatif sendiri untuk membantu semua yang ada, baik itu membersihkan istana, membersihkan kamar mandi, membersihkan taman, membantu di dapur, bahkan membantu mengurus tunggangan di istana. Meski dia memiliki status sangat tinggi, yakni; gadis dibawah perwalian Youkai Sang Penguasa Tanah Barat, Sesshoumaru, serta putri angkat tidak langsung dari Mantan Penguasa Tanah Barat, Inukimi, dia tidak pernah memandang rendah semua pekerja level bawah Istana Tanah Barat yang ada. Dia tetap saja selalu memberikan mereka semua senyum dan tawanya yang memesonakan. Mereka semua memuja dan mencintai gadis cilik itu, hanya saja mereka tidak mungkin mengatakannya dengan lantang, sebab mereka adalah youkai rendahan yang tidak diangap. Tapi, jika kelak mereka harus mempertaruhkan nyawa untuknya, mereka dengan senang hati akan melakukannya.
"Rin-sama." Panggil suara seseorang wanita tiba-tiba dan membuat Rin, Rei, Rika serta yang lainnya menoleh kepala menatap sumber suara.
Melihat siapa pemilik suara tersebut, Rei, Rika dan semua youkai pembantu yang ada langsung membungkukkan badan memberi hormat. Ada ketakutan dalam hati mereka, sebab sudah bukan suatu rahasia lagi jika wanita pemilik suara itu tidak pernah menyukai mereka yang memiliki kedekatan dengan Rin. Namun, tidak dengan Rin. Gadis itu dengan ceria segera berlari mendekati wanita itu sambil tertawa. "Kiri-sama!"
Kiri, sang inuyoukai wanita berambut pendek itu tersenyum melihat reaksi Rin. Tidak menyiakan kesempatan yang ada, Rin langsung memeluk erat kaki inuyoukai itu dan tertawa. "Kapan Kiri-sama pulang? Rin pikir Kiri-sama baru akan pulang besok, sebab Jaken-sama mengatakan Kiri-sama dan Kira-sama pergi menjumpai Penguasa Tanah Utara. Lalu, apakah Kira-sama juga sudah pulang? Dimana Kira-sama sekarang?"
Pertanyaan bertubi-tubi Rin membuat senyum Kiri semakin melebar, dengan pelan, dia membungkukkan diri dan membalas pelukan tubuh kecil tersebut. "Apakah itu artinya, anda tidak menyukai kehadiranku di sini, Rin-sama?" tanya kembali.
Menatap Kiri, Rin segera menggeleng kepala sambil tersenyum lebar. "Tidak. Rin selalu menyukai kehadiran Kiri-sama."
Jawaban Rin langsung membuat Kiri tertawa kecil. Mengangat badan kecil itu, dia langsung mengendongnya dengan sebelah tangan. Mata emasnya kemudian menatap gadis manusia itu dengan saksama, sebuah kerutan muncul di dahinya, "Kenapa anda berpakaian seperti ini lagi, Rin-sama? Dan yang terpenting, kenapa lagi-lagi anda mengerjakan pekerjaan rendahan seperti itu? Inukimi-sama akan marah besar jika tahu itu."
Rin tidak mengatakan apa-apa mendengar pertanyaan Kiri, menundukkan kepala ke bawah, dia menghindari tatapan mata inuyoukai tersebut.
Menolehkan kepala, mata emas Kiri kemudian menatap tajam para youkai pembantu di depannya. "Dan kalian!" nada suaranya yang pelan tiba-tiba meninggi. Kemarahan terpancar dari auranya. "Beraninya kalian mengijinkan Rin-sama melakukan perkerjaan kalian! Sadari posisi kalian!"
"M-Maafkan, hamba, Maafkan hamba semua, Kiri-sama." Semua youkai pembantu yang ada langsung menundukkan kepala menyembah meminta maaf, badan mereka langsung gemetar ketakutan. Kiri adalah salah satu inuyoukai dengan status tinggi di tanah barat, dan dia memiliki kekuasaan untuk menghukum mereka jika dia mau.
"Kiri-sama!" teriak Rin tiba-tiba menghentikan Kiri, kedua tangannya segera menyentuh pipi inuyoukai itu, sedangkan kedua matanya menjadi berkaca-kaca. "Bukan salah mereka! Rin yang memaksa ingin membantu! Jika Kiri-sama marah, marah saja pada Rin, jangan marah atau menghukum mereka! Hukum saja Rin!"
Permintaan dan ekspresi Rin, membuat Kiri tertegun. Dia tidak pernah menyukai ekspresi wajah gadis cilik dalam gendongannya yang seperti ini—dirinya hanya ingin gadis manusia itu selalu tersenyum. Menghela napas, wajahnya kembali melembut. "Baiklah, Rin-sama, hamba tidak akan menghukum mereka kali," nada suara Kiri menajam penuh penekanan. "Jika hamba melihat anda melakukan tugas rendahan seperti ini lagi, hamba akan menghukum mereka semua dengan berat."
Mata Rin terbelalak menatap Kiri. Namun, dia tidak berani berkata apa-apa, dengan pasrah, dia akhirnya hanya dapat mengangguk kepala dengan pelan. "Baik. Rin mengerti. Rin berjanji, karena itu, jangan menghukum mereka."
Kiri tersenyum puas mendengar janji Rin. Inuyoukai itu tahu, ancamannya ini pasti akan membuat gadis cilik itu mematuhi apa yang dikatakannya. Tidak ada yang dapat mempungkiri betapa anehnya gadis manusia itu. Selalu penuh rasa ingin tahu, lincah, ringan tangan, tidak pernah membenci, selalu menghargai yang lainnya, baik hati, polos, hangat dan selalu tersenyum maupun tertawa—dengan sikapnya yang seperti itu, dalam kurang lebih tiga bulan di istana ini, gadis manusia itu sudah berhasil merebut hati semua penghuni istana, baik itu youkai rendahan maupun tinggi. Namun, yang paling aneh dari gadis itu mungkin adalah cara pandangnya. Dalam matanya, manusia dan youkai tidak ada bedanya, begitu juga dengan perbedaan status yang ada. Semua makhluk sejajar, bahkan, begitu juga binatang-binatang kecil yang hidup di sekitar hutan Istana Tanah Barat. Jika dia melihat binatang-binatang itu terluka ataupun dalam bahaya, dengan penuh kekhawatiran, dia akan berlari untuk menolong mereka tanpa mempedulikan apapun. Bagi semua yang ada di sekitar Istana Tanah Barat ini, gadis itu pasti bagaikan seorang malaikat.
"Mari, Rin-sama," ajak Kiri kemudian. "Kita ke kamar anda untuk menukar baju yang pantas anda kenakan," matanya kemudian terarah pada Rei dan Rika. "Kalian berdua ikuti kami, bantu Rin-sama mengganti pakaian beliau."
Rei dan Rika segera membungkuk badan menjawab "Mengerti.". Mengikuti Kiri yang segera berjalan menuju kamar Rin tanpa mempedulikan mereka sambil mengendong gadis cilik itu, mereka berdua hanya dapat menelan ludah. Saat Inukimi meninggalkan Istana Tanah Barat untuk mengembara, dia meninggalkan kedua pengawal pribadinya, Kiri dan Kira untuk menjaga gadis cilik tersebut. Dan meski tidak pernah mengatakannya, semua penghuni istana tahu bahwa kedua bersaudara inuyoukai itu sangat menyayangi gadis cilik itu.
Misteri.
__ADS_1
Manusia di tengah para youkai, manusia yang dibesarkan, dilindungi dan disayangi youkai. Keberadaan Rin di Istana Tanah Barat mungkin memang merupakan sebuah misteri tidak pernah terjawabkan oleh siapa pun. Dialah satu-satunya manusia yang bisa merebut hati dan perhatian para youkai dengan begitu mudah, bahkan perhatian dari Sesshoumaru, Sang youkai Penguasa Tanah Barat yang terkenal sangat membenci manusia.
....xOxOx....
"Takeru-sama, menyetujuhi kesepakatan yang anda tawarkan padanya, Sesshoumaru-sama," lapor Kira sambil menatap Sesshoumaru, Inuyoukai Penguasa Tanah Barat yang sedang duduk di atas tatami membaca gulungan dokumen di mejanya. Hanya dia seorang yang melaporkan diri, sebab sudah bukan rahasia lagi jika inuyoukai di depannya tidak pernah menyukai lebih dari satu orang yang melaporkan hasil tugas mereka. "Tidak akan ada youkai di bawah kekuasaannya yang akan menginjakkan kaki ke Barat. Dan jika ada, Barat boleh membunuhnya tanpa meminta persetujuan dari Utara."
"Umumkan kesepakatan itu pada semua klan youkai di bawah kekuasaan tanah barat," Sesshoumaru tidak mengerakkan sedikit pun pandangannya dari gulungan dokumen yang dibacanya. "Tidak perlu meminta persetujuanku lagi. Langsung bunuh, jika menemukan penyusup dari Utara."
"Baik. Hamba mengerti." Balas Kira cepat sambil membungkukkan badan.
Hubungan Barat dan Utara selama ini selalu terjalin dengan baik. Namun, semenjak Takeru menggantikan posisi ayahnya sebagai Penguasa Tanah Utara, hubungan yang ada menjadi sedikit berubah. Takeru adalah youkai ular yang sangat ambisius. Semenjak dia memimpin Utara, sudah beberapa kali terjadi bentrokan antara klan youkai dibawah pimpinannya dengan klan youkai dibawah pimpinan barat. Meski tidak pernah memperlihatkannya dengan jelas, semua orang tahu, Takeru berniat menaklukkan barat.
Pada masa Inukimi masih menjabat sebagai Penguasa Tanah Barat, Takeru dengan sembunyi dan hati-hati sesungguhnya telah sering menyerang barat. Inukimi memang bukanlah seorang penguasa yang buruk, hanya sikap malas dan semena-menanya sajalah yang selalu menyebabkan youkai ular itu dapat memanfaatkan kondisi untuk menyerang. Namun, semanjak Sesshoumaru menggantikan Ibundanya, kondisi dengan segera kembali berubah. Kekuatan, kemampuan memimpin, kepintaran dalam berpolitik dan pengetahuan Penguasa Tanah Barat baru itu, dalam hitungan perhari, Takeru tidak berani menyerang barat lagi, dia menjadi tidak berkutik. Dalam masa kepemimpinan Sesshoumaru yang masih begitu singkat, Barat menjadi semakin kuat dan luas. Sudah tidak terhitung lagi betapa banyaknya klan youkai yang selama ini selalu bersikap netral dengan senang hati bergabung dengan Barat, menjadi bagian Barat. Diantara keempat daerah, Baratlah yang terkuat sekarang. Mencari masalah barat, sama saja dengan bunuh diri.
"Sesshoumaru-sama! Maafkan hamba karena terlambat!" disertai suara teriakan itu, pintu ruang kerja Penguasa Tanah Barat terbuka lebar. Dengan tangan yang masih memegang setumpuk dokumen, Jaken berlari masuk. "Maafkan hamba! Ini dokumen yang anda inginkan!"
"Diam, Jaken." Perintah Sesshoumaru pelan tetap tanpa mengalihkan mata dari apa yang dibacanya.
"Baik, hamba akan diam." Jawab Jaken segera. Dengan pelan, sambil melewati Kira, youkai katak itu meletakkan dokumen-dokumen ditangannya di atas meja kerja Sesshoumaru.
Kira hanya memincingkan mata emasnya melihat Jaken. Dia tidak pernah mengerti kenapa Sesshoumaru membiarkan youkai rendahan dan tidak berguna itu berada di Istana Tanah Barat, jika saja dia adalah Penguasa Tanah barat itu sendiri, dia pasti sudah mengusirnya jauh-jauh, atau mungkin, dia sudah melenyapkannya dari dunia ini.
"Kalian berdua, keluar. Tinggalkan aku sendirian." Perintah Sesshoumaru kemudian dengan suaranya yang datar tanpa emosi.
Mengangagguk kepala dan membungkukkan badan memberi hormat, tanpa berkata apapun lagi, Kira dan Jaken segera mematuhi peraturan tersebut. Namun, saat mereka akan melangkah kaki keluar dari ruang tersebut, inuyoukai Penguasa Tanah Barat tersebut tiba-tiba menghentikan mereka. "Jaken," panggilnya datar.
"I-iya!" jawab Jaken cepat dengan mata berbinar-binar. Perasaan bangga memenuhi hatinya. Sesshoumaru pasti memintanya untuk membantu menyelesaikan perkerjaannya, sebab bagaimanapun juga, dirinya adalah bawahan terpecaya inuyoukai itu.
"Panggil Rin kemari."
Perintah Sesshoumaru langsung membuat kebahagiaan dalam hati Jaken menghilang, digantikan keirian, kecemburan dan kekecewaan. Lagi-lagi Rin! Gadis manusia itu selalu saja menjadi pusat perhatian dari tuannya. Dirinya masih ingat, setahun yang lalu, saat Rin diculik Inukimi, hingga saat Sesshoumaru menerima jabatan Penguasa Tanah Barat, beliau sama sekali tidak mempedulikannya, bahkan boleh dikatakan, dia seakan dilupakan. Perlakuan inuyoukai itu terhadap dirinya yang tiba di Istana Tanah Barat setelah menempuh perjalanan dua minggu dengan susah payah untuk melayaninya, tetap tidak berubah. Berbeda sekali dengan Rin, yang kini diperlakukan bagaikan seorang putri. Betapa tidak adilnya hidup ini! Namun, dirinya tentu saja tidak berani mengatakan itu semua. Dia tidak dapat membayangkan hukuman yang akan diberikan Sesshoumaru padanya jika dia menyampaikan semua keluh-kesah dalam hatinya.
"B-baik. Hamba mengerti." Balas Jaken pelan sambil membungkukkan badannya sekali lagi dan menutup pintu shoji ruang kerja Sang Penguasa Tanah Barat.
Kira yang melihat kekecewaan Jaken tidak mempedulikan sedikit pun youkai katak tersebut. Betapa bodohnya jika, dia berpikir Sesshoumaru ingin meminta bantuannya. Inuyoukai itu mengakui, Penguasa Tanah Barat sekarang adalah seorang penguasa yang sangat sempurna tanpa cela. Dia bisa mengendalikan daerah kekuasaannya yang begitu luas dengan begitu baik dan terorganisir—sosok pemimpin yang dihormati dan dikaguminya.
Melangkah kakinya, Kira berjalan dengan pelan diikuti Jaken yang masih menggerutu di belakang, sebab tujuan mereka sekarang sama. Setelah menempuh perjalanan selama beberapa hari dari barat ke utara, dan utara ke barat, dia ingin melihat senyum hangat yang dia tahu, pasti akan diberikan gadis cilik manusia yang disayanginya-senyuman Rin.
Melewati taman di sisi timur istana tanah barat, dia menuju Paviliun Merah Barat. Paviliun merah di sisi timur Istana Tanah Barat adalah paviliun terindah yang ada di seluruh daerah di jepang yang begitu luas. Dibangun dengan menggunakankayu kokoh, diukir indah dan dicat merah, Paviliun ini sejak dulu merupakan letak dari kamar tidur sang Penguasa Tanah Barat—letak kamar Sesshoumaru, dan juga Rin kini.
Semenjak Rin tinggal di Istana Tanah Barat, Sesshoumaru memberikan kamar disamping kamar tidurnya kepada gadis cilik itu. Sebenarnya banyak yang bingung dan tidak mengerti, kenapa memberikan seorang manusia kamar di paviliun indah itu, tapi, karena takut, tidak ada yang berani bertanya.
Tidak mengatakan apa pun, Kira membukannya dan berjalan masuk diikuti Jaken. Kamar Rin adalah sebuah kamar yang sangat indah dan besar. Kamar itu sendiri terdiri dari beberapa kamar, yakni kamar tidur, kamar belajar, kamar mandi dan kamar terdepan dimana tamu menunggu-kamar tempat mereka berada sekarang. Lukisan-lukisan indah terpanjang di dinding merah kamar, tatami lantainya juga merupakan tatami dengan mutu terbaik, belum lagi perabotan-perabotan mewah dan megah yang ada. Siapapun yang memasuki kamar itu pasti akan langsung berpendapat bahwa kamar itu adalah kamar seorang putri.
"Dimana Rin, Kiri-sama?" tanya Jaken saat melihat Kiri yang duduk di atas lantai tatami dengan tenang.
Kiri tidak menjawab pertanyaan Jaken, bahkan boleh dikatakan dia mengacuhkannya. Sedangkan untuk Kira, dia hanya dengan pelan duduk disamping saudari kembarnya. Tidak dijawabpun, dia tahu dimana Rin berada. Gadis cilik itu berada di kamar tidurnya ditemani dua youkai pembantu, mungkin dia sedang mengganti bajunya, sebab ketidak beradaannya serta saudari kembarnya pasti telah membuat Rin kembali memutuskan untuk membantu para pekerja Istana Tanah Barat lagi.
Jaken yang tidak dipedulikan oleh Kiri menjadi kesal. Tidak mempedulikan kedua inuyoukai di sampingnya, dia langsung berteriak-teriak memanggil nama Rin dengan keras. "Rin! Dimana kau gadis kecil!?"
"Rin di sini, Jaken-sama!" Diiringi suara Rin, pintu kamar tidur gadis cilik itu tiba-tiba terbuka.
Kedua saudara kembar Inuyoukai yang ada di sana segera tersenyum saat melihat gadis kecil itu, terutama Kiri. Melihat penampilan Rin, dia merasa cukup puas. Pakaian kosode para pembantu yang tadi menempel di badannya, kini telah digantikan dengan kimono dua belas lapis dari sutra terbaik berwarna putih dengan lambang kekuasaan tanah barat. Rambut panjang sehitam langit malam tanpa bintang yang tadinya tertutup, kini telah terurai dengan sebuah pita merah yang mengikat poni sampingnya. Kakinya yang terlanjang pun kini telah ditutupi dengan sepasang tabi berwarna putih. Penampilan itu—itulah penampilan Rin yang sepatut dan sesugguhnya.
"Kira-sama!" teriak Rin gembira saat melihat Kira. Berlari dengan secepat yang dia bisa, dia mendekati Kira dan Kiri dengan senyum lebar di wajahnya. "Kira-sama, Kira-sama datang untuk menemui Rin, ya? Terima kasih. Rin senang sekali!"
Ucapan serta senyum Rin membuat Kira tertawa kecil. Menoleh wajah pada saudari kembarnya, Kiri mengeluarkan sebuah bungkusan kecil dari dalam lengan baju kimononya dan menyerahkannya pada Rin. "Untuk anda, Rin-sama." ujar Kiri dan Kira bersamaan kemudian.
Menerima bungkusan itu, Rin membukanya dengan pelan. Mata coklatnya langsung berbinar dan sebuah senyum lebar langsung merekah di wajah saat dia melihat apa isinya—permen.
"Permen itu sangat terkenal di Utara. Dan karena anda selalu menyukai sesuatu yang manis. Hamba dan saudara kembar hamba membelinya dengan harapan anda akan menyukainya, Rin-sama." Jelas Kiri pelan sambil menatap Rin.
Menutup mata sambil mengangguk kepala, Rin langsung membuka kedua tangan dan meloncat memeluk kedua inuyoukai di depannya. "Terima kasih, Kiri-sama, Kira-sama! Rin sangat gembira! Terima kasih, Kiri-sama dan Kira-sama tidak melupakan Rin meski sedang bertugas! Terima kasih!"
Kiri dan Kira tersenyum melihat dan mendengar ucapan terima kasih Rin. Mengangkat tangan, Kiri membalas pelukan gadis manusia itu, sedangkan Kira membelai lembut rambut sang gadis. Sungguh gadis yang naif. Melupakan? Bagaimana mungkin mereka berdua melupakannya? Gadis kecil yang selalu tersenyum dan tertawa untuk mereka, gadis kecil yang dapat membawakan kehangatan kedalam hati mereka. Dalam Istana Tanah Barat ini, setelah mengenalnya, siapa yang dapat melupakannya?
Jaken yang melihat kejadian di depannya menggerutu dalam hati. Lagi-lagi dia dilupakan. Dia sesungguhnya tidak pernah mengerti kenapa semua yang ada dalam istana itu begitu menyukai Rin yang sama sekali tidak berguna. Bukan hanya Kiri dan Kira saja, semua youkai berpangkat tinggi maupun rendah atau pembantu yang ada dalam istana selalu saja membawakan hadiah untuk gadis kecil itu jika kembali dari perjalanan mereka. Tidak peduli itu permen, boneka, kimono, lukisan bahkan kadang emas dan permata.
Menggeleng kepala untuk membuyarkan apa yang ada dalam pikirannya, Jaken kemudian kembali berteriak keras. "Rin! Sesshoumaru-sama memanggilmu! Cepat temui beliau di ruang kerjanya!"
Teriakan Jaken langsung berhasil membuat Rin menolehkan kepala menatap youkai katak itu. Kedua matanya terbelalak, wajahnya langsung berubah menjadi pucat pasi. Ketakutan memenuhi hatinya. Sesshoumaru-sama memanggilnya? Apakah Jaken benar-benar telah melaporkan sikap dirinya, Rei, Rika serta lainnya yang menghalangi youkai katak itu mengantar dokumen barusan?
....xOxOx....
Sesshoumaru meletakkan gulungan dokumen yang dibacanya saat merasakan dengan jelas Rin yang berjalan mendekati ruang kerjanya. Wajahnya tetap tanpa ekspresi, tenang dan dingin, namun, ada sesuatu yang menganggu pikirannya. Meski masih jauh, dia bisa merasakan dengan jelas ketakutan serta kegelisahan yang dipancarkan oleh aura Rin yang biasanya selalu ceria dan penuh kebahagiaan. Ketidaksukaan dirasakan hati inuyoukai tersebut, mengapa Rin merasa takut dan gelisah? Siapa yang membuatnya merasakan perasaan itu?
Semakin dekat Rin dengan ruang kerjanya, Sesshoumaru dapat merasakan semakin jelas ketakutan dan kegelisahan gadis cilik itu. Detakan jantungnya begitu cepat, dan meski samar, dia bisa mencium asinnya air mata yang dia tahu pasti sedang ditahan gadis cilik itu mati-matian. Mengerang pelan, matanya berubah menjadi merah darah. Siapa yang berani membuat gadis cilik itu seperti itu!? Dia tidak akan memaafkannya! Siapapun penyebabnya, hidupnya berakhir hari ini!
Sadar akan apa yang ada dalam pikirannya, Sesshoumaru langsung tertegun. Kedua mata merah darahnya dengan cepat kembali menjadi emas. Kebingungan memenuhi hatinya, walau wajahnya tetap saja tanpa emosi. Kenapa lagi-lagi dia berpikir seperti itu? Kenapa jika sudah menyangkut Rin, dia tidak pernah dapat mengendalikan diri maupun perasaannya? Dulu, saat dia menghidupkan dan diikuti gadis kecil itu, dia tidak pernah merasakan hal seperti ini. Namun, semenjak Rin tinggal bersamanya di istana ini, perasaan-perasaan ini kerap sekali menyerang dirinya. Apa yang sesungguhnya telah terjadi pada dirinya?
__ADS_1
Saat tiba di depan pintu ruang kerja, Rin menelan ludahnya. Tidak mengeluarkan suara maupun mengetuk pintu, gadis itu mati-matian sedang berusaha mengumpulkan segenap keberanian untuk melangkah kaki masuk ke dalam ruangan. Sesshoumaru yang bisa merasakan semua itu, jelas tidak suka. Ketakutan. Perasaan lemah dan tidak berguna itu, dia tidak ingin merasakannya. Tidak selama dia masih ada!
"Masuk, Rin." Perintah Sesshoumaru singkat.
"Iya." Balas Rin cepat. Tangannya dengan segera membuka pintu shoji di depannya dan berjalan masuk.
Melihat Rin yang berjalan masuk dalam diam, Sesshoumaru mengamati penampilan gadis cilik itu dengan saksama. Kimono mewah dua belas lapis berlambang barat, tabi di kaki, pita di rambut-penampilan itu memang menunjukkan dengan jelas tingginya status gadis itu dalam Istana Tanah Barat ini. Gaya pakaian itu adalah gaya pakaian yang diperintahkan secara langsung oleh Inukimi untuk dikenakan pada Rin. Dan Sesshoumaru tahu, gadis kecil itu sesungguhnya tidak begitu menyukainya. Pertama karena membuatnya tidak dapat bergerak bebas, kedua karena pada dasarnya Rin tidak menyukai kemewahan. Jika diminta memilih, gadis itu pasti ingin mengenakan kimono sederhana atau bahkan kosode dan bertelanjang kaki. Dia tetap berpakaian mewah seperti sekarang sebenarnya adalah untuk menjaga perasaan Inukimi saja.
Rin yang melihat Sesshoumaru menatapnya, menjadi semakin takut dan gelisah. Dia menundukkan kepala ke bawah, menolak menatap mata emas itu.
"Rin, kemari." Perintah Sesshoumaru. Suaranya menjadi semakin berat dan dalam, begitu juga dengan tatapan matanya yang semakin tajam. Dia tidak menyukainya! Rin takut dan gelisah padanya? Rin tidak mau menatap wajahnya? Takutkah gadis itu padanya sekarang? Tidak! Dia tidak akan mengijinkannya! Siapapun yang takut padanya, dia tidak peduli. Hanya Rin seorang saja yang dia pedulikan. Selamanya, dia tidak ingin gadis itu takut padanya!
Tidak tahan dengan tekanan yang dirasakannya, air mata dengan deras mengalir menuruni pipi Rin. Berlutut, dia segera menempelkan dahinya pada lantai tatami dan meminta maaf. "Maafkan Rin, Sesshoumaru-sama! Bukan salah Rei, Rika atau siapapun! Rin yang meminta mereka untuk menghentikan Jaken-sama! Rin yang memerintah mereka! Jadi hukum saja Rin! Jangan menghukum yang lainnya! Itu adalah salah Rin seorang saja!"
Ucapan Rin membuat Sesshoumaru tertegun sejenak. Namun, sedetik kemudian dia segera sadar akan apa maksud ucapan Rin. Lagi-lagi gadis kecil itu melindungi para youkai pekerja di istana ini. Tidak diberitahu siapapun, Sesshoumaru sesungguhnya tahu kebiasaan Rin yang suka sekali membantu mereka, baik itu membersihkan istana, memasak hingga membantu mengurus tunggangan istana. Kebiasaan itu membuat mereka akrab, dan dari keakraban tersebut, gadis itu selalu saja memiliki insiatif sendiri untuk menanggung kesalahan mereka semua—sesuatu yang bisa saja dimanfaatkan oleh para youkai rendahan. Walau, tidak ada yang berani melakukannya sampai sekarang, sebab semua pasti tahu, kematianlah yang akan mereka hadapi jika mereka sampai melakukannya.
Sesshoumaru tidak pernah mengungkap dan memerintah gadis itu untuk berhenti melakukan kebiasaan anehnya itu. Rin adalah gadis yang lincah dan penuh semangat, memerintahnya untuk duduk manis berdiam diri dan dilayani, jelas bukanlah sesuatu yang bisa dilakukannya. Dia tidak ingin mengekang Rin, selamanya, dia ingin gadis itu selalu menjadi sebagaimana dirinya yang sebenarnya—gadis yang selalu bebas, lincah, ceria dengan senyum di wajah. Namun, itu tidak berarti dia menyukai gadis manusia itu yang berbaur dengan semua yang ada. Inuyoukai itu sesungguhnya tidak menyukai kedekatan yang dijalinnya dengan siapa pun, baik itu Inukimi, Kiri, Kira, para youkai tinggi maupun rendah. Jauh dalam hatinya, walau dia tidak pernah mengakuinya, dia tidak ingin gadis itu akrab dengan siapapun. Cukup dia seorang saja, dia ingin gadis itu hanya mempersembahkan senyum indahnya itu pada dirinya seorang saja.
"Rin," panggil Sesshoumaru lagi dengan suaranya yang tetap datar. "Angkat kepalamu."
Bukan orang yang dapat melawan perintah tuannya, Rin segera mengangkat kepala dan menatap Sesshoumaru. Kedua tangan kecilnya menghapus air mata yang terus saja mengalir menuruni pipip.
Gadis yang tidak pernah menangis untuk dirinya sendiri, tidak peduli betapa sakit, sedih dan menderitanya dia. Namun, untuk orang lain, air mata selalu mengalir dengan deras. Sikap Rin tersebut jelas merupakan salah satu teka-teki yang ada dalam hati Sesshoumaru.
"Aku memanggilmu kemari bukan untuk membahas masalah itu."
Apa yang didengarnya seketika juga membuat air mata Rin berhenti mengalir. Kedua mata coklatnya segera menatap inuyoukai itu penuh kebingungan.
Mengambil sebuah bingkisan kecil di meja kerjanya, Sesshoumaru berjalan mendekati gadis itu. Berjongkok di depannya, dia menyerahkan bingkisan itu. Dengan kebingungan yang masih ada dalam hati, perlahan, Rin membukanya. Kedua matanya langsung terbelalak saat melihat apa yang ada di dalam—sebuah sisir emas dengan mutiara-muatira besar menghiasi sekelilingnya.
"Itu hadiah yang dikirimkan Ibunda untukmu." Jelas Sesshoumaru melihat ekspresi kebingungan Rin.
Seketika juga mata Rin yang terbelalak menjadi semakin terbelalak. Hadiah dari Ibunda? Hadiah dari Inukimi yang meninggalkan Istana Tanah Barat untuk mengembara dua bulan yang lalu? Menatap sisir emas tersebut, sebuah senyum lebar penuh kebahagiaan memenuhi wajahnya. Inukimi tidak melupakannya! Ibundanya tercinta masih memperhatikannya meski tidak ada di sisinya sekarang.
Tidak tahu mengapa, melihat senyum Rin, melihat betapa bahagianya gadis kecil itu akan hadiah dari Inukimi, Sesshoumaru tidak dapat menahan sebuah geraman kecil yang tiba-tiba meluncur keluar dari mulutnya. Kenapa Rin tersenyum hanya untuk sebuah sisir emas tidak berharga itu? Memberikan hadiah pada Rin, apakah ibunya berpikir bahwa sisir emas tersebut sebanding dengan senyum cantik gadis cilik itu?! Senyum Rin-apakah ibunya bermaksu untuk merebut senyum itu darinya?!
"S-Sesshoumaru-sama..." Mendengar geraman kecil Sesshoumaru, Rin mengangkat kepala menatap inuyoukai tersebut lagi. Kebingungan dan ketakutan menyelimutinya. Wajah di depannya itu tetap tanpa ekspresi, namun tidak dengan mata emasnya. Dia bisa melihat dengan jelas ketidak sukaan yang dipancarkan. Apakah Sesshoumaru tidak suka dia mendapatkan hadiah dari Inukimi? Apakah Inukimi tidak mengirimkan hadiah untuk Sesshoumaru? Atau jangan-jangan, mungkinkah Sesshoumaru sesungguhnya menginginkan hadiah itu? Sebab bagaimana pun juga itu adalah hadiah dari Ibundanya.
Bisa merasakan kebingungan dan ketakutan Rin, Sesshoumaru segera menutup matanya. Meski aneh, dia tahu, gadis manusia itu adalah satu-satunya makhluk hidup yang selalu dapat membaca perasaannya. Tidak peduli bagaimana dia menyembunyikan perasaannya, sekali menatap mata emasnya saja, semua yang ada dalam pikirannya akan dapat dibaca gadis kecil itu seakan membaca sebuah buku yang terbuka.
"Rin tidak memerlukannya," kata Rin tiba-tiba dengan suara keras, membuat Sesshoumaru kembali membuka matanya. Menyerahkan sisir itu pada inuyoukai tersebut, Rin kembali mengeluarkan suaranya dengan lantang. "Rin tidak memerlukannya, Sesshoumaru-sama! Rin tidak memerlukan apapun! Siapapun yang mengantar hadiah ini pasti salah! Ibunda pasti mengirimnya untuk Sesshoumaru-sama, bukan untuk Rin!"
Wajah Sesshoumaru tetap tenang, tapi, dia benar-benar tidak dapat menepis perasaan terkejut dalam hati. Salah? Ibundanya mengirimkan hadiah bukan untuk Rin, tapi untuknya? Sisir emas untuk wanita? Jika itu memang benar, maka pada pertemuan mereka berikutnya, dia akan membuat perhitungan dengan inuyoukai yang melahirkannya tersebut, sebab itu adalah hinaan. Namun, yang paling penting, dari mana gadis kecil itu bisa berpikir seperti itu?
"Aku tidak memerlukannya." Balas Sesshoumaru tenang.
"Eh?" seru Rin terkejut bercampur bingung.
Tidak mempedulikan tanggapan Rin, Sesshomaru berdiri dan berjalan menuju meja kerjanya. Dia bisa merasakan kebingungan gadis itu. Duduk di depan meja kerjanya, dia kembali menatap gadis itu. "Kemari."
Tidak berkata apa-apa, dengan kebingungan yang masih ada dalam hati, Rin segera berdiri dan berjalan mendekati Sesshoumaru. Duduk di depan meja kerja, berhadapan dengan inuyoukai itu, kedua mata coklat itu menatap lurus padanya.
Sesshoumaru kembali mengambil sebuah kotak kecil di meja kerjanya dan menyerahkannya pada Rin. Semakin bingung, gadis itu membukanya, dan saat dia melihat apa isinya, matanya terbelalak dan terangkat menatap penuh terkejut inuyoukai di depannya.
"Taman Paviliun Timur Istana Tanah Barat terasa sangat kosong. Aku ingin pada musim berikut dan berikutnya, taman itu tidak akan kosong lagi." ujar Sesshumaru kalem tanpa mengalihkan matanya dari Rin. "Bisakah kau melakukan itu?"
Mata Rin yang terbelalak, semakin terbelalak mendengar pertanyaan Sesshoumaru. Namun, seketika juga, sebuah senyum lebar yang sangat indah merekah di wajahnya, diiringi air mata yang mengalir turun dengan deras. Mengangguk kepala, dia segera mmeluk erat kotak di tangannya. "Iya! Iya! Rin akan melakukannya! Rin akan melakukannya!"
Air mata kebahagian Rin, membuat Sesshoumaru mengangkat tangan untuk menghapus air mata yang ada. Tangannya bergerak dengan pelan, hati-hati dan lembut karena takut melukai kulit gadis itu dengan cakarnya yang tajam. Ada kehangatan yang dirasakan hatinya, menyentuh wajah di depannya itu. Menghapus air matanya, betapa dia merasa yang dia lakukannya sekarang benar-benar adalah sesuatu yang benar dan sepatutnya.
Rin semakin menempelkan pipinya pada telapak tangan Sesshoumaru dan tertawa kecil. "Rin akan menumbuhkannya Sesshoumaru-sama. Rin akan menjadikan taman Pavilium Timur Istana Tanah Barat menjadi taman terindah di seluruh dunia. Itu adalah tugas Rin seorang saja..."
Bibit bunga.
Yang diberikan Sesshoumaru padanya adalah bibit bunga. Inuyoukai itu menginginkan dirinya untuk menumbuhkan bunga di taman Pavilium Timur. Taman dimana kamarnya berada—tamannya. Betapa gembiranya dia sekarang, sebab akhirnya, untuk pertama kali, dia bisa melakukan sesuatu untuk inuyoukai yang begitu penting baginya
Senyum, tawa dan kebahagiaan Rin. Betapa Sesshoumaru menyukai pandangan itu. Kapan dia menyukai itu semua? Dia tidak tahu lagi, dan juga, baginya, jawaban itu juga tidak penting, sebab sekarang, dalam hatinya, ada kepuasan dan kebanggan. Apa yang diberikannya, yakni; bibit bunga, berhasil membuat gadis itu tersenyum lebih lebar dan bahagia dari pada senyum saat dia mendapatkan hadiah sisir emas dari Inukimi. Namun, yang terpenting, Rin akan menamkan bunga di tamannya mulai besok, seorang diri saja. Gadis kecil itu tidak akan lagi berbaur dengan para youkai rendahan, membantu mereka, karena dia sudah mempunyai tugas sendiri—dirinya tidak perlu khawatir lagi gadis itu akan direbut darinya.
"Sesshoumaru-sama," panggil Rin pelan. Matanya kembali terbuka, menatap penuh kehangatan inuyoukai di depannya. "B-bolehkah? Bolehkah Rin memeluk Sesshoumaru-sama?"
Pertanyaan tiba-tiba Rin membuat Sesshoumaru tertegun sejenak. Dirinya seakan tidak mempercayai apa yang didengarnya. Selama ini, Rin selalu memeluk orang lain dengan bebas, namun, gadis itu sangat jarang memeluknya—seuatu yang tidak disukainya, walau tidak pernah diungkapkannya. Dan sekarang, dia bertanya apakah dia boleh memeluknya? Gadis di depannya ini sungguh benar-benar aneh.
"Hn." Itulah jawaban yang diberikan Sesshoumaru kemudian dengan sebuah anggukan kecil.
Tidak membuang waktu sedikitpun lagi saat mendengar jawaban yang didapatkannya, Rin langsung berdiri dan meloncat melewati meja kerja Sesshoumaru. Kedua tangannya segera melingkari leher inuyoukai itu sambil tertawa. Dia merasa seakan bermimpi hari ini! Betapa bahagianya dia! Sesshoumaru-sama mengijinkan dia memeluknya? Sesuatu yang selama ini ingin selalu dilakukannya, tapi tidak berani, karena dia tahu, tidak sopan seorang bawahan memeluk atasannya. Tapi, sekarang, inuyoukai itu sudah mengijinkannya, dia boleh memeluknya!
"Terima kasih, Sesshoumaru-sama," bisik Rin pelan. "Terima kasih karena mempercayakan taman Pavilium Timur kepada Rin. Rin janji, Rin pasti akan menumbuhkan bunga terindah untuk anda..."
Tangan Sesshomaru dengan pelan bergerak membalas pelukan itu. Ucapan Rin membuatnya tersenyum kecil tanpa disadarinya. Bunga terindah untuknya? Gadis itu benar-benar tidak tahu apa-apa. Sesungguhnya, dia sudah memilikinya, bunga terindah di dunia. Bunga yang hanya ada satu di dunia, bunga yang tidak mungkin akan dilepaskannya, bunga yang kini ada dalam pelukannya-bunga terindah bernama; Rin.
__ADS_1
....xOxOx....