![Till The End Of Time [ Inuyasha Fanfiction ]](https://asset.asean.biz.id/till-the-end-of-time---inuyasha-fanfiction--.webp)
Saat Rin, Kagome dan Sango kembali ke taman bunga sakura di mana hanami diadakan, mereka melihat jelas perubahan suasana. Musik dan pertunjukkan masih terus berlanjut, begitu juga dengan makanan dan sake. Namun, suara tawa dan teriakan para youkai yang ada tidak terdengar lagi.
Semakin dekat, Kagome dan Sango segera menyadari penyebab suasana menjadi seperti ini. Di tempat duduk mereka, mata mereka menangkap jelas sosok kedua daiyoukai penguasa tanah jepang duduk berdekatan.
Baik Sesshoumaru dan Akihiko diam membisu tanpa suara. Bahkan, bisa dikatakan mereka tidak mempedulikan satu sama lain. Hanya saja, ada ketegangan tidak terlihat yang terasa.
Para youkai yang ada jelas tidak berani membuat keributan dalam kondisi seperti ini. Sesshoumaru dan Akihiko, mereka berdua adalah kombinasi terburuk yang ada. Tidak ada yang berani menganggu mereka sekarang, sebab nyawalah taruhannya.
Mata Sesshoumaru dan Akihiko kemudian bergerak dan menatap Rin saat mereka menyadari keberadaan gadis manusia itu. Mereka tetap tidak mengatakan apa-apa, tapi mata mereka jelas terus mengikuti setiap langkah kaki mungil itu.
Rin juga bisa merasakan keanehan yang ada, tapi dia tidak begitu peduli. Dengan wajah penuh senyum, dia melangkah ke arah Sesshoumaru dan Akihiko. Namun baru melangkah dua langkah, tangan Kagome tiba-tiba menghentikannya.
"Kau duduk bersama kami saja, Rin-chan." Ujar Kagome, senyum lebar menghiasi wajahnya.
"Iya, kau duduk di samping kami berdua saja." Tambah Sango lagi dengan senyum yang sama lebar.
Kagome dan Sango tidak dapat membiarkan Rin duduk di antara kedua daiyoukai itu lagi. Apa yang akan terjadi jika gadis manusia yang polos dan tidak sadar akan perasaan kedua daiyoukai itu terus berada di sana?
Rin menatap kebingungan Kagome dan Sango. Tidak sempat menolak, miko masa depan dengan tenang menarik gadis manusia itu dan menempatkannya dia antara mereka.
Tersenyum lebar, Kagome kemudian menatap Sesshoumaru dan Akihiko. "Rin-chan akan duduk bersama kami malam ini, kakak dan Akihiko-san tidak keberatan, kan?"
Sesshoumaru dan Akihiko tidak menjawab pertanyaan Kagome seakan tidak mendengarnya. Tapi, kedua mata mereka masih setia mengikuti Rin.
Miroku yang duduk di samping Sango berusaha mengabaikan perasaan berat yang kini memenuhi udara. Tersenyum kecil, dia hanya terus memakan hidangan yang tersedia. Untuk Inuyasha, dia sangat gembira, melihat Rin jauh dari Sesshoumaru maupun Akihiko, inuhanyou itu tidak menghentikan senyum dan tawanya sambil menatap kedua penguasa youkai.
Kira dan Kiri tetap berada di belakang Sesshoumaru tanpa ekspresi seperti biasanya, untuk Koga, dia berada di belakang Akihiko dengan kepala tertunduk ke bawah. Hanya Inukimi seorang saja yang tidak peduli, inuyoukai itu tertawa terbahak-bahak meminum sake dengan santai.
Suasana yang aneh membuat Rin menoleh kepala kiri-kanan. Apa yang terjadi?–padahal sebelum dirinya mengganti baju, pesta ini masih sangat meriah dan heboh.
"Makanlah, Rin-chan," ujar Kagome kemudian, tangan kanannya memegang sumpit dan mulai memakan hidangan di depan. "Kau belum makan, kan? Jangan sampai sakit."
Rin segera mengangguk kepala. Walau dia merasakan keanehan, dia menuruti ucapan Kagome, sebab dia memang merasa sangat lapar sekarang. Perlahan, tangan kanannya mengangkat sumpit di depan dan mulai makan.
Rin adalah gadis yang sederhana. Merasakan enaknya makanan yang memasuki mulutnya, seulas senyum bahagia segera merekah di wajah cantiknya. Kedua pipinya bersemu merah karena bahagia.
Senyum bahagia Rin seketika membuat pandangan Sesshoumaru dan Akihiko melembut. Perlahan, mereka berdua kemudian menolehkan pandangan ke arah lain. Suasana tegang yang adapun mencair sedikit.
Miroku yang menyadari perubahan suasana menatap Rin dengan pandangan tidak percaya. Namun, sejenak kemudian, senyum menghiasi wajahnya. Dia tidak ingin suasana pesta ini hancur, karena itu, dia memutuskan untuk menghidupkan kembali suasana. Pesta ini akan kembali lagi seperti semula jika gadis manusia ini tertawa bahagia.
Tertawa keras, Miroku kemudian menatap Rin yang telah selesai makan. "Rin-chan, bagaimana kalau kita bermain kartu?"
"Kartu?" tanya Rin penasaran. Mata coklatnya berbinar karena tertarik.
"Iya, kartu karuta." Jawab Miroku tersenyum lebar, dari balik jubahnya dia mengeluarkan kartu karuta yang memang dibawanya hari ini.
"Ide yang bagus, Miroku." sela Kagome menatap Miroku, dia tersenyum lebar penuh semangat. "Ayo kita main."
Ide Miroku dengan cepat diterima yang lainnya, dalam waktu singkat, para pemain duduk tenang dengan kartu torifuda di depan mereka. Tapi, menatap para pemain yang ada, Miroku sebagai pembaca kartu yomifuda tiba-tiba merasakan perasaan tidak enak.
Rin, Kagome dan Sango tidak membuat Miroku khawatir. Namun, Inuyasha, Koga, Inukimi jelas membuat biksu itu merasa tidak nyaman. Menelan ludah, dia masih bersyukur, setidaknya Sesshoumaru dan Akihiko tidak ikut berpartisipasi.
Menelan ludah lagi, mata Miroku menatap sekeliling. Tidak tahu sejak kapan, tempat mereka kini telah menjadi pusat perhatian. Para youkai di taman, kini mengelilingi mereka menonton permainan.
Menghela napas, Miroku kemudian membacakan kartu pertama. "Naniwa-zu ni, Sakuya kono hana,
Fuyu-gomori Ima o haru-be to,
Sakuya kono hana."
"Di sini!" teriak Inuyasha gembira, kartu itu terletak tepat di depannya. Tangannya dengan cepat bergerak untuk mengambilnya. Namun, kaki Koga tiba-tiba menendangnya.
"Tidak segampang itu, anjing kampung!!" tawa Koga gembira melihat kartu itu terbang ke jauh ke atas langit. Meloncat, youkai serigala itu berusaha menangkapnya.
Tapi, belum sempat dia menangkap, moko-moko Inukimi terbang menyerang Koga. "Iya, tidak segampang itu!" tawa mantan penguasa tanah barat gembira.
Inuyasha tetap tidak mau kalah, meloncat ke atas, dia mengerakkan cakar ditangannya menyerang Koga. "Sialan kau serigala kurus!!"
Para youkai selatan yang menonton berteriak keras menyemangati inuhanyou dan youkai yang bertarung di atas udara.
"Ayo, Koga-sama!! Jangan kalah!!"
"Hanyou, serang terus!!"
"Inukimi-sama, jangan mengalah pada mereka!"
Rin, Kagome, Sango dan juga Miroku yang berada di bawah hanya dapat terdiam menonton pertandingan merebut kartu antara Inuyasha, Koga dan Inukimi.
"Aku seharusnya sadar dengan ini saat melihat mereka." gumam Miroku putus asa.
Rin, Kagome dan Sango menghela napas, meski mereka cukup percaya diri dalam permainan karuta, bermain dengan hanyou dan youkai jelas adalah kesalahan.
"Rin-sama," panggil Kiri tiba-tiba. Inuyoukai itu tidak tahu sejak kapan telah berada di samping Rin. "Permainan ini berbahaya, biarkan hamba menggantikan anda."
Rin segera mengangguk kepala. Dia sadar, dirinya tidak mungkin akan menang dalam permainan ini. Sepertinya dia lebih cocok menjadi penonton dari pada pemain.
"Taijiya," panggil suara berat seseorang tiba-tiba dan membuat Sango menoleh kepala menatap seorang youkai yang memanggilnya. "Biarkan aku, Kei dari klan youkai beruang putih selatan menggantikanmu!!"
"Dan biarkan aku menggantikanmu, miko." tambah Ren, putra Kei yang berada disamping ayahnya tersebut.
Kagome dan Sango dengan senang hati, memberikan kesempatan sebagai pemain kepada ayah-anak itu. Mereka juga lebih memilih menonton demi keselamatan diri sendiri.
"Aku yang dapat!!" teriak Inukimi gembira setelah moko-mokonya berhasil membungkuk kartu dan turun ke bawa. Senyum lebar memenuhi wajahnya, saat kartu pertama telah berada di tangannya.
Inuyasha dan Koga berdecak tidak suka dan mendarat di atas tempat duduk mereka lagi.
"Miroku, bacakan kartu kedua!!" teriak Inuyasha kesal. Mata emasnya kemudian terarah pada Kiri, Kei dan Ren yang menganti posisi para wanita.
Dengan wajah datar dan senyum dipaksa, Miroku kembali mengangkat kartu kedua dan membacakannya. "Haru sugite, Natsu ki ni kerashi, Shirotae no, Koromo hosuchou, Ama-no-Kaguyama."
"Di sini!!" teriak Koga cepat. Tangannya bergerak cepat mengincar kartu yang terletak di tengah.
"Kau pikir, akan kubiarkan serigala kurus!!" teriak Inuyasha penuh kemarahan. Dia ikut menggerakkan tangan, tapi bukan untuk merebut kartu, melainkan untuk menyerang Koga.
"Kalian anak muda, mundur!" teriak Kei semangat. Membuka mulut, dia mengaum keras. Angin keras tiba-tiba berhembus dan menerbangkan semua kartu yang ada ke atas langit malam.
"Aku sudah menebak trik murahanmu ini, Ayahanda." Tawa Ren gembira. Tidak tahu sejak kapan, dia telah meloncat ke atas langit. Dengan gesit, dia bergerak ke arah kartu kedua.
Namun, saat Ren hampir berhasil menangkap kartu kedua, moko-moko Inukimi tiba-tiba melilit kakinya dan menghempaskan badan youkai beruang itu ke bawah tanah.
"Kau melupakanku beruang kecil."
"Sialan!!" teriak Inuyasha keras. Meloncat ke atas, dia menggerakkan tangannya sambil menghindari serangan moko-moko Inukimi.
Kiri, Koga dan Kei juga tidak mau kalah, ketiga youkai itu juga ikut meloncat ke atas saling menyerang untuk merebut kartu.
"Jangan lupakan aku sialan!!!" teriak Ren. Memgumpulkan tenaga, tidak mempedulikan luka ditubuhnya gara-gara serangan Inukimi, dia ikut meloncat menyerang.
Para youkai di bawah berteriak semakin semangat melihat pertarungan di atas.
__ADS_1
"Ayo, Ren-sama!! Jangan mau kalah!!
"Patahkan tulang mereka, Kei-sama!!"
"Hanyou, jangan menghindar saja!!
"Inukimi-sama, ayo hancurkan mereka!!"
Teriakan-teriakan penuh semangat yang sudah melenceng jauh dari permainan kembali memenuhi taman. Taman sakura tempat diadakan hanami telah kembali ribut tidak terhentikan.
Miroku yang menatap ke atas hanya dapat tersenyum kecil dengan penuh penyesalan. Ini bukan permainan karuta lagi, sekarang yang ada adalah pertarungan. Seharusnya dia tidak mengeluarkan ide berbahaya ini.
Kagome dan Sango tertawa gugup menonton permainan karuta di atas, sekali lagi, kedua wanita itu bersyukur tidak mengikutinya.
Hanya Rin seorang yang menatap pertarungan di atas dengan mata berbinar, dia yang sudah lama hidup bersama youkai sama sekali tidak merasakan keanehan dalam permainan ini. Seulas senyum gembira mengembang di wajah cantiknya.
Sesshoumaru dan Akihiko, tetap tidak mengatakan apa-apa. Mereka berdua sama sekali tidak tertarik dengan permainan yang berlangsung–kedua mata mereka masih setia menatap gadis manusia yang tersenyum itu.
....xOxOx....
Malam semakin larut, tapi permainan kartu masih terus berlanjut. Para pemain silih berganti, dan keributan semakin mengeras. Kecuali Inukimi yang masih bersemangat melanjutkan permainan, Inuyasha, Koga dan Kiri telah kembali ke tempat duduk mereka.
Rin menguap dan mengucek-ngucek matanya. Mati-matian dia menahan rasa kantuk yang menyerangnya. Tidak tahu mengapa, akhir-akhir ini, dia selalu merasa sangat capek dan juga ngantuk.
"Kau mau kembali ke kamarmu, Rin-chan?" tanya Kagome pelan. Dia yang duduk disamping Rin tersenyun lembut.
Rin mengangguk kepala pelan.
"Kalau begitu biarkan aku mengantarmu, Rin," suara Akihiko tiba-tiba menyela pembicaraan Rin dan Kagome. Menoleh kepala kepada Sesshoumaru, penguasa tanah selatan tersenyum menyeringai. "Kau tidak keberatan, kan, Sesshoumaru?–ada sesuatu yang ingin kubicarakan pada Rin."
Kagome dan Rin tertegun mendengar ucapan Akihiko, begitu juga dengan Inuyasha, Sango dan Miroku.
"Tidak!! Aku yang akan mengantarnya!!" teriak Inuyasha. Inuhanyou sampai sekarang masih tidak dapat mempercayai youkai serigala itu.
Sesshoumaru tidak mengatakan apa-apa, tapi kedua matanya menatap tajam Akihiko. Begitu juga dengan Kira dan Kiri.
Rin yang sadar dari perasaan tertegunnya kemudian tersenyum. "Rin juga ingin menyampaikan sesuatu pada anda, Akihiko-sama."
"Rin!!" panggil Inuyasha terkejut. "Kau tidak boleh sembarangan mempercayai youkai seperti dia!!"
Kagome, Sango, Miroku diam membisu. Tapi, mereka jelas tidak bisa membiarkan Akihiko bersama dengan Rin seperti kemarin lagi–tidak setelah Sesshoumaru memperlihatkan sikap posesifnya kepada gadis manusia itu sekarang.
Kagome kemudian berdiri, tersenyum menatap Akihiko. "Aku saja yang mengantar Rin-chan, Akihiko-san."
Akihiko tidak keberatan dengan ucapan Kagome, sebab dia sudah memperkirakan miko yang suka ikut campur itu berkata seperti itu. Tersenyum, dia kemudian menoleh menatap Rin. "Baiklah, dan Rin, apa yang ingin kau sampaikan padaku?"
Menatap sekeliling, Rin kemudian tersenyum kecil. Kegusaran memenuhi hatinya. "Sepertinya ini bukan tempat yang tepat, Akihiko-sama."
Ucapan Rin membuat senyum Akihiko semakin lebar. Mendekati gadis manusia itu, dia mengulurkan tangan kanannya, "Baiklah, tengah taman sakura tempat yang cocok Rin."
"Kau!!?" teriak Inuyasha penuh kemarahan dan menepis tangan Akihiko. Seperti Koga, dia tidak pernah menyukai Akihiko yang tidak pernah menyerah walau telah ditolak.
"Rin." suara Sesshoumaru tiba-tiba terdengar dan membuat semua yang ada menoleh mata pada inuyoukai itu, tidak terkecuali Rin.
Tidak diucapkan, hanya menatap mata emas itu saja, Rin tahu, Sesshoumaru tidak ingin dia mengikuti Akihiko. Tapi, dia memang memiliki hal penting yang harus disampaikan pada penguasa tanah selatan.
Berdiri, Rin kemudian melangkah mendekati Sesshoumaru. Tersenyum, dia kemudian mengenggam tangan inuyoukai itu. Masih ada perasaan malu saat berhadapan seperti ini dalam diri gadis manusia itu. Namun, dia bisa mengontrolnya. "Rin akan segera kembali, Sesshoumaru-sama. Rin harus menyampaikan sesuatu pada Akihiko-sama."
Sentuhan lembut dan senyum Rin membuat pandangan Sesshoumaru melembut. Menutup mata, dia tidak menemukan kekuatan untuk menolak permintaan gadis manusia itu. Tidak tahu sejak kapan, dia menjadi sangat lemah terhadapnya. Perlahan, Sesshoumaru kemudian mengangguk kepala.
"Sesshoumaru, kau!!" protes Inuyasha lagi. Dia langsung berdiri dan menatap penuh kemarahan kakak seayahnya.
Sekali lagi, Inuyasha bergerak dan menepis tangan Akihiko. Untuk kali ini, penguasa tanah selatan menatap inuhanyou itu penuh kemarahan.
"Tidak perlu berpegang tangan!" teriak Inuyasha tidak takut. Dia menatap balik tatapan Akihiko penuh kekesalan.
Rin yang melihat itu tertawa kecil. Berjalan mendekati Akihiko, dia mendorong punggung youkai serigala itu. "Ayo, Akihiko-sama."
Berjalan menjauh dari Inuyasha dan yang lainnya, saat sosok Rin dan Akihiko telah menghilang dari pandangan. Inuyasha menoleh kepala menatap Sesshoumaru. "Kau benar akan membiarkannya?" tanyanya kesal.
Sessgoumaru tidak mengatakan apa-apa, tapi dia berdiri. Melangkah pelan, dia berjalan menuju arah di mana Rin dan Akihiko pergi. Penguasa tanah barat memang mengijinkan gadis manusia itu berbicara dengan Akihiko. Tetapi, tidak berarti dirinya hanya akan berdiam diri.
....xOxOx....
Akihiko membawa Rin kembali ke tengah taman sakura yang mereka datangi semalam. Tersenyum, dia menatap gadis yang berada di sampingnya lembut. Namun, senyum itu tidak bertahan lama, sebab hidungnya dengan mudah menangkap bau dari inuyoukai dan inuhanyou yang bersembunyi di balik pohon sakura tidak jauh dari mereka.
Mata langit Akihiko kemudian terarah pada batang pohon sakura tersebut, menatap tajam tidak suka.
"Akihiko-sama, ada apa?" tanya Rin tiba-tiba. Dia menatap bingung Akihiko dengan kedua mata coklat jernihnya.
Menoleh matanya kembali pada Rin, Akihiko kembali tersenyum dan mengeleng kepala. "Tidak apa-apa, Rin."
Maju dua langkah, Rin kemudian berhenti dan membalikkan badannya menatap Akihiko. Kedua matanya menatap lurus penguasa tanah selatan. Tidak ada senyum atau tawa di wajahnya, yang ada hanyalah keseriusan.
Akihiko tetap tersenyum melihat tingkah Rin. Ditatap dengan ekspresi seperti ini, Akihiko merasa gadis di depannya sungguh lucu. Ingin sekali rasanya dia memeluk dan membuat gadis manusia itu tersenyum.
"Akihiko-sama." Panggil Rin pelan.
"Iya, Rin." Balas Akihiko lembut. Senyum lebar di wajahnya semakin lebar.
"Akihiko-sama. Rin berterima kasih dengan hadiah yang anda berikan pada Rin. Tapi maaf, Rin tidak bisa menerimanya."
Ucapan Rin dengan seketika membuat senyum di wajah Akihiko menghilang. Dia menatap bingung gadis manusia itu. "Kenapa? Kau tidak menyukainya? Kalau begitu, katakan apa yang kau suka, aku akan memberikannya padamu."
Rin menggeleng kepala mendengar ucapan Akihiko. "Bukan Akihiko-sama. Rin tidak bisa menerima barang berharga seperti itu."
Jawaban Rin membuat Akihiko tertawa kecil. Kimono sutra, emas permata yang diberikan itu tidak ada artinya sama sekali bagi penguasa tanah selatan, begitu juga untuk gadis manusia yang akan menjadi kisaki selatan.
Tersenyum, Akihiko membungkukkan badan hingga mata biru langitnya sejajar dengan mata Rin. "Itu untukmu. Tapi, kalau kau tidak menyukainya kau boleh membuangnya, Rin."
Mata Rin terbelalak mendengar ucapan Akihiko. Terdiam membisu, dia tidak tahu harus mengatakan apa supaya youkai serigala di depannya bersedia menerima kembali hadiah yang diberikan.
"Kau kisakiku di masa depan, Rin," lanjut Akihiko lagi. Mata biru langitnya menatap penuh pujaan gadis yang kebigungan di depannya. "Semua milikku adalah milikmu."
Ucapan Akihiko sekali lagi membuat mata Rin terbelalak. Rasa terkejut dan juga kebingungan luar biasa menyerangnya. Bukankah dia sudah menolak tawaran menjadi kisaki semalam? Kenapa Akihiko masih berpikir seperti ini?
Melangkah mundur dua langkah, ekspresi wajah Rin dari terkejut dan binggung segera berubah menjadi kesulitan serta bersalah. "A-akihiko-sama, Rin tidak bisa menjadi Kisaki selatan.."
Ekspresi wajah dan ucapan penolakan Rin membuat Akihiko kembali kebingungan. Perasaan kecewa dan sedih memenuhi hatinya, tapi itu dengan segera tertutupi kemarahan. Mengontrol amarahnya, mata biru langit itu tetap menatap lurus Rin. "Kenapa?"
Rin segera membalas pertanyaan Akihiko terbata-bata"K-karena itu tidak akan adil untuk anda, Akihiko-sama. Anda teman Rin yang berharga, Rin tidak ingin an–"
"Aku tidak ingin menjadi temanmu, Rin. Aku ingin menjadi pendamping hidupmu!!" potong Akihiko. Dia menaikkan suaranya hingga berteriak.
Kekecewaan dan kesakitan terlihat jelas di wajah tampan penguasa tanah selatan, dan itu membuat Rin benar-benar merasa bersalah. Menunduk kepala ke bawah, gadis manusia itu diam membisu.
"Apakah karena Sesshoumaru?" tanya Akihiko lagi.
Pertanyaan Akihiko membuat Rin mengangkat kepala menatap youkai serigala itu terkejut.
__ADS_1
Seulas senyum penuh ejekan tiba-tiba memenuhi wajah Akihiko. "Dia tidak akan mencintaimu, Rin. Sesshoumaru tidak akan memberikan hatinya untukmu."
Rin tertegun mendengar ucapan Akihiko. Ada rasa sakit dalam hatinya, dia tidak akan mencintaimu, Sesshoumaru tidak akan memberikan hatinya untukmu. Kata-kata itu, Rin sudah tahu itu semua, jauh sebelum Akihiko memberitahu, tapi..
Rin.
Wajah Sesshoumaru melintas di pikiran Rin. Inuyoukai yang menjadi segalanya bagi hidupnya. Perlahan, seulas senyum bahagia menghiasi wajah cantik gadis manusia itu. "Tidak apa-apa. Rin sudah bahagia bisa bersama Sesshoumaru-sama."
Senyum penuh ejekan di wajah Akihiko langsung menghilang. Melihat dan mendengar ucapan Rin, dia kehilangan kepercayaan dirinya. Dia tidak ingin menjadi teman gadis manusia ini, dia ingin menjadi pendamping hidupnya, dia ingin senyum dan tawa itu menjadi miliknya–dia ingin memiliki cintanya.
Kenapa Rin tidak mencintainya? Jika dialah yang terlebih dahulu menemukan gadis ini semasa kecil, akankah cintanya itu akan menjadi miliknya? Jika saja dialah yang menyelamatkannya, akankah dialah satu-satunya yang akan ada dalam mata coklat jernih itu? Jika saja dialah yang ada disamping gadis itu dari kecil hingga dewasa, akan hati itu berdetak untuknya?
Akihiko tidak bisa menerima penolakan Rin. Pertanyaan demi pertanyaan memenuhi pikirannya. Pertama kali dalam hidupnya, dia mencintai dengan seluruh hati, dan cinta ini akan menjadi cinta tak terbalas?–dia tidak akan membiarkannya.
Mengangkat kepala ke atas, Akihiko kemudian tertawa dengan sangat keras. Tangan kanannya bergerak menyusuri rambut peraknya.
Rin tidak mengatakan apa-apa, diam membisu, dia hanya menatap penguasa tanah selatan itu dengan wajah yang penuh perasaan bersalah.
Berhenti tertawa, Akihiko kemudian menurunkan kepalanya dan kembali menatap Rin. Mata biru langitnya kini bersinar aneh, tidak ada lagi sinar lembut. Tersenyum menyeringai, dia kemudian bergerak cepat ke arah Rin.
Kedua tangan Akihiko bergerak memeluk pinggang Rin dengan erat. Kepalanya kemudian menunduk ke bawah hingga berada di celah leher gadis manusia itu. "Maafkan aku Rin—kau milikku." bisiknya pelan.
Tidak mempedulikan reaksi Rin, Akihiko membuka mulutnya lebar. Kedua taring panjangnya bersinar di bawah sinar cahaya bulan mencari kulit putih seperti salju itu, celah antara lehernya–dia akan menandakan gadis ini sebagai miliknya.
....xOxOx....
Dari balik pohon sakura tidak jauh dari Rin dan Akihiko, Sesshoumaru dan Inuyasha dapat mendengar jelas pembicaraan mereka.
Dari setiap ucapan antara Rin dan Akihiko, Inuyasha tidak dapat menghentikan pandangan mata mereka yang perlahan terarah pada Sesshoumaru.
Sesshoumaru hanya berdiri diam menyandarkan badannya pada batang pohon sakura. Wajahnya tanpa ekspresi, seakan pembicaraan yang di dengarnya tidak ada artinya.
Sesungguhnya, jauh dalam hati Sesshoumaru; dia marah. Akihiko yang dengan seenaknya mengatakan dirinya yang tidak akan mencintai Rin. Namun, ada kehangatan juga dalam hatinya mendengar ucapan Rin yang mengatakan dirinya sudah bahagia berada di sampingnya, bahkan tanpa cintanya.
"Hei! Kenapa serigala itu memeluk Rin?" teriak Inuyasha penuh kemarahan tiba-tiba.
Ucapan Inuyasha dengan seketika membuat Sesshoumaru menoleh kepala pada Rin dan Akihiko. Melihat penguasa tanah selatan yang memeluk gadis itu erat, dia merasakan kemarahan. Tapi, kemarahan itu segera berubah menjadi kepanikan saat melihat Akihiko membuka mulutnya.
Menggerakkan kakinya secepat yang dia biasa, Sesshoumaru melesat mendekati Rin dan Akihiko. Mata emasnya berubah menjadi merah darah bagaikan hitam dan kedua bibirnya melebar memperlihatkan taring panjangnya.
Sesshoumaru berteriak dalam hatinya agar semua tidak terlambat. Dia tahu apa yang diinginkan Akihiko sekarang, mulut yang terbuka lebar, taring panjang yang mengincar celah di leher gadis manusia itu–youkai serigala itu berencana menandai gadis manusia itu.
Namun, tidak peduli secepat apa Sesshoumaru bergerak, jaraknya dan Rin masih terpisah. Dia hanya bisa menatap ketakutan saat kedua taring itu menyentuh kulit gadis manusia itu.
"Rin!!!"
Bersamaan dengan suara teriakan Sesshoumaru, dari dada Rin, sinar terang tiba-tiba terpancar keluar.
....xOxOx....
Rin tidak tahu apa yang terjadi, semua terjadi sangat cepat. Akihiko yang memeluknya, bisikannya, suara teriakan Sesshoumaru, lalu–cahaya terang ini.
Angin yang kuat tiba-tiba berhembus. Dengan dirinya sebagai pusat, angin dan cahaya terang yang ada tiba-tiba menghempaskan Akihiko yang memeluknya jauh ke belakang.
Rin kenal cahaya dan juga angin ini. Cahaya dan angin ini sama dengan cahaya dan angin hari itu di puncak gunung hoshi yang menghidupkan ratusan youkai–ini adalah meido seki yang selalu dipakainya.
Kenapa meido seki bersinar? Rin sama sekali tidak tahu, tapi cahaya dan angin yang menyelimutinya bagaikan sebuah kekai terasa sangat hangat.
Menggerakkan kedua tangannya, Rin kemudian mengenggam meido seki yang selalu tersembunyi di balik kimononya dan menutup mata. Perlahan, cahaya serta angin yang ada semakin meredup hingga akhirnya menghilang dari pandangan.
Bermaksud membuka mata, Rin tiba-tiba merasa sepasang tangan menyusuri pingangnya. Bau dan kehangatan yang tidak pernah asing baginya menyelimutinya. Tersadar, dia telah berada dalam pelukan erat Sesshoumaru.
Rin yang tidak mengerti apa yang terjadi membiarkan Sesshoumaru memeluknya. Perasaan bingung dan juga terkejut memenuhinya saat dia merasakan badan inuyoukai yang ditakuti semua orang bergetar.
"S-sesshoumaru-sama, ada apa?" tanya Rin tebata-bata. Dia berusaha melepaskan diri, tapi pelukan erat yang ada membuat usahanya itu sia-sia.
Sesshoumaru berusaha menangkan dirinya. Wajahnya kembali seperti semula, namun, dia bisa merasakan badannya bergetar. Menjauhkan badan mereka tanpa melepaskan pelukannya, tangan kanan penguasa tanah barat kemudian bergerak menyentuh dagu Rin dan mengesampingkannya. Mata dan wajahnya yang telah kembali seperti biasa segera menatap lekat leher putih gadis manusia itu. Perasaan syukur memenuhi hatinya saat dia melihat leher itu masih putih bersih tanpa tanda atau luka sedikitpun.
Memeluk Rin erat sekali lagi, Sesshoumaru bernapas lega. Pertama kali dalam hidupnya dia merasakan ketakutan yang luar biasa. Jika saja sinar dan angin barusan tidak ada, maka taring Akihiko akan menancap di leher gadis manusia ini. Selamanya gadis ini akan hidup dengan tanda penguasa tanah selatan dibadannya–dia akan kehilangannya.
Melepaskan pelukannya, Sesshoumaru kemudian membalikkan badan dan menatap Akihiko penuh kemarahan. Mata emasnya kembali menjadi merah darah hingga hitam, kedua ujung bibirnya melebar dan memperlihatkan seringai kemarahan.
Beraninya! Kurang ajar! Dia akan membunuhnya!! Amarah luar biasa memenuhi hati Sesshoumaru. Dia hampir kehilangan Rin! Direbut darinya dengan licik! Dia hampir kehilangan satu-satu keberadaan paling berharga dalam hidupnya!
Akihiko yang telah berdiri setelah terpental oleh cahaya dan angin meido seki balas menatap1 Sesshoumaru dengan seringai kemarahan. Kedua mata biru langitnya juga telah berubah menjadi merah gelap.
Yang berada di depannya adalah keberadaan yang paling dibencinya. Akihiko tahu, jika saja Sesshoumaru tidak ada, maka Rin tidak akan menolaknya. Jika inuyoukai itu tidak ada, Rin akan mencintainya. Dia akan membunuhnya hari ini juga!!
Dengan kecepatan penuh, kedua daiyoukai itu melesat berhadapan. Dengan bakusaiga di tangan Sesshoumaru dan juga kazakiri no kiba di tangan Akihiko, mereka beradu.
Tanah yang hancur dan ledakan kuat memenuhi langit malam. Baik Sesshoumaru dan Akihiko tidak mempedulikannya, mereka terus menggerakan pedang mereka mengincar nyawa lawan.
Inuyasha yang melihat pertarungan antara Sesshoumaru dan Akihiko sangat kebingungan. Dia tidak mengerti kemarahan Sesshoumaru, cahaya dari Rin dan juga pertarungan kedua daiyoukai itu. Namun, yang paling penting sekarang adalah keberadaan Rin yang begitu dekat dengan pusat pertarungan. Salah sedikit, gadis itu akan terluka.
Inuyasha ingin berlari mendekati Rin, tapi posisinya tidak memungkinkan karena pertarungan di depan.
"Rin!! Jangam di sana!! Lari!!" teriak Inuyasha keras. Namun, suaranya tertelan oleh keributan dari pertarungan Sesshoumaru dan Akihiko.
Rin yang melihat pertarungan Sesshoumaru dan Akihiko sangat ketakutan. Ada apa? Mengapa mereka bertarung seperti ini? Dia bisa merasakan dengan baik keinginan membunuh kedua daiyoukai di depannya sekarang. Apakah ini artinya perang akan dimulai lagi?
Kematian, kehilangan, penderitaan, kehancuran.
Apa yang paling tidak diinginkannya akan kembali lagi. Kematian dan kehilangan mereka yang disayangi, penderitaanbdn kehancuran yang akan ditinggalkan. Tidak! Rin tidak menginginkan itu lagi.
Melangkah kaki, tidak mempedulikan pertarungan mematikan di depan, Rin berlari maju. Jantungnya berdetak cepat, rasa sesak luar biasa dan ketakutan menyerangnya. "Hentikan!! Hentikan! Rin mohon! Henti–uh."
Suara teriakan Rin tiba-tiba terhenti, begitu juga dengan langkah kakinya. Dari dalam mulutnya, dia bisa merasakan sesuatu yang hangat. Menutup mulutnya dengan kedua tangan, dia merasakan sesuatu yang hangat itu mengalir keluar tidak tertahankan.
Merah.
Mata coklat Rin bisa melihat cairan merah yang memenuhi kedua tangannya. Warna itu begitu kentara di tangan putihnya, cairan apa ini?
Kebingungan Rin mengangkat kepala menatap Sessgoumaru dan Akihiko yang tidak tahu sejak kapan telah berhenti bertarung. Syukurlah mereka sudah berhenti bertarung. Tapi ada apa dengan mereka berdua, kenapa mereka menantapnya dengan ekspresi seperti itu?
Rin ingin membuka mulut untuk mengucapkan sesuatu, tapi cairan merah itu terus mengalir keluar dari mulutnya tidak terhentikan. Menetes turun mengenai kimono merah jambunya, cairan merah hangat ini adalah–darahnya.
Dunia bagai berhenti, Rin tidak bisa merasakan apa-apa. Tidak ada rasa sakit, rasa takut dan sesak yang dirasakan menghilang. Perlahan badannya kehilangan tenaga, pandangannya mulai mengabur, dia bisa melihat kedua daiyoukai itu berlari mendekatinya penuh kepanikan.
Lalu yang paling jelas, Rin bisa merasakan jantungnya yang berdetak kencang tiba-tiba berhenti.
"Rin!!!"
"Rin!!!"
Pandangan Rin mulai mengabur, suara yang memanggilnya menjadi sangat jauh. Kegelapan memenuhinya, dan sedetik kemudian, dia bisa merasakan lagi, jantungnya yang berhenti kembali berdetak pelan.
Ada perasaan sedih menyayat hati tidak terjelaskan yang dirasakan Rin seiring detak jantungnya yang pelan. Kematian pertama dan keduanya terlintas dalam kepala–tidak disadarinya, waktunya yang terhenti kini telah kembali berjalan.
....xOxOx....
__ADS_1