![Till The End Of Time [ Inuyasha Fanfiction ]](https://asset.asean.biz.id/till-the-end-of-time---inuyasha-fanfiction--.webp)
Rin menghela napas dan menghempas badannya ke atas futon. Menoleh ke luar jendela, melihat langit malam, dia kembali menghela napas, sebab akhirnya dia bisa beristirahat.
Hari ini adalah hari yang melelahkan baginya. Dia ingat jelas apa yang terjadi sesaat dia menyetujui syarat Akihiko
"Baiklah, Rin bisa melakukan itu. Rin berjanji musim semi Rin akan datang ke istana tanah selatan." senyum Rin. Matanya berbinar bahagia, tidak menyangka syarat Akihiko begitu mudah.
"Jangan bercanda!! Jangan menyetujui apapun syarat serigala itu, Rin!!" teriak Inuyasha penuh kemarahan. Hanyou itu segera melangkah mendekati Rin dan Akihiko. "Pasti ada tipu muslihat dalam syaratnya itu!!"
"Apa yang dikatakan Inuyasha-sama benar, Rin-sama," sela Kira, mata emasnya menatap tajam Akihiko. "Jangan menerima syaratnya itu."
"Jangan mempercayai selatan, Rin-sama." tambah Kiri. Ada perasaan tidak suka dalam hatinya melihat kedekatan tuan barunya dengan penguasa tanah selatan.
Rin menatap bingung Inuyasha, Kira dan Kiri. Dia tidak mengerti dengan sikap mereka yang tidak menyukai Akihiko. Meski merupakan penguasa tanah selatan, youkai serigala ini tidak pernah mencelakainya.
Akihiko meluruskan badannya. Dengan wajah yang masih tersenyum, dia tidak mempedulikan ucapan Inuyasha, Kiri dan Kira. Pandangannya hanya terfokus pada Rin, seakan memang hanya ada gadis itu dalam kamar tersebut.
"Sesuai katamu dulu, musim semi tahun depan, kita akan hanami bersama," ujar Akihiko pelan. "Kau harus memainkan shamisen, bernyanyi dan mena—"
"Rin bersedia!!" potong Rin. Mata coklatnya berbinar penuh kegembiraan mendengar kata hanami yang diucapkan Akihiko. "Apakah ada taman sakura di istana tanah selatan, Akihiko-sama? Rin sama sekali tidak melihat pohon bunga sakura kemarin-kemarin?"
Tinggal beberapa hari di istana tanah selatan, Rin merasa bahwa istana itu sangat gersang tanpa tumbuhan. Taman yang dilihatnya hanyalah taman gersang tempat Akihiko berlatih pedang. Tapi, dia tidak menjelajahi istana tanah selatan secara saksama, mungkin memang ada taman bunga sakura di sana, hanya saja dia tidak tahu.
Akihiko tertawa kecil melihat reaksi Rin. Matanya menatap lembut gadis manusia itu. "Ada Rin. Musim semi tahun depan, aku akan menunjukkan padamu taman sakura dalam istana tanah selatan."
"Baguslah kalau begitu! Rin janji akan mengunjungi istana tanah selatan lagi." balas Rin sambil tersenyum. Kegembiraan memenuhi wajahnya bagaikan seorang anak kecil.
"Rin!!" potong Inuyasha lagi, dia mengacak-ngacak rambutnya karena frustasi dengan sikap Rin yang begitu mudah menyanggupi setiap ucapan Akihiko. "Jangan sembarangan menyanggupi ucapan serigala ini!!"
Rin hanya tersenyum melihat reaksi Inuyasha, dan itu membuat hanyou itu semakin frustasi. Dia benar-benar tidak tahu harus berbuat apa untuk berhadapan dengan gadis polos tersebut.
"Kalau begitu, aku tidak akan menganggumu lagi, Rin," ujar Akihiko pelan. Melangkah maju mendekati Rin, tangan kanannya terangkat mengelus pelan kepala gadis manusia itu. "Istirahat dan sampai besok."
"Jauhkan tanganmu berengsek!!" teriak Inuyasha penuh kemarahan, dia mencabut pedang tessaiga di pinggangnya.
Kiri dan Kira bergerak cepat, mereka segera menarik Rin ke belakang, menjadikan badan mereka sebagai pemisah antara Akihiko dan gadis manusia itu. Mata mereka berubah menjadi merah darah, sedangkan mulut mereka terangkat ke atas, menyeringai memperlihatkan taring panjang.
Apa yang dilakukannya, Akihiko tahu merupakan sesuatu yang tidak biasa, tapi dia tidak bisa menghentikan tangannya saat melihat senyum Rin. Dan sekarang, kehangatan yang masih tersisa di tangannya membuat dia merasa sangat puas.
Membalikkan badan, penguasa tanah selatan itu tertawa dan berjalan keluar tanpa menoleh kepala ke belakang lagi.
"Kurang ajar!! Tunggu kau, serigala berengsek!!" teriak Inuyasha penuh kemarahan. Pedangnya terayun dan dia melangkah kaki ingin mengejar Akihiko.
"Inuyasha-sama!!"
"Inuyasha!!"
"Ughh.." Gumam Rin pelan dan menutup mata sejenak mengingat kembali apa yang terjadi. Betapa kesulitan dirinya, Kagome, Miroku dan yang lainnya menghentikan inuhanyou itu. Dirinya tidak berani membayangkan apa yang terjadi jika Inuyasha benar-benar bertarung dengan Akihiko siang tadi.
Untung keadaan bisa dikendalikan berkat kata "Osuwari" dari Kagome. Kiri dan Kira yang ada tempat kejadian tidak membantu sama sekali, bahkan jujur, mereka kelihatannya sangat menginginkan Inuyasha menyerang penguasa tanah selatan itu. Sedangkan, Inukimi, dia hanya duduk dengan wajah penuh pemikiran menatap keadaan.
Setelah semua keributan itu, Rin berpikir dia bisa beristirahat sejenak, tapi, ternyata itu semua sia-sia. Pintu kamarnya selalu terbuka, dari Kenji, Rei dan Rika, youkai di istana tanah barat yang muncul dengan wajah penuh kekhawatiran silih berganti.
Meski capek, jauh dalam hati Rin, sejujurnya dia juga cukup gembira. Melihat semua yang disayanginya masih hidup, dia merasa untuk pertama kali dia berguna.
Menggerakkan tangan menyentuh meido seki yang dipakainya. Rin mengangkat pusaka itu dan menciumnya pelan. Dia tidak pernah tahu kenapa meido seki bersinar dan menghidupkan semua yang ada saat itu, tapi setidaknya semua berakhir dengan baik.
Menurunkan meido seki, Rin kembali menoleh pandangannya keluar jendela. Malam sudah larut, dan kesunyian malam menyelimuti, hatinya terasa sedikit hampa, sebab meski banyak yang mengunjuginya hari ini—Sesshoumaru tidak datang.
Rin tahu, Sesshoumaru pasti sibuk. Selesainya perang ini, pasti meninggalkan banyak tugas yang harus diselesaikan sebagai penguasa tanah barat. Hanya saja..
Rin merindukannya.
Semiggu lebih mereka berpisah membuat dirinya sangat merindukan Inuyoukai itu. Setiap kali pintu terbuka hari ini, Rin berharap Seshoumarulah yang akan muncul. Tapi ternyata harapannya tidak terwujud, hingga malam tiba, sosok itu tidak muncul di hadapannya.
Menghela napas untuk kesekian kalinya, Rin kemudian memutuskan untuk beristirahat. Bangkit dan menarik selimut menutupi badan, dia kemudian meniup lampu minyak di samping.
Kegelapan malam menyelimuti kamar yang tidak begitu besar tersebut. Hanya cahaya remang-remang dari luar jendela saja yang menjadi penerang yang jelas tidak membantu.
Menoleh keluar jendela, Rin mulai merasa mengantuk. Dia memang harus tidur sekarang, supaya hari besok cepat tiba. Mungkin, besok pagi, Sesshomaru akan datang menjenguknya.
"Oyasumi, Sesshoumaru-sama.." gumam Rin pelan dan menutup mata, membiarkan kegelapan menyelumutinya dalam tidur yang damai.
Kreett
Rin yang telah tertidur sama sekali tidak menyadarinya. Saat dia tertidur, pintu kamarnya terbuka. Perlahan sesosok seorang inuyoukai berjalan masuk—Seshoumaru.
Berjalan mendekati Rin, Sesshoumaru duduk di samping gadis manusia itu. Inuyoukai itu tidak mengatakan apapun. Tidak ada niat sedikitpun dalam hatinya untuk membangunkan Rin, dia hanya diam menatapnya.
Sesshoumaru tahu segala yang terjadi pada Rin hari ini, dan dia juga tahu, gadis ini menunggunya. Tapi, dia tidak mau menunjukkan diri.
Kenapa?—karena Sesshoumaru tidak tahu harus bersikap seperti apa di depan Rin. Dia tidak bisa seperti dulu lagi, membiarkan gadis ini tertawa, tersenyum, bernyanyi dan menari lepas di sampingnya.
Kenapa?—karena Sesshoumaru tahu, dia mencintai Rin. Cinta adalah perasaan yang asing. Sepanjang hari, dia terus berpikir dan berpikir.
Saat Sesshoumaru sadar akan perasaannya dan Rin diculik, dia marah dan menginginkan gadis itu di samping. Namun, saat Rin sudah di samping, dia tidak tahu harus berbuat apa dan menghindarnya.
Lalu, saat dia mendengar bahwa Rin menyetujuhi syarat Akihiko untuk pergi ke istana tanah selatan di musim semi tahun depan. Sesshoumaru berusaha keras mengontrol kemarahan dalam hatinya. Dia ingin sekali menyuruh gadis manusia itu menarik kembali ucapan dan mengabaikan syarat dari penguasa tanah selatan itu.
Tapi..
Dengan status sebagai apa dirinya meminta Rin melakukan itu? Sesshoumaru sadar untuk pertama kalinya. Siapakah dirinya bagi Rin? Wali? Pengasuh? Tuan? Rin hanyalah manusia yang tidak sengaja ditemukannya, diselamatkan dan bersama hingga sekarang; mereka tidak memiliki hubungan apapun.
Rin adalah jiwa yang bebas tanpa rasa takut. Gadis manusia itu polos dan sangat hangat. Apa daya tarik yang membuat semua youkai menatap gadis ini?—Sesshoumaru sadar sekarang, itu karena semua gadis ini sangat murni.
Rin adalah makhluk hidup paling murni yang ada. Meski saat kecil, dia ditindas sesamanya, meski dia mati, meski dia melihat betapa kotor dan munafiknya dunia, Rin tidak pernah berubah. Dia bagaikan salju pertama yang putih tanpa noda.
Karena itulah..
Sesshoumaru tidak berani menangkapnya. Jika Rin adalah salju, maka dirinya adalah tanah kotor berdebu di bawah. Mereka terlalu berbeda. Salju akan kotor jika jatuh di atas tanah yang seperti itu, salju akan mencair dan menghilang di atas tanah. Karena itu, bagaimana dia berani mengapainya?
__ADS_1
Sesshoumaru tahu, mereka tidak bisa bersama. Bahaya dan kematian akan selalu menghantui Rin jika semua youkai tahu, gadis inilah satu-satunya kelemahan dari penguasa tanah barat. Melepaskan Rin adalah pilihan terbaik yang bisa dilakukannya.
Cinta adalah perasaan manusiawi. Sesshoumaru pernah mendengar manusia mengatakan; cinta itu bisa dibunuh, bisa dilupakan. Itulah yang akan dilakukannya. Sebelum cinta dalam hatinya tumbuh semakin besar dan tidak dapat dikendalikan—dia akan memusnahkannya.
Menutup mata, Sesshoumaru kemudian berdiri. Tidak menoleh ke belakang sedikitpun, dia melangkah keluar dari kamar Rin.
....xOxOx....
"Apa rencana anda selanjutnya, Takeru-sama?" tanya Akiko. Mata hijaunya menatap sosok penguasa tanah utara yang berdiri menyandarkan badannya pada sebatang pohon besar dalam hutan.
Takeru tidak menjawab. Dia diam membisu dengan mata tertutup seakan memikirkan sesuatu.
"Kita tidak bisa bertindak gegabah lagi untuk kedepannya, Takeru." ujar seseorang tiba-tiba dari belakang Akiko.
"Ayahanda!" panggil Akiko terkejut melihat sosok Asano sang penguasa tanah timur berjalan mendekati mereka dengan pelan.
Berjalan ke samping Akiko, seulas senyum tipis memenuhi wajah penuh keriput Asano. "Barat dan selatan sudah mengetahui niatmu. Mereka pasti akan mengawasi setiap gerak-gerikmu sekarang."
"Aku tahu, Asano-san," balas Takeru kemudian. Dia membuka matanya dan berjalan mendekati Asano dan Akiko. "Aku hanya tidak menyangka rencanaku akan gagal seperti ini."
Asano tertawa keras mendengar ucapan Takeru. "Aku juga tidak menyangka. Terlebih lagi, itu disebabkan karena seorang gadis manusia tanpa kekuatan spritual."
Takeru tidak membalas ucapan Asano lagi. Matanya menatap tajam penguasa tanah timur, sedangkan dalam benaknya wajah gadis manusia yang merusak rencananya terlintas jelas.
"Kau harus berhati-hati, Takeru. Kita masih punya waktu," lanjut Asano lagi. Mata tuanya menatap penguasa tanah utara penuh arti. "Kita harus menyusun rencana baru, dan mungkin kita bisa memanfaatkan gadis manusia yang merusak rencanamu itu."
....xOxOx....
"Kau benar-benar cantik sekali, Rin-chan," Puji Kagome yang baru saja selesai membantu Rin mengenakan kimono putih berlambang barat. "Aku paham, kenapa kau dipanggil Hime dari barat sekarang."
Kagome tidak bisa menyembunyikan rasa takjudnya. Rin benar-benar mirip seorang putri. Dia sangat cantik bagaikan lukisan. Berapa banyak hati pria yang akan luluh hanya dengan melihatnya?
"Kagome-sama, anda terlalu memuji Rin. Kimono ini yang membuat anda berpikir seperti itu." Balas Rin, dia tersenyum sambil melihat baju kimono yang dikenakannya.
Kimono yang dikenakan Rin adalah kimono yang diberikan oleh Inukimi. Mantan penguasa tanah barat itu sejak dulu memang suka mendandani putri angkatnya itu. Dia ingin gadis manusia itu selalu cantik, apalagi di hari di mana mereka akhirnya akan pulang ke istana tanah barat.
Tiga hari sudah berlalu semenjak Rin menyadarkan diri. Kesehatannya telah pulih seperti biasa, dan Kagome telah mengijinkan gadis manusia itu pulang. Miko masa depan itu cukup bersyukur Rin sembuh dengan cepat, bukan karena dirinya terganggu gadis ini berada di rumahnya, tapi karena keadaan desa. Sudah beberapa hari para penduduk desa hidup dalam ketakutan karena ribuan youkai barat dan selatan yang ada dalam desa.
"Kau harus mengunjungi kami lagi ya, Rin-chan," senyum Kagome sambil mengenggam tangan Rin. "Shiro dan yang lainnya pasti akan sangat merindukanmu."
Rin mengangguk kepala. "Kagome-sama, Inuyasha-sama dan yang lainnya juga boleh datang ke istana tanah barat. Rin akan menjamu kalian sebaik mungkin."
Kagome tertawa, mengunjungi istana tanah barat mungkin ide yang bagus. Tapi itu mustahil, Inuyasha tidak mungkin mau, karena bagaimana juga, istana itu adalah istana Sesshoumaru.
"Kau sudah siap, Rin-kecil." suara Inukimi tiba-tiba terdengar. Mantan penguasa tanah barat itu membuka pintu kamar Rin dan berjalan masuk ke dalam.
"Sudah, Ibunda." balas Rin tersenyum, dia berlari kecil mendekati Inukimi.
Mata emas Inukimi berbinar melihat Rin. Dengan kimono putih berlambang barat, putri kecilnya begitu memesona. Memeluk gadis manusia itu, dia tertawa. "Bagus, ayo kita pulang."
Rin mengangguk kepala dan membiarkan mantan penguasa tanah barat itu mengenggam tangan, menariknya keluar. Kagome hanya tersenyum melihat sosok inuyoukai dan gadis manusia itu. Melangkah kaki, dia mengikuti mereka berdua.
Menggeleng kepala, Rin segela menepis jauh-jauh perasaan kecewa dalam hatinya. Dia tahu, yang dia pikirkan sekarang salah, dia tidak boleh egois. Betapa Sesshoumaru sibuk setelah perang ini, dia tahu. Jadi, dia harus bersabar.
"Kau siap, Rin-kecil," ujar Inukimi tiba-tiba sesaat mereka akan melangkah keluar dari rumah Inuyasha. Dia menoleh ke belakang dan tersenyum kecil. Melepaskan tangan yang digenggamnya, mantan penguasa tanah barat mengisyaratkan gadis manusia itu untuk keluar lebih dulu."Tegakkan punggungmu dan lihatlah ke depan."
Rin kebingungan mendengar ucapan Inukimi. Dia tidak mengerti sedikitpun ucapan dan sikap inuyoukai tersebut. Terlebih lagi, Kagome yang ada di belakang kemudian mendorong punggungnya dan tertawa kecil.
Masih penuh kebingungan, Rin melangkah maju dengan pelan. Inukimi membuka pintu rumah Inuyasha dan tersenyum lebar.
Yang pertama kali dirasakan Rin saat menginjakkan kaki keluar adalah cahaya mentari pagi yang menyilaukan mata. Lalu, yang kemudian dilihatnya adalah para youkai barat dan selatan.
Di depan rumah Inuyasha, ribuan youkai barat dan selatan berkumpul. Semua pandangan mereka hanya terarah pada gadis manusia yang melangkah keluar. Tanpa aba-aba, semua youkai itu kemudian berlutut memberikan hormat pada gadis manusia itu.
"Terima kasih, Hime-sama!"
"Terima kasih, Hime-sama dari barat!"
Suara para youkai bersatu dan bergema memenuhi pagi musim dingin. Mereka semua berlutut mengucapkan terima kasih pada gadis manusia yang telah menyelamatkan hidup mereka dan juga menghentikan perang.
"Luar biasa, aku tidak percaya dengan apa yang aku lihat sekarang." ujar Miroku. Matanya terbelalak menatap apa yang ada di depannya. Perlahan dia menoleh menatap Inuyasha dan yang lainnya. "Aku tidak bermimpikan?"
Tidak ada yang membalas pertanyaan Miroku. Inuyasha berdiri dengan Shiro dalam gendongannya diam membisu, begitu juga dengan Kenji, Sango, Kohaku, Shippo, dan anak-anak.
Pemandangan di depan mereka adalah sebuah kemustahilan. Siapa yang pernah berpikir, ribuan youkai dengan kekuatan mengerikan dan harga diri tinggi akan bersedia berlutut memberi hormat dan mengucapkan terima kasih pada seorang gadis manusia biasa?
Sesshoumaru dan Akihiko yang juga ada di sana, tidak mengatakan apa-apa, pandangan mereka jatuh pada sosok gadis manusia itu. Para youkai barat dan selatan berlutut memberi hormat dan berterima kasih, bukanlah karena perintah mereka selaku penguasa, tetapi memang karena rasa hormat mereka untuk gadis itu.
Perang besar barat-selatan tanpa pemenang. Semua orang mengatakan begitu. Tapi, jika melihat pemandangan di depan mata sekarang, pemandangan dimana ribuan youkai berlutut memberikan hormat pada Rin—Sesshoumaru dan Akihiko tahu, perang itu memiliki seorang pemenang. Pemenang yang tidak akan disangka siapapun yaitu; Rin.
Membangkitkan dan menghentikan perang youkai, Rin telah memenangkan rasa hormat dari ribuan youkai. Tidak ada pengecualian, semua youkai itu berhutang budi pada gadis itu
Rin, seorang gadis manusia tanpa kekuatan spritual itulah pemenang mutlak dari perang besar barat dan selatan.
Di sisi lain, Rin tidak tahu harus berbuat apa. Dia sangat terkejut, bingung dan tidak percaya dengan apa yang dilihatnya sekarang. Baginya, dia tidak melakukan apa-apa yang berarti. Perang ini bukan berakhir karena dirinya—perang ini berakhir karena Sesshoumaru dan Akihiko yang tidak ingin berperang lagi.
"A-apa yang anda semua lakukan!!? Cepat berdiri, Rin tidak berani menerima ini semua!!" suara panik Rin memecahkan keheningan. Dia melangkah maju, berusaha membantu salah satu youkai yang ada di depannya berdiri.
Para youkai tetap tidak bergeming, mereka masih menundukkan kepala ke bawah, dan itu membuat Rin semakin panik.
"Mereka tidak akan berdiri sampai kau menerima hormat dan rasa terima kasih mereka, putriku." Suara pelan Inukimi yang ada di belakang Rin membuat gadis itu segera menoleh kepala. "Karena itu, terimalah."
Rin masih ragu meski mendengar ucapan Inukimi. Tetapi, menguatkan perasaannya, dia kemudian kembali menatap para youkai di depannya. Menghela napas, dia membuka mulutnya. "Rin mengerti maksud anda sekalian, dan Rin menerimanya, berdirilah."
"Terima kasih, Hime-sama."
"Terima kasih, Hime-sama dari barat."
Semua youkai yang ada kembali mengucapkan terima kasih. Dan perlahan mereka semua berdiri. Pandangan mereka tidak berubah, tetap hanya terpusat pada Rin yang kini tersenyum lebar karena lega mereka telah berdiri.
__ADS_1
Senyum lebar nan polos Rin bagaikan sihir. Membuat para youkai merasa kehangatan dalam hati. Perasaan yang asing bagi seorang youkai.
"Sekarang, Ayo kita pulang, Rin-kecil." Melangkah maju, Inukimi memukul pelan pundak kecil Rin. Sepertinya jika gadis ini tidak meninggalkan tempat ini, para youkai itu tidak akan bergerak sedikitpun.
Rin kembali menoleh kebelakang dan mengangguk kepala pada Inukimi. Namun, sejenak kemudian pandangannya jatuh pada sosok seorang inuyoukai yang ternyata berdiri tidak jauh di sampingnya.
Mata Rin langsung berbinar, senyum di wajahnya menjadi semakin lebar. Inuyoukai itu menyandarkan badannya yang tinggi pada dinding rumah Inuyasha. Melangkah kaki secepat yang dia bisa, dia tertawa dengan suaranya yang seperti dentingan lonceng. "Sesshoumaru-sama!!"
Sesshoumaru tidak bergerak. Mata emasnya menatap lurus Rin yang berlari ke arahnya, mengikuti setiap langkah kaki gadis manusia. Mendengar lagi mulut kecil itu memanggil namanya setelah sekian lama, hatinya terasa sangat hangat.
Tawa dan senyum Rin semakin lebar dan lebar. Akhirnya! Setelah sekian lama, dia akhirnya bertemu dengan Sesshoumaru. Perasaan rindu dalam hatinya tidak tertahankan lagi. Dia ingin segera berada di samping inuyoukai itu dan memeluknya.
Mungkin karena terlalu gembira dan tidak hati-hati. Baru melangkah beberapa langkah saja, Rin tiba-tiba kehilangan keseimbangan dan jatuh ke bawah. Gadis manusia itu menutup mata dan bersiap menerima rasa sakit yang akan menyerangnya. Namun, sepasang tangan kokoh yang hangat tiba-tiba menopangnya.
Bau yang sangat khas memenuhi indra penciumannya. Kehangatan yang sangat familiar memenuhinya. Tertawa lagi, dia membuka mata menatap penolongnya. "Sesshoumaru-sama."
Sesshoumaru tidak bergeming, matanya menatap tawa Rin yang memanggil namanya; tertegun. Dirinya tidak bermaksud menolong Rin, dia sudah memutuskan untuk menjaga jarak dengan gadis itu. Tidak mengunjuginya meski dia tahu Rin menunggu kedatangannya adalah salah satu cara yang dilakukannya. Tapi, melihat gadis itu jatuh di depan mata, badannya bergerak tanpa disadari.
"Terima kasih, Sesshoumaru-sama." Mata Rin menatap lulus mata emas Sesshoumaru. Segala pujaan, hormat dan cinta terpancar jelas di mata coklat jernih tersebut. "Maaf, Rin telah merepotkan anda."
Sesshoumaru tidak mengatakan apa-apa. Perlahan, dia melepaskan tangannya yang menopang badan Rin. Tapi, matanya tidak bisa lepas dari sosok gadis di depannya.
"Kau harus hati-hati, Rin." ujar suara Akihiko tiba-tiba. Tidak tahu sejak kapan, dia telah berada di samping Rin dan Sesshoumaru. Wajahnya tersenyum, tapi mata biru langitnya jelas menatap tajam inuyoukai penguasa tanah barat.
"Akihiko-sama." senyum Rin melihat Akihiko. Dia kemudian tertawa. "Rin akan hati-hati mulai sekarang."
"Bagus kalau begitu," Akihiko mengangguk kepala dan tertawa kecil. Sejenak kemudian, dia kembali menatap Sesshoumaru. "Kau bergerak lebih cepat dariku kali ini, Sesshoumaru."
Sesshoumaru tidak membalas, dia diam membisu dengan wajah datar menatap Akihiko.
"Kelak, biarkan aku saja yang melakukan ini semua. Kau cukup diam dan melihat saja." Sambung Akihiko lagi. Seulas senyum menyeringai menghiasi wajah tampannya.
Ekspresi wajah Sesshoumaru tetap tidak berubah. Sikap Akihiko sekarang membuat dia tahu, penguasa tanah selatan ini sangat tertarik pada gadis manusia yang diselamatkannya. Rasa tidak suka segera memenuhi hati.
Menatap Rin lagi, Sesshoumaru tiba-tiba menggunakan lengan kanannya mengangkat gadis manusia itu.
"Sesshoumaru-sama!" kedua tangan Rin segera menyentuh kedua pundak Sesshoumaru untuk menjaga keseimbangan. Mata coklatnya tidak bisa menyembunyikan rasa terkejut dalam hati.
Menatap mata Sesshoumaru yang berwajah datar, perlahan, ekspresi terkejut Rin berubah menjadi senyum. Duduk di lengan inuyoukai yang ditakuti semua orang seperti ini, mau tidak mau membuat dia teringat kembali masa kecilnya.
Dulu saat badannya masih kecil, saat mereka masih mengembara, saat menghindari musuh, inuyoukai itu terkadang mengendongnya seperti ini. Bagi Rin kecil, meski bahaya di depan mata, dia tidak pernah takut, sebab Sesshoumaru ada. Sekarang juga begitu, selamanya akan seperti itu.
Senyum musim semi yang hangat. Senyum yang indah, senyum yang sangat menawan, betapa Sesshoumaru ingin memonopolis senyum itu. Dia tidak ingin menunjukkannya pada siapapun.
Tidak mempedulikan Akihiko dan yang lainnya. Mengangkat kepala ke atas, Sesshoumaru meloncat ke atas langit. Terbang pulang ke arah istana tanah barat.
Rin kembali terkejut, tapi sejenak kemudian dia tertawa. Melambaikan tangan kanannya, dia menatap ke bawah. "Sampai ketemu lagi, Akihiko-sama, Inuyasha-sama, Kagome-sama! Sampai ketemu lagi Miroku-sama! Sango-sama! Kohaku dan Shippo-chan!!"
"Eh!!" Inuyasha, Kagome dan yang lainnya hanya bisa berseru kaget bercampur bingung karena sikap Sesshoumaru yang tidak bisa ditebak.
Inukimi yang melihat dari bawah kemudian tertawa terbahak-bahak. Meloncat ke atas langit, dia mengikuti Sesshoumaru dan Rin, begitu juga dengan Kira dan Kiri, berserta seluruh youkai tanah barat.
Barisan besar pasukan youkai tanah barat terbang memenuhi langit musim dingin dengan sang penguasa dan seorang gadis manusia di depannya.
Akihiko yang melihat sosok Rin menjauh, mengepal tangannya kuat menahan kemarahan. Sikap posesif Sesshoumaru pada Rin, dia tahu jelas artinya. Tapi senyum hangat yang ditujukan Rin pada inuyoukai itulah yang paling tidak disukainya. Penguasa tanah selatan itu ingin senyum hangat gadis manusia itu tertuju padanya, bukan orang lain.
Mengangkat kepala ke atas, Akihiko juga meloncat ke atas langit, terbang ke arah istananya yang ada di selatan. Dia tidak akan berdiam diri, saat musim semi tahun depan tiba, dia akan pastikan senyum itu akan tertuju padanya, bukan lagi pada Sesshoumaru.
Seperti halnya youkai barat, para youkai selatan juga ikut meloncat ke atas langit dan terbang mengikuti penguasa mereka kembali ke istana tanah selatan.
Desa manusia yang ditinggalkan ribuan youkai itu seketika menjadi hening. Menyisahkan Inuyasha dan yang lainnya yang masih kebingungan.
"Oke!" seru Kagome tiba-tiba memecahkan keheningan. Dia menepuk pundak Inuyasha dan tersenyum. "Kurasa kita sudah boleh menyampaikan pada semua penduduk desa bahwa mereka sudah boleh meninggalkan rumah mereka."
....xOxOx....
Terbang tinggi di atas langit. Dalam gendongan Sesshoumaru, mata coklatnya Rin berbinar bahagia menatap langit biru di atas. Seulas senyum musim semi terukir indah dalam limpahan cahaya mentari pagi yang menyilaukan.
Semua itu membuat Sesshoumaru tidak bisa mengalihkan pandangannya. Kenapa dia tidak bisa mengendalikan pandangannya? Sesshoumaru tidak menemukan jawabannya. Kenapa dia masih bisa bersikap seperti ini? Padahal dia telah memutuskan untuk melepaskan gadis dalam gendongannya ini.
Seakan menyadari pandangan Sesshoumaru, Rin kemudian menoleh wajahnya menatap Sesshoumaru. Meski badannya telah membesar banyak, ternyata lengan penguasa tanah barat ini tetaplah merupakan salah satu tempat favoritnya.
"Sesshoumaru-sama," panggil Rin pelan. Mata mereka beradu. "Biasanya, Sesshoumaru-sama yang seharusnya mengucapkannya, tapi kali ini, Rin lah yang akan mengucapkannya."
Sesshoumaru menatap bingung Rin. Dia tidak mengerti arah pembicaraan gadis manusia itu.
Perlahan, Rin menggerakkan telapak tangan kanannya menyentuh pipi Sesshoumaru. Senyum di wajahnya melebar dan mata coklat jernihnya tertutup "Tadaima, Sesshoumaru-sama."
Untuk sesekian kalinya, Sesshoumaru kembali tertegun. Kehangatan tangan kecil itu, lalu senyum itu. Senyum Rin sekarang mau tidak mau mengingatkannya kembali lagi pada senyum gadis itu semasa kecil—senyum dengan badan penuh luka dan gigi yang hilang satu; senyum polos yang selalu ada dalam benaknya.
Lalu, perlahan, saat perasaan tertegun itu menghilang. Detak jantung Sesshoumaru menjadi sangat cepat.
Tadaima
Aku pulang. Pulang ke rumah. Apakah artinya Rin menganggap dirinya, Sesshoumaru dari barat sebagai rumah? Tempat dimana dia akan selalu pulang dan tinggal?
Ada kegembiraan tidak terucap memenuhi hati Sesshoumaru. Hanya dengan satu kata sederhana, gadis manusia ini telah berhasil membuatnya seperti ini. Lalu, pada saat yang bersamaan, betapa menakutkannya semua ini.
Betapa berbahaya gadis yang telah menjadi kelemahannya, Sesshoumaru semakin sadar. Jika Rin bisa membuatnya bahagia seperti ini, maka dia tahu, Rin juga mampu menghempasnya kedalam kehampaan.
Semakin dia, Sesshoumaru mencintai Rin, semakin tinggi resiko yang harus diterima mereka kelak. Dan pemikirannya yang paling rasional tidak dapat mengijinkan itu terjadi.
"Sesshoumaru-sama," panggil Rin lagi. Kedua pipinya bersemu merah karena malu. Tertawa dia berujar pelan. "Rin sangat merindukan Sesshoumaru-sama.."
Manusia adalah makhluk dengan berbagai ekpresi. Bahagia, sedih, marah, takut dan sebagainya. Rin menunjukkan itu semua pada dirinya. Lalu sekarang, tawa dengan wajah tersipu di depannya, dia tidak dapat melakukan apapun selain hanyut di dalamnya.
Mengangkat tangan kirinya, Sesshoumaru memeluk pinggang Rin. Tertawa gembira, Rin menyandarkan kepalanya pada pundak inuyoukai itu dan menutup mata.
Badan yang hangat, bau musim semi yang khas dan suara tawa yang menenangkan. Sesshoumaru semakin mengeratkan pelukannya. Cukup kali ini saja! Dia tidak akan membiarkan keadaan seperti ini terus berlanjut! Sampai mereka mencapai istana tanah barat, Sesshoumaru akan menjadikan pelukan ini sebagai kedekatan mereka yang terakhir.
__ADS_1
....xOxOx....