![Till The End Of Time [ Inuyasha Fanfiction ]](https://asset.asean.biz.id/till-the-end-of-time---inuyasha-fanfiction--.webp)
Berbaring dengan posisi menyamping di atas futon dalam kamar tidur penguasa tanah barat, Sesshoumaru menatap sosok Rin yang tertidur damai di sampingnya sambil mendekap Shura di dada. Tangan kanan sang inuyoukai melingkar di pinggul wanita manusia tersebut, lengan tangan kirinya terlentang menjadi bantal bagi kisakinya, sedangkan, mokomokonya menjadi selimut bagi kedua keberadaan paling berharga dalam hidupnya.
Pagi sudah menjadi siang, Sesshoumaru telah menghabiskan waktu berjam-jam hanya untuk menatap istri dan anaknya tidur, sebab menatap mereka yang tertidur damai, dia ikut merasa damai.
Kepuasan dirasakan Sesshoumaru. Segalanya telah lengkap dengan Rin dan Shura di sampingnya. Memiliki mereka berdua, dia merasa dia telah memiliki dunia seluruhnya.
Apakah kau memiliki orang yang ingin kau lindungi?
Pertanyaan terakhir Inu No Taisho kembali melintas dalam pikiran Sesshoumaru, dan kali ini—sang penguasa tanah barat tersenyum.
"Ada, Ayahanda," gumam Sesshoumaru pelan dan menutup mata. "Sesshoumaru ini memiliki orang yang ingin dilindungi—Sesshoumaru ini ingin melindungi Rin dan Shura."
Sesshoumaru menjawab, dan dia tahu, ayahandanya yang begitu dihormatinya pasti sedang tertawa di alam sana. Orang yang ingin dilindungi—sesuatu yang paling berharga; istri dan anaknya.
Sesshoumaru dulu hanya terpaku pada kekuatan tanpa mempedulikan apapun, karena baginya itulah yang paling penting dalam hidupnya. Tapi semenjak dia bertemu Rin, mencintainya dan kini memiliki Shura, dia tahu, ternyata, kekuatan bukanlah yang paling penting—keluargalah yang paling penting.
Lalu, seperti keajaiban, saat dia membuang obsesinya pada kekuatan, dia justru mendapatkan kekuatan yang begitu didambakannya dulu. Dalam perang besar lima wilayah, dia bisa bertahan dan hidup meski panah dan pedang menusuk jantungnya—itu adalah karena dia ingat akan Rin dan Shura.
Cinta adalah sebuah perasaan yang tidak berguna. Cinta adalah sesuatu yang akan membuatmu menjadi lemah dan musnah. Cinta adalah kelemahan.
Kata itu salah, Sesshoumaru sadar dan yakin sekarang. Cinta tidak akan melemahkan dan membuatnya musnah, cintanya pada Rin dan Shura tidak akan menjadi kelemahannya, malah justru sebaliknya. Rin dan Shura adalah sumber dan pemicu kekuatannya. Memiliki mereka berdua, dia selamanya tidak akan terkalahkan—Sesshoumaru akan selalu menjadi youkai terkuat di dunia ini demi mereka berdua.
"Sesshoumaru-sama." suara Rin yang pelan dan lembut terdengar, membuat Sesshoumaru segera membuka mata.
Yang pertama kali dilihat Sesshoumaru ada sepasang mata coklat besar yang jernih serta senyum musim semi yang dicintainya.
"Apa yang anda pikirkan, Sesshoumaru-sama?" tanya Rin pelan. Kedua matanya menatap lembut Sesshoumaru.
"Sesshoumaru ini memikirkan Rin dan Shura." Jawab Sesshoumaru dengan suaranya yang datar. Senyum kecil di wajahnya tidak kunjung menghilang.
Rin tertegun dengan jawaban Sesshoumaru. Namun sejenak kemudian, dia tertawa kecil dan tersipu malu. "Rin bahagia kalau Sesshoumaru-sama memikirkan Rin dan Shura."
Melihat ekspresi wajah dan tawa Rin, senyum di wajah Sesshoumaru hanya semakin kentara. Menggerakkan tangan kanan yang ada di pinggul ke pipi kanan kisaki tanah barat, dia mengelusnya lembut. "Sesshoumaru ini akan selalu memikirkan kalian berdua—karena itu, bahagialah selalu, Rin."
Rin mengangguk kepala pelan dengan ekspresi wajah yang sama. Menutup mata, dia memiringkan wajahnya ke kanan untuk merasakan lebih banyak lagi kehangatan tangan Sesshoumaru. "Kalau begitu, Sesshoumaru-sama juga harus berjanji pada Rin untuk tidak terluka lagi."
Rin sudah tahu akan apa yang terjadi pada perang besar lima tanah di jepang, dan dia juga tahu akan luka yang diterima Sesshoumaru— panah dan pedang yang menebus jantungnya. Sakitnya itu, dia bisa membayangkan, dan ketakutan itu—kisaki tanah barat tidak mau merasakannya lagi.
"Luka seperti itu tidak akan dapat membunuh Sesshoumaru ini," balas Sesshoumaru pelan. Tangannya terus mengelus pipi kisakinya lembut. "Sesshoumaru ini akan selalu pulang padamu."
"Auuuu..."
Suara rintihan kecil tiba-tiba terdengar. Membuka mata, Rin segera menoleh kepada Shura yang berada dalam pelukannya, begitu juga dengan Sesshoumaru.
Shura yang tidak tahu sejak kapan telah bangun, kini menatap kedua orang tuanya dengan mata besarnya. Bangkit berdiri, dengan penuh kesulitan dan sedikit terhuyung-huyung, dia membebaskan dirinya dari pelukan Rin.
Berjalan beberapa langkah, kepala kecilnya menyeruduk ke celah antara pipi kanan Rin dan telapak tangan Sesshoumaru. Mengosok-gosok wajahnya di sana, pewaris tanah barat tersebut mendengus penuh kepuasan, sedangkan ekornya bergoyang-goyang.
Tingkah Shura yang tiba-tiba mau tidak mau membuat Rin tertawa, sedangkan untuk Sesshoumaru, dia tersenyum.
Tawa Rin membuat Shura kemudian menjulurkan lidahnya menjilat pipi ibu kandungnya, dan jilatannya semakin kuat saat dia merasa tawa yang ada semakin keras.
"Geli, Shura," tawa Rin yang penuh kebahagiaan memenuhi kamar yang sunyi. Menggerakkan tangan kanannya, dia mengelus badan Shura lembut. "Hentikan."
Sesshoumaru yang melihat interaksi antara ibu dan anak didepannya mau tidak mau ikut tertawa. Ikut menggerakkan tangan kanannya, dia mengelus kepala Shura.
Elusan tangan Sesshoumaru di kepala Shura membuat inuyoukai kecil itu berhenti menjilat pipi Rin. Mengangkat kepala ke atas, kini dia menjulurkan lidah menjilat telapak tangan ayahnya.
Sesshoumaru cukup terkejut dengan tingkah Shura yang tiba-tiba, tapi sejenak kemudian dia kembali tersenyum dan membiarkan putranya melakukan apapun yang ingin dilakukannya.
Ada perasaan hangat yang dirasakan Sesshoumaru. Shura menjilat dirinya dan Rin adalah karena Shura tahu siapa mereka berdua. Anak inuyoukai yang baru lahir tidak tahu apa-apa, karena itu insting anjingnya lebih berkerja. Putranya terus menjilat dirinya dan Rin adalah karena dia ingin menandai mereka dengan baunya—menandai mereka sebagai miliknya.
"Kau mirip siapa, Shura?" tawa Rin melihat Shura yang kini menjilat telapak tangan Sesshoumaru penuh kegembiraan.
Dari cerita Inukimi dulu, Rin tahu Sesshoumaru semasa kecil dulu sangat kalem dan cendrung pasif. Tapi melihat Shura sekarang, putranya terlihat sangat aktif.
"Shura mirip denganmu." Balas Sesshoumaru pelan. Kedua mata emasnya kini terarah pada Rin penuh godaan. Seulas senyum kecil memenuhi wajah tampannya. "Kau saat masih bayi pasti juga seperti ini."
Rin tertegun, tapi sejenak kemudian dia menggeleng kepala, walau ekspresi wajahnya penuh keraguan. "Tidak. Rin tidak seperti ini.. Rin tidak mungkin seaktif ini.."
"Auu!! Auu!!" suara tangisan Shura yang tiba-tiba kembali merebut perhatian Sesshoumaru dan Rin.
Menatap putra mereka, Sesshoumaru dan Rin melihat mata Shura terarah pada mereka penuh perasaan tidak suka, karena merasa—diabaikan.
"Auu! Auu!!" kembali menyalak, Shura kemudian menggosok-gosokkan kepala pada pipi Rin dan kemudian pada telapak tangan Sesshoumaru bergantian.
Sesshoumaru kembali tersenyum dengan tingkah Shura yang begitu haus perhatian mereka. Sepertinya putranya ini cukup berbeda dengan dirinya maupun Rin. Tapi, tidak tahu mengapa—dia menyukainya.
Untuk Shura, Sesshoumaru bersedia memberikan apapun. Perhatian dan cinta, segala yang bisa dia berikan—dia ingin putranya tumbuh besar dalam kebahagiaan sebagaimana mestinya.
Tertawa lagi, Rin kemudian mengangkat dan menurunkan Shura. Mencium bulan sabit di keningnya, kisaki tanah barat tersenyum, "Apakah kau lapar, Shura?"
Rin baru tersadar, sampai sekarang, dia masih belum menyusui Shura. Berusaha bangkit dan duduk, Sesshoumaru bergerak cepat membantu dan menjadikan dada sebagai sandaran untuk dirinya.
Tersenyum menatap Sesshoumaru sejenak, Rin kemudian membuka kerah kimononya dan membimbing mulut putra kecilnya pada dadanya.
Mencium bau asi, insting Shura segera berkerja, membuka mulutnya, dia mulai mengisap sumber asi untuk menghilangkan rasa laparnya. Ekornya kembali bergoyang, menandakan dia gembira.
Senyum Rin hanya bertambah lembut. Dia awalnya cukup bingung bagaimana cara menyusui Shura, sebab wujud anaknya sekarang adalah seekor anak anjing, tapi ternyata dia tidak perlu khawatir, semuanya berjalan dengan baik.
Sesshoumaru yang melihat Rin menyusui Shura mau tidak mau kembali tersenyum. Mengangkat kedua tangan, dia melingkar pinggang kisakinya dengan hati-hati dan meletakkan dagunya pada pundak kanan Rin.
"Rin," panggil Sesshoumaru pelan, kedua matanya terarah pada putranya yang meminum asi penuh kegembiraan. "Ibunda mengatakan, bayi inuyoukai tidak seperti bayi pada umumnya. Mereka cukup dinyusui seminggu sekali. "
Rin mengangguk kepala pelan. "Rin mengerti."
Rin sebenarnya sudah tahu jelas semua hal tentang bayi inuyoukai, karena dia telah mempersiapkan dirinya dengan sepenuhnya untuk menjadi ibu dari seorang inuyoukai sejak kunjungan Shui—saat dia memutuskan akan melahirkan Shura sebagai inuyoukai sejati.
"Rin," panggil Sesshoumaru lagi. Menggerakkan kedua tangannya ke atas, dia ikut memeluk Shura. Menutup mata, inuyoukai penguasa tanah barat tersenyum. "Sesshoumaru ini—bahagia."
Rin tertegun dengan pengakuan Sesshoumaru. Tapi, sejenak kemudian dia ikut tersenyum. Memiring dan menyandarkan kepalanya pada kepala Sesshoumaru, dia juga menutup mata. "Rin juga bahagia, Sesshoumaru-sama."
Kebahagiaan.
Kebahagiaan mereka sekarang adalah kebahagiaan baru yang tidak pernah mereka rasakan sebelumnya. Hanya dengan keberadaan Shura dalam pelukan mereka—semuanya berubah.
Kebahagiaan ini begitu manis dan memabukkan. Lebih manis dari semua madu terbaik dan lebih memabukkan dari sake youkai—kebahagiaan ini adalah kebahagiaan tidak terjelaskan. Namun, akan dimengerti oleh setiap orang tua saat mereka melihat anak mereka.
"Sesshoumaru-sama, Rin-sama, hamba datang mengantarkan makanan."
Suara Jaken tiba-tiba terdengar dari luar. Suaranya pelan, seakan takut menganggu mereka yang ada di dalam.
"Masuk." perintah Sesshoumaru.
Jaken membuka pintu dan berjalan masuk dengan mapan berisi makan di tangan. Namun, memasuki ruangan, kedua matanya hanya terpusat pada sosok sang pewaris tanah barat yang sedang menyusui.
Tugas mengantar makanan Rin ini sebenarnya menjadi rebutan semua penghuni istana tanah barat, karena sampai sekarang, belum ada seorangpun yang mengetahui saksama rupa dari Shura, sang pewaris tanah barat, dan Jaken adalah youkai paling beruntung karena bisa mendapatkannya.
Melihat badan anjing berbulu putih dalam pelukan Rin, mata Jaken semakin membesar. Kebahagiaan dan kebanggaan memenuhi hatinya melihat penerus dari tuannya yang terlahir sebagai inuyoukai sejati tanpa terpengaruhi darah ibu kandungnya yang merupakan seorang manusia.
"Grrr...." suara geraman rendah dan menakutkan seketika menyadarkan Jaken dari perasaan terkesimanya.
Menyadari sepasang mata emas yang menatapnya tajam, ketakutan segera memenuhi hati Jaken. Menatap lekat sosok Shura yang sedang dinyusui Rin di depan Sesshoumaru—apa yang telah dia lakukan?
Meletakkan mapan berisi makanan, dia segera berlutut meminta maaf. "Ahhh—Sesshoumaru-sama, hamba hanya menatap Shura-sama!! Hamba sama sekali tidak melihat hal lain!!"
__ADS_1
Rin tertawa kecil melihat tingkah Jaken. Sejujurnya, dia tidak merasakan apapun saat Jaken melihatnya menyusui Shura, sebab youkai katak itu adalah salah satu youkai yang membesarkannya saat kecil di alam bebas.
Shura yang menyadari kehadiran Jaken serta mendengar geraman Sesshoumaru segera berhenti menyusui. Menoleh kepalanya menatap youkai katak yang berlutut meminta maaf, dia ikut menggeram penuh kemarahan.
Shura jelas tidak tahu apa yang terjadi. Tapi melihat ayah kandungnya menggeram tidak suka, dia merasa youkai yang mendekati mereka bukanlah hal baik. Terlebih lagi, youkai itu menganggu kebersamaannya bersama kedua orang tuanya.
Wajah Jaken semakin memucat melihat reaksi Shura. Air mata langsung menupuk di kelopak matanya. Tidak mungkin, kan? Apa Shura tidak menyukainya?—mereka baru saja bertemu.
Tawa Rin pecah tidak tertahankan melihat reaksi Jaken. Merapikan pakaiannya, dia menepuk-nepuk kepala putranya lembut. "Shura, jangan bersikap seperti itu pada Jaken-sama," perlahan, dia kemudian menatap Sesshoumaru, tangannya bergerak menyentuh pipi inuyoukai tersebut. "Sesshoumaru-sama juga. Yang di depan kita adalah Jaken-sama, bukan orang lain."
Bersamaan kedua ayah-anak inuyoukai tersebut berhenti menggeram pada Jaken. Menatap wajah Rin yang tersenyum, mereka kemudian kembali menoleh mata pada youkai katak tersebut penuh intimidasi.
Rin menatap Sesshoumaru dan Shura sejenak, kemudian menatap Jaken. Tersenyum, dia melambaikan tangan meminta youkai katak itu mendekat. "Jaken-sama, kemarilah."
Jaken ragu-ragu untuk mendekati keluarga inuyoukai penguasa dari barat di depan, sebab dua pasang mata inuyoukai yang menatapnya sangat menintimidasi. Di tatap Sesshoumaru seperti ini, dia sudah biasa, tapi jika ditambah Shura—dia menelan ludah dan menundukkan kepala kembali ke bawah.
Hilang sudah rasa penasarannya akan Shura. Pewaris tanah barat benar-benar putra dari Sesshoumaru, baik rupa maupun sifat—dia adalah kopian dari ayah kandungnya. Jaken tidak bisa membayangkan seperti apa masa depannya kelak.
"Jaken," panggil Sesshoumaru kemudian. Pandangan matanya tidak berubah sama sekali. "Makanan Rin."
Tersadar, Jaken segera mengangkat mapan berisi makanan mendekati mereka. Matanya masih menatap ke bawah, dan dia bisa mendengar jelas suara Shura yang kembali mengeram tidak suka.
Meletakan mapan di depan Rin, Jaken tidak berani mengangkat kepalanya sedikitpun. Dalam hati, dia berpikir, apakah Shura akan tumbuh besar seperti Sesshoumaru yang suka menendang atau melemparkan sesuatu padanya?
"Jaken-sama." Suara Rin yang lembut kembali terdengar memanggil nama Jaken dan membuat youkai katak itu segera mengangkat kepala menatapnya. "Kemarilah."
Senyum adalah apa yang dilihat Jaken. Senyum lebar dan bebas yang tidak pernah berubah dari gadis kecil yang selalu dijaganya dulu.
Mengelus pelan kepala inuyoukai kecil dalam pelukannya, Rin menatap lembut Shura yang mengangkat kepala menatapnya. "Jangan seperti itu Shura," senyumnya lembut. "Yang di depanmu adalah Jaken-sama. Beliau adalah youkai yang selalu bersama Rin saat kecil—bagian dari keluarga kita."
Ucapan Rin seketika membuat Jaken sangat tersentuh. Dia yang pengecut dan lemah, dianggap oleh Rin, sang kisaki tanah barat yang begitu dicintai semua orang sebagai—keluarga.
Mengangkat kepala menatap Jaken, Rin tertawa kecil dan mengipaskan tangan kanannya lagi pada youkai katak tersebut. "Jaken-sama, kemarilah."
Perlahan, dengan mata yang memahan air mata haru, Jaken kemudian melangkah mendekati keluarga penguasa tanah barat di depan.
Seakan mengerti ucapan Rin barusan, Shura tidak menggeram lagi pada Jaken, tapi pandangan matanya yang tajam pada youkai katak tersebut tetap sama.
Sekali lagi, Jaken terkesima. Menatap sosok Shura sedekat ini, dia benar-benar merasa melihat Sesshoumaru dalam wujud aslinya. Kemiripan mereka sangat luar biasa, tidak akan ada seorangpun yang akan meragukan hubungan antara mereka.
"Shura tampan dan mirip Sesshoumaru-sama, bukan, Jaken-sama?" tanya Rin pelan penuh kebanggaan. Kedua matanya yang menatap lurus Shura kemudian terangkat menatap Jaken. "Sama seperti Rin saat kecil. Rin berharap Jaken-sama juga akan selalu menjaga Shura kelak."
Seperti apa sosok Shura kelak, Jaken bisa membayangkannya, dia akan seperti ayahnya Sesshoumaru, inuyoukai terkuat yang ditakuti dan dihormati semua yang ada—apakah Shura akan membutuhkan perlindungan darinya? Jawabannya tentu saja; tidak. Tapi, Rin tetap memintanya menjaga Shura kelak. Wanita manusia yang selalu mempecayai dirinya bersedia mempercayakan putra yang begitu berharga itu kepadanya.
Kebahagiaan memenuhi hati Jaken.
Air mata Jaken tidak tertahankan lagi. Jatuh menuruni pipinya, dia menghapusnya dan mengangguk kepala. "Iya, serahkan padaku, Rin. Kelak, tidak peduli apapun yang terjadi, meski nyawaku taruhannya, aku akan selalu menjaga Shura-sama."
Rin tertawa dan mengangguk kepala. Mengangkat kelingking kanannya, dia tersenyum. "Janji?"
Dengan cepat, Jaken mengaitkan jari kelingkingnya dan tertawa. "Janji."
Janji yang dibuatnya kepada Rin untuk menjaga Shura, Jaken menyimpannya dalam hati. Tidak peduli apapun yang terjadi kelak, untuk putra dari tuan dan wanita manusia yang begitu berharga baginya—dia akan menjaganya selalu
"Grrr..." Shura yang diam membisu kembali menggeram penuh kemarahan. Dia tidak menyukai sedikitpun ada orang yang menyentuh ibu kandungnya selain dirinya dan ayah kandungnya. Membuka mulutnya. Dia bergerak ingin mengigit Jaken.
"Shura-sama!!" teriak Jaken ketakutan dan berjalan menjauh.
Rin menggeleng kepala melihat sikap Shura. Menepuk dan mengelus pelan kepala putranya, sebuah kerutan kecil muncul di wajahnya. "Shura, jangan seperti itu."
Shura berhenti menggeram. Menatap Rin, tidak ada penyesalan sedikitpun di wajahnya. Menjulurkan lidah, dia menjilat kelingking tangan Rin yang tadi bersentuhan dengan jari Jaken.
Rin tidak tahu harus tertawa atau menangis melihat tingkah Shura sekarang. Dia merasa putranya sungguh merupakan seorang anak inuyoukai yang sangat—posesif.
Mengerakkan tangan megangkat mangkuk nasi dan sumpit Rin, Sesshoumaru yang tidak mempedulikan apapun kemudian mulai menyuapi kisakinya dengan tenang.
Disuapi oleh Sesshoumaru bukanlah hal baru bagi Rin, dan karena memang perutnya lapar, wanita manusia itu segera membuka mulut. Tersenyum, dia membiarkan dirinya disuapi sang penguasa tanah barat tanpa beban.
Shura yang melihat Sesshoumaru menyuapi Rin, menggoyangkan ekornya gembira. Berada dam pelukan Rin, kedua matanya menatap lekat kedekatan kedua orang tuanya—dia sangat menyukainya.
Melihat Sesshoumaru menyuapi Rin bukanlah hal baru bagi Jaken. Namun, melihat keluarga harmonis di depannya, dia tidak berani melakukan sesuatu yang akan menganggu mereka.
Keluarga di depan matanya adalah keluarga yang aneh. Suami youkai yang tampan dan berwibawa, istri manusia yang cantik bagaikan bunga, serta anak mereka dalam wujud asli yang mengemaskan.
Youkai dan manusia. Keluarga yang begitu kontras dengan sejuta perbedaan. Namun juga begitu—indah. Bagaikan lukisan dari karya pelukis terkenal, kebahagiaan dan keharmonisan tertangkap dengan sempurna dalam mata Jaken.
Tap-tap-tap.
Suara langkah kaki berlari seseorang yang kuat tiba-tiba terdengar. Lalu, pintu kamar yang tertutup terbuka bersamaan dengan suara teriakan Inuyasha yang memecahkan keheningan.
"Sesshoumaru!!!"
Melangkah masuk ke dalam kamar satu langkah, kaki Inuyasha langsung membeku melihat apa yang ada di depannya. Di atas futon, Sesshoumaru duduk dengan Rin yang mengendong Shura di pangakuannya. Tangan kiri memegang mangkuk nasi, sedangkan tangan kanan memegang sumpit.
Bersamaan, mata Sesshoumaru, Rin, Shura dan juga Jaken terarah pada Inuyasha yang tiba-tiba masuk, tapi diam mematung dengan ekspresi wajah terkejut bercampur bingung tidak percaya dengan apa yang dilihatnya
"Guk-guk-Grr....." Shura yang melihat Inuyasha tiba-tiba menyalak keras dan menggeram penuh kemarahan.
"Shura, ada apa?" tanya Rin bingung dengan sikap Shura yang terlihat jelas tidak menyukai Inuyasha. Menepuk-nepuk badan anaknya, dia berusaha menenangkannya.
Sesshoumaru tidak mengatakan apa-apa melihat reaksi Shura terhadap Inuyasha, dia tahu putranya masih belum melupakan dua pukulan di kepala dari inuhanyou tersebut semalam. Sepertinya putranya adalah tipe yang tidak akan gampang melupakan serta memaafkan dendam atau kesalahan orang lain seperti Rin—tersenyum penuh kepuasaan, penguasa tanah barat merasa senang; Shura memang mirip dengannya.
"Apaan sikap burukmu ini, kecil??!" hardik Inuyasha melihat sikap keponakannya. Berjalan mendekati mereka, dia ingin kembali memukul kepala Shura. "Kau harus mengehormatiku, kecil. Aku ini pama—"
"Osuwari."
"Ahhhhh!!!!" suara Inuyasha berubah menjadi teriakan kesakitan. Gravitasi berat dengan seketika menekan badannya ke bawah.
"Maafkan sikap kurang ajar Inuyasha, Kakak, Rin-chan." Tertawa, Kagome berjalan masuk dengan santai. Di belakangnya, Miroku, Sango, Kohaku, Kenji dan bahkan Shippo mengikuti.
Berjongkok ke bawah di samping Inuyasha, Kenji tertawa. "Kurasa Kagome lebih kuat dari Takeru, sebab kau tidak pernah berkutit melawannya."
Mata semua yang ada langsung terarah pada Sesshoumaru yamg berwajah datar dan Rin yang tersenyum lembut pada mereka. Perasaan lega memenuhi hati mereka saat melihat sepasang suami istri penguasa tanah barat baik-baik saja.
Perlahan, mata Kagome dan Sango yang berjalan masuk langsung terpusat pada Shura penuh senyum. Ini adalah pertama kalinya mereka melihat sosok putra Sesshoumaru dan Rin dengan jelas.
Shura yang ditatap Kagome dan Sango berhenti menggeram, tapi, dengan cepat dia membuang muka dan memendamkan kepala pada dada Rin.
"Shura," senyum Rin melihat tingkah Shura yang tidak dapat dimengertinya. "Kenapa seperti ini?—mereka bibi dan pamanmu, Shura."
Shura tidak peduli, mendengus pelan, dia terus memendamkan wajahnya pada dada Rin dan menutup mata.
"Kurasa dia malu." Ujar Shippo pelan. Kedua matanya menatap lekat sosok inuyoukai pewaris tanah barat.
"Kurasa, dia bukan malu, melainkan merasa tidak ingin diganggu." senyum Miroku menyela ucapan Shippo.
Kohaku mengangguk kepala setuju. Seperti yang lainnya, mata mereka terarah pada Shura. "Shura benar-benar mirip sekali dengan Sesshoumaru-sama."
"Iya!!" teriak Inuyasha yang ada dibelakang tiba-tiba. Mengangkat kepala dan berdiri, dia menatap mereka yang ada di depan. "Si kecil itu sifat buruknya sama—"
"Osuwari." Gumam Kagome sekali lagi. Tidak mempedulikan Inuyasha yang kembali berteriak kesakitan di belakangnya.
"Ahhhhhh!!!" jatuh terpuruk kembali ke atas lantai tatami. Inuyasha kembali tidak bergerak.
Kenji berdiri dan berjalan mendekati mereka. Tersenyum, dia juga ikut menatap sosok Shura. "Aku sebenarnya berharap dia memiliki sifat seperti ibunya daripada ayahnya."
__ADS_1
Sesshoumaru tetap tidak mengatakan apa-apa, tetapi, dalam hati, dia kembali merasa sangat bangga dengan kenyataan bahwa anaknya mirip dengannya. Tidak pernah dia menyangka dirinya akan pernah berpikir seperti ini sebelumnya.
"Iya," suara Inukimi tiba-tiba terdengar. Berjalan masuk, dengan Kiri dan Kira di belakangnya, mantan penguasa tanah barat melangkah melewati Inuyasha yang masih terkapar di atas tatami. "Aku sangat berharap cucuku seperti Rin kecil yang seperti matahari. Tapi, ternyata cucuku berakhir seperti ayahnya yang sebongkah es."
Kiri dan Kira tersenyum dan memberikan salam hormat pada Sesshoumaru dan Rin. Perlahan, mata mereka juga ikut terarah pada Shura yang berada dalam pelukan ibunya.
Bertambah banyak orang dalam kamar, Sesshoumaru tetap saja tidak peduli. Dengan santai, dia kembali menyuapi Rin makan.
Rin tertegun dan wajahnya memerah seketika. Dia tidak berani membuka mulut, tidak sopan bukan membiarkan Sesshoumaru menyuapinya di hadapan semua orang.
Shura yang menyembunyikan wajahnya pada dada Rin menyadari kebingungan dan rasa malu ibu kandungnya. Mengangakat wajah, dia menatap dan mengogong pelan. "Guk-guk-guk."
"Shura menyuruhmu makan, Rin." Ujar Sesshoumaru pelan, matanya menatap Rin lurus yang wajahnya semakin memerah.
Sikap Sesshoumaru dan Shura mau tidak mau membuat Kagome dan yang lainnya, kecuali Inukimi, Kenji, Kiri dan Kira merasa mereka berada di tempat yang salah. Tapi, yang bersangkutan tidak peduli.
Melihat Rin yang masih saja tidak makan, Shura kemudian menoleh wajah menatap yang lainnya. Dirinya hanya merasa kedatangan orang-orang di depannya telah membuat ibunya terganggu. Menggeram punuh kemarahan, dia mengonggong lagi. "Grr... guk-guk!"
"Aahhh," gumam Inukimi dan tertawa melihat sikap Shura. Berjalan mendekati cucunya, kedua matanya berbinar gembira. "Ternyata cucuku beda dengan ayahnya yang tidak berguna. Lihat! Dia ingin mengusir kita karena telah menganggu ibunya—dia anak yang berbakti, tidak seperti ayahnya yang durhaka."
Rin segera menenangkan Shura. Namun, inuyoukai kecil itu tidak mau menuruti, dia terus mengonggong mengusir mereka yang ada di depan.
Inuyasha yang sudah bisa bergerak kemudian berdiri dan berjalan mendekati Shura. Kedua mata emasnya menatap lekat inuyoukai kecil tersebut. "Hei, kecil!! Diam!!"
"Grr...Gr...Guk-guk!" gongongan Shura bertambah keras. Melihat Inuyasha yang berada tepat didepannya, sekali lagi, dia meronta dalam pelukan Rin ingin menyerang inuhanyou di depan.
"Kau mau menyerangku??" tanya Inuyasha kesal dengan sikap Shura. "Ayo, kemarilah! Sini, biar pamanmu ini memberikanmu pelajaran!!"
Kagome menggeleng kepala melihat sikap Inuyasha. Dia tidak mengerti kenapa suaminya begitu kekanakan; mengajak inuyoukai yang baru lahir tidak lama berkelahi??
Rin mengangkat pelan badan Shura dan mencium keningnya lembut. Mengelus-ngelus badan putranya, dia berusaha menenangkannya lagi. "Shura, tenanglah."
Tapi, Shura tidak mendengar, gongongannya semakin keras. Matanya menatap semakin tajam dan mengerikan pada Inuyasha—dia tidak terlihat seperti anak yang baru lahir tidak lama.
"Shura," suara Sesshoumaru tiba-tiba terdengar. Tenang dan pelan, tapi penuh tekanan dan perintah tidak terbantah. "Hentikan."
Suara Sesshoumaru seketika membuat Shura terdiam. Menatap ayah kandungnya, dia menurunkan kepalanya ke bawah menuruti perintah yang diberikan.
Mata Sesshoumaru kemudian terarah pada Inuyasha yang juga dengan seketika diam membisu. Tatapan mata emas yang identik dengannya tidak tahu mengapa tidak berani dilawannya sekarang.
Melihat keadaan yang sudah tenang, sekali lagi, Sesshoumaru kembali menyuapi Rin. Kedua matanya menatap lurus kisakinya tidak memberikan kesempatan menolak. "Buka mulutmu dan habiskan makananmu, Rin."
Tidak bisa berbuat apa-apa, menahan rasa malu yang ada, Rin kemudian menutup mata dan memakan nasi yang disuapi Sesshoumaru.
Inuyasha, Kagome, Sango, Miroku, Kohaku dan Shippo tidak mengatakan apa-apa. Pemandangan Sesshoumaru menyuapi Rin bukanlah sesuatu yang biasa dan dapat diterima mereka.
Inuyasha dan yang lainnya nekat memasuki kamar ini adalah karena ingin melihat keadaan dan khawatir pada Sesshoumaru serta Rin yang mengalami luka cukup serius. Walau kekhawatiran mereka sepertinya tidak diperlukan lagi sekarang. Duduk diam membisu, mereka semua kemudian menatap sang penguasa tanah barat menyuapi kisaki tanah barat sampai selesai.
Shura tidak membuat keributan lagi, namun terkadang matanya masih terarah pada mereka yang ada di depannya tidak suka, terutama pada Inuyasha.
Kenapa aku jadi merasa, Shura itu adalah penderita mother complex?" gumam Kagome pelan melihat sikap Shura.
"Apa maksudmu, Kagome?" tanya Inuyasha bingung dengan kata mother complex yang diucapkan Kagome, begitu juga dengan yang lainnya, mereka menatap tidak mengerti miko masa depan tersebut.
"Hahaha," tawa Kagome sambil mengibas tangannya begitu melihat semua orang menatapnya. "Tidak apa-apa, abaikan saja omonganku tadi—hahaha."
Reaksi dan tawa Kagome dengan seketika membuat semua yang ada tidak bertanya lebih lanjut lagi. Istilah-istilah aneh dan ajaib yang kadang diucapkan miko masa depan tersebut, mereka sudah terbiasa.
"Sesshoumaru," panggil Kenji kemudian saat melihat makanan Rin yang sudah habis. Dia tersenyum kecil menatap penguasa tanah barat yang telah menaruk kembali mangkuk dan sumpit ditangannya. "Tubuh para youkai tanah barat yang gugur sudah terkumpulkan, jika kau sudah senggang, gunakanlah tensaiga untuk menghidupkan mereka."
Sesshoumaru mengangguk kepala pelan dengan permintaan Kenji. Dia tidak keberatan sedikitpun menghidupkan mereka yang mati untuk melindungi Rin dan Shura bersamanya.
Inuyasha tidak mengatakan apa-apa, tapi matanya terbelalak. Sesshoumaru benar-benar bersedia menghidupkan mereka?
"Sesshoumaru," sela Inukimi. Matanya menatap pada Shura yang berada dalam pelukan Rin. "Aku sudah meminta para pelayan menyiapkan pesta untuk menyambut kelahiran Shura serta kemenangan perang, dan juga sesuai tradisi, kita harus memperkenalkan sang penguasa masa depan pada semua pengikut saat dia berusia satu minggu."
"Ughh, apakah ini artinya kita akan memulai pesta tanpa henti lagi?" gumam Miroku pelan. Dia tahu pesta yang mulai disiapkan oleh para penghuni istana atas perintah Kenji. Tapi, mendengarnya langsung dari mulut Inukimi sekarang—dia tidak tahu lagi berapa lama dan besarnya pesta yang akan diadakan.
Inukimi yang mendengar ucapan Miroku tertawa. "Kita akan berpesta selama seminggu sampai pesta perkenalan Shura berakhir!!"
Rin tersenyum mendengar pesta perkenalan Shura yang dikatakan Inukimi. Menatap putranya, tangan kanannya bergerak megenggam kedua lengan depan inuyoukai kecil tersebut tersebut. "Pesta perkenalanmu, Shura—Rin tidak sabar menunggunya."
Shura tidak mengerti maksud Rin, tapi melihat senyum serta sentuhan hangat sang ibu, dia mengeluarkan suara kecil penuh kebahagiaan dan kepuasan.
"Minggu depan," gumam Sango pelan dan tersenyum. "Berarti Aya, Maya, Mamoru dan Shura sempat menghadiri pesta ini."
"Iya," balas Kagome cepat dan tertawa. "Aku akan meminta Kaeda-san membawa anak-anak ke istana tanah barat secepatnya."
Miroku mengangguk kepala setuju. "Iya, mereka harus berkenalan dengan saudara sepupu mereka."
"Mamoru pasti akan menangis sedih saat bertemu Shura." sela Kohaku teringat Mamoru yang terus mengatakan anak dalam perut Rin adalah anak perempuan.
"Eh? Kenapa?" tanya Shippo bingung. Dia yang tidak tahu apa yang terjadi selama beberapa bulan ini menatap bingung semuanya.
"Mamoru sampai hari ini berharap Shura anak perempuan dan akan menajdi istrinya di masa depan." jawab Inuyasha dan melipat tangan di dadanya.
"Hei!" teriak Jaken penuh kemarahan. "Jangan kurang ajar!! Shura-sama memiliki status yang berbeda dengan kalian semua! Beliau itu adalah sosok paling terhormat di tanah barat kelak!!"
Miroku tertawa dan menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Dia sama sekali tidak mempedulikan teriakan Jaken. "Ya, Mamoru bisa menjadi kakak Shura—dia akan gembira untuk itu."
"Cih," cibir Inuyasha dan membuang mukanya. "Si kecil ini terlalu mirip dengan Ayahnya. Untuk Sesshoumaru, dia cukup beruntung bertemu Rin, tapi untuk dia—di mana lagi dia akan bertemu wanita seperti Rin??"
Ucapan Inuyasha seketika membuat semua orang tertegun. Perlahan, mata semua terarah pada sosok keluarga penguasa tanah barat.
Tidak ada yang salah sedikitpun dengan ucapan Inuyasha. Seperti apa Sesshoumaru dulu, semua orang tahu dan ingat, tapi sekarang—Rin benar-benar telah mengubah inuyoukai tersebut sepenuhnya.
"Inuyasha-sama," panggil Rin dan tertawa. Perlahan, dia mengangkat wajahnya menatap Sesshoumaru. "Anda salah. Bukan Sesshoumaru-sama yang beruntung bertemu dengan Rin, tapi, Rinlah yang beruntung bertemu dengan Sesshoumaru-sama."
Tidak ada yang mengatakan apa-apa dengan ucapan Rin. Mereka semua sudah merasa wanita manusia itu pasti akan berkata seperti itu, sebab dia selalu menempatkan inuyoukai itu di atas dirinya—Sesshoumaru benar-benar merupakan laki-laki yang sangat beruntung bukan?
Sesshoumaru hanya dapat tersenyum kecil mendengar ucapan Rin. Siapa yang beruntung?—baginya, dirinyalah yang beruntung sesuai ucapan Inuyasha. Di dunia ini, dia memang merupakan laki-laki paling beruntung karena bisa mendapatkan cinta wanita manusia di depannya.
"Au...Au.." suara tangisan pelan Shura yang menginginkan perhatian kedua orang tuanya kembali terdengar.
Menatap Shura, mata Sesshoumaru dan Rin menemukan wajah memelas putra mereka yang kembali merasa diabaikan.
Tertawa, Rin membelai pelan badan Shura penuh kasih sayang. "Jangan khawatir, Shura. Kelak, kau juga pasti akan menemukan wanita yang beruntung dan mencintaimu seperti Rin yang mencintai ayahmu."
Shura menutup mata dan menyamakan diri untuk setiap belaian penuh kasih sayang di kepalanya.
"Kau akan selalu dicintai, putraku," senyum Rin dan menutup mata mencium kening Shura lembut. "Kau dilahirkan untuk dicintai.."
Membuka mata, Rin tersenyum menatap mereka yang ada di depannya satu persatu, dari Inuyasha, Kagome, Miroku, Sango, Shippo, Kohaku, Jaken, Inukimi, Kenji, Kiri dan Kira. "Paman, bibi, nenek dan kakek—kalian semua bersedia mencintai dan melindungi Shura kelak, kan?"
Pertanyaan Rin membuat semua yang ada tersenyum dan mengangguk kepala. Hanya Inuyasha seorang saja yang membuang muka seakan tidak peduli.
"Cih, si kecil itu beruntung karena aku adalah pamannya." gumam Inuyasha pelan dan menutup mata. "Tapi, seperti dia butuh cinta dan perlindunganku saja kelak."
Senyum Rin hanya berubah menjadi tawa, menghujani putranya sekali lagi dengan ciuman, dia berbisik pelan. "Kau akan selalu dicintai putra dari barat—kau selalu dicintai keluargamu.."
Sesshoumaru hanya dapat merasakan kehangatan dari ucapan Rin. Perlahan, mata emasnya terarah pada mereka yang ada di depannya. Paman, bibi, nenek dan kakek Shura—keluarga Shura yang ternyata telah menjadi keluarganya.
Menatap Rin yang mencium Shura, Sesshoumaru hanya dapat kembali tersenyum kecil. Dunianya yang telah berubah, begitu juga dengan dirinya—tidak tahu kapan, Rin ternyata telah membimbingnya memasuki dunia di mana semua orang berada, sebuah keluarga besar yang hangat dan harmonis. Ah, Sesshoumaru yang sekarang bukanlah lagi Sesshoumaru yang selalu sendiri.
....xOxOx....
__ADS_1