![Till The End Of Time [ Inuyasha Fanfiction ]](https://asset.asean.biz.id/till-the-end-of-time---inuyasha-fanfiction--.webp)
Sesshoumaru-sama.
Sesshoumaru tidak mengerti kehilangan. Dalam hidup panjangnya, dia tidak pernah merasa kehilangan, bahkan saat Inu No Taisho, ayah kandungnya meninggal, dia juga tidak merasakan apa-apa. Dia adalah inuyoukai yang dilahirkan untuk menjadi penguasa tanah barat. Dididik untuk menjadi kuat sebagaimana mestinya seorang youkai.
Youkai?—Apa itu youkai?
Youkai adalah makhluk paling superior di dunia. Tidak ada gunanya berperasaan. Perasaan hanya akan membuatmu lemah. Perasaan hanya akan membuatmu musnah. Youkai adalah makhluk yang bisa hidup sendirian.
Sesshoumaru adalah seorang youkai. Seorang youkai sejati yang berada di puncak dunia, dan dia sadar akan itu. Dia kuat, dia pintar, dia berkuasa. Dia tidak terkalahkan, dia memiliki segalanya dan dia—seharusnya tidak berperasaan.
Sesshoumaru-sama.
Suara lembut bagaikan dentingan lonceng dengan senyum tawa musim semi di wajah, Sesshoumaru tidak mengerti kenapa senyum tawa wanita itu membekas dalam hatinya; terukir tidak terlupakan.
Sesshoumaru-sama, Rin mencintai anda.
Cinta? Apa itu cinta? Cinta adalah sebuah perasaan yang tidak berguna. Cinta adalah sesuatu yang akan membuatmu menjadi lemah dan musnah. Cinta adalah kelemahan bagi youkai. Tapi, dalam hidupnya yang panjang, Sesshoumaru mengenal cinta.
Sesshoumaru menemukan cinta pada binar indah sepasang mata coklat jernih yang menatapnya, menemukan cinta pada ujung bibir mungil yang melengkung membentuk seulas senyum tawa seindah musim semi. Di setiap nyanyian dan tarian, dalam suara lembut yang memanggil namanya. Cinta—Sesshoumaru menemukannya pada diri seorang wanita manusia bernama; Rin.
Cinta yang tidak tahu sejak kapan ada—cinta yang tidak dapat dihentikan dan dilepaskan. Tumbuh dan terus tumbuh, lalu, saat sadar, dia telah mencintai dengan sangat dalam—terlalu dalam hingga dia sendiri tidak dapat menemukan dasar dari cinta yang ada. Karena itulah, dia terperangkap tanpa menemukan jalan keluar.
Wanita manusia itu ada dimana-mana saat Sesshoumaru mengarahkan pandangannya. Saat musim semi dimana bunga bermekaran, dia akan ada dalam taman bunga, duduk merangkai kalung dan mahkota bunga. Saat musim panas di mana matahari begitu terik, dia duduk memejamkan mata di teras kamar menikmati hembusan angin. Saat daun marple telah gugur di musim gugur, dia akan menari dengan indah dalam dunia merah kuning yang ada. Lalu, saat musim dingin dimana dunia membeku, Sesshoumaru bisa melihat sosok itu duduk dengan balutan kimono tebal di sampingnya. Tersenyum, tertawa dan berbisik pelan—Rin mencintai anda.
Mencintai dan dicintai.
Sesshoumaru mengenal kedua perasaan itu. Kebahagiaan, kehangatan, serta kenyamanan yang diberikan—kesempurnaan. Dia tidak meminta lebih lagi, dia telah puas. Sangat-sangat puas dengan apa yang dimilikinya; permata paling indah yang didapatkannya di dunia ini.
Permata paling berharga.
Ya, permata paling berharga yang didapatkannya karena pertemuan yang tidak disengaja. Melebihi indahnya empat musim, melebihi lembutnya cahaya bulan dan cemerlangnya matahari, melebihi segalanya—indahnya permata itu tidak terjelaskan dengan kata.
Tapi, selain indah, permata itu juga sangat rapuh, dan—dia tidak dapat menjaganya dengan baik. Tanpa disadari, permata itu lepas dari tangannya, jatuh dan—pecah.
Rasa bersalah, benci pada diri sendiri, keputusasaan, ketidakberdayaan, penderitaan dan—penyesalan. Perasaan itu memenuhi dirinya. Lalu, bersama dengan waktu yang berjalan, semua perasaan itu berubah, dan Sesshoumaru pun sadar, ternyata, perasaan kehilangan orang yang paling penting bagi kita bukanlah kesedihan, melainkan—kehampaan.
Kehampaan yang luar biasa, kekosongan di mana tidak ada yang dapat mengisinya. Kekosongan yang memakan dari dalam bagaikan sebuah penyakit.
Kenapa dia tidak dapat menjaganya dengan baik? Kenapa dia harus kehilangan? Kenapa dia harus merasakan kekosongan ini?
Hadiah ulang tahun yang Rin inginkan tahun ini adalah kebahagiaan Sesshoumaru-sama...
Hari itu, hari di mana dirinya kehilangan wanita yang dicintainya, Sesshoumaru berjanji bahwa dia akan bahagia. Namun, pada akhirnya, dia hanya dapat bertanya pada diri sendiri; apa itu kebahagiaan?—dia tidak tahu lagi.
Jika butuh bantuanku, cari aku di desa manusia. Aku akan segera datang untukmu.
Kami akan selalu ada untukmu dan Shura, Kakak.
Kau bisa melewati ini, Sesshoumaru-san.
Inuyasha, istri dan teman-teman manusianya berserta keluarga mereka, Sesshoumaru tidak begitu ingat lagi apa yang mereka ucapkan saat mereka meninggalkan istana tanah barat saat itu. Dua bulan setelah kehilangan wanita musim semi tersebut, mereka kembali ke desa manusia untuk melanjutkan hidup mereka.
Hamba adalah pengawal pribadi Kisaki tanah barat, karena itu, Ijinkan hamba menjaga gunung hare tempat beristirahat terakhir beliau, Sesshoumaru-sama.
Nyawa hamba adalah nyawa yang diselamatkan beliau, ijinkan hamba mengikuti saudari hamba menjaga gunung hare, Sesshoumaru-sama.
Kiri dan Kira, mereka juga meninggalkan istana tanah barat dan dia—tidak menghentikan mereka. Dia mengijinkan mereka pergi.
Aku akan pergi dari istana. Jaga Shura baik-baik. Ingat, kau mengatakan akan membesarkan cucuku seperti yang diharapkan ibu kandungnya.
Inukimi yang juga meninggalkan istana, disusul dengan Jinenji, kedua youkai dayang Rin dan siapa lagi?—Sesshoumaru sudah tidak mengingatnya. Ya, dia tahu, tidak mudah tinggal di tempat semua kenangan indah ada. Mereka meninggalkan istana tanah barat adalah untuk melangkah maju menyosong masa depan mereka, untuk menyembuhkan luka seiring waktu yang berjalan.
Rin kecil tidak tahu, karena itu dulu dia bertanya, 'jika suatu saat Rin telah tiada, apakah anda akan selalu mengingat Rin? Tapi, Rin yang telah besar tahu, 'Jika suatu saat nanti Rin telah tiada, anda boleh melupakan Rin, Sesshoumaru-sama..
Melupakan.
Sesshoumaru akan tertawa sekarang jika mengingatnya. Melupakan? Bagaimana dia melupakan? Dalam hidup wanita itu yang singkat sebagai seorang manusia, dia mengajarinya seorang Sesshoumaru mencintai, tapi, untuk hidup Sesshoumaru yang panjang sebagai youkai, wanita itu lupa mengajari bagaimana cara melupakan.
Ya! Sesshoumaru tidak dapat melupakan, bahkan, saat dia menutup mata, dia masih bisa melihat jelas wajah itu dalam ingatannya—dia yang dicintainya; kau yang begitu gemerlap dalam dunia sejuta warna.
Jika suatu hari nanti Rin benar-benar telah tiada. Bakarlah raga Rin. Biarkan abu Rin hilang dibawa angin. Sebab Rin tidak ingin raga tanpa jiwa Rin digunakan sebagai senjata untuk melawan Sesshoumaru-sama bagi siapa pun juga...
Untuknya, wanita manusia itu meninggalkan dunia ini tanpa menyisakan apapun. Dia rela raganya menjadi abu dan menghilang dibawa angin. Sungguh, wanita itu adalah wanita terbodoh yang pernah dilihat sepanjang hidupnya yang panjang. Karena itu—Sesshoumaru hanya dapat menatap lurus Shui yang ada di depannya yang meniru wanita itu.
Dan, Sesshoumaru ini akan selalu menjadi Sesshoumaru. Tidak akan pernah berubah. Tenang dan kuat tidak bergeming tidak peduli apa yang terjadi.
Wajah cantik itu—wajah wanita itu. Apakah Shui berubah menyerupai wanita itu untuk menekannya? Apakah youkai naga itu berpikir jika dia menjadi wanita itu, maka dirinya tidak akan menyerang?—jika seperti itu, maka Shui sungguh bodoh, sebab itu tidak akan pernah terjadi. Shui mungkin mengira dia telah berhasil meniru wajah wanita itu dengan sempurna. Tapi, sesungguhnya, youkai naga itu gagal. Cukup mirip, tapi berbeda. Bulu mata wanita itu lebih panjang dan lentik, matanya juga lebih besar, begitu juga dengan bibirnya yang lebih merah dan rambut yang lebih hitam—youkai naga itu sungguh sedang membuat lelucon di matanya.
Tapi—pembunuh.
Kenapa anda membunuh Rin?
Wajah itu tidak berefek padanya, tapi kata Shui itu berefek—pembunuh.
Kenapa wanita itu mati? Sesshoumaru selalu bertanya dan bertanya pada dirinya sendiri dalam sepuluh tahun ini. Dia mati karena dirinya menyuruh wanita itu pergi. Pergi dan jangan tinggal lagi di dunia ini. Namun, jika saja sepuluh tahun yang lalu dirinya membuat keputusan lain—jika saja dia memerintah wanita itu tetap tinggal; akankah wanita itu masih hidup sekarang? mungkinkah akan ada keajaiban di mana wanita itu akan hidup dan semua akan baik-baik saja?
Pembunuh.
Sesshoumaru tahu dengan spekulasi yang beredar bahwa Rin mati karena melahirkan Shura; bahwa Shura adalah pembunuh Rin. Ya! Rin mungkin memang mati terbunuh. Tapi, pembunuh sesungguhnya bukanlah Shura melainkan—dirinya sendiri; Seeshoumaru. Dialah pembunuh sebenarnya dari wanita yang dicintainya melebihi apapun.
Kenapa anda tidak pernah memberitahuku?
Pertanyaan putranya yang terarah padanya. Pertanyaan semua orang yang terarah padanya—kenapa? Kenapa dia merahasiakannya dari Shura? Kenapa dia tidak memberitahu putranya kenyataan yang ada? Kenapa?
Karena—dia tidak ingin anak mereka yang berharga berakhir seperti dirinya.
__ADS_1
"Sesshoumaru-sama, hamba tidak dapat menemukan Shura-sama!!" penuh kepanikan, Jaken berlari masuk memasuki ruang kerja penguasa tanah barat.
Menurunkan gulungan dokumen yang ada di tangan, Sesshoumaru menatap Jaken yang masih penuh kepanikan.
"Shura-sama tidak ada di kamarnya. Hamba sudah mencarinya ke mana-mana dan bertanya pada siapapun juga, tapi hamba tetap saja tidak menemukannya!" lanjut Jaken lagi penuh kepanikan. Wajahnya pucat pasi dan keringat mengalir turun dari dahinya.
"Jaken," balas Sesshoumaru. Suaranya pelan dan datar tanpa emosi. "Keluar."
Jaken terdiam mendengar perintah Sesshoumaru. Ragu-ragu, dia kembali membuka mulutnya. "T-tapi, Sesshoumaru-sama.."
"Keluar." Ulang Sesshoumaru. Kedua mata emasnya kembali menatap gulungan dokumen di tangan.
Jaken tidak bisa mengatakan apa-apa lagi mendengar perintah Sesshoumaru. Menghela napas, dia kemudian keluar dari ruang kerja penguasa tanah barat untuk mencari sang pewaris sendirian.
Ruangan kembali menjadi sepi sepeninggalan Jaken. Menutup mata, Sesshoumaru kemudian meletakkan gulungan dokumen yang di bacanya ke atas meja. Memusatkan pikirannya, dia mencari keberadaan aura youki Shura dalam istana tanah barat. Penguasa tanah barat tahu, putranya masih berada dalam istana, sebab dia masih bisa merasakan auranya seperti biasanya.
Tertegun, Sesshoumaru segera membuka mata begitu dia berhasil menemukan keberadaan Shura dalam istana tanah barat. Berdiri, dengan pelan, dia segera melangkah keluar menuju tempat di mana putranya berada.
Bagaimana Shura bisa berada di sana? Sesshoumaru tidak tahu. Putranya baru berusia beberapa bulan berusia, dia tidak mungkin berjalan sendiri ke sana, tapi, selain Shura, penguasa tanah barat tidak dapat merasakan aura orang lain di tempat tersebut.
Memasuki sebuah taman, mata emas Sesshoumaru menatap pohon sakura yang belum mekar pada musim gugur. Kemudian, dia menatap beberapa bagian taman yang ditumbuhi bunga musim gugur dengan indah walau tidak terurus.
Rin janji, Rin pasti akan menumbuhkan bunga terindah untuk anda...
Suara bagaikan dentingan indah berbisik pelan. Sesshoumaru menutup mata, tidak peduli musim apapun bunga yang ada di taman ini memang bunga terindah sesuai dengan janjinya. Hanya saja, keindahan itu tidak ada gunanya lagi.
Tempat ini, paviliun timur istana tanah barat, Sesshoumaru tidak tahu telah berapa lama dia tidak menginjakan kakinya kemari. Beberapa bulan ini, dia lebih banyak menghabiskan waktunya dalam ruang kerjanya atau dalam kamar putranya yang berada di paviliun barat istana.
Melangkah terus, Sesshoumaru kemudian sampai di depan pintu kamar di mana Shura berada. Membuka pintu shoji itu dengan pelan, yang pertama kali dilihatnya adalah sosok putranya dan juga—lukisan tersenyum wanita manusia yang dicintainya.
Duduk di depan lukisan, kedua mata emas Shura yang penuh air mata menatap wajah wanita manusia itu. Kedua tangan kecilnya terangkat ke atas terbuka lebar, dan mulutnya terus bergumam, "Ahhh!! Ahhh!!"
Langkah kaki Sesshoumaru terhenti. Kedua mata emasnya terbelalak melihat Shura yang menangis di depannya.
Menyadari keberadaan Sesshoumaru, Shura kemudian menoleh wajahnya kebelakang. Menatap sang ayah dengan matanya yang berurai air mata, dia berteriak keras. "Ahhh!! Baba!!! Baba! Mamaaaa!"
Sesshoumaru seakan tidak dapat bernapas melihat apa yang terjadi. Meski putranya tidak bisa mengatakan satu katapun, dia tahu apa yang ingin disampaikan putranya—pelukan. Putranya ingin memeluk wanita manusia dalam lukisan—memeluk ibunya seperti yang dia ajarkan.
"Ahhhh!! Ahhh!!!" tangisan Shura semakin keras, begitu juga dengan air matanya yang mengalir semakin deras menuruni wajahnya.
Berjalan cepat, Sesshoumaru dengan segera berlutut dan memeluk Shura erat. Kedua tangannya bergetar dan mati-matian dia berusaha menarik napas untuk mengontrol perasaannya—sakit yang ada.
"Ahhhh!!! Ahhhh!!!"
Tangis Shura semakin keras, dan semakin erat juga pelukan Sesshoumaru. Menutup mata, dia tidak bisa berkata apa-apa, kecuali—"Maaf."
Shura akan tumbuh besar dengan baik. Putra kita akan kuat melebihi Sesshoumaru ini, dia akan menjadi youkai terkuat di dunia-puncak dari segala puncak yang tidak tertandingi. Tidak akan ada seorangpun yang akan dapat melukainya, dia akan hidup sesuai keinginannya, aman, selamat dan; bahagia...
Itu adalah janjinya—sumpahnya pada hari di mana dia melepaskan wanita paling berharga baginya. Tapi, bagaikan menamparnya—dia gagal.
Bahagia.
Putranya sangat mirip dengan dirinya, karena itulah seperti dirinya, putranya tidak akan bahagia. Kebahagiaan mereka telah lenyap. Wanita manusia itu membawanya pergi saat meninggalkan mereka. Jadi—bagaimana putranya bisa bahagia?
Berada dalam kamar ini sendirian dan menangis menatap lukisan ibunya, Sesshoumaru tahu, dia datang sendiri kemari. Instingnya menuntutnya kemari, karena Shura; merindukan wanita manusia itu. Ah, betapa arogan dirinya saat berkata putra mereka tidak membutuhkan wanita itu lagi.
Maaf. Maaf dan Maaf.
Shura menangis, dia menginginkan ibunya, dan Sesshoumaru tidak bisa memberikannya. Karena itu; maaf. Maaf dan maaf. Maaf karena tidak bisa memberikanmu apa yang paling kau inginkan. Maaf karena keegoisannya, dia melepaskan sosok wanita paling berharga dalam dunia mereka—maaf karena dia tidak bisa melakukan apa-apa untuknya.
'Jika suatu saat nanti Rin telah tiada, anda boleh melupakan Rin, Sesshoumaru-sama.Lupakanlah Rin, jika anda akan berwajah seperti ini setiap kali mengingat Rin...'
Suara itu melintas dalam pikiran Sesshoumaru, dan Sesshoumaru dengan pelan mengangkat kepala menatap lukisan wanita manusia yang tersenyum lembut.
Melupakan.
Jika saja bisa melupakan, maka ini semua tidak akan terasa berat. Jika saja bisa melupakan, semuanya akan kembali seperti semula seperti saat sebelum mereka bertemu—jika saja bisa melupakan.
Aku mencintaimu, Shura...
Menutup mata, Sesshoumaru kemudian membuat keputusan. Melupakan—dia tidak bisa melakukannya. Tapi, tidak untuk Shura. Putra mereka masih kecil, sangat kecil—dia masih bisa melupakannya jika tidak ada seorangpun yang mengingatkannya.
Rin selalu mencintaimu, Shura...
Melepaskan pelukannya, Sesshoumaru menatap wajah penuh air mata Shura Menghapus air mata yang ada, dia membuat keputusan untuk putranya.
Lupakan.
Lupakanlah, dengan begitu belenggu ini akan menghilang. Lupakanlah, dengan begitu kau tidak akan menangis lagi. Lupakanlah, karena dengan begitu kau bisa—bahagia.
"Shura, lupakanlah."
Apakah keputusan yang dibuatnya benar? Sesshoumaru tidak tahu. Sejak saat itu, dia melakukan segala yang dia bisa agar Shura melupakan wanita manusia itu. Dia melarang siapapun memberitahunya akan keberadaan wanita yang melahirkannya. Dia menyimpan semua barang peninggalan wanita itu dan dia mengunci paviliun timur istana tanah barat.
Jangan mengingat—lupakan. Dia bukan wanita yang melahirkanmu. Kau adalah youkai sejati dengan darah murni, ibu kandungmu adalah youkai sejati seperti dirimu.
"Mulai hari ini, dia adalah putramu, dan kau adalah wanita yang melahirkannya."
Menatap Akiko yang berlutut di depannya, Sesshoumaru menyerahkan Shura. Tidak ada sepatah katapun lagi dia ucapkan saat youkai rubah itu datang ke istananya untuk menjadi pasangannya.
"Sesshoumaru-sama!!" panggil Akiko setengah berteriak. Dia menatap bingung penguasa tanah barat di depannya.
"Kau ingin menjadi wanita yang melahirkan pewaris tanah barat, bukan? Sesshoumaru ini akan mengabulkannya—mulai hari ini, kau adalah wanita yang melahirkan putraku, Shura."
Akiko menatap tidak percaya Sesshoumaru. Ini tidak seperti yang diharapkannya, dia tidak menyangka ini yang akan menjadi posisinya saat ayahnya berkata penguasa tanah barat menerima dirinya dalam istana.
__ADS_1
"Sesshoumaru-sama!!" panggil Akiko lagi penuh kepanikan. Terlihat jelas dia tidak bisa menerima apa yang dikatakan penguasa tanah barat.
"Jika terjadi sesuatu pada putra Sesshoumaru ini, maka Sesshoumaru ini akan memastikan kau dan juga seluruh isi timur musnah dengan cara paling menyakitkan."
Ibu.
Ibu dari putranya adalah Akiko bukan wanita manusia itu. Akiko yang merupakan youkai sejati tidak akan mencintai putranya, dan itulah yang Sesshoumaru inginkan. Seorang ibu yang tidak mencintai anaknya, dengan begitu, putranya akan tumbuh besar tanpa menyadari bahwa ada seorang ibu yang mencintainya melebihi segalanya.
Cinta adalah sebuah perasaan yang tidak berguna. Cinta adalah sesuatu yang akan membuatmu menjadi lemah dan musnah. Cinta adalah kelemahan bagi youkai. Itu benar, lihatlah betapa lemahnya dia sekarang.
Karena itu, lupakan, jadilah seorang youkai sejati. Lupakan, jadilah kuat tanpa perasaan. Lupakanlah, jangan mencintai. Tanpa kelemahan dan tidak akan pernah kalah—jadilah seperti itu, Shura.
Bahagia.
Bahagiakah putranya?—Sesshoumaru tidak tahu. Melihat putranya tumbuh besar dengan baik, melihat putranya semakin kuat dari ke hari dan semakin mirip dengan dirinya, dia merasa keputusannya tidak salah. Hingga hari itu—hari dimana dia melihat putranya menatap lukisan wanita manusia itu saat berusia delapan tahun.
Sekali lagi, tidak tahu insting atau apa, Shura memasuki kamar di paviliun timur istana tanah barat dan menemukan lukisan itu. Dia tidak tahu siapa wanita manusia yang tersenyum lembut tersebut, tapi sepasang mata emasnya menatap lekat lukisan itu dan penuh dengan—kerinduan.
Lupakan.
Shura tidak mengingatnya, tapi dia bisa merasakan—ikatan mereka yang terikat. Jauh dalam hati, putranya sadar, wanita manusia yang ada dalam lukisan adalah wanita yang sangat berharga—ibu yang selalu mencintainya.
Lupakanlah.
Setiap hari, Sesshoumaru melihat Shura secara sembunyi-sembunyi memasuki kamar di paviliun timur istana tanah barat hanya untuk melihat lukisan. Menatapanya semalaman hingga tidur, berbicara dengannya walau tahu tidak akan ada balasan. Lalu, malam itu, sekali lagi, Sesshoumaru melihat Shura menangis di depan lukisan tersebut.
Berdiri di tempatnya, mata emas Sesshoumaru menatap Shura yang tertidur di atas lantai tatami. Di depannya, wajah tersenyum wanita dalam lukisan yang tertimpah cahaya bulan bagaikan hidup, seakan sedang mengawasi tidur damai putranya.
Sesshoumaru menatap wajah wanita dalam lukisan yang tidak pernah dilupakannya. Berpikir, apa yang akan diucapkan wanita itu padanya jika tahu segala yang telah dirinya lakukan. Apakah dia akan menyalahkan dirinya?
"Ehmm..." gumam kecil Shura merebut perhatian Sesshoumaru, dan penguasa tanah barat bisa melihat seulas senyum memenuhi wajah putranya—senyum yang sudah lama sekali tidak pernah dilihatnya. Mimpikah? Apa yang putranya mimpikan hingga tersenyum seperti itu?
Namun, seketika Sesshoumaru tertegun. Meski tersenyum, dia bisa melihat di wajah putranya—air mata. Putranya menangis lagi. Mimpi apa?—Sesshoumaru tahu sekarang, putranya memimpikan wanita manusia dalam lukisan; memimpikan ibunya.
Menatap wajah wanita dalam lukisan, Sesshoumaru bertanya walau dia tahu, tidak akan ada yang membalas. "Kenapa melupakanmu begitu sulit?"
Bahagia.
Bahagiakah putranya? Sesshoumaru kembali bertanya. Jika saja wanita itulah yang berada dalam posisinya sekarang, apakah dia juga akan membuat keputusan seperti dirinya—melupakan.
Sesshoumaru tidak ingin Shura mengingat, tapi dia juga tahu. Pada hari dia melihat putranya menangis dalam mimpi, cepat atau lambat, apa yang dia sembunyikan tidak akan tersembunyikan selamanya—Shura akan mengetahui kenyataan sesungguhnya. Tapi, dengan sekuat tenaga, dia akan menyembunyikan semua itu selama mungkin. Dia tidak ingin putranya berakhir seperti—dirinya.
Karena itu dia mengirim Shura ke tanah selatan. Putranya tidak boleh lagi berada di istana tanah barat. Dia tidak ingin melihat untuk ketiga kali putranya menangis di depan lukisan wanita manusia itu.
Janjinya. Dia masih memegangnya, putra mereka akan tumbuh besar dengan baik. Putra mereka akan kuat melebihi Sesshoumaru ini, dia akan menjadi youkai terkuat di dunia—puncak dari segala puncak yang tidak tertandingi. Tidak akan ada seorangpun yang akan dapat melukainya, dia akan hidup sesuai keinginannya, aman, selamat dan; bahagia..
Tanah selatan—Akihiko.
Sesshoumaru tidak menyukainya, tapi dia tahu, dia bisa mempercayakan Shura padanya. Kenapa?—karena dia tahu, youkai serigala itu pasti akan menepati janjinya pada Rin dulu—janji untuk menjaga dan melindungi Shura. Dia tidak akan memberitahu Shura kenyataan yang ada, karena dia tidak menyukai putranya.
Ya, Akihiko mungkin tidak menyukai Shura karena mengangap Shuralah penyebab kematian wanita manusia itu. Tapi, sebagaimana tidak menyukai, youkai serigala itu tidak akan dapat membencinya—darah yang mengalir dalam nadi putranya adalah darah wanita manusia itu. Akihiko adalah pilihan terbaik.
Jangan mengingat, Shura.
Semuanya kembali lagi seperti biasa, di tanah selatan, Shura tidak akan dapat mengingat. Namun, ternyata salah, putranya akhirnya dapat mengingat dan meski dalam kekacauan yang ada, dia pulang menemuinya, bertanya; kenapa?
Kenapa?
Kenapa? Pertanyaan putranya yang terarah padanya, Sesshoumaru tidak bisa menjawab. Salahkah keputusannya?—dia tidak ingin putranya mencintai dan terluka, tapi pada akhirnya, dia tetap gagal—dia tidak bisa melindungi putra mereka yang berharga. Dia membiarkannya terluka dan menderita.
Shura, sang putra dari barat, satu-satunya peninggalan wanita manusia itu yang paling berharga, mencintai adalah kelemahan. Karena itu, jangan mengingatnya. Lupakan—lupakanlah ibumu, Shura..
.
.
.
Kini, Sesshoumaru merasakan sakit luar biasa di dadanya. Pandangan matanya terarah pada wajah Shura yang penuh kepanikan dan ketakutan. Telinganya bisa mendengar jelas teriakan putranya itu, tapi, semua terasa sangat jauh.
"Ayahanda!!!"
Menoleh wajah menatap Shui yang ada di depan, Sesshoumaru melihat sosok wajah yang mirip dengan wanita yang dicintainya tertawa lebar penuh kegilaan. Saat sadar, dia baru mengetahui bahwa ada lubang di dadanya—jantungnya tercabut dari dirinya.
"Kakak!!"
"Sesshoumaru-sama!!!"
"Sesshoumaru-san!!"
Suara teriakan Inuyasha, Jaken dan yang lainnya terdengar. Namun, sama dengan suara teriakan Shura, semuanya terasa sangat jauh. Sesshoumaru merasakan pandangannya mulai menjadi gelap. Tenaganya mulai menghilang, lalu sebelum semuanya ditelan kegelapan, dia melihat lagi, wajah putranya yang penuh ketakutan.
Mati.
Apakah dia, Sesshoumaru, sang inudaiyoukai penguasa tanah barat akan mati? Mati seperti ini?—tapi, jika dia mati sekarang. Akankah dia dapat melupakan?
Sesshoumaru-sama, Rin mencintai anda.
Wajah tersenyum wanita manusia itu terbayang. Begitu cantik dan menawan tidak terlupakan—begitu menyakitkan. Jika dia dapat melupakan—mungkin kematian ini tidaklah buruk seperti yang dikiranya.
"Ayahanda!!!"
Sesshoumaru ingin melupakan. Karena itu, untuk putranya, Sesshoumaru hanya meminta sesuatu darinya, yakni, "Shura, lupakanlah..."
....xOxOx....
__ADS_1