Till The End Of Time [ Inuyasha Fanfiction ]

Till The End Of Time [ Inuyasha Fanfiction ]
Chapter 102


__ADS_3

"Gugurkan anak dalam kandungan Rin."


Ucapan Sesshoumaru membuat Kagome, Jinenji dan juga Inukimi diam membisu. Mereka hanya dapat menatap punggung inuyoukai penguasa tanah barat yang berdiri menatap keluar jendela dalam ruang kerjanya.


"Apa Rin-chan sudah tahu?" tanya Kagome pelan kemudian. Ada kesedihan di wajahnya mendengar keputusan Sesshoumaru.


"Rin tidak tahu–dan jangan memberitahunya," perintah Sesshoumaru. Suaranya tetap datar tanpa emosi seperti biasa. "Rin tidak akan mengugurkan anak itu walau dia tahu keadaannya. Jadi, buatlah anak itu hilang sealami mungkin.."


Kagome kembali terdiam mendengar ucapan Sesshoumar, atau lebih tepatnya tidak tahu harus mengatakan apa lagi. Keputusan Sesshoumaru, dia tahu, itu adalah keputusan terbaik. Tapi–mengorbankan anak mereka. Dia tidak bisa membayangkan betapa sakitnya itu.


Kagome juga seorang ibu. Dulu saat dia mengandung Shiro, saat kandungannya tidak dapat dipredeksi, yang ada dalam pikirannya hanyalah keselamatan anak dalam kandungannya. Seorang ibu akan lebih mementingkan anaknya daripada dirinya sendiri.


Bayangan Rin yang duduk mengelus perutnya penuh kasih sayang dengan  seulas senyum terbayang dalam kepala Kagome, membuat dia merasa hatinya sakit dan ingin menangis.


Situasi Rin berbeda dengan situasinya dulu. Awal Kagome mengandung Shiro, dia sangat sehat, kesehatannya baru memburuk saat usia kandungan menginjak empat bulan. Dia bisa bertahan dan berkat bantuan Inukimi juga, Shiro bisa terlahir dengan selamat, begitu juga dengan dirinya.


Tapi untuk Rin, dia semakin lemah dan lemah pada saat usia kandungannya baru akan menginjak dua bulan. Kehamilan hanyou yang begitu berat, tubuhnya tidak akan dapat bertahan, dan kalaupun dia bisa bertahan, proses melahirkannya akan mustahil–hanya ada satu yang selamat dengan kemungkinan terburuk ibu-anak tidak selamat.


Tidak ada yang berani menghadapi resiko dan bermain dengan hidup Rin. Karena itulah, selama kandungannya belum membesar, mereka harus mengugurkan anak itu–sebelum semua terlambat.


Menatap Sesshoumaru lagi, Kagome menatap punggung yang berdiri kokoh di depannya. Apakah Sesshoumaru tidak menginginkan anak dalam perut Rin?–miko masa depan itu tahu; inuyoukai itu menginginkan anaknya, meski anak itu seorang hanyou.


Pandangan Sesshoumaru yang lembut saat menatap perut Rin, serta tangan yang mengelusnya lembut–itu semua adalah apa yang selalu dilakukan Inuyasha pada Shiro saat masih berada dalam kandungan; Sesshoumaru mencintai anak mereka.


Untuk Rin yang begitu mencintai anaknya, untuk Sesshoumaru yang mencintai Rin dan anak mereka–betapa ini semua sangat menyakitkan.


"Baiklah." Suara Inukimi yang dari tadi diam kemudian terdengar. Wajah mantan penguasa tanah barat itu datar, tapi kesedihan di matanya terlihat jelas. "Aku akan menyiapkan ramuan untuk mengugurkannya.."


Inukimi tidak mengatakan apa-apa lagi setelah itu, dia juga tidak menunggu reaksi Sesshoumaru. Membalikkan badan, dia berjalan menjauh.


Jinenji juga tidak mengatakan apa-apa, dia membungkuk memberikan hormat pada Sesshoumaru dan berjalan keluar. Dia merasa sangat sedih dan bersalah sekarang, dia merasa dirinya sunngguh gagal. Dia adalah seorang hanyou yang diminta untuk menjaga Rin sejak dulu, namun, dia tidak bisa melakukan apa-apa.


Kagome yang tertinggal kemudian menarik napas panjang. Tidak mengatakan apa-apa lagi, dia kemudian berjalan keluar meninggalkan ruang kerja Sesshoumaru.


Inuyasha adalah orang pertama yang dilihat Kagome saat dia menginjakkan kakinya keluar dari ruang kerja Sesshoumaru. Inuhanyou itu berdiri menatapnya dengan wajahnya yang datar tanpa ekspresi.


Menutup mata, dan tidak dapat menahan air matanya, Kagome kemudian berlari dan memeluk erat Inuyasha. Dia tidak mengatakan apa-apa, tapi air matanya menjelaskan segalanya–kesedihannya.


Inuyasha membalas pelukan Kagome erat. Dia sudah mendengar semuanya dengan indra pendengarannya yang tajam–keputusan Sesshoumaru.


Menoleh pandangannya pada pintu shoji ruang kerja yang tertutup rapat, Inuyasha tidak tahu harus bersikap seperti apa jika bertemu dengan Sesshoumaru sekarang. Dia tidak menyukai kakak seayahnya itu sejak dulu, tapi–dia juga tidak ingin saudara seayahnya itu berada dalam situasi ini.


Antara istri dan anak, itu pilihan yang kejam. Jika dia diminta memilih antara Kagome dan Shiro–Inuyasha akan gila. Tidak ada yang benar dari pilihan yang ada.


Dalam ruang kerjanya, Sesshoumaru tetap berdiri tegak tidak bergerak dengan wajah tanpa ekspresi. Menatap keluar jendela, perlahan, dia kemudian menutup matanya.


Sesshoumaru telah membulatkan keputusannya. Pilihannya adalah Rin. Dia tidak akan mengubahnya lagi.


Menurut anda, anak kita laki-laki atau perempuan, Sesshoumaru-sama?


Suara yang lembut, senyum yang tulus, elusan tangan penuh kasih–Rin yang telah menjadi seorang ibu. Dia begitu cantik, begitu lembut dan penuh kasih sayang–ibu paling sempurna yang ada di dunia ini. Tapi, dia akan menghancurkannya dan merengut kesempatan menjadi seorang ibu dari wanita yang paling dicintainya..


....xOxOx....


"Kita akan mencapai desa youkai klan kupu-kupu salju tidak lama lagi," ujar Shippo sambil menatap ke belakang pada dua youkai tikus putih. "Kalian berdua tidak apa-apa, Yuki, Sora?"


"Kami tidak apa-apa, Shippo-kun," jawab Yuki yang merupakan sang kakak. Dia kemudian menatap Sora adiknya dan tersenyum. "Kita akan segera tiba di desa Kaname, Sora."


Sora mengangguk kepala, seulas senyum juga dengan segera memenuhi wajahnya. Kaname adalah saudara sepupu mereka yang menjadi bagian dari klan kupu-kupu salju melalui ikatan pernikahan. Mereka berdua hanya dapat mencari sepupu mereka itu saja untuk mencari pelindungan setelah semua yang ada di desa mereka mati.


Klan youkai kupu-kupu salju juga sama seperti klan youkai tikus putih, mereka adalah klan youkai kecil dari wilayah netral yang mencintai kedamaian dan menyembunyikan diri. Kalaupun ada bedanya, mungkin dapat dikatakan klan youkai kupu-kupu salju lebih besar sedikit dari klan youkai tikus putih yang telah hancur.


"Baguslah kalau begitu." senyum Shippo. Melihat Yuki dan Sora yang kini telah menjadi yatim piatu, Shippo mau tidak mau teringat dengan dirinya dulu, karena itulah dia tidak bisa mengabaikan mereka. Youkai rubah kecil ini, memutuskan mengantar kedua youkai kecil dari klan tikus putih itu pada sanak-saudara mereka yang tersisa.


"Terima kasih, Shippo-kun," ujar Yuki lagi sambil Shippo dan tersenyum tulus. "Kami berdua tidak akan dapat berbuat apa-apa tanpa dirimu. Terima kasih."


Ucapan terima kasih Yuki membuat Shippo tersipu malu. Menoleh wajah kembali ke depan, dia kemudian tertawa dan mengangkat kepala ke atas. "Ini sama sekali tidak ada apa-apanya, tidak perlu berterima kasih–oh!! Asap!! Kita sudah akan sampai!!"


Mata Shipo dapat melihat asap hitam di atas langit depan mereka. Asap itu pasti berasal dari desa klan kupu-kupu salju yang merupakan tujuan mereka. Menurunkan kepalanya, dia menatap Yuki dan Sora. "Ayo!!"

__ADS_1


Yuki dan Sora juga dapat melihat asap hitam tersebut. Senyum sangat lebar segera memenuhi wajah mereka. Membalas tatapan Shippo mereka tertawa. "Iya, ayo, Shippo-kun!!"


Tidak membuang waktu yang ada, mereka langsung berlari ke arah asap yang mereka lihat. Melihat kebahagiaan di wajah Yuki dan Sora, Shippo merasa gembira dan puas akan dirinya sendiri sekarang. Dia bukanlah lagi youkai lemah yang butuh dilindungi, dia sudah dewasa dan bisa melindungi yang lain.


Namun, semakin dekat mereka dengan asap yang mereka lihat, Shippo mulai merasakan keanehan. Di atas langit, asap hitam yang dilihatnya tidaklah hanya satu, melainkan ada banyak sekali.


Menghentikan langkah kakinya, Shippo segera menoleh wajah ke belakang pada Yuki dan Sora yang juga ikut berhenti menatapnya binggung.


"Ada apa, Shippo-kun?" tanya Sora, kedua mata merahnya menatap Shippo penuh tanda tanya.


"Ada yang aneh," jawab Shippo cepat. "Jumlah asap hitam di desa klan kupu-kupu salju tidak normal, kita harus hati-hati."


Yuki segera menyadari maksud Shippo, ketakutan segera memenuhi hatinya. Hanya Sora yang masih kebingungan dan tidak mengerti.


"Ayo, kita periksa dulu." Ujar Shippo lagi dengan pelan.


Yuki segera mengangguk kepala menjetujui ucapan Shippo tanpa mengatakan sepatah katapun. Mengenggam erat tangan adiknya, youkai tikus putih itu menyuruh Sora diam.


Bertiga, mereka berjalan dengan hati-hati tanpa mengeluarkan suara sedikitpun. Namun, semakin dekat, semakin ketakutan memenuhi hati mereka. Mereka bisa mendengar jelas sekarang, suara senjata yang beradu, suara sesuatu yang rusak, suara teriakan dan–suara tangisan.


Bersembunyi di balik semak-semak sambil menahan napas saat mereka mencapai desa klan kupu-kupu salju, yang mereka lihat adalah–pembantaian.


Desa youkai klan kupu-kupu salju yang biasanya damai kini telah hancur dan penuh kekacauan. Darah merah ada di mana-mana, rumah-rumah terbakar, para penduduk desa klan youkai kupu-kupu salju yang tidak bernyawa, tidak peduli itu anak kecil maupun orang tua tergeletak di mana-mana.


Beberapa prajurit manusia tertawa mengacungkan pedang ataupun tombak mereka membunuh para penduduk desa yang masih hidup dan berusaha melarikan diri.


"M-manusia itu adalah mereka yang menghancurkan desa kami..." suara Yuki yang bergetar terdengar membuat Shippo segera menoleh wajah ke samping pada youkai tikus putih itu.


Wajah Yuki kini pucat pasi dengan air mata yang terus mengalir. Dia memeluk erat dan menutup mata Sora yang bergetar hebat dalam pelukannya. "Mereka yang membunuh klan kami.."


Mata Shippo terbelalak. Menoleh kembali ke depan, dia melihat para prajurit manusia yang menghancurkan desa. Dia bisa melihat jelas bendera-bendera yang dibawa oleh para prajurit manusia; itu adalah bendera dari bangsawan Mio, Hino, Sato dan Yumi dari dunia manusia.


Namun, semakin Shippo melihat, sesuatu disadarinya. Ada yang aneh dari para prajurit manusia itu. Dia sudah mengembara lama, dan juga, pengalamannya dalam beberapa tahun lalu bersama Inuyasha dan yang lainnya untuk menghancurkan Naraku cukup membuat dia sadar.


"Mereka bukan manusia, mereka youkai yang menyamar jadi manusia.."


....xOxOx....


Dalam kamar tidur penguasa tanah barat, Rin kini duduk di atas futon dengan Sesshoumaru di sampingnya. Tidak jauh dari mereka berdua, duduk Kagome, Inuyasha, Miroku dan Sango yang diam membisu.


"Iya, putriku," balas Inukimi dengan seulas senyum kecil. "Ini obatmu.."


Selain Rin yang tidak tahu apa-apa, semua yang ada dalam kamar tersebut tahu, obat apa yang sesungguhnya ada di tangan Inukimi itu. Tapi, mereka diam membisu.


Mendekati Rin, Inukimi kemudian duduk di samping wanita manusia itu. Kedua matanya menatap lembut wanita manusia yang merupakan putri angkat sekaligus menantunya penuh kasih sayang. Wajah kisaki tanah barat masih sangat pucat, kelelahan terlihat jelas–dia masih sangat lemah.


"Rin akan segera sembuh, Ibunda," senyum Rin lembut. Dia tahu, mantan penguasa tanah barat di depannya sangat menghawatirkan kondisinya. "Jadi, jangan khwatir."


Inukimi mengangguk kepala dan tidak mengatakan apa-apa lagi.


Perlahan, Rin mengangkat kedua tangannya dan mengambil mangkuk berisi cairan berwarna hitam dari Inukimi. Bau yang sangat kuat dari obat itu tercium, dan kisaki tanah barat itu tahu, obat ini pasti sangat pahit.


Tidak ada yang mengatakan sepatah katapun atau menghentikan Rin saat melihatnya mengangkat mangkuk itu. Tangan mereka semua terkepal kuat, dan menutup mata. Hanya Inukimi dan Sesshoumaru yang masih menatap Rin dengan ekspresi datar, walau mata mereka menghianati mereka; kepedihan.


Membuka mulutnya, yang dirasakan lidah Rin adalah pahit. Namun, bersamaan dengan rasa pahit yang ada, dalam kepalanya, dia bisa mendengar jelas, suara aneh yang tidak asing baginya.


'Rinku tercinta, jangan.'


Seketika Rin seakan tersadar, mangkuk yang ada di tangannya jatuh ke bawah dan mengejutkan semua yang ada. Obat hitam itu tumpah, seluruh isinya jatuh mengenai selimut putih yang menutupi kaki wanita manusia itu.


"Rin.."


"Rin kecil.."


Sesshoumaru dan Inukimi memanggil Rin pelan. Terkejut dan bingung memenuhi hati mereka saat melihat badan mungil itu begetar hebat dengan kepala tertunduk ke bawah.


Inuyasha, Kagome, Sango dan Miroku juga segera membuka mata dan menatap Rin yang bersikap aneh. Kebingungan memenuhi hati mereka.


"K-kenapa..." gumam Rin pelan. Suaranya bergetar hebat. "K-kenapa Sesshoumaru-sama dan Ibunda ingin membunuh anak Rin?"

__ADS_1


Mata semua orang terbelalak tidak percaya mendengar pertanyaan Rin. Apa yang terjadi? Bagaimana bisa dia tahu?


Mengangkat kepala perlahan, wajah Rin yang pucat pasi penuh ketakutan menatap Sesshoumaru. Kedua mata coklatnya kini penuh dengan air mata yang mengalir turun. "Kenapa..."


Ketakutan di wajah Rin yang pucat serta badannya yang bergetar hebat tidak terkendalikan membuat ketakutan semua orang semakin besar.


"Rin." Panggil Sesshoumaru pelan. Dia mengangkat tangan kedua tangannya bermaksud memeluk dan menenangkan wanita manusia itu.


Namun, Rin menepis tangan itu. Ketakutan, dengan badannya yang lemah dan bergetar, dia menyeret tubuhnya mundur ke belakang menghindar.


"Rin-chan!!"


"Rin!!"


Inuyasha, Kagome, Miroku dan Sango segera berdiri. Kagome dan Sango segera bergerak maju. Namun, suara teriakan Rin menghentikan mereka.


"Jangan mendekat!! Jangan mendekat!!!"


Menatap semua yang ada ketakutan, Rin memeluk erat perutnya. Badannya tidak berhenti bergetar dengan air mata yang tidak kunjung berhenti. Semua yang disini adalah orang-orang yang disayangi dan keluarga baginya, tapi–kenapa mereka ingin mencelakai anaknya?


Kacaunya penampilan Rin sekarang membuat tidak ada seorang pun yang tahu harus melakukan apa. Mereka tidak pernah melihat wanita manusia ini ketakutan seperti ini selama ini.


"Jangan mendekat..." ulang Rin lagi. Perlahan, pandangannya jatuh pada sosok Sesshoumaru yang berdiri menatapnya dengan ekspresi wajah tidak terjelaskan lagi. Sedih, bersalah, takut, putus asa–semua bergabung menjadi satu. "Kenapa? Kenapa Sesshoumaru-sama?"


Apakah Sesshoumaru tidak menginginkan anak ini lagi? Apakah inuyoukai itu tidak ingin menjadi ayah seorang hanyou lagi?–apa karena itu dia ingin menghilangkan anak mereka?


Menutup mata, penguasa tanah barat menarik napas. Pertanyaan Rin sangat menyakitkan Sesshoumaru. Kenapa?–dia tidak bisa merahasiakannya dari Rin lagi.


Membuka mata, dengan wajah datar tanpa ekspresi, Sesshoumaru menatap Rin. "Jika dia hidup, kau akan mati, Rin. Badanmu yang lemah tidak akan sanggup melahirkannya."


"T-tidak... Tidak.." gumam Rin pelan. Namun, gumamnya itu dengan segera berubah menjadi teriakan keras tidak percaya. "Tidak!!!"


Menggerakkan badannya dan berlutut di hadapan Sesshoumaru. Rin memeluk erat perutnya lagi, seakan ingin melindunginya. Ketakutan di wajahnya tidak terjelaskan lagi, dengan air mata yang terus berjatuhan, dia memohon. "Rin dan anak Rin tidak akan apa-apa. Rin akan kuat melahirkannya!! Rin mohon! Jangan anak ini! Jangan bunuh anak Rin!!"


Sesshoumaru tidak bergerak melihat Rin. Mengepal kuat tangannya hingga berdarah, dia mengatupkan giginya kuat dan memalingkan wajahnya.


Rin tidak pernah menangis seperti ini, dan sejak kecil dia juga tidak pernah berlutut memohon penuh ketakutan. Tapi, sekarang dia memohon dengan sungguh-sungguh penuh air mata–semuanya; demi hidup anak mereka yang ada dalam kandungannya.


Betapa Sesshoumaru membenci dirinya yang tidak berguna ini sekarang. Dulu, saat dia memutuskan untuk melamar Rin dan menjadikan dia kisaki tanah barat, dia bersumpah pada diri sendiri, bahwa dia akan selalu melukiskan senyum dan tawa kebahagiaan pada satu-satunya wanita yang dicintainya hingga akhir hayat. Dia ingin hanya ada kebahagiaan dalam hidupnya.


Namun, hari ini, dia tidak dapat menjaga sumpah itu. Dirinya dengan sendirinya menghancurkan sumpah yang ingin dijaganya. Dia tidak dapat menjaga senyum dan tawa itu selalu, dia mengubahnya menjadi wajah penuh air mata dan kesedihan–menghancurkan kebahagiaan yang ada.


Menatap Inukimi, dengan wajah yang masih sangat kacau, Rin memaksakan seulas senyum. "Ibunda, Rin mohon, k-katakanlah pada Sesshoumaru-sama, Rin dan anak Rin akan selamat. Rin akan dapat melahirkan anak kami dengan selamat.."


Inukimi menutup mata mendengar permohonan Rin, dia tidak sanggup lagi melihat wajah wanita manusia itu. Sakit yang dia rasakan dalam hatinya sungguh luar biasa.


Melihat Inukimi yang tidak bersedia membantunya, Rin kemudian menolehkan wajah pada Kagome. Dia tertawa dengan suara bergetar. "K-kagome-sama, Rin mohon, katakan pada Sesshoumaru-sama. A-anak Rin dan Rin akan baik-baik saja!!"


Kagome tidak bergerak, dia juga tidak mengatakan apa-apa. Mendengar permohonan Rin, melihat wajahnya, miko masa depan itu tidak dapat menahan air matanya lagi. Duduk ke bawah, dia menangis. "Maaf, maafkan aku, Rin-chan.."


Inuyasha, Miroku dan Sango tidak bergerak. Mereka semua ikut membuang muka, sungguh, mereka tidak sanggup lagi menatap ekspresi wajah Rin sekarang. Yang di depan mereka adalah seorang ibu. Ibu yang mencintai dan mati-matian berusaha mempertahankan hidup anak yang ada dalam kandungannya, dan mereka–mereka adalah orang-orang yang ingin merebut anak itu darinya. Bagaimana bisa mereka menatap wajahnya?


Sadar tidak ada seorangpun yang akan berpihak padanya. Rin kembali menyeret dan merangkak badannya ke arah Sesshoumaru. Menarik, ujung kimono inuyoukai itu, dia mengangkat wajahnya ke atas. Berlinang air mata, dia kembali memaksa seulas senyum. "S-sesshoumaru-sama, Rin mohon padamu, biarkan Rin melahirkan anak kita. Rin akan menepati janji Rin, Rin dan anak kita tidak akan ke mana-mana. Kami akan selalu ada bersama anda!!"


Permohonan Rin yang tidak berkesudahan, ketakutan dan air mata. Sesshoumaru segera berlutut ke bawah dan memeluk erat badan mungil yang bergetar hebat itu. "Sesshoumaru ini tidak bisa kehilanganmu, Rin."


Jawaban Sesshoumaru membuat Rin segera mendorong inuyoukai itu hingga pelukan yang ada terlepas. Tidak peduli dengan semua yang ada, dan meski badannya masih sangat lemah, dia segera berdiri. Mengumpulkan segenap tenaga yang ada, dia tiba-tiba melangkah–berlari ke arah taman melalui beranda kamar yang terbuka.


"Rin!!"


"Rin-chan!!"


Rin tidak peduli dengan suara yang memanggil namanya keras. Dia berlari secepat yang dia bisa dengan kedua tangan memeluk perutnya. Anaknya, hartanya, miliknya yang paling berharga–dia harus melindunginya.


Tidak apa-apa, tidak apa-apa meski seluruh dunia tidak akan mengijinkan dia melahirkannya. Rin  akan tetap melahirkannya–Rin akan melindunginya.


'Anakmu, aku akan melindunginya untukmu, Rinku tercinta.'


Meido seki merah yang berdetak di dada Rin kembali bersinar dan memperlihatkan kekuatan aslinya. Semua elemen yang ada muncul dan bergabung–menjadi kekai terkuat untuk melindungi seorang wanita manusia dan anaknya.

__ADS_1


....xOxOx....


__ADS_2