![Till The End Of Time [ Inuyasha Fanfiction ]](https://asset.asean.biz.id/till-the-end-of-time---inuyasha-fanfiction--.webp)
"Jadi?" tanya Miroku dan Sango bersamaan menatap Kagome dan Inuyasha yang duduk di depan mereka.
"Akihiko-san tinggal di istana ini sekarang," jawab Kagome sambil menghela napas. "Jika saja kalian berdua tiba lebih cepat beberapa jam, kalian pasti akan melihat keributan yang ada. Kupikir keadaan tidak akan lebih kacau lagi."
Miroku dan Sango baru tiba di istana tanah barat beberapa menit yang lalu, dan saat menemui Inuyasha, Kagome serta anak-anak, yang pertama kali mereka lihat adalah anak-anak yang tertidur penuh kerisauan. Namun, yang paling mengagetkan adalah setelah mereka berdua mendengar apa yang terjadi dari mulut miko masa depan tersebut.
"Tunggu dulu, Kagome," sela Sango panik. "Jadi, Rin-chan sudah tahu semua yang terjadi?"
"Keh," cibir Inuyasha membuang muka dan melipat kedua tangan di dada. "Dia sudah tahu terlebih dahulu dari kita semua tentang bagaimana manusia melihatnya."
Kagome kembali menghela napas. "Iya. Kecuali tentang manusia yang ingin membunuh dirinya dan anaknya, Rin-chan sudah tahu terlebih dahulu dari semua orang. Dia mendengarnya sendiri dari para manusia saat honey moon dengan kakak di gunung hare."
Miroku dan Sango terdiam mendengar jawaban Kagome dan Inuyasha. Penuh kekhawatiran, Sango kemudian kembali membuka mulut untuk bertanya. "B-bagaimana keadaan Rin-chan sekarang?"
"Dia tidak apa-apa," jawab Inuyasha kembali menoleh wajahnya pada Miroku dan Sango. "Dia tidak mempermasalahkannya, dan juga; dia tidak takut."
"Mungkin lebih tepatnya; Rin-chan tidak peduli." sela Kagome pelan.
Miroku dan Sango kembali terdiam. mereka tidak tahu harus mengatakan apa. Ada rasa syukur dalam hati mereka jika wanita manis itu tidak terganggu dan memikirkan omongan dan keinginan para manusia untuk membunuhnya serta anak dalam kandunganya. Tapi—tidak tahu kenapa mereka juga merasa sangat salah. Sebab, apa yang terjadi sekarang, bukanlah sesuatu yang seharusnya terjadi.
"Bagaimana dengan kalian? Apakah misi kalian berhasil?" tanya Kagone kemudian.
Pertanyaan Kagome dengan segera membuat Miroku dan Sango menghela napas bersamaan.
"Tidak ada harapan," jawab Miroku pelan sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal. "Mereka terlalu percaya diri."
"Aliansi taijiya juga sama," sambung Sango pelan. "Kohaku yang dalam perjalanan kemari sudah mengirimkan pesan padaku terlebih dahulu. Mereka semakin murkah dan bertekad menyerang tanah barat karena Kiri-san mempermalukan mereka."
"Kiri-san?" tanya Kagome dan Inuyasha bersamaan kebingungan.
"Kalian tidak tahu?" tanya Miroku balik sama bingungnya "Sesshoumaru mengirim Kiri-san untuk memperingati aliansi taijiya dan Kira-san untuk aliansi miko, pendeta dan biksu."
Kali ini, giliran Kagome dan Inuyasha yang terdiam.
"Perang youkai manusia ini—tidak dapat dihentikan lagi." Lanjut Miroku pelan sambil mengehala napas.
"Aku tidak tahu kita harus berbuat apa kalau perang ini pecah." Gumam Kagome pelan dan menutup mata. Dia hanya dapat bertanya dalam hati, kenapa manusia jaman ini begitu bodoh? Apakah mereka tidak berpikir baik-baik sebelum memutuskan sesuatu?
"Cih," Inuyasha kembali membuang mukanya. "Aku tidak akan membantu para manusia itu dan menghentikan Sesshoumaru jika mereka berhadapan—jadi, jangan menyuruhku nanti."
Manusia yang menyerang seorang wanita manusia yang menjadi istri youkai dan mengandung seorang hanyou—bagi Inuyasha, manusia seperti itu lebih baik mati. Wajah tersenyum Izayoi serta Rin terbayang dalam pikiran inuhanyou itu. Ada rasa sakit dirasakannya dalam hati, apakah bersama dan mencintai seorang youkai itu salah? Apakah mengandung hanyou itu salah?—manusia memang makhluk yang selalu sok suci.
Kagome, Miroku dan Sango menatap Inuyasha mendengar ucapannya. Namun, mereka tidak tahu harus mengatakan apa, sebab ucapannya tidak salah. Apakah kau punya hak menghentikan seorang suami yang melindungi istri dan anaknya dari mereka yang ingin membunuh mereka?
Menghela napas untuk tidak tahu keberapa kalinya, Kagome kemudian menatap Miroku dan Sango. "Apakah kalian tahu kapan manusia akan menyerang?"
"Mereka akan menyerang sekitar pertengahan musim gugur," jawab Sango pelan sesuai dengan informasi yang didapatkannya dari surat Kaeda yang masih di kota manusia dan juga surat dari Kohaku yang masih dalam perjalanan kembali ke istana tanah barat. "Mereka masih dalam persiapan sekarang."
Pertengahan musim gugur.
Kagome kemudian menoleh menatap keluar pada daun pohon sakura yang mulai berubah warna Musim gugur sudah di depan mata, mereka tidak memiliki banyak waktu lagi.
....xOxOx....
"Sampaikan perintahku, tidak ada seorangpun yang berada dalam klan youkai tanah barat boleh menyerang persiapan manusia," suara Sesshoumaru yang tenang dan datar bergema dalam ruang kerjanya yang sepi. Mata emasnya bersinar dengan emosi tidak terbaca menatap Kira yang berlutut di depannya."Biarkan mereka datang kemari. Sesshoumaru ini sendiri yang akan membantai mereka."
"Hamba mengerti." Balas Kira yang berlutut di depan sang penguasa tanah barat penuh hormat.
"Keluarlah." Perintah Seeshoumaru lagi tanpa merubah intonasi suaranya.
Memberikan hormat pada Sesshoumaru tanpa mengatakan apa-apa lagi, Kira berdiri dan berjalan keluar dari ruang kerja sang penguasa tanah barat.
Ruang kerja yang memang sunyi kembali menjadi sunyi. Perlahan, Sesshoumaru kemudian menoleh wajahnya ke samping. Mata emasnya yang bersinar indah dapat melihat jelas keberadaan seorang youkai wanita yang ada dalam ruangan sambil menyembunyikan auranya.
Tidak gentar dengan pandangan mata Sesshoumaru, youkai itu kemudian melangkah pelan keluar dari kegelapan. Berambut merah menyala bagaikan api, dengan sepasang mata merah yang menatap sang penguasa tanah barat tanpa rasa takut.
Membungkuk badan, youkai itu memberi salam dan hormat, "Selamat malam, Sesshoumaru-sama."
Sesshoumaru tidak membalas salam youkai itu, dan dia kenal youkai burung di depannya ini, Tsubasa selir kesayangan Akihiko sang penguasa tanah selatan.
Meluruskan badannya, seulas senyum mengembang di wajah cantik Tsubasa. "Hamba datang untuk menyelamati anda, Sesshoumaru-sama. Selamat Kisaki tanah barat telah mengandung pewaris anda."
Sesshoumaru tetap diam membisu dan menatap Tsubasa dengan wajahnya yang tanpa ekspresi.
Dengan senyum yang masih tidak berubah di wajahnya, Tsubasa kembali melanjutkan apa yang ingin dia sampaikan pada Sesshoumaru. "Akihiko-sama masih belum menyerah, Sesshoumaru-sama. Beliau masih menginginkan Kisaki tanah barat meskipun sudah tahu kebenaran yang ada."
Ucapan Tsubasa membuat pandangan mata Sesshoumaru menajam. Tapi, dalam pikirannya, dia menebak apa sesungguhnya tujuan selir penguasa tanah selatan di depannya.
Ini bukanlah pertama kalinya Tsubasa memberitahunya apa yang direncanakan atau apa yang dipikirkan Akihiko padanya. Dulu di istana tanah selatan, youkai burung ini juga melakukan hal yang sama, memberitahunya niat Akihiko yang ingin mengangkat Rin menjadi Kisaki tanah selatan.
Mata Sesshoumaru yang menajam menatapnya, Tsubasa tahu, inuyoukai itu pasti sedang menebak apa maksudnya melakukan ini.
Apa maksudnya melakukan ini? Kenapa dia terus memberitahu Sesshoumaru?—semua adalah karena keegoisannya, karena Tsubasa tidak bisa mengijinkan Akihiko memiliki Rin.
Cukup sekali saja, dia berpikir untuk mengikhlaskan Akihiko untuk wanita manusia itu. Dia sudah menawarkan memberikan segala yang ada termasuk cinta yang didambakan kepada wanita itu sebelum kepulangannya dari istana tanah selatan, dan—wanita itu sudah menolaknya.
Tapi, cinta Akihiko tetap ada pada wanita itu. Tidak peduli wanita itu telah memiliki tanda orang lain, tidak peduli wanita itu sedang mengandung anak dari orang yang dibencinya—youkai serigala itu tetap menginginkannya. Karena itu, bagaimana Tsubasa bisa menerimanya?
Cinta anda—Rin mengerti.
Ucapannya yang begitu membekas dalam hatinya, tapi Tsubasa tahu, kenyataannya; wanita manusia itu tidak mungkin mengerti. Wanita itu selalu mendapatkan cinta dari inuyoukai yang dicintainya, beda dengan cintanya yang bertepuk sebelah tangan—wanita itu tidak mungkin mengerti cintanya.
Sakitnya cinta ini, Tsubasa sungguh tidak tahan lagi, karena itulah, dia memutuskan, jika dia memang tidak dapat memiliki cinta youkai serigala itu, dia juga tidak bisa membiarkan cinta itu menjadi milik orang lain.
Semakin kau mencintai seseorang, semakin kau membencinya juga saat cintamu tidak terbalas. Kau akan terus bertanya, kenapa? Apa salah dirimu? Apakah kekurangan dirimu sehingga dia tidak mencintaimu? Sakitnya cinta ini—apa dia yang kau cintai mengerti?
Semua yang dirasakan dan dia lalui, Tsubasa ingin Akihiko juga merasakannya. Cinta yang menyakitkan, dia ingin youkai serigala itu juga merasakannya—cinta seseorang yang tidak akan pernah kau miliki.
Sesshoumaru yang menatap Tsubasa tetap tidak dapat menebak apa yang ada dalam pikiran youkai burung yang terus tersenyum itu. Namun, sejenak kemudian, dia mengabaikannya. Apapun rencana dan maksudnya memberitahunya, penguasa tanah barat tidak peduli.
Rin dan anak mereka, Sesshoumaru tidak akan membiarkan siapapun merebutnya. Manusia boleh mencoba, Akihiko juga boleh mencoba, semua yang ada di dunia ini boleh mencoba, namun, dia akan menghentikan—dia akan memusnahkan siapapun yang bermaksud merebut mereka darinya.
Perlahan, ujung bibir Sesshoumaru terangkat, membentuk seulas senyum menyeringai di wajah tampannya. Namun, sepasang mata emasnya bersinar penuh peringatan dan kengerian. "Sampaikan pada serigala itu," ucapnya pelan. "Rin dan anaknya, selamanya adalah milik Sesshoumaru ini."
"Hamba mengerti." Balas Tsubasa pelan. Dia membungkukkan badan sekali lagi dan menundukkan kepala ke bawah. Senyum di wajahnya semakin melebar, kebahagiaan memenuhi hatinya—Ya, Akihiko selamanya tidak akan memiliki wanita manusia itu.
....xOxOx....
__ADS_1
Sesshoumaru bisa mendengar jelas suara tawa dari dalam kamar tidurnya dan Rin. Suara tawa yang indah bagaikan dentingan lonceng yang sangat disukainya.
Membuka pintu shoji kamar, Sesshoumaru melihat ibunya, Inukimi yang sedang bercanda dengan Rin yang duduk di atas futon. Dia tidak mempedulikan apa yang mereka bicarakan hingga kisakinya tertawa sebahagia itu, tapi, melihat wanita manusia itu tertawa, ada rasa hangat memenuhi hatinya.
Menyadari kehadiran Sesshoumaru, Rin yang sedang tertawa bersama Inukimi segera menolehkan wajahnya pada inuyoukai tersebut. Seulas senyum indah memenuhi wajah cantiknya. "Sesshoumaru-sama."
Sesshoumaru tidak menjawab salam Rin. Seperti biasanya, dia langsung berjalan menuju wanita manusia. Duduk di belakangnya, kedua tangan sang penguasa tanah barat memeluk kisakinya lembut.
"Karena Sesshoumaru sudah datang, aku akan kembali." Tawa Inukimi melihat pemandangan yang memang tidak aneh lagi di depannya. "Jaga Rin kecil, Sesshoumaru."
"Terima kasih sudah menemani Rin, Ibunda," senyum Rin menatap Inukimi. "Terima kasih juga untuk ceritanya."
Inukimi kembali tertawa mendengar ucapan Rin. Tidak mempedulikan Sesshoumaru yang tidak membalas ucapannya, mantan penguasa tanah barat itu berdiri dan berjalan keluar dari kamar tempatnya berada.
Sepeninggalan Inukimi, kamar tidur mereka menjadi sunyi. Dalam kegelapan malam dengan lampu minyak sebagai penerang, Sesshoumaru dengan hati-hati dan perlahan membaringkan kisakinya pada futon besar di bawah mereka. Setelah apa yang terjadi hari ini, Rin membutuhkan istirahat yang cukup. Walau Inukimi, Kagome, Jinenji telah mengatakan wanita manusia ini dan anak mereka tidak apa-apa, Sesshoumaru tetap saja khawatir.
Menatapnya lembut dengan sepasang mata emasnya, Sesshoumaru kemudian ikut berbaring di samping Rin yang menggerakkan badan menghadapnya. Seulas senyum lebar memenuhi wajah cantiknya yang pucat.
"Seeshoumaru-sama," panggil Rin ceria. "Anda tahu? ternyata dulu anda hampir berakhir dengan nama Inuyasha."'
Apa yang dikatakan Rin seketika membuat Sesshoumaru tertegun tidak mengerti.
"Rin sedang memikirkan nama putra kita tadi, jadi ibunda kemudian menceritakan pada Rin," tawa Rin dengan mata yang berbinar indah di wajah pucatnya. "Dulu, saat anda dalam kandungan, Ayahanda menemukan dua nama yang menurutnya cocok untuk putranya, yaitu; Sesshoumaru dan Inuyasha. Saat itu juga, beliau sebenarnya lebih menyukai nama Inuyasha yang berarti anjing setan."
Sesshoumaru diam membisu mendengar informasi yang baru pertama kali dia dengar ini.
"Tapi, Ibunda tidak setuju. Ibunda lebih menyukai nama Sesshoumaru yang berarti penghancur kehidupan. Karena menurut ibunda, nama itu lebih kuat dan berkesan," lanjut Rin lagi dengan senyum yang semakin lebar di wajah. "Ibunda mengatakan, mereka berdua sampai bertarung dan menghancurkan sebagian istana karena hal itu."
Sesshoumaru tetap tidak memberikan respon mendengar cerita Rin. Tapi, jika kedua orang tuanya bertarung dan menghancurkan istana karena berselisih pendapat, itu bukanlah hal yang aneh, sebab dia tumbuh besar dengan melihatnya.
"Dalam pertarungan itu, sebenarnya ayahanda menang, dan beliau sangat senang, sebab putranya akan bernama Inuyasha. Tapi, Ibunda tetap tidak terima, beliau lalu menggunakan trik air mata dan kata-kata mutiara betapa menyedihkannya hidup seorang wanita yang telah berjuang mengandung dan melahirkan seorang anak namun anaknya tidak bisa dinamain sesuai keinginannya."
Inukimi yang kalah dari Inu No Taisho bukanlah hal aneh, dan Inukimi yang menggunakan cara licik dengan menghalalkan segala cara juga bukanlah sesuatu yang aneh. Di tanah barat, siapa sebenarnya yang benar-benar mampu menangani inuyoukai dengan segala pikirannya yang aneh itu?—Sesshoumaru sesungguhnya ingin tahu.
"Lalu," lanjut Rin lagi dan tertawa. "Ayahanda akhirnya mengalah, dan andapun lahir dan dinamai Sesshoumaru; penghancur kehidupan."
Sesshoumaru tetap diam membisu, tidak tahu harus memberikan respon seperti apa untuk cerita Rin tersebut.
"Rin berpikir, jika saja saat itu Ayahanda tidak mengalah pada Ibunda, maka hari ini, Rin akan memanggil anda Inuyasha-sama, dan mungkin akan memanggil Inuyasha-sama sebagai Sesshoumaru-sama."
Sesshoumaru menutup matanya mencerna cerita yang didengarnya. Wajahnya tetap datar dan tenang tanpa ekspresi, tapi tidak untuk hatinya. Ada rasa aneh dan janggal dirasakan. Dia tidak bisa membayangkan orang memanggilnya Inuyasha, inuyoukai penguasa tanah barat, dan yang paling penting, dia tidak bisa membayangkan miko itu berteriak, 'Sesshoumaru, osuwari'.
Untuk pertama kali dalam hidupnya yang panjang, Sesshoumaru menghargai kekeras kepala dan juga trik-trik murahan Inukimi dalam menghadapi ayahnya semasa hidup.
Masih memikirkan apa yang didengarnya, Sesshoumaru tiba-tiba meradakan jari jemari yang mungil dan hangat menyentuh pipinya. Membuka mata kembali, dia melihat Rin yang menatapnya lembut.
"Tapi, Rin setuju dengan ibunda. Nama Sesshoumaru lebih cocok untuk anda, Sesshoumaru-sama," tawa Rin lagi. Dia bisa melihat jelas kebingungan dan ketidakpercayaan inuyoukai ini akan ceritanya barusan, mungkin Inuyasha juga akan memberikan reaksi yang sama jika mendengarnya. "Nama anda; Sesshoumaru, penghancur kehidupan—adalah nama yang terukir abadi dalam keberadaan Rin."
Mengangkat tangan kanannya pelan, Sesshoumaru menyentuh jari jemari Rin yang ada di pipinya. "Namamu, juga terukir dalam keberadaan Sesshoumaru ini, Rin."
Ucapan Sesshoumaru membuat mata Rin terbelalak. Namun, sejenak kemudian dia tersipu malu dengan seulas senyum bahagia di wajah.
Ekspresi wajah Rin membuat Sesshoumaru tersenyum kecil. Sikapnya, kecerianya, semuanya—wanita ini sama sekali tidak berubah, meski dia sudah tahu bagaimana manusia memandangnya dan apa yang direncanakan mereka.
Rin yang tidak pernah berubah. Tidak peduli bagaimana dunia yang kotor ini berusaha mengotori dan menyeretnya, dia tetaplah seperti pertama kali dia melihatnya; polos penuh keluguan—murni.
Mata Rin kembali terbelalak karena terkejut dengan ciuman yang tiba-tiba. Namun, sejenak kemudian, dia menutup mata dan membalas ciuman yang ada.
Ciuman yang lembut, ciuman yang hangat, namun manis dan penuh kehangatan. Menjauhkan wajah, mata emas Sesshoumaru tebuka menatap lurus mata Rin yang juga menatapnya balik.
Wanita manusia di depannya adalah istrinya, pasangan sahnya—miliknya. Satu-satunya wanita yang dia cintai, musim semi abadi dalam hidupnya, wanita dengan sejuta pesona yang sangat menyilaukan. Karena itulah, semua yang ada di dunia ingin merebut wanita ini dari dirinya.
Dunia yang tidak pantas untuk wanita manusia ini, dan juga—dirinya yang tidak pantas. Sesshoumaru tahu, tapi..
Selamanya bersama.
Keinginan wanita manusia ini, harapannya—dia ingin selalu bersamanya. Meski akan dihina, meski dicaci maki dan direndahkan semua orang, wanita ini menerimanya semua dengan penuh senyuman dan tawa—hanya demi bisa bersamanya.
Sesshoumaru, apakah kau memiliki seseorang yang ingin kau lindungi?
Pertanyaan terakhir Inu No Taisho semasa hidup, tergiang dalam kepala Sesshoumaru, dan dia tahu, orang yang ingin dia lindungi, orang yang dia cintai—keluarga kecilnya.
Melindungi.
Kata yang sederhana, tapi memiliki makna yang sangat dalam. Terutama bagi mereka, seorang youkai yang mencintai seorang manusia. Pertanyaan ayahnya dulu, dia kini mengerti. Melindungi adalah perasaan yang lahir karena kau memiliki orang yang berarti bagimu; orang yang kau cintai—kebahagiaanmu.
Apa makna Rin dan anak mereka sekarang bagi Sesshoumaru?—Inuyoukai itu tahu, mereka adalah segalanya baginya, mereka adalah; kebahagiaannya. Kebahagiaan terbesar yang akan selalu menjadi apa yang paling dia harapkan dalam hidup panjangnya. Jadi, dia tidak akan pernah mau kehilangan mereka tidak peduli apapun yang terjadi.
"Sesshoumaru ini akan selalu melindungi kalian." Ucapan Sesshoumaru dan pandangan mata emasnya yang bersinar cemerlang dalam lampu minyak kamar, Rin bisa melihat kesungguhan inuyoukai di depannya.
Perlahan, kedua ujung bibir Rin terangkat. Mengangguk pelan, dia tertawa bahagia dengan suaranya yang bagaikan dentingan lonceng. "Rin tahu."
Melindungi. Seperti dulu saat dia kecil, Rin tahu, Sesshoumaru akan selalu melindungi mereka. Tidak akan pernah berubah dan tidak akan pernah gagal—dia dan anaknya memiliki pelindung paling luar biasa di dunia.
Menurunkan tangannya yang ada di pipi Sesshoumaru, Rin menatap lembut tempat dimana anaknya dan Sesshoumaru berada. Perlahan tangannya itu mengelus perutnya penuh kasih sayang.
Anak mereka—keajaiban mereka.
Anak mereka yang tercinta. Betapa penting dan berharganya anak mereka. Sungguh Rin berharap, selamanya anaknya akan bahagia dan tumbuh besar dengan baik. Kenapa? Karena dia tahu, hidup anak mereka tidak akan mudah.
Di mulai dari kehamilannya sampai sekarang, sudah ada berapa banyak rintangan dan masalah yang dihadapi? Betapa sulit dia mempertahankan kehidupan kecil yang masih belum sempurna ini? Dan, ke depannya—betapa banyak yang akan menginginkan anak ini mati?
Anak mereka yang berharga, bahkan sebelum melihat dunia saja, dia sudah harus bertarung bersama ibunya untuk hidup. Lalu, setelah dia lahir nanti, akan ada berapa banyak lagi pertarungan yang harus dia lewati?
Perlahan, dalam setiap elusan tangannya yang penuh kasih sayang, Rin menutup mata dan bernyanyi dengan suara lembutnya dalam keheningan malam.
Anata no nayami o sutete
( Singkirkanlah kekhawatiranmu sayangku )
Ashita wa atarashī hi ga kuru
( Karena besok akan datang hari yang baru )
Dakishimete, osoreru koto wa nanimonai
( Berpeganglah padaku, tidak ada yang perlu ditakuti )
__ADS_1
Anata no yume wa tōkunaikara
( Karena mimpimu tidaklah jauh )
Atama o yoko ni shite yasumu to
( Saat kau membaringkan kepalamu dan beristirahat )
Anata no yume ga watashi no ai o hikitsugu yō ni
( Semoga mimpimu mengambil alih, cintaku )
Meski dia adalah seorang manusia, meski dia tidak bisa melakukan bnyak hal, tapi, untuk anaknya, sebagai ibu, dia akan menjadi yang terkuat. Supaya anaknya aman, supaya anaknya bisa tertidur dalam mimpinya yang damai—Rin tidak akan takut apapun.
Yoku kiite, Nishi no musuko
( Denganlah baik-baik, putraku dari barat )
Sekai wa zankokudesuga
( Walaupun dunia kejam )
Mada kagayaku hikari ga arimasu
( Masih ada cahaya yang bersinar )
Watashitachi no jinsei no mottomo kurai hi ni
( Dalam hari-hari tergelap kehidupan kita )
Kejamnya dunia, Rin sangat tahu, dia mengalaminya sendiri dalam hidupnya. Namun, dalam gelapnya hidup ini, dia menemukan cahaya; Sesshoumaru.
Cahaya pertama yang ditemukan, dan perlahan menjadi semakin bersinar dan bertambah. Cahaya barunya; Jaken, Ah-un, Inukimi, Kiri, Kira, Inuyasha, Kagome, Miroku, Sango, Kohaku, Kaeda dan banyak lagi hingga tidak dapat dihitungnya.
Apa itu cahaya? Dia adalah keluarga dan sahabat. Untuk anaknya yang tercinta, Rin akan menjadi cahaya yang paling pertama seperti Sesshoumaru baginya. Lalu, perlahan, dia tahu, dalam hidup panjang anaknya, anaknya akan menemukan cahaya-cahaya baru yang tidak akan pernah berkesudahan.
Subete no kibō ga ushinawa reta yō ni mieru toki
( Saat semua harapan kelihatannya telah hilang )
Soshite, anata wa anata no michi o mitsukeru koto ga dekimasen
( Dan kau tidak dapat menemukan jalan )
Sora o mitsumeru toki no koto o kangaete
( Pikirkan aku saat kau melihat ke langit )
Dalam hidup anaknya yang akan panjang, dalam rintangan dan pertarungan yang akan dia hadapi, Rin tahu, anaknya mungkin akan kehilangan arah.
Jika itu terjadi, Rin sungguh berharap, anaknya akan melihat ke atas langit dan mengingatnya, karena dia; ibunya adalah cahaya pertama dalam hidupnya.
Cahaya yang tidak akan pernah padam. Selalu memberikan harapan dan membimbingnya ke jalan yang benar. Ingatlah bahwa ada yang selalu ada untukmu, selalu mendukungmu, selalu berdoa untukmu, selalu—mencintaimu; kau tidak pernah sendiri.
Anak mereka yang tercinta, dia ingin memberitahu, walau suatu hari nanti, dia benar-benar telah tiada, cahaya itu akan selalu ada—ibu adalah cahaya yang abadi dalam hidupmu.
Ko kōzan, anata no mirai wa akarui
( Anakku, masa depanmu cerah )
Anata no chichi no chi ga anata no jōmyaku ni
( Karena darah ayahmu dalam nadimu )
Kurayaminonakade, watashi wa anata ga tatakau koto o inoru
( Di saat-saat gelap, aku berdoa kau akan bertarung )
Sekai ga sugu ni anata no namae o shiru yō ni narukara
( *Karena dunia akan segera tahu namam*u )
Darah ayahmu yang kuat akan membuatmu kuat. Darah merah dalam nadi yang diwariskannya, darah yang penuh dengan kekuatan dan keberanian akan selalu dapat membuatmu sanggup menghadapi apapun. Lalu, dengan ibumu yang akan selalu ada dan berdoa untukmu, jangan pernah menyerah, jangan pernah putus asa, berjuanglah, bertarunglah selalu, hingga—masa depanmu yang cerah kau gapai; kebahagiaanmu.
Meski dunia akan memusuhimu, menolakmu dan tidak menginginkanmu, tapi, ibu akan selalu ada untukmu; selalu menerima dan mencintaimu. Bertarunglah, hiduplah, bahagialah—karena dunia akan tahu namamu kelak sebagai; kau yang kuat, kau yang bisa melewati semua yang ada—putraku yang bahagia.
Nama.
Rin kini tahu, seperti apa semua orang akan memanggil anak mereka yang tercinta kelak. Kata orang, nama adalah doa, sebuah harapan, karena itu, dia tahu inilah nama yang paling pas untuk anak mereka yang berharga.
"Sesshoumaru-sama," membuka mata, Rin memanggil Sesshoumaru pelan. Mengangkat kepalanya menatap inuyoukai itu, dia tersenyum dengan sangat indahnya. "Namanya adalah Shura. Shura yang berarti pertarungan. Karena hidupnya kelak pasti akan penuh pertarungan. Pertarungan yang pasti akan dimenangkannya."
Shura—berkelahi, bertarung.
Rin ingin anaknya tahu, hidup di dunia tidak akan pernah mudah. Kejam dan gelap, karena itu, dia ingin anaknya terus berkelahi, bertarung—berjuang dan; menang.
Shura, Rin ingin putranya selalu tahu, arti namanya adalah doa tulus dari seorang ibu untuk seorang petarung yang akan selalu menang—menang dari hidupnya yang ditolak semua orang.
"Shura..." Mulut Sesshoumaru menyebut pelan nama yang disampaikan Rin. Seulas senyum kecil mengembang di wajah tampannya.
Sesshoumaru tahu, arti nama Shura yang diucapkan. Rin benar, hidup putra mereka, masa depan putranya yang merupakan pewaris tanah barat dengan darah setengah youkai dan setengah manusia tidak akan mudah.
Seperti lagu yang dinyanyikan Rin, di dunia yang kejam dan gelap ini, anaknya haruslah bertarung. Pertarungan demi pertarungan akan dihadapinya selama dia hidup. Tapi, dengan darahnya dan harapan Rin, Shura akan lahir sebagai seorang petarung; petarung yang kuat dan akan selalu menang.
Nama yang berarti petarungan namun penuh dengan doa dari sang ibu. Lagu yang dinyanyikan Rin barusan sudah membuktikannya, cintanya yang tulus, kasih sayangnya yang abadi—cinta seorang ibu yang menginginkan kebahagiaan dan masa depan yang cerah.
"Rin," panggil Sesshoumaru pelan, seulas senyum kecil di wajah tampannya semakin kentara. Menggerakkan tangannya, dia mengenggam tangan Rin yang ada di perut besarnya. "Shura—nama yang bagus."
Senyum bahagia di wajah Rin semakin melebar, dan sejenak kemudian berubah menjadi tawa. Lalu, seakan setuju dengan nama yang dipilih untuknya, anak dalam perut bergerak pelan, tepat di bawah tangan kedua orang tuanya.
Tawa Rin hanya semakin keras dengan apa yang terjadi, menurunkan wajahnya, dia kembali mengelus perutnya pelan. "Rin senang Shura menyukai nama yang ibu pilih."
Tawa yang penuh kebahagiaan dan kehangatan yang ada. Membuat Sesshoumaru merasa tenang, damai dan bahagia. Perlahan, inuyoukai itu bergerak, bangkit duduk, dia kemudian menurunkan kepalanya menatap perut besar Rin. Dengan lembut dan hati-hati, dia kemudian memegangnya dan mencium tempat di mana anak mereka yang tercinta berada.
"Ayahandamu ini akan selalu melindungimu, Shura.."
....xOxOx....
__ADS_1