![Till The End Of Time [ Inuyasha Fanfiction ]](https://asset.asean.biz.id/till-the-end-of-time---inuyasha-fanfiction--.webp)
Rin berjalan dalam diam di samping Jaken dengan kepala tertunduk ke bawah. Di depannya, Sesshoumaru berjalan memimpin, sedangkan di belakang, Inukimi duduk di atas punggung Ah-un yang tali kekangnya dipegang Jaken mengikuti. Mereka semua kini sedang berada dalam perjalanan pulang ke Istana Tanah Barat.
Sesaat setelah kelahiran Shiro, Inuyasha, Kagome serta yang lainnya berniat mengadakan pesta untuk merayakan kelahiran Shiro. Mereka mengharapkan Sesshoumaru, Rin, Inukimi dan Jaken untuk tinggal dan ikut serta. Namun, Sesshoumaru tidak berkeinginan untuk tinggal lebih lama di desa Inuyasha maupun turut dalam pesta perayaan kelahiran putra pertama saudarah separuh darahnya tersebut. Inuyoukai itu langsung memutuskan untuk kembali ke kediamannya tanpa mempedulikan permohonan mereka. Jaken tentu saja langsung mengikutinya, termasuk Rin. Sedangkan untuk Inukimi, dia juga ikut serta karena ingin melewati akhir musim gugur di istana bersama putri angkatnya.
Inuyasha, Kagome dan lainnya, tentu merasa sangat kecewa. Namun, mereka semua juga tahu, keputusan Sesshoumaru adalah mutlak. Tidak akan ada yang dapat mengubah keputusannya inuyoukai itu. Lalu, juga tidak mungkin bagi Rin untuk melawan keputusan serta berpisah dengan inuyoukai Penguasa Tanah Barat yang telah menghidupkannya kembali. Dengan pasrah, Inuyasha dan yang lainnya, kecuali Kagome, Jinenji dan Kaede hanya dapat mengantarkan mereka sampai depan pintu desa. Dan sekali lagi, di depan pintu desa, hanyou itu berterima kasih kepada Rin serta Inukimi atas bantuan mereka berdua.
"Jika suatu saat nanti, kau mengalami kesulitan, jangan sungkan untuk meminta bantuanku. Aku akan melakukan apa saja untuk membantumu."
Itu adalah kata-kata yang diucapkan Inuyasha pada Rin, tanpa mempedulikan siapapun yang ada. Hanyou itu tahu, dirinya berhutang budi untuk selamanya pada gadis manusia yang bersedia membantunya tanpa mengharapkan balasan apapun. Jujur, dia menyukai gadis manusia itu. Baik, berani namun lembut, penuh semangat dan sangat polos bagaikan anak kecil. Sunggguh sayang gadis itu memutuskan untuk tinggal bersama Sesshoumaru yang tidak pernah menyadari betapa istimewanya Rin itu.
"Kenapa kau diam saja, Rin-sama?" tanya Jaken tiba-tiba. Dia menggunakan kata 'sama' pada Rin sekarang karena dia tahu, Inukimi pasti tidak akan senang jika dia memanggil nama gadis itu sesukanya, sebab, bagaimana pun juga Rin adalah putri angkat dari inuyoukai mantan Penguasa Tanah Barat.
Menatap Jaken sejenak Rin menggeleng kepala dalam diam.
Menoleh kepala sedikit ke belakang, Sesshoumaru yang mengamati Rin tahu, Jaken benar, ada sesuatu yang menganggung pikiran gadis itu. Namun, mengamati penampilan gadis iu sekarang, dia merasa cukup puas. Kimono merahnya yang penuh darah kini telah diganti dengan sehelai kimono berwarna coklat kemerahan dari sutra. Tidak ada lagi bau darah yang diciumnya, yang ada hanyalah bau musim semi yang sangat menyenangkan. Sebenarya, ada alasan kenapa dirinya tidak mau tinggal terlalu lama di desa manusia. Saat dia melihat keakraban antara Rin dengan Inuyasha serta yang lainnya, ada sebuah perasaan tidak menyenangkan yang dirasakannya. Bagaimana jika gadis mansia itu mengubah pilihannya? Bagaimana jika melihat dunia manusia dengan matanya yang sudah beranjak besar, dia akan berkeinginan hidup di sana? Meninggalkannya untuk selamanya.
"Katakan pada Ibunda," ujar Inukimi yang masih duduk di atas punggung Ah-un tiba-tiba. "Apa yang menganggu pikiranmu Rin kecil?"
Pertanyaan Inukimi membuat Rin berhenti berjalan dan membalikkan badan menghadap ibu angkatnya tersebut. Tersenyum, dia kembali menggeleng kepala. "Tidak ada, Ibunda. Tidak ada yang menganggu pikiran Rin."
Inukimi tidak mempercayai jawaban Rin. Namun, melihat senyum di wajah cantik itu, dia tidak menemukan suara untuk menuntut jawaban jujur darinya. Inuyoukai mantan Penguasa Tanah Barat itu sadar, dirinya memang tidak pernah dapat melawan senyum itu, seakan ada kekuatan yang membuatnya tidak berdaya.
Menghadap ke depan, Rin kembali melangkah mengikuti setiap langkah kaki Sesshoumaru dalam diam.
Tidak ada suara tawa, nyanyian maupun pertanyaan-pertanyaan tidak henti, Sesshoumaru tahu, memang ada sesuatu yang menganggu pikiran gadis itu. Rin bukan tipe seseorang yang dapat menyembunyikan masalah dari orang lain, dia bagaikan sebuah buku terbuka, semua yang dipikirkannya selalu terpampang jelas di setiap ekspresi dan tindak tanduknya. Membalikkan badan, mata Sesshoumaru menatap Rin. "Apa yang menganggu pikiranmu, Rin?"
Langkah kaki Rin langsung berhenti begitu mendengar pertanyaan Sesshoumaru. Mata coklat besarnya terbelalak karena terkejut. Bertanya-tanya dalam hati, dia tidak mengerti, kenapa siapapun bisa dengan mudah tahu ada sesuatu yang menganggu pikirannya? Dirinya tidak mudah dibaca semudah itu, kan?
Sesshoumaru menatap lurus Rin. Inuyoukai itu tidak akan mengulangi pertanyaannya, dan dia juga tidak akan menerima jawaban penuh kebohongan, gadis manusia itu tahu sekali. Mengigit bibir bawahnya, Rin mulai merasa panik. Namun, memang karena sifatnya yang tidak pernah dapat melawan kata-kata tuannya tersebut, diapun menutup mata dan menyeruakan pertanyaan yang terus menganggu pikirannya.
"Sesshoumaru-sama, apa itu cinta?"
Pertanyaan tidak terduga Rin langsung membuat Sesshoumaru tertegun, sedangkan Jaken dan Inukimi hanya bisa terbelalak menatap tidak percaya dengan apa yang mereka lihat dan dengar.
"R-Rin, jangan menanyakan sesuatu yang bo—" teriak Jaken.
Namun kalimatnya langsung terputus oleh suara tawa Inukimi. Menatap Rin, mata inuyoukai mantan Penguasa Tanah Barat itu berbinar karena lucu. "Pertanyaan yang bagus, Rin kecil," menatap Sesshoumaru, sebuah senyum menyeringai memenuhi wajahnya. "Sesshoumaru, kau bisa menjawabnya, kan?"
Menatap tajam Inukimi sejenak, Sesshoumaru kembali menatap Rin. Melihat mata coklat penuh kepolosan yang mengarah padanya, dia tahu, dirinya tidak memiliki pilihan lain selain menjawab pertanyaan gadis manusia itu.
Cinta.
Bertanya-tanya dalam hati, Sesshoumaru bertanya, apa itu cinta? Dalam hidupnya, dia hanya tahu, cintalah yang membuat Inuyasha lahir di dunia ini. Cintalah yang membuat ayahanda yang begitu dihormatinya jatuh dari puncak kejayaan. Cinta jugalah yang membuat ayahandanya menjadi lemah dan mati. Cinta? Sesuatu yang seperti itu, cinta yang bisa menyebabkan itu semua. Apa itu cinta? Dirinya tidak tertarik sedikit pun untuk mengetahuinya, apalagi merasakannya.
"Cinta adalah sebuah perasaan yang tidak berguna. Cinta adalah sesuatu yang akan membuatmu menjadi lemah dan musnah. Cinta adalah kelemahan."
Jawaban Sesshoumaru seketika juga membuat Inukimi mengerutkan keningnya. Jawaban itu, dia memang sudah menduganya, walau dirinya mengharapkan jawaban yang berbeda sekarang.
"Perasaan tidak berguna..." gumam Rin pelan. Sesshoumaru yang tahu segalanya tidak mungkin salah, cinta adalah perasaan tidak berguna, sesuatu yang membuatmu menjadi lemah dan musnah; kelemahan. Tapi, mengingat kebahagiaan di wajah Inuyasha dan Kagome akan cinta, Rin tidak dapat berpikir seperti itu. Kenapa mereka bisa bahagia seperti itu, padahal cinta adalah sebuah kelemahan?
__ADS_1
"Cinta adalah suatu perasaan manusiawi," sela Inukimi tiba-tiba dan membuat Rin segera menoleh kepala menatapnya. "Sesuatu yang tidak dapat dimengerti kecuali kau merasakannya."
"Perasaan manusiawi? Merasakannya? Apakah itu artinya youkai tidak bisa merasakan cinta, Ibunda?"
Inukimi tertawa kecil mendengar pertanyaan Rin. Turun dari punggung Ah-un, dia berjalan mendekati gadis manusia tersebut. "Tidak. Cinta bisa dirasakan siapa saja, termasuk youkai."
Jawaban Inukimi membuat Rin semakin bingung. "Rin tidak mengerti, Ibunda. Cinta itu sebenarnya apa?"
Tersenyum, Inukimi mengangkat tangannya membelai lembut rambut putri angkatnya. "Sayang. Cinta adalah perasaan sayang, Rin kecil."
"Eh!" seru Rin terkejut. Matanya terbelalak. "J-jadi, rasa sayang Rin pada bunga dan binatang-binatang di hutan. Rasa sayang Rin pada Kiri-sama, Kira-sama, serta lainnya, juga rasa sayang Rin pada Jaken-sama dan Ibunda merupakan cinta?"
Pertanyaan yang sungguh polos, Inukimi hanya dapat berpikir, selain gadis di depannya, dirinya tidak akan mungkin lagi bisa menemukan makhluk hidup dengan kepolosan seperti ini. "Ya," mengangkat kepala ke atas, mata emas Inukimi menatap langit biru di atas. "Apa yang kau rasakan padaku, bunga dan yang lainnya memang merupakan cinta. Tapi, cinta sendiri memiliki berbagai jenis. Cinta pada alam, cinta pada teman," matanya kemudian jatuh pada sosok Rin yang menatapnya serta Sesshoumaru yang tetap tanpa ekspresi. "Cinta pada keluarga..."
Penjelasan Inukimi membuat Sesshoumaru yang mendengarnya mendengus pelan. Mendengar inuyoukai yang melahirkannya menjelaskan cinta, dia merasa lucu. Cinta? Apakah Ibundanya mengerti cinta? Mereka adalah youkai, dan youkai tidak memerlukan perasaan. Membalikkan badan, Sesshoumaru kemudian kembali melangkah kakinya.
"Youkai adalah makhluk paling superior di dunia. Tidak ada gunanya berperasaan. Perasaan hanya membuatmu lemah. Perasaan hanya akan membuatmu musnah. Youkai adalah makhluk yang dapat hidup sendiri," ujar Sesshoumaru pelan tanpa menoleh kepala kepada Rin maupun Inukimi. "Apakah kau sudah lupa, Ibunda?"
Kutipan serta pertanyaan Sesshoumaru membuat Inukimi tertegun. Namun, sejenak kemudian sebuah senyum mengembang di wajahnya, senyum yang tidak dimengerti siapapun. Cinta? Apakah dirinya mengerti cinta? Sejujurnya, Inukimi tahu apa itu cinta. Memang berbeda dengan cinta yang dirasakan Inu No Taisho terhadap Izayoi, tapi, dirinya tahu apa itu cinta. Pertama kali dia merasakannya apa itu cinta adalah saat dia menyadari untuk pertama kalinya telah hadir sebuah kehidupan baru dalam rahimnya. Ya! Dia tahu apa itu cinta. Cinta pada anaknya, putra satu-satunya—cintanya sebagai seorang ibu.
Kutipan yang diucapkan Sesshoumaru barusan adalah kutipan kuno yang diajarkan turun-temurun dalam dunia youkai. Sama seperti dirinya yang diajarkan oleh kedua orang tuanya, Inukimi juga mengajarkannya pada Sesshoumaru. Tapi, putranya itu, mungkin selamanya tidak akan mengerti maksud dirinya mengajarkan kutipan itu. Di dunia di mana yang kuatlah yang hidup, sedangkan yang lemah mati; kutipan itu sungguh tidak salah. Dia mengajarkan itu agar putranya bisa bertahan dan hidup di dunia yang keras ini. Mungkin putranya akan tumbuh besar tanpa pernah mencintainya, dia sadar akan konsenkuensi itu, tapi, tidak apa-apa. Bagi seorang yang telah menjadi ibu di dunia, meski tidak akan dicintai, meski tidak akan dipedulikan, mereka sudah puas dan bahagia jika anak mereka hidup.
Rin yang mendengar kutipan Sesshoumaru menjadi semakin bingung. Dirinya benar-benar tidak mengerti sekarang. Saat Inukimi menjelaskan apa itu cinta, dia merasa sedikit mengerti akan apa arti sesungguhnya dari cinta. Namun, mendengar apa yang dikatakan Sesshoumaru, dia kembali bingung. Mengangkat kepala menatap Inukimi, dengan pelan, tangannya menarik ujung lengan kimono inuyoukai mantan Penguasa Tanah Barat itu. "Ibunda, jika cinta ada banyak macam, termasuk cinta apa, cinta yang Rin lihat di antara Inuyasha-sama dan Kagome-sama?"
Pertanyaan Rin seketika juga membuat Inukimi kembali menatap gadis manusia di depannya. Tersenyum lembut, dia kembali membelai pelan rambut hitam sang gadis. "Itu adalah cinta kekasih, Rin kecil."
"Itu adalah cinta terbesar yang hanya kau rasakan pada seseorang yang bukan keluargamu. Cinta pada seseorang yang merupakan lawan jenismu. Seseorang yang paling berharga, tidak tergantikan—cinta pada seseorang yang dimana kau tidak akan dapat hidup tanpanya."
Cinta terbesar. Cinta pada seseorang yang bukan keluarga. Cinta pada lawan jenis-seseorang yang paing berharga, seseorang yang tidak tergantikan, seseorang yang tanpanya, dirinya tidak akan dapat hidup. Berusaha mencerna kata itu, Rin hanya dapat kembali berpikir dan berpikir. Cinta adalah sayang. Apakah dirinya pernah merasakan sayang pada seseorang yang bukan keluarganya? Seseorang yang merupakan lawan jenis, sangat berharga, tidak tergantikan9—seseorang yang dimana tanpanya, dirinya tidak akan dapat hidup.
Memikirkan kata-kata itu, sedetik juga, wajah seseorang langsung muncul dengan sangat jelas dalam benak Rin. Tidak dapat dimengertinya, perasaan hangat memenuhi seluruh tubuhnya. Hatinya langsung berdetak cepat, dan dia bisa merasakan kebahagiaan yang tidak terkira dalam hati. Senyum lebar langsung merekah di wajah cantiknya. Cinta yang seperti itu, rasa sayang yang seperti itu, dirinya tahu. Ya! Dia sudah pernah merasakannya! Sejak dulu-dulu sekali-perasaan yang hanya pernah dia rasakan pada seseorang.
"Ibunda!" panggil Rin penuh semangat dan menunduk kepala member hormat. "Terima kasih. Rin mengerti sekarang! Rin tahu apa itu cinta sekarang," mengangkat kepala dia kembali menatap Inukimi. "Rin sudah pernah merasakannya, Ibunda. Sudah sejak dulu-dulu sekali. Sejak Rin masih kecil, ternyata Rin sudah merasakan cinta kekasih. Cinta yang sama dengan cinta antara Inuyasha-sama dan Kagome-sama. Ternyata, Rin sejak dulu sudah mencintai!"
Senyum Inukimi lagsung menghilang, digantikan kebingungan mendengar ucapan Rin. Jaken menatap bingung gadis itu, sedangkan Sesshoumaru yang ada di depan, langkah kakinya langsung terhenti. Membalikkan badannya menatap gadis itu, ada kemarahan yang muncul dalam hatinya; kemarahan yang ditujukan pada orang yang dicintai Rin. Siapa? Siapa orang itu? Orang yang dicintai Rin, dia akan membunuhnya! Dia tidak akan membiarkan Rin mencintai orang lain!
Membalikkan badan menghadap Sesshoumaru, tidak mempedulikan siapapun juga, dengan senyum lebar menawan, dia langsung berlari ke arah inuyoukai itu. Mata coklatnya berbinar penuh kebahagiaan menatap mata emas tersebut saat dia tiba di depannya. "Rin tahu sekarang," tawanya riang. "Cinta. Rin mencintai anda Sesshoumaru-sama."
Mata semua yang ada di sana langsung terbelalak karena terkejut dengan pengakuan cinta gadis manusia itu yang tiba-tiba.
Membuka lebar kedua tangannya, senyum di wajah Rin menjadi semakin lebar dan lebar. "Lebih tinggi dari langit, lebih dalam dari laut, lebih besar dari dunia, lebih dari hidup Rin sendiri. Lebih dari segala-galanya, sebesar itulah cinta Rin untuk Sesshomaru-sama."
Mata Inukimi dan Jaken yang terbelalak hanya semakin terbelalak, begitu juga dengan Sesshoumaru. Pengakuan cinta yang sungguh sangat polos di depannya sekarang, benar-benar telah berhasil membuat inuyoukai Penguasa Tanah Barat itu kehilangan suaranya, bahkan, dia bisa merasakannya, jantungnya yang terhenti sejenak dengan kalimat gadis itu, kini berdetak dengan luar biasa cepat.
Masih menatap Sesshoumaru, tidak mempedulikan ekspresi terkejut yang ada, Rin mengangkat tangan kanan inuyoukai itu dan menempelkan telapak tangan tersebut pada pipinya. "Cinta adalah perasaan manusiawi. Cinta adalah perasaan tidak berguna. Cinta akan membuatmu lemah dan musnah; cinta adalah kelemahan. Rin tahu itu, tapi, Rin adalah manusia, jadi tidak aneh jika Rin merasakan cinta. Lalu, tidak apa-apa jika tidak berguna. Tidak apa-apa jika kelak Rin menjadi lemah dan musnah. Tidak apa-apa jika cinta Rin akan menjadi kelemahan Rin..."
Tidak tahu harus berbuat apa, Sesshoumaru hanya dapat tetap diam membisu menatap gadis manusia di depannya.
"Cukup Rin seorang saja yang mencintai Sesshoumaru-sama," Lanjut Rin sambil menutup mata. Senyum damai mengembang di wajahnya, dan dengan pelan, dia menekan semakin kuat namun lembut telapak tangan inuyoukai itu di pipinya. "Sesshoumaru-sama tidak perlu mencintai Rin. Sebab, Rin tidak mau Sesshoumaru-sama menjadi lemah. Rin ingin Sesshoumaru selamanya kuat, tanpa kelemahan."
__ADS_1
Sesshoumaru tetap tidak mengatakan apa-apa. Berdiri diam dia hanya dapat menatap gadis di depannya. Dan saat membuka mata, saat mata mereka bertemu, Rin langsung tahu, inuyoukai itu tidak mengerti maksud ucapannya. Tertawa kecil, gadis manusia itu kembali membuka mulut menjelaskan apa yang ada dalam hatinya.
"Rin bisa melihat betapa bahagianya Inuyasa-sama dan Kagome-sama karena cinta. Cinta bisa membuat seseorang lemah dan musnah, namun, tidak tahu mengapa, Rin juga merasa cinta bisa membuat seseorang bahagia. Karena itulah, jika dengan cinta Rin, Sesshoumaru-sama bisa merasa bahagia seperti Inuyasha-sama dan Kagome-sama, walau artinya Rin akan melemah dan musnah, Rin bersedia..."
Mata emas Ssshoumaru kembali terbelalak, penjelasan yang meluncur keluar dari mulut Rin, lagi-lagi merupakan sesuatu yang tidak pernah disangkanya. Namun, dirinya tidak dapat mempungkiri, betapa hangatnya hatinya—kehangatan yang membuatnya sangat sesak seakan tidak dapat bernapas.
"Antara Sesshoumaru-sama dan Rin, biarkan Rin seorang saja yang mencintai.."
Wajah itu, senyum itu, kebahagiaan itu, serta pengakuan cintanya itu, Sesshoumaru tidak dapat lagi menjelaskan perasaannya. Tidak pernah dia merasakan perasaan seperti ini sebelumnya, perasaan yang sangat asing dan sesak—perasaan hangat tiada taranya. Mengangkat tangan kirinya yang bebas, dia ingin mendekap gadis di depannya; tidak ingin gadis itu menghilang dari dirinya untuk selamanya.
"Rin!" teriak Jaken tiba-tiba. "Jaga sikapmu! Apa yang kau lakukan?!"
Suara teriakan Jaken seketika juga membuat Sesshoumaru menghentikan apa yang ingin dia lakukan. Menoleh wajah menatap Jaken, juga Inukimi, dia bisa melihat betapa terkejutnya mereka sekarang. Menurunkan tangan kirinya, inuyoukai itu hanya dapat bersyukur, hampir saja dia melakukan sesuatu yang bukan sikapnya.
"Rin tidak melakukan apa-apa, Jaken-sama." Jawab Rin polos sambil menatap Jaken. Melihat ekspresi terkejut yang segera berubah menjadi marah di wajah youkai katak tersebut, dia hanya dapat berpikir, apakah dia telah melakukan sebuah kesalahan?
"Tidak melakukan apa-apa!" balas Jaken lagi, berlari secepat yang dia bisa sambil menarik tali kekang Ah-un, dia langsung mendekati Sesshoumaru dan Rin. Youkai katak itu tidak lagi menjaga sikapnya, sebab perasaan terkejut dan marahnya telah membuat dirinya lupa akan keberadaan Inukimi yang ada di belakang. "Jaga sikap dan juga mulutmu, gadis bodoh! Jangan bersikap kurang ajar! Kau pikir kau siapa?!"
"Eh?" seru Rin bingung. "Rin tidak mengerti maksud anda Jaken-sama."
Kemarahan Jaken semakin memuncak. "Kau—"
"Hentikan, Jaken." perintah Sesshoumaru tiba-tiba memotong suara Jaken.
"T-tapi, Sesshoumaru-sama!" teriak Jaken lagi sambil menatap inuyoukai di depannya yang kini telah kembali berwajah tanpa ekspresi.
Tidak mengatakan apa-apa lagi, Sesshoumaru membalikkan badannya dan kembali melangkah kaki ke depan.
"Ah! Sesshoumaru-sama! Tunggu!" teriak Jaken cepat sambil mengejar inuyoukai Penguasa Tanah Barat tersebut tetap sambil menarik tali kekang Ah-un yang mendengus pelan.
Kebingungan, Rin segera menoleh wajah menatap Inukimi. "Ibunda, apakah Rin telah melakukan kesalahan? Melakukan sesuatu yang tidak sopan?" tanyanya pelan.
Tersadar dari perasaan tertegun dan juga terkejutnya, Inukimi yang menatap Rin tidak dapat lagi menyembunyikan tawanya. Mengangkat kepala ke atas, dia tertawa terbahak-bahak. Apa yang terjadi di depannya barusan, dalam mimpinya pun dia tidak pernah menyangkanya. Menatap Rin, Inukimi kemudian tersenyum. "Tidak. kau tidak melakukan kesalahan ataupun sesuatu yang tidak sopan, Rin kecil."
Jawaban Inukimi dengan segera membuat senyum kembali mengembang di wajah Rin. Menundukkan kepala sebagai tanda terima kasih, gadis manusia itu kemudian mebalikkan badan dan berlari mengejar Jaken, Ah-un dan Sesshoumaru.
Melewati Jaken serta Ah-un, berlari kecil di samping Sesshoumaru, mata coklat Rin kembali menatap wajah tidak berekspresi inuyoukai tersebut. Sebuah senyum bahagia dan damai kembali mengembang di wajahnya, "Sesshoumaru-sama," panggilnya pelan. "Boleh, kan? Bolehkan Rin mencintai Sesshoumaru-sama?"
Tidak sedikitpun Sesshoumaru menolehkan wajah menatap gadis manusia di sampingnya. Dirinya tidak mau, atau sejujurnya, tidak berani. Dia yang telah menguasai penguasaan diri berabad-abad, tidak memiliki kepercayaan diri untuk tidak menyentuh dan memeluk gadis itu jika menatapnya sekarang. Jantung yang terus berdetak cepat, perasaan hangat yang ada, tidak tahu mengapa, dirinya tidak membenci semua itu. Dia tidak keberatan sedikit pun dicintai Rin. Dia ingin gadis itu selamanya hanya akan mencintainya seorang.
"Lakukan yang kau suka."
Di belakang mereka, menatap sosok Sesshoumaru dan Rin, Inukimi tidak dapat berhenti tersenyum. Dia bisa mendengar betapa cepat dan kerasnya jantung Sesshoumaru berdetak sekarang, walau dia tidak menyuarakannya. Mengangkat kepala ke atas langit lagi, inuyoukai mantan Penguas Tanah Barat tersebut kembali tertawa keras.
Cinta.
Seorang gadis manusia yang seperti anak kecil, serta seorang youkai yang tidak mengerti apa itu cinta, diantara mereka, tanpa mereka sadari, sebenarnya, cinta itu sudah ada—cinta mereka yang benar-benar sangat lugu dan polos.
....xOxOx....
__ADS_1