![Till The End Of Time [ Inuyasha Fanfiction ]](https://asset.asean.biz.id/till-the-end-of-time---inuyasha-fanfiction--.webp)
"Kau masih merasa kecapekan atau tidak enak badan, Rin-chan?" tanya Kagome menatap Rin yang duduk di depannya.
Rin menggeleng kepala. "Tidak, Kagome-sama. Rin baik-baik saja."
"Baguslah," senyum Kagome. Namun, sejenak kemudian, dia kembali bertanya. "Apakah kau pernah seperti itu sebelumnya, Rin-chan? Kesulitan bernapas, merasa jantungmu sakit dan berdetak cepat sekali?"
Memikirkan pertanyaan Kagome, Rin hanya dapat mengigit bibir bawahnya dan mengangguk kepala.
Mata Kagome langsung menyipit. Senyum di wajahnya menghilang diganti ekpresi serius. "Kapan, Rin-chan?"
"Di istana tanah barat sebelum Rin dan Ibunda ke desa manusia," jelas Rin pelan. "Rin merasa kesulitan bernapas, tapi saat itu, jantung Rin tidak sakit, yang sakit hanya dada."
"Dada?" tanya Kagome lagi.
Rin menggeleng kepala dan menunduk kepala ke bawah. "Mungkin tepatnya–hati Rin yang sakit."
Jawaban Rin membuat Kagome diam membisu. Menghela napas, dia mengelus kepala gadis di depannya dengan lembut. Sepertinya dia tahu apa penyebab semua sakit itu sekarang. "Kau mau menceritakan padaku semuanya, Rin-chan? Aku akan mendengarnya dengan baik."
"Eh?" ucapan Kagome membuat Rin tertegun. Dia mengangkat kepala menatap miko masa depan tersebut.
"Dalam kamar ini hanya ada kita berdua," senyum Kagome, tangannya terus mengelus kepala Rin. "Aku tidak akan memberitahu siapapun apa yang akan kau ceritakan."
Kagome mengusir Inuyasha dan yang lainnya termasuk Inukimi dari kamar tidur Rin beberapa saat yang lalu. Miko masa depan itu ingin memeriksa kesehatan gadis manusia itu dengan saksama. Meski ilmu kedokterannya tidak semaju masa depan, tapi dengan pengetahuan dan ajaran dari Kaeda, dia cukup percaya diri dalam mendiagnosis serta menyembuhkan penyakit seseorang.
Wajah pucat pasi, napas tidak beraturan, jantung yang sakit dan berdetak cepat tidak normal pada Rin yang dilihatnya hari itu dalam tenda, jelas bukanlah sesuatu yang dapat diabaikan Kagome. Namun, memeriksa seperti apapun, gadis manusia itu sehat. Dan melalui jawaban tadi, miko masa depan yakin, akar dari semua itu mungkin adalah keadaan psikolog Rin.
Rin adalah gadis manusia yang lahir pada masa penuh kekacauan. Dia melihat sendiri keluarganya mati di tangan manusia pada usia muda. Diasingkan manusia, hidup dalam kesendirian dan kekurangan, lalu akhirnya–mati pada taring serigala.
Siapapun yang melalui hidup seperti itu semasa kecil, Kagome yakin, orang itu pasti akan mengalami trauma yang sangat dalam. Karena itu, melihat Rin masih bisa tersenyum dan tertawa, Miko masa depan mengakui, gadis manusia itu adalah manusia terkuat yang pernah ditemuinya. Dirinya tidak bisa membayangkan apa yang akan terjadi jika dia berada dalam posisi Rin?–mungkin dia akan membenci dunia ini.
Adalah sebuah keajaiban, Rin bisa tumbuh besar seperti ini. Hina, kotor dan hitam dunia seakan tidak pernah menyentuhnya, dia tetap baik, hangat dan polos.
Ya, Rin polos. Saking polosnya, dia seperti anak kecil. Dan sejak dia dihidupkan oleh Sesshoumaru, dia selalu bersama inuyoukai itu. Rin adalah gadis manusia yang tumbuh besar dalam dunia youkai. Cara pikirnya berbeda dengan manusia pada umumnya, apalagi masalah perasaan yang bagaikan hal tabu bagi youkai.
Meski merasakannya, Rin tidak akan pernah mengerti perasaannya; cinta yang tumbuh dalam hatinya. Jika dibiarkan, gadis manusia itu akan tersesat dalam perasaannya sendiri. Karena itu, sebagai keluarganya, Kagome tahu, dia harus membantunya.
"Ceritakanlah padaku semua yang menggangjal hatimu, Rin-chan," tersenyum, Kagome kemudian memeluk Rin. Menempatkan wajah gadis itu di dada, tangan kanannya mengelus pelan punggung hime dari barat tersebut. "Aku akan mendengarnya."
Ucapan dan perlakuan Kagome membuat air mata Rin mengalir turun. Dengan tangan bergetar, dia membalas pelukan itu. "R-rin tidak mengerti, Kagome-sama."
"Apa yang tidak kau mengerti Rin-chan?" tanya Kagome pelan, dia terus mengelus punggung Rin tanpa menatapnya.
"Rin tidak mengerti kenapa semua jadi seperti ini. R-rin kira cukup Rin seorang yang mencintai Sesshoumaru-sama. T-tapi sekarang, Rin menjadi tamak dan serakah, Rin menginginkan Sesshoumaru juga mencintai Rin."
Kagome bisa mendengar isak tangis Rin dalam pelukannya. Namun, dia tetap diam dan membiarkan gadis itu menyelesaikan ceritanya.
"Rin tidak ingin Sesshoumaru-sama menikah dengan yang lain. Lalu, Rin juga tidak mengerti, kenapa Sesshoumaru-sama marah. Suara dan wajah penuh kemarahan Sesshoumaru-sama, R-rin takut.. B-bagaimana jika Sessgoumaru-sama tidak menginjinkan Rin tinggal bersamanya lagi?"
Suara Rin semakin bergetar, begitu juga dengan badannya. Kagome tetap tidak mengatakan apa-apa, dia mengeratkan pelukannya.
"Sekarang, Rin sadar, Kagome-sama. Cinta tidak seperti yang kira selama ini. R-rin dulu selalu berpikir cinta adalah kebahagiaan, tapi, ternyata cinta itu menyakitkan. Sakit sekali–dan Rin, R-rin tidak mau Sesshoumaru-sama merasakan sakit seperti ini."
Menutup mata, Rin tertawa pelan dalam isak tangisnya, suaranya makin lama makin mengecil. "Rin tidak menginginkan cinta Sesshoumaru-sama jika seperti itu. T-tapi Rin tidak bisa berbohong, sebab satu sisi dalam hati Rin, Rin tetap menginginkan cinta Sesshoumaru-sama. R-rin sangat membenci cinta ini sekarang.."
Kagome tersenyum kecil mendengar cerita Rin. Betapa polosnya gadis manusia ini, dan juga, betapa tulus cinta yang diberikannya pada Sesshoumaru. Cintanya yang besar membuat dia menempatkan inuyoukai itu di atas segalanya–diatas dirinya sendiri.
"Rin-chan," Kagome memanggil pelan Rin tanpa mengubah posisi mereka. "Apakah kau menyesal mencintai Kakak?"
Pertanyaan Kagome membuat Rin tertegun. Melepaskan pelukannya, dia menatapa Kagome.
"Apakah kau menyesal mengenal Kakak sekarang, Rin-chan? Jika kau tidak mengenalnya, kau tidak akan merasakan ini semua, kan?" tanya Kagome pelan.
Mata Rin terbelalak, dia segera menggeleng kepala. "Tidak! R-rin tidak pernah ada jika Rin tidak mengenal Sesshoumaru-sama."
Tersenyum lagi, Kagome menoleh wajah ke luar jendela yang terbuka, menatap langit biru di luar sana. "Kau tahu, Rin-chan. Aku tidak berasal dari jaman ini. Jauh di depan, di masa depan–aku berasal dari sana. Di sana, aku memiliki keluarga, teman dan orang-orang yang menyayangiku.."
Menatap dalam diam, Rin tertegun mendengar ucapan Kagome.
"Aku terdampar ke dunia ini tiba-tiba. Di sini, aku bertemu Inuyasha. Kami melakukan perjalanan panjang mencari shinkon no tama, dan perlahan, aku mencintainya," lanjut Kagome lagi dengan senyum yang masih ada di wajah. "Dua dunia yang berbeda dengan ruang waktu yang tidak sama. Aku sadar, kami tidak seharusnya bersama. Tapi, cintaku nyata. Meski kembali ke duniaku, aku tetap ingin bersamanya."
"Aku membuang semuanya Rin-chan. Dunia tempatku lahir dan tumbuh besar. Ketahuilah itu tidak mudah. Meninggalkan mereka yang menyayangi dan kusayangi–sangat menyakitkan. Aku melakukan itu semua karena cintaku," menoleh wajahnya kembali pada Rin, Kagome tertawa kecil. "Aku tamak dan serakah, kan? Jelas-jelas tahu itu tidak benar, tapi aku tetap melakukannya supaya bisa memiliki Inuyasha–supaya bisa bersamanya."
"Kagome-sama.." Rin bisa melihatnya, meski tertawa, ada kesedihan di wajah Kagome.
"Tapi aku tidak menyesal, Rin-chan," senyum Kagome lagi. "Cinta yang mungkin salah ini, aku tidak membencinya. Dan aku belajar, cinta tanpa keinginan memiliki bukanlah cinta. Cinta tanpa perasaan sakit dan sedih juga bukanlah cinta. Cinta itu tidak terdefinisikan. Namun, cinta itu indah, karena itulah cinta memerlukan sesuatu, yakni;–keberanian."
Rin terdiam membisu berusaha mencerna apa yang diucapkan Kagome.
Perlahan, tangan Kagome terangkat menghapus jejak air mata di wajah Rin. "Jangan membenci cintamu, Rin-chan. Ingin memiliki, ingin bersama, merasa sakit, merasa sedih adalah bagian dari cinta. Beranikanlah dirimu menerima itu semua.."
__ADS_1
....xOxOx....
"Di mana, Rin, Kagome?" tanya Inuyasha pada Kagome yang duduk di teras kamar menatap langit biru di luar.
Kagome menoleh kepala dan menatap Inuyasha sambil tersenyum. "Akihiko-san mengajaknya mengunjungi kota manusia terdekat."
"Dan kau membiarkannya???" tanya Inuyasha lagi.
"Kenapa kau khawatir seperti itu, Inuyasha," tawa Kagome melihat reaksi Inuyasha. "Bukankah semalam kau juga sudah setuju dengan rencana kami untuk membiarkan Rin-chan dan Akihiko-san?"
Inuyasha terdiam mendengar pertanyaan Kagome. Berdecak tidak suka, dia berjalan mendekati miko masa depan itu dan duduk di sampingnya. Melipat tangan di dada, inuhanyou itu membuang muka. "Rin itu adikku. Aku tidak ingin sesuatu yang buruk terjadi padanya."
Kagome kembali tertawa. "Kurasa Akihiko-san tidak akan mencelakai Rin-chan. Kau mengkhawatirkan sesuatu yang tidak diperlukan."
"Kalian semua terlalu mempercayai serigala berengsek itu." cibir Inuyasha kesal. Dia benar-benar tidak mengerti kenapa istri dan teman-temannya masih bisa begitu tenang dan santai. Saat Rin berduaan dengan Akihiko mengunjungi kota manusia, Miroku dan Sango dengan santai menikmati bunga sakura di istana tanah selatan berduaan, Inukimi menghilang tidak tahu ke mana dan Kagome beristirahat dalam kamar–apa hanya dirinya seorang saja yang masih waras?
Kagome tersenyum melihat sikap Inuyasha yang masih saja menggerutu tidak jelas. Namun, melihat inuhanyou itu, mau tidak mau dia kembali teringat dengan pembicaraannya barusan dengan Rin. Tentang masa lalu dan dunianya, pilihan yang diambilnya, keberanian dalam hatinya–cintanya.
Tertawa lepas, Kagome kemudian menyandarkan kepala pada pundak Inuyasha. "Inuyasha." panggilnya pelan.
"Apa?" tanya Inuysha sambil menatap Kagome dengan wajah yang masih penuh kekesalan.
Memajukan wajahnya, Kagome menutup mata dan mengecup pelan bibir Inuyasha. "Aku mencintaimu."
"A-apa-apaan kau, Kagome?" wajah Inuyasha berubah menjadi merah karena ciuman dan pengakuan dari Kagome.
Kagome tertawa semakin keras melihat sikap Inuyasha. Mengangkat tangan, dia memeluk erat inuhanyou itu dengan segenap perasaan.
Dalam hidupnya ini, dari segala yang terjadi, pilihan dan juga cintanya–Kagome tahu, dia tidak akan menyesal. Cinta yang seperti ini indah, bukan?
....xOxOx....
Dari atas langit, Rin yang duduk di tangan Akihiko menatap kota manusia di bawahnya. Kota manusia itu tidak begitu besar, namun bangunan kota yang megah membuat dia tahu bahwa kota itu adalah kota yang cukup makmur.
Terlihat jelas kios-kios kecil memenuhi pasar dan para penduduk kota yang beraktivitas dengan wajah penuh senyum. Kota ini juga merupakan kota yang damai dan aman
Terbang turun, Rin bisa melihat beberapa penduduk kota berteriak ketakutan melihatnya dan Akihiko. Dia bisa memakluminya, siapa yang tidak takut, jika seorang youkai tiba-tiba muncul di tengah kota seperti ini.
Namun, Akihiko tidak peduli. Menginjak kaki ke bawah, dia menurunkan Rin. Tersenyum, dia menutup kepala Rin dengan jaket kimono berwarna biru yang dipakai gadis manusia itu. "Matahari siang cukup terik, jangan sampai kau kepanasan Rin."
Rin mengangguk kepala dan membiarkan Akihiko mengandeng tangannya. Perlahan, mereka berjalan memasuki pasar yang ramai di depan.
Semua pasang mata terarah pada Rin dan Akahiko, namun tidak ada seorang pun yang melarikam diri. Seakan keberadaan youkai yang tiba-tiba berbaur di antara mereka adalah hal biasa.
"Di depan sana ada kios yang menjual namagashi yang terkenal di kota ini, Rin. Kau harus mencobanya."
Suara tawa Akihiko membuat Rin menoleh wajah menatap penguasa tanah selatan itu. Namun, dia tetap diam membisu.
Tidak menunggu jawaban Rin, penguasa tanah selatan itu menarik tangannya menuju kios permen yang dikelola seorang laki-laki setengah baya.
"S-selamat siang, Akihiko-sama," senyum laki-laki itu melihat Rin dan Akihiko yang berdiri di depan kiosnya. "Anda ingin membeli namagashi?"
"Iya," menoleh pada Rin yang ada di samping, Akihiko tersenyum. "Pilihlah, Rin. Namagashi di sini terkenal dengan bentuknya yang unik."
Rin mengangguk kepala. Menatap namagashi yang dijual, dia bisa melihat berbagai macam bentuk unik dari permen itu. Ada yang berbentuk bunga, boneka hingga binatang. Semua terlihat sangat cantik dengan warna yang menarik.
"Rin ingin bunga sakura, bunga tanpopo dan anjing putih," Rin lalu menoleh wajah menatap Akihiko. "Akihiko-sama, anda ingin yang bentuk apa?"
Senyum Akihiko semakin lebar mendengar pertanyaan Rin. "Kau pilihkan saja untukku, Rin."
Mengangguk kepala lagi, Rin kembali memilih beberapa namagashi untuk Akihiko.
Pemilik kios segera membungkus permen yang dipilih Rin. Dengan senyum yang ada di wajah, penuh hati-hati dan kesopanan, dia memberikannya pada gadis manusia itu. "Silakan, hime-sama."
Rin menerima permen itu tanpa mengatakan apa-apa. Dia menatap lurus pemilik kios yang masih tersenyum. Namun, makin lama senyum itu makin aneh, dia bisa melihat keringat dingin yang kini mengalir turun dari kening laki-laki tersebut.
"Ini uangnya, tidak perlu kembali lagi." suara Akihiko dengan segera membuat pemilik kios melepaskan pandangannya dari Rin.
Menerima uang dari Akihiko, pemilik kios membungkukkan badan berterima kasih.
Tidak peduli dengan Rin yang masih menatap laki-laki itu, penguasa tanah selatan itu merebut bingkisan namagashi di tangan gadis manusia itu.
Tersenyum, Akihiko kembali mengenggam tangan Rin. "Ayo, kota ini ada banyak makanan enak dan barang-barang indah yang bisa kau nikmati, Rin."
Membiarkan Akihiko menuntunnya, Rin tetap tidak mengatakan apa-apa. Gadis manusia itu bisa melihat para pemilik kios melayani mereka dengan baik, dan juga para penduduk kota yang tidak keberatan sedikitpun dengan kehadiran mereka. Malahan, seluruh penghuni kota sepertinya menerima mereka, senyum dan anggukan kepala penuh kesopanan diberikan jika mata mereka tidak sengaja bertemu.
Menatap punggung Akihiko yang ada di depannya serta keanehan di kota ini, mau tidak mau, seulas senyum kecil melintas di wajah cantik Rin. Namun, tiba-tiba sebongkah batu kecil melesat cepat ke arahnya.
"Mati kau penghianat!!!"
__ADS_1
Suara teriakan seorang anak kecil terdengar keras. Lalu, sedetik kemudian, Rin menemukan dirinya berada dalam pelukan Akihiko yang melindunginya dari lemparan batu tersebut.
"Kembalikan seluruh keluargaku, youkai!!"
Terkejut, Rin segera menolehkan matanya ke sumber suara. Tidak jauh di depannya, dia melihat seorang gadis kecil berusia sekitar delapan tahun menatapnya dan Akihiko tanpa takut. Badan gadis kecil itu sangat kotor dan penuh luka, sekali lihat, Rin tahu, gadis kecil itu adalah seorang gadis yatim piatu.
Akihiko menatap penuh kemarahan gadis kecil tersebut. Mata biru langitnya memerah, bibirnya terangkat memperlihatkan taringnya yang panjang.
Para penduduk kota yang melihat kemarahan Akihiko segera berlutut memohon ampun. Sedangkan untuk gadis kecil yang melemparkan batu itu, wajahnya memucat dengan badan bergemetaran hebat.
"Kau!! Beraninya kau!!" Suara penuh kemarahan Akihiko membuat suasana kota yang tadinya damai menjadi mencekam.
"Akihiko-sama," suara tenang dan pelan Rin tiba-tiba memecahkan suasana mencekam yang ada. Tangan mungilnya yang bebas menyentuh pipi penguasa tanah selatan itu dengan pelan. "Tidak apa-apa, Akihiko-sama."
Suara dan sentuhan hangat Rin dengan segera meredakan kemarahan Akihiko. Menoleh wajahnya menatap gadis dalam pelukannya, penguasa tanah selatan itu segera tertegun, sebab, seulas senyum kecil kini menghiasi wajah cantik itu.
Rin tersenyum.
Akhirnya setelah sekian lama, gadis manusia itu tersenyum. Dia tidak tahu apa penyebab Rin tersenyum, tapi dia yakin, senyum ini, meski kecil tertuju padanya, Akihiko dari selatan bukan pada Sesshoumaru dari barat.
Melepaskan diri dari pelukan Akihiko dan membuka jaket kimono yang menutupi wajah, Rin melangkah maju mendekati gadis kecil yang menatapnya penuh ketakutan.
"Maafkan kami, hime-sama! Ampuni kami!! Gadis kecil itu tidak ada hubungannya dengan kami semua!!"
"Benar hime-sama!! Gadis kecil itu bukan bagian dari kota kami!"
Teriakan demi teriakan meminta maaf dan ampun terdengar memenuhi kota, begitu juga dengan penyataan bahwa gadis kecil yang melempar batu bukanlah bagian dari mereka.
Namun, Rin tidak mempedulikannya, dia tetap berjalan mendekati gadis kecil itu. Saat dia telah tiba di depanya, hime dari barat itu berjongkok ke bawah hingga pandangan mata mereka sejajar.
Gadis kecil dengan badan kotor dan penuh luka, sebatang kara tanpa keluarga, diasingkan serta ditolak para penduduk kota–pertama kali melihatnya, Rin melihat dirinya di masa lalu; masa di mana dia belum mengenal Sesshoumaru.
"Kenapa kau menyebut Rin, penghianat?" tanya Rin pelan. Mata coklatnya menatap lurus gadis kecil tersebut.
Pertanyaan Rin membuat gadis kecil itu terkejut. Dan perasaan terkejut itu menghilangkan ketakutan dalam dirinya–menggantikannya kembali dengan kemarahan.
"Kenapa kau menghidupi para youkai itu!!? Mereka telah membunuh seluruh keluargaku!! Lebih baik mereka semua mati!" teriakan penuh kemarahan gadis kecil itu memenuhi kota yang kini sunyi tanpa suara. "Kau kira dengan membangun kota menjadi semegah ini dan memberikan uang pada penduduk kota, mereka akan menerimamu??! Selamanya, kau adalah penghianat manusia!!"
"Diam!!" suara penuh kemarahan Akihiko kembali terdengar membuat gadis kecil tersebut ketakutan.
Rin menoleh kepalanya menatap Akihiko yang penuh kemarahan dan kembali tersenyum kecil. "Tidak apa-apa, Akihiko-sama."
Senyum hime dari barat sekali lagi membuat Akihiko kembali tertegun. Kebingungan memenuhi dirinya, penguasa tanah selatan itu ingin sekali membunuh dan menutup mulut gadis kecil yang dengan berani membeberkan rahasia kota manusia ini pada Rin. Hanya saja, dia tidak bisa, sebab Rin ada di depannya sekarang.
Kota manusia ini adalah kota yang sengaja dibantunya. Membangun bangunan megah, memakmurkannya serta memberikan uang pada penduduk kota, Akihiko menginginkan penduduk kota ini menuruti perintahnya–perintah untuk menerima dan menghormatinya. Sebab, penguasa tanah selatan ingin menunjukkan pada Rin; tidak seperti barat dan Sesshoumaru, dia menerima manusia dan manusia menerimanya.
Melihat Akihiko yang kembali tenang, Rin menolehkan wajah pada gadis kecil yang ketakutan di depannya lagi. Namun, dia tetap tidak mengatakan apa-apa.
Rin tidak terkejut dengan ucapan gadis kecil itu, sebab dari awal menginjakkan kaki ke kota ini, dia sudah merasakan keanehan. Penduduk kota memang menerimanya dan Akihiko penuh senyum, tetapi dibalik senyum mereka, dia juga bisa melihat; ketakutan.
Kota ini tidak seperti sedamai dan semakmur yang terlihat. Itu semua hanyalah rekayasa–rekayasa Akihiko untuk membuatnya gembira. Dan Rin sangat berterima kasih untuk itu.
Lalu,
Untuk gadis kecil yang menyebut dirinya penghianat, Rin juga tidak marah. Dia menghidupkan para youkai saat perang barat dan selatan adalah kenyataan. Dari sekian banyak youkai yang dihidupkannya, berapa dari mereka adalah pembunuh manusia? Penghancur kota dan desa manusia–musuh manusia.
Hidup lima belas tahun lebih di dunia ini, antara dunia manusia dan dunia youkai, Rin baru mengetahui, ternyata dunia tidak seperti yang dilihatnya. Dulu dia menghidupkan para youkai karena mereka juga memiliki keluarga dan orang yang disayangi, namun, sekarang, dia sadar, menghidupi youkai sama halnya dengan menghidupi musuh dari manusia.
Yang dilakukannya adalah pedang bermata dua. Semuanya berefek, saling berhubung bagaikan sebuah lingkaran. Ternyata dunia youkai dan dunia manusia adalah dunia yang terhubung; dunia yang sama.
Mengangkat kedua tangannya, perlahan, Rin kemudian berlutut dan memeluk gadis kecil itu dengan erat. Kedua mata coklatnya tertutup, dan dia berucap pelan. "Maaf. Maafkan Rin.."
Maaf untuk apa yang dilakukannya, maaf untuk pilihannya menghidupkan para youkai. Apakah Rin menyesal sekarang?–tidak. Dia tidak meminta maaf karena menyesal. Dia meminta maaf karena jika diberikan pilihan, dia tetap akan melakukan pilihan yang sama. Pada perang itu, ada banyak youkai yang disayanginya gugur. Mereka yang bagaikan keluarga baginya–mereka yang dicintainya.
Cinta tidak selamanya kebahagiaan.
Cintanya pada para youkai yang bagaikan keluarga membawakan kebahagiaan pada Rin, tapi cinta itu juga membawakan kesedihan pada orang lain. Apa yang dikatakan Kagome benar, cinta itu tidak terdefinisikan, tapi cinta itu indah, karena itulah cinta membutuhkan–keberanian.
Hati Rin terasa hangat sekarang, dia merasa damai. Dia sudah mulai mengerti apa itu cinta sekarang, dan yang paling penting, dia kini telah menemukannya–keberanian mencintai.
....xOxOx....
Di atas atap istana tanah selatan, Inukimi berbaring dengan nyaman. Matahari siang sama sekali tidak menganggunya, malahan dia menikmati paparan sinar matahari yang menimpahnya.
Mantan penguasa tanah barat itu mulai merasa bosan meski baru satu hari dilewatinya di istana tanah selatan ini. Hanami yang dikatakan Akihiko sampai sekarang masih belum jelas, dan dia tahu, penguasa tanah selatan itu akan mengundur acara itu terus supaya Rin akan tinggal lebih lama di sini.
Serigala kecil yang licik. Inukimi mengakui bahwa Akihiko benar-benar merencanakan dengan baik kiat-kiat untuk memenangkan hati Rin, berbeda sekali dengan putra kandungnya yang bodoh.
Menghela napas, Inukimi kemudian menutup mata. Namun, sedetik kemudian, dia segera membukanya kembali. Bangkit dari posisi berbaringnya, dia duduk dengan senyum lebar menghiasi wajah cantiknya.
__ADS_1
Dari kejauhan, Inukimi bisa merasakan aura youkai yang sangat mengerikan namun tidak asing mengarah ke istana tanah selatan.
....xOxOx....