Till The End Of Time [ Inuyasha Fanfiction ]

Till The End Of Time [ Inuyasha Fanfiction ]
Chapter 44


__ADS_3

"Apa yang membuatmu gembira seperti ini, Rin-chan?" tanya Kagome pada Rin yang menatap Shiro tertidur lelap setelah bermain dengannya. Mereka duduk di dalam teras kamar Rin sambil menatap hamparan salju yang menutupi pandangan sorenya musim dingin.


"Eh?" membalikkan wajahnya terkejut, Rin menatap Kagome. "Kenapa anda bertanya seperti itu, Kagome-sama?'


"Kau tidak henti-hentinya tersenyum dari tadi. Dan aku tahu, itu bukan karena Shiro yang sedang bermain denganmu," senyum Kagome. "Katakan padaku, apa yang membuatmu seperti itu?"


Rin terdiam tidak menjawab. Kejadian di malam itu kembali terbayang dalam pikirannya dan seketika juga, wajahnya langsung memerah. Dia tidak mengerti ada apa dengan dirinya, tidak tahu kenapa, setiap kali dia teringat kejadian itu, dia akan merasa malu sekali. Dia ingat jelas, kedua tangan kokoh yang memeluk erat dirinya, kehangatan yang dirasakan, setiap tarikan napas dirambutnya, serta bisikan pelan Sesshoumaru yang mengatakan akan mengabulkan hadiahnya-selamanya bersama. Namun, yang paling memalukan adalah, dia tidak ingat lagi apa yang terjadi selanjutnya. Dalam pelukan Sesshoumaru-sama saat itu, kenyamanan, keamanan dan kehangatan yang dirasakan, membuatnya merasa sangat ngantuk dan menutup mata. Lalu, saat dia membuka mata lagi, pagi telah tiba dan dia telah berbaring di atas futon dalam kamarnya sendiri.


Rin telah menanyai Rei dan Rika, kedua dayang pribadinya tentang bagaimana dia bisa berada di kamarnya, dan dia tidak tahu harus berkata apa saat mereka menjawab bahwa Sesshoumaru-sama sendirilah yang mengendongnya yang tertidur ke kamar. Dirinya merasa malu karena telah merepotkan dan tidak sopan terhadap inuyoukai itu, namun, dalam hatinya, dia tidak dapat mempungkiri kebahagiaan luar biasa karena inuyoukai itu begitu memperhatikannya.


"Rin-chan." panggil Kagome pelan sambil menatap Rin. "Ada apa?"


"T-tidak ada apa-apa," jawab Rin tergagap sambil menggeleng kepala dengan wajah yang masih merah padam. "Tidak apa-apa."


Kagome hanya tersenyum melihat tingkah dan juga wajah merah padam Rin. Polos sekali. Dia memang tidak tahu apa yang dipikirakan gadis itu, namun, sepertinya dia juga bisa menebaknya, pasti karena seorang laki-laki. "Nah, Rin-chan," panggil Kagome lagi, kedua matanya menatap tumpukan hadiah mewah yang menggunung di kamar Rin. "Dari semua hadiah yang kau dapatkan, hadiah apa yang paling kau sukai?"


"Eh? Hadiah?" tanya Rin terkejut bercampur bingung.


Pagi saat matahari telah terbit setelah hari ulang tahunnya lewat, Sesshoumaru mengumumkan pada semua orang akan keputusan hari ulang tahun Rin. Dan tentu saja tidak ada seorang pun yang tidak terkejut dengan hari yang dipilih Sesshoumaru, bahkan termasuk Inukimi sendiri. Mereka tidak menyangka, inuyoukai itu akan memberikan hari ulang tahun yang sama dengannya kepada gadis manusia tersebut.


Tapi, meski bingung dan penuh tanda tanya, tidak ada yang bertanya lebih banyak. Para tamu yang ada, tidak membuang kesempatan, mereka dengan cepat berlomba-lomba mencari hadiah mewah dan menghadiahkannya pada gadis manusia itu. Emas, permata, kimono, lukisan, buku, bunga, alat musik dan berbagai macam bentuk hadiah mewah mereka berikan. Rin tidak tahu harus berbuat apa, dia tidak mungkin menolak, karena itu, dia menerima semuanya dengan penuh terima kasih.


"Hadiah siapa yang paling kau sukai, Rin-chan?" tanya Kagome lagi.


Memikirkan pertanyaan Kagome, Rin hanya dapat memusat pikiran untuk menjawabnya. Apa hadiah yang paling dia sukai? Hadiah dari siapa?


Hadiah ulang tahunmu, Sesshoumaru ini akan mengabulkannya.


Kata itu terlintas dalam pikirannya. Wajah Rin kembali memerah seketika. Menunduk kepala ke bawah, dia menghindari tatapan Kagome. Hadiah yang paling disukainya, hadiah dari siapa yang paling disukainya, Rin tahu, yaitu, hadiah dari Sesshoumaru; Selamanya bersama.


Selamanya bersama Sesshoumaru-sama.


Sampai sekarang Rin masih tidak percaya, bahwa inuyoukai itu mau berbagi hari ulang tahun dengan dirinya yang merupakan seorang manusia rendahan. Betapa cepat jantungnya berdetak, betapa sesak hatinya karena kebahagiaan, dia tidak dapat mengungkapnya. Semua miliknya adalah pemberian inuyoukai itu, baju, makanan dan tempat tinggal, pengetahuan serta keahlian, lalu kehidupan dan kebahagiaan. Tidak ada hadiah lain yang diharapkan dan disukainya lagi selain hadiah itu; selamanya bersama.


"Rin-chan, Rin—" panggil Kagome pelan sambil menatap gadis yang masih menundukkan wajah ke bawah. Namun pintu shoji kamar yang tiba-tiba terbuka segera merebut perhatian mereka.


Menoleh kepala menatap pintu yang terbuka, Rin langsung tersenyum saat melihat Kiri dan Kira berjalan masuk.


"Kiri-sama! Kira-sama!" panggil Rin gembira. Mengembalikan Shiro pada Kagome, gadis manusia itu segera bangkit dari tempat duduk dan berjalan mendekati kedua inuyoukai di depannya.


"Rin-sama." Panggil Kiri pelan sambil tersenyum. Kira tidak mengatakan apa-apa, namun, senyum juga merekah di wajahnya saat melihat gadis manusia itu berjalan mendekati mereka.


Saat Rin tiba di depan mereka, mengangkat tangannya, Kira menyerahkan sebuah bungkusan kecil pada gadis manusia tersebut. "Untuk anda, Rin-sama. Maaf terlambat, tapi, selamat ulang tahun."


Mata Rin terbelalak mendengar apa yang dikatakan Kira. Namun, seketika juga, ekspresi terkejut itu berubah menjadi senyum lebar. Menerima bingkisan itu, dia segera membukanya, dan saat dia melihat isinya, dia segera mengangkat wajah menatap kedua inuyoukai itu lagi. Hadiah yang mereka berikan adalah sebuah pedang pendek kecil dengan gangang emas.


"Pedang itu dibuat oleh Totosai-sama, dengan menggunakan taring kami berdua. Kami tidak mengharapkan anda menggunakannya. Tap- " jelas Kiri. Namun, belum selesai, Rin dengan cepat telah meloncat memeluk kedua inuyoukai itu.


"Terima kasih, Kiri-sama, Kira-sama. Terima kasih banyak." Tawa Rin gembira. Air mata mengalir menuruni pipinya. Pedang dari taring. Hadiah yang diberikan Kiri dan Kira sangat berharga, sebab pedang itu sendiri terbuat dari bagian tubuh mereka sendiri. Memberikan pedang itu, memberikan taring mereka, Rin tahu, kedua inuyoukai itu menganggapnya sebagai keluarga. Taring dalam klan inuyoukai adalah sesuatu untuk melindungi keluarga.


Kiri mengangkat tangan kanannya membalas pelukan Rin dan tersenyum kecil. Sejak dulu sampai sekarang, Rin selalu memeluk mereka seperti ini, tidak pernah berubah, yang berubah mungkin hanyalah gadis itu bukan gadis kecil lagi. Bagaikan bunga, gadis itu kini sudah mekar—mekar dengan sangat indahnya.


Kira yang dipeluk Rin tidak dapat menyembunyikan perasaan yang memenuhi hatinya. Mengangkat tangan kirinya, dia membelai lembut rambut gadis manusia itu. Sama halnya dengan Kira, dia telah melihat, mengawasi dan menjaga gadis manusia itu sejak kecil. Melihatnya tumbuh besar di depan matanya sendiri. Namun, kejadian dalam pesta semalam, untuk pertama kalinya, dia tidak dapat melupakannya. Dia ingat semuanya, dia ingat betapa cantik serta murninya Rin saat menyanyi dan menari dalam pesta ulang tahun Sesshoumaru. Dirinya sungguh terpesona saat itu, gadis itu sungguh luar biasa.


"Rin!' teriak suara seseorang tiba-tiba memecahkan keheningan yang ada.


Rin secara otomatis melepaskan pelukannya dan menatap arah suara tersebut. Pintu kamar shojinya kembali terbuka dan Jaken berjalan masuk dengan angkuh seperti biasa. "Rin! Di mana kau gadis kecil?!"


"Rin di sini Jaken-sama."


"Rin, ka-aakhh!" teriak Jaken terkejut saat melihat Kiri dan Kira yang menatapnya tajam dan penuh kemarahan.


"Jaga sikapmu youkai kecil." Dengus Kiri sambil menahan geraman penuh kemarahannya yang ingin meluncur keluar. Sejak awal hingga sekarang, dia dan Kira tidak menyukai Jaken, youkai katak pengecut itu. Selalu bersikap sok berkuasa, dan setiap kali tidak ada mereka, Inukimi atau Sesshoumaru, dia akan selalu bersikap kurang ajar pada Rin. Walau anehnya, gadis manusia itu tidak pernah terlihat marah atau pun keberatan dengan perlakuannya.


Kiri, Kira dan juga sebagian besar penghuni istana tanah barat, sebenarnya ingin sekali memberikan pelajaran pada youkai katak itu. Namun, mereka tidak bisa, karena setiap kali mereka ingin melakukannya, Rin pasti akan menghentikan. Gadis itu akan selalu memohon, dan bahkan kadang sampai menangis agar mereka memaafkan Jaken. Hanya saja, Jaken seakan tidak pernah sadar dan mengubah sikapnya.


"Ada apa Jaken-sama?" tanya Rin lagi, dan berjalan mendekati Jaken yang mematung tanpa gerak.


Menatap Rin yang mendekatinya, Jaken kemudian merongoh sesuatu dari saku hakamanya. Mengeluarkan sebuah pita merah dari sutra, dia menyerahkannya pada gadis itu. "Poni sampingmu itu kadang sangat menganggu. Ikat saja dengan ini."


Mata Rin terbelalak mendengar apa yang dikatakan Jaken. Tidak percaya, tangannya dengan pelan menyentuh pita merah yang ada di tangan kecil youkai katak tersebut. "I-ini untuk Rin, Jaken-sama?" tanyanya.


"Tentu saja! Wajahmu yang jele-aaakh!" ucapan Jaken terpotong karena kedua tangan Rin dengan cepat berlutut memeluk badannya dengan kuat dan erat. Dirinya yang memiliki badan jauh lebih kecil dari gadis manusia itu tidak dapat berbuat apa-apa kecuali berteriak dan memberontak meminta dilepaskan. "Lepaskan aku, gadis bodoh!"


Rin tidak melepaskan pelukannya, malahan dia semakin mempereratnya. Air mata yang berhenti, kembali mengalir. Memendamkan wajahnya pada dada Jaken, dia menangis sesengukan. "T-terima kasih, terima kasih, terima kasih, Jaken-sama. Rin, Rin senang sekali."


Ucapan terima kasih dalam tangis Rin membuat Jaken yang memberontak berhenti. Menurunkan kepala menatap gadis manusia yang memeluknya, mau tidak mau, wajahnya melembut. Sejak pertama kali Rin hadir dalam hidupnya dan Sesshoumaru, dia seakan dipaksa menjaganya. Namun, apakah dia membencinya?


Jaken tahu, sepanjang hidupnya, dia tidak pernah dipandang orang. Tidak oleh Sessoumaru, Inukimi, Kiri, Kira, para pekerja di Istana Tanah Barat, dan bahkan siapa saja yang mengenalnya. Namun, hanya Rin seorang yang selalu memandangnya, mendengar ucapannya, mepercayainya, lalu tersenyum dan selalu memikirkan dirinya. Karena itu, membencinya? Bagaimana mungkin dia bisa melakukan itu?

__ADS_1


Memang tidak pernah dikatakannya, tidak pernah ditunjukkan karena dia adalah makhluk yang pengecut dan selalu bersembunyi dibalik kesombongan serta omong kosong. Tapi, jauh dalam hati, dia sangat menyayanginya. Gadis kecil yang dulu selalu dijaganya setiap malam saat mengembara bersama Sesshoumaru, gadis kecil yang kadang dia carikan makanan, gadis kecil yang kini bukan gadis kecil lagi. Rin, betapa dia sesungguhnya menyayanginya.


Mendorong pelan tubuh Rin yang memeluknya hingga pelukan tersebut terlepas, dia mengetuk pelan dahi gadis itu dengan tongkat nintojo di tangannya. "Jelek sekali wajahmu, Rin."


Rin tertawa mendengar ucapan Jaken. Mengangkat pita ditangannnya, dengan cepat dia mengikat poni sampingnya. Menghapus air mata, dia kemudian tersenyum lebar sambil menutup mata kepada Jaken. "Bagaimana sekarang, Jaken-sama? Rin sekarang terlihat cantik bukan?"


Jaken mengangguk kepala dan tersenyum kecil. Senyum Rin yang tidak pernah berubah. Melihat senyum di depannya sekarang, meski gadis kecil itu bukanlah lagi gadis kecil, di matanya, gadis itu selamanya akan menjadi gadis kecil; gadis kecil yang mengikuti Sesshoumaru kemana saja tanpa keraguan sedikit pun.


Kagome, Kiri dan Kira yang melihat apa yang terjadi di depan mereka tidak dapat mengatakan apa-apa. Kagome hanya bisa tersenyum melihat Rin, hadiah Jaken adalah sebuah hadiah yang tidak ada apa-apanya jika dibanding dengan hadiah dari kebanyakan orang yang berupa emas, permata dan lukisan indah, namun, sepertinya, dalam mata gadis manusia itu, barang berharga bukanlah sesuatu yang diukur dari harganya.


"Di sini! Mamorulah yang menang! Rin-chan kelak pasti akan menjadi istri Mamoru!" pintu shoji kamar Rin kembali terbuka dan Mamoru berlari masuk sambil tertawa.


"Mamoru! Berhenti!" suara teriakan Miroku terdengar. Namun, Mamoru yang tidak mempedulikannya segera berlari mendekati Rain saat melihat gadis tersebut dan memeluknya dengan erat. "Rin-chan! Celamat ulang tahun!" teriaknya.


Rin tertawa kecil melihat sikap Mamoru. Mengangkat tangan, dia membalas pelukan tersebut. "Terima kasih, Mamoru-kun."


"Ini untukmu, Rin-chan," tawa Mamoru sambil menyerahkan sebatang bunga origami berwarna merah. "Hadiah dari Mamoru."


"Mamoru curang! Kami yang membuatnya tahu!"


"Mamoru! Itu hadiah kami untuk Rin-chan!"


Suara teriakan Aya dan Maya terdengar jelas dan tidak lama kemudian kedua gadis cilik itu berlari masuk ke dalam kamar dengan wajah penuh kemarahan.


"Mamoru juga membantu!" balas Mamoru sambil membalik wajah menatap kedua kakaknya. "Mamorukan membantu Kak Aya dan Kak Maya mencari kertas!"


"Sudah, sudah," sela Miroku yang berjalan masuk ke dalam kamar Rin bersama Inuyasha, Sango. "Kalian membuatnya bersama-sama."


"Ayah! Tidak! Tidak mau!" protes Aya dan Maya bersamaan.


"Aya, Maya, mengalahlah pada adik kalian." sela Sango sambil menghela napas. Sikap dan ekspresi tidak mau mengalah kedua putrinya sekarang, tidak tahu kenapa mengingatkannya pada dirinya sendiri saat muda. "Ibu janji akan melatih teknik Hiraikotsu kepada kalian berdua saat pulang ke desa nanti."


"Benarkah?" mata Aya dan Maya langsung terbelalak menatap Sango, teriakan protes mereka segera terhenti.


Sango mengangguk kepala sambil tersenyum. Darah taijiya keluarga mereka ternyata memang mengallir dalam tubuh kedua putri kembarnya. Mereka selalu penuh semangat untuk memperlajari ilmu-ilmunya.


"Baiklah kalau begitu! Kami akan memaafkan Mamoru!" Teriak mereka berdua gembira sambil bertepuk tangan. Kemarahan terhadap adik mereka pun menghilang seketika


Rin yang kebingungan hanya melihat kedua gadis di depannya tanpa berkata apa-apa, hingga Inuyasha yang ada di sana tiba-tiba memanggil nama dan melemparkan sesuatu kepadanya. "Rin! Tangkap!"


Dengan segera Rin menangkap apa yang dilemparkan Inuyasha padanya. Kebingungan kembali memenuhi wajahnya saat dia melihat yang dilemparkan Inuyasha padanya; sebuah kipas. Membuka kipas itu, Rin melihat bunga sakura musim semi terlukis dengan indah memenuhi kipas tersebut. Warnanya memang sudah agak memundar karena termakan usia, tapi tetap saja, kipas itu adalah sebuah kipas yang sangat indah.


"Kau memberikan kipas Izayoi pada Rin-rin, Inuyasha?" tanya suara seseorang tiba-tiba dari belakang dan mengejutkan hanyou serta semua yang ada di sana, sebab, mereka semua tidak merasakan aura maupun bau siapapun yang mendekati kamar tempat mereka berada..


"Kenji-sama!" panggil Rin saat melihat sosok youkai monyet itu di belakang Inuyasha.


"Jangan sembarangan muncul di belakangku beregsek!" teriak Inuyasha penuh kemarahan dan membalik wajah menatap Kenji. Dirinya sama sekali tidak menyukai kenyataan bahwa youkai tua itu telah berhasil menipu pendengaran, penciuman serta perasanya yang tajam


Kenji tidak mepedulikan teriakan Inuyasha, dia menatap lekat hanyou di depannya."Kau memberikan kipas warisan Ibumu pada Rin-rin?"


"Kipas Ibu?" sela Rin terkejut. "Kipas ini milik Ibunda anda, Inuyasha-sama?"


Pertanyaan Rin membuat Inuyasha menatap gadis manusia itu. Melipat tangan di dada lagi, dia mendengus dan membuang muka. "Iya. Karena itu jaga baik-baik."


"Tidak! Rin tidak bisa menerimanya!" teriak Rin tiba-tiba mengejutkan Inuyasha. Menatap Kagome, gadis manusia itu segera menyodorkan kipas di tangannya pada miko tersebut. "Anda yang seharusnya memeliki kipas ini, Kagome-sama. Bukan Rin, anda yang merupakan menantu Izayoi-samalah yang seharusnya menjaga kipas ini."


Kagome terkejut melihat sikap Rin, namun, sejenak kemudian dia tertawa keras. Menghela napas, Inuyasha segera mendekati Rin yang masih berlutut di atas tatami dan berjongkok hingga mata mereka sejajar. "Dia tidak memerlukannya. Kagome yang tiap hari berkerja sebagai miko dan kadang bertarung melawan youkai tidak memerlukan kipas seperti itu."


"Benar, Rin-chan," setuju Kagome dalam tawanya. "Aku tidak memerlukan kipas itu. Kipas itu adalah kipas untuk seorang Putri. Aku jelas bukan seorang Putri, tapi tidak denganmu; kau adalah seorang Putri Rin-chan."


"Tidak, Rin bukan seorang Putri. Rin hanyalah seoroang rakyat jelata biasa tanpa apa-apa." Rin menggeleng kepalanya terus. Dia bukan seorang Putri, meski penampilan dan tempatnya hidup selalu membuat siapa yang melihatnya merasa dia adalah seorang Putri, Rin tahu, dirinya tetaplah Rin, seorang gadis manusia dari kalangan rakyat jelata yang tidak memiliki apa-apa.


"Ahh!" teriak Inuyasha kesal melihat sikap Rin. Mengangkat tangan, dia mengacak-acak rambut hitam Rin. "Cukup, bocah!" mata emasnya menatap lurus mata Rin. "Bagiku dan Kagome, kau adalah bagian dari keluarga kami. Adik kami, jadi seorang kakak memeberikan warisan Ibunya pada adiknya bukanlah sesuatu yang salah, bukan?"


Mata Rin terbelalak karena terkejut mendengar apa yang dikatakan Inuyasha. "I-inuyasha-sama.."


"Inuyasha benar, Rin-chan," tawa Kagome lagi. "Bagi kami kau adalah adik perempuan yang manis, bagian keluarga kami. Jadi terimalah hadiah ulang tahun dari kami.."


"Iya, mereka benar. Terima saja hadiah itu, Rin-rin," sela Kenji tiba-tiba dan menedekati mereka. Menyerahkan sebuah samisen indah dari kayu jati yang sebenarnya sejak tadi dipegangnya, dia tersenyum lembut. "Dan ini dariku, Hime-sama dari Barat. Selamat ulang tahun."


"K-kenji-sama.." mata Rin kembali terbelalak untuk kesekian kalinya.


"Hei! Kenapa kalian semua pada berebut denganku dan Sango untuk memberikan hadiah pada Rin-chan?" tawa Miroku. Mengenggam tangan Sango yang ada di sampingnya, dia menuntun istrinya mendekati Rin. Tangannya mengeluarkan sebuah gelang tasbih kayu kecil. "Memang tidak seberapa, tapi ini hadiah dari kami, Rin-chan. Tasbih ini dibuat sendiri oleh Sango dari kayu jati dan menyimpan beberapa kekuatan spritualku. Kau bisa menggunakannya untuk melindungi diirmu."


Air mata mengalir menuruni pipi Rin. Ada kebahagiaan yang memenuhi hatinya. Bukan hadiah demi hadiah dari mereka yang membuatnya bahagia, melainkan perhatian mereka semua. "T-terima kasih, terima kasih, terima kasih.."


"Rin-chan jangan menangis." pinta Kagome dan Sango cepat sambil menghapus air mata Rin.


"Benar. Sesshoumaru akan memenggal kepala kami semua jika sampai tahu kami membuatmu menangis, Rin-rin." Tawa Kenji.

__ADS_1


"Cih," cibir inuyasha sambil membuang muka. "Seperti dia mampu saja."


"Kenapa Inuyasha, kau takut, ya?" tanya Kenji sambil menyenggol bahu Inuyasha dengan badannya. "Kakakmu itu kuat. Dia lawan yang cukup sulit kita taklukkan, apa lagi kalau sudah menyangkut Rin-rin."


"Tidak perlu kita!' teriak Inuyasha. "Cukup aku saja! Aku sendiri mamp—"


Teriakan Inuyasha terhenti saat pintu kamar Rin kembali terbuka. Semua menoleh kepala menatap siapa yang masuk dan menemukan Rei serta Rika yang berlutut dengan senyum lembut di wajah. "Rin-sama dan semuanya, maafkan kelancangan hamba berdua, tapi, silakan ikutin hamba berdua."


"Rei-nee, Rika-nee, ada apa?" tanya Rin bingung.


Rei dan Rika hanya tersenyum membalas pertanyaan Rin. Bangkit, mereka mempersilakan semua yang ada dalam kamar mengikuti mereka. "Mari, silakan ikutin hamba berdua."


Meski kebingungan,Rin serta semua yang ada mengkuti Rei dan Rika. Kedua pelayan pribadi Rin mengantar mereka ke taman pavilun istnana barat, menuju tempat di mana pesta ulang tahun Sesshoumaru diadakan semalam. Rin serta semuanya bisa melihat semua pelayan serta prajurit di istana tanah barat berkumpul di sana, dan saat mereka menyadari gadis manusia itu memasuki tempat pesta, mereka semua segera tersenyum, tertawa dan berteriak keras


"Selamat ulang tahun, Rin-sama, hime-sama dari Barat. Maaf terlambat, tapi selamat ulang tahun!"


Alat musik segera dimainkan, makananan disajikan, begitu juga dengan nyanyian dan tarian segera dipertunjukkan.


"Rin-sama, silakan duduk, " ujar Rei sambil menuntun Rin yang tertegun untuk duduk di atas sebuah bantal yang telah disedikan. "Nikmatilah hadiah ulang tahun dari kami semua."


"R-rei-nee, i-ini.." ujar Rin terbata-bata tidak tahu harus mengatakan apa karena masih sangat terkejut.


"Kami semua tidak bisa memberikan anda apa-apa sebagai hadiah ulang tahun, Rin-sama," jelas Rika tiba-tiba. Dia yang sedang berusaha mempersilakan Inuyasha, Kagome, Kenji, Kiri, Kira dan yang lainya duduk berhenti sejenak dan tersenyum pada Rin. "Karena itulah, hanya ini yang bisa kami berikan. Meski terlambat, kami, seluruh penghuni Istana Tanah Barat meminta izin pada Sesshoumaru-sama untuk mengadakan pesta hari ulang tahun anda."


Rin terdiam seribu bahasa, dia tidak tahu harus mengatakan apa.


"Kami semua menyanyangi anda, Rin-sama, Hime-sama kami, karena itu, selamat ulang tahun."


Air mata mengalir turun dari pipi Rin. Dia tidak dapat menghitung lagi telah berapa kali dia menangis hari ini. Kiri-sama dan Kira-sama, lalu Jaken-sama, Mamoru, Aya dan Maya, Inuyasha-sama dan Kagome-sama, serta Kenji-sama, Miroku-sama dan Sango-sama dan sekarang, seluruh penghuni Istana Tanah Barat, ternyata dirinya begitu diperhatikan dan disayangi.


"Rin-sama jangan menangis," Rei dengan cepat penuh kepanikan. "Ini hari bahagia, jadi anda tidak boleh menangis!"


Tangisan Rin bukannya berhenti, malahan tangisannya semakin bertambah deras dan keras, hingga, semua yang ada, baik yang sedang menari, bernyanyi, memainkan alat musik dan menyajikan makanan berlari mendekatinya, tidak mempedulikan sedikitpun keberadaan Inuyasha dan yang lainnya.


"Rin-sama, jangan menangis."


"Rin-sama berhentilah menangis."


"Rin-sama, apakah anda tidak menyukai pesta ini?"


Kerumunan yang mengerumuni Rin, pertanyaan-pertanyaan serta ekspresi khawatir mereka membuat hati Rin sangat sesak-sesak karena kebahagiaan. "R-rin s-suka. Rin, Rin m-menangis.. k-karena b-bahagia. R-Rin.." jelas Rin disela isak tanggisnya.


Sikap dan penjelasan Rin membuat ekspresi kekhawatiran semua yang ada menghilang dan digantikan senyum.


"Kalau anda bahagia, tersenyumlah Rin-sama."


"Benar, tertawalah Rin-sama."


"Tersenyum dan tertawalah untuk kami, Rin-sama."


Rin tidak dapat mengatakan apa-apa lagi, melihat senyum lembut di wajah semua yang mengerumuninya, dia segera mengangkat tangan menghapus air matanya yang tetap saja tidak mau berhenti.


Tersenyum.


Mereka semua menginginkannya tersenyum. Karena itu, menarik napas, walau air mata masih mengalir menuruni pipi, Rin segera mengangkat bibirnya, membentuk sebuah senyum musim semi yang sangat indah. Senyum yang segera disambut gembira semua penghuni istana.


"Tersenyum! Anda akhirnya tersenyum, Rin-sama!"


"Tetaplah tersenyum seperti ini, Rin-sama!"


"Kami akan selalu berdoa anda tersenyum seperti ini, Rin-sama."


Inuyaha, Kagome, Kenji, Kiri, Kira, serta yang lainnya yang berada di samping, hanya bisa tertegun melihat apa yang terjadi di depan mata.


"Rin-chan, benar-benar luar biasa ya?" senyum Kagome tanpa menolehkan wajahnya dari pandangan di depannya. Jika tidak melihat dengan matanya sendiri, dia tidak akan percaya ada seorang gadis manusia yang mampu membuat begitu banyaknya youkai serta hanyou menyayanginya hingga seperti ini.


"Tentu saja," balas Kira pelan. Ada nada kebanggan dan kepuasan dalam suaranya. "Sebab beliau adalah Hime-sama dari Barat."


Kenji tertawa keras dan mengangkat tangan memukul punggung Inuyasha. "Hahahaha! Aku tidak sabar menunggu masa depan Tanah Barat ini kelak!"


"Apa yang kau lakukan monyet tua!" teriak Inuyasha penuh kemarahan bercampur kesakitan akibat pukulan Kenji. Namun, Kenji tidak mempedulikannya. Menarik tangan Inuyasha, dia mencari tempat duduk sambil tertawa keras. "Pesta, pesta! Ayo kita berpesta ria lagi sampai besok pagi!'


"Benar sekali!Ayo kita pesta lagi!" Setuju Miroku sambil tertawa diikuti Sango dan yang lainnya. Pesta semalam adalah pesta Sesshoumaru, karena itu, pesta sore ini adalah pesta Rin. Pesta untuk gadis manusia yang menawan tersebut.


Kagome yang kemudian duduk di samping Inuyasha sambil menggendong Shiro yang masih tertidur tidak peduli dengan keributan disekeliling, hanya bisa terus tersenyum. Matanya menatap terus Rin yang kini tertawa lebar dan duduk di atas bantal di kelilingi para penghuni istana yang menyajikan makanan dan minuman padanya. Betapa seluruh penghuni Istana mencintai Rin, dia bisa melihatnya dengan jelas, dan dia juga yakin, tidak seorang pun penghuni Istana ini yang akan keberatan jika kelak harus mengorbankan nyawa demi senyum dan tawa gadis manusia tersebut.


Dikejauhan keramaian pesta, dari tiga arah, tiga pasang mata menatap semua yang terjadi dalam diam, yakni mata milik Inukimi yang menatap semua yang ada di sana penuh kekesalan, mata Akiko yang menatap Rin penuh kebencian, serta mata Tsubasa yang penuh perhitungan.


....xOxOx....

__ADS_1


__ADS_2