Till The End Of Time [ Inuyasha Fanfiction ]

Till The End Of Time [ Inuyasha Fanfiction ]
Chapter 143


__ADS_3

"Tangan Rin-sama tidak bisa digerakan," jelas Jinenji pelan. Berdiri di dalam ruang kerja Sesshoumaru, dia menatap semua yang ada dalam ruangan. "Aku tidak tahu apa yang terjadi. Tapi, otot tangannya sekarang telah berhenti berfungsi secara permanen. Kemungkinan jika keadaan terus berlanjut, beliau akan—lumpuh total."


"Bagaimana cara menyembuhkannya?" potong Sesshoumaru. Suaranya pelan dan datar, tenang seperti biasanya.


"Itu...." Jinenji tidak tahu harus menjawab apa pertanyaan Sesshoumaru, sebab sampai sekarang, dia tidak memiliki jawabannya.


"Kau tidak memiliki jawabannya?" tanya Sesshoumaru lagi, suaranya tetap tenang dan datar, namun mata emasnya menajam hingga membuat semua yang ada waspada.


"Kakak," panggil Kagome, dia juga merupakan salah satu orang yang merawat Rin, karena itu dia tidak bisa membiarkan semua tangung jawab jatuh pada Jinenji seorang saja. "Kami pasti akan  menyembuhkan Rin-chan."


"Benar, Sesshoumaru," tambah Inuyasha yang berada di samping Kagome. Mata emasnya penuh keyakinan menatap lurus Sesshoumaru. "Kita pasti akan menemukan cara menyembuhkan Rin."


Miroku, Sango, Kohaku dan juga Kaeda yang berada dalam ruangan tidak mengatakan apa-apa, tapi mata mereka yang bersinar penuh keyakinan seperti Inuyasha juga terarah pada Sesshoumaru.


Sesshoumaru tidak mengatakan apa-apa mendengar ucapan Inuyasha dan Kagome. Menatap semua yang ada dalam ruangan, dia kemudian menutup mata. Diam membisu, inuyoukai itu membuat semua yang ada tidak tahu harus mengatakan apa lagi.


Menyembuhkan?—tangis Rin yang penuh ketakutan dan keputus asaan saat tahu tangannya tidak dapat bergerak. Air mata yang jatuh, teriakan yang ada, kesakitan dan—hancurnya hati wanita itu. Sesshoumaru tidak dapat melupakan—itu adalah kegagalan terbesar dalam hidupnya.


Apa yang paling dia inginkan?—saat dia memutuskan untuk memeluk Rin, Sesshoumaru tahu, dia menginginkan wanita manusia itu selalu tersenyum dan tertawa, bahagia sebagaimana mestinya. Tapi, dia baru tahu sekarang, betapa sulit dirinya melakukan itu.


Sesshoumaru, sang penghancur kehidupan. Inudaiyoukai penguasa tanah barat yang besar dan jaya. Pemilik bakusaiga, taring penghancur dan tensaiga, taring kehidupan, youkai yang dihormati dan ditakuti semua kehidupan—nama dan julukannya yang begitu membanggakan sekarang tidak berguna sedikitpun, sebab; dia tidak dapat menghentikan tangis dan air mata satu-satunya wanita yang paling dicintainya dalam keberadaannya.


Apa gunanya nama? Apa gunanya kekuasaan? Apa gunanya kekuatan?—dirinya hanya dapat membiarkan wanita manusia itu menderita.


Kreeettt


Suara pintu shoji yang tertutup tiba-tiba terbuka. Membuat mata emas Sesshoumaru yang tertutup kembali terbuka dan menatap siapa yang masuk, begitu juga dengan semua yang ada dalam ruangan.


Inukimi berjalan masuk, wajahnya tanpa ekspresi meski semua pasang mata mereka yang ada dalam ruangan tertuju padanya. Mata emasnya menatap sosok putranya yang tenang, namun sekaligus juga sangat kacau di depannya.


Berhenti tidak jauh dari Sesshoumaru, dia kemudian melemparkan sebuah gulungan dokumen di tangannya ke depan putra kandungnya tersebut. "Temukan dan sempurnakan fushi no kusuri secepat mungkin, Sesshoumaru."


Ucapan Inukimi membuat semua yang ada tertegun. Tidak kecuali, Sesshoumaru.


"Aku tidak tahu apa yang terjadi pada putriku, begitu juga untuk semua yang ada di sini," lanjut Inukimi dengan suaranya yang tetap tenang. "Tapi, fushi no kusuri, obat keabadian mungkin bisa menjadi satu-satunya jalan yang ada untuk menyelamatkan Rin kecil."


Kagome mengangkat gulungan dokumen yang dilempar Inukimi dan membukanya. Membaca dalam diam, dia tidak dapat menyembunyikan perasaan terkejutnya.


Fushi no kusuri, obat keabadian.


Obat yang bisa memanjangkan hidup seorang manusia. Obat yang dapat menghentikan waktu dari manusia yang meminumnya, memberikan kesehatan dan menyembuhkan segala sakit penyakit—apakah obat seperti ini benar-benar ada di dunia ini?


Sesshoumaru seakan tersadar mendengar ucapan Inukimi. Fushi no kusuri, obat yang dia cari untuk Rin supaya wanita manusia itu bisa hidup bersama dirinya selamanya—mungkin memang obat inilah satu-satunya yang bisa menwujudkan harapan mereka yang ada.


"Sesshoumaru-sama!!" suara teriakan Jaken tiba-tiba terdengar. Dari belakang Inukimi, melalui pintu yang terbuka, youkai katak itu berlari masuk. "Rin sudah sadar!"


Teriakan Jeken segera membuat Sesshoumaru tertegun. Tidak bergerak, dia tidak tahu harus tetap tinggal membahas apa yang disampaikan Inukimi barusan atau mencari Rin sekarang—pertama kali dalam hidupnya, dia tidak tahu lagi prioritas yang harus diambilnya.


Inukimi yang melihat Sesshoumaru tidak bergerak menghela napas. Putranya yang bodoh, dan takdir yang kejam. "Temui Rin kecil sekarang Sesshoumaru," ujar mantan penguasa tanah barat pelan. "Dia membutuhkan dirimu sekarang."


Ucapan Inukimi bagaikan sebuah dorongan bagi Sesshoumaru. Tanpa mengatakan apapun, mengabaikan semua yanga ada, dengan ekspresi wajah yang tidak berubah, inuyoukai penguasa tanah barat berlari. Berlari dengan secepat yang dia bisa menuju kamar di mana wanita yang paling dia cintai berada.


Tidak ada yang menghentikan Sesshoumaru, Inuyasha dan yang lainnya hanya dapat diam melihat Sesshoumaru menghilang dari hadapan mereka.


"Kurasa kita lebih baik menunggu di depan pintu kamar Rin dan Sesshoumaru," ujar Miroku pelan kemudian. Seperti dirinya, dia tahu semua yang ada dalam ruangan ini sekarang pasti sangat menghawatirkan kondisi Rin. "Walau tidak bisa masuk, setidaknya kita dapat mengetahui kondisi Rin-chan.."


....xOxOx....


Tiba di depan kamarnya dan Rin, Sesshoumaru tidak mempedulikan Kiri dan Kira yang berdiri mengawal di depan pintu shoji yang tertutup. Berhenti berlari, dia menguatkan hatinya untuk membuka pintu kamar tersebut pelan.


Kacaunya Rin saat dia mengetahui tangannya tidak bisa bergerak lagi. Tangis dan teriakan keputusasaannya—Sesshoumaru tidak ingin melihatnya untuk kedua kalinya lagi; dia tidak ingin menjadi sosok yang hanya dapat memeluk wanita manusia itu dalam keputusasaan hingga jatuh tertidur.


Kreettt


Melangkah masuk, mata emas Sesshoumaru hanya dapat tertegun, karena yang dia lihat pertama kali ternyata bukanlah tangis dan air mata, melainkan seulas senyum yang begitu dicintainya—senyum musim semi abadi dalam hatinya.


"Okaeri, Sesshoumaru-sama."


Dengan Shura yang tertidur di sampingnya, duduk di atas futon, Rin tersenyum dengan begitu indah kepadanya. Jika saja bukan karena matanya yang masih merah dan sembab, Sesshoumaru mungkin akan berpikir teriakan dan tangisan keputusasaan yang dilihatnya sebelum ini hanyalah sebuah mimpi buruk.


Mendekati Rin, tangan Sesshoumaru bergetar. Menyentuh pelan wajah mungil dan pucat di depannya, dia melihat wanita manusia itu menutup mata dan memiringkan wajahnya, seakan ingin merasakan kehangatan tangannya lebih banyak.


Membuka mata lagi, Rin kemudian tertawa kecil pada Sesshoumaru. "Maafkan Rin karena telah membuat anda khawatir, Sesshoumaru-sama.."


Rin yang tersenyum dan tertawa. Memanggil namanya lembut dan meminta maaf karena telah membuatnya khawatir, Sesshoumaru hanya dapat berpikir, apa perasaan wanita manusia ini sekarang?


Topeng senyum dan tawa yang dia pakai telah rusak, tapi meski rusak, wanita manusia itu tetap memakainya. Semua hanya karena dia berusaha keras menyembunyikan air mata dan teriakan keputusasaan yang ada di balik topeng—karena dia tidak ingin siapapun bersedih untuknya.


Mengangkat kedua tangannya, Sesshoumaru kemudian memeluk badan mungil Rin erat. Memendamkan wajah tertawa wanita manusia itu pada dadanya—pertama kali dalam hidupnya, Sesshoumaru merasa sakit karena senyum dan tawa itu.


Rin yang polos, bodoh dan naif, Rin yang baik dan lembut, Rin yang selalu memikirkan orang yang dia cintai—betapa kejam dia terhadap dirinya sendiri. Tertawa dan tersenyum pada saat dia sesungguhnya menangis dan berteriak putus asa dalam hati—di dunia yang luas ini, kenapa harus wanita inilah yang mengalami ini semua?

__ADS_1


Rin yang tertawa dalam pelukan Sesshoumaru hanya dapat tertawa semakin keras dan menutup mata. Tangan Sesshoumaru yang bergetar, wajahnya yang tanpa ekspresi serta mata emasnya—bohong jika dia mengatakan dia tidak tahu apa yang dipikirkan inuyoukai penguasa tanah barat.


Lapisan es yang tipis.


Rin tahu, seperti itulah hidupnya sekarang. Dia berdiri dan berjalan di atas lapisan es yang sangat-sangat tipis. Jika dia tidak hati-hati, maka es itu akan pecah, dan dia—dirinya akan jatuh ke dalamnya membawa serta mereka yang mencintainya.


Ah, Rin sadar sekarang, ternyata apa yang dia lakukannya, pilihan yang dia pilih tidaklah salah. Tetap tersenyum, tertawa dan berkata dia tidak apa-apa tidak peduli apapun yang terjadi—setidaknya, hidup mereka akan dapat dilalui dengan lebih baik daripada saat dia menangis, kan?


Ah..ba..ba.." Suara Shura yang dari tadi tertidur di samping Rin tiba-tiba terdengar, membuat Rin maupun Sesshoumaru segera menolehkan mata mereka pada putra mereka.


Menatap kedua orang tuanya, mata emas Shura penuh dengan ketidak puasan. Kedua tangannya bergerak naik turun, terlihat jelas dia tidak suka karena merasa diabaikan.


Rin tertawa. Menjauhkan badannya dari pelukan dan membelakangi Sesshoumaru, dengan pelan dan penuh kesulitan karena tangan yang tidak bisa bergerak serta badan yang lemah, dia membungkukkan pungungnya, mengarahkan wajahnya tepat di atas Shura. "Kau sudah bangun, putraku dari barat?"


Shura tertawa mendengar pertanyaan Rin. Penuh semangat, kedua tangan kecilnya menyentuh wajah wanita yang menjadi pusat dunia kecilnya.


"Maaf, ya, Shura," ujar Rin pelan. Suaranya pelan dan lembut seperti biasa, seulas senyum memenuhi wajah pucatnya. "Ibunda tidak dapat memelukmu lagi seperti dulu.."


Kedua tangan yang tidak dapat bergerak dan dirasakannya lagi, meski sangat pahit, Rin tetap menguatkan diri dan menerima kenyataan yang ada. Setidaknya dia masih bisa melihat putranya, kan?


Namun, sepasang tangan tiba-tiba bergerak menyusuri kedua lengan Rin. Mengerakkan tangan wanita manusia itu, dengan pelan dan hati-hati, dia mengangkat badan kecil Shura dan mengendongnya di dada.


Rin yang terkejut segera menoleh wajahnya pada Sesshoumaru, sebab dia tahu, pemilik sepasang tangan yang menggerakkan tangannya sekarang adalah inuyoukai yang ada di belakangnya.


"S-sesshoumaru-sama.." panggil Rin pelan penuh kebingungan.


"Tidak apa-apa," ujar Sesshoumaru pelan. Kedua mata emasnya menatap lurus mata coklat Rin penuh dengan kelembutan namun juga menguatkan. "Tidak apa-apa, jika tangamu tidak bisa bergerak, karena tangan Sesshoumaru ini akan menjadi tanganmu dan menggerakkannya."


Terkejut, Rin diam membisu mendengar apa yang dikatakan Sesshoumaru padanya sekarang.


"Tidak apa-apa jika kelak kau tidak bisa berjalan, karena Sesshoumaru ini akan mengendongmu kemanapun kau mau," lanjut Sesshoumaru lagi. Wajahnya tetap tenang dan datar tanpa ekspresi seperti biasanya. "Tidak apa-apa jika kelak mulutmu tidak bisa berbicara, karena Sesshoumaru ini bisa menyampaikan apapun yang kau inginkan dengan membaca gerakan di bibirmu. Tidak apa-apa jika matamu kelak tidak bisa melihat, karena Sesshoumaru ini akan selalu membisikkan apa yang ada di depanmu di telingamu. Tidak apa-apa jika kelak kau tidak bisa mendengar, karena Sesshoumaru ini akan menuliskan apapun yang ada dipunggungmu."


Tertegun, Rin hanya dapat mematung menatap Sesshoumaru, tidak percaya dengan apa yang didengarnya.


Tangan yang tidak bisa bergerak—penyesalan terbesar Rin saat tangannya tidak bisa bergerak lagi, Sesshoumaru tahu; itu adalah karena dirinya tidak akan dapat memeluk dan menyentuh dirinya dan terutama—Shura yang masih kecil.


Shura—putra mereka yang berharga. Sejak dia dilahirkan hingga sekarang, tidak ada seharipun Rin melepaskannya jika dia ada disamping. Selalu memeluknya, mengendongnya, mendekapnya di dada. Betapa putranya dicintai oleh wanita manusia itu—semua yang ada bisa melihatnya.


Cinta Rin untuk Shura adalah cinta yang paling tulus dan dalam. Sesshoumaru tahu, dalamnya cinta itu sedalam cinta Rin untuknya—karena itu; pengorbanan wanita manusia itu untuk mereka sudah cukup. Kali ini, giliran merekalah yang akan berkorban untuknya.


"—dan tidak apa-apa jika kau tidak bisa memeluk Sesshoumaru ini dan Shura lagi, karena mulai sekarang hingga selamanya—kamilah yang akan memelukmu."


Air mata mengalir, jatuh membasahi pipi Rin. Namun, senyum di wajahnya melebar. Dia kembali tersenyum, walau dia tidak tahu apakah senyumnya ini benar.


Hangat.


Ucapan Sesshoumaru sangat hangat. Sangat-sangat manis, namun sekaligus sangat pahit, membawakannya kebahagiaan, namun sekaligus juga kepedihan. Dengan perasaan apa inuyoukai itu mengatakan ini?—Rin hanya bisa menebak dalam hati.


Memgumpulkan segenap tenaga yang ada, Rin kemudian mengangguk kepala sambil tertawa. Kedua mata coklatnya menatap lembut mata emas di depannya. "Iya," balasnya pelan. "Iya, Sesshoumaru-sama. Rin mengerti."


Sesshoumaru tidak mengatakan apa-apa lagi, dengan tangan kiri yang masih menompang tanga Rin untuk mendekap tangan Shura, dia menggerakkan tangan kanan untuk menangkap wajah wabita itu dan mencium air mata yang ada.


Shura yang tidak tahu apa-apa, berada dalam pelukan Rin dan Sesshoumaru, dia tertawa dengan bahagia. Berada di samping kedua orang tuanya, dia selalu bahagia—karena bersama merekalah dunia kecilnya sempurna.


Rin membiarkan Sesshoumaru mencium air matanya. Menutup mata, dia diam membisu mulai menata hatinya. Apa yang harus dilakukan? Pilihan apa yang harus dibuat?—hei, dia ingin bertanya pada siapapun yang ada tapi tidak berani, jika berada dalam posisinya sekarang, pilihan terbaik apa yang akan kau lakukan?


Dalam pelukan Sesshoumaru yang hangat dengan Shura dalam dekapan, Rin ingin ini berlangsung selamanya, namun dalam hidupnya, mungkin memang tidak ada—selamanya.


Datang lagi, sesuatu yang paling tidak diinginkan Rin, sesuatu yang ingin dia hindari—sang kematian.


Rin hanya dapat tertawa. Dia sudah tahu kematian itu kejam dan tidak memiliki belas kasihan. Kematian akan datang dan pergi sesuka hatinya. Datang pada saat yang paling tidak diinginkan dan pergi dengan meninggalkan dirinya yang akan melukai mereka yang dia cintai—sang kematian yang arogan.


Menangis, mengiba dan memohon—tidak peduli apapun yang dilakukan, kematian tidak akan bergeming. Jiwa yang seharusnya telah tiada tapi tetap ada, Rin tahu, dia hanya dapat terus dan terus melawan kematian yang datang menjemputnya.


Kenapa?—karena Rin tidak bisa kehilangan kehangatan dan kebahagiaan kecil yang didapatkannya.


Membuka mata, Rin menatap Sesshoumaru. Senyum memenuhi wajahnya. Senyum musim semi yang hangat, namun dengan kesedihan tidak terucapkan. "Sesshoumaru-sama, Rin ingin bermain petak umpet dengan Shura."


Permintaan yang terucap dengan pelan dan penuh senyum. Namun, membuat Sesshoumaru tertegun.


"Bisakah Sesshoumaru-sama menemani Shura?—Rin harus bersembunyi." Lanjut Rin lagi dengan senyum yang tidak berubah sedikitpun.


Petak umpet.


Arti permainan yang ingin dimainkan Rin bersama Shura, Sesshoumaru tahu—permainan kejam yang ingin dimainkan dengan sebuah pintu yang akan memisahkan mereka.


"Rin tidak akan bersembunyi lama," suara Rin tetap tenang dan pelan, seakan apa yang akan dihadapinya bukanlah apa-apa. "Bisakah Sesshoumaru-sama bersama Shura menunggu di luar?—menunggu sampai Rin membuka pintu lagi.."


"R-rin..." Suara Sesshoumaru bergetar. Pelukannya ada Rin mengerat karena takut wanita manusia itu akan mengusirnya dengan kekuatan meido seki. Mata emasnya menatap penuh kepanikan mata coklat di depannya.


"Rin tidak akan apa-apa," senyum Rin berubah menjadi tawa. Namun, suaranya bergetar. "R-rin akan selalu tinggal—untuk anda dan Shura.."

__ADS_1


Rin tidak bisa memeluk ataupun menyentuh Sesshoumaru lagi. Melihat mata emas yang menatapnya penuh kepanikan, dia tidak bisa menenangkan inuyoukai yang dicintainya sebagaimana meskinya lagi. Perasaan ini—dia wanita yang kejam, kan?


Sekali lagi, Rin hanya dapat berpikir untuk kesekian kalinya, benar atau salah?—sejak dunianya berubah seperti ini, semenjak kematian datang menghampiri, setiap hari dia memikirkan jawaban pertanyaan ini. Kadang dia merasa dia benar, namun, sekarang, dia merasa lagi dirinya—salah.


Salah atau benar—adakah yang bisa menjawab untuknya? Dia benar-benar membutuhkan jawaban ini.


"Rin mohon, Sesshoumaru-sama..." Terucap pelan dan lirih, dengan air mata yang kembali mengalir turun menuruni pipinya, Rin hanya bisa kembali—tersenyum.


Senyum Rin selalu merupakan senyum yang dicintai Sesshoumaru. Namun, sekarang, untuk kedua kalinya, dia membenci senyum ini.


Jangan tersenyum dan menyuruhnya meninggalkan dirinya, jangan tersenyum dan memintanya membiarkan dirinya menderita—jangan tersenyum dan meminta Sesshoumaru ini berdiam diri!!!


Tapi, apa yang bisa dia lakukan? Apa yang bisa dirinya, Sesshoumaru dari tanah barat ini lakukan untuk satu-satunya wanita manusia yang dia cintai?


"Keluarlah, Sesshoumaru-sama," tawa Rin dengan lebar. Air mata mengalir tidak terhentikan melihat keputusasaan dalam mata emas inuyoukai yang dicintainya. "Permainan akan dimulai sekarang."


Menutup mata, dengan wajah tanpa ekspresi. Sesshoumaru kemudian berdiri. Dengan Shura yang memprotes di tangannya, dia melangkah maju meninggalkan Rin yang ada di atas futon.


Satu langkah.


Dua langkah.


Tiga langkah.


Empat langkah dan—langkah seterusnya.


Langkah yang pelan dan tegap. Tidak bergeming dan juga penuh keyakinan. Tapi, disetiap langkah yang ada, Sesshoumaru merasakan rasa sakit yang tidak tertahankan dalam hatinya.


Membuka pintu shoji, Sesshoumaru tidak menoleh wajah ke belakang sedikitpun, karena dia tahu, jika dia menoleh ke belakang, maka dirinya dan juga Rin akan—hancur.


Mencintai seorang wanita manusia bernama Rin, itu adalah sesuatu yang mudah. Namun, sekarang, Sesshoumaru tahu, ternyata itu salah, mencintai wanita manusia bernama Rin adalah hal paling sulit dilakukan di dunia.


"Kakak?"


"Sesshoumaru-san?"


"Sesshoumaru-sama, ada apa?"


"Ada apa, Sesshoumaru?"


Suara Inuyasha dan yang lainnya  terdengar. Mereka yang berada di luar kamar kebingungan dengan Sesshoumaru dan Shura yang tiba-tiba berjalan keluar.


Sesshoumaru tidak mengatakan sepatah katapun. Menutup mata, dia hanya dapat mendengar suara yang berbisik pelan dibawa angin dari belakangnya. "Terima kasih, Sesshoumaru-sama..."


Bersamaan dengan ucapan yang terucap angin pintu shoji yang terbuka tertutup, dan ketiga kalinya lagi, kekai muncul dan mengunci seorang wanita manusia dalam kamar tersebut.


"Kakak, apaan ini??"


"Sesshoumaru, apa yang terjadi???"


Suara teriakan penuh kepanikan dan tanda tanya terdengar begitu Inuyasha dan yang lainnya melihat kekai yang muncul mengurung Rin dalam kamar.


Namun, sekali lagi, Sesshoumaru mengabaikannya. Dengan mata yang masih tertutup, dia kemudian membalikkan badannya. Duduk berlutut ke bawah, dengan Shura yang masih memprotes karena tidak tahu apa-apa dalam gendongannya, dia membuka mata emasnya. Menatap pintu shoji yang tertutup dengan mata datar tanpa emosi.


"Kiri, Kira," panggil Sesshoumaru kemudian. Suaranyaa yang datar dan tenang tidak berubah, meski dia mulai merasakan apa yang dirasakan Rin di balik pintu shoji. "Sampaikan pada seluruh dunia, siapapun yang bisa membawakan Fushi No Kusuri kepada Sesshoumaru ini—Sesshoumaru ini akan memberikannya apapun yang dia inginkan."


....xOxOx....


Pintu shoji yang tertutup dengan punggung tegap Sesshoumaru yang terakhir dilihatnya, Rin menjatuhkan dirinya di atas futon yang ada.


Saat kematian datang pertama kali, Rin tersenyum. Untuk kedua kalinya, dia menangis, dan sekarang untuk ketiga kalinya, dia—tertawa.


"Hahahahahahahahahaha!!" tertawa dengan sangat kuat dan keras, Rin yakin, jika ada yang melihatnya sekarang, mereka pasti akan mengira dia adalah orang gila. Tapi, meski begitu, dia tidak dapat menghentikan tawanya.


Dingin yang membakar menyerang, rasa sakit tidak tertahankan datang. Suara menghilang, cahaya tertutup kegelapan.


"Hahahahahahaha—Ahhhaaahhah!!!! Ahhhhh!!!" tertawa dan tertawa, tidak tahu sejak kapan, tawa menjadi teriakan keputusasaan. Ahhhhhhhhh!!!!!!"


Sakitnya hatinya yang hancur. Perasaan bersalah dan keputusasaan yang ada, siapa yang mengerti dirinya? Kenapa? Kenapa kisah mereka seperti ini?—Rin ingin bertanya kenapa?


Teriak dan terus berteriak menumpahkan semua yang ada dalam hatinya, Rin hanya tahu, dia harus tetap membuka mata dan melawan kematian lagi.


"Sesshoumaru-sama! Sesshoumaru-sama!!! Sesshoumaru-sama!!!"


Dulu saat Rin kecil, jika dia berteriak memanggil nama inuyoukai itu, inuyoukai itu pasti akan muncul dihadapannya dan menyelamatkannya. Namun, sekarang, meski dia berteriak keras memanggil nama inuyoukai itu, dia tidak berharap inuyoukai itu muncul lagi, karena—inuyoukai itu tidak akan dapat menyelamatkannya lagi.


"Sesshoumaru-sama!!! Sesshoumaru-sama!! Sesshounaru-sama! Sesshoumaru-sama... Sesshoumaru-sama... Shura... Sesshoumaru-sama... Shura.. Sesshoumaru-sama..."


Teriakan keras semakin keras hingga akhirnya berubah menjadi bisikan kecil di ujung bibir. Pada akhirnya, bagi Rin yang sudah tidak bisa merasakan apa-apa lagi. Sendirian dalam kamar di atas futon, meski tidak ada di depannya, tetap hanya nama kedua inuyoukai paling berarti dalam keberadaannyalah penompang hidupnya.


....xOxOx....

__ADS_1


__ADS_2