![Till The End Of Time [ Inuyasha Fanfiction ]](https://asset.asean.biz.id/till-the-end-of-time---inuyasha-fanfiction--.webp)
"Kagome, ada apa?" tanya Jinenji begitu melihat Kagome membuka pintu ruang kerjanya dan berjalan masuk.
Kagome terseyum menatap Jinenji. "Aku datang untuk mengambil cairan infus untuk Rin-chan."
"Oh, sudah mau habis ya?" tanya Jinenji lagi dan segera berjalan ke kotak dimana dia menyimpan cairan infus yang dibuat mereka. "Akan segera kuambilkan."
Kagome tetap tersenyum melihat Jinenji yang dengan segera mengeluarkan beberapa botol besar cairan infus yang dibuat mereka. Dia tidak mengatakan apa-apa meski melihat sesuatu yang tidak seharusnya ada di jaman ini.
Cairan infus.
Kagome tidak tahu apa yang akan terjadi dengan masa depan karena apa yang telah dia lakukan. Apakah masa depan dunia kedokteran akan kacau karena campur tangannya?—tapi, dia bersedia menerima konsekuensinya, asal Rin akan selamat.
Beberapa hari yang lalu, keadaan kembali berubah. Meido seki di dada Rin telah berhenti berdetak, dan bersamaan dengan itu juga, badan mungil itu mulai menolak makanan maupun minuman. Tidak peduli apa yang dia makan atau minum, semuanya akan dimuntahkan keluar—sistem pencernaanya telah berhenti berkerja sepenuhnya.
Tidak ada seorangpun yang tahu apa yang terjadi, dan tidak ada seorangpun juga yang mampu menyembuhkannya lagi. Lalu, tanpa makanan dan minuman, badan yang lemah itu semakin lemah hingga sungguh menakutkan siapapun yang melihatnya. Badannya yang sudah kurus menjadi kurus—mana ada manusia yang dapat bertahan hidup tanpa makanan dan minuman?
Berbaring tanpa dapat bergerak di atas futon karena tidak bertenaga, tidak ada yang lebih pahit dari saat melihatnya masih tersenyum. Dengan matanya yang sayu, wanita manusia itu masih berujar pelan bahwa dirinya tidak apa-apa dan jangan khawatir. Karena itulah, saat semua orang mencari cara lain untuk mengatasi keadaan, Kagome yang berasal dari masa depan memberitahu akan alat medis masa depan—cairan infus.
Pertama kali Kagome menyebutkan kata itu, baik Inukimi, Kaeda maupun Jinenji cukup kebingungan. Namun, saat miko masa depan menjelaskan secara garis besar cara kerjanya. Ketiga orang yang memang memiliki pengetahuan luas akan pengobatan menemukan harapan.
Kagome memang tidak tahu cara membuat cairan infus, tetapi dengan bantuan Inukimi, Kaeda dan Jinenji, setelah susah payah, mereka akhirnya berhasil menciptakan cairan infus untuk Rin.
Melihat keadaan Rin yang berhasil mereka kendalikan, mereka semua dapat bernapas lega. Hanya saja, dalam hati mereka, ketakutan semakin membesar—apa lagi yang akan terjadi kedepannya? Kalaupun ada yang mereka syukuri dari keadaan wanita itu sekarang, setidaknya serangan yang biasanya menyerang tiap hari telah berhenti tanpa ada seorangpun tau penyebabnya. Kondisi dan kesehatan Rin benar-benar tidak dapat mereka predeksi sedikitpun.
"Ini Kagome," senyum Jinenji dan menyerahkan cairan infus pada Kagome. "Kau masih membutuhkan apa-apa?"
"Tidak, ini sudah cukup." senyum Kagome dan menerima cairan infus yang ada. "Terima kasih, Jinenji-san. Aku akan kembali ke kamar Rin-chan."
Membalikkan badan, Kagome melangkah maju untuk keluar dari ruanga kerja Jinenji, namun, baru beberapa melangkah, hanyou itu kembali memanggil namanya. "Kagome."
Kagome berhenti berjalan dan menoleh ke belakang menatap Jinenji yang masih berdiri di tempatnya. "Ya, ada apa, Jinenji?" tanyanya binggung.
"Kagome," wajah Jinenji terlihat ragu untuk mengatakan apa yang ada dalam hatinya. Namun, mengumpulkan segenap keberanian, dia menarik napas dan bertanya balik. "Apakah menurutmu kita bisa menyembuhkan, Rin-chan?"
Pertanyaan Jinenji seketika membuat senyum Kagome menghilang. Berdiri mematung tidak bergerak, dia diam membisu tidak menjawab.
"Aku sudah mengobati banyak orang, manusia, hanyou maupun youkai. Tapi, aku tidak pernah melihat sakit seperti Rin-chan," lanjut Jinenji pelan putus asa. "Kau sama sepertiku, Kagome. Kau orang yang setiap hari mengamati dan memeriksa kesehatannya. Melebihiku, kau bahkan tahu jelas kondisinya..."
Ucapan panjang Jinenji masih tidak dibalas Kagome. Miko itu tetap berdiri tegak diam membisu seribu bahasa menatap Jinenji yang wajahnya kini penuh kesedihan.
"Jawablah jujur, Kagome. Apakah Rin-chan bisa disembuhkan?"
Pertanyaan Jinenji sungguh menyakitkan hati Kagome. Sebab, dia tidak bisa menjawab—tidak. Bukan dirinya tidak bisa menjawab, melainkan dia tidak mau menjawab.
"Kenapa kau bertanya seperti itu, Jinenji?" tanya Kagome kembali. Tidak ada senyum ataupun tawa di wajahnya, ekspresi wajahnya adalah penuh; kesedihan.
Jinenji terdiam sejenak. Menutup mata, dia membayangkan gadis kecil yang tertawa dan berlari di taman bunga—Rin kecil yang penuh kehidupan. "A-aku tidak sanggup melihat penderitaan Rin-chan..."
Jawaban paling jujur dalam hati Jinenji. Dia tidak sanggup melihat gadis kecil dalam taman bunga yang telah dewasa menderita terus. Tangan yang lumpuh, suhu badan yang rendah tidak wajar, jantung yang berdetak sangat pelan seakan bisa berhenti setiap saat, makanan dan minuman yang tidak bisa dimakan, badan yang kehilangan tenaga, serta mental hancur yang terus ditahannya—apakah keadaannya sekarang tidak cukup menyakitan?
"Pasti ada jalan," jawab Kagome kemudian dengan datar dan membuat Jinenji membuka mata menatapnya. Menghela napas, miko masa depan itu tersenyum. untuk menyembunyi dan menutupi perasaannya yang sebenarnya. "Selama masih hidup kita masih memiliki harapan—keajaiban akan ada."
Jinenji terdiam tidak tahu lagi harus mengatakan apa. Jawaban yang diberikan Kagome jelas bukanlah jawaban, tapi—bagaimana dia bisa melenyapkan harapan yang dipegang begitu banyak penghuni dalam istana tanah barat sekarang?
Melihat Jinenji yang tidak mengatakan apa-apa lagi, Kagome kemudian tertawa kecil. "Apakah masih ada yang ingin kau tanyakan Jinenji? Kalau sudah tidak ada, aku kembali ke kamar Rin-chan dulu ya."
Tidak menunggu balasan Jinenji lagi, tanpa menoleh ke belakang, Kagome segera berlari cepat untuk keluar dari ruang kerja hanyou tersebut.
Jinenji yang ditinggalkan Kagome hanya dapat menatap sosok punggung miko masa depan itu hingga menghilang dibalik pintu shoji yang tertutup. Menghela napas kesekian kalinya, dia hanya dapat mengangkat kepala menatap langit-langit ruangan dan menutup mata.
Keajaiban.
Dalam hidupnya, sudah berapa kali dia melihat orang-orang mengharapkan keajaiban datang saat berada dalam masa yang tidak menentu dan menyakitkan. Hanya saja, dari begitu banyak orang, ada berapa banyak yang benar-benar mendapatkan keajaiban?
....xOxOx....
Duduk dalam kamar tidur penguasa tanah barat tanpa gerak, baik Miroku, Sango, Kohaku maupun Shippo tidak berani mengatakan sepatah katapun. Begitu juga dengan Inuyasha yang duduk di luar pintu kamar shoji yang terbuka. Mereka semua hanya terduduk diam menatap keluarga penguasa tanah barat di depan.
Seperti biasa, Shura tertidur dengan tenang di samping Rin dalam balutan moko-moko Sesshoumaru. Tangannya mengenggam erat ujung rambut hitam sang ibu, sedangkan senyum kecil memenuhi wajah mungilnya. Kadang dia tertawa kecil, karena dia bisa merasakan jelas keberadaan kedua orang tua di samping.
Untuk Sesshoumaru, sang penguasa tanah barat duduk tenang di samping kedua istri dan anaknya. Wajahnya datar tanpa ekspresi, tapi mata emasnya menatap lembut Rin yang ada di atas futon. Tangan kanannya bergerak pelan, mengelus rambut dan kadang menyentuh wajah wanita manusia yang tertidur dengan hati-hati—seakan sedang mengukir wajah damai tersebut dalam hatinya. Lalu untuk Rin sendiri yang tertidur tenang di atas futon. Jarum dan selang menusuk lengannya, mengalirkan cairan putih yang disebut Kagome cairan infus ke badan wanita manusia tersebut.
Rin.
Baik Miroku, Sango, Kohaku dan Shippo sudah beberapa saat tidak melihatnya. Sejak kondisinya yang memburuk dan butuh istirahat banyak, mereka tidak berani menginjak kaki ke dalam kamar untuk menjenguk karena tidak ingin mengganggu. Oleh sebab itu, melihatnya sekarang—mereka berempat sangat terkejut. Rin tetap cantik seperti dalam ingatan mereka. Tapi, badannya yang sangat kurus, membuat mereka mau tidak mau bertambah khawatir. Kedua pipinya sangat tirus hingga mulai cekung, bibirnya kering pecah-pecah, muka pucat pasi tanpa darah, napas pelan dan pendek yang ada—Rin sekarat.
Diamnya Miroku dan yang lainnya, serta perasaan terkejut dan takut mereka—Sesshoumaru menyadarinya. Tapi, mengabaikan mereka, inuyoukai yang terus menatap Rin kemudian menutup mata. Bohong jika dia tidak menyadari keadaan kisakinya sekarang, hanya saja selama jantung itu masih berdetak, selama mata itu bisa terbuka, dia masih bisa merasakan sedikit kedamaian. Rinnya masih hidup, masih berada di sampingnya.
"Sesshoumaru-sama..." suara pelan dan lemah memanggil namanya, membuat Sesshoumaru segera membuka mata. Seulas senyum lemah ditangkap pandangannya—senyum abadi dalam hatinya.
"Rin." Panggil Sesshoumaru pelan.
"Rin tidak apa-apa..." ujar Rin pelan dengan senyum yang masih merekah. Di wajah Sesshoumaru yang tanpa ekspresi serta mata emasnya, dia bisa melihat jelas segala perasaan sesunghuhnya dari inuyoukai yang dicintainya. "Jangan khawatir..."
Sesshoumaru mengangguk kepala meski dia tahu itu adalah kebohongan. Menunduk kepala ke bawah, dia mencium kening Rin lembut.
Rin menutup mata merasakan kehangatan bibir yang menyentuhnya. Tawa kecil memenuhi wajahnya. "Rin tidak akan kemana-mana, Sesshoumaru-sama..."
Tidak akan kemana-mana.
Rin selalu mengucapkan kata-kata itu pada Sesshoumaru, walau dalam hati baik Rin maupun Sesshoumaru tidak tahu lagi, kata itu adalah kebenaran ataulah—kebohongan. Berapa banyak yang benar dan berapa yang bohong, kata-kata itu hanya terus diucapkan dan didengar hanya demi mempertahankan keadaan supaya tidak memburuk lebih dari sekarang.
Saat Sesshoumaru menjauhkan bibirnya, Rin kembali menatap Sesshoumaru dengan sejuta perasaan cintanya dan tersenyum. Lalu, perlahan dia menatap Shura yang tertidur damai disamping. "Shura, putraku dari barat, Rin juga mencintaimu..."
Mendengar suara Rin, Shura tersenyum semakin lebar. Mengangkat kedua tangan yang mengenggam rambut hitam ibunya, dia mendekatkannya ke wajah. Mengulus-ngulus rambut itu dengan pipinya, dia kemudian tertawa.
Rin hanya dapat ikut tertawa meihat sikap Shura. Lalu, perlahan, pandangannya teralih pada sosok Miroku, Sango, Kohaku dan Shippo yang juga ada dalam ruangan. "Miroku-sama, Sango-sama, Kohaku-kun, Shippon-kun..." panggilnya pelan.
"Hai, Rin-chan." Balas Miroku cepat dan terseyum. Begitu juga dengan Sango, Kohaku dan Shippo, mereka menatap lurus Rin dengan wajah penuh senyum.
"Di mana anak-anak?" tanya Rin pelan saat tidak menemukan Shiro, Mamoru, Aya dan Maya.
"Ah, mereka semua sedang tidur," jawab Sango cepat sambil tertawa. "Lain kali, kami akan membawa mereka sekalian. Mereka semua sudah sangat merindukanmu, Rin-chan."
"Rin juga sangat merindukan mereka semua," balas Rin dan ikut tertawa pelan. "Rin rindu bermain dan mendengar suara tawa mereka semua."
"Kalau begitu kau harus cepat sehat kembali, Rin-chan," sela Shippo kemudian. Menatap Rin lurus, youkai rubah kecil itu tersenyum. "Saat kau sudah sehat, kita semua akan mengadakan pesta dan berkumpul seharian."
"Iya," tambah Kohaku cepat. Taijiya muda itu tertawa. "Ulang tahun Sesshoumaru-sama dan ulang tahunmu tidak lama lagi, bukan? Kita akan mengadakan pesta ulang tahun yang lebih meriah lagi dari tahun lalu."
Ucapan Kohaku membuat Rin tertegun sejenak. Ulang tahun Sesshoumaru dan dirinya—dia hampir melupakannya. Teringat tahun lalu, dia hanya kembali tersenyum. Dalam satu tahun ini, berapa banyak hal yang telah terjadi?
"Aku setuju," tawa Miroku ikut berbicara. "Kali ini pesta harus berlangsung satu-dua minggu."
Rin tidak membalas ucapan Miroku, tapi sekali lagi, dia kembali tertawa lepas.
"Ah—satu-dua minggu kurang," suara Kagome tiba-tiba terdengar. Dari depan pintu kamar yang terbuka, dia berjalan masuk dengan senyum lebar di wajah. "Satu bulan. Kita akan mengadakan pesta selama satu bulan penuh."
"Cih," cibir Inuyasha yang dari tadi diam. Melipat tangan di dada, dia membuang muka. "Kenapa tidak kau bilang kita akan berpesta sampai musim semi saat bunga sakura mekar saja?"
Ucapan Inuyasha seketika membuat semua yang ada menoleh menatap inuhanyou tersebut. Seketika, semua yang ada segera menyetujuinya.
"Ide bagus, Inuyasha."
"Benar. Kenapa aku tidak memikirkan itu?"
"Iya. Setelah selesai pesta ulang tahun, kita bisa melanjutkannya dengan hanami."
"Aku suka ide itu."
Reaksi yang didapatkan dari sekelilng membuat Inuyasha terkejut. Matanya terbelalak menatap teman-temannya tidak percaya, sejak kapan mereka semua menjadi pecandu pesta?
Rin sekali lagi hanya bisa kembali tertawa lepas melihat apa yang terjadi di depannya. Suasana seperti ini—rasanya sudah lama sekali tidak dia alami. Bersama mereka yang menyayanginya memang paling menyenangkan.
Sesshoumaru yang tidak mengatakan apa-apa melihat tawa lepas Rin. Membiarkan biksu dan yang lainnya menjenguk Rin ternyata memang tidak salah—setidaknya dia gembira sekarang.
Mengangkat tangan kanannya menyentuh pipi kanan Rin, Sesshoumaru kembali merebut perhatian wanita manusia tersebut. "Saat kau sembuh, Sesshoumaru ini akan mengadakan pesta paling meriah yang pernah ada di dunia ini untukmu, Rin."
Mata Rin terbelalak mendengar ucapan Sesshoumaru yang diluar dugaan. Namun, sejenak kemudian dia menutup mata dan tersenyum bahagia.
Pesta paling meriah yang pernah ada di dunia, Rin hanya dapat bisa membayangkan seperti apa pesta itu kelak. Akan penuh makanan dan minuman, penuh tarian dan nyayian, musik tidak akan pernah berhenti mengalir di udara, lalu senyum tawa semua orang akan terlihat disepanjang mata memandang—Rin sungguh ingin melihat pesta seperti itu.
Namun, baru menutup mata beberapa detik, Rin bisa merasakannya lagi. Dia datang lagi. Kali ini, dia datang dengan begitu kuat dan mengerikan. Sesuatu yang sangat ditakutinya; kematian.
Membuka matanya, ketakutan memenuhi mata Rin. Meido seki tidak berdetak lagi, dan dia tidak tahu, apakah kekai masih akan ada untuk memisahkan dirinya dengan mereka yang dia cintai—menyembunyikan sosoknya yang menyedihkan dari mereka.
"Rin, ada apa?" tanya Sesshoumaru begitu melihat perubahan ekspresi wajah Rin.
"S-sesshoumaru-sama, bawa Shura keluar." balas Rin cepat. Dia bisa merasakan kematian yang kini telah meraihya. Napasnya yang pelan dan pendek menjadi tidak karuan, badannya mulai gemetaran, keringat dingin membasahi seluruh wajah. "K-keluar.."
Ucapan dan juga perubahaan kondisi Rin seketika membuat semua yang ada sadar dengan ketidak normalnya wanita manusia itu. Berdiri, mereka ingin mendekatinya, namun Rin dengan segera menoleh kepala menatap mereka.
__ADS_1
Kedua mata coklatnya mati-matian menahan ketakutan dan air mata yang menumpuk. Penuh permohonan, dia berujar pelan dalam suaranya yang pelan dan bergetar. "R-rin mohon... Keluar.. Keluar dan tutup pintunya..."
Inuyasha, Kagome, Miroku dan yang lainnya tertegun dengan ekspresi wajah Rin sekarang. Langkah kaki mereka terhenti, permohonan yang mereka dengar membuat mereka benar tidak tahu harus melakukan apa.
"Rin," panggil Sesshoumaru dan memaksa Rin menatapnya. Ketenangan di wajahnya kini telah menghilang digantikan kekhawatiran, kepanikan dan juga—ketakutan."Beritahu Sesshoumaru ini, apa yang terjadi??"
Ekpresi wajah Sesshoumaru hanya membuat Rin semakin putus asa dan juga bersalah. Perasaan yang sungguh memakan dirinya. Lagi-lagi dia membuat inuyoukai ini berwajah seperti ini.
"Sesshoumaru ini tidak akan keluar sebelum kau menjelaskan apa yang sesungguhnya terjadi!!" Sesshoumaru sudah muak. Apa yang dirahasiakan Rin setiap kali dia meminta semua orang keluar dan mengurung diri dalam kamar?
Ucapan Sesshoumaru, Rin tahu, inuyoukai itu tidak bercanda. Tapi, sekali lagi, bagaimana bisa dia memperlihatkan sosok yang begitu menyedihkan pada inuyoukai yanh dicintainya melebihi apapun?
Menoleh wajah pelan, pandangan mata Rin kemudian jatuh pada Inuyasha yang berdiri di depan pintu kamar. Air mata mengalir, menangis dia memohon pada inuhanyou yang merupakan satu-satunya harapan yang dimiliki. "I-inuyasha-sama.. Rin m-mohon... b-bawa Sesshoumaru-sama dan Shura k-keluar....
Air mata Rin, pemohonannya serta sepasang mata penuh keputusasaan yang terarah padanya—Inuyasha hanya dapat menutup mata. Pandangan itu menghantuinya bersamaan dengan sejuta perasaan tidak bedaya. Namun, inuhanyou itu tahu, dia harus membuat keputusan.
Membuka mata, mengigit erat bibir bawahnya, Inuyasha bergerak cepat. Mendekati keluarga kecil di depan, dia segera menarik lepas rambut Rin yang digenggam Shura. Tidak peduli mata inuyoukai kecil yang terbuka marah, dia segera mengangkat tangan kanan mengendongnya. Sedangkan untuk tangan kirinya, dia segera meraih kerah kimono Sesshoumaru dan menariknya berdiri.
"Lepaskan aku, Inuyasha!!!" perintah Sesshoumaru penuh kemarahan. Mata emasnya berubah menjadi merah kehitaman, dia tidak akan segan-segan meski yang bersangkutan adalah adiknya. Namun, suara teriakan Rin tiba-tiba terdengar menghentikannya.
"Sesshoumaru-sama!!!"
Terkejut, Sesshoumaru segera menoleh wajah menatap Rin, dan seketika dia—tertegun. Menatapnya dalam segala penderitaan, sepasang mata yang coklat penuh keputusasaan dan permohonan terarah lurus padanya. Air mata mengalir tanpa henti, namun kedua ujung bibirnya terangkat membentuk seulas senyum terindah di dunia.
"R-Rin mohon, keluar, Sesshoumaru-sama. Rin tidak apa-apa. Sungguh, Rin tidak apa-apa. Keluarlah..."
Sesshoumaru tidak bisa bergerak, mata merah darah kehitamannya kembali menjadi emas. Kenapa? Dia ingin sekali bertanya kenapa pada Rin, tapi, dia tidak bisa menemukan suaranya. Senyum Rin mengalihkan segalanya, hanya saja kali ini karena keputusasaan dan ketidakberdayaan.
Inuyasha yang melihat Sesshoumaru menjadi tenang, tidak membuang kesempatan yang ada. Melangkah kaki cepat, dia menarik kakak seayahnya itu keluar dari kamar.
Kagome, Miroku, Sango, Kohaku dan Shippo bingung dengan apa yang terjadi. Tapi melihat apa yang terjadi serta ekspresi Rin, mereka menguatkan hati mereka dan berlari keluar mengikuti Inuyasha dalam diam.
Ditarik keluar oleh Inuyasha, Sesshoumaru sama sekali tidak bergerak, pandangannya hanya tertuju pada senyum Rin. Lalu, saat pintu shoji kamar yang terbuka perlahan tertutup, dia melihat senyum itu berubah menjadi tawa yang begitu dicintainya.
"Rin mencintai anda..."
Terucap pelan dan lemah, tapi Rin sungguh berharap Sesshoumaru bisa tenang dan menunggunnya di luar. Dia tidak tahu harus mengatakan apa lagi, selain memberitahu inuyoukai itu betapa dia mencintainya. Mencintainya hingga dia pasti akan menang melawan kematian lagi tidak peduli betapa menderitanya.
Menutup mata, dan membuka mata lagi, Rin membiarkan kematian datang sepenuhnya untuk kesekian kalinya. Dengan air mata yang tidak kunjung menghilang dan kesakitan tiada tara, dia membuka mulut dan mengucapkan mantranya.
"Sesshoumaru-sama... Shura... Sesshoumaru-sama... Shura... Sesshoumaru-sama... Sesshoumaru-sama...Sesshoumaru-sama..."
Cinta.
Luar biasanya cinta yang ada, betapa bahagia dan manakjudkan perasaan itu, tapi dalam waktu bersamaan, dalam kisah Rin, betapa menyedihkan dan menyakitkan cinta itu.
....xOxOx....
Berdiri di depan pintu kamar yang tertutup, tidak ada seorangpun yang bergerak mengucapkan sesuatu. Keheningan luar biasa memenuhi Sesshoumaru, Inuyasha dan yang lainnya, hingga suara tangis Shura yang keras memecahkan suasana.
"Aaahhh!! Ahhhhh!! Huwaaaa!!!"
Kagome segera bergerak dan mengendong Shura. Dibantu Sango, mereka berdua dengan sekuat tenaga berusaha menghentikan dan menenangkan inuyoukai kecil yang mencari-cari ibunya.
Sesshoumaru tetap tidak bergerak meski dia bisa mendengar jelas suara tangis Shura. Kedua matanya masih tetap terarah pada pintu kamar yang tertutup rapat. Inuyoukai itu masih tidak dapat mencerna segala yang terjadi, senyum tawa Rin masih terbayang jelas dalam ingatannya.
Inuyasha yang khawatir dengan sikap Sesshoumaru, hanya dapat memanggil nama kakak seayahnya pelan. "Sesshouam—"
Namun, belum selesai Inuyasha memanggil nama Sesshoumaru, pintu kamar shoji yang tertutup rapat tiba-tiba terbuka dengan keras dan membuat semua yang ada terkejut.
Pintu kamar shoji terbuka lebar, hanya saja, tidak seorangpun yang dapat melihat ke dalamnya. Sesuatu hitam yang pekat bagaikan dinding menutupinya. Sangat pekat hingga membuat semua yang ada hanya dapat melihat kegelapan.
"Apa ini?" ujar Inuyasha bingung begitu juga dengan yang lainnya.
Sesshoumaru juga tidak mengerti apa yang terjadi, tapi menatap kegelapan pekat di depan, dia bisa mendengar suara aneh yang berbicara dalam pikirannya. Suara yang aneh, seperti suara seorang perempuan, tapi juga bukan perempuan, seperti anak kecil tapi juga seperti orang dewasa dan juga orang tua.
'Sesshoumaru, masuklah.'
Tidak mempedulikan apapun, tanpa berpikir panjang lagi, Sesshoumaru segera melangkah dan menerobos masuk ke dalam kegelapan pekat di depan mata.
"Sesshoumaru!!!"
"Kakak!!"
"Sesshoumaru-sama!!!"
"Sesshoumaru-san!!"
Teriak Inuyasha, Kagome, Miroku dan yang lainnya terkejut secara bersamaan melihat Sesshoumaru yang menerobos masuk.
"Apaan ini!!! Sesshoumaru!!!" teriak Inuyasha keras penuh ketakutan. Kedua tangannya bergerak
memukur dinding tersebut berharap bisa meruntuhkannya. "Kakak!!!!!"
....xOxOx....
Yang ditemukan Sesshoumaru saat menerobos masuk ke dalam kegalapan pekat adalah kamar tidurnya dan Rin lagi. Hanya saja, ada yang aneh, yakni; keheningan yang luar biasa. Suara Inuyasha dan yang lainnya diluar sama sekali tidak terdengar seakan kamar ini kedap suara.
Tapi, Sesshoumaru tidak mempedulikan keanehan tersebut, mata emasnya dengan cepat mencari sosok wanita yang di atas futon. Seketika, matanya terbelalak tidak percaya.
Di atas futon, dengan mata terbuka lebar yang terus mengalirkan air mata tanpa henti, Rin berbaring. Seluruh badannya bergetar dan kejang-kejang luar biasa dengan keringat membasahi. Mulutnya terbuka terus mengucapkan sesuatu, tetapi tidak ada sedikitpun suara yang keluar.
"Rin!!" Sesshoumaru berlari cepat. Kedua mata emasnya menatap penuh ketakutan akan kondisi Rin di depan. Namun, baru dua langkah diambilnya, rasa sakit luar biasa menyerangnya.
"Ughh.." bergumam kesakitan, Sesshoumaru jatuh berlutut ke bawah. Tanpa dapat dihentikan, rasa sakit yang menyerang terus membesar dan membesar hingga tidak tertahankan.
Napas menjadi sangat sulit, dingin yang membakar dari dalam tidak terjelaskan, rasa seluruh badan yang ditusuk dan dicabik-cabik ribuan kepingan. Tidak pernah Sesshoumaru merasakan sakit seperti ini, bahkan rasa sakit saat jantungnya tertusuk tidak sesakit ini.
Tidak dapat berdiri maupun berjalan, Sesshoumaru mati-matian menahan rasa sakit luar biasa tanpa sebab tersebut. Menatap Rin lagi, dengan segenap tenaga yang ada, inuyoukai itu hanya dapat merangkak mendekati kisakinya.
"R-rin..." merangkak, Sesshoumaru berusaha keras mempertahankan kesadarannya yang seakan bisa menghilang setiap saat. "Rin..."
Merangkak dan terus merangkak dengan memusatkan kesadarannya pada Rin, Sesshoumaru tidak tahu apalagi yang dirasakannya. Melihat wanita manusia yang dicintainya begitu menderita di depan mata, tapi untuk mendekatinya saja, dia begitu kesulitan—satu kenyataan menghantam inuyoukai tersebut.
Jarak antara mereka tidaklah jauh, tapi untuk mencapai Rin, Sesshoumaru sadar pertama kali bahwa betapa jauh sesungguhnya jarak antara mereka yang telah tercipta. Jarak kasat mata yang tidak terlihat, bisa melihat tapi tidak tergapai—memisahkan mereka dengan begitu hebatnya.
Lalu, semua tiba-tiba gelap.
Membuka mata, Sesshoumaru mendapatkan dirinya berdiri dalam kegelapan tidak berujung. Tidak tahu berada di mana, inuyoukai itu tidak mengerti kenapa dia berada di sini. Bukankah tadi dia berada dalam kamarnya dan Rin? Rasa sakit luar biasa yang menyerangnya barusan juga telah menghilang tanpa bekas, seakan dia tidak pernah merasakan sakit itu untuk pertama kalinya.
Menatap sekeliling dengan hati-hati juga kebingungan. Dari kejauhan, indera pendengaran Sesshoumaru menangkap suara lemah dalam kegelapan. Tanpa membuang waktu sedetikpun, dia segera berlari menuju sumber suara, karena dia tahu siapa pemilik suara itu—Rin.
Terus terdengar. Walau lemah dan terbata-bata, Sesshoumaru bisa mendengar jelas suara bergetar Rin yang terus memanggil nama dua orang dalam hidupnya.
"S-sesshoumaru-sama... Shu-ura... Sesshou-oumaru-sama... Shura... S-sesshoumaru-sama..."
Terus berlari sekuat tenaga dalam kegelapan, Sesshoumaru tidak mempedulikan apapun lagi. Yang ada dalam pikirannya hanya satu, yakni; menemukan Rin dan menghentikan apapun penderitaan yang dialaminya.
Dalam kegelapan tidak berujung yang tidak tahu dimana awal dan akhir, Sesshoumaru kemudian menemukan Rin. Namun, yang dilihatnya menghentikan langkah kakinya.
Terbaring lemah dalam kegelapan. Badan mungil itu terus bergetar hebat. Garis-garis hitam yang bergerak bagaikan ular memenuhi badan dan wajahnya. Lalu, yang paling mengerikan, kaki dan tangan yang ada kini telah berubah menjadi batu dan terus terkikis menjadi debu menghilang. Wajah Rin pucat pasi, kedua mata terbuka lebar terus mengalirkan air mata dan tidak fokus. Mulut kecilnya juga terus terbuka dan menyebutkan dua nama bagaikan mantra. "Sesshoumaru-sama... S-shura... S-sesshoumaru-sama... Shur-ra...."
"R-Rin.." panggil Sesshoumaru tidak percaya. Ketakutan tidak dapat disembunyikan lagi di wajahnya. "Rin!!!"
Berteriak keras memanggil nama Rin, Sesshoumaru kembali berlari. Tidak ada yang lebih penting baginya selain Rin, karena itu melihat kondisi wanita itu, dia tidak bisa menahan lagi segala emosi dalam hatinya. Namun, saat dia tiba di depan Rin, saat dia berlutut untuk menyentuhnya, sebuah dinding kasat mata menghentikannya—memisahkan mereka lagi untuk kesekian kalinya.
Sekali lagi, hanya bisa melihat wanita yang dicintainya menderita, namun menyentuhnya saja tidak bisa, Sesshoumaru tidak dapat mempertahankan kewarasannya lagi.
"Rin!!! Rin!!!" terus memukur dinding kasat mat yang ada seakan mengharapkannya roboh, Sesshoumaru bagaikan orang gila yang telah gelap mata. Dia tidak bisa berpikir apa-apa lagi selain mengapai Rin. "Rin!!! Rin!!!!!!!!"
Suara teriakan Sesshoumaru memenuhi kegelapan tidak berujung. Lalu, seketika, rasa sakit yang ada kembali menyerang Sesshoumaru tanpa ampun. Dingin dan panas yang tidak bisa terjelaskan, rasa sakit tubuh yang tertusuk dan tercabik menjadi ribuan kepingan tidak tertata lagi—lalu, tangan dan kaki yang tidak dapat dirasakannya lagi.
"Ahhhhhh!!!" Sesshoumaru berteriak keras. Rasa sakit tidak terjelaskan dan tidak tertahankan. Tidak pernah Sesshoumaru menyangka di dunia ini ada rasa sakit yang begitu menyiksa. Rasa sakit ini bahkan berpuluh-puluh kali lipat dibandingkan dengan rasa sakit yang dirasakannya di kamar sebelum berada dalam kegelapan tanpa ujung ini.
Berusaha memahan rasa sakit dan kewarasannya, dalam teriakan kesakitannya, Sesshoumaru hanya dapat menatap kembali Rin yang ada di depan mata. Namun, menatap terus wanita yang terbaring tanpa gerak di depan, seketika dia tersadar akan sesuatu.
Tanda yang ada mengikat. Tanda di leher Rin merupakan tanda yang selalu menghubungkan Rin dengan dirinya, membuatnya tahu jika telah terjadi sesuatu pada wanita yang dia pilih menjadi belahan jiwanya. Karena itu, Sesshoumaru akhirnya menyadari; rasa sakit yang ada, rasa sakit tertahankan yang terus menyerang tanpa henti—itu adalah rasa sakit yang dirasakan Rin.
"Benar, Sesshoumaru. Itu adalah sakitnya Rin."
Suara aneh yang didengarnya di depan pintu kamar kembali terdengar dari belakang Sesshoumaru. Menoleh ke belakang, mata emasnya menemukan sebuah bola cahaya bersinar dalam kegelapan tidak berujung. Seketika juga rasa sakit yang ada menghilang.
"Rasa sakit yang bahkan membuat seorang inu daiyoukai bertekuk lutut dan berteriak kesakitan—Rin mengalaminya setiap hari dalam diam."
Sesshoumaru tahu apa bola cahaya itu. Walau ini adalah pertama kalinya mereka bertemu, dari aura yang dirasakan serta keberadaannya yang mengingatkannya pada pedang tensaiga.
"Meido seki..."
"Iya, akulah Meido seki," Balas bola cahaya dan tertawa keras. "Akhirnya kita bertemu, Sesshoumaru."
Kemarahan memenuhi hati Sesshoumaru mendengar tawa Meido seki. "Apa yang kau lakukan pada Rin!?"
__ADS_1
Tawa Meido seki terhenti. Diam membisu sejenak mendengar pertanyaan Sesshoumaru, bola cahaya itu kemudian berbicara lagi, tapi dengan suara penuh kemarahan. Memancarkan cahaya yang sangat terang, dia mendekat pada inuyoukai di depannya. "Itu bukan pertanyaanmu, Sesshoumaru! Akulah yang seharusnya bertanya, apa yang telah kau lakukan pada, Rin!??"
Pertanyaan diluar dugaan Meido seki membuat Sesshoumaru terdiam. Kebingungan seketika memenuhinya, dia tidak mengerti maksud pertanyaaan yang ada.
Reaksi Sesshoumaru membuat kemarahan Meido seki menghilang. Perlahan, cahayanya kembali seperti semula. Dia tahu, Sesshoumaru tidak tahu apa-apa, dia tidak pernah tahu apa yang telah dia paksa Rin lalui. "Kau sudah muak bukan, Sesshoumaru? Kau menginginkan kebenaran, bukan?—aku akan memberitahumu semuanya."
Pertanyaan dan ucapan Meido seki membuat Sesshoumaru tidak dapat bergerak. Menatap lurus bola cahaya itu, dia tidak tahu harus melakukan apa. Tapi mata emasnya bersinar mengharapkan jawaban semua ketidak pastian yang ada.
"Rin tidak sakit, Sesshoumaru. Hanya saja, waktunya di dunia kehidupan telah mencapai akhir. Kematian hanya datang menjemputnya sesuai lingkaran kehidupan," jelas Meido seki pelan tidak mempedulikan reaksi Sesshoumaru. "Tapi karena dia memaksa untuk terus hidup bersamamu, kematian menjadi kejam."
Waktu yang telah mencapai akhir dan kematian yang menjemput, Sesshoumaru tidak dapat bergerak. Waktu Rin yang mencapai akhir dan juga kematian yang datang menjemput, jauh dalam hati, dia sesungguhnya sadar. Tapi, dia selalu menepisnya jauh, bersembunyi dan menenggelamkan diri dalam senyum serta tawa wanita yang dicintainya—selamanya bersama.
"Rin yang melemah dari hari ke hari adalah karena memang raga yang sudah kehabisan waktu tidak memiliki aura kehidupan lagi. Raganya akan berhenti berfungsi secara perlahan hingga—jiwa menghilang," lanjut Meido seki terus tanpa berhenti. "Lalu, serangan. Serangan yang sering menyerang dan menyiksa Rin. Itu adalah kematian yang tidak terlihat. Melakukan segala cara, kematian memaksa dan menyiksa Rin yang telah melanggar hukum kehidupan untuk mentaatinya.."
Sosok Rin yang terbaring tidak berdaya dalam kamar, serta sosok Rin yang berada di belakang, Sesshoumaru tahu sekarang—itu adalah kematian. Sang kematian tidak terlihat yang datang menjemput jiwa yang seharusnya telah tiada.
"Apakah kau tahu, Sesshoumaru?" tanya Meido seki kemudian dengan suara yang tidak berubah. "Kenapa kau tidak pernah merasakan kematian yang datang menjemput selama ini meski Rin telah mengalaminya berkali-kali? Mengapa Rin selalu mengurung diri dalam kamar setiap kalinya?"
Sesshoumaru hanya dapat terus menatap Meido seki. Dia tidak bisa menjawabnya, dia tidak menemukan kekuatan untuk mengeluarkan suaranya.
"Kau tidak pernah merasakan apapun karena—Rin tidak ingin kau tahu. Meski tanda menghubungkan kalian, dia menggunakan kekuatanku tanpa sadar untuk menciptakan kekai yang membatasi ikatan kalian. Karena itulah kau tidak pernah merasakannya hingga barusan aku mencabut kekai itu. Dia terlalu mencintaimu hingga tidak ingin kau menderita sedikitpun..."
Sakit yang begitu luar biasa, sesuatu yang begitu mengerikan. Berapa kali Rin telah mengalaminya?—mengurung diri sendiri dalam kamar menahan ini semua tanpa memberitahu seorangpun. Ah, betapa bodohnya wanita tersebut.
"Dia bodoh, bukan?" tanya Meido seki. Dia bisa membaca jelas pikiran Sesshoumaru hanya dengan melihat ekspresi wajahnya sekarang. "Dia tidak ingin siapapun tahu. Mengurung diri dalam kamar sendiri dan memaksa semua keluar—itu karena dia tidak ingin memperlihatkan sosoknya yang menderita dan memyedihkan pada siapapun, terutama; kamu Sesshoumaru..."
Dasar wanita bodoh.
Sesshoumaru menutup mata, dirinya hanya dapat berpikir dan berpikir betapa bodoh Rin itu. Tidak ingin memperlihatkan sosoknya yang seperti itu adalah karena dia tidak ingin dirinya dan yang lainnya ikut menderita, tidak ingin mereka merasa tidak berguna dan bersalah karena tidak dapat melakukan apapun untuknya. Rin yang tidak pernah berubah karena selalu mengutamakan orang lain, pernahkan dia berpikir untuk dirinya sendiri sekali saja?
"Sesshoumaru," panggil Meido seki lagi dengan pelan. Kesakitan dan kesedihan di wajah Sesshoumaru, dia bisa melihatnya jelas. Tidak ada lagi inudaiyoukai berkembangaan diri tinggi yang begitu ditakuti semua orang. "Konsekuensi jiwa yang melawan sang kematian dan bisa bertahan, apakah kau tahu?"
Sesshoumaru membuka mata dan kembali menatap Meido seki dengan ekspresi yang sama tidak berubah; kesakitan dan kesedihan.
"Konsekuensinya adalah jiwanya akan musnah, dan dia tidak akan pernah dapat masuk ke lingkaran reinkarnasi lagi."
Mata Sesshoumaru terbelalak tidak percaya mendengar penjelasan Meido seki.
"Dan kau tahu, saat aku memberitahu Rin, dia tersenyum dan mengatakan tidak apa-apa. Dia mengatakan itu adalah hal baik, sebab dengan begitu dirinya tidak perlu bereinkarnasi dan melupakanmu serta Shura. Melupakan kalian berdua adalah hal yang paling tidak diinginkannya..," suara Meido seki terdengar pelan. Karena bola cahaya itu ingat jelas senyum di wajah wanita manusia itu saat itu. "Cinta Rin padamu dan Shura adalah cinta paling luar biasa yang pernah ada di dunia..."
'Berapa lama kau sanggup mencintaiku?'
'Selamanya. Tidak peduli napasku telah berhenti, tidak peduli ragaku telah tiada, selama jiwaku masih ada-tidak. Bahkan jikapun jiwaku telah tiada, cintaiku pada anda tidak akan pernah berubah. Aku akan selalu mencintai anda, hingga akhir waktu.'
Pertanyaannya dan juga jawaban Rin, semua itu kembali melintas dalam pikiran Sesshoumaru. Mengenggam erat bagian dada kimono yang dikenakannya, rasa sakit yang baru, sangat menyayat dan menyakitkan menghampiri—dia sungguh merasa dirinya bagaikan tidak dapat bernapas. Cinta Rin yang begitu luar biasa untuknya, cinta yang begitu murni dan polos hanya untuknya seorang—bagaimana bisa wanita itu mencintai dirinya hingga tidak mempedulikan apapun?
Meido seki tidak mengatakan apapun lagi. Terbang pelan, dia kemudian melewati Sesshoumaru dan melewati dinding tidak terlihat yang ada. Berhenti tepat di atas Rin, dia terbang turun dan bersinar semakin terang seakan berusaha menghangatkan wanita manusia tersebut.
Sesshoumaru dengan segera membalikkan badannya menatap Rin dan Meido seki. Bola cahaya yang kini bersinar dalam kegelapan tidak berujung dengan jelas memperlihatkan pada inuyoukai itu sosok wanita yang meringkuk dalam penderitaan.
Air mata tanpa henti, mata yang terbuka lebar tapi tidak fokus, badan yang diselimuti garis-garis kegelapan yang terus bergerak bagaikan ingin melahapnya, serta tangan kaki yang telah menjadi batu dan terkikis menjadi debu—sakit dan pederitaan tidak terjelaskan yang ada.
"Jiwa yang telah mulai hancur ini," ujar Meido seki pelan penuh kesedihan. "Kau tahu apa yang menjadi senjata Rin dalam menghadapi kematian, Sesshoumaru?"
Pertanyaan Meido seki membuat Sesshoumaru kembali mengangkat pandangannya pada bola cahaya tersebut.
"Namamu dan putra kalian yang terus digumamkannya tanpa henti bagaikan mantra—itulah senjata Rin menghadapi segalanya..."
Mulut yang terus terbuka lebar dan memanggil namanya dan putra mereka antara sadar dan tidak sadar—senjata Rin menghadapi segala penderitaan, Sesshoumaru merasakan kesakitan yang tiada tara dalam hatinya. Perasaan Rin, cintanya untuk dirinya dan Shura—dia tidak menemukan kata untuk menggambarkan sakitnya ini lagi.
Mengkat tangan, Sesshoumaru kembali memukul dinding kasat mata yang ada. Dia ingin memeluk Rin, merasakan kehangatan dan mengusir semua penderitaan yang ada. Tapi, dinding yang ada tetap berdiri tegap tidak bergeming.
"Lenyapkan dinding sialan ini!!" teriak Sesshoumaru penuh kemarahan. Mata emasnya berubah menjadi merah kehitaman penuh kegilaan. "Lenyapkan!! Kembalikan!! Kembalikan Rin padaku!!!"
"Jiwa Rin terlalu rapuh untuk disentuh lagi, Sesshoumaru," sela Meido seki menghentikan kegilaan Sesshoumaru. Tertegun, mata merah kehitamannya kembali menjadi emas terarah pada bola cahaya di depan mata. "Jika kau menyentuhnya, dia akan musnah seketika..."
Bisa melihat namun tidak dapat menyetuh, Sesshoumaru tidak dapat menerima kenyataan yang ada lagi. Marah, bingung, benci, bersalah, putus asa—semua bergabung menjadi satu. "Apa... Apa yang kau inginkan dari Sesshoumaru ini, Meido seki?"
Meido seki diam mendengar pertanyaan Sesshoumaru. Namun, sejenak kemudian dia baru menjawab. "Aku ingin kau menghentikan ini semua, Sesshoumaru."
Sesshoumaru terdiam mendengar jawaban yang di dapatkan. Sekali lagu, dia menatap tidak percaya Meido seki.
"Rin tidak akan tertolong lagi. Dia tidak memiliki harapan lagi. Walau jiwanya akan musnah dan menghilang setelah itu, setidaknya dia tidak perlu menderita lebih dari ini..."
"K-kau menyuruh Sesshoumaru ini memberitahu Rin untuk—mati?" tanya Sesshoumaru terbata-bata.
"Iya," balas Meido seki cepat tanpa mengubah intonasi suaranya. "Rin tidak akan pernah bisa meninggalkan semuanya tidak peduli apapun yang terjadi. Tapi, jika kau yang memintanya, meski dia tidak mau, dia pasti akan menurutinya.."
Hidup Rin adalah pemberian Sesshoumaru, sejak dia mebuka mata kedua kalinya di dunia, sejak kecil hingga dewasa, wanita manusia itu tahu hidupnya adalah milik Sesshoumaru. Karena itu, dia tidak bisa sembarangan membuangnya. Dia tidak akan kemana-mana selama inuyoukai itu tidak mengijinkan, termasuk—kematian.
Apa yang dikatakan Meido seki seketika membuat Sesshoumaru tertawa. Menyuruhnya meminta Rin meninggalkan semuanya? Meninggalkan dirinya dan Shura? Menyuruh Rin mati?—kegilaan apa ini?? Betapa Rin penting baginya? Satu-satunya wanita yang dicintai, ibu dari putranya..
'Sesshoumaru-sama.'
'Sesshoumaru-sama, Rin mencintai anda..."
'Sesshoumaru-sama, Shura dan Rin—selamanya bersama..."
Senyum dan tawa sehangat musim semi yang terukir abadi dalam keberadaannya. Mimpi indah yang terajut begitu bahagia, benang merah yang mengikat tangan mereka—bagaimana bisa Sesshoumaru melakukan itu?
Menatap Meido seki penuh kegilaan, Sesshoumaru kembali marah. Matanya kembali lagi menjadi merah kehitaman. "Sesshoumaru ini tidak akan melepaskan Rin! Rin adalah milikku!! Tidak akan kubiarkan siapapun merebutnya dariku!! Tidak bahkan untuk sang kematian!!" kembali memukul dinding kasat mata, cakar Sesshoumaru yang menajam mulai mencakar dan berusaha mencabiknya. "Rin tidak akan pernah meninggalkan Sesshoumaru ini!!!"
"Sesshoumaru," potong Meido seki datar. Reaksi Sesshoumaru tidak mengagetkannya sedikitpun. Karena dia sendiri tahu, permintaannya adalah permintaan yang sangat kejam. Siapa yang sanggup meminta orang yang paling kau cintai untuk mati? tapi—ini adalah yang terbaik. "Keegoisan dan keserakahanmu hanya akan membuat Rin semakin menderita."
Sesshoumaru bisa mendengar ucapan Meido seki dan dia juga tahu maksudnya. Tapi, dia memilih menulikan telinganya. Jangan menyuruhnya melakukan sesuatu yang tidak mungkin. Pentingnya wanita manusia itu, betapa berharga dia dalam hatinya, keberadaan tidak tegantikan dalam dunianya—siapa yang tahu? tidak ada seorangpun yang tahu!
"Rin tidak akan kemana-mana!! Rin akan selalu bersama Sesshoumaru ini!!! Dia akan hidup—selamanya bersama!!!"
Teriakan yang terus terdengar memenuhi kegelapan tanpa berujung, teriakan dalam ketakutan dan keputusasaan—tangisan tersembunyi yang tidak terjelaskan. Meido seki tidak dapat mengatakan apa-apa lagi, melihat kondisi Sesshoumaru, dia tahu, apapun yang dikatakannya, inuyoukai itu tidak akan mendengarkannya. Apa yang ingin dia beritahu, sudah diberitahunya, apa yang ingin dikatakannya juga telah dikatakan. Kedepannya, semuanya hanya adalah keputusan Sesshoumaru.
Terbang tinggi ke atas, Meido seki kemudian bersinar dengan sangat terang, membuat Sesshoumaru mau tidak mau menutup matanya. "Jika kau benar-benar mencintainya, maka lepaskanlah dia..."
Membuka mata, Sesshoumaru menemukan dirinya berada dalam kamarnya dan Rin lagi. Mengangkat kepala, dia melihat Rin yang masih berbaring penuh kesakitan di atas futon.
"Rin!!" bergerak, Sesshoumaru menyadari dirinya telah dapat kembali bergerak dan tidak merasakan kesakitan lagi. Berdiri, dia dengan cepat berlari mendekati Rin dan memeluknya dengan hati-hati.
"Rin!!" panggil Sesshoumaru lagi. Tapi, Rin yang berada dalam pelukannya sama sekali tidak bisa mendengar.
Dengan mata yang terbuka lebar dan mengalirkan air mata tanpa henti, badan yang dingin bagaikan es dan terus kejang-kejang, napas tidak karuan dan jantung yang berdetak lambat tidak normal—Sesshoumaru tahu apa yang sesungguhnya sedang dialami Rin. Tapi, disinilah dia berada, hanya dapat memeluknya tanpa bisa melakukan apapun.
"Rin..." Memanggil nama Rin, Sesshoumaru menyentuh pipi Rin dan mengarahkan pandangan yang tidak fokus padanya. Seketika juga, dia tertegun.
Mulut Rin yang terbuka terus bergerak seakan mengucapkan sesuatu tapi tidak ada suara yang keluar, dan melihat gerakannya, Sesshoumaru tahu apa yang diucapkan wanita manusia itu, yakni; namanya dan nama putra mereka.
Sesshoumaru-sama dan Shura.
'Namamu dan putra kalian yang terus digumamkannya tanpa henti bagaikan mantra—itulah senjata Rin menghadapi segalanya...'
Ucapan Meido seki melintas dalam pikiran Sesshoumaru, membuat hatinya terasa luar biasa sakit hingga tidak bisa bernapas. Dalam kesakitan luar biasa, antara sadar dan tidak sadar, yang dipikirkan Rin tetaplah hanya dirinya dan putra mereka, tidak pernah ada dirinya sendiri.
'Keegoisan dan keserahkanmumu hanya akan membuat Rin semakin menderita.'
Keegoisan dan keserakahannya. Sesshoumaru tahu, tapi, dia ingin egois dan serakah. Bukankah youkai adalah makhluk yang egois dan serakah? Dia adalah youkai, karena itu dia boleh egois dan serakah, bukan? Dia akan selalu egois dan serakah untuk mempertahankan Rin di sampingnya—selamanya bersama yang mereka inginkan.
'Jika kau benar-benar mencintainya, maka lepaskanlah dia...'
Melepaskan Rin? Sesshoumaru sekali lagi bertanya, bagaimana dia bisa melepaskannya? Dia sungguh ingin bertanya, apakah ada orang di dunia ini yang sanggup melepaskan orang yang merupakan poros dunianya sendiri? Melepaskan dia yang begitu kau cintai melebihi segalanya.
Mengangakat dan memendamkan wajah Rin di dadanya, Sesshoumaru mengagkat kepala ke atas dan tertawa keras. "Hahahahhahahhaha!!"
'Sesshoumaru, apakah ada orang yang ingin kau lindungi?'
Pertanyaan ayah kandungnya terlintas dalam kepala Sesshoumaru. Dia memilikinya. Setelah sekian lama dia menemukannya—orang yang ingin dia lindungi melebihi apapun. Tapi, ironisnya, dia tidak mampu melinduginya.
"Hahahahhahahaha!!!"
Terus tertawa keras, Sesshoumaru hanya dapat semakin mengeratkan pelukannya pada Rin sekaan takut wanita itu akan menghilang jika dia melepaskannya. Kesakitan ini, kegilaan ini—dia sungguh berharap ini hanyalah sebuah mimpi buruk. Mimpi di mana saat dia membuka mata dia akan akan menemukan Rin dan Shura tertawa padanya.
Mungkin inilah hukumannya. Kesombongan dan keangkuhan dirinya, kejam dan dingin hatinya, perasaan dari mereka di masa lalu yang diabaikannya hanya demi mengejar kekuatan. Hukum karma kini mengapainya, tapi, kenapa? Jika ini adalah salahnya, kenapa harus menyeret Rin yang begitu murni tanpa dosa di dalamnya?
'Sesshoumaru-sama.'
'Sesshoumaru-sama.'
'Rin mencintai anda...'
Senyum dan tawa Rin, wanita itu seharusnya berlari dalam padang bunga sambil bernyanyi dan menari, bukan menderita seperti ini. Dia adalah musim semi, matahari di atas langit—perwujudan kebahagiaan yang abadi di dunia.
Meido seki benar. Keegoisan dan keserahkahannyalah yang sesungguhnya memulai ini semua. Semua yang terjadi adalah salahnya. Seharusnya dia tidak menyentuhnya, seharusnya dia hanya boleh melihat keindahan itu dari kejauhan. Tapi, karena keinginannya, karena keserakahannya, dia melangkah maju dan mengapainya. Meracuni, menodai dan kini—tidak bisa dilepaskannya.
"Hahahahahahaha!!"
__ADS_1
Cinta antara youkai dan manusia adalah cinta yang melanggar hukum alam. Youkai dan manusia tidak seharusnya bersama. Dunia yang lucu sekali, Sesshoumaru tahu sekarang, sedalam apa dia mencintai Rin, sekejam itulah kehidupan menghukum mereka.
....xOxOx....