![Till The End Of Time [ Inuyasha Fanfiction ]](https://asset.asean.biz.id/till-the-end-of-time---inuyasha-fanfiction--.webp)
Semua pasang mata yang ada terarah pada Shura dan rombongannya. Ketakutan terlihat jelas dalam mata setiap manusia yang berhasil melarikan diri dari desa atau kota mereka yang telah hancur di tangan youkai.
"Ikuti aku." Arata bisa melihat jelas ketakutan dari para penduduk desa atau kota. Trauma mereka terhadap youkai bisa dimakluminya, sebab bagaimanapun mereka adalah orang-orang yang selamat setelah nelewati neraka di dunia ini.
Shura dan rombongannya mengikuti Arata. Mereka kini berada dalam tempat persembunyian manusia yang tersisa, yakni sebuah gua yang terletak tidak jauh dari tempat di mana mereka melawan youkai barusan. Tidak seperti yang terlihat dari luar, gua ini sangat besar dengan ratusan manusia mendiaminya. Dengan kamar dan juga ruangan-ruangan yang memandai, tempat ini terlihat jelas merupakan tempat pengungsian. Lalu yang paling penting, dlindungi oleh kekai, mereka semua yang ada di dalamnyaaman dari para youkai yang ada diluar.
Mengikuti Arata, Shura dan yang lainnya memasuki sebuah ruangan. Ruangan itu lumayan besar dan beberapa manusia duduk di dalamnya segera mengarahkan pandangan pada mereka.
"Kalian terlambat sekali," Ujar seorang miko tua dengan penutup mata di mata kirinya. Menatap mereka, dia terlihat tidak terkejut dengan keberadaan mereka di sini. "Aku sudah menunggu kalian sangat lama."
"Kaeda-san?"
"Nenek Kaeda?"
Inuyasha dan yang lainnya teihat sangat terkejut dengan miko tua yang tidak lain adalah Kaeda di depan mereka. Hanya Shura dan Tsubasa yang tetap tenang karena mereka memang tidak mengenalinya.
"Iya," balas Kaeda malas tidak peduli dengan ekspresi terkejut mereka. "Ini aku."
"Nenek Kaeda!!! Syukurlah kau selamat!!" berlari memeluk Kaeda, Shiro tertawa penuh rasa syukur. Bagaimanapun juga Kaeda adalah sosok yang sudah bagaikan nenek baginya, miko tua itulah yang menjaganya dan Sakura saat kedua orang tuanya sibuk akan perkerjaan mereka.
Kaeda tertegun sejenak dipeluk Shiro dengan tiba-tiba, tapi, dia kemudian tersenyum dan menepuk punggung inuhanyou itu pelan. "Masih belum waktunya aku pergi ke alam sana, bocah."
"Nenek Kaeda, syukurlah kau selamat." ujar Kagome mengulangi ucapan Shiro sekali lagi. Bagaimanapun juga mereka memang sangat bersyukur melihat miko tua ini lagi. Keadaan yang kacau sekarang sama sekali tidak dipredeksi mereka, karena itu mereka tidak sempat memberikan infomasi kepada Kaeda sebelumnya. Mereka hanya dapat berdoa miko tua itu baik-baik saja dan selamat dari malapetaka.
"Kau memghawatirkan sesuatu yang tidak penting, Kagome," tawa Kaeda dan menatap Kagome serta yang lainnya. Dia bisa melihat tatapan penuh syukur mereka karena dia baik-baik saja. "Kalian juga. Aku masih akan hidup sepuluh tahun lagi."
Inuyasha dan yang lainnya tersenyum mendengar ucapan Kaeda, dan mereka semua percaya. Untuk miko tua yang selalu menjadi tempat mereka pulang dulu—dia pasti akan berumur lebih panjang daripada siapapun.
Pandangan Kaeda kemudian jatuh pada Shura yang berdiri diam membisu dengan wajah tanpa ekspresi. Seketika, ekspresi wajahnya melembut. Melepaskan Shiro, dia berjalan mendekati inuyoukai tersebut.
Shura tidak bergerak sedikitpun, dia membalas tatapan Kaeda dengan mata yang tidak memiliki emosi.
Kaeda tidak memerlukan siapapun menjelaskan siapa inuyoukai kecil di depannya ini sekarang. Rupanya yang bagaikan kopian ayah kandungnya telah menjawab. Mengangkat tangan kananya pelan, dia membelai lembut pipi kanan inuyoukai tersebut. "Kau tumbuh besar dengan baik. Rin-chan pasti akan sangat lega di alam sana."
Shura tertegun mendengar ucapan Kaeda. Ekpresi terkejut dan bingung kini memenuhi mata emasnya, apakah miko tua ini mengenali ibu kandungnya?
Kaeda kemudian melepaskan tangan kanannya dan menghapus air mata di wajahnya. Melihat putra yang begitu dicintai oleh wanita yang sudah bagaikan cucu baginya, miko tua itu teringat lagi pada Rin.
Rin.
Wanita manusia paling lembut dengan hati terindah yang dikenalnya. Dia ingat tawa serta senyum seindah musim seminya, dan dia juga ingat akhinya yang penuh air mata. Kisah hidupnya yang indah tapi berakhir tragis.
"Apakah dia adalah putra dari hime manusia itu?" suara pertanyaan seseorang kemudian terdengar.
Shura mengarahkan pandangan pada dua orang bangsawan manusia serta seorang miko, biksu dan pendeta yang ada di belakang Kaeda.
"Yukina-san, Hisei-san, Hikimaru-san?" Kohaku mengenali miko, biksu dan pendeta tersebut. Mereka tidak lain adalah pemimpin dari miko, biksu dan pendeta di jepang. Lalu, kedua bangsawan itu, bukankah mereka adalah bangsawan Mio dan bangsawan Hino yang menyerang istana tanah barat sepuluh tahun yang lalu?
Pandangan Yukina dan yang lainnya pada Shura tidaklah penuh kebencian sebagaimana mereka biasanya menatap youkai. Malahan pandangan mereka lebih terlihat segan sekaligus malu kepadanya. Hal itu membuat inuyoukai kecil itu bertanya-tanya dalam hati apa penyebabnya. Apakah ini ada hubungannya dengan ibu kandungnya? Bukankah tadi mereka mengatakan 'Hime manusia' ?
"Iya, anda sekalian benar. Shura adalah putra dari Rin-sama dengan Sesshoumaru-sama, sang penguasa tanah barat." Jawab Kohaku menjelaskan.
Sebenarnya seperti Kaeda, baik Yukina dan yang lainnya termasuk Arata sudah sadar siapa Shura itu saat pertama kali melihatnya. Mereka melihat jelas sosok Sesshoumaru sepuluh tahun yang lalu, jadi mereka tidak mungkin tidak menyadari kemiripan yang luar biasa tersebut.
Keheningan memenuhi ruangan. Tidak ada yang mengucapkan sepatah katapun, hingga suara Inuyasha memecahkan keheningan. "Cih," mencibir tidak suka, dia menatap Yukina dan yang lainnya tidak suka. "Kalian masih berani mengungkit Rin di depan putranya? Dasar kalian tidak tahu malu!"
"Inuyasha." panggil Kagome cepat menghentikan suaminya.
Inuyasha tidak mengatakan apa-apa lagi. Melipat tangan di dada, dia membuang muka tidak peduli. Dia tahu siapa yang ada di depannya, dan beraninya mereka mengungkit Rin di depan Shura?—lupakah mereka sepuluh tahun yang lalu bahwa mereka dengan begitu penuh percaya diri ingin membunuh ibu-anak itu?
Arata dan yang lainnya tidak membalas ucapan Inuyasha. Menunduk kepala ke bawah, mereka merasa sangat malu sekarang, sebab kejadian sepuluh tahun yang lalu membekas dengan jelas dalam ingatan. Mereka datang untuk membunuh, tapi merekalah yang terbunuh, dan terakhir mereka diselamatkan oleh wanita yang ingin mereka bunuh.
Shura semakin bingung dengan apa yang terjadi antara ibu kandungnya dengan para manusia di depan. Tapi, meski dia penasaran, dia tidak bertanya.
"Baiklah," Miroku yang dari tadi diam kemudian menyela. Sekarang bukan saatnya membahas masa lalu dan menyalahkan mereka yang ada di depan. Menatap Kaeda, dia tersenyum. "Kaeda-san, bagaimana kau tahu kami akan kemari?"
"Tentu saja kalian akan kemari. Karena aku meminta mereka mencari kalian di semua jalan menuju gunung hare." Jawab Kaeda sambil tersenyum. Setelah berhasil menyelamatkan diri bersama beberapa penduduk desa dari para youkai yang menyerang, dia bergabung dengan aliansi manusia yang terdiri dari miko, biksu, pendeta, taijiya dan bangsawan penguasa.
Tapi, aliansi manusia juga tidak bisa berbuat banyak menghadapi para youkai. Karena itu, saat Kaeda mendengar kabar hilangnya Shura, Inuyasha dan yang lainnya, serta jenazah Sesshoumaru, dia segera tahu—manusia masih memiliki harapan. Dalam kekacauan yang ada sekarang di tanah barat, Sesshoumaru, sang penguasalah satu-satunya yang bisa mengendalikannya, sebab awal kekacauan ini dimulai tidak lain adalah karena kematian inudaiyoukai itulah sendiri.
Inuyasha dan yang lainnya pasti juga menyadari hal itu, lalu dengan adanya keberadaan Shura, mereka pasti akan berusaha menghidupkan Sesshoumaru kembali. Karena itu, tujuan mereka pastilah hanya satu tempat, yakni; tempat istirahat terakhir Rin di mana tensaiga berada—gunung hare.
__ADS_1
"Jadi, bagaimana rencana kalian?" tanya Kaeda lagi dengan senyum yang semakin melebar.
Miroku ikut tersenyum semakin lebar melihat senyum Kaeda. Sesungguhnya, mereka tidak memiliki rencana. Mereka hanya berpikir menuju puncak gunung hare dengan menggunakan jalan seaman mungkin dan kembali ke desa tanah netral. Tapi, sepertinya itu tidak mungkin lagi. Youkai yang begitu banyak merajalela dimana-mana. Rencana mereka tidak akan berhasil.
"Kalian sendiri," ujar Miroku dan mengarahkan pandangannya pada Arata dan yang lainnya. "Apa rencana kalian?"
"Gunung hare sekarang telah menjadi sarang youkai," ujar Arata kemudian. Dia membalas tatapan Miroku dan mulai menjelaskan. "Ribuan youkai memenuhi gunung, dan dari informasi yang kami dapatkan, Shui, si putih juga berada di gunung tersebut."
Shura dan yang lainnya tidak terkejut mendengar informasi bahwa Shui berada di gunung hare, sebab mereka juga sudah menebaknya. Kaeda dengan informasi yang minim saja sudah bisa menebak rencana mereka, hal itu pasti sama dengan youkai naga tersebut.
"Jadi," lanjut Arata lagi dan mengarahkan pandangannya pada Shura. "Biarkan kami membantu kalian."
....xOxOx....
Sakura duduk diam menyantap makan malamnya. Dia tidak berbicara banyak seperti biasanya, dan itu membuat Mamoru, Aya dan Maya merasa tidak biasa.
"Sakura-chan," panggil Aya sambil tersenyum. "Bagaimana kalau malam ini Sakura-chan tidur dengan kami saja?"
Sakura mengangkat kepala menatap Aya sejenak dan kemudian menggeleng kepala. "Tidak. Sakura akan tidur sendirian di kamar Sakura."
"Apa Sakura-chan tidak kesepian sendirian?" tanya Maya berusaha membantu saudari kembarnya.
"Sakura tidak kesepian." Balas Sakura si gkat dan kembali menyantap makan malamnya.
Mamoru yang melihat Sakura tidak bisa mengatakan apa-apa, dalam hati, dia mengutuk Shiro. Bagaimana bisa dia meninggalkan adiknya seperti ini dan menyusul orang tua mereka?
Menghela napas, Mamoru kemudian menoleh pandangabnya ke samping dimana di bisa melihat Jaken yang juga sedang memakan makan malam. Jika saja Shiro sepatuh youkai katak ini, maka semuanya pasti akan lebih mudah.
Jaken yang ditatap Mamoru segera sadar. Membalas tatapan itu, kemarahan memenuhi dirinya. "Apa?? Kau berpikir kenapa aku masih disini, ya?? Asal kau tahu, jika saja Shura-sama tidak memintaku menjaga Sesshoumaru-sama, aku pasti sudah
menyusul beliau lebih dulu dari pada inuhanyou itu!!!"
Mamoru menghela napas sekali lagi. Ya, benar, andai saja Shiro sepatuh Jaken. Mengapa inuhanyou itu mau menempuh marabahaya?—dia sungguh tidak mengerti.
"Sakura sudah selesai," ujar Sakura tiba-tiba dan berdiri. Menatap Mamoru dan yang lainnya, dia berujar pelan. "Sakura akan kembali ke kamar."
Mamoru, Aya dan Maya ingin menghentikan Sakura, tapi belum sempat mereka melakukan apa-apa, inuhanyou kecil itu sudah meninggalkan ruangan.
Sakura yang berjalan menuju kamarnya langsung menutup pintu shoji rapat saat tiba. Sendirian dalam kamarnya, tangan kecilnya kemudian mengeluarkan bola permata yang ditemukannya di taman dari balik kimononya. Mata emasnya menatap lurus permata tersebut. "Sakura sama sekali tidak kesepian dan sendirian."
....xOxOx....
"Sakit, ibu!! Maafkan aku!! Aku tidak akan berani lagi!! Aku janji!!" teriak Shiro meminta ampun pada Kagome yang menarik telinga anjingnya kuat.
Inuyasha yang melihat dari samping tidak menghentikan Kagome sama sekali. Kali ini, Shiro memang pantas mendapatkan hukuman, bagaimana bisa dia dengan sembarangan meninggalkan desa tanah netral dan mengikuti mereka? Untung jarak mereka tidak jauh, dirinya sungguh tidak bisa membayangkan bagaimana jika mereka tidak menyadari keberadaan Shiro yang diserang para youkai tadi.
Menatap Inuyasha yang tidak bersedia menolongnya, bahkan terlihat mendukung Kagome, Shiro menoleh menatap Shippo meminta tolong.
Tapi, Shippo menghela napas panjang dan menggeleng kepala pelan. "Kali ini, kau memang salah, Shiro," ujar Shippo pelan. "Aku tidak bisa melakukan apa-apa untukmu."
Putus asa, Shiro kemudian menatap Shura. Harapan muncul dalam hatinya, jika dia membelanya sekarang, dirinya pasti akan lolos dari hukuman, sebab sudah bukan rahasia bahwa ibunya sangat menyukai inuyoukai kecil tersebut.
Shura yang melihat keluarga Inuyasha tetap seperti biasanya, dia tidak ikut campur ataupun tertarik sama sekali, dan yang paling penting, dia tidak mempedulikan mata penuh permintaan tolong Shiro yang terarah padanya.
Tsubasa yang juga melihat Inuyasha sekeluarga juga tidak berkomentar, bersama dengan Inuyasha dan yang lainnya dalam waktu dekat ini, dia sudah sadar, tidak akan ada kedamaian dan ketenangan yang panjang—mereka semua selalu berisik.
Shiro yang tidak mendapatkan bantuan sama sekali semakin putus asa. Dia mulai merasa menyesal dan berpikir andaikan ada Sakura di sini, sebab, adik kecilnya pasti akan menolongnya seperti biasa.
Dalam kamar ini sekarang hanya ada Shura, Inuyasha, Kagome, Shiro dan Shippo, karena Miroku, Sango dan Kohaku berada dalam kamar yang berbeda dengan mereka.
"Anu, permisi.." Suara pelan seorang pria terdengar.
Menoleh pandangannya pada sumber suara, Inuyasha, Kagome, Shiro dan Shippo melihat beberapa orang pria berdiri di depan pintu kamar mereka. Mereka semua menggunakan pakaian jirah seadanya dan terlihat jelas merupakan prajurit. Dengan buah dan makan di tangan, kegugupan terlihat jelas di wajah mereka.
"Ya!! Silakan masuk!!" teriak Shiro cepat. Dia menatap penuh kegembiraan dan terima kasih pada prajurit di depan pintu, sebab merekalah penolongnya sekarang.
Kagome mau tidak mau terpaksa melepaskan tangannya yang menarik telinga Shiro, namun, dalam hati dia tidak berniat mengakhiri hukuman putranya seperti ini saja. Saat semua sudah berakhir, dia akan membuat perhitungan lagi dengannya.
Para prajurit yang dipersilakan masuk oleh Shiro berjalan memasuki kamar dengan hati-hati. Kamar ini adalah kamar yang disediakan untuk Shura dan yang lainnya dalam goa pengungsian manusia. Kamarnya cukup besar, serta memiliki fasilitas yang cukup mengejutkan mengingat mereka tempat mereka berada. Tempat tidur, meja dan bahkan lemari di miliki kamar ini.
Meletakkan buah dan makanan di tangan ke atas meja, para prajurit yang ada tidak mengatakan apa-apa. Namun, mereka semua terlihat semakin gugup dan gelisah.
__ADS_1
Shura menatap buah dan makan di meja sejenak, sepertinya para manusia ini benar-benar berusaha keras melayani dan memenangkan hati mereka. Dari kamar ini hingga makanan—mereka pasti sangat putus asa hingga bersedia memperlakukan mereka yang terdiri dari youkai dan hanyou seperti ini.
"A-apakah kamar ini cukup nyaman?" terbata-bata, prajurit yang berada paling depan membuka mulutnya. Menatap Shura, dia berusaha sesopan mungkin dalam setiap kata yang diucapkannya. "J-jika kurang nyaman, katakan saja pada kami."
Shura tidak menjawab, dia hanya menatap balik para prajurit tersebut yang dengan segera menundukkan wajah ke bawah.
"J-jika anda m-membutuhkan sesuatu," ujar prajurit itu lagi dengan suaranya yang semakin bergetar. Dengan pelan, dia kembali mengangkat wajah menatap Shura. "Katakan pada kami, kami akan menyediakannya."
Shura merasakan keanehan akan para prajurit manusia di depannya, dan itu juga dirasakan Tsubasa, Inuyasha sekeluarga dan Shippo. Dalam kamar ini ada banyak orang, tapi kenapa mereka semua justru menatap dan mengatakan itu semua pada Shura yang usianya paling muda?
Para prajurit manusia bisa melihat dan merasakan pandangan aneh Shura, Inuyasha sekeluarga, Tsubasa serta Shippo yang menatap mereka. Semakin gugup, mereka semua menatap satu sama lain seakan mencari persetujuan. Lalu, bersamaan, mereka kembali menatap Shura dan menundukkan kepala. "Inuyoukai-sama!! Maafkan kami!!"
Permintaan maaf para prajurit yang tiba-tiba membuat semua yang ada terkejut, termasuk Shura. Apa maksud permintaan maaf prajurit ini?
Kamar menjadi hening tanpa suara. Prajurit yang tadi bertanya pada Shura kemudian mengangkat kepalanya. Dia bisa melihat kebingungan di wajah semua yang ada, tersenyum malu-malu, dia kembali membuka mulutnya. "Kami ingin meminta maaf pada anda untuk apa yang telah kami lakukan sepuluh tahun yang lalu."
Ucapan prajurit tersebut membuat Inuyasha dan yang lainnya tersadar. Mereka bisa menebak alasan permintaan maaf para prajurit ini sekarang. Tapi, tidak untuk Shura. Dia sama sekali tidak mengerti maksud ucapan manusia di depannya.
"Kami—salah," ujar prajurit itu pelan. Menelan ludah, dia kemudian mengumpulkan segenap keberaniannya. "Lalu—terima kasih."
Kebingungan semakin memenuhi Shura, dia tidak mengerti kenapa manusia di depannya meminta maaf dan kini berterima kasih.
"—Terima kasih untuk kemurahan hati ibu anda."
Kata ibu yang diucapkan oleh prajurit manusia tersebut membuat Shura tertegun. Dia tidak mengira akan mendengar kata 'Ibu' dari mulut mereka.
"Kami semua yang berada di sini seharusnya sudah mati karena kesalahan kami sendiri," lanjut prajurit itu lagi sambil menggaruk kepalanya berusaha keras menutupi perasaan malu bercampur bersalah dalam hati. "Tapi, ibu anda, kisaki-sama—beliau menghidupkan kami semua. Beliau menyuruh kami pulang kepada keluarga kami—menyuruh kami berbahagia."
Shura tidak bergerak, dia hanya berdiam diri terus mendengar ucapan prajurit yang bercerita akan ibu yang dicintainya.
Tertawa, prajurit itu menatap Shura, "Sebagian besar kami yang ada disini berhutang budi pada beliau, karena itulah, apapun yang anda butuhkan, beritahu kami. Kami pasti akan berusaha sebisa mungkin menyediakannya."
Shura yang tetap tidak mengatakan apa-apa membuat para prajurit manusia menjadi salah tingkah dan penuh kegugupan. Tertawa sekali lagi, dengan menunduk kepala memberikan hormat pada inuyoukai kecil tersebut, mereka kemudian mempermisikan diri dan keluar dari kamar.
Sepeninggalan para prajurit, kamar kembali menjadi sunyi. Mata emas Shura kemudian terarah pada makanan dan buah di atas meja. Dia tahu, di goa pengungsian ini, dalam keadaan sekarang ini, para manusia kekurangan makanan. Mungkin ini jugalah alasan para manusia ingin membantu mereka mencapai puncak gunung hare, karena mereka tidak akan bertahan lama.
Tapi, melihat makanan dan buah yang ada, serta kamar mereka yang memiliki fasilitas lumayan bagus sekali lagi, Shura sadar. Kamar, Makanan, kesopanan dan rasa hormat, serta sikap mereka yang menerima seorang youkai sepertinya tanpa penolakan—itu semua karena ibu kandungnya.
Ibunda.
Dalam ingatan Shura, ibundanya adalah wanita paling cantik dengan senyum tawa paling menawan di dunia—wanita paling mulia yang pernah ada. Karena itu, seperti apa? Seperti apa ibu kandungnya dalam mata orang lain?
Menoleh kepalanya menatap semua yang ada dalam kamar, Shura kemudian membuka mulut. "Seperti apa beliau? Orang seperti apa ibundaku?"
Kagome dan semua yang ada dalam ruangan terkejut dengan pertanyaan Shura. Karena mungkin inilah pertama kali inuyoukai itu bertanya pada mereka tentang Rin dengan terang-terangan.
Seperti apa ibundanya?—seperti apa wanita yang dicintai ayahandanya? seperti apa wanita yang dicintai Akihiko hingga sekarang? seperti apa wanita yang bisa membuat Tsubasa berhutang padanya? begitu juga dengan tanah netral, dan sekarang—para manusia.
Kagome tersenyum mendengar pertanyaan Shura. Ada perasaan senang karena akhirnya inuyoukai itu bertanya seperti ini, walau tidak dapat juga dipungkiri ada kesedihan karena—anak ini tumbuh besar tanpa tahu betapa luar biasanya wanita yang melahirkannya. "Dia adalah keajaiban di dunia ini."
Keajaiban.
Jawaban Kagome membuat Inuyasha, Shiro, Shippo dan Tsubasa menatapnya. Tapi, tidak ada seorangpun dari mereka yang ingin mengoreksi jawabannya. Senyum dan tawa musim semi di wajah cantik wanita manusia itu terbayang dalam ingatan—Ya. Wanita itu adalah keajaiban di dunia ini.
"Rin adalah keajaiban terindah yang pernah kami lihat di dunia ini."
....xOxOx....
Berdiri menatap ke depan, Asano melihat hutan musim gugur di depannya. Tidak ada yang aneh dengan pemandangan di depannya, ranting tanpa daun, tanah yang tertutup daunan kering, serta angin yang berhembus cukup kuat.
Melangkah maju beberapa langkah, Asano mengangkat tangan kanannya seakan ingin menyentuh udara. Mengumpulkan youki di tangannya tersebut, dia kemudian menekan udara di depan.
Prankkk
Bunyi sesuatu yang pecah memenuhi hutan, dan seketika pemandangan hutan di depan berubah. Mata Asano bisa melihat jelas sekarang, ada lembah indah dan desa yang lumayan besar di kejauhan—desa tersembunyi youkai netral.
Senyum lebar memenuhi wajah tua Asano, tanpa menoleh ke belakang, dia melangkah maju, dan di belakangnya sepasukan youkai tanah timur mengikuti.
"Jangan biarkan seorangpun hidup."
....xOxOx....
__ADS_1