Till The End Of Time [ Inuyasha Fanfiction ]

Till The End Of Time [ Inuyasha Fanfiction ]
Chapter 142


__ADS_3

Rin membuka matanya yang tertutup rapat. Yang pertama kali dia rasakan adalah seluruh tulang maupun badannya yang nyeri dan sakit. Menutup mata lagi, dia berusaha menahan nyeri serta sakit yang menyerangnya.


"Rin."


Suara pelan yang memanggil namanya dengan segera membuat Rin kembali membuka mata. Menoleh ke samping, dia melihat Sesshoumaru yang menatapnya. Tersenyum lemah, wanita manusia itu mengangkat tangan kanannya untuk menyentuh inuyoukai penguasa tanah barat. "Sesshoumaru-sama..."


Sesshoumaru bergerak cepat, dia segera menangkap tangan yang terulur kepadanya. Menutup mata, dalam diam, inuyoukai itu mencium punggung telapak tangan itu kuat, seakan takut kehilangannya.


Kehangatan bibir yang menyentuh kulit tangannya, Rin hanya bisa tetap tersenyum. Ada banyak yang ingin dia katakan, tetapi, dia juga tidak menemukan kekuatan untuk mengatakannya.


"Apakah kau senang sekarang, Rin?" tanya Sesshoumaru kemudian. Membuka mata emasnya lagi, dia menatap tajam Rin tanpa melepaskan tangan yang digenggamnya.


Rin tertegun. Namun, dia tidak menjawabnya. Kedua mata coklatnya hanya menatap balik mata emas Sesshoumaru.


"Apakah kau puas?" tanya Sesshoumaru lagi. Suaranya tetap datar dan tenang, tidak ada perubahan sedikitpun seakan tanpa emosi. Namun, Rin bisa melihat di dalam mata emas itu—inuyoukai itu sedang marah.


Kembali tersenyum, Rin menggerakkan tangan kanannya hingga lepas dari genggaman Sesshoumaru. Bergerak naik, jari-jemarinya menyentuh lembut pipi inuyoukai tersebut. "Dalam mata Rin, Sesshoumaru-sama selamanya selalu tenang, dingin dan kuat.."


Sesshoumaru menutup mata dan kembali menangkap tangan di pipinya. Dia tidak bisa mengatakan apapun untuk ucapan Rin. Kemarahan dalam hatinya, menghilang tanpa bekas—betapa dia membenci ketidak berdayaannya yang tidak akan pernah dapat marah kepada wanita manusia di depannya.


"Rin paling mencintai sosok anda yang seperti itu," senyum tetap mengembang di wajah Rin. Kedua matanya melembut menatap sosok pria yang dicintainya melebihi hidupnya sendiri. "Karena itu, jangan berubah hanya karena seorang Rin..."


Sesshoumaru tetap tidak mengatakan apa-apa. Karena dia juga tidak memiliki kekuatan lagi untuk mengucapkan sepatah katapun. Apakah Rin tidak mengerti? Setelah segala yang terjadi, kenapa dia masih mengatakan ini? Tidakah wanita ini tahu arti keberadaan dirinya dalam dunia seorang inuyoukai bernama Sesshoumaru?


"Sesshoumaru-sama," panggil Rin pelan. Senyum di wajahnya terus mengembang, tapi kedua matanya yang selalu berbinar bahagia tidak mampu menyembunyikan kesedihan yang ada. "Jika Rin tahu akan seperti ini, Rin tidak akan menerima tanda dari anda—"


"Rin!" potong Sesshoumaru. Kedua matanya terbuka, menatap tidak percaya wanita manusia di depannnya. Apa maksud ucapannya barusan?—apakah dia menyesal bersamanya sekarang?


"Rin tidak ingin anda mengetahui apa yang Rin lalui..," lanjut Rin lagi. Senyum di wajahnya melembut namun sekaligus penuh kesedihan tidak terucapkan. "Rin ingin anda selalu menjadi anda yang Rin cintai..."


Tanda.


Tanda di tulang selangka yang berbentuk bulan sabit berwarna hitam kebiruan, persis seperti tanda di dahi Sesshoumaru. Tanda yang menghubungkan mereka, tanda yang membuktikan pada dunia bahwa inuyoukai itu memilihnya dari semua wanita yang ada di dunia—tanda bahwa dialah pasangan sah dari sang penguasa tanah barat.


Tanda yang begitu bermakna dan sakral di dunia youkai, bagi Rin yang merupakan seorang manusia biasa, tanda itu adalah kebangaannya; kebahagiaannya.


Namun kini, kebangaan itu berubah menjadi sebuah pisau menusuknya,  dan kebahagiaan berubah menjadi; penyesalan. Jika dia tahu ini akhirnya, jika waktu bisa diputar kembali, maka Rin benar-benar akan memilih tidak memiliki tanda ini. Sebab dengan begitu—mata emas yang begitu dicintainya tidak akan penuh kesedihan dan keputus asaan.


Jangan mengetahui betapa dia menderita, jangan mengetahui apa yang dilaluinya—jangan bersedih untuknya, jangan menjadi putus asa karenanya. Rin ingin Sesshoumaru tidak mengetahui apa-apa, ingin inuyoukai itu hanya selalu mengetahui dia tidak apa-apa; bahwa dia—selalu bahagia.


"Rin," suara Sesshoumaru kembali terdengar. Tapi kali ini sangat dingin dan penuh perintah. "Diam."


Menutup mata, Rin tertawa kecil dan tidak mengatakan apa-apa lagi. Dalam kebersamaan mereka yang panjang dan juga sekaligus singkat, untuk pertama kali, dirinya tidak ingin melihat wajah Sesshoumaru—tidak ingin melihat mata emas yang seperti itu lagi.


Sesshoumaru juga tidak mengatakan apa-apa lagi. Mengenggam tangan Rin dengan kedua tangan dan menempelkannya di dahi, dia juga ikut menutup mata.


Dari semua yang ada, dia hanya menyukuri satu hal sekarang, yakni; Rinnya masih ada disampingnya. Wanita manusia itu masih bernapas dan hidup—masih ada di dunia ini.


Ingatan Sesshoumaru hanya dapat kembali dengan apa yang dia lihat tidak lama ini. Rin yang terbaring tidak sadarkan diri di atas futon saat kekai yang menutup kamar terbuka—wajah pucat pasi tanpa darah, badan sedingin es dan detak jantung yang kian melambat.


Lalu, ucapannya barusan—bagaimana Sesshoumaru harus bersikap sekarang? Apa itu kebahagiaan? Dia sudah tidak tahu lagi—kapan mimpi buruk mereka ini akan berakhir?


....xOxOx....


Jinenji berkutat dalam tumpukan dokumen yang ada, membaca dan berusaha mencari jawaban akan keadaan Rin. Namun, sampai sekarang, dia masih saja belum menemukan jawaban yang dia inginkan.


Rin.


Jinenji benar tidak tahu apa yang terjadi pada Rin. Dia tidak pernah melihat ataupun mendengar kondisi wanita manusia itu sebelumnya, bahkan Inukimi dan Kagome yang memiliki pengetahuan luas akan dunia pengobatan juga tidak tahu.


Jinenji merasa sangat bersalah sekarang. Dia adalah orang yang dipercaya langsung oleh Sesshoumaru untuk menjaga Rin. Namun, kini, wanita manusia tersebut berada dalam kondisi yang begitu berbahaya dan tidak pasti.


"Jinenji-san." Suara panggilan Kagome tiba-tiba terdengar, membuat Jinenji memutar kepala menatap sumber suara.


"Kagome," balas Jinenji pelan sambil tersenyum pada miko masa depan yang berjalan mendekatinya. "Ada apa?'


"Rin-chan sudah sadar." Jawab Kagome. Dia tidak tersenyum membalas senyum Jinenji seperti biasanya.


"Oh," terkejut sejenak, Jinenji kemudian kembali bertanya, namun bedanya kali ini, tidak ada lagi senyum di wajahnya. "Bagaimana keadaan Rin-sama?"


Kagome tidak langsung menjawab pertanyaan yang ada. Diam membisu sejenak, dia kemudian menghela napas. "Rin-chan, dia..," ujarnya dan menutup mata. "Badannya semakin melemah. Dia bahkan lebih lemah dari saat mengandung Shura."


Jinenji tidak mengatakan sepatah katapun mendengar jawaban Kagome.


"Rin-chan tidak mengatakan atau menjelaskan sedikitpun akan apa yang terjadi," lanjut Kagome lagi. Wajahnya penuh kesedihan. "Dia hanya terus tersenyum dan mengatakan dirinya tidak apa-apa."

__ADS_1


Terhitung, sudah dua kali Meido seki bersinar dan mengurung Rin dalam sebuah kekai. Apa yang terjadi tidak ada yang tahu, tapi dari penjelasan Sesshoumaru serta kondisi Rin saat kekai terbuka, mereka semua tahu—telah terjadi sesuatu yang tidak dapat dijelaskan.


Sakit-penyakit, kutukan, sihir atau apapun juga, tidak seorangpun yang menemukan jawabannya, lalu, orang yang bersangkutan juga tidak mau menjelaskan. Apa yang sesungguhnya terjadi?—mereka hanya menemukan jalan buntu.


"Kagome," panggil Jinenji pelan kemudian. "Menurutmu, apa yang salah dengan Rin-sama?"


Kagome terdiam, dia tidak tahu harus menjawab apa. Menutup dia menghela napas lagi. "Aku tidak tahu, Jinenji-san," membuka mata lagi, dia tersenyum sendu. "Dan aku sangat berharap aku tahu."


"Kau tahu, Kagome," balas Jinenji pelan dan juga gusar. Memeriksa Rin dengan saksama tadi pagi, dia menyadari sesuatu yang sampai sekarang tidak disadari Kagome maupun Inukimi. "Jantung Rin-sama tidak berhenti secara tiba-tiba lagi seperti saat mengandung Shura-sama. Tapi, jantungnya sekarang berdetak sangat lambat, tidak peduli apa yang kita lakukan. Lalu, seluruh badannya beliau juga semakin lemah seakan—badan dan organ tubuhnya perlahan mulai berhenti berfungsi."


"Maksudmu?" tanya Kagome terkejut, kedua matanya terbelalak menatap tidak percaya pasa Jinenji.


"Jika keadaan Rin-sama tidak berubah, kemungkinan terbesarnya, badannya akan lumpuh total."


....xOxOx....


"Maafkan Ibunda membuatmu khawatir, Shura," berujar pelan, Rin mencium kening Shura yang kini berada dalam gendongannya. Duduk di atas futon dengan Sesshoumaru di belakangnya, dia tersenyum kecil. "Maaf sudah membuatmu menangis."


Shura yang merasakan sentuhan dan juga mendengar suara Rin, tertawa. Mengangkat kedua tangan kecilnya, dia menyentuh wajah ibu kandungnya pelan.


Rin ikut tertawa dan menempelkan dahinya pada dahi Shura. Menutup mata, dia membiarkan dirinya merasakan kehangatan tangan kecil putra tercintanya. "Kelak, apapun yang terjadi," senyum Rin kecil "Jangan pernah menangis putraku dari barat. Rin berharap kau selalu tersenyum dan tertawa sepanjang hidupmu.."


Sesshoumaru tidak mengatakan sepatah katapun mendengar ucapan Rin. Dengan kedua tangan yang melingkar di pinggang ramping itu, dia hanya diam membisu menatap wanita manusia yang terlihat sangat lemah tersebut bersama putra mereka.


Dua kali serangan yang dialami Rin telah membuat badannya menjadi sangat lemah serta tidak bertenaga. Untuk bangkit duduk saja, dia terlihat sangat kesulitan. Wajahnya pucat pasi tanpa darah dan suaranya menjadi sangat pelan. Tapi, dia tetap saja tersenyum dan mengatakan dia tidak apa-apa.


Tidak apa-apa.


Betapa Sesshoumaru membenci kata sederhana itu sekarang. Dirinya hanya bisa mendengar dan tidak dapat melakukan apapun meski dia tahu, kenyataan bahwa tidak apa-apa itu sebenarnya adalah—aku tidak baik-baik saja.


Rin yang berbohong, semua orang tahu. Namun, topeng penuh senyum dan tawa yang dikenakannnya dengan begitu baik, membuat semua yang ada tidak bisa melakukan apa-apa selain ikut menjadi; penonton.


Marah, tidak suka, benci dan juga putus asa—Sesshoumaru telah memperlihatkan itu semua, berharap Rin akan sadar dan menghentikan sandiwara yang tidak lucu ini. Namun, sampai sekarang, semuanya masih tetap sama—pertunjukan sandiwara yang ada masih berlanjut.


Rin yang bermain dengan Shura bisa mengetahui jelas apa yang sedang dipikirkan Sesshoumaru di belakangnya sekarang tanpa melihat. Namun, dia hanya bisa tetap tersenyum dan mengabaikannya. Benar atau salah, dirinya benar-benar tidak tahu lagi. Karena itu, yang bisa dia lakukan sekarang hanya terus melanjutkan apa yang telah dia lakukan.


"Ibunda tidak apa-apa, Shura," tawa Rin kecil dan sekali lagi mengecup pelan kening Shura. "Jika ke depannya... Jika ibunda kembali terpisah darimu dan berada dalam kekai—anggap saja kita sedang bermain petak umpet. Ibunda bersembunyi dan kau mencari..."


Sesshoumaru tetap tidak mengatakan apa-apa, tapi kedua tangannya yang berada di pinggang Rin mengerat.


Semakin mengeratkan pelukannya, Sesshoumaru menutup mata dan menempelkan kepalanya pada bahu   dalam diam.


"Menunggu ibunda membuka pintu dan mencarimu..." menjauhkan wajahnya dari wajah Shura, mata Rin menatap lembut putranya. "Menunggu saat kita berkumpul lagi seperti ini..."


Mengatupkan rahangnya kuat, Sesshoumaru berusaha mengontrol perasaannya yang berkecamuk.


"Ibunda tidak akan ke mana-mana. Ibunda akan selalu tinggal dan kembali padamu..," mengangkat wajahnya, Rin mendekap Shura di dada. Menutup mata perlahan, dia menyandarkan kepalanya pada kepala Sesshoumaru. "Kau bisa melakukan ini untuk Rin, kan?"


Pertanyaan Rin—Sesshoumaru tahu, itu sesungguhnya terarah padanya. Wanita manusia itu ingin jika kejadian itu terulangi lagi, dirinya tidak akan melakukan apa-apa dan hanya berdiam diri menunggu kekai yang ada terbuka—permintaan yang sangat kejam, kan?


"Ibunda mencintaimu, Shura. Sangat-sangat mencintaimu, seperti halnya ibunda mencintai ayahandamu..." gumam Rin pelan. "Rin akan mencintai Sesshoumaru-sama dan Shura—selamanya dan selalu..."


Kata cinta yang terucap, selamanya dan selalu—itu bukanlah sebuah kebohongan, Sesshoumaru tahu itu. Tapi, cinta yang ada tersebut, kini begitu berat—konsekuensi mencintai, betapa itu menakutkan di dunia ini.


Tok-tok-tok


Suara pintu shoji yang diketuk terdengar bersamaan dengan suara Jaken yang ada dibaliknya. "Sesshoumaru-sama, Rin-sama, hamba membawakan obat untuk Rin-sama."


Sesshoumaru tetap berdiam diri tidak mengatakan apa-apa, tapi sepasang mata emasnya yang tertutup segera terbuka.


"Masuklah Jaken-sama." Balas Rin pelan. Membuka mata, dia mengangkat kepalanya dan kembali ke posisi awal.


Membuka pintu shoji pelan, Jaken berjalan masuk dengan sebuah mapan di tangan. Di atas mapan tersebut, sebuah mangkuk berisi cairan hitam obat ramuan untuk Rin.


Jaken tidak mengatakan apa-apa, tapi sejak pintu terbuka, kedua matanya yang penuh kekhawatiran menatap lekat sosok Rin yang begitu lemah di depannya.


"Jaken-sama," senyum Rin kecil. Kedua matanya menatap lembut sosok youkai katak di depannya. "Maaf Rin telah merepotkan anda.."


Berhenti berjalan dan berdiri tepat di depan Rin, Jaken menelan ludah dan mulai marah. "Apa-apaan rupamu sekarang?? Kau seorang kisaki dan juga ibu sekarang!! Kau harus cepat sembuh dan kembali seperti semula!!!"


Mata Rin terbelalak karena terkejut dengan ucapan Jaken. Namun, sejenak kemudia dia kembali tersenyum. "Iya, Rin tahu, Jaken-sama."


"Jangan hanya tahu!!" balas Jaken lagi. Suaranya meninggi, dia tidak takut sedikitpun dengan Sesshoumaru yang berada di belakang Rin untuk pertama kalinya. "Tapi harus!!!"


Shura yang berada dalam dekapan Rin menolehkan wajahnya menatap Jaken. Menyeringai marah dan tidak suka, mata emasnya yang tajam terarah pada youkai katak tersebut.

__ADS_1


Namun, Jaken tidak mengubah suara kerasnya. Matanya hanya terarah pada Rin yang tersenyum padanya. "Kau sudah berjanji padaku!! Kita akan bersama-sama mengembala. Sesshoumaru-sama, Shura-sama, aku, Ah-un dan kau!! Aku akan menyalakan api unggun pada malam hari, mencarikan makanan untukmu dan Shura-sama, lalu aku akan menceritakan semua kehebatan Sesshoumaru-sama—karena itu, kau harus segera sembuh!!!"


Dalam teriakannya, suara Jaken bergetar. Wajahnya marah, tapi juga tidak dapat disembunyikan kekhawatiran dan ketakutan di dalamnya.


Rin tetap tersenyum dan mengangguk kepala pelan. Menutup mata, dia mati-matian menahan air matanya yang akan jatuh, sebab dia tahu, dia tidak boleh menangis. Perasaannya sekarang, siapa yang mengerti?


Membuka mata, Rin kemudian tertawa, menyembunyikan hatinya yang hancur melihat mereka yang begitu menyayanginya. "Rin tidak melupakan janji itu, Jaken-sama."


Tawa Rin membuat Jaken terdiam. Dirinya tidak tahu sejak kapan ini terjadi—Rin telah berubah. Tawa dan senyum yang sama, tapi juga begitu berbeda sekarang. Dulu saat dia tertawa dan tersenyum, segala kehangatan dan keceriaan terpancar. Namun sekarang, saat dia tertawa dan tersenyum—kepedihan dan kesakitanlah yang ada.


Menundukkan kepala ke bawah, Jaken kemudian menghela napas. Dia tidak tahu harus mengatakan apa lagi—Rin yang ada di depannya sekarang bukanlah lagi gadis kecil dan lugu yang dijaganya di alam bebas dulu, tapi seorang wanita dewasa yang begitu pintar menyembunyikan isi hatinya.


"Dan Shura," senyum Rin lembut. Dia menolehkan wajahnya menatap Shura yang terlihat sangat marah kepada Jaken. "Jangan seperti ini. Jaken-sama sama sekali tidak memarahi Rin. Jaken-sama hanya menghawatirkan ibunda.."


Shura berhenti menyerigai melihat dan mendengar ucapan Rin. Dengan wajah cemberutnya, dia kemudian kembali membenamkan wajahnya di dada sang ibu, sedangkan kedua tangan kecilnya bergerak menarik kimono ibunya.


Rin hanya tertawa melihat sikap Shura. Melepaskan tangan kanannya dan mengendong putranya dengan tangan kiri saja, dia membelai lembut kepala kecil itu penuh kasih sayang. Dalam beberapa hari ini, ekspresi di wajah putranya semakin bertambah, tertawa, tersenyum, marah, tidak suka, menangis dan sekarang cemberut—dia sungguh ingin melihat semua ekspresi yang ada di wajah putranya.


"Rin," suara Sesshoumaru yang dari tadi diam membisu tiba-tiba terdengar. Datar dan tenang seperti biasa, namun penuh perintah. "Minum obatmu."


Menatap Sesshoumaru sejenak, Rin tersenyum dan mengangguk kepala. Menoleh pada Jaken, dengan senyum yang tidak berubah di wajah, dia menggerakkan tangan kanannya yang tadi membelai kepala Shura untuk mengambil mangkuk di depannya. Tangan kirinya masih mendekap putranya yang begitu berharga dengan erat penuh kasih sayang.


Mangkuk itu tidak besar, berwarna putih dan berisi cairan berwarna hitam yang memiliki bau obat-obatan kuat menusuk hidung. Seperti masa kehamilannya, Rin tahu, obat itu pasti sangat pahit.


"Hati-hati," ujar Jaken melihat Rin mengambil obat itu. "Obat itu masih lumayan panas."


Rin mengangguk kepala dan tersenyum semakin lebar. Mendekatkan mangkuk tersebut pada bibirnya, dia meniup-niupnya pelan. Namun, belum sempat dia meminumnya, tangan kanan yang memegang mangkuk obat tiba-tiba kehilangan tenaga. Tanpa dapat dihentikan, mangkuk itu jatuh ke bawah.


Cairan hitam yang masih panas itu tumpah ke bawah membasahi badan Shura, sedangkan mangkuk yang ada menimpah badan kecil sang pewaris tanah barat.


"Rin!! Shura-sama!!" terkejut Jaken berteriak keras. Dia segera bergerak untuk mendekati Rin dan Shura.


Namun, Sesshoumaru yang memang berada di belakang Rin lebih cepat. Dengan seketika dia memindahkan mangkuk di badan putranya, dan mengangkat badan kecil yang basah tersebut.


Shura tidak bersuara sedikitpun meski ada cairan panas yang membasahi badannya. Sebuah kerutan kecil muncul di wajahnya akan bau kuat obat yang ada serta kenyataan bahwa dia terpisah dari pelukan sang ibu.


"S-shura..." Suara bergetar Rin terdengar pelan memanggil nama putranya penuh dengan ketakutan dan membuat Sesshoumaru serta Jaken menoleh wajah menatapnya.


Yang mereka lihat adalah badan mungil Rin yang bergetar hebat. Wajah pucatnya semakin pucat, ketakutan memenuhi wajahnya. Mata coklatnya hanya terarah pada sosok Shura yang berada di tangan Sesshoumaru penuh dengan—penyesalan dan perasan bersalah. "R-rin..Rin... Maaf, maafkan Rin, maafkan Rin, Shura. Maafkan Rin!!"


Putranya yang berharga, karena ketidak berdayaan dan kecerobohannya, dia terluka. Sebagai seorang ibu, bagaimana Rin bisa memaafkan dirinya sendiri? Ibu apa dirinya hingga melukai putranya sendiri?


Berusaha menggerakkan kedua tangannya untuk mengapai Shura yang ada di tangan Sesshoumaru, ketakutan di wajah Rin semakin besar saat dia menyadari sesuatu untuk pertama kalinya, yakni; dia tidak bisa menggerakkan tangannya.


Badan lemah Rin bergetar semakin hebat, ketakutan di wajahnya semakin membesar hingga tidak terjelaskan lagi, dan tanpa terhentikan, air mata mengalir turun—dia menangis.


Dia telah melukai putranya, tapi kini dia tidak dapat memeluknya. Tidak peduli bagaimana dia mencoba, kedua tangannya tidak mau menuruti keinginannya, bahkan, dia tidak bisa merasakan keberadaan tangannya lagi! Jika keadaan dirinya seperti ini, bagaimana dia bisa membesarkan putranya? Bagaimana dia bisa memberikan segala sesuatu yang seharusnya dirasakan putranya dari seorang ibu?!


Sesshoumaru yang berada di belakang Rin menyadari keanehan yang ada. Menyerahkan Shura pada Jaken dan memeluk kisakinya, dia berbisik pelan menenangkannya. "Shura tidak apa-apa, Rin. Air panas tidak akan melukainya meski dia seorang bayi—ingat, dia adalah seorang inuyoukai sejati."


Mulut Rin terbuka, dia ingin berbicara, tapi, dia tidak menemukan suaranya, air mata mengalir terus. Hatinya sakit, sangat-sangat sakit tidak tertahankan. Kedepannya, apa yang akan terjadi?


Mengeratkan pelukannya, Sesshoumaru menenggelamkan wajah Rin pada dadanya. Membelai rambut hitamnya lembut, dia terus berbisik pelan di telinga wanita manusia dalam pelukannya. "Tidak apa-apa, semuanya tidak apa-apa, Rin. Sesuai katamu—semuanya akan baik-baik saja."


Shura yang tidak mengerti apa yang salah meronta-ronta dalam gendongan Jaken. Mendengar suara tangisan Rin, dia menjadi gelisah dan mulai menangis.


Jaken yang kebingungan dan belum  dapat memahami apa yang terjadi, segera berjalan mendekati Rin yang dipeluk Sesshoumaru. "Rin! Kau lihat! Shura-sama mencarimu!! Jangan menangis lagi! Jika kau menangis, Shura-sama akan ikut menangis!!"


Ucapan Jaken membuat Rin yang berada dalam pelukan Sesshoumaru tertegun. Mendengar putranya menangis, dia segera menoleh wajahnya menatap Shura. Namun, yang kemudian dilihatnya menghancurkan hatinya.


Di hadapannya sekarang, Shura menangis. Mata emasnya menatap lurus dirinya, sedangkan kedua tangan kecilnya terangkat meminta gendongan, dan Rin—tidak bisa mengapainya.


"Ah!! Ahhhhh!! Ahhhhh!!" menangis, berteriak tidak tertahankan, Rin tidak bisa mengontrol emosi dan perasaannya lagi.


Tangannya tidak bisa bergerak untuk memeluk Shura, dirinya tidak bisa mendekap putranya yang berharga—dia tidak bisa menghentikan tangis anaknya. Ibu seperti apa dirinya?? Dia berjanji memberikan segalanya untuk putranya, namun kini, hanya sebuah pelukan sederhana saja, dia tidak mampu berikan—betapa tidak beruntungnya putranya memiliki seorang ibu tidak berguna seperti dirinya.


Sesshoumaru dan Jaken sangat terkejut dengan tangis keras Rin. Wanita manusia yang tidak pernah menangis itu kini menangis dengan begitu putus asa penuh kesedihan.


Kembali menenggelamkan kepala Rin pada dadanya, Sesshoumaru membelai dan terus berusaha menenangkan wanita manusia dalam pelukannya. "Rin, tenang. Shura tidak apa-apa."


Terus berteriak dan menangis, Rin menggeleng kepala. Mencari kekuatan dalam tangisnya yang pecah, dia berusaha mati-matian mencari suaranya. "S-sesshoumaru-sama, S-sesshoumaru-sama, R-rinn... R-rin tidak bisa merasakan tangan Rin!!"


Tanpa tangan, bagaimana dia menyentuh mereka lagi? Memeluk dan merasakan kehangatan mereka yang begitu dicintainya?—betapa dunia ini kejam kepadanya.


....xOxOx....

__ADS_1


__ADS_2