![Till The End Of Time [ Inuyasha Fanfiction ]](https://asset.asean.biz.id/till-the-end-of-time---inuyasha-fanfiction--.webp)
"Kapan Shura akan menjadi seperti Shiro, Rin-chan?" tanya Shiro menatap Rin yang menggendong Shura. Kedua mata emasnya terarah menatap saudara sepupunya yang membalas tajam tidak suka.
"Hmnn," gumam Rin pelan sambil tersenyum ikut menatap Shura. Dia yang masih duduk di atas futon menggerakan tangan kanan membelai pelan kepala putranya berusaha menenangkan. Wajahnya masih cukup pucat, namun kebahagiaan terpancar jelas di wajah cantiknya. "Setelah Shura agak besar?"
"Kapan itu?" tanya Shiro lagi gembira. Matanya berbinar bahagia. "Shiro ingin mengajak Shura bermain bola secepatnya!!"
"Kau harus menunggu sekitar satu bulan lagi," jawab Inukimi tertawa. Mata emasnya berbinar penuh kebanggaan menatap Shura. "Tapi, seperti yang kukatakan cucu Taisho, jangan mengajak cucu tampanku bermain bola, ajak dia bermain pedang. Pedang lebih berguna daripada bola."
Inuyasha, Kagome, Sango, Miroku, Kohaku dan Kaeda yang berada dalam kamar tidak bisa mengatakan apa-apa mendengar ucapan Inukimi. Sepertinya cara membesarkan anak inuyoukai memang sangatlah berbeda dengan cara membesarkan seorang anak manusia atau hanyou pada umumnya.
"Shura lucu sekali!!" puji Aya yang ada di samping Shiro tiba-tiba. Dia ingin mengangkat tangan menyentuh bulu putih Shura yang terlihat begitu lembut dan indah. Namun, tatapan tajam inuyoukai kecil tersebut membuatnya mengurungkan niat yang ada.
"Iya," sambung Maya yang juga ada di samping Shiro cepat. Dia tertawa kecil. "Bulunya indah sekali-seperti kapas."
Mamoru yang sampai sekarang masih berada dalam gendongan Miroku tidak mengatakan apa-apa. Menatap sejenak sosok inuyoukai kecil dalam pelukan Rin, dia kemudian kembali membuang muka. "Apa gunanya dia lucu—dia bukan perempuan."
Ucapan Mamoru seketika membuat semua yang ada menatap bocah kecil tersebut. Sepertinya sampai sekarang, dia masih belum mau menerima kenyataan yang ada.
"Anak ini benar-benar akan menjadi seperti ayahnya kelak." Ujar Kaeda pelan menatap Mamoru. Dia bisa membayangkan sosok Mamoru di masa depan yang akan terus mengejar gadis-gadis cantik.
Sango dan Kohaku menggeleng kepala pasrah, sedangkan Miroku hanya dapat tertawa gugup sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Cih," Inuyasha yang diam membisu tiba-tiba membuka mulutnya. Matanya menatap tajam Shura yang dengan segera balas menatapnya. "Si kecil ini juga kelak akan seperti ayahnya."
Senyum Rin semakin melebar mendengar ucapan Inuyasha. "Shiro juga akan seperti anda kelak, Inuyasha-sama."
"Ughh," gerutu Kagome pelan mendengar ucapan Rin dan menghela napas. "Cukup satu Inuyasha saja, jangan menambah satu lagi "
"Iya, jangan menambah Inuyasha lagi." Potong suara Shippo tiba-tiba dan membuat semua yang ada menoleh menatap sumber suara
Di depan pintu kamar shoji yang terbuka, mereka melihat Shippo berjalan masuk bersama Yuki dan Sora. Senyum lebar memenuhi wajah Shippo. "Menambah satu Kagome boleh, tapi menambah satu Inuyasha—lebih baik jangan."
"Apa maksudmu, Shippo?" tanya Inuyasha balik penuh kekesalan. Kedua mata emasnya melotot menatap Shippo yang tersenyum semakin lebar.
"Kurasa semua juga berpikir bergitu," tawa Shippo tidak takut. Berjalan mendekati Kagome dia meloncat ke bahu miko masa depan tersebut. "Benarkan, Kagome?"
Kagome tertawa dan mengangguk kepala. Dia tidak mempedulikan sedikitpun Inuyasha yang dengan segera mengangkat tangan memukul kepala Shippo—sudah lama dia tidak melihat adegan ini.
"Sakit!!" teriak Shippo sambil menyentuh kepalanya dengan kedua tangan. "Kau sudah jadi seorang ayah, tapi kenapa sikapmu tidak berubah, Inuyasha?"
"Aku memang selamanya tidak akan pernah berubah." Balas Inuyasha santai dan sekali lagi memukul kepala Shippo.
Melihat apa yang terjadi, kecuali Inukimi, mereka hanya dapat menggeleng kepala akan sikap Inuyasha. Namun, sejenak kemudian mereka tertawa. Suasana yang lepas, hangat dan santai ini—sudah lama mereka tidak merasakannya.
Yuki dan Sora yang melihat kedekatan Shippo dan yang lain tidak berani bergerak. Mereka berdua masih berdiri di depan pintu tanpa berani melangkah masuk ke dalam, sebab ada Inukimi, Rin dan Shura di depan. Mereka yang bukan siapa-siapa tidak berani sembarangan mengusik keluarga penguasa tanah barat—tidak untuk saat mereka memerlukan bantuan.
Rin yang menyadari keberadaan Yuki dan Sora yang ragu dan takut-takut di depan pintu, kemudian tersenyum. Melambaikan tangan pelan, kisaki tanah barat meminta kedua youkai tikus putih tersebut masuk. "Kalian berdua, masuklah."
Yuki dan Sora tertegun dengan suara pelan dan ramah Rin yang meminta mereka masuk. Kisaki tanah barat yang terkenal kecantikannya, mereka sudah melihatnya kemarin dalam pesta. Tapi, melihat senyum ramah dan menawan yang merekah untuk mereka berdua, badan mereka hanya dapat mematung tidak percaya.
"Yuki, Sora, ayo!" panggil Shippo kemudian. Berlari ke arah mereka, kedua tangannya menarik lengan Yuki dan Sora ke depan Rin. Tersenyum lebar, dia tertawa pada wanita manusia yang menggendong putranya tersebut. "Ini teman baruku, Rin-chan. Yuki dan adiknya, Sora!"
"Salam kenal, Yuki-chan, Sora-chan," sapa Rin dengan senyum seindah musim seminya. Dia tahu siapa kedua youkai tikus putih di depannya sekarang dan juga apa yang telah mereka lakukan untuk menghentikan perang lima wilayah. Menurunkan pandangannya pada Shura, kisaki tanah barat menggerakkan tangan kanan depan putranya pelan dan kembali menatap Yuki dan Sora. "Aku Rin, dan ini putraku, Shura."
Yuki segera tersadar dari perasaan terpesonanya akan senyum Rin. Membungkuk badan memberikan hormat, tangan kanannya mendorong kepala Sora yang masih belum sadar dari perasaan terkesimanya ke bawah. "Hamba, Yuki dan adik hamba, Sora memberikan salam pada Rin-sama dan Shura-sama."
Rin dengan segera menggerakkan tangan kirinya untuk membantu Yuki dan Sora bangkit. "Jangan bersikap seperti ini, Yuki-chan, Sora-chan. Yang seharusnya membungkukkan badan adalah Rin" tersenyum ramah, dia menatap lembut kedua youkai tikus putih tersebut dan membungkukkan badan. "Rin masih belum mengucapkan terima kasih pada kalian berdua; terima kasih atas apa yang sudah kalian lakukan."
"Tidak-tidak, tidak perlu berterima kasih, Rin-sama." Yuki dan Sora dengan segera mengerakkan tangan membantu Rin yang membungkukkan badan ke posisi awal. Wajah mereka penuh ketakutan, mereka tidak bisa membayangkan apa yang akan terjadi pada mereka jika youkai tanah barat sampai tahu kisaki mereka tercinta membungkukkan badan pada dua youkai kecil dari tanah netral yang hancur.
"Panggil saja Rin," senyum Rin lagi dan kemudian berubah menjadi tawa. "Senang berkenalan dengan anda, Yuki-chan, Sora-chan."
Yuki dan Sora hanya dapat tertegun sekali lagi dengan sikap Rin. Mereka memang sudah mendengar cerita bahwa kisaki tanah barat adalah wanita yang sangat baik, tapi mereka tidak menyangka sebaik dan seramah ini.
Menoleh pada Shippo, Rin tersenyum dengan mata berbinar gembira. "Terima kasih, Shippo-kun. Rin dan Shura sangat berterima kasih padamu."
Shippp tersenyum membalas ucapan terima kasih Rin. Menggosok-gosok hidungnya dengan jari telunjuknya dia tertawa. "Tidak masalah, Rin."
"Grrr..." Shura yang melihat kedua tangan Yuki dan Sora masih menyentuh Rin menggeram tidak suka. Mata merah darahnya menatap tajam kedua youkai tikus putih tersebut.
Yuki dan Sora segera melepaskan tangan mereka yang menyentuh Rin. Wajah mereka menjadi pucat pasi penuh ketakutan. Pandangan pewaris tanah barat yang terarah pada mereka membuat mereka merasa bagaikan menjadi mangsa yang ditargetkan oleh binatang buas dan berbahaya.
"Shura, jangan seperti ini," ujar Rin pelan dan menghela napas pasrah. Membelai pelan kepala putranya, dia benar tidak tahu lagi bagaimana cara mengajari Shura yang begitu posesif kepadanya. "Tenanglah."
Shura berhenti menggeram. Menatap Rin, dia menjulurkan lidah menjilat telapak tangan ibunya tersebut dan kemudian menutup mata.
"Si kecil ini benar-benar sangat posesif," ujar Inuyasha yang melihat sikap Shura sambil melipat tangan di dadanya. "Kepada ibunya saja dia seperti itu—bagaimana dengan istrinya kelak?—dia akan lebih parah daripada Sesshoumaru."
Ucapan Inuyasha seketika membuat semua yang ada menatapnya. Tapi, inuhanyou itu tidak peduli, membuang muka, dia menutup mata emasnya. "Dan untungnya, istrinya tidak akan pernah merupakan anakku."
Semua yang ada diam membisu, begitu juga dengan Kagome. Menggeleng kepala, miko masa depan hanya dapat pasrah melihat sikap Inuyasha. Anak mereka adalah Shiro yang berjenis kelamin laki-laki, jadi, dia tidak mungkin menjadi istri Shura, kecuali—jika mereka memiliki seorang putri lagi kelak. Namun, itu adalah sesuatu yang mustahil, sebab dia tidak bisa mengandung lagi.
"Tapi," Sango yang diam membisu tiba-tiba mengeluarkan suaranya. "Kurasa istri masa depan Shura juga merupakan wanita yang sangat beruntung kelak."
"Apa?"
"Eh?"
Serentak, semua yang ada menoleh menatap Sango yang tersenyum. "Jika Shura mirip dengan Sesshoumaru, maka—dia pasti juga akan selalu menjaga dan melindungi istrinya seperti Sesshoumaru menjaga dan melindungi Rin-chan. Sebagai ibu, aku akan lega jika mendapatkan menantu seperti itu."
"Hmn, kau benar, Sango," Kaeda mengangguk kepala menyetujui ucapan Sango. "Suami yang baik adalah suami yang dapat diandalkan. Bisa menjaga dan melindungi keluarganya."
Bagaimana Sesshoumaru melindungi Rin dan Shura, semua yang ada dalam kamar ini sekarang adalah orang-orang yang paling tahu. Demi istri dan anaknya, inuyoukai berkebanggaan diri tinggi itu bersedia melawan dunia dan—menang. Tidak akan pernah mudah menemukan seorang pria yang bisa melakukan itu.
"Putraku memang bukanlah anak yang berbakti," tawa Inukimi. Matanya berbinar gembira. "Tapi, dia adalah contoh suami dan ayah paling ideal, melebihi Inu No Taisho."
Kagome ikut tersenyum dan mengangguk kepala. "Kakak memang dapat diandalkan. Dia adalah suami dan juga ayah terbaik yang pernah kulihat selama ini."
"Apa aku tidak seperti itu juga, Kagome??" tanya Inuysha kesal melihat sikap Kagome yang tidak mempedulikannya.
Miroku tidak berkata apa-apa, diam membisu dia tertawa sambil menggaruk kepala. Dalam hati, biksu itu berpikir, jika dia berada di posisi Sesshoumaru, dia juga akan melakukan semua yang dilakukan inuyoukai tersebut, tapi berhasil melakukannya atau tidak—itu urusan belakangan.
Kohaku dan Shippo tidak mengatakan apa-apa. Tapi, mereka menanam dalam hati apa yang mereka dengar, seperti apa suami dan ayah yang ideal sebenarnya di mata wanita.
"Aya dan Maya mengerti, ibu," tawa Aya dan Maya bersamaan dengan gembira. "Kelak, kami berdua akan mencari suami yang seperti paman Sesshoumaru!"
Miroku tertawa gugup mendengar ucapan kedua putri kembarnya. Mencari suami seperti Sesshoumaru?jika itu benar terjadi-—bagaimana dia sebagai mertua menghadapi menantunya kelak?
"Ayah," Mamoru menarik tangan Miroku dan menatapnya lekat. Pembicaraan barusan membuat dia merasa telah mengerti cara menaklukkan hati wanita cantik di masa depan. "Mamoru kelak akan tumbuh besar seperti Paman Sesshoumaru dan akan mendapatkan istri seperti Rin-chan."
Miroku benar-benar kehilangan kata. Dia tidak memerlukan seorang anak seperti Sesshoumaru. Bagaimana jadinya hidupnya kelak jika putra dan menantunya seperti inuyoukai penguasa tanah barat tersebut?
"Shiro juga akan tumbuh seperti Paman Sesshoumaru!!" sela Shiro gembira. Kedua matanya menatap Inuyasha berbinar gembira. "Bolehkan, ayah?"
"Kenapa kau harus tumbuh seperti dia??" hardik Inuyasha kesal dengan pertanyaan Shiro. "Tumbuh seperti ayahmu ini kelak, Shiro! Ayahmu ini lebih bagus daripada pamanmu itu!!"
Rin tidak mengatakan apa-apa. Tapi, hatinya sangat gembira. Pujian orang lain untuk Sesshoumaru adalah sesuatu yang paling disukainya. Menunduk kepala menatap Shura yang mengangkat kepala menatapnya, dia tersenyum seindah musim semi. "Tumbuh dan jadilah seperti ayah kandungmu, Shura."
"Guk-guk-guk." Shura mengongong dan mengoyangkan ekornya gembira. Tidak tahu mengerti maksud ucapan ibunya atau tidak, dia menutup mata dan memendamkan wajah pada dada Rin.
Rin tertawa kecil. Menggerakkan tangan kanannya, dia membelai lembut kepala dan punggung Shura penuh kasih sayang. "Jadilah sosok yang bisa diandalkan kelak, putraku dari barat.."
Yuki dan Sora yang diam membisu dari tadi hanya dapat menatap Rin dan Shura. Betapa kisaki tanah barat mencintai putranya, mereka bisa merasakannya, dan mau tidak mau, mereka hanya dapat teringat pada ibu mereka yang telah meninggal—ibu yang juga mencintai mereka seperti ini.
Tapi, diluar itu, rumor yang beredar tidaklah salah. Sesuai ceritanya, wanita manusia di depan mereka benar-benar bagaikan jelmaan keajaiban di dunia. Cantik, lembut, ramah, baik dan penuh kasih sayang—semoga beliau mau mengabulkan permintaan mereka yang mewakili tanah netral.
"R-rin-sama!" memberanikan dirinya, Yuki membuka mulut dan berlutut ke bawah. Begitu juga dengan Sora, diam membisu, dia ikut berlutut dihadapan kisaki tanah barat.
"Rin-sama," panggil Yuki lagi. Dia menata lurus pada Rin penuh permohonan. "Hamba mohon, bantulah kami dari tanah netral."
Semua yang ada dalam ruangan tertegun penuh kebingungan, kecuali Shippo dan Inukimi. Youkai rubah kecil tersebut memang sudah tahu tujuan Yuki dan Sora menemui Rin, sedangkan untuk mantan penguasa tanah barat—dia bisa menduga apa tujuan kedua youkai tikus putih tersebut.
"Yuki-chan, Sora-chan, berdirilah," ujar Rin pelan. Sampai sekarang, dia masih tidak menyukai seseorang berlutut padanya, "Apa yang bisa Rin bantu?"
Yuki dan Sora tetap tidak berdiri. Mereka berdua kemudian membungkuk badan dan menunduk kepala ke bawah. "Rin-sama, maafkan kami!! Kami mohon!! Ijinkanlah kami yang berada dalam tanah netral bergabung dengan tanah barat!!"
Tanah netral kini berada dalam kekacauan. Kematian Shui dan juga apa yang telah dilakukannya memberikan efek yang luar biasa pada tanah netral. Kehilangan sosok pemimpin yang kuat membuat mereka tidak yakin dapat melindungi diri mereka sendiri jika diserang, terlebih lagi, jika mengingat keinginan tanah netrallah yang menjadi penyebab utama perang lima wilayah terjadi. Bagaimana jika penguasa tanah barat tidak memaafkan mereka dan berniat menghancurkan mereka?
Koharu, sang youkai tupai dan Hima, sang youkai bunga dari tanah netral sementara ini menjabat sebagai pemimpin sementara tanah barat hanya dapat meminta maaf pada tanah barat mewakili tanah netral akan apa yang terjadi. Lalu, memikirkan keselamatan dan kelansungan hidup mereka ke depannya, para youkai tanah netral yang lemah mau tidak mau harus mencari sandaran baru, dan mereka memilih—tanah barat.
__ADS_1
Perang lima daerah yang berlansung membuat mereka bisa melihat jelas, siapa yang terkuat. Tidak akan ada wilayah lain yang dapat menandingi tanah barat, barat akan selalu jaya-itu adalah kenyataan. Keamanan serta keselamatan mereka akan terjamin, dan tidak akan ada yang berani menyerang mereka secara sembarangan jika mereka berada di bawah tanah barat. Terlebih lagi, tanah barat terkenal akan keadilan dalam kepemimpinannya. Hanya saja—akankah tanah barat menerima mereka?
Selain kesalahan mereka yang memulai perang lima wilayah, mereka tanah netral juga tidak memiliki sesuatu yang dapat dipersembahkan kepada tanah barat—kekuatan mereka yang lemah tidak akan dibutuhkan oleh tanah barat yang besar dan kuat.
Tanah utara memang mengulurkan tangan dan menawarkan pada mereka untuk bergabung, tapi tanah netral tidak bersedia. Mereka tidak bisa mempercayai tanah utara dan penguasanya yang masih memiliki hubungan darah dengan Shui. Terlebih lagi, masih menjadi pertanyaan bagaimana surat peringatan yang ditulis Yuki, Sora dan Shippo di desa kadal api yang hancur di tanah utara bisa berada di tangan Shui dulu.
Tanah timur yang lemah tidak akan bisa melindungi mereka, dan tanah selatan—Akihiko, sang penguasa tanah selatan yang membenci youkai lemah dan pengecut juga tidak mungkin akan menerima mereka.
Bergabung dengan tanah barat yang selalu kuat namun adil adalah pilihan terbaik. Memang tidak akan mudah, namun, tanah netral berusaha keras untuk mencobanya.
Kepada penguasa tanah barat yang terkenal dingin dan tidak berperasaan mereka tidak berani, karena itulah, mereka memutuskan Yuki dan Sora menemui kisaki tanah barat. Kedua youkai tikus putih kecil tersebut memiliki jasa yang sangat besar dalam menghentikan perang lima wilayah. Pengorbanan mereka—para tanah netral berharap kisaki yang terkenal baik hati dan lembut tersebut akan bersedia mengulurkan tangan dan menerima mereka.
Rin tidak mengatakan apa-apa dengan permintaan Yuki dan Sora. Dia tahu jelas posisi tanah netral sekarang meski tidak ada seorangpun yang memberitahunya, dan dia juga tahu, tanah netral tidak akan membantu tanah barat sedikitpun meski mereka bergabung, begitu juga dengan resiko ke depannya. Tapi, demi masa depan dan kedamaian yang ada—demi dunia damai di mana putranya akan tumbuh besar.
"Baiklah, Rin mengerti." balas Rin pelan. "Rin tidak bisa membuat keputusan, karena keputusan ada di tangan Sesshoumaru-sama, tapi—Rin akan mencoba membantu dan memberitahu beliau."
Yuki dan Sora segera mengangkat kepalanya menatap Rin begitu mendengar jawaban yang mereka dapatkan. Senyum lebar dan bahagia memenuhi wajah mereka. Membungkukkan badan mereka memberikan hormat sekali lagi, mereka berteriak keras. "Terima kasih, Rin-sama!"
Inuyasha dan yang lainnya tersenyum mendengar jawaban Rin. Sifat baik dan lembut wanita manusia tersebut tidak akan pernah berubah. Untuk tanah netral yang mengincar nyawanya dan putranya—dia bisa memaafkan.
Inukimi yang merupakan mantan penguasa tanah barat tidak mengatakan apa-apa. Dia menatap penuh senyum putri angkat sekaligus menantunya. Sikap dan hati Rin yang terlalu baik sebagai seorang kisaki youkai mungkin tidak begitu bagus, tapi, jika dipasangkan dengan Sesshoumaru yang kejam dan tidak berperasaan—mereka menjadi penguasa dan kisaki yang sempurna, sebab mereka bisa saling mengimbangi.
Namun, hubungan antara tanah barat dan tanah netral tidaklah sederhana seperti yang dibayangkan. Rin yang tidak menyetujuhi langsung permintaan kedua youkai tikus putih tersebut; Apakah dia juga mengetahuinya? Inukimi sungguh penasaran dengan jawaban akan keputusan yang diberikan wanita manusia itu pada tanah netral pada akhirnya.
"Jangan seperti ini, bangkitlah." mengulurkan tangannya, Rin berusaha membantu kedua youkai kecil itu berdiri. Seulas senyum memenuhi wajah cantiknya. Namun seperti biasa, belum sempat tangannya menyentuh Yuki dan Sora, Shura kembali mengongong tidak suka.
"Guk-guk-guk-grrr..." Kedua mata merah darah Shura sekali lagi menatap penuh kemarahan Yuki dan Sora yang kembali merebut perhatian ibu kandungnya.
Rin menggeleng kepala dan tertawa melihat sikap Shura. Tapi, kali ini, dia tidak peduli dengan protes putranya. Perlahan, dia menyentuh tangan Yuki dan membantunya berdiri, begitu juga dengan Sora.
Menatap Shura lagi, Rin tersenyum.
"Shura, tidak boleh seperti itu," mengangkat tangan kanannya lagi, dia membelai lembut kepala inuyoukai kecil dalam pelukannya. "Orang lain boleh menyentuh Rin, Rin juga boleh menyentuh orang lain. Tapi, kenyataan tidak akan pernah berubah; selamanya Rin tetaplah ibumu—kau tetap akan menjadi yang terpenting bagi ibu.."
Shura yang menatap Rin mengeluarkan suara kecilnya. Tidak tahu mengerti atau tidak ucapan sang ibu, dia menjulurkan lidah ingin menjilat dan menghilangkan bau orang lain yang menempel di tangan Rin.
Namun, kali ini, Rin segera mengangkat tangannya menghindar. Rin tahu, dia tidak boleh membiarkan Shura seperti ini terus. Sikap posesif ini tidak akan bagus untuk masa depannya. Membesarkan putranya, dia akan memberikan segala cinta dan kasih sayangnya, tapi, tidak berarti dia akan memanjakan dan menuruti semua keinginan sang anak.
Menjadi seorang ibu, ada banyak hal yang akan dia berikan, sekaligus juga banyak yang tidak akan dia berikan. Pertahankanlah sikap baik sang anak dan perbaiki sikap buruknya, jangan cinta yang ada membuatmu buta. Masa depan anak berada di tangan anak, dan sebagai orang tua, tugasnya adalah membimbing serta mengarahkannya ke arah yang benar.
"Guk-guk-guk." Shura mengongong pelan. Kedua matanya yang menatap lurus Rin terlihat sangat sedih namun juga memelas, dan itu mau tidak mau membuat Rin tertawa—putranya yang lucu.
Mengangkat badan Shura pelan, Rin kemudian mendekap eratnya di dada untuk menenangkan. Tangan kanannya terus bergerak membelai punggung putranya penuh kasih sayang. Shura sekarang mungkin tidak mengerti, tapi Rin yakin, perlahan, putranya akan mengerti kelak. "Rin selamanya adalah ibumu, Shura. Tidak perlu takut dan jangan pernah ragu, Rin selamanya akan mencintaimu.."
Ucapan lembut Rin, suara pelannya yang penuh kasih sayang, semua yang melihat hanya bisa ikut tersenyum—sungguh, wanita di depan mereka adalah seorang ibu yang sempurna.
....xOxOx....
Nama no naka
Kaze no naka
Yume no naka
Sesshoumaru melangkah pelan menuju kamar tidurnya di paviliun timur istana tanah barat. Indra pendengarannya yang tajam bisa mendengar jelas suara nyanyian yang mengalun di udara, dan seulas senyum kecil memenuhi wajah tampannya.
Sesshoumaru-sama doko ni iru
Jakken-sama wo shita naete
Terus melangkah, hati Sesshoumaru terasa hangat. Lirik lagu yang sangat kekanakan, namun setiap kali dia mendengarnya, dia merasa dia hanya semakin menyukainya—lagu yang dinyanyikan selalu hanya untuknya.
Watashi wa hitori de machimashou
Shura wa hitori de machimashou
Dia dan Shura yang selalu menunggu—istri dan anaknya yang menunggu kepulangannya. Tidak pernah Sesshoumaru menyangka ada hari di mana keberadaannya ditunggu oleh orang lain.
Mata emas Sesshoumaru kemudian menangkap salju yang mulai jatuh perlahan dari langit siang musim dingin. Mempercepat langkah kakinya menuju kamar tidur, dia tidak mempedulikan Kiri yang memberikan hormat padanya saat melihatnya. Membuka pintu kamar, dia segera berjalan masuk dengan wajahnya yang tenang tanpa ekspresi seperti biasa.
Jika saja bukan karena tugas mendesaknya sebagai penguasa tanah barat, dan juga kesempatan bagi anak-anak, Inuyasha dan yang lainnya untuk menjenguk istri dan anaknya, maka, Sesshoumaru sama sekali tidak berniat meninggalkan dan membuat mereka berdua menunggu kepulangannya.
Wareware wa hitori de machimashou
Pandangan Sesshoumaru jatuh pada sosok seorang wanita manusia, dan wanita tersebut duduk di atas futon memeluk seorang inuyoukai kecil yang tertidur damai. Dengan rambut sehitam langit tanpa bintang, kulit seputih salju, hidung yang mancung, bibir yang munggil, mata coklat besar yang selalu jernih dan bersinar penuh cinta—wanita itu sangat cantik dan menawan.
Menyadari kehadirannya, wanita manusia itu menatapnya. Seulas senyum sehangat dan seindah musim semi merekah di wajahnya. "Sesshoumaru-sama, okaeri."
Mendekati wanita tersebut, Sesshoumaru segera duduk di sampingnya. Mokomokonya segera bergerak untuk menyelimuti badan mungil tersebut, sedangkan matanya bersinar lembut. "Tadaima, Rin."
"Shura sedang tertidur," senyum Rin semakin lebar. Kembali menatap Shura yang berada dalam pelukannya penuh kasih sayang. "Jika tidak, dia pasti juga akan menyambut anda, Sesshoumaru-sama."
Ucapan Rin hanya membuat Sesshoumaru tersenyum kecil. Menoleh menatap putranya, dia kemudian mencium keningnya pelan. "Tadaima, Shura."
Senyum Rin berubah menjadi tawa. Tawa yang pelan dan lepas penuh kebahagiaan. Dulu, dia sering membayangkan, seperti apa sosok Sesshoumaru saat dia menjadi seorang ayah? Apakah inuyoukai tersebut akan seperti sosoknya saat dia kecil dulu?—inuyoukai yang selalu terlihat tidak peduli, namun sebenarnya selalu memperhatikan apa yang dilakukan dirinya. Tapi, ternyata dia salah, inuyoukai ini adalah tipe ayah yang penyayang dan lembut.
Sesshoumaru tidak mengatakan apa-apa mendengar tawa Rin. Mengangkat pelan badan mungil di samping, dia kemudian menempatkan kisakinya untuk duduk di atas pangkuannya. Kedua tangannya kemudian bergerak memeluk pinggangnya dengan hati-hati dan lembut.
Rin juga dengan secara reflek menyandarkan punggungnya pada dada Sesshoumaru. Menyamankan diri, dia kemudian mendongak kepala menatap wajah Sesshoumaru dan tersenyum. "Sesshoumaru-sama, masa depan seperti apa yang anda inginkan?"
Pertanyaan Rin membuat Sesshoumaru menatap kisakinya tersebut. Seulas senyum kecil memenuhi wajah tampan penguasa tanah barat. "Masa depan dimana kau dan Shura selalu ada."
Senyum Rin semakin lebar mendengar jawaban Sesshoumaru. "Selain itu?" tanyanya lagi, kedua mata coklat besarnya berbinar gembira.
"Kita bahagia," tawa Sesshoumaru pelan. Menundukkan kepalanya ke bawah, dia mencium kening Rin lembut. "Selalu bersama-selamanya dan selalu."
Senyum Rin kembali berubah menjadi tawa. Menutup mata, dia mengangguk kepala. "Itu juga merupakan masa depan yang Rin inginkan—selamanya bersama."
Selamanya bersama.
Dulu, Rin ingin bisa selamanya bersama Sesshoumaru. Namun, setelah Shura ada, dia juga ingin selamanya bersama Shura. Selamanya bersama dan selalu—tidak terpisahkan. Harapan yang selalu diharapkan, mimpi yang selalu diimpikan, keinginan yang tidak pernah berubah—masa depan penuh kebahagiaan mereka.
Tersenyum, saat membuka mata lagi, Rin kemudian menatap Shura yang bergerak dalam tidurnya. "Sesshoumaru-sama, apa yang akan anda lakukan terhadap tanah netral?"
Sesshoumaru mengangkat tangan dan membelai lembut kepala Shura yang dengan segera mendengus puas dalam tidurnya. "Apa yang ingin kau lakukan, Rin?"
"Yuki-chan dan Sora-chan datang mengunjungiku tadi," jawab Rin pelan. Masih menatap Shura yang tertidur nyenyak, dia tetap tersenyum lembut. "Tanah netral ingin bergabung dengan tanah barat."
Sesshoumaru tidak memberikan reaksi apapun dengan apa yang dikatakan Rin. Tanah netral yang ingin bergabung dengan tanah barat, dia sudah bisa menduganya. Klan-klan youkai lemah yang kehilangan pemimpin, demi kelansungan hidup mereka, mereka harus mencari tempat bergantung yang baru, dan pilihan utama mereka adalah; tanah barat.
Tanah netral—Sesshoumaru sampai sekarang tidak berniat melakukan apapun terhadap mereka. Dia tidak berniat menyerang, namun juga tidak berniat memaafkan kesalahan yang telah mereka lakukan. Perang lima wilayah memang didalangi oleh Shui, tapi tanpa klan-klan di tanah netral, perang yang mengincar nyawa dari istri dan anaknya tidak akan pernah terjadi.
Tanah netral boleh bergabung dengan tanah utara ataupun tanah timur, bahkan mereka juga boleh bergabung dengan tanah selatan. Tapi, Sesshoumaru selamanya akan mengingat mereka.
Sesshoumaru bukan youkai yang baik hati. Kata baik sesungguhnya sangat jauh dari dirinya-dia adalah sosok yang kejam dan dingin. Untuk mereka yang berani mengusik keluarganya—bagaimana dia bisa dengan tangan terbuka menerima mereka? Sesshoumaru ingin mereka tetap hidup, namun selamanya akan selalu berada dalam ketakutan kepada tanah barat yang menaruk dendam—tanah barat yang bisa menyerang mereka setiap saat.
"Apakah anda akan menerima mereka?" tanya Rin lagi pelan. Dia kembali menatap Sesshoumaru dan tersenyum.
"Tidak."
Singkat dan jelas. Senyum Rin berubah menjadi tawa. Dia sudah menduga Sesshoumaru akan menjawab seperti itu. Dia mengenal inuyoukai itu dengan baik—itu bukanlah bohongan, karena itulah dia tidak menjawab langsung permintaan Yuki dan Sora tadi.
"Tanah barat di bawah kekuasaan Sesshoumaru ini tidak membutuhkan mereka," ujar Sesshoumaru lagi. Matanya masih menatap Shura yang tertidur nyaman. "Begitu juga dengan tanah barat kelak di bawah kekuasaan Shura."
Rin mengangguk kepala. Dia setuju dengan ucapan Sesshoumaru, tanah barat memang tidak memerlukan kekuatan tanah netral, hanya saja—"Sesshoumaru-sama," panggil Rin lagi. "Dunia di mana Shura akan tumbuh besar, dunia seperti apa yang anda inginkan?"
"Dunia apapun tidak masalah," jawab Sesshoumaru pelan. Mata emasnya perlahan kembali terarah pada Rin. "Karena putra kita akan hidup, bertarung dan menang—sesuai lagumu, Rin."
Rin kembali tertawa dan tertawa. Hatinya terasa hangat. Pembicaraannya ini dengan Sesshoumaru membuat dia tahu, betapa inuyoukai ini mempercayai putra mereka seperti dirinya.
Tawa Rin adalah sesuatu yang paling disukai Sesshoumaru. Lembut dan indah, jernih bagaikan dentingan lonceng. Mengeratkan pelukannya, dia membenamkan wajahnya pada celah leher Rin, mencium tanda bulan sabit yang begitu kentara di leher putih bagaikan salju tersebut. "Dunia apa yang kau inginkan untuk Shura, Rin?"
Tersenyum, Rin menatap Shura sejenak dan menutup mata. "Dunia yang tidak akan ada perang lagi. Tidak ada kesedihan, tidak ada penderitaan, dunia di mana semua yang ada bisa tertawa dan bahagia—dunia yang damai."
Sesshoumaru hanya bisa kembali tersenyum mendengar jawaban Rin. Dunia yang tidak ada kesedihan dan penderitaan, dunia di mana semua yang ada bisa tertawa dan bahagia; dunia damai tanpa perang—itu dunia yang mustahil bagi Shura. Terlahir sebagai pewaris tanah barat, putra mereka dilahirkan untuk berperang.
"Rin," panggil Sesshoumaru. Dia memeluk semakin erat Rin yang ada dipangkuannya. "Dunia seperti itu tidak akan pernah ada. Dunia tanpa kesedihan dan penderitaan, dunia tanpa perang adalah dunia yang mustahil bagi Shura."
Rin tertawa kecil dengan ucapan Sesshoumaru. Membuka mata, dia menatap Shura lembut. "Iya, Rin tahu Sesshoumaru-sama. Dunia seperti itu mustahil bagi Shura."
__ADS_1
Melebihi siapapun, Rin tahu, apa takdir Shura. Putranya ditakdirkan untuk terus bertarung dan bertarung. Meski dia terlahir sebagai youkai sejati, darah yang mengalir, tangung jawab yang akan dipikul, warisan yang ada—takdirnya tidak akan pernah berubah; karena putranya adalah putra dari Sesshoumaru, pewaris tanah barat.
Tapi, sebagai ibunya, jika bisa, Rin ingin mengubahnya—sedikit pun tidak apa-apa. Jika dia bisa membantu menciptakan dunia yang damai walau tidak bertahan lama untuk putranya, maka dia mau mencobanya. Untuk Shura, walau tidak bisa selamanya, dia ingin putranya hidup dan tumbuh besar dengan mengecap apa itu kedamaian.
"Sesshoumaru-sama," panggil Rin lagi, dia tersenyum lebar dan kembali menatap Sesshoumaru. "Apakah anda bisa memberikan kesempatan pada tanah netral."
Membalas tatapan Rin, Sesshoumaru diam membisu.
"Tanah netral tidak akan bisa bergabung dengan tanah barat. Anda tidak akan mengijinkan, dan juga—keadaan tidak mengijinkan," jelas Rin tetap tersenyum. Dia bisa melihat jelas kondisi dunia youkai sekarang. "Tanah barat sudah terlalu kuat dan besar, bergabungnya tanah netral dengan tanah barat tidak akan membantu kekuatan tanah barat. Walau secara otomatis, hanya wilayah yang akan semakin luas."
Diam membisu, Sesshoumaru menatap Rin yang menjelaskan kondisi dunia youkai dengan tenang.
"Dan semakin luas, juga berarti yang harus dilindungi semakin banyak. Itu—tidak bagus." senyum Rin kembali berubah menjadi tertawa pelan. "Terlebih lagi, mereka adalah kelompok youkai yang sangat mementingkan kelansungan hidup mereka. Mereka mudah diperalat, perang lima wilayah sudah membuktikan—mereka dengan begitu mudah diperalat oleh Shui."
Sebagai penguasa, memiliki wilayah yang luas dan bawahan yang banyak adalah hal yang membanggakan. Tapi, jika wilayah tidak berguna dan bawahan lebih mementingkan diri sendiri serta mudah diperalat, maka—mereka akan menjadi sebilah pedang yang bisa digunakan oleh musuh untuk menusuk sang penguasa setiap saat.
Mereka bisa bersumpah setia, tapi kapan sumpah mereka akan bertahan? Selamanya? Jika suatu hari nanti mereka merasa terancam, mereka bisa saja bersatu dan menghancurkan tanah barat dari dalam. Mereka yang lemah, pengecut dan mementingkan diri sendiri—Rin tidak dapat mempercayai tanah netral yang seperti itu.
Sesshoumaru adalah penguasa sekarang, dan Shura adalah penguasa selanjutnya—Rin tidak akan pernah bersedia membiarkan pedang berbahaya itu ada di samping mereka.
Sesshoumaru tidak dapat menghentikan senyumnya mendengar segala penjelasan kisakinya. Rin adalah wanita yang aneh. Dia polos dan baik hati, tapi yang paling penting; dia bukan wanita bodoh. Di dunia ini, cara pandang dan berpikirnya—meski dia adalah seorang manusia, dia bisa melihat jelas segala kondisi yang ada melebihi siapapun. Jika ada yang melihat sosok dan mendengar penjelasannya sekarang, apakah masih ada yang akan mengatakan dia tidak cocok menjadi kisaki tanah barat?
"Jika begitu, kesempatan apa yang kau ingin Sesshoumaru ini berikan pada tanah netral, Rin?" tanya Sesshoumaru pelan.
"Hubungan kerja sama yang setara." Jawab Rin cepat.
"Setara?"
Rin mengangguk kepala. "Iya. Berikan mereka perlindungan, tapi tidak bergabung. Tanah barat akan membantu mereka jika mereka membutuhkan bantuan, dan sebagai gantinya mereka wajib menyokong tanah barat dalam bentuk sumber daya alam."
"Itu saja?"
Menyokong dalam bentuk sumber daya alam? Sesshoumaru tahu, Rin pasti sadar bawah tanah barat sama sekali tidak membutuhkan itu—sumber daya alam mereka jauh melimpah dibandingkan daerah manapun.
"Tanah netral tidak akan memiliki hak untuk berbicara serta berpendapat di tanah barat, sebab mereka bukan bagian tanah barat. Lalu, jika mereka melakukan sesuatu yang merugikan dan memgancam tanah barat, maka, tanah barat berhak meninggalkan ataupun—menyerang mereka."
Senyum kembali mengembang di wajah Sesshoumaru. Inuyoukai itu tahu apa yang diincar kisakinya sekarang. "Kau ingin tanah barat memiliki kesempatan menghancurkan tanah netral tanpa ada yang bisa ikut campur?"
Rin terdiam sejenak mendengar pertanyaan Sesshoumaru. Namun, sejenak kemudian dia mengangguk kepala pelan. "Iya. Jika tanah netral setuju dengan ini, maka baik tanah utara, timur dan juga selatan tidak akan dapat berbuat apa-apa lagi jika kelak tanah netral menghianati tanah barat dan meminta bantuan."
Menarik napas, Rin kemudian menoleh pandangannya pada salju yang mulai turun melalui jendela yang terbuka. "Dunia cukup tahu tanah barat mengajukan kesepakatan seperti ini karena tanah barat ingin mengumpulkan sumber daya alam—atau mungkin, dunia juga boleh berpikir karena Rin sebagai kisaki terlalu pemaaf. Dunia tidak perlu tahu jika sesungguhnya tanah barat akan merantai kebebasan tanah netral."
Sesshoumaru tidak bisa menahan tawanya lagi. Tertawa, dia menatap takjud wanita manusia dalam pangkuannya.
Rin—berubah.
Rin menjadi lebih—keras. Namun, Sesshoumaru juga tahu, wanita manusia ini berpikir seperti itu adalah untuk masa depan Shura. Setelah menjadi seorang ibu, dia benar-benar ingin melakukan segala sesuatu yang akan menjamin masa depan putranya.
"Rin tidak meminta anda memaafkan tanah netral, Sesshoumaru-sama," senyum Rin dan kembali menatap Sesshoumaru. Dia tahu, inuyoukai ini masih menyimpan dendam pada tanah netral. "Rin hanya meminta anda memaklumi mereka, dan Rin percaya, apa yang ingin lakukan ini akan membantu menciptakan dunia yang damai dan aman untuk Shura kelak—meski Rin tidak tahu akan bertahan berapa lama."
Sesshoumaru sangat menyukai Rin yang seperi ini. Meski polos dan baik, dia adalah wanita yang sangat realitas. Dia tahu, dunia yang damai dan aman yang dia inginkan untuk Shura tidak akan pernah ada. Namun, sebisa mungkin dia ingin menciptakannya untuk putra mereka. Karena itu—bagaimana Sesshoumaru menolak permintaannya?
"Baiklah," balas Sesshoumaru kemudian. Berhenti tertawa, dia menangkap ujung rambut hitam Rim dan menciumnya pelan. "Sesshoumaru ini mengerti—Sesshoumaru ini mengabulkan keinginanmu, Rin"
"Terima kasih, Sesshoumaru-sama." tawa Rin lagi. Senyum lebar kembali memenuhi wajahnya. "Terima kasih telah mengabulkan permintaan Rin ini."
Kesepakatan ini, jauh dalam hati, Rin berharap, tanah netral akan menjaganya selalu, sebab ini adalah kesempatan terakhir yang diberikan tanah barat pada mereka.
Sesshoumaru tidak mengatakan apa-apa lagi. Melepaskan rambut Rin, dia kembali memeluknya erat. "Kau tidak perlu berterima kash, Rin."
Senyum Rin semakin lebar hingga akhinya kembali berubah menjadi tawa. Dia sudah lupa berapa kali dia tertawa hari ini. Perlahan, dia kembali menatap Shura yang masih tertidur. Seketika, sesuatu melintas dalam pikiran, "Ne, Sesshoumaru-sama," pangginya pelan. "Dunia damai tanpa perang bagi Shura, baik anda maupun Rin, kita tidak akan dapat memberikannya. Tapi, mungkin kelak, suatu saat nanti, setalah melalui berbagai perperangan, putra kitalah yang akan menciptakan dunia seperti itu. Dunia mustahil yang menjadi kenyataan."
Sesshoumaru tersenyum. Ucapan Rin kali ini, tidak tahu kenapa tidak terdengar mustahil di telinganya. "Shura akan lebih kuat dari Sesshoumaru ini kelak, dan yang kau ucapkan mungkin akan menjadi kenyataan."
Tawa Rin hanya semakin lebar dan keras. Di masa depan yang jauh dan tidak dapat dipredeksi, di dunia dan jaman yang penuh kekacauan ini, mungkin suatu hari nanti keajaiban dalam hidup mereka benar-benar akan menciptakan dunia yang mustahil tersebut—dunia damai tanpa perang yang hanya berisikan kebahagiaan.
Menutup mata, Rin kemudian mencium lembut kening Shura penuh kasih sayang. "Tumbuh dengan baik, putraku dari barat. Hiduplah sesuai yang kau inginkan.."
Shura yang masih tertidur mendesah pelan penuh kebahagiaan. Suara lembut, sentuhan hangat, cinta dan doa sang ibu—ini adalah apa yang paling disukainya.
Menutup mata, Rin membuai badan Shura yang tertidur dengan pelan. Tersenyum, dia mulai bernyanyi dengan suara lembutnya.
Anata no nayami o sutete
Singkirkanlah kekhawatiranmu sayangku
Ashita wa atarashī hi ga kuru
Karena besok akan datang hari baru
Dakishimete, osoreru koto wa nanimonai
Berpeganglah padaku, tidak ada yang perlu ditakuti
Anata no yume wa tōkunaikara
Karena mimpimu tidaklah jauh
Atama o yoko ni shite yasumu to
Saat kau membaringkan kepalamu dan beristirahat
Anata no yume ga watashi no ai o hikitsugu yō ni
Semoga mimpimu mengambil alih cintaku
Yoku kiite, Nishi no musuko
Denganlah baik-baik, putraku dari barat
Sekai wa zankokudesuga
Walaupun dunia kejam
Mada kagayaku hikari ga arimasu
Masih ada cahaya yang bersinar
Watashitachi no jinsei no mottomo kurai hi ni
Dalam hari-hari tergelap kehidupan kita
Subete no kibō ga ushinawa reta yō ni mieru toki
Saat semua harapan kelihatannya telah hilang
Soshite, anata wa anata no michi o mitsukeru koto ga dekimasen
Dan kau tidak dapat menemukan jalan
Sora o mitsumeru toki no koto o kangaete
Pikirkan aku saat kau melihat ke langit
Ko kōzan, anata no mirai wa akarui
Anakku, masa depanmu cerah
Anata no chichi no chi ga anata no jōmyaku ni
Karena darah ayahmu dalam nadimu
Kurayaminonakade, watashi wa anata ga tatakau koto o inoru
Di saat-saat gelap, aku berdoa kau akan bertarung
Sekai ga sugu ni anata no namae o shiru yō ni narukara
Karena dunia akan segera tahu namamu
__ADS_1
Dunia yang akan mengetahui nama putranya—Rin berharap Shura bisa menciptakan dunia damai tanpa perang untuk dirinya sendiri; dunia di mana putranya akan selalu bahagia tanpa penderitaan dan kesedihan.
....xOxOx....