Till The End Of Time [ Inuyasha Fanfiction ]

Till The End Of Time [ Inuyasha Fanfiction ]
Chapter 16


__ADS_3

Shiro duduk menatap tajam pemandangan yang ada di depannya. Dia merasa sangat kesal, marah dan juga cemburu pada saat bersamaan, sebab, Shura yang duduk di depannya sedang memeluk erat Sakura yang ada di pangkuannya. Tatapan mata inuyoukai itu juga tidak kalah tajam dengan pandangan matanya. Mata emas di depannya seakan berkata padanya bahwa Sakura, adik kesayangannya itu adalah miliknya.


Shiro ingin sekali menarik lepas kedekatan mereka dan menjauhkan adik perempuannya itu sejauh-jauh mungkin. Namun, yang menjadi masalah adalah Sakura yang berada dalam pelukan Shura sama sekali tidak memperlihatkan keberatan sedikit pun. Sakura memang tidak mengerti kenapa inuyoukai itu terus memeluk dan tidak mau melepaskan dirinya, tapi, dia tidak membencinya, malahan dia sesungguhnya sangat menyukai kehangatan Shura yang menyelimutinya sekarang. Dirinya tertawa dengan penuh kegembiraan sambil berbicara dengan Shura, walau yang bersangkutan hanya diam membisu.


"Bagaikan dua ekor anjing yang sedang merebutkan sepotong tulang—ah, tidak! Ini memang dua ekor anjing yang sedang merebut sepotong tulang." Ujar Mamoru yang dari tadi melihat pertandingan tatapan mata antara Shura dan Shiro tiba-tiba.


"Apa maksudmu, Mamoru?" tanya Shiro kesal. "Kau pikir, gara-gara siapa ini semua bisa terjadi?"


"Benar kata Shiro, Mamoru. Walau Sakura sudah berhasil kita temukan, kau seharusnya merasa bersalah dengan apa yang telah kau lakukan." Tambah Aya yang juga ada di sana sambil menatap tajam Mamoru, begitu juga dengan Maya.


Mamoru hanya tertawa dengan penuh kegugupan melihat tatapan tajam kedua Kakaknya. "Ahahaha, Sudahlah Kakak, semuanya, kan sudah berlalu.."


"Ya. Semuanya memang telah berlalu, tapi, kesalahanmu di mata kami masih belum berlalu." Balas Maya tajam.


"Kak Ma—" protes Mamoru, tapi ucapannya itu segera terhenti saat pintu shoji ruangan mereka berada terbuka. Shiro, Mamoru, Aya dan Maya langsung bersiaga saat melihat siapa yang masuk, yakni youkai Penguasa Tanah Selatan, Akihiko.


Akihiko tersenyum menyeringai melihat reaksi Shiro dan yang lainnya. Mau tidak mau, melihat sikap mereka itu, dia hanya bisa kembali berpikir betapa miripnya mereka semua dengan orang tua mereka, terutama Shiro. Hanyou itu benar-benar seperti ayahnya. Akihiko kemudian menolehkan wajahnya menatap Shura yang sama sekali tidak mempedulikan kehadirannya, dan dia tertawa kecil saat melihat inuyoukai itu memeluk erat Sakura yang kini menatapnya penuh kebingungan. Dalam mata Penguasa Tanah Selatan itu, sikap Shura sekarang benar-benar terlihat seperti seekor anjing yang sedang menjaga ketat sepotong tulang yang dimilikinya.


Tidak mempedulikan semua yang kini menatapnya, Akihiko berjalan dan duduk di atas tatami di samping Shura. Mata biru langitnya menatap Shiro dan yang lainnya. "Kenapa kalian semua ada di tanahku?" tanyanya.


Shiro dan Mamoru hanya diam membisu, begitu juga dengan Aya dan Maya. Mereka tidak mengucapkan apa pun. Mereka tahu dengan jelas siapa yang ada di depan mereka sekarang. Meski mereka masih kecil saat itu, ingatan akan kebuasan dan kegilaan yang diperlihatkan youkai di depan mereka masih membekas dengan jelas.


Bisa merasakan apa yang sedang dirasakan hanyou dan manusia-manusia di depannya, Akihiko tersenyum menyeringai. Sebenarnya, dia sama sekali tidak memerlukan jawaban dari mereka, sebab, dia sudah tahu apa penyebab mereka bisa berada di selatan, kenapa orang tua mereka membiarkan mereka berada di sini tanpa pengawasan, "Ternyata perang antara barat dan utara memang tidak dapat dipredeksi kali ini. Utara ternyata dapat memojokkan barat." ujar Akihiko sambil tertawa.


Kewaspadaan Shiro dan yang lainnya semakin meningkat saat mendengar apa yang dikatakan Akihiko. Mereka tidak bisa mempercayai youkai yang ada di depan mereka. Perang antara barat dan utara yang telah berlangsung selama satu tahun lebih, sesuai dengan kata Akihiko, memang tidak dapat dipredeksi. Utara yang menyerang barat terbukti bisa memojokkan barat, beberapa desa manusia yang berada di barat telah hancur di tangan para youkai dari utara. Barat yang terkenal aman, tidaklah aman lagi sekarang. Karena itulah, orang tua mereka memerintahkan mereka untuk ke selatan.


"Pergilah ke selatan, Shiro. Jaga Sakura. Aku dan ibumu akan pergi membantu si berengsek itu."


Ucapan yang diucapkan ayahnya tergiang dalam kepala Shiro. Dia tahu, hubungan ayah dan si berengsek itu atau dengan kata lain, pamannya, memang tidak pernah baik semenjak dulu. Namun, dia juga tahu, keluarga mereka berhutang budi pada beliau untuk selamanya. Tanpa beliau, dia tidak berani membayangkan bagaimana keluarga mereka bisa ada sampai sekarang.


Akihiko kemudian menolehkan kepala menatap Shura. Ekspresi wajahnya tetap saja tenang, seakan berita mengenai barat yang masih belum berhasil menaklukkan utara tidak ada artinya. Namun, dia tahu, berita ini sesungguhnya pasti sangat mengejutkannya. Selama ini, dia sangat jarang mendapatkan berita mengenai keadaan barat. Dan sesuai dengan sikap yang diwarisinya dari anjing arogan itu, dia pasti berpikir barat akan dapat mengalahkan utara degan mudah.


Sakura yang berada dalam pelukan Shura bisa merasakan perasaan terkejut yang dirasakan inuyoukai itu. Dia bisa mendengar dengan jelas detak jantung Shura sempat terhenti sejenak dan berpacu cepat saat mendengar berita akan barat yang terpojok. Dia mengangkat wajahnya menatap inuyoukai itu. "Kak Shura, ada apa?" tanyanya pelan, mata emasnya menatap lurus mata emas di depannya.


"Tidak apa-apa." Jawab Shura datar.


"Benarkah?" tanya Sakura lagi tidak mempercayai jawaban Shura. Kedua tangannya segera terangkat menyentuh kedua pipi Shura.


Kehangatan kedua tangan Sakura yang ada di pipinya membuat Shura semakin mempererat pelukannya. Tanpa mempedulikan siapapun yang ada di sana, dia membenamkan kepalanya pada celah leher kecil Sakura, menghirup bau bunga sakura yang ada sambil bergumam pelan, "Ya."


Sikap Shura itu kontan membuat wajah Sakura memerah, sedangakan Shiro yang ada di sana langsung berdiri dan berteriak, "Lepaskn adikku, anjing mesum!" hanyou itu langsung bergerak cepat untuk memisahkan adiknya dari Shura. Tapi, Shura tidak mengijinkan itu terjadi, kepalanya terangkat memperlihatkan seringai penuh kemarahan dengan mata semerah darah.


"Aku tidak taku dengan seringai bodohmu itu, anjing mesum! Lepaskan adikku!" teriak Shiro penuh kemarahan tanpa rasa takut sedikit pun.


Akihiko tidak mempedulikan keributan antar inuyoukai dan hanyou di sampingnya, walau sejujurnya, dia mengakui pemandangan di sampingnya itu merupakan sebuah pemandangan yang sangat lucu dan tidak pernah terlintas dalam pikirannya akan terjadi. Siapa yang menyangka Shura mempunyai sifat seperti ini dalam dirinya? Dia menolehkan kepala menatap Mamoru, Aya dan juga Maya yang dari tadi diam membisu tanpa mengatakan sepatah kata pun. "Tinggallah di istana ini selama yang kalian inginkan, namun aku tidak menjamin keselamatan kalian.."


....xOxOx....


"Apa yang kau inginkan?" tanya Shiro kesal sambil menatap tajam Akihiko yang ada di depannya. Dirinya yang dipanggil menghadap Penguasa Tanah Selatan itu bersama Mamoru, Aya dan Maya tidak memperlihatkan sedikit pun ketakutan, sebab pikirannya sekarang sedang penuh dengan Sakura, adik kesayangannya yang bersama dengan Shura. Dia tidak tahu apa yang mungkin dilakukan anjing mesum itu pada adiknya yang polos dan tidak tahu apa-apa.


Akihiko menatap Shiro dengan penuh ketertarikkan. Dia berikir-pikir dalam hatinya, apakah semua anak laki-laki dari keturunan inuyoukai itu selalu mirip dengan ayah mereka. Shura, tidak diragukan lagi mirip sekali dengan Sesshoumaru, begitu juga dengan Shiro. Rupa, sikap kurang ajar, tidak takut apapun dan juga sembrono yang dimilikinya, benar-benar merupakan cerminan ayahnya yang merupakan hanyou terkuat di jepang.


"Shiro, jaga sikapmu." Ujar Maya menenangkan Shiro.


"Ya, benar kata Aya, Shiro. Tenanglah." Tambah Aya sambil menepuk pundak Shiro. Mamoru tidak mengatakan apa-apa, namun, matanya yang menatap Shiro jelas mengucapakan hal yang sama.


Ketiga bersaudara ini tidak mengurangi sedikit pun kewaspadaan yang mereka miliki semenjak menginjakkan kaki mereka ke istana ini. Mereka tahu betapa berbahayanya tempat mereka berada sekarang, seluruh penghuni istana ini adalah youkai. Dan apa yang dikatakan Akihiko saat mengijinkan mereka tinggal di istana ini semakin meninggikan kewaspadaan mereka.


"Apa yang ingin anda bicarakan, Akihiko-sama?" tanya Mamoru tenang.


"Aku hanya ingin memperingati kalian akan satu hal," jawab Akihiko sambil menatap hanyou dan ketiga manusia di depannya. Sinar matanya yang penuh ketertarikan kini berubah menjadi serius, begitu juga dengan suaranya yang telah berubah menjadi berat penuh intimidasi. "Jangan berani kalian mengungkit akan 'Rin' di depan Shura. Aku tidak akan mentoleransinya. Aku akan membunuh kalian semua jika kalian berani melakukan itu."

__ADS_1


Ketakutan langsung menyelimuti Shiro dan yang lainnya. Mereka bisa merasakan betapa seriusnya Akihiko akan kata-katanya barusan. Namun, selain takut, mereka juga merasa sangat terkejut. Terkejut akan nama yang barusan disebutkan Penguasa Tanah selatan itu, sebab sudah berapa lama mereka tidak pernah mendengar nama itu disebutkan.


Rin.


Nama sederhana yang selalu mereka ingat. Gadis yang mereka kenal semasa kecil dan tidak dapat mereka lupakan, karena kecantikan, kebaikan, kepolosan, kehangatan, keteguhan, keberanian,kesetiaan, kebahagiaan, penderitaan dan juga keajaiban yang dimilikinya.


"A-apa maksudmu barusan?" tanya Shiro kebingungan.


"Shura tidak tahu akan siapa itu Rin sebenarnya."


"Apa!?" teriak Shiro, Mamoru, Aya dan Maya bersamaan, tidak mempercayai apa yang mereka dengar.


"Anjing itu tidak pernah memberitahu dan merahasiakan semuanya dari Shura."


Shiro dan yang lainnya tidak dapat mempercayai apa yang dikatakan Akihiko. Namun,mereka tidak dapat berbuat banyak, sebab, semenjak kejadian itu, semenjak gadis itu menghilang dari dunia ini, mereka tidak pernah lagi mendapatkan kabar sedikit pun mengenai Shura. Mereka tidak pernah tahu, bagaimana Shura dibesarkan dan apa saja yang diketahuinya dari Ayahnya, Sesshoumaru, sang Penguasa Tanah Barat.


....xOxOx....


"Tinggalkan kamarku." Perintah Shura dingin.


"Tinggalkan kamarmu? Enak saja! Lepaskan adikku dulu!" teriak Shiro membalas perintah Shura yang masih memeluk erat Sakura.


"Ah, aku tidak tahu, siapa yang akan memang pada akhirnya dari perebutan tiada henti ini." Ujar Mamoru pelan sambil menghela napas melihat sikap Shura dan Shiro yang menurutnya sangat kekanakan.


"Diam. Bantu kami menyiapkan futon." Perintah Aya kalem begitu juga dengan Maya, dia hanya mengangguk kepala sambil menyiapkan futon mereka dalam kamar Shura.


"Iya, iya. Aku mengerti Kak Aya, Kak Maya." Balas Mamoru sambil menghela napas lagi dan mulai membantu kedua kakaknya.


Shiro dan yang lainnya memutuskan untuk bermalam dalam kamar Shura. Mereka tahu, mereka tidak boleh terpisah dan berada dalam kamar yang berbeda saat melewati malam di istana ini, sebab apa saja mungkin terjadi pada mereka dalam sarang youkai ini. Namun, alasan sebenarnya kamar Shura lah yang mereka pilih adalah karena Shura yang masih belum mau melepaskan Sakura. Inuyoukai itu benar-benar sangat posesif terhadap hanyou kecil itu.


"Keluar dari kamarku." perintah Shura lagi sambil menaikkan nada suaranya. Kekesalan memenuhi dirinya. Dia tidak suka privasinya dilanggar, tidak mungkin dia membiarkan orang yang baru dikenalnya tidur dalam kamarnya.


"Baik! Tapi, lepaskan adikku dulu, anjing mesum!" balas Shiro lagi.


"Kak Shiro, Kak Shura, jangan bertengkar, ya?" pinta Sakura yang ada dalam pelukan Shura tiba-tiba. Kedua mata emas besarnya kini telah berkaca-kaca karena menahan air mata. Hanyou itu tidak mengerti kenapa kedua orang yang sangat disayanginya itu selalu saja bertengkar setiap kali bertemu.


"Sakura, jangan menangis! Iya, iya, Kakak tidak akan bertengkar lagi dengan Shura." Bujuk Shiro cepat saat melihat sepasang mata berkaca-kaca adiknya. Hal yang paling dia benci di dunia adalah air mata Sakura.


Sakura kemudian mengangkat wajah menatap Shura. Wajah inuyoukai tetap tidak berekspresi, namun tidak dengan mata merah darah yang telah kembali menjadi emas itu, ada ketidaksukaan di dalamnya sekarang, "Kak Shura, jangan bertengkar dengan Kak Shiro, ya? S-Sakura tidak suka kalian bertengkar.." ujar mulut munggil itu terisak-isak. Air mata mengalir dengan deras menuruni pipinya.


"Sakura! Jangan menangis! Jangan menangis! Kakak mohon, hentikan air matamu!" pinta Shiro penuh kepanikan.


Shura yang menatap air mata Sakura mengernyitkan kedua alis matanya. Dia tidak suka air mata di depannya sekarang. Dia lebih suka dengan tawa dan senyum di wajah cantik itu. Dengan pelan, Shura kemudian mengangkat tangan menghapus air mata itu dan mengangguk pelan kepalanya.


Senyum lebar langsung melintas di wajah Sakura melihat jawaban yang berhasil didapatkannya. Kedua mata besarnya langsung berbinar-binar. Kegembiraan terpancar dengan sangat jelas, dan itu semua membuat Shura merasa betapa cantik dan menggemaskannya hanyou kecil dalam pelukannya itu.


"Terima kasih, Kak Shura," tawa Sakura sambil menatap lurus Shura. "Dan, Kakak mengijinkan Sakura, Kak Shiro, Kak mamoru, Kak Aya dan Kak Maya tidur di kamar Kakak, kan? Kita tidur ramai-ramai, ya?"


Pertanyaan Sakura itu membuat Shiro dan ketiga bersaudara di sana menolehkan wajah menatap Shura. Sedangkan inuyoukai itu sendiri langsung tertegun. Dia ingin menolak permintaan itu, namun, melihat ekspresi penuh harap dan tawa di depannya, dia tidak berhasil menemukan suara untuk menolaknya. Dia tidak mau kekecewaan dan air mata memenuhi wajah itu lagi. Dengan pelan, Shura kemudian mengangguk kepalanya.


"Terima kasih, Kak Shura!" teriak Sakura gembira dan memeluk erat Shura, membenamkan kepalanya pada dada bidang inuyoukai tersebut. Begitu juga dengan Shura, dia semakin mempereratkan pelukannya.


"Sakura! Jangan memeluk anjing mesum itu! Lepaskan pelukanmu, anjing mesum!" teriak Shiro penuh kemarahan dan berusaha menarik lepas adiknya itu.


"Ternyata yang bisa menghadapi Shiro dan Shura sekarang memang hanyalah Sakura-chan seorang. Kekuatan kepolosan dan kenaifannya memang sangat hebat." Ujar Mamoru sambil mengangguk-angguk kepala. Kedua kakaknya tidak mengatakan apa pun, tapi, mereka juga mengangguk-angguk kepala menyetujuhi apa yang dikatakan adik mereka.


Setelah melewati beberapa pertengkaran dan perebutan akan Sakura. Mereka semua akhirnya memutuskan untuk tidur. Shura yang berbaring di sisi kanan Sakura memeluk erat hanyou kecil itu, sedangkan Shiro yang berada di sisi kiri menatap tajam inuyoukai itu. Lampu minyak dalam kamar itu memang telah dimatikan, namun bagi inuyoukai, hanyou dan juga ketiga taijiya yang ada di sana, kegelapan itu sama sekali tidak ada artinya. Mereka semua masih dapat melihat jelas sekeliling mereka tanpa masalah.


Sakura yang ada dalam pelukan Shura tiba-tiba membuka mata menatap Shiro yang ada di sampingnya, "Kak Shiro, Kakak bisa menyanyikan lagu pengantar tidur yang biasa Ibu nyanyikan untuk Sakura?" pintanya pelan.


Permintaan Sakura membuat Shiro tersenyum menyeringai menatap Shura yang tertutup matanya. Dia tahu, inuyoukai itu masih belum tidur. Permintaan Sakura sekarang tidak mungkin dapat dikabulkan Shura, sebab memang hanya dia seorang saja yang bisa menanyikan lagu pengantar tidur yang selalu ibu mereka nyanyikan. Tidak peduli bagaimana Shura berusaha mengklaim Sakura, Sakura adalah adiknya. Dia lebih mengenal baik Sakura ketimbang Shura. Tidak membuang waktunya lagi, Shiro langsung membuka mulutnya dan menyanyikan lagu pengantar tidur yang biasa dinyanyikan ibu mereka.

__ADS_1


Twinkle, twinkle little star,


how I wonder what you are?


Up above the sky so high,


like a diamond in the sky.


Lagu yang dinyanyikan Shiro membuat Shura langsung membuka matanya. Dia tidak mengerti apa lagu yang dinyanyikan hanyou itu, dan juga, tidak pernah dia mendengar bahasa asing yang sangat aneh itu. Namun, bukan itu yang menjadi masalah, yang menjadi masalah adalah suara Shiro-suara yang sumbang dan buta nada.


Are you sleeping? Are you Sleeping?


Brother John, Brother John


Morning bell is ring-ring, morning bell is ring-ring


Ding-dond-ding, din—


"Kakak!" panggil Sakura tiba-tiba menghentikan Shiro, "Terima kasih. Jangan bernyanyi lagi."


"Eh, kenapa?" tanya Shiro bingung.


"Tidak apa-apa, Kak Shiro. Terima kasih." Balas Sakura. Dia sesungguhnya merindukan ibunya. Dia berpikir jika mendengar lagu pengantar tidur itu, kerinduan dalam hatinya bisa sedikit terobati. Tapi, ternyata dia salah. Lagu yang dinyanyikan Shiro tidak bisa mengobati kerinduannya, yang bisa hanya membuat sakit telinganya.


Mamoru, Aya dan Maya yang ada di samping Shiro bernapas lega. Mereka tidak berani membayangkan bagaimana sakitnya kepala mereka nanti kalau Sakura tidak menghentikan Shiro. Hanyou itu memang tidak punya bakat dalam bernanyi.


Sakura kemudian menolehkan kepala menatap Shura. "Kak Shura, kau bisa menanyikan lagu pengantar tidur untukku?"


Mata Shiro terbelalak dan mulutnya ternga-nga. Dia tidak memepercayai apa yang dikatakan Sakura. Adiknya sekarang ternyata benar-benar lebih memilih inuyoukai itu dari pada dirinya. Sedangkan untuk Shura, dia tertegun.


"Kak Shura bisa menanyikan lagu yang selalu Kak Shura dengar sebelum tidur pada Sakura?" tanya Sakura lagi.


Lagu pengantar tidur.


Selama ini, tidak ada yang pernah menyanyikan lagu pengantar tidur padanya, tidak peduli itu para pengasuh, dayang maupun Akiko. Dalam ingatannya, tidak ada lagu pengantar tid-tidak! Ada! Ada sebuah lagu yang selalu didengarnya sebelum tidur dulu-dulu sekali. Lagu yang bahkan sampai kini kadang-kadang didengar dalam mimpinya yang sangat menyenangkan. Ya! Lagu itu memang agak aneh, namun, lagu itu tidak diragukan lagi adalah lagu pengantar tidurnya-lagu yang dinyanyikan oleh seorang gadis manusia untuknya.


Dengan pelan dan lembut, Shura kemudian membuka mulut menyanyikan lirik dari lagu yang selalu dinyanyikan gadis manusia yang begitu penting baginya, lagu yang dinyanyikan sambil memeluknya dengan penuh kasih sayang-lagu yang selalu dinanyikan Rin dengan suaranya yang merdu dan jernih bagaikan dentingan lonceng untuknya.


Nama no naka


Kaze no naka


Yume no naka


Sesshoumaru-sama doko ni iru


Jakken-sama wo shita naete


Watashi wa hitori de machimashou


Shura wa hitori de machimashou


Wareware wa hitori de machimashou


Sesshoumaru-sama omodori wo


Sakura sangat tertegun mendengar suara nanyian Shura. Suaranya begitu merdu dan nyaring. Sangat indah. Sedangkan Shiro, Mamoru, Aya dan Maya, mereka langsung bangkit dari futon dan menatap inuyoukai itu dengan mata terbelalak. Terkejut. Mereka sangat terkejut dengan lagu pengantar tidur yang dinyanyikan Shura, sebab tidak pernah mereka menyangkan akan mendengar lagu itu lagi.


Saat Shura menyelesaikan lagu yang dinyanyikannya, Sakura langsung bertepuk tangan, "Kak Shura! Hebat sekali! Indah sekali!" puji Sakura penuh kekaguamn.


Shura tidak membalas pujian Sakura, dia hanya menatap hanyou kecil itu dengan wajahnya yang miskin ekspresi. Namun, Shiro yang berada di samping mereka tiba-tiba membuka mulutnya dan melontarkan sebuah pertanyaan dengan terbata-bata. "D-dari mana kau belajar lagu itu?"

__ADS_1


Shura mengangkat wajahnya menatap Shiro. Dia bisa melihat keterkejutan di wajah hanyou itu dan juga tiga bersaudara taijiya yang berada tidak jauh dari mereka. Tidak mempedulikan ekspresi mereka, dia membuka mulutnya menjawab pertanyaan itu, "Dari mimpiku. Dari dalam kenangan masa laluku yang terlupakan."


....xOxOx....


__ADS_2