Till The End Of Time [ Inuyasha Fanfiction ]

Till The End Of Time [ Inuyasha Fanfiction ]
Chapter 42


__ADS_3

Tepuk tangan tiada henti membahana memenuhi seluruh taman. Semua yang ada bertepuk tangan sambil berdiri, meneriakkan pujian-pujian tiada henti akan tarian dan nyanyian yang mereka saksikan.


Rin menatap sekelilingnya, gembira dengan tanggapan yang didapatkannya. Dengan senyum yang masih ada, dia segera menatap wajah inuyoukai yang berada tepat di depannya, melihat wajah tanpa ekspresi itu dan mencari mata emas di mana dia tahu dirinya bisa melihat apa yang sebenarnya dipikirkan inuyoukai itu. Saat mata mereka bertemu, pada detik itu juga, gadis manusia itu tahu, inuyoukai itu menyukai hadiah yang dipersembahkannya. Sesshoumaru menyukai lagu dan tariannya. Menutup mata dia tertawa kecil—tertawa penuh kebahagiaan.


Sesshoumaru tidak bergerak sedikit pun saat menatap Rin yang tertawa di depannya. Tepuk tangan yang tiada henti ini, betapa dia bersyukur akan itu, sebab, dengan begitu, dia bisa menyembunyikannya—detak jantungnya yang sungguh cepat dan tidak dapat dihentikannya.


Bunga.


Bunga yang sangat indah, mekar di musim dingin, dalam salju yang turun dengan pelan dari langit. Dia sudah tahu, Rin itu indah, namun untuk hari ini, dia merasa kata indah tidak lagi cukup untuk menggambarkan gadis manusia itu dalam matanya. Tidak akan lagi dia temukan keindahan yang dapat mengalahkan keindahannya.


"Rin kecil sangat cantik, kan, Sesshoumaru?" tanya Inukimi yang sedang bertepuk tangan pelan menyadarkan Sesshoumaru dari apa yang dipikirannya. "Dalam hidupku yang panjang, tidak pernah aku melihat kecantikannya sepertinya. Manusia, youkai dan bahkan tennyou, kurasa, kencantikan mereka masih kalah dengannya."


Sesshoumaru menoleh wajah menatap Inukimi dalam diam. Namun, inuyoukai mantan penguasa tanah barat itu tidak menatap putranya sedikit pun.


"Mulai hari ini, berita kecantikkannya pasti akan menyebar ke seluruh penjuru Jepang. Rin, Hime-sama dari barat, Gadis tercantik, makhluk terindah di dunia, " lanjut Inukimi lagi sambil tersenyum penuh kebanggaan. "Kau akan menerima banyak pinangan untuknya besok, Sesshoumaru. Kuharap kau dapat memilih pasangan hidupnya dengan bijaksana nanti."


Sesshoumaru menggeram pelan. Ada kemarahan dan ketidaksukaan dirasakannya saat mendengar ucapan Inukimi. Pinangan? Memilih pasangan hidup untuk Rin? Tidak! Dia tidak akan mengijinkannya!


"Kau tidak akan dengan begitu egoisnya mengikat Rin kecil di sisimu, kan?" tanya Inukimi kemudian sambil tersenyum menyeringai. "Bertemu dengan para pria atau pemuda yang ada, dia pasti akan jatuh cinta. Betapa cantiknya dia saat benar-benar jatuh cinta, aku tidak akan dapat membayangkannya lagi."


Sesshoumaru mengepal tangannya dengan erat mendengar perkataan Inukimi. Mata emasnya berubah jadi merah darah. Mengikat? Dia tidak mengikat Rin.


Selamanya bersama.


Itu adalah permohonan gadis manusia itu dulu. Gadis itu tidak akan meninggalkannya. Lalu, cinta? Gadis itu tidak akan mungkin jatuh cinta pada siapa pun, sebab gadis itu mencintainya. Hanya dirinya! Dia ingat jelas pengakuan cinta gadis itu dulu—dirinyalah yang paling dicintai gadis itu dalam keberadaannya. Tidak ada orang lain lagi, hanya dia; Seshoumaru!


Inukimi tersenyum semakin lebar melihat reaksi Sesshoumaru. Menatap Rin yang masih ada di depan, dia benar-benar ingin tertawa keras. Putranya yang bodoh dan tidak peka. Pada gadis manusia yang begitu berharga baginya, sampai sekarang, dia tetap saja belum menyadari perasaannya yang sesungguhnya. Lalu, gadis manusia yang polos bagaikan seorang anak kecil, seorang gadis yang hanya tahu mencintai inuyoukai itu tanpa pernah mengharapkan balasan. Mereka berdua memang memerlukan dorongan.


"Tarian yang indah sekali, Rin-sama."


"Suara anda sungguh indah, Rin-sama."


"Anda sungguh mengagumkan Rin-sama."


Beberapa youkai yang ada segera berjalan ke arah Rin, mengerumuninya dengan senyum serta pujian-pujian tanpa henti. Rin yang sangat gembira hanya membalas pujian mereka semua dengan senyum indah. Tidak sedikit pun dia merasakan ataupun mengerti niat mereka yang ingin mendekatinya, dan itu membuat Sesshoumaru semakin tidak senang.


"Rin."


Suara Sesshoumaru yang memanggil gadis manusia itu berhasil membuat semua yang ada terdiam. Mereka bisa merasakan betapa dingin dan tidak senangnya inuyoukai itu. Menatap Sesshoumaru, semua yang ada langsung mematung, ketakutan memenuhi hati mereka. Inuyoukai itu marah, tidak tahu apa penyebabnya, inuyoukai Penguasa Tanah Barat itu sedang marah sekarang.


"Kemari."


Melangkah kaki dengan pelan, Rin mendekati Sesshoumaru. Kedua mata coklatnya menatap wajah inuyoukai itu takut-takut bercampur sedih. Dia tahu Sesshoumaru marah, tapi, kenapa?


Apakah dikarenakan dia tidak menyukai satu-satunya hadiah yang bisa diberikannya; nyanyian dan tariannya? Ya! Pasti itu! Dia telah salah berpikir, inuyoukai itu menyukai hadiahnya barusan. Gadis itu mengutuk dirinya sendiri, memangnya dia pikir siapa dirinya? Dia hanyalah seorang manusia, kenapa dia bisa sampai berpikir youkai Penguasa Tanah Barat itu akan menyukai nyanyian dan tariannya? Dia telah mencoreng nama barat! Kenapa seorang manusia seperti dirinya berani bernyanyi dan menari dihadapan para youkai?


"Duduk di sampingku." perintah Sesshoumaru lagi saat Rin tiba di depannya.


Mengangguk kepala dengan cepat, Rin dengan bergerak dan duduk di sisi kiri Sesshoumaru. Mati-matian dia menahan air mata yang serasa ingin jatuh. Dia sedih; dia telah gagal.


Menatap Rin yang duduk di samping kirinya dengan kepala menunduk ke bawah. Sesshoumaru juga bisa merasakan kesedihan gadis itu. Kenapa Rin sedih? Apakah karena dia menyuruhnya duduk disampingnya? Apakah karena gadis manusia itu ingin berada dalam kerumunan para youkai di depannya? Karena ada seseorang diantra mereka yang telah berhasil menarik perhatiannya? Tidak! Dia tidak akan membiarkannya!


Inukimi yang ada di sisi kanan Sesshoumaru bisa merasakan apa yang dirasakan Rin dan Sesshoumaru tidak mengatakan apa-apa. Namun, dia juga tidak dapat mempungkiri tawa yang serasa ingin meledak. Gadis yang polos sekali, terlalu polos hingga tidak pernah menyadari maksud dan tindakan dari inuyoukai itu. Lalu, inuyoukai yang bodoh sekali. Tidak pernahkah dia menyadari sikapnya kadang tanpa sengaja telah melukai perasaan gadis yang begitu berharga baginya?


Menatap para hadirin lagi, Sesshoumaru kemudian membuka mulut untuk melajutkan acara yang sempat terhenti. "Lanjutkan acaranya."


Perintah Sesshoumaru dengan seketika dijalankan. Para pemain musik dan penari kembali mempertunjukkan tarian mereka, begitu juga dengan makanan dan minuman yang disajikan. Suasana tegang tadi dengan cepat mencair, para hadirin yang ada dengan cepat pun berusaha melupakan kemarahan Penguasa Tanah Barat yang baru saja terjadi.


"Ayah," panggil Mamoru tiba-tiba. "Mamoru memutuskan, Mamoru akan menjadikan Rin-chan istri Mamoru saja nanti. Kau tidak akan keberatan, kan? Sebab menantumu kelak akan tetap lebih muda darimu?"


Pertanyaan polos Mamoru langsung membuat Inuyasaha serta semua yang ada di sana menatapnya. Inuyasha mencibir sambil membuang muka, Miroku tertawa gugup, sedangkan Kagome, Sango, Kohaku menggeleng kepala.


Kenji yang ada disana tidak bisa menahan tawanya. Tertawa keras, dia menepuk-nepuk kepala Mamoru. "Lupakan Rin-rin, ningen kecil." membalikkan wajah, youkai monyet itu menatap Kohaku. "Begitu juga denganmu. Kau tidak akan dapat mengapainya. Dan, aku juga tidak akan membiarkanmu mengapainya."


Kohaku tertegun mendengar ucapan Kenji. Kenapa Kenji tahu? Dia tidak begitu mudah dibacakan? Namun yang paling penting, apa maksud youkai monyet itu barusan?

__ADS_1


"Berengsek!?" teriak Inuyasha tiba-tiba penuh kemarahan. "Apa maksud ucapanmu barusan? Jadi, maksudmu, kau sendiri yang bisa mengapainya? Dasar Monyet tua mesum!"


Kenji menoleh wajah menatap Inuyasha. Kedua matanya terbelalak menatap hanyou itu seakan tidak percaya dengan apa yang didengar dan dilihatnya.


"Kau pikir aku akan membiarkanmu!? K—"


Ucapan Inuyasha terhenti karena tiba-tiba saja Kenji berdiri tepat di depannya dengan wajah yang hanya berjarak tiga senti meter. "Apa kau juga menyukai Rin-rin? Kau sudah punya istri dan anak, Inuyasha. Jangan kau kecewakan Taisho di alam sana dengan maksud mencari istri kedua."


Wajah Inuyasha memerah mendengar ucapan, karena malu dan juga marah. Menggepal tangan, dia segera mengarahkannya untuk meninju wajah Kenji. Namun, youkai monyet itu dengan mudah meloncat menghindar.


"Kurang ajar!" teriak Inuyasha marah. "Rin sudah bagaikan keluargaku?! Sudah kewajibanku melindunginya!"


Bagi Inuyasha sekarang, meski Rin adalah gadis di bawah perwalian Sesshoumaru yang dibencinya, Rin adalah bagian dari keluarganya. Dia ingat semua yang dilakukan gadis itu untuk dirinya, Kagome dan Shiro. Betapa gadis itu telah menolong dan memperhatikan mereka, dia akan selalu mengingatnya


Menatap Inuyasha sejenak, Kenji tiba-tiba mengangkat kepala ke atas dan tertawa terbahak-bahak. "Bagus! Bagus sekali!"


Kemarahan Inuyasha segera menghilang diganti kebingungan.


Menurunkan kepala, Kenji kembali menatap Inuyasha. "Aku terlalu tua untuk Rin-rin, Inuyasha. Aku selalu mengangapnya sebagai putriku." senyum Kenji.


"Jadi apa maksudmu barusan?" tanya Inuyasha bingung.


Menoleh kepala menatap Rin yang duduk berdampingan dengan Sesshoumaru, melihat mereka berdua bersama, senyum lembut melintas di wajahnya. "Bukan manusia, bukan juga hanyou, yang boleh mengapai Rin-rin hanyalah satu orang."


Inuyasha dan yang lainnya terdiam mendengar jawaban Kenji.


"Seseorang yang akan selalu menjaganya. Seseorang yang hanya dapat melembut dengan keberadaan gadis manusia. Seseorang yang sangat memerlukan Rin-rin. Hanya orang itu yang boleh. "


Kagome yang mengikuti pandangan Kenji, seketika juga tersenyum. Dia mengerti maksud youkai monyet itu. Menatap Kenji lagi, dia merasa, Kenji memang benar-benar menyanyangi Rin dan menginginkan yang terbaik baginya.


"Siapa itu!?" teriak Inuyasha tiba-tiba.


Kagome menatap Inuyasha sambil menghela napas sambil mengelus-ngelus rambut perak Shiro yang tertidur pulas di pangkuannya. Kenapa suaminya tidak sadar-sadar, padahal Kenji telah memberikan petunjuk yang begitu banyak? Menoleh kepala menatap yang lainnya, Kagome kembali menghela napas, selain Sango, dia bisa melihat kebingungan di wajah teman-temannya. Sepertinya laki-laki memang kurang peka dengan sesuatu yang berhubungan dengan perasaan. Tapi, dia memakluminya, apa yang dikatakan Kenji barusan mungkin bukanlah sesuatu yang dapat diterima mereka—tidak untuk sekarang.


"Kau—"


"Inuyasha, osuwari." Ujar Kagome pelan dan seketika juga membuat Inuyasha terjatuh ke bawah tanpa bergerak sedikit pun. Tetap mengelus kepala Shiro yang tidak terbangun dengan keributan yang ada, dia tersenyum seakan tidak terjadi apa-apa dan menoleh wajah menatap Kenji. "Aku setuju dengan anda, Kenji-sama. Kurasa apa yang kau katakan benar."


Sikap dan ucapan Kagome seketika juga kembali membuat Kenji tertawa terbahak-bahak. "Kau lulus, Miko. Kau memang pantas menjadi menantu Taisho. Kuyakin anjing itu pasti sedang tertawa terbahak-bahak di alam sana."


Sesshoumaru yang duduk tidak jauh dari Inuyasha dan yang lainnya bisa mendengar pembicaraan mereka dengan jelas, dan dia tidak menyukainya sedikit pun. Apa maksud Kenji? Mengapai Rin? Yang paling pantas untuk Rin? Membahagiakan Rin? Monyet tua itu benar-benar mencari mati jika berani mengatakan semua itu di depannya!


Sesshoumaru tidak menonton petunjukkan di depannya sedikit pun lagi, begitu juga dengan sebagian besar para hadirin. Inuyoukai itu bisa melihat dengan jelas, semua hadirin walau terlihat sedang menikmati pesta, sebenarnya mereka sedang mencuri-curi pandang pada gadis manusia di sampingnya. Tarian dan nyanyian Rin barusan pasti benar-benar telah merebut perhatian semua dalam pesta.


Menatap Rin yang masih menundukkan kepala ke bawah, Sesshoumaru bisa mecium dan merasakan kesedihan gadis di sampingnya. Dia tidak tahu apa yang membuat gadis itu sedih seperti itu. Namun, yang paling terpenting, dia tidak bisa membiarkannya.


"Rin," panggil Sesshoumaru pelan.


Mengangkat kepala menatap Sesshoumaru, Rin segera membalas panggilan inuyoukai itu dengan pelan. "Ya, Sesshoumaru-sama. Ada apa?"


Sesshoumaru kembali menoleh wajah menatap pertunjukkan di depan yang sedikit pun tidak menarik baginya. "Pesta ini adalah pesta yang kau susun. Nikmati."


Ucapan Sesshoumaru seketika juga membuat Rin tertegun. Kedua matanya terbelalak, namun sedetik kemudian dia tersenyum lembut dan mengangguk kepala. Walau mungkin dia telah membuat kesalahan, inuyoukai itu masih memperhatikannya. Ada kebahagiaan yang segera merekah memenuhi hatinya. "Iya. Rin mengerti Sesshoumaru-sama."


Tahu Rin telah kembali tersenyum, Sesshomaru tetap tidak mengatakan apa-apa. Namun, dia puas. Rin sudah kembali tersenyum. Itu saja yang paling penting.


Akiko yang duduk cukup jauh dari Sesshoumaru dan Rin menatap penuh kebencian gadis yang memang dibencinya. Hime-sama dari barat. Dirinya sudah mendengar banyak sekali berita akan kepintaran, keangungan, kehangatan dan kecantikannya—kecantikan yang dikatakan melampaui kecantikannya sebagai youkai tercantik di Jepang. Dan melihatnya untuk pertama kali dalam pesta ini, kebenciannya semakin membesar. Dia bisa melihat jelas semua perhatian para laki-laki dalam pesta terpusat pada gadis manusia itu dan dirinya seakan terlupakan. Namun, yang paling penting adalah, dia bisa melihat betapa Sesshoumaru, inuyoukai Penguasa Tanah Barat memperhatikan gadis itu.


Sesshoumaru. Akiko meginginkannya, dan Rin adalah salah satu ancaman yang harus disingkirkannya, untuk mencapai apa yang diinginkannya; menjadi kisaki ( ratu ) dari Barat.


Tobi, youkai harimau yang duduk tidak jauh dari Inuyasha tiba-tiba berjalan mendekati Sesshoumaru dan Rin. Dengan senyum di wajahnya, dia menatap lekat gadis manusia yang menjadi pusat perhatian semua yang ada. "Selamat malam, Rin-sama."


"Tobi-sama!" panggil Rin gembira.


"Pesta yang luar biasa sekali," puji Tobi dengan senyum yang masih ada di wajah. "Anda berhasil menyusun pesta yang tidak akan dilupakan semua yang hadir."

__ADS_1


Wajah Rin bersemu merah mendengar pujian itu, senyumnya hanya semakin melebar. "Anda terlalu memuji Rin, Tobi-sama."


"Aku tidak memuji, Rin-sama," balas Tobi lagi sambil mengeraskkan suaranya hingga terdengar oleh semua yang ada. Menoleh kebelakang, dia menatap para hadirin. "Yang kukatakan tidak salah, kan?"


Para hadirin mengangguk kepala dan menjawab pertanyaan Tobi dengan penuh senyum, hal itu membuat Rin yang mendengarnya semakin gembira. "Terima kasih, terima kasih, terima kasih semuanya."


Sesshoumaru tidak mengatakan apa-apa, dia diam membisu dan perasaan tidak senang kembali memenuhi hatinya. Mereka mencobanya lagi, mencoba untuk menarik perhatian Rin. Seharusnya dia tidak mengijinkan pesta ini diadakan, sebab dengan begitu, mereka yang ada di sini sekarang, para youkai, hanyou dan manusia tidak akan memiliki kesempatan melihat Rin-bertemu dan berusaha menarik perhatiannya.


"Rin-sama," panggil Tobi lagi. "Boleh hamba bertanya? Pesta yang megah ini adalah pesta ulang tahun Sesshoumaru-sama, bukan?"


Rin mengangguk kepala menjawab pertanyaan Tobi dan membuat senyum di wajah youkai harimau itu semakin melebar. "Kalau boleh hamba tahu, kapan ulang tahun anda, Rin-sama?"


Pertanyaan Tobi dengan seketika juga merebut perhatian semua yang ada, begitu juga dengan Sesshoumaru. Menatap Rin, para hadirin menunggu jawabannya, sedangkan inuyoukai Penguasa Tanah Barat tersebut hanya dapat berpikir dan berpikir; dia tidak tahu. Kapan ulang tahun Rin? Meski telah bersama selama ini, dia tidak pernah memikirkan atau menanyainya, demikian juga dengan Rin, gadis itu tidak pernah mengatakannya.


"Ulang tahun Rin..." gumam Rin pelan.


Gumaman Rin sangat pelan, walau semua yang di sana bisa mendengarnya jelas dengan indera pendengaran mereka yang tajam. Mereka semua menunggu dengar sabar, jawaban yang mereka inginkan. Tapi, Inukimi yang ada di samping Sesshoumaru tiba-tiba tertawa keras. "Pertanyaan yang bagus sekali, Tobi. Aku sendiri tidak pernah memikirkannya." menatap Rin, senyum lebar merekah di wajahnya. "Kapan ulang tahunmu, Rin kecil?"


Rin tertegun. Dia berusaha memikirkan kapan ulang tahunnya. Namun, tidak peduli bagaimana dia berusaha memikirkannya; dia tidak tahu. Kedua orang tua serta seluruh keluarganya telah meninggal dunia saat dia masih kecil, begitu juga dengan para penduduk desa tempat lahirnya dulu. Seluruh penduduk telah mati karena serangan youkai, karena itu, dia sendiri sebenarnya tidak tahu kapan ulang tahunnya.


"R-rin tidak tahu.." Jawab Rin pelan.


"Tidak tahu?" tanya Inukimi lagi.


Rin mengangguk kepala dan menunduk ke bawah. "Rin tidak bisa mengingatnya, dan juga tidak ada yang tahu. Orang tua kandung Rin sudah tiada sejak Rin masih kecil. Lalu, orang yang mengenal Rin juga... Mereka semua telah tiada..."


Jawaban Rin membuat keheningan memenuhi taman tersebut. Semua yang ada bisa merasakan dengan jelas kesedihan gadis manusia itu.


"Kelahiran adalah awal sebuah kehidupan, sesuatu yang harus kita syukuri," kata Inukimi tiba-tiba memecahkan keheningan dan membuat Rin menatapnya. "Hari kelahiran seseorang di dunia ini adalah sesuatu yang harus kita rayakan-hari dimana kita merayakan kehidupan," senyum Inukimi sambil menatap Rin. "Tidak apa-apa kalau kau tidak bisa mengingatnya, Rin kecil. Kapan kau lahir tidak penting, hari ulang tahunmu yang sebenarnya tidak penting. Sebab, yang kita rayakan adalah kehidupan, merayakan kehidupanmu. Kau akan mendapatkan hari ulang tahun malam ini, putriku.."


Mata Rin terbelalak mendengar perkataan Inukimi, begitu juga dengan semua yang ada, termasuk Sesshoumaru, walau dia tidak menunjukkannya. Tersenyum menyeringai, Inukimi kemudian menatap Sesshoumaru yang tetap tidak bergeming sedikit pun, "Sesshoumaru," panggilnya. "Kau adalah tuan dan sekaligus wali dari Rin kecil. Kaulah yang akan menentukan hari ulang tahunnya."


Tidak ada seorang pun yang dapat menyembunyikan perasaan terkejut mereka mendengar ucapan Inukimi yang diluar dugaan. Mata mereka dengan cepat menatap Sesshoumaru yang tetap duduk tenang.


"T-tidak Ibunda!" teriak Rin tiba-tiba penuh kepanikan. "Anda berlebihan. Ulang tahun Rin, hari kelahiran Rin, kehidupan Rin bukanlah sesuatu yang harus dirayakan! Sesshoumaru-sama tidak perlu melakukan itu!"


Sesshoumaru menoleh wajahnya yang datar menatap Rin yang penuh kepanikan. Bukan sesuatu yang harus dirayakan? Dirinya tidak perlu melakukan itu? Menentukan hari kelahiran gadis manusia di sampingnya? Tidak! Kelahiran gadis manusia di depannya, kehidupan Rin adalah sesuatu yang harus dirayakan, melebihi segalanya. Dan, Ibundanya benar, dirinyalah yang paling pantas menentukan hari kelahirannya, sebab dirinyalah yang menghidupkannya, menjaganya, melindunginya, membesarkannya dan yang penting; dirinyalah yang merupakan orang terdekat dan dicintainnya.


"Aku akan memikirkannya."


Jawaban singkat Sesshoumaru segera disambut semua yang ada penuh antusias. Mereka semua tertawa dan akan menunggu dengan sabar pengumuman dari inuyoukai itu akan tanggal ulang tahun gadis manusia itu. Memikirkan hadiah yang akan diberikan pada Hime-sama dari Barat pada hari istimewa tersebut. Mereka semua bermaksud untuk mendapatkan perhatiannya; mendapatkan cintanya.


Rin hanya menatap Sesshoumaru dengan mata terbelalak. Dia seakan tidak dapat mempercayai apa yang didengarnya. Sesshoumaru-sama mau menentukan hari ulang tahunnya? Mau merayakan hari kelahirannya? Merayakan kehidupan dirinya yang merupakan manusia? Dia tidak tahu harus berkata apa, terkejut dan tidak percaya, walau tidak dapat dipungkiri; bahagia.


Tidak dapat menahan perasaannya lagi, Rin menundukkan kepala ke bawah. Air mata kebahagiaan mengalir turun menuruni pipinya.


Dia peduli.


Sesshoumaru, inuyoukai Penguasa Tanah Barat mempedulikan dirinya, seorang Rin. Dirinya yang bukan siapa-siapa; dirinya yang hanya merupakan seorang manusia hina. Kebahagiaannya sekarang, betapa dia bahagia; Sesshoumaru-sama mempedulikannya.


"Aku tidak percaya dengan apa yang aku dengar," ujar Inuyasha dengan mata terbelalak. "Si berengsek itu mau menentukannya? Merayakannya? Hari ulang tahun Rin? Seorang manusia?"


"Inuyasha," potong Kagome tajam. "Tutup mulutmu sebelum aku men-osuwarimu." menatap suaminya, senyum merekah di wajahnya. "Aku mengerti maksud ucapanmu, tapi manusia itu adalah Rin-chan. Kau bisa memahaminya, kan?"


Pertanyaan Kagome membuat Inuyasha terdiam. Menoleh wajah menatap Sesshoumaru dan Rin, dia tidak bisa berkata apa-apa. Rin. Sejak dulu, dia tidak pernah mengerti—dan, ya! Dia mengakui, Kakak separuh darahnya yang begitu membenci manusia sangat mempedulikan gadis manusia itu. Sejak dulu, sejak Rin masih kecil, dirinya serta semuanya sudah melihatnya, keberadaan Rin bukanlah sesuatu yang tidak berharga di mata emas dingin itu.


"Cih," cibir Inuyasha dan membuang mukanya. "Aku tidak perlu memahami itu, Kagome."


Kagome kembali menatap Sesshoumaru dan Rin. Tersenyum kecil dia kemudian tertawa menatap suami serta teman-temannya yang masih terbengong dengan apa yang baru saja mereka lihat. "Ya! Kurasa kita harus memikirkan hadiah untuk ulang tahun Rin nantinya."


Inukimi tersenyum, tidak dipedulikan sedikit pun kebisingan yang ada. Ulang tahun Rin, putri angkatnya yang cantik. Menatap Sesshoumaru, dia tahu, putranya itu pasti akan menemukan hari yang tepat, mungkin pada musim semi, pada saat bunga telah bermekaran. Ya! Pada musim semi, karena gadis manusia itu memang musim semi abadi di Barat. Tertawa keras, mantan penguasa tanah barat pun memerintahkan pesta yang kembali terhenti ini dilanjutkan. "Malam masih panjang, sake masih ada, tarian belum selesai, pesta masih berlangsung. Mari kita lanjutkan pesta ini!"


Pesta yang terhenti pun kembali meriah, baik Rin mau pun Sesshoumaru tidak mengatakan apa pun lagi. Gadis manusia itu tetap menundukkan kepala ke bawah, sedangkan Sesshoumaru menatap pertunjukkan di depannya. Walau dia juga bisa merasakan sepasang mata biru dan merah yang terus saja menatap Rin; mata Akiko dan juga Tsubasa, Selir kesayangan Akihiko Sang Penguasa Tanah Selatan.


....xOxOx....

__ADS_1


__ADS_2