Till The End Of Time [ Inuyasha Fanfiction ]

Till The End Of Time [ Inuyasha Fanfiction ]
Chapter 148


__ADS_3

"Apa yang kau pikirkan, Rin?" tanya Sesshoumaru pelan. Dalam kamar tidur mereka yang sepi sekarang, mata emasnya menatap Rin yang berbaring di sampingnya bersama Shura.


Semua yang tadi berada di sini, dari Akihiko, Inukimi, Inuyasha, Kagome dan yang lainnya telah meninggalkan kamar. Meski terlihat agak ragu awalnya, tapi mereka tahu, Rin membutuhkan istirahat dan juga suasana yang tenang untuk berpikir.


Berbaring di atas futon dengan Shura yang tertidur damai di tengahnya dan Sesshoumaru, Rin kemudian menolehkan kepalanya pada inuyoukai tersebut. Tapi, dia tidak menjawab, dia hanya diam membisu menatap wajah tampan yang begitu berarti baginya.


Mengangkat tangan kanannya, Sesshoumaru mengelus pelan pipi kiri Rin pelan dan juga hati-hati. "Apakah kau sedang memikirkan jawaban yang akan kau berikan?"


"Ssshoumaru-sama," panggil Rin kemudian. Suaranya pelan dan tenang, bagaikan tidak terjadi apa-apa. "Jika anda ada diposisi Rin, apa jawaban anda?"


Ssshoumaru terdiam. Namun, sejenak kemudian dia menjawab. "Sesshoumaru ini tidak akan memilih mati. Tapi, Sesshoumaru ini juga tidak akan membagi dirimu dengan pria lain, Rin."


Jawaban Sesshoumaru membuat Rin tertegun, namun sejenak kemudian dia segera mengangguk kepala. Bertanya pada Sesshoumaru seperti itu, dia merasa dirinya sungguh bodoh. Inuyoukai di depannya adalah penguasa tanah barat yang begitu kuat, dia tidak mungkin mati begitu saja, dan juga, dia tidak mungkin berbagi wanita miliknya dengan orang lain—dia adalah puncak dari segala puncak.


"Dan kau, Rin?" tanya Sesshoumaru kemudian. Tangan kanannya yang berada di wajah Rin terus mengelus lembut pipi wanita manusia itu. "Apakah kau bisa berbagi Sesshoumaru ini dengan wanita lain?"


Pertanyaan Sesshoumaru kembali membuat Rin tertegun. Diam membisu dan menundukkan wajahnya, dia tidak pernah menyangka inuyoukai itu akan bertanya seperti itu padanya. Apakah dia bisa berbagi pria yang dia cintai segenap jiwa raganya dengan wanita lain?


Sesshoumaru adalah seorang bangsawan. Dalam darahnya mengalir darah biru yang paling mulia di dunia youkai—sorang penguasa; seorang raja. Apakah Rin pernah berpikir bahwa dia akan menjadi satu-satunya wanita sepanjang hidup inuyoukai itu yang panjang?—jawabannya; dia tidak pernah.


Baik dunia manusia maupun youkai, Rin sudah melihat, seorang pria yang berpengaruh dan berkuasa memiliki banyak wanita di sampingnya. Tidak peduli itu karena cinta ataupun politik, wanita yang menjadi istri dari pria seperti itu tidak pernah terlihat keberatan di depan umum. Mungkin di belakang mereka menangis, tapi di depan, mereka tetap tersenyum penuh kebanggaan selayaknya jati diri mereka sebagai bangsawan—berbagi suami mereka adalah sebuah kewajiban dari istri seorang penguasa.


Rin tahu, dia mengerti posisi Sesshoumaru yang merupakan suaminya, dan dia juga mengerti posisinya yang merupakan istrinya. Sejak awal, mereka sebenarnya tidak seimbang. Jika mengesampingkan kenyataan mereka yang merupakan youkai dan manusia, yang akan ditemukan hanya perbedaan seorang bangsawan dan rakyat jelata—seorang tuan dan seorang bawahan.


Rin tidak pernah mengerti kenapa Sesshoumaru memilihnya dari sekian banyak wanita di dunia. Dirinya yang tidak memiliki apa-apa selain; cintanya yang besar.


Ah—Rin tiba-tiba ingat, dulu saat dia mendengar berita bahwa Sesshoumaru yang akan menikah, dia sangat sedih dan patah hati. Namun, setelah itu, dia juga sadar. Keinginan terbesarnya adalah selalu bersama inuyoukai tersebut. Sebagai bawahan atau pelayan juga tidak apa-apa. Asal dia bisa selalu melihatnya, dia sudah cukup bahagia bisa selalu di sampingnya—meski ada wanita lain yang mengisi hati inuyoukai tersebut.


Apakah itu artinya dia tidak akan keberatan sedikitpun kalau Sesshoumaru memiliki wanita lain? Rin yang dulu pasti akan tanpa ragu dan tersenyum bahagia menjawab; iya. Tapi, Rin yang sekarang—dia tidak tahu.


Wajah Sesshoumaru yang begitu dicintainya tersenyum padanya. Mata emas yang biasa dingin itu menatapnya lembut, lalu untuk setiap sentuhan dan pelukannya yang hangat—Rin ingin tertawa. Ternyata dirinya benar sungguh bodoh dan juga; egois.


Pentingnya Sesshoumaru bagi dirinya, Rin tahu. Bukankah untuk inuyoukai itu dia telah menang berkali-kali melawan kematian?—cintanya untuk Sesshoumaru, di dunia ini pasti tidak akan ada seorangpun yang akan sanggup menandinginya.


Rin mengerti sekarang; dia tidak akan pernah sanggup. Mencintai Sesshoumaru dan menjadi istrinya—Rin tidak akan pernah sanggup berbagi pria yang dicintainya dengan wanita lain. Wanita mana yang sanggup berbagi prianya dengan wanita lain?—tidak akan pernah ada.


"Rin." Panggil Sesshoumaru lagi dengan pelan. Kedua mata emasnya masih setia menatap dengan lembut wanita manusia yang larut dalam pikirannya.


Sadar dari pikirannya, Rin segera mengangkat kepala menatap Sesshoumaru. Perlahan, seulas senyum kecil memenuhi wajahnya. "—Rin juga tidak bisa," ujarnya pelan. "Rin juga tidak bisa berbagi Sesshoumaru-sama dengan wanita lain."


Kali ini, giliran Sesshoumaru yang tertegun dengan ucapan Rin yang tiba-tiba. Kedua matanya terbelalak menatap wanita manusia di depannya.


"Rin ingin Sesshoumaru-sama hanya menjadi milik Rin seorang," lanjut Rin lagi. Ada kesedihan di wajahnya, tapi dia tetap tersenyum. Kedua mata coklatnya menatap lekat mata emas Sesshoumaru tanpa ragu. "Anda boleh mengatakan Rin kekanakan dan egois, Sesshoumaru-sama. Tapi, itulah jawaban Rin yang sesungguhnya; Rin terlalu mencintai anda hingga tidak ingin berbagi anda dengan siapapun."


Jantung Sesshoumaru berdetak cepat dengan jawaban Rin. Bangkit duduk, tanpa membangunkan Shura yang berada di antara mereka, dia menggerakkan kedua tangannya mengangkat dan memeluk badan mungil kisakinya erat. Menutup mata, dia tidak mengatakan apa-apa, tapi seulas senyum memenuhi wajah tampannya.


Jawaban Rin—betapa bahagia Sesshoumaru mendengarnya. Rin yang tidak pernah egois dan selalu mengutamakan dirinya, kini dengan tanpa ragu mengungkapkan isi hatinya—tidak ingin membagi dirinya dengan siapapun.


"Sesshoumaru ini senang dengan jawabanmu, Rin." Ujar Sesshoumaru kemudian. Mengeratkan pelukannya, dia kemudian mencium puncak kepala Rin lembut.


Keegoisan Rin yang tidak ingin membagi dirinya, bagaimana mungkin Sesshoumaru membencinya?—Rin yang seperti itu, dia sangat-sangat menyukainya. Cinta Rin yang menginginkan dirinya seluruhnya, penguasa tanah barat sangat bahagia.


Rin yang berada dalam pelukan Sesshoumaru tertegun dan sekaligus terkejut dengan apa yang dikatakan inuyoukai tersebut. "Sesshoumaru-sama, apakah anda tidak keberatan jika Rin tidak bersedia turun dari posisi sebagai Kisaki?"


Membuka matanya, tanpa melepaskan pelukannya, Sesshoumaru menggerakkan tangan kanannya mengelus kepala Rin pelan. "Apakah kau ingin menjadi seorang kisaki, Rin?"


Rin kembali tediam dengan pertanyaan Sesshoumaru. Sedetik kemudian, dia menggeleng kepala pelan. Dalam keadaan seperti ini, dia sungguh berharap tangannya bisa bergerak untuk memeluk sang penguasa tanah barat.


Kisaki tanah barat.


Sesngguhnya sampai sekarang, meski telah duduk di posisi yang dikatakan semua orang sebagai posisi paling terhormat bagi seorang wanita di dunia, Rin tidak pernah berpikir lebih akan posisinya. Posisi itu adalah posisi yang diberikan Sesshoumaru padanya, dan dia menjalankannya sesempurna mungkin karena dia tahu  dengan begitu dirinya dapat membantu tanah barat serta Sesshoumaru.


"Dibandingkan kisaki, Rin lebih ingin selamanya bersama Sesshoumaru-sama dan Shura."


Sesshoumaru tidak dapat menyembunyikan tawa kecilnya saat mendengar jawaban Rin. Istrinya yang begitu polos memang tidak pernah berubah. Di dunia ini, ada berapa banyak wanita yang mati-matian dan akan melakukan apa saja untuk mendapatkan posisi itu?—tapi, bagi Rin sendiri, dibandingkan puncak kehormatan dan kekuasaan di dunia ini, dia lebih memilih dirinya dan putra mereka.


Cinta Rin yang seperti itu, Sesshoumaru hanya dapat kembali berpikir, betapa dia adalah pria paling beruntung di dunia ini. Wanita manusia yang mencintainya melebihi segalanya—bagaimana mungkin dia akan menemukan cinta seperti ini lagi?


Rin yang mendengar tawa kecil Sesshoumaru kemudian menutup mata dan sedikit bingung, sebab dia tidak tahu apa yang lucu dari jawabannya barusan. Namun, membuang itu, dia hanya dapat kembali berpikir; turun atau tidak—dia sebenarnya tidak bisa menemukan jawaban.


"Sesshoumaru-sama," panggil Rin lagi. Membuka mata, pandangannya kemudian jatuh pada sosok Shura yang tertidur nyenyak sambil tersenyum di samping mereka. "Rin tidak bisa menemukan jawaban. Menurut anda, Rin harus menjawab apa?"

__ADS_1


Jawaban ada padanya, keputusan ada padanya, baik Kagome, Sango serta Inukimi mengatakan begitu, dan Rin tahu itu—itu benar. Dialah yang harus membuat keputusan supaya kelak tidak ada penyesalan. Tapi, itu semua tidaklah mudah.


Sesshoumaru tidak menjawab pertanyaan Rin. Tangan kanannya hanya terus bergerak membelai kepala wanita dalam pelukannya dengan pelan dan lembut.


"Rin tidak bisa berbagi Sesshoumaru-sama, tapi Rin juga tidak bisa mati," lanjut Rin lagi dengan suaranya yang pelan. "Tidak ada yang benar dan tidak ada yang salah. Apa yang harus Rin lakukan, Sesshoumaru-sama?"


"Rin," panggil Sesshoumaru kemudian. Menjauhkan badan mungil yang dipeluknya, dia menatap lurus wajah Rin yang balik menatapnya. "Apakah kau percaya pada Sesshoumaru ini?"


Pertanyaan Sesshoumaru membuat Rin kebingungan. Namun, sedetik kemudian dia tertawa dengan bola mata coklatnya yang berbinar indah. "Rin selalu percaya pada anda, Sesshoumaru-sama."


Tawa Rin membuat Sesshoumaru tersenyum kecil. Rin yang selalu mempercayainya. Tidak peduli apapun yang terjadi, walau nyawa dan kebahagian adalah taruhannya, gadis kecil yang dihidupkannya dan tumbuh besar menjadi wanita yang dicintainya selalu mempercayainya—kepercayaannya yang tidak ternilai.


Menggerakkan kedua tangannya, Sesshoumaru kembali memeluk Rin. "Pilihlah turun—pilihlah hidup bersama Sesshoumaru ini dan Shura, putra kita."


Dalam pelukan Sesshoumaru, Rin mengangguk kepala dan menutup mata.


"Serahkan semuanya pada Sesshoumaru ini." lanjut Sesshoumaru dan memeluk semakin erat Rin. "Sesshoumaru ini tidak akan pernah mengabaikanmu. Kaulah satu-satunya wanita dalam hidup Sesshoumaru ini."


Rin mengangguk kepala lagi. Membenamkan wajahnya pada dada Sesshoumaru, air mata mengalir turun dari matanya yang tertutup. "Iya. Rin percaya pada anda, Sesshoumaru."


Jawaban pertanyaan yang ada, turun atau tidak? Dan seperti apa masa depan kelak?—Rin tidak tahu. Tapi, jika dirinya memang harus menjawab pertanyaan itu dan menebak masa depan, maka dia cukup menjadi dirinya, kan? Menjadi dirinya yang sebenarnya seperti saat dia kecil dan menunggu inuyoukai itu dalam padang bunga. Menjadi dirinya yang selalu tahu bahwa inuyoukai itu pasti akan dapat menyelamatkannya dari apapun di dunia. Ya—jawaban yang diinginkan, Rin sudah menemukannya, yakni; percaya pada Sesshoumaru.


Jawaban Rin. Sesshoumaru menutup mata dan tersenyum. Ya! Percayalah padanya. Dalam kebersamaan mereka yang akan abadi, dia tidak akan pernah membiarkan siapapun masuk dalam ikatan mereka yang terjalin. Rinnya, ibu dari putranya, wanita yang dia cintai—dialah satu-satunya kisaki Sesshoumaru yang abadi.


....xOxOx....


"Akihiko-sama." Memanggil Akihiko yang berdiri sendirian di dalam taman istana tanah barat, Tsubasa tidak bergerak. Menatap punggung tegap itu, tanpa diberitahu dia tahu apa yang ada dalam pikiran youkai serigala penguasa tanah selatan tersebut.


"Tsubasa," panggil Akihiko kemudian. Suaranya datar dan tenang seperti biasanya. "Sampaikan perintahku pada seluruh klan di bawah tanah selatan—cari fushi no kusuri."


"Hamba mengerti." Balas Tsubasa sambil membungkukkan badan memberi hormat. Dari awal hingga akhir, Akihiko benar tidak pernah berubah. Dalam sepasang mata biru langitnya, dalam hatinya, selamanya hanya ada wanita manusia itu; kisaki tanah barat.


Mencari fushi no kusuri.


Tsubasa sungguh ingin tertawa. Apakah Akihiko ingin mencari fushi no kusuri dan mempersembahkannya pada wanita manusia itu dengan harapan wanita manusia itu tidak perlu menjawab permintaan Akiko? Supaya wanita manusia itu bisa tetap hidup dan berbahagia bersama Sesshoumaru?—sungguh luar biasa besarnya cinta penguasa tanah selatan untuk kisaki tanah barat.


Sakitkah hatinya sekarang?—Tsubasa merasa sakit. Tapi yang paling penting selain sakit, dia merasa—capek. Ketulusan Akihiko untuk wanita manusia itu—dirinya sudah melihatnya semua, dan dia juga tidak ingin melihat lagi.


Apakah kesalahan terbesar dalam hidupnya?—Tsubasa selalu berpikir, bahwa itu adalah dia menculik wanita manusia itu dan membawanya ke hadapan Akihiko. Tapi, hari ini akhirnya dia sadar, ternyata bukan. Kesalahan terbesarnya adalah mencintai pria yang tidak pernah mencintainya.


....xOxOx....


Pintu kamar shoji terbuka, dan Inukimi berjalan masuk. Inuyoukai itu tidak mengatakan apa-apa, kedua mata emasnya hanya menatap lekat sosok Sesshoumaru yang tenang di depannya.


"Sesshoumaru!!" Dari belakang Inukimi, Inuyasha tiba-tiba berlari masuk. Menatap Sesshoumaru, ekspresi wajahnya tidak terjelaskan. Ada banyak pertanyaan dalam pikirannya, tapi dia tidak tahu bagaimana cara untuk mengungkapnya.


Diam membisu beberapa saat, menelan ludah Dan menguatkan hatinya, Inuyasha kemudian mengeluarkan suaranya untuk bertanya. "Sesshoumaru, apakah Rin akan turun?"


Pertanyaan Inuyasha tidak dijawab Sesshoumaru. Masih berdiam diri menatap Inukimi dan Inuyasha, dia juga bisa melihat Kagome, Miroku dan Sango yang berdiri di luar pintu yang terbuka.


"Rin," lanjut Inuyasha lagi dengan pelan dan hati-hati. Dia tidak tahu apa pertanyaannya akan benar atau salah, tapi dia bukanpah orang yang bisa bersabar menunggu jawaban. "Dia akan memilih hidup, kan?"


"Rin sudah memiliki jawabannya," jawab Sesshoumaru kemudian. Suaranya tetap tenang seperti biasanya, begitu juga dengan ekspresi wajahnya. "Dia akan turun. Tapi—dia baru akan menjawabnya secara resmi tiga hari ke depan."


"Eh??" jawaban Sesshoumaru dengan segera membuat semua yang mendengar kebingungan, tidak terkecuali Inukimi. Kondisi Rin, mereka semua tahu, jika Rin sudah memiliki jawaban, kenapa dia tidak langsung menjawab, tapi masih mengundur waktu?


"Kenapa?" tanya Kagome bingung.


"Karena Sesshoumaru yang memintanya seperti itu." Jawab Sesshoumaru lagi.


Jawaban Ssshoumaru kembali membuat semua yang mendengar tertegun tidak percaya. Melebihi siapapun, Sesshoumaru adalah orang yang paling tidak ingin Rin menderita. Karena itu, mereka tidak mengerti kenapa inuyoukai itu kini bisa meminta Rin bertahan tiga hari dan menderita lagi.


"Ibunda," panggil Sesshoumaru tidak peduli dengan reaksi semua orang. Pandangan matanya kemudian jatuh pada sosok Inukimi yang diam membisu menatapnya. "Dari generasi Sesshoumaru ini, selain Inuyasha—siapa yang memiliki darah inuyoukai klan penguasa tanah barat paling murni?


Pertanyaan yang ada kembali membuat Inukimi kebingungan, begitu juga dengan Inuyasha dan yang lainnya. Mereka benar tidak mengerti arah pertanyaan yang Sesshoumaru sekarang.


"Jika Sesshoumaru ini turun dari tahtanya sebagai penguasa tanah barat, dari generasi Sesshoumaru ini, siapa yang paling pantas menjadi penguasa tanah barat?"


Pertanyaan berikutnya Sesshoumaru tidak mebuat Inuyasha, Inukimi dan yang lainnya bingung lagi, melainkan; terkejut. Mata mereka semua terbelalak tidak percaya mendengar pertanyaan yang terlontar.


"Akiko menginginkan posisi kisaki tanah barat, dan Rin akan memberikannya," lanjut Sesshoumaru. Tidak ada perubahan sedikitpun di ekspresi wajahnya seakan apa yang dikatakannya tidak ada artinya. "Tapi, saat itu terjadi—Sesshoumaru ini juga tidak lagi menjadi penguasa tanah barat."

__ADS_1


Kalimat demi kalimat Sesshoumaru membuat Inukimi, Inuyasha dan yang lainnya tidak tahu bereaksi seperti apa. Ucapan inuyoukai itu terlalu mengejutkan dan tidak dapat dipercaya.


Penguasa tanah barat.


Penguasa tanah barat di dunia youkai adalah puncak dari segala puncak. Posisi yang memiliki segalanya, dari tahta, kekuasaan dan kehormatan. Posisi yang begitu didambakan banyak orang namun tidak bisa didapatkan itu—Sesshoumaru ingin membuangnya?


"Sesshoumaru, kau..." gumam Inukimi tidak percaya. Ucapan Sesshoumaru mengejutkannya, apakah itu benar? Putranya memang tidak dapat ditebak dan gila. Tapi—dia menyukainya.


"Hahahahahahahahaha," tertawa keras penuh kegembiraan, Inukimi mengangkat kepalanya ke atas. Dia terus tertawa tidak peduli pandangan kebingungan Inuyasha, Kagome, Miroku dan Sango yang terarah padanya. Menurunkan kepala, dengan senyum menyeringai, dia membalas tatapan Sesshoumaru. "Kegilaanmu ini, ibunda menyukainya."


Akiko ingin menjadi kisaki tanah barat, karena dia tahu dengan menjadi kisaki sang penguasa tanah barat, dia akan memiliki kekuatan dan kekuasaan yang tidak terbatas. Tapi, bagaimana jika ternyata sang penguasa tanah barat bukanlah lagi Sesshoumaru?


Tanah barat adalah puncak di dunia youkai. Tapi, kenyataannya sekarang, tanah barat bisa disegani semua orang bukanlah karena daerahnya yang luas ataupun klannya yang banyak. Tanah barat menjadi puncak adalah karena—Sesshoumaru adalah penguasanya.


Rubah licik itu ingin masuk dan berkuasa di tanah barat, bukan? Ya! Mereka akan memberikannya. Tapi, apa tanah barat itu tanpa Sesshoumaru?


Kekuatan Sesshoumaru dan darah biru sempurna youkai yang mengalir, pembawaan, cara pikir serta seluruh youkai yang bersumpah darah setia padanya—Sesshoumarulah tanah barat yang sesungguhnya.


Inukimi tidak sabar. Untuk rubah tua dan rubah kecil itu, serta untuk tanah timur—dia ingin melihat bagaimana mereka menjadi lelucon di dunia ini. "Serahkan pada ibunda," lanjutnya lagi dengan senyum dan mata yang berbinar gembira. "Ibunda pasti akan menemukan penggantimu yang sempurna."


"Kakak, kau serius?" tanya Kagome kemudian dengan pelan. Matanya menatap lurus Sesshoumaru tanpa kedip. Di dunia ini ada banyak pria yang bersedia meninggalkan wanita yang dicintainya hanya untuk berada di puncak kekuasaan. Tapi, ada berapa banyak pria yang bersedia turun dari puncak kekuasaan hanya untuk seorang wanita yang dicintainya?


Sango tidak mengatakan apa-apa, tapi matanya juga terarah pada Sesshoumaru menunggu jawaban. Pikirannya sama dengan Kagome, dia benar takjud dengan inuyoukai di depannya sekarang.


Sesshoumaru hanya membalas pertanyaan Kagome dengan sebuah anggukan kepala pelan.


Seketika, seulas senyum dan tawa memenuhi wajah Kagome dan Sango. Mereka berdua tertawa senang. Sungguh, Rin dan Sesshoumaru—ikatan mereka yang terikat serta cinta mereka yang ada; betapa luar biasanya itu.


Youkai dan manusia.


Semua orang mengatakan mereka tidak seharusnya bersama, dan kebersamaan mereka adalah salah. Tapi, jika melihat pengorbanan Rin untuk Sesshoumaru serta pengorbanan Sesshoumaru untuk Rin—apakah ada yang masih dapat mngatakan cinta mereka salah? Cinta mereka, Kagome dan Sango tahu, selamanya akan menjadi cinta terindah dan tertulus di dunia.


"Bagus sekali kalau kau berpikir seperti itu, Sesshoumaru!!" Inuyasha yang dari tadi diam membisu tiba-tiba juga ikut tertawa. Menatap Sesshoumaru, mata emasnya berbinar gembira. "Aku juga suka rencanamu ini!!"


Semenjak Akiko muncul dengan permintaannya yang tidak masuk akal, Inuyasha marah dan tidak dapat berpikir. Mereka semua ingin Rin hidup, tapi konsekuensinya juga sangat mengerikan, yakni—kebahagiaan Rin.


Inuyasha tahu, jika disuruh memilih, Sesshoumaru pasti akan memilih Rin hidup, walau artinya Akiko akan menjadi kisaki tanah barat. Tapi, inuhanyou itu menghawatirkan kebahagiaan Rin untuk seterusnya. Rin dan Sesshoumaru adalah keluarganya, dia benar tidak ingin melihat kebahagiaan mereka rusak karena ulah seorang wanita yang tidak tahu malu itu.


Solusi terbaik. Inuyasha telah berpikir dan terus berpikir. Apakah dia membunuh Akiko saja setelah mendapatkan informasi akan fushi no kusuri? atau apakah dia seharusnya mengajari Sesshoumaru menggunakan kekerasan dan memaksa Akiko mengungkap keberadaan fushi no kusuri?—mungkin perang akan pecah. Tapi, itu bukan masalah, kan? Tanah timur mana berani mengangkat pedang melawan tanah barat.


Namun, kini Sesshoumaru mengemukakan sebuah solusi. Solusi yang tidak terpikir olehnya dan juga siapapun. Rin akan tetap hidup dan kebahagiaan mereka akan tetap terjaga—tidak akan ada solusi yang lebih baik lagi dari pada ini, kan?! Inuyasha mengakui sekarang, ternyata Sesshoumaru memang lebih pintar darinya.


"Jika kau, Rin serta si kecil itu tidak memiliki tempat tinggal setelah meninggalkan istana, kau boleh menumpang di rumahku," lanjut Inuyasha sambil memukul dadanya penuh kepercaya dirian. "Rumahku tidak besar, tapi masih bisa menampung kalian bertiga. Oh—kau mungkin boleh membangun rumah di samping rumahku, Sesshoumaru, tanahnya masih kosong."


Ucapan Inuyasha membuat pandangan semua yang ada kini terarah pada inuhanyou itu tidak percaya. Namun, yang bersangkutan sama sekali tidak menyadarinya, dia berjalan mendekati Sesshoumaru dengan senyum lebar di wajah tampannya.


"Kau bisa tenang jika tinggal di sana. Jika kau tidak ada, masih ada Kagome atau Sango yang menemani Rin. Si kecil itu juga akan memiliki banyak teman—Ah, jika untuk masalah pendapatan dan keuangan, kau tenang saja. Kau juga bisa ikut bersama denganku dan Miroku melakukan perkerjaan sampingan memusnahkan youkai jahat. Kuberitahu, jasa memusnahkan youkai cukup banyak dicari."


Ucapan Inuyasha yang makin lama makin tidak jelas membuat Kagome, Miroku dan Sango tidak tahu harus mengatakan apa. Namun untuk Inukimi, dia tertawa bahagia bagaikan mendengar lelucon.


"Inuyasha," panggil Miroku kemudian sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal dan tertawa gugup. "Untuk itu, kita harus bermusyawarah dulu."


Jika kelak Sesshoumaru benar mengikuti mereka membasmi youkai, mana mungkin mereka akan menemukan youkai lagi? Namanya saja sudah cukup membuat para youkai bertekuk lutut meminta ampun—dan yang paling penting, apakah ada manusia yang berani menyewa jasa mereka lagi ke depannya?


"Musyawarah apa lagi Miroku?" balas Inuyasha keras. Menatap Miroku, dia menatapnya kesal. "Kita keluarga—kita harus saling membantu. Kenapa kau masih berkata seperti itu?? Dengan bantuan Sesshoumaru, tugas kita pasti akan cepat selesai. Bukankah kau seharusnya gembira karena akan dapat pulang cepat??!"


Pertanyaan dan ucapan Inuyasha benar-benar membuat Miroku bertanya-tanya dalam hati, apakah yang ada di depan itu benar Inuyasha? atau itu adalah Shippo yang sedang menyamar?


"Hahahahahaha," Inukimi yang tertawa keras tidak tertahankan mendengar ucapan Inuyasha bertepuk tangan gembira. "Bagus! Bagus! Benar ide yang bagus, Putra Taisho. Bawalah putraku itu bersama kalian kelak, dan juga Jika aku ada waktu, bawa aku juga sekalian. Oh, kita mungkin juga boleh bawa Kiri, Kira dan monyet tua itu sekalian!"


"Tentu saja," balas Inuyasha gembira. Dia mengangguk kepala membayangkan para youkai tanah barat yang akan bergabung dengannya kelak. "Semakin ramai semakin cepat tugas kita akan selesai."


Miroku tidak mengatakan apa-apa lagi. Diam membisu dia tidak bisa membayangkan lagi apa yang akan terjadi jika trio 'Sesshoumaru-Inuyasha-Inukimi' benar bereaksi nanti, dan jika benar menambah Kiri, Kira dan Kenji—mereka tidak bermaksud menaklukkan dunia, kan??


Kagome dan Sango juga tidak bisa mengatakan apa-apa atau lebih tepatnya tidak tahu harus memberikam reaksi apa. Ucapan Inuyasha, apa inuhanyou itu sudah gila???


Sesshoumaru menatap Inuyasha dan yang lainnya tetap dalam diam. Tapi, dia bisa membayangkan. Ajakan Inuyasha tinggal di dunia manusia tidaklah buruk di telinganya. Menutup mata, dia bisa melihat senyum di wajah Rin dan Shura bersama keluarga mereka. Tidak terikat apa-apa, setiap hari akan terus tertawa dan tersenyum—hidup seperti itu akan sangat menyenangkan, bukan?


Mebuka mata, tidak peduli dengan reaksi mereka yang ada di depan, Sesshoumaru kembali mengeluarkan suaranya. "Rin masih tidak tahu apa-apa. Jangan memberitahunya tentang keputusan Sesshoumaru ini."


Ucapan sesshoumaru seketika membuat semua yang ada menatap inuyoukai itu. Namun, sejenak kemudian mereka mengangguk kepala. Mereka semua tahu, Rin pasti tidak akan pernah setuju jika Sesshoumaru bersedia membuang segalanya hanya untuk dirinya.

__ADS_1


"Sesshoumaru ini yang akan memberitahu Rin saat waktunya tiba."


....xOxOx....


__ADS_2