![Till The End Of Time [ Inuyasha Fanfiction ]](https://asset.asean.biz.id/till-the-end-of-time---inuyasha-fanfiction--.webp)
Gadis kecil berusia sepuluh tahun itu berlari sambil meloncat-loncat. Kaki seputih saljunya yang tidak beralas menginjak rumput hijau dengan pelan. Rambut hitam panjangnya terbang dibawa angin dan juga gerakan tubuhnya yang ramping, matanya coklatnya yang besar berbinar-binar karena kegembiraan, lalu mulut munggilnya terus saja menyandungkan irama sebuah lagu yang selalu dinyanyinya.
"Rin, kau mau ke mana?" tanya suara seoarang wanita tua tiba-tiba.
Gadis kecil itu menolehkan kepala menatap sumber suara. Saat dia melihat seorang miko tua dengan mata kanan yang tertutup penutup mata hitam tidak jauh darinya, sebuah senyum kecil merekah di wajahnya yang cantik. Usia wanita tua sudah hampir mencapai pertengahan enam puluh, tapi, kesehatannya mungkin tidak kalah dengan orang muda.
"Rin, mau ke hutan, Nenek Kaeda," Balas Rin cepat. "Rin mau memetik bunga."
"Begitu, ya," Kaeda mengangguk kepala, "Ingat pulang sebelum malam, ya? Dan jangan sembarangan memakan apa pun yang kau temukan."
"Iya. Rin mengerti. Terima kasih, Nenek Kaeda." Tidak membuang waktunya lagi, Rin lagsung membalikkan badannya dan berlari menjauh.
Kaeda hanya diam menatap sosok tubuh kecil yang semakin menjauh itu dan menghela napas panjang. Sudah setengah tahun Rin hidup bersamanya di desa ini, dan dalam setengah tahun itu, dia sudah tahun jelas bagaimana sifat dan sikap gadis tersebut. Rin adalah gadis yang manis, baik hati dan penurut. Namun, tidak tahu mengapa, dia selalu kesulitan bergaul dengan anak desa lainnya. Dia tidak pernah terlihat bermain dengan anak seusianya di desa, dia lebih memilih bermain sendiri seperti memetik bunga liar di hutan. Terhadap para orang dewasa pun begitu, dia selalu terlihat ketakutan saat berhadapan dengan mereka. Hanya di dekatnya, Inuyasha, Kagome, Miroku, Sango dan putra-putri mereka saja lah, gadis kecil itu terlihat bisa nyaman dan bebas dari rasa takut.
Di desa ini, sosok Rin sebenarnya sangat mencolok. Kebanyakan anak-anak dalam desa mengenakan kosode yang terbuat dari kain katun yang kasar, sebagian kecil menganakan kimono dari kain katun dengan mutu yang lebih baik. Hanya gadis kecil itu seorang sajalah yang selalu mengenakan kimono dari sutra yang lembut dan indah untuk seorang putri.
Putri.
Kaeda hanya bisa kembali menghela napas saat kata itu terlintas dalam kepalanya. Putri. Di mata semua orang, Rin mungkin memang terlihat bagaikan seorang putri—putri dari seorang youkai. Dan bukan youkai biasa, youkai itu adalah inuyoukai pewaris tanah barat, Sesshoumaru.
Sebenarnya tidak ada seorang pun yang tahu mengapa Sesshoumaru yang terkenal begitu membenci manusia bisa mentoleransi keberadaan gadis kecil itu. Dari apa yang didengarnya, Kaeda tahu, Rin yang diterlantarkan penduduk desa tempat tinggalnya dulu tidak sengaja menemukan Sesshoumaru yang terluka setelah pertarungan dengan Inuyasha. Saat youkai serigala menyerang desa tersebut, gadis kecil tersebut mati. Lalu, dengan pedang Tessaiga miliknya, Sesshoumaru menghidupkan gadis itu kembali dan mengijinkannya mengikuti ke mana saja inuyoukai itu pergi.
Saat pertama kali melihat Rin bersama dengan Sesshoumaru, Kaeda merasa dia harus melakukan sesuatu. Hidup gadis kecil itu tidak akan tenang. Bahaya selalu mengintai, ada banyak sekali youkai yang berkeingingan mengalahkan Sesshoumaru. Rin pasti akan digunakan sebagai umpan atau sandera, sebab inuyoukai itu meski selalu dingin dan nampak tidak peduli, sesungguhnya sangat mempedulikan gadis manusia tersebut. Sesshoumaru juga pasti tahu akan itu, karena itulah, inuyoukai itu setuju saat dirinya meminta agar Rin untuk hidup bersamanya.
Rin menolak. gadis itu terus menangis dan memohon untuk tidak ditinggalkan saat kaeda menyampaiakan dirinya akan tinggal bersamanya. Namun, saat Sesshoumaru membuka mulut dan memerintahkan gadis itu untuk tinggal, Rin tidak berkata apa-apa lagi. Walau terlihat jelas tidak mau, gadis kecil itu dengan patuh menuruti perintah yang diberikan. Badan kecil yang terus gemetar, isak tanggis yang berusaha keras ditahan, serta air mata tidak henti saat menatap sosok inuyoukai berjalan meninggalkannya di depan pintu desa—Rin jelas tidak mau berpisah dengan Sesshoumaru.
Sesshoumaru memberikan Rin sebuah kebebasan untuk memilih saat dia meninggalkannya di desa ini. Kelak, saat gadis kecil itu sudah besar dan tahu apa itu, manusia dan youkai, dia boleh memilih untuk tetap tinggal bersama manusia atau mengikutinya lagi. Dalam hati Kaeda, dia merasa bila saat itu tiba, Rin tanpa ragu pasti akan memilih mengikuti youkai itu lagi. Karena itulah, selama gadis kecil itu masih kecil dan tingga bersamanya, dia harus melakukan sesuatu untuk mengubah keputusan Rin saat besar nanti. Namun, tidak peduli apa yang dilakukannya, berapa keras usahanya untuk membuat gadis itu memilih dunia manusia, semuanya akan segera menghilang saat hadiah dari Sesshoumaru sampai di tangan gadis kecil tersebut.
Hadiah.
Sesshoumaru sering memberikan Rin hadiah berupa kimono sutra mahal dan indah. Inuyoukai itu memang tidak pernah memberikan hadiah itu secara langsung padanya. Hadiah itu selalu diletakkan di depan pintu rumah mereka. Sejujurnya, Kaeda tidak menyukai Sesshoumaru yang sering memberikan kimono-kimono itu pada gadis kecil tersebut. Hadiah itu membuat Rin terlihat begitu berbeda dari semua yang ada, membuat semua orang tahu siapa dirinya sebenarnya. Namun, yang paling penting, kimono-kimono itu, kimono yang selalu melekat di badannya membuat Rin tidak akan pernah dapat melupakan youkai tersebut. Kimono itu membuat dirinya mengetahui bahwa, Sesshoumaru masih mengingatnya, masih memikirkannya.
Pilihan gadis itu tidak akan pernah berubah. Gadis itu akan memilih mengikuti inuyoukai itu jika waktunya tiba, dan Kaeda tidak akan membiarkan itu terjadi, sebab, itu salah.
"Kaeda-san!" panggil seseorang wanita tiba-tiba menyadarkan Kaeda dari lamunannya. Menoleh kepala menatap sumber suara, dia melihat seorang gadis cantik berusia sekitar delapan belas tahun berpakaian miko berdiri tidak jauh darinya. Rambutnya berwarna hitam, begitu juga dengan matanya, seulas senyum merekah dibibirnya.
"Ada apa, Kagome?" tanya Kaeda sambil menatap gadis tersebut.
"Apa yang kau pikirkan? Wajahmu terllihat serius sekali?" tanya Kagome kembali, mengabaikan pertanyaan yang diajukan Kaeda. Dia berjalan mendekat dan berdiri di sampingnya.
Kaeda menghela napas dan kembali menoleh wajah menatap sosok Rin. Kagome mengikuti pandangan Kaeda, dan seketika juga, dia langsung sadar dengan apa yang ada dalam pikiran wanita tua itu. Sebuah senyum kecil penuh pengertian melintas di wajah cantiknya, "Ini hidupnya, Kaeda-san. Keputusan ada di tangannya sendiri, kau tidak bisa memaksanya jika saatnya tiba."
Kaeda menatap Kagome. "Kau juga merasa, Rin akan memilih youkai dari pada manusia?"
Kagome mengangguk kepala. Rin akan memilih Sesshoumaru jika saatnya tiba, dirinya sudah bisa melihat itu dengan jelas. Youkai dan manusia, dua dunia yang berbeda, kebersamaan mungkin di mata semua orang adalah sebuah kesalahan, tapi, dirinya tidak merasa itu adalah sebuah pilihan yang salah. Tidak jauh berbeda dengan Rin, antara semua yang ada, dia memilih bersama Hanyou, makhluk setengah manusia setengah Youkai. Banyak yang mengatakan itu salah, melanggar hukum alam, sesuatu yang tabu. Benarkah? mungkin. Apa yang dia lakukan mungkin salah dan egois. Untuk bersama orang yang dicintai, dia membuang semuanya, orang tua, keluarga, teman dan dunia dimana seharusnya dia hidup. Tapi, dia ingin bahagia, dan dia tahu, inilah satu-satunya pilihan yang dimilikinya untuk bahagia. Ya! Hanyou dan manusia atau youkai dan manusia, salah atau benar, itu bukan sesuatu yang penting, selama mereka benar-benar saling mencintai.
__ADS_1
Merasa lucu dengan apa yang dilamunkannya, Kagome tertawa kecil sambil menggeleng kepala. Dia akan mendukung Rin, jika nanti gadis cilik itu benar-benar akan memilih Sesshoumaru. Inuyoukai pembenci manusia itu, walau tidak pernah mengatakan ataupun mengakuinya, sebenarnya sangat mempedulikan dan menyayangi Rin. Melindungi, menyelamatkan serta membesarkan Rin saat mereka mengembala, dan sekarang, memberikan hadiah-hadiah mewah saat sudah tidak mengembala setiap bulan, sikap itu sudah menjelaskan Rin memiliki kedudukan yang sangat penting dalam hatinya. Rin sekarang memang masih kecil dan tidak tahu apa-apa, tapi, bagaimana saat dia dewasa nanti? Apakah rasa sayang Sesshoumaru masih akan sama? Atau berubah? Bagaimana jika Sesshoumaru kemudian mencintainya? Memilihnya, memilih manusia yang semula sangat dibencinya menjadi pendamping hidupnya! Itu semua akan menjadi seperti dalam cerita komik, drama TV atau Novel yang di bacanya! Kisah yang sangat romantis!
"Kagome, mengapa kau tersenyum dan tertawa seperti itu" tanya Kaeda tiba-tiba menyadarkan Kagome yang sedang tersenyum dan tertawa sendiri.
Malu dengan sikap dan lamunannya, dia segera menjawab pertanyaan wanita tua di sampingnya. "Tidak-apa-apa, maaf."
Kaeda hanya menggeleng kepala, sikap gadis masa depan ini kadang memang tidak dapat dipahaminya, ah tidak, mungkin tidak hanya gadis ini, sesungguhnya, dia tidak mengerti suami, sahabat dan teman dari gadis itu—mereka semua terlalu aneh.
Kagome kembali menatap sosok Rin yang kini sudah hampir berhasil mencapai hutan, senyum kembali merekah di wajah cantiknya. Apa yang tadi dipikirkannya mungkin memang sudah terlalu jauh, tapi kemungkinan untuk menjadi kenyataan tetaplah sangat besar. Tertawa lepas, gadis masa depan itu mengangkat kepala menatap langit biru di atas, "Biarkan sang waktu yang menentukannya.."
....xOxOx....
Dalam hutan, Rin melangkahkan kakinya semakin cepat. Mata coklat besarnya langsung berbinar karena kegembiraan saat tiba di tempat tujuannya, tempat favoritnya. Sekarang adalah musim semi, musim yang paling disukainya, musim dimana bunga-bunga bermekaran. Di depannya adalah sebuah padang bunga dengan hamparan bunga beraneka ragam. Tidak membuang waktu sedikit pun, dia langsung berlari cepat mendekati padang bunga tersebut.
"Halo semuanya, bagaimana kabar kalian hari ini?" tanya Rin sambil tersenyum. Tidak ada jawaban, senyumnya langsung berubah menjadi tawa geli. Dia tahu, bunga-bunga tidak akan menjawabnya, namun dia tidak bisa menghentikan dirinya untuk bertanya, "Hari ini matahari tidak begitu terik, kalian pasti tidak akan kepanasan, kan?" tanyanya lagi. Dengan pelan dia, duduk di antara bunga-bunga dan mengangkat tangan menyentuh kelopak salah satu bunga di dekatnya. Senyum di wajahnya semakin melebar, "Tumbuh dengan baik, ya? Mekarlah dengan indah, Rin akan selalu menjaga kalian..."
Sejak kecil, dia selalu menyukai bunga, tidak peduli itu bunga sakura, bunga tulip, bunga peoni, bunga nadhesiko atau pun bunga tanpopo. Dia masih ingat, meski pun kenangan itu kini telah begitu buram. Dulu, dia tinggal di sebuah rumah yang besar dan hangat, dengan makanan enak yang selalu terpenuhi, pakaian yang selalu indah dan hangat, serta beberapa pria dan wanita dewasa yang mengurusnya. Lalu, ada seorang pria yang biasa dipanggilnya 'Ayahanda', wanita yang dipanggilnya 'Ibunda' serta dua anak laki-laki yang dipanggil 'Kakak'. Dirinya memang tidak bisa mengingat jelas lagi wajah mereka, tapi ada sesuatu yang selalu ingat, ada seulas senyum atau tawa hangat saat mereka menatapnya-mereka adalah keluarga kandungnya.
Mereka sering memberikannya pakaian indah, permen, ataupun boneka. Dia memang menyukai apa yang mereka berikan, namun ada sesuatu yang lebih disukainya, yakni; saat mereka memberikannya bunga. Mereka akan merangkaikan mahkota, kalung maupun gelang bunga untuknya, memakaikan padanya, memeluk, mecium keningnya dan membisikkan satu kalimat, 'Rin tersayang, senyumlah, tertawalah..'
Bunga mengingatkannya pada keluarganya, pada masa bahagia hidupnya.
Saat keluarganya terebut dari hidupnya, saat keluarganya, orang-orang yang dicintainya mati, saat dia melihat dengan mata sendiri mereka terbunuh dari tempat persembunyian, bunga pemberian orang tuanya yang terselip di rambutlah temannya. Lalu, saat dia telah diabaikan, sudah tidak diinginkan, diperlakukan semena-mena oleh orang desa, kehilangan rumah, kehilangan suara dan segalanya, saat yang dirasakannya setiap hari hanyalah takut, lapar, dingin, sedih, perih, sakit, bingung dan kesepian, tetap para bungalah yang masih menerimanya. Sikap manusia terhadapnya berubah, tapi bunga tidak, mereka tetap bermekaran seperti biasa untuknya.
Hidup yang dijalani dirinya yang kecil di masa yang penuh kekacauan, sungguh berat. Berapa kali dia berpikir untuk mati mengikuti keluarganya, dia pun tidak tahu lagi. Namun, sekali lagi, dirinya yang kecil melihat bunga. Meski matahari sangat terik, hujan badai, kemarau atau musim dingin, tidak peduli cuaca seburuk apa, bunga akan mekar lagi, tidak pernah menyerah dan terus hidup. Bunga seakan memberikan semangat padanya, menepati permintaan terakhir orang tuanya, 'Kau harus hidup, Rin tersayang..'
Dia yang saat itu sendirian, berusaha menghibur dirinya, berjalan memasuki hutan untuk mencari bunga. Namun, bukan bunga yang ditemukannya, melain Sesshoumaru yang sedang terluka. Dia seharusnya takut dan menjauh, namun dia tidak bisa. Dirinya terpesona dengan kecantikan youkai itu; begitu cantik, lebih dari bunga yang selama ini dilihatnya.
Dia yang kecil seharusnya lari dan meninggalkan youkai itu. Namun, melihat luka di sekujur tubuh Sesshoumaru, dia ingin youkai itu cepat sembuh. Sebuah pemikiran yang sangat salah, bodoh dan gila, tapi, memang itulah yang ada dalam hatinya saat itu.
Takut Sesshoumaru akan kelaparan, kehausan dan mati, dia membawakan makanan dan minuman untuknya. Sesshoumaru mengabaikannya, tapi, dia tidak menyerah, segala hal dia lakukan untuk mencari makanan untuk youkai itu, termasuk mencuri di tambak penduduk desa. Ketahuan, dia pun dipukul, dicaci dan dimaki. Hingga akhirnya, dia hanya dapat memberikan tumbuhan paku untuknya.
"Dari mana kau dapatkan memar di wajahmu?"
Itulah pertanyaan yang ditanyakan Sesshoumaru saat itu. Pertanyaan yang sederhana dan tidak ada artinya, tapi, bagi Rin saat itu, pertanyaan itu telah menyelamatkan dirinya. Di dunianya yang hanya penuh dengan perasaan-perasaan menyakitkan, dalam dunia dimana dia hanya sendiri, ternyata masih ada yang mau bertanya padanya dari mana asal luka di wajahnya-ada yang memperhatikan dan mempedulikannya.
Senyum.
Untuk pertama kalinya, sejak dunianya berubah menjadi neraka, Rin dapat tersenyum. Kebahagiaan dan kegembiraan memenuhi hatinya, menggantikan perasaan-perasaan menyakitkan yang ada dalam hati. Bahagia dan gembira, perasaan yang sudah lama sekali tidak dirasakannya, dan bahkan sudah dilupakannya, kini kembali lagi memenuhi hatinya, berkat inuyoukai itu; Sesshoumaru.
Sreet.
Suara yang tiba-tiba di dengarnya membuat terkejut Rin yang sedang merangkai kalung bunga. Menolehkan kepala ke belakang menatap sumber suara, semak-semak tidak jauh di belakangnya tiba-tiba bergerak. Dia segera bangkit, mulut kecil terbuka untuk melontarkan pertanyaan siapa yang ada di sana, namun, belum sempat dia melakukan itu, pandangannya menjadi kabur, dan sejenak kemudian, gelap.
....xOxOx....
__ADS_1
Seorang pemuda berkimono merah dengan rambut perak dan sepasang telinga anjing membalikkan badan ke belakang, telingannya berdiri, sepasang mata berwarna emasnya bergerak ke kiri-kanan penuh keseriusan.
"Ada apa, Inuyasha?" tanya Kagome pada pemuda tersebut yang juga merupakan suaminya.
"Ada youkai." Jawabnya.
"Youkai?' tanya Kagome lagi penuh kebingungan. "Aku tidak merasakan aura youkai sedikit pun."
"Tidak, Kagome, ada youkai," potong Inuyasha sambil mengendus-endus udara, "Dia menyembunyikan auranya. Walau samar, aku dapat mencium baunya."
Wajah Kagome segera berubah menjadi serius. Jika ada youkai yang mendekat, tetapi tidak sedikit pun dia merasakan auranya, tidak diragukan lagi, youkai tersebut pasti sangat kuat. Mereka berada dalam desa, jika youkai menyerang, pasti akan ada banyak orang yang akan terluka, "Dimana youkai itu berada, Inuyasha?" tanyanya cepat.
Inuyasha berusaha keras mengendus bau yang dibawa angin, pandangannya kemudian terarah ke samping, tangannya terangkat menunjuk hutan tidak jauh dari desa. "Dari situ. Dalam hutan itu."
Mata Kagome langsung terbelalak sebab hutan yang ditunjuk Inuyasaha adalah hutan di mana dia Rin biasa bermain selama ini.
"Rin!"
....xOxOx....
"Sesshoumaru-sama, tunggu!" teriak Jaken, youkai katak kecil berkimono hijau menatap youkai di depannya. Namun, sosok yang dipanggilnya tidak menolehkan kepalanya sedikit pun, dia terus berjalan seakan suara teriakan youkai katak itu tidak didengarnya.
Bagi Jaken, sosok youkai di depannya adalah sosok yang sangat dikagumi dan ditakuti. Sesshoumaru adalah youkai terkuat yang pernah ditemuinya. Berambut perak panjang, badannya tegap, kulit putih pucat dan rupa yang sungguh rupawan. Namun, sekali lihat saja, semua orang akan tahu, dia berbahaya. Statusnya di dunia youkai juga sungguh luar biasa, dia berasal dari keluarga bangsawan, keturunan inuyoukai sejati, seorang taiyoukai, pewaris sah tanah barat.
"Sesshoumaru-sama! Tunggu!" teriak Jaken lagi, langkah kaki kecilnya tidak dapat mengimbangi langkah kaki sesshoumaru. Dia menatap Ah-Un, youkai naga berkepala dua yang ada di samping inuyoukai tersebut. Hati kecilnya menggerutu, jika saja dia bisa duduk di atas punggung naga tersebut, dirinya pasti tidak perlu berteriak sambil berlari seperti ini. Alasan dirinya tidak bisa duduk di atas adalah kotak besar berwarna hitam yang ada di punggung Ah-Un; hadiah untuk Rin.
Jaken tidak pernah mengerti, kenapa Sesshoumaru selalu memberikan hadiah kepada gadis manusia itu. Setengah tahun yang lalu, saat inuyoukai itu menitipkan gadis itu di desa manusia, dirinya merasa senang dan sekaligus kehilangan. Senang karena akhirnya dia bebas dari tugas menjaga gadis cilik itu, kehilangan karena keberadaan Rin dalam kelompok mereka yang kecil ini telah menajdi salah satu bagian yang penting. Sesshoumaru meninggalkan Rin di desa manusia, sesungguhnya adalah sesuatu keputusan yang sangat benar, sebab gadis itu adalah manusia. Dia seharusnya memang tinggal di antara manusia, bukan diantara youkai seperti mereka. Tapi, kunjungan sekali setiap bulan, serta hadiah-hadiah mewah yang selalu dibawa, membuat Jaken merasa bahwa sesungguhnya Inuyoukai itu tidak ingin meninggalkan gadis tersebut.
Mereka kini berada dalam perjalanan menuju desa manusia di mana Rin hidup. Sudah setengah tahun, Jaken tidak melihat Rin. Meski mereka mengunjunginya setiap bulan, dia tidak pernah bertemu dengan gadis cilik tersebut. Hadiah yang dibawa mereka selalu diletakkan di depan rumah, dirinya sedang berpikir, bagaimana rupa gadis manusia itu sekarang. Dia mengakui, setidaknya dalam kunjungan kali ini, dia berharap bisa bertemu dengan Rin.
Sesshoumaru yang berjalan di depan tiba-tiba berhenti, membuat Jaken yang berada di belakang kebingungan. "Ada apa, Sesshoumaru-sama?' tanyanya. Namun, seperti biasa, Inuyoukai itu tidak menjawab pertanyaan tersebut, mata emasnya menatap penuh kebosanan semak-semak tidak jauh di depan mereka.
Mengikuti pandangan Sesshoumaru, Jaken menatap semak-semak di depan. Semak-semak itu tiba-tiba bergerak, membuat Jaken segera berlari bersembunyi di belakang tuannya penuh ketakutan. Namun, saat dia melihat siapa yang muncul dari balik semak-semak itu, ketakutannya segera menghilang. "Apa maumu, hanyou?!" teriaknya.
Yang muncul dari balik semak-semak itu tidak lain adalah Inuyasha, hanyou adik tiri Sesshoumaru. Namun, Inuyasha tidak mempedulikan pertanyaan Jaken, dia menatap serius Sesshoumaru yang tetap tenang tanpa ekspresi. Hanyou itu tahu, kakak tirinya itu pasti sudah tahu akan keberadaan dirinya yang berlari mendekat. Bau yang dibawa angin serta auranya pasti sudah memeberitahu inuyoukai itu saat jarak mereka masih berpuluh-puluh kilo meter, tapi, dia tidak yakin, inuyoukai itu sudah tahu berita yang diakan disampaikannya sekarang.
"S-Sesshoumaru, Rin menghilang."
....xOxOx....
Rin membuka matanya, yang pertama kali dilihatnya adalah langit-langit yang sangat asing baginya. Bangkit dari posisinya, dia menemukan dirinya berada di atas sebuah futon lembut dan besar, dalam sebuah kamar besar dan mewah. Kebingungan, dia mengaduk kepala memikirkan di mana dirinya berada sekarang. Seingat dia, dia sedang bermain dalam hutan, memetik bunga dan lalu, semuanya gelap.
"Kau sudah sadar, gadis kecil?" tanya suara seorang wanita tiba-tiba.
Rin segera menoleh wajah menatap sumber suara tersebut. Kedua matanya langsung terbelalak, yang berada di depannya adalah seorang inuyoukai wanita berambut perak dan bermata emas. Dia mengenakan pakaian mewah layaknya seorang putri dengan bulu putih, atau lebih dikenal dnegan mokomoko mengelilinginya. Wajahnya sangat rupawan, dengan mata emas, hidung mancung, mulut kecil berwarna merah, serta sepasang garis di pipi dan bulan sabit di dahi.
__ADS_1
"Ibunda Sesshoumaru-sama-sama?"
....xOxOx....