![Till The End Of Time [ Inuyasha Fanfiction ]](https://asset.asean.biz.id/till-the-end-of-time---inuyasha-fanfiction--.webp)
Inuyasha, Kagome, Miroku, Sango, Kenji dan juga Koga duduk diam dalam gua tempat persembunyian mereka dalam diam. Kepala mereka semua sedang memikir keras apa yang harus mereka lakukan.
"Hei, serigala kurus, " panggil Inuyasha kemudian menatap Koga. "Kata-katamu barusan bohong, kan? Serigala satunya lagi tidak mungkin menyukai Rin, kan?"
Koga balik menatap Inuyasha dengan wajah datar. Sejujurnya dia juga ingin apa yang disampaikannya adalah kebohongan. Dirinya masih ingat pandangan yang diberikan Akihiko padanya saat itu. Dia yakin, dia kini telah berada di daftar buruk penguasa tanah selatan.
Ekspresi wajah Koga membuat Inuyasha tidak mengatakan apa-apa lagi. Jawaban yang dia inginkan sudah terjawab, Koga tidak berbohong, Rin yang seharusnya menjadi sandera benar-benar berhasil membuat Akihiko menyukainya. Bagaimana gadis itu melakukannya?
Ada sedikit kemarahan muncul dalam hati Inuyasha. Sepertinya keluarga penguasa selatan itu memang penuh dengan youkai-youkai tidak tahu diri. Koga yang masih merupakan keturunan penguasa tanah selatan dulu dengan terang-terangan mengejar dan berusaha merebut Kagome darinya. Sekarang, Akihiko ingin merebut Rin dari Sesshoumaru? Mungkinkah youkai serigala dari selatan memang suka merebut wanita dari inuyoukai dari barat?
"Hmnn, pesona Rin-rin memang luar biasa," ujar Kenji yang tadi diam membisu sambil mengelus jengotnya yang panjang. "Tidak kusangka Akihiko pun takluk dengan pesonanya."
Akihiko yang menyukai Rin sebenarnya tidak dipredeksi Kenji, dan juga, itu semakin memperumit masalah. Akihiko adalah youkai serigala, dan sama halnya dengan inuyoukai, mereka youkai yang posesif dengan sesuatu yang diinginkannya.
"Apa tidak ada seorangpun yang memiliki ide, sekarang?" tanya Sango menghela napas. Kepalanya benar-benar terasa sakit, dirinya sejak dulu memang tidak pintar memikirkan rencana.
Kagome tidak menjawab, dia kemudian menoleh wajahnya menatap Miroku. Dari mereka semua, biasanya memang biksu ini yang lebih pintar menyusun rencana.
Miroku menyadari tatapan Kagome, dan dia juga tahu apa maksud dari tatapan tersebut. Menghela napas, dia menggaruk kepalanya yang tidak gatal. "Aku sebenarnya memiliki ide. Walau ya, ini juga bukanlah ide yang bagus.."
....xOxOx....
Akihiko berjalan pelan menuju tempat latihan pedangnya seperti biasa. Meski jauh, indra penciumannyipa yang tajam bisa menangkap bau musim semi gadis manusia dari barat tersebut.
Ekpresi wajahnya yang bosan berubah menjadi dingin saat dia teringat apa yang dikatakan Koga. Mata birunya bersinar penuh kemarahan.
'Hubungan hamba dengannya adalah kematian pertamanya disebabkan oleh serigala dalam rombonganku.'
Akihiko sudah tahu, bahwa Rin adalah manusia yang dihidupkan kembali oleh Sesshoumaru dengan pedang tensaiga warisan ayahnya, Inu No Taisho. Tapi, dia tidak pernah tahu kematian Rin disebabkan bawahan Koga.
Wajah Rin yang tersenyum gusar terbayang dalam pikiran penguasa tanah selatan itu. Itukah penyebabnya? Kenapa gadis itu takut pada Koga?
Akihiko cuma merasa youkai serigala tersebut cukup beruntung hari ini, sebab Rin segera menariknya meninggalkan Koga pada saat itu. Ada kemarahan dalam hatinya saat dia melihat ketakutan di wajah cantik itu. Tidak tahu sejak kapan mulainya, dia menginginkan gadis itu selalu tersenyum.
Langkah baru kaki Akihiko terhenti, mata biru langitnya melembut saat dia menemukan sosok gadis manusia yang duduk di atas tanah gersang. Kepalanya menengadah menatap langit malam, sedangkan kedua matanya tertutup.
Cantik.
Akihiko tidak pernah bosan ataupun berhenti berpikir seperti itu saat melihat Rin. Berbeda dengan kecantikan youkai, berbeda juga dengan kecantikan manusia pada umumnya, gadis manusia di depannya memiliki kecantikan yang unik; kecantikan murni yang polos.
"Rin." Panggil Akihiko pelan.
Rin membuka matanya. Kedua bola mata coklatnya berbinar, sebuah senyum merekah di wajahnya saat melihat Akihiko. "Akihiko-sama, selamat malam."
Akihiko tersenyum mendengar salam Rin. Manusia yang akan tersenyum tulus dan masih memberikan salam pada seorang youkai sepertinya, mungkin memang gadis ini saja di dunia ini.
Melangkah mendekati Rin, Akihiko kemudian duduk di sampingnya. Bau musim semi yang diciumnya membuat dia berpikir, jika gadis ini ada disisinya selalu, musim semi akan selalu ada dalam hidupnya—menyenangkan sekali.
"Apa yang kau pikirkan tadi?" tanya Akihiko kemudian, mata biru langitnya menatap lurus kecantikan gadis di sampingnya. Sinar bulan yang tidak penuh sama sekali tidak menganggu penglihatannya.
Rin menggeleng kepala dengan senyum yang masih ada di wajah. "Tidak ada. Rin tidak memikirkan apa-apa."
"Apa kau memikirkan Koga?" tanya Akihiko lagi. "Jika kau tidak menyukainya, aku bisa membuat dia tidak menunjukkan wajahnya di depanmu lagi untuk selamanya."
__ADS_1
Ucapan Akihiko membuat Rin tertegun. Mata coklatnya berkedip beberapa kali mencerna ucapan sang penguasa tanah selatan tersebut. Tapi kemudian, senyum kembali mengembang di wajahnya, "Tidak," dia menggeleng kepala sekali lagi. "Tidak perlu seperti itu. Rin benar tidak apa-apa."
"Kau tidak takut padanya?" Akihiko tidak bisa menghentikan pertanyaan yang meluncur keluar dari mulutnya. Jika sudah menyangkut Rin, dia ingin mengetahui semua dan memberikan yang terbaik pada gadis manusia itu, bahkan jika itu artinya dia harus membunuh Koga.
Pertanyaan Akihiko membuat Rin terdiam sejenak. Menengadahkan kepala ke langit malam sekali lagi, dia kemudian tertawa dan menutup mata. "Sedikit."
Jika dia mengatakan bahwa dia tidak takut pada Koga, maka Rin tahu dia berbohong. Dia ingat jelas bagaimana rasa sakit dan dingin saat taring-taring runcing itu mengoyak lehernya semasa kecil—kematiannya yang pertama.
"Tapi," lanjut Rin lagi sambil tersenyum. Dia menurunkan kepala menatap Akihiko. "Rin berterima kasih pada Koga-san."
Jawaban Rin yang diluar dugaan membuat Akihiko kebingungan. Berterima kasih? Kepada youkai yang membunuhnya?
Ekspresi bingung Akihiko ditangkap jelas Rin, dan itu membuat dia tersenyum semakin lebar-senyum indah penuh kebahagiaan. "Rin berterima kasih padanya karena berkat dialah Rin bisa bersama Sesshoumaru-sama."
Wajah inuyoukai penguasa tanah barat terbayang dengan sempurna dalam benak Rin, membuat hatinya merasa hangat.
Ya, jauh dalam lubuk hati terdalam, Rin berterima kasih pada Koga dan serigala rombongannya karena telah membunuhnya saat kecil dulu. Berterima kasih karena mengoyak lehernya sehingga bau darahnya menarik perhatian inuyoukai tersebut.
Rin berpikir, jika saja dulu dia tidak mati, apakah Sesshoumaru akan mengijinkan dia mengikutinya? Jika dia tidak mati, apakah dia bisa bersama dengan inuyoukai itu sampai sekarang?
Rasa sakit dan dingin saat kematian menjemput, Rin ingat itu semua dengan baik. Tapi, jika memang itulah yang harus dilaluinya untuk bisa berada di samping Sesshoumaru, maka Rin tidak keberatan untuk mengalaminya. Kematian itu menakukan, tapi setelah kematian, dia menemukan hal terpenting dalam keberadaannya; dalam kematian dia menemukan Sesshoumaru.
Karena itu, bagaimana Rin tidak berterima kasih pada Koga? Berterima kasih karena telah membunuhnya—terima kasih karena telah mepertemukannya dengan Sesshoumaru hari itu.
Rin selalu tersenyum.
Sejak pertama kali mereka bertemu, di mata Akihiko, gadis manusia itu selalu tersenyum. Tapi, semua senyum itu tidak bisa dibandingkan dengan indahnya senyum sekarang. Mata coklat yang berbinar penuh rasa hormat, penuh pujaan, penuh cinta, serta senyum lebar yang membuat wajahnya memancarkan kebahagiaan tak terucapkan—senyum terindah gadis manusia itu.
Lalu, Akihiko sadar, senyum itu bukan untuknya.
....xOxOx....
Wajah cantik selir penguasa tanah selatan yang biasanya selalu tersenyum kini telah digantikan kemarahan. Bahkan sejujurnya, sudah tidak ada kecantikan manusiawi yang tersisa, kemarahan dalam hatinya sudah membuat dirinya hampir kembali ke sosok asli youkainya. Mata merah darah besar, garis-garis hitam di wajah serta bibir lebar menyeringai penuh kengerian.
Tsubasa tidak peduli sedikitpun dengan tubuh serta kamarnya yang penuh darah. Kemarahan masih membara dalam hatinya, kematian dari dua selir Akihiko ditangannya tidak menurunkan amarahnya sedikitpun.
"Anda memang kejam sesuai dengan yang ku dengar, Tsubasa-sama." Tawa suara seorang laki-laki tiba-tiba.
Tsubasa menoleh kepala menatap sumber suara. Seorang youkai laki-laki berdiri di pintu kamarnya. Berambut hitam panjang terurai berantakan, kulit pucat pasi dengan sepasang mata hitam pekat membingkai wajah yang menyungingkan seulas senyum. Tidak ada kepanikan dalam hati selir kesayangan penguasa tanah selatan itu saat melihatnya, sebab dia sudah menyadari keberadaan youkai itu saat membunuh Cho dan Hana. "Apa yang kau inginkan, Yukimura dari timur?"
Yukimura, youkai berambut hitam dan wajah putih pucat itu tersenyum semakin lebar. "Mengajukan kerja sama kepada anda Tsubasa-sama. Kerja sama menyangkut Hime dari barat."
....xOxOx....
Kiri dan Kira berlutut di depan pintu ruangan yang tertutup. Mereka tidak mengatakan apa-apa, tapi mereka tahu, tuan mereka yang ada dalam ruangan sudah tahu apa yang akan mereka laporkan.
Dalam kamar itu, inuyoukai penguasa tanah barat duduk dengan mata tertutup. Ekspresi mukanya datar, namun tidak dalam hatinya. Lima hari sudah berlalu, dan dia sudah menahan kemurkahan serta emosinya yang semakin hari semakin membesar.
Selatan yang berani menyatakan perang padanya, selatan yang menginginkan hujan darah di barat dan selatan yang berani menculik gadis manusia yang dicintainya.
Sesshoumaru-sama
Senyum sang gadis terbayang dalam benak Inuyoukai itu. Dan kali ini, dia tidak bisa menahan lagi emosi dalam hatinya—binatang buas dalam dirinya.
__ADS_1
Membuka matanya yang telah memerah hingga bagaikan hitam pekat, dia membuka mulutnya. "Kita berangkat."
Dia akan meruntuhkan selatan, dia akan membunuh mereka semua tanpa sisa, untuk selatan yang berani menantang barat, dia Sesshoumaru akan menghancurkan semua yang ada.
....xOxOx....
Kohaku menatap keluar jendela terbuka dalam kamarnya, matanya bisa menangkap salju yang telah berhenti. Menghela napas pelan, dia menyelimuti keponakan-keponakannya yang sedang tertidur.
Lima hari berlalu tanpa kabar apapun, taijiya muda ini mulai merasa ragu dengan misi dari Inuyasha dan yang lainnya.
Dia yang terperangkap di istana tanah barat menjaga anak-anak mulai frustasi, sebab anak-anak mulai merindukan orang tua mereka, terutama Shiro. Inuhanyou yang masih berusia satu tahun lebih itu menangis sangat kencang karena merindukan kedua orang tuanya.
Kohaku cuma bisa berpikir sampai kapan dia akan berada di situasi ini? Menjadi seorang pengasuh di saat perang di depan mata—kemana perginya semua kemampuannya sebagai seorang taijiya? Mau tidak mau dia hanya dapat kembali menghela napas.
Dum-dum-dum
Telinga Kohaku menangkap suara pukulan drum dari luar, matanya terbelalak karena terkejut. Berdiri, dia segera berlari ke arah jendela, menatap keluar. Suara pukulan drum ini, dia tahu apa itu—suara genderang perang.
Mata hitam Kohaku melihatnya dengan jelas, membuat napasnya tertahan dan bulu romanya berdiri karena ngeri. Namun, dalam kengerian itu, dia juga tidak dapat menyembunyi juga perasaan tertegun; terpesona.
Dalam langit malam dengan bulan yang tidak penuh, beribu-ribu youkai terbang dalam barisan yang besar. Suara tawa, tangisan dan teriakan mengerikan serta pukulan drum yang membahana membuat ketakutan siapapun yang melihat dan mendengarnya.
Lalu, di barisan paling depan, sosok seorang inuyoukai memimpin. Mengenakan kimono putih berlambang barat dan baju jirah menutup dada, dua pedang dipinggang serta bulu-bulu tebal panjang di bahu kanannya. Rambut perak panjang yang ditimpah cahaya bulan bagaikan bersinar, wajah tampannya yang tanpa ekspresi dengan bola mata merah pekat seakan hitam, dia menonjol dari sekian banyaknya youkai-sekali melihat, semua akan tahu, dialah pemimpin dari ratusan youkai tersebut.
Kengerian yang indah.
Itulah yang ada dalam pikiran Kohaku saat melihatnya. Lalu, untuk pertama kalinya, taijiya muda itu sadar, inuyoukai yang pernah menolongnya dulu benar-benar merupakan seorang penguasa.
Ratusan youkai dengan youki yang mengerikan. Namun, mereka semua takluk pada inuyoukai tersebut. Mematuhinya, mengikutinya dengan pandangan mata penuh kebanggaan. Ada kengerian dalam sosoknya yang indah, ada kehancuran yang akan ditinggalkannya. Tidak akan ada yang mampu menghentikan inuyoukai itu sekarang. Kematian bagi selatan, sebab mereka tahu, tuan mereka, penguasa mereka; Raja mereka akan menghancurkan musuh.
Sesshoumaru.
Sang penguasa tanah barat hidup sesuai dengan arti namanya; penghancur kehidupan.
....xOxOx....
Akihiko menggeram penuh kemarahan dalam ruangan tahtanya. Di hadapannya, Tsubasa dan semua bawahannya yang setia, berlutut menunggu perintah dari sang penguasa. Tidak ada yang bersuara, mereka tidak tahu mengapa sang penguasa diliputi kemarahan seperti itu, namun, mereka juga tidak berani bertanya.
Ekspresi bosan di wajah tampan itu kini begitu berbeda. Mata sang penguasa selatan yang biasa berwarna biru langit kini berwarna merah darah. Ada kemarahan tak terbendung dalam hati Akihiko sejak dia meninggalkan gadis manusia itu di lapangan paviliun utara istananya.
'Rin berterima kasih padanya karena berkat dialah Rin bisa bersama Sesshoumaru-sama.'
Ucapan gadis manusia itu terlintas dalam pikiran Akihiko, begitu juga dengan senyum terindah yang ditunjukkannya. Dia tahu, senyum itu bukan ditujukan pada Koga, Rin, gadis manusia itu tersenyum begitu untuk inuyoukai itu; Sesshoumaru.
Sang penguasa tanah selatan itu tidak bisa menerimanya. Pandangan penuh pujaan dan cinta gadis itu, senyum terindahnya itu seharusnya ditujukan padanya; miliknya.
Sesshoumaru dari barat.
Senyum menyeringai kemudian memenuhi tampan wajah Akihiko. Senyum yang menakutkan yang menjanjikan kengerian. Dulu dia menentang barat karena bosan, tapi kini, dia memiliki alasan lain untuk menghancurkan barat; dia akan memusnahkan barat untuk memiliki gadis manusia itu.
Dia tidak akan menunda lagi, Akihiko tahu, dia akan bergerak sekarang—perang dimulai.
"Kita menuju barat." Ujarnya dan disambut bawahannya penuh suka cita.
__ADS_1
....xOxOx....