![Till The End Of Time [ Inuyasha Fanfiction ]](https://asset.asean.biz.id/till-the-end-of-time---inuyasha-fanfiction--.webp)
Jaken memasuki perkarangan rumah besar yang berdiri sendiri dalam hutan. Ada rasa takut dalam hatinya setiap kaki pendeknya melangkah. Tapi, dia tidak berani melawan perintah Sesshoumaru yang menyuruhnya melihat perkembangan pembuatan kimono untuk Rin.
Jaken sebenarnya tidak mengerti kenapa Sesshoumaru dengan sendirinya datang ke tempat seperti ini hanya demi sehelai kimono untuk Rin, dan juga bahan untuk kimono itu–Jaken merasa dirinya sedang bermimpi.
"Masuklah, Jaken-san." suara Onimura tiba-tiba terdengar seiring dengan pintu rumah yang terbuka.
Menelan ludah, Jaken teringat lagi dengan ekspresi wajah Onimura tiga hari yang lalu. Dia tidak tahu harus melakukan apa jika youkai laba-laba itu menyerangnya. Tapi, memberanikan diri, dia akhirnya melangkah masuk.
Dalam rumah itu sangat gelap meskipun matahari bersinar terang di luar. Sarang laba-laba baik kecil maupun besar memenuhi sudut ruangan sekan rumah ini tidak berpenghuni.
Melangkah maju, mata Jaken menangkap cahaya dalam satu kamar. Menghela napas, dia membuka pintu itu dan berjalan masuk.
Onimura ada di sana. Dalam kamar gelap dengan lampu minyak sebagai penerang, youkai laba-laba itu duduk di depan alat penenun menenun kain.
"Ada apa kau kemari, Jaken-san?" tanya Onimura datar. Dia tidak mengalihkan sedikitpun pandangannya dari kain yang ditenunnya.
Jaken menelan ludah sekali lagi, tapi ada perasaan lega juga memenuhi hatinya. Setidaknya youkai laba-laba ini bersikap biasa kepadanya. "A-aku hanya datang mengamati perkembangan pembuatan kimono."
Onimura tertawa mendengar ucapan Jaken. Dia tahu, pasti Sesshoumaru yang memerintah youkai katak ini melihat perkembangan pembuatan kimono ini.
"Hei, Jaken-san," panggil Onimura lagi dengan pelan. Kedua tangan dan matanya masih fokus pada alat menenunnya. "Hime dari barat, seperti apa beliau?"
"Eh?? Rin itu seperti apa?" tanya Jaken kembali terkejut.
Onimura mengangguk kepala. Lima tahun belakangan ini, dia selalu membuatkan kimono-kimono terindah untuk hime dari barat, baik atas permintaan Sesshoumaru maupun Inukimi. Bahkan, sesungguhnya dia juga menerima permintaan membuat kimono untuk gadis itu dari Akihiko dari selatan bulan lalu.
Tapi, Onimura tidak pernah bertemu langsung dengan gadis manusia itu. Dirinya hanya mendengar dari cerita mulut ke mulut, betapa cantik dan menawannya hime tersebut.
"Rin ya Rin." Jawab Jaken tidak peduli. "Dia gadis manusia yang bodoh dan lugu."
"Ku dengar beliau sangat cantik, seperti bunga yang mekar di musim semi." Sela Onimura lagi sambil tersenyum.
Jaken terdiam mendengar ucapan Onimura. Cantik?–ya, dia harus mengakui Rin memang sangat cantik. Bagaimana dia tidak cantik? Sejak tinggal di istana tanah barat, dia dibesarkan layaknya seorang putri dengan semua kebutuhan hidup mutu terbaik di dunia.
"Iya. Rin kami memang sangat cantik," balas Jaken kemudian penuh kebanggaan. "Oh, dia juga sangat pandai memainkan Shamisen, menari dan bernyanyi. Tapi, bagiku–dia adalah anak kecil."
Onimura tertawa mendengar ucapan Jaken. Melihat cara youki katak itu menjelaskan seperti apa hime dari barat, dia tahu–hime itu seorang gadis yang sangat polos.
Menatap kain yang ditenunnya lagi, Onimura hanya dapat kembali tersenyum.
Musim semi saat bunga sakura mekar.
Itu adalah apa yang dikatakan Sesshoumaru sang penguasa tanah barat. Tapi, inuyoukai itu tidak tahu, apa yang sesungguhnya dilihat sepasang mata hitam Onimura saat dia mengatakan kalimat itu.
Onimura sang pemintal benang adalah youkai pembuat pakaian paling terkenal di jepang. Karyanya dicari youkai maupun manusia karena keindahan dan juga keunikannya. Dengan mata hitamnya, dia bisa menangkap segala keindahan dan segala macam perasaan yang akan dituangkan ke dalam karyanya.
Yang dilihat sepasang mata hitamnya saat itu adalah siluet–siluet seorang gadis manusia di tengah taman bunga sakura.
Berambut hitam seperti langit malam, kulit putih seperti salju, sepasang mata coklat sejernih danau, pipi merona seperti mawar dan bibir semerah darah–gadis yang cantik sekali.
Tapi bukan kecantikan itu yang menghipnotis ,melainkan perasaan yang ada. Putih yang suci, indah yang memesona, polos yang menyilaukan, lembut yang hangat dan warna-warna yang melambangkan musim semi; bunga sakura yang dicintainya. Cara Sesshoumaru, sang penguasa tanah barat menatap hime dari baratlah sesungguhnya yang menjadi inspirasi maha karyanya–cinta yang ada.
Cinta seorang youkai pada seorang manusia. Cinta yang sangat dalam, cinta yang sangat tulus dan juga–cinta yang sangat indah.
Lalu, dua bahan utama untuk kimono karyanya. Bahan paling sempurna untuk karyanya–tidak pernah Onimura menyangka, inuyoukai itu akan dengan mudahnya menyerahkan tanpa berpikir panjang.
Tertawa, mata Onimura bersinar lembut dan penuh kegembiraan. Kimono ini, dia tahu, selamanya akan menjadi maha karyanya yang tidak tergantikan. Dia akan dapat menutup mata dengan tenang jika kimono ini terselesaikan dengan baik.
....xOxOx....
__ADS_1
Dalam kamar Rin, dengan lampu minyak sebagai penerang gelapnya malam. Jinenji dan Kagome duduk di depan gadis manusia itu memeriksa kesehatannya.
"Kesehatanmu sangat baik, Rin-chan." senyum Jinenji begitu selesai memeriksa kesehatan Rin.
"Benarkah? Terima kasih, Jinenji-san." Senyum Rin gembira.
Kagome yang ada di samping Jinenji tidak mengatakan apa-apa dengan hasil pemeriksaan kesehatan Rin. Tetapi, mata hitamnya jatuh pada dada Rin, di mana meido seki tergantung dengan baik.
Meido seki sampai sekarang masih tidak dapat dipisahkan dari Rin. Inukimi yang mengurung diri dalam perpustakaan mencari penyebabnya masih belum menemukan jawaban.
"Apakah kau menemukan hal yang aneh pada Rin-chan, Kagome?" tanya Jinenji kemudian pada Kagome.
Kagome menggeleng kepala. "Hasil pemeriksaanku sama denganmu, Jinenji. Kurasa walau Rin-chan tidak melepaskan meido seki, selama tidak digunakan, dia tidak akan apa-apa."
"Aku juga berpikir begitu." setuju Jinenji.
Sejak pulang dari selatan, Inukimi menyuruh Jinenji memeriksa kesehatan Rin setiap hari. Sebab, menjaga kesehatan gadis manusia itu adalah prioritas utama sampai meido seki terlepas.
Rin yang mendengar ucapan Kagome dan Jinenji kemudian menurunkan pandangannya ke arah meido seki. Perlahan, tangannya terangkat menyentuh pusaka youkai yang hanya dapat disentuhnya seorang.
"Kagome-sama, Jinenji-san," panggil Rin pelan. Dia tidak mengangkat wajahnya sama sekali. "Sebenarnya, Rin sama sekali tidak merasa meido seki berbahaya."
Ucapan Rin membuat Kagome dan Jinenji menoleh kepala pada gadis manusia itu.
"Meido seki selalu hangat saat Rin menyentuhnya," jelas Rin pelan dengan seulas senyum di wajahnya. "Dan Rin merasa, dia selalu menjaga Rin. Meido seki itu sangat baik."
Ucapan Rin membuat Kagome dan Jinenji terdiam tidak tahu harus mengatakan apa. Meido seki adalah seuatu yang sampai sekarang tidak dapat mereka ketahui sebenarnya adalah apa. Berbahaya atau tidaknya meido seki, tidak ada seorangpun yang tau dengan pasti.
"Semoga yang kau katakan itu benar, Rin-chan," senyum Kagome kemudian. Berdiri dia kemudian tertawa. "Baiklah, aku tidak akan menganggu waktu istirahatmu lagi, Rin-chan. Kurasa Shiro juga sudah mencariku."
Jinenji juga segera berdiri dan tersenyum. "Aku juga Rin-chan. Aku akan kembali ke ruang kerjaku, beristirahatlah yang baik."
"Iya, terima kasih dan maaf telah merepotkan kalian, Kagome-sama, Jinenji-san." Senyum Rin dan ikut berdiri.
Mengangkat kepala ke atas menatap langit malam, Rin mengenggam kembali meido seki yang dipakainya.
Waktu yang berhenti sudah kembali bergerak.
Kalimat itu kembali terlintas dalam kepala Rin, dan membuat ketakutan memenuhi hatinya. Dirinya sama sekali tidak tahu apa arti kata itu, tapi dia sangat ketakutan setiap kali mengingatnya.
Rin tidak pernah memberitahu kalimat dan ketakutan yang dirasakannya ini pada siapapun termasuk; Sesshoumaru. Kenapa?–Rin sendiri juga tidak tahu. Dia tidak berani; dia takut.
Mengenggam lebih erat lagi meido seki di tangannya, Rin kemudian menutup mata. Menarik napas dan menghembusnya beberapa kali, dia berusaha menenangkan diri dan menepis ketakutan yang ada.
"Sesshoumaru-sama..." gumam Rin pelan. Dia ingin Sesshoumaru cepat pulang, dia ingin melihatnya, sebab dia tahu, keberadaan inuyoukai itu akan dapat menenangkannya.
Sesshoumaru-sama.
Sudah seminggu lebih inuyoukai itu meninggalkan istana tanah barat dan menyuruhnya menunggu. Kehadiran Inuyasha dan yang lainnya memang membuat beberapa hari ini terasa sangat ramai, tapi jauh dalam hati, dia sangat merindukan inuyoukai itu.
Perlahan, dalam kamarnya yang sepi, Rin membuka mulutnya dan bernyanyi.
Nama no naka
Kaze no naka
Yume no naka
Sesshoumaru-sama doko ni iru
Jakken-sama wo shita naete
__ADS_1
Watashi wa hitori de machimashou
Sesshoumaru-sama omodori wo
....xOxOx....
Sesshoumaru-sama omodori wo
Sesshoumaru berhenti melangkah dan menoleh wajahnya ke belakang, tertegun. Di dalam angin yang berhembus, dia merasa seakan mendengar suara Rin yang menyanyikan lagu aneh yang dikarang gadis itu semasa kecil saat menunggunya.
"Rin..." Panggil Sesshoumaru pelan. Ada perasaan rindu dalam hatinya, sudah satu minggu lebih berlalu tanpa dia melihat gadis itu. Apakah gadis itu juga merindukannya? Apakah gadis itu menyanyikan lagu aneh itu lagi sambil menunggunya?
"Sesshoumaru-sama!! Tunggu hamba!!" teriak Jaken sambil berlari mendekati Sesshoumaru.
Menarik napasnya yang terengah-engah, mata Jaken kemudian terarah pada sosok Sesshoumaru dan menelan ludah. Dia masih belum terbiasa dengan perubahan sosok inuyoukai penguasa tanah barat ini sekarang, dan dia juga tidak berani membayangkan reaksi seisi istana tanah barat saat melihatnya.
Seperti biasa, Sesshoumaru tidak mempedulikan Jaken. Kedua kakinya kembali melangkah memasuki perkarangan rumah besar yang ada di depannya.
Mata emas Sesshoumaru langsung menangkap sosok Onimura yang berlutut di depan pintu rumahnya penuh hormat. Namun, yang paling penting, dia juga bisa melihat sebuah kotak hitam di depan youkai laba-laba tersebut.
"Sesshoumaru-sama," panggil Onimura sambil tersenyum. "Kimono maha karya hamba telah sempurna."
Sesshoumaru mengangguk kepala pelan tanpa mengatakan apapun.
Perlahan, Onimura kemudian membuka kotak hitam di depannya dan memperlihat kimono yang menjadi maha karyanya.
Mata emas Sesshoumaru bersinar puas saat melihat kimono itu. Onimura benar-benar berhasil membuat kimono yang diharapkannya.
"Ini adalah maha karya hamba yang tidak akan tertandingi di dunia ini, Sesshoumaru-sama. Terima kasih anda telah memberikan kesempatan ini pada hamba." Ujar Onimura lagi dan membungkuk badan memberi hormat.
Sesshoumaru tetap tidak mengatakan apa-apa mendengar ucapan Onimura. Tanpa gerak, dia hanya menatap youkai laba-laba itu kembali melipat dan menyimpan kimono tersebut ke dalam kotak.
"Jaken." panggil Sesshoumaru. "Ambil kimono itu."
"B-baik." Balas Jaken terbata-bata dan berlari mengambil kotak hitam berisi kimono tersebut dari tangan Onimura.
"Jika anda tidak keberatan, Sesshoumaru-sama," ujar Onimura lagi tiba-tiba. "Ijinkan hamba membuatkan shiromuku untuk hime-sama dan montsuki hitam untuk anda."
"S-Shiromuku?? M-montsuki??" wajah Jaken berubah menjadi pucat pasi. Badannya bergetar hebat karena terkejut. Dia segera menoleh wajah kembali menatap Sesshoumaru. Apakah yang didengarnya barusan benar??
Onimura jelas tahu, apa makna dari kimono yang dibuatnya bagi Sesshoumaru. Cinta yang dilihatnya, bahan yang diberikannya–terlihat jelas sekali maksud dari inuyoukai tersebut. Kimono adalah susuatu yang digunakan untuk melamar seorang wanita dalam dunia manusia; sang penguasa tanah barat ingin melamar hime dari barat.
Sesshoumaru menatap Onimura mendengar ucapan youkai laba-laba itu. Tapi, tetap tidak ada reaski ditunjukkannya, wajah tetap datar tanpa ekspresi. Namun, sejenak kemudian dia mengangguk kepala. "Buatkanlah."
Jaken tidak dapat mengatakan apa-apa lagi. Wajah pucatnya menjadi semakin pucat. Jadi benar? Sesshoumaru akan menikahi Rin???
"Terima kasih, Sesshoumaru-sama." membungkuk memberi hormat, wajah tua Onimura bersinar penuh kebahagiaan. "Hamba tidak akan mengecewakan anda."
Sesshoumaru tidak mengatakan apa-apa lagi. Membalikkan badan, dia kemudian melangkah meninggalkan perkarangan rumah Onimura. "Jaken, kita pulang."
Jaken yang masih tertegun dengan wajah pucat segera tersadar mendengar suara Sesshoumaru. Menatap lekat kotak berisi kimono di tangannya, dia memeluknya erat. Kepalanya akan putus kalau terjadi sesuatu pada kimono ini. Melangkah kaki pendeknya, dia kembali mengejar tuan di depannya. "Sesshoumaru-sama, tunggu!!!"
....xOxOx....
Inukimi menatap tidak suka pada setumpuk surat di depannya. Surat undangan untuk Rin semakin hari semakin banyak. Dari utara, dari timur bahkan dari netral.
Meremas surat-surat itu, Inukimi merasa sangat kesal. Apa maksud para youkai ini?–ingin merebut putrinya? atau ingin memanfaatkan?
Melempar surat-surat tersebut sembarangan. Inukimi kemudian berdiri. Berjalan ke depan jendela, dia menghela napas. Sudah hampir dua minggu lebih dia mengurung diri di perpustakaan ini tanpa mendapatkan apa-apa. Kapan putra bodohnya itu akan pulang?
Angin musim semi berhembus, dan tiba-tiba, Inukimi menangkap bau yang sangat familiar baginya. Kedua mata emasnya langsung berbinar gembira, begitu juga dengan wajah cantiknya.
__ADS_1
Tidak membuang waktu, Inukimi langsung membalikkan badan dan berlari ke pintu keluar pepustakaan. Membuka pintu kuat, dia memerintah Kira yang menjaga di depan pintu sambil tertawa. "Kira! Panggil putra Taisho, miko aneh dan yang lainnya ke kamar Rin kecil sekarang juga! Sesshoumaru sudah pulang!!!
....xOxOx....