![Till The End Of Time [ Inuyasha Fanfiction ]](https://asset.asean.biz.id/till-the-end-of-time---inuyasha-fanfiction--.webp)
Rin menatap lurus ke depan, menatap sosok Sesshoumaru yang berada dalam sosok aslinya. Dalam genangan lautan darah merah dan tumpukan mayat manusia, anjing raksasa di depannya terus membunuh tanpa henti, tidak peduli bagaimana para manusia memohonnya berhenti.
Jaken yang menuntun Ah-un tidak bisa melangkah lebih jauh lagi. Dia merasa dirinya telah menggunkan keberanian seumur hidupnya dalam dua puluh lima langkah kaki yang dilakukannya dari pintu gerbang benteng istana tanah barat. Wajahnya pucat pasi penuh ketakutan dan badannya bergetaran hebat, dia tidak bisa mempercayai apa yang terjadi di depannya sekarang.
Jaken adalah youkai katak yang mengembara bersama Sesshoumaru, wujud asli dan kekuatan dari penguasa tanah barat itu, dia sudah melihatnya. Tapi tidak untuk sekarang—dia tidak pernah melihat inuyoukai itu menggila seperti ini.
"R-rin.." suara pelan Jaken bergetar. Dia memanggil nama Rin, tapi dia tidak menoleh ke belakang pada wanita manusia tersebut. Kedua matanya masih terpusat pada neraka di depan. "A-aku tidak bisa melangkah maju lagi..."
Rin tidak membalas ucapan Jaken. Dia bisa merasakan jelas ketakutan luar biasa yang dirasakan youkai katak tersebut, dan sejujurnya bukan hanya Jaken, Ah-un juga sama. Youkai naga yang menjadi tunggangannya sekarang juga tidak berani maju karena takut.
Menoleh pandangannya kembali ke depan, Rin menatap Sesshoumaru yang mengamuk di depan. Dengan kondisinya yang seperti itu, kisaki tanah barat bisa mengerti kenapa Jaken dan Ah-un tidak berani melangkah mendekati penguasa tanah barat tersebut.
"Ah-un," panggil Rin pelan. Seulas senyum kecil mengembang di wajahnya. "Turunkan Rin."
Ucapan Rin membuat Ah-un segera menekuk kaki ke bawah. Dengan hati-hati, Rin turun dari atas perana youkai naga itu dan berdiri tegak.
"R-rin," panggil Jaken kebingungan. Wajahnya yang pucat pasi menatap wajah Rin yang tetap tenang. "A-apa yang ingin kau lakukan?"
Rin membalas tatapan Jaken. Tapi, dia tetap diam membisu tidak menjawab pertanyaan youkai katak tersebut. Seulas senyum lembut menghiasi wajahnya—senyum yang sangat indah.
Menoleh wajah kembali lagi ke depan. Mengumpulkan segenap kekuatan dan tenaga yang ada, dengan tangan kanan yang menyentuh perut besarnya, Rin melangkah maju dengan pelan.
Jaken dan Ah-un terkejut dengan apa yang dilakukan Rin. Mereka berdua ingin menghentikannya, namun, ketakutan serta tekanan dari Sesshoumaru yang ada di depan membuat mereka tidak dapat bergerak sama sekali.
"R-rin..." panggil Jaken berusaha mengeluarkan keras suaranya. Dia ingin berteriak, namun yang keluar dari mulutnya hanyalah suaranya yang pelan dan terbata-bata. "K-kembali... J-jangan kesana.."
Rin bisa mendengar suara Jaken, hanya saja, dia tidak mempedulikannya. Terus melangkah, meski sulit karena badannya yang lemah dan tidak bertenaga, kedua matanya terpusat pada sosok asli Sesshoumaru.
Badan anjing yang luar biasa besar, bulu putih yang telah berubah menjadi merah karena darah, mata merah darah kehitaman penuh kegilaan, serta taring dan cakar panjang yang mencabik-cabik badan para manusia—sosok Sesshoumaru, sang penguasa tanah barat sekarang memang akan membuat siapapun ketakutan.
Namun, tidak untuknya; Rin—tidak takut.
Seperti apa wujud Sesshoumaru, tidak peduli manusia ataupun seekor anjing—dalam mata Rin, Sesshoumaru tetaplah Sesshoumaru. Dia tidak mencintai Sesshoumaru karena rupa rupawannya, seperti apa rupa Sesshoumaru, dia tetap akan mencintainya—dia mencintainya karena; Sesshoumaru adalah Sesshoumaru.
Sesshoumaru adalah penyelamatnya. Orang yang memberikannya hidup, memberikannya kebahagiaan—dunianya. Bagaimana Rin bisa takut?
Terlebih lagi, Rin tahu alasan inuyoukai itu menjadi seperti ini. Para manusia yang datang untuk membunuhnya berserta anak dalam perut, lalu sumpah yang diucapkan Sesshoumaru untuk melindungi dan membunuh siapapun yang berani mencoba melukai mereka—Sesshoumaru menjadi seperti ini adalah demi dirinya dan Shura.
Karena itulah, dunia boleh takut pada Sesshoumaru yang seperti itu, tapi tidak untuk Rin, selamanya; dia tidak takut.
Tersenyum, mata coklat Rin melembut. Terus melangkah menginjakkan kakinya yang tidak beralas pada genangan darah merah ada, dia memanggil inuyoukai di depan pelan. "Sesshoumaru-sama.."
Di atas benteng, Inuyasha, Kagome dan yang lainnya menyadari kehadiran Rin yang berada di bawah. Ketakutan memenuhi hati mereka, bagaimana wanita manusia itu bisa berada di sana?? Apa yang terjadi di depan mata dan juga aura youki Sesshoumaru yang mengerikan tidak membuat seorangpun menyadari keberadaan Rin di bawah sampai sekarang.
Tidak mempedulikan apapun, Inuyasha, Inukimi, Kiri dan Kira segera meloncat turun dan berlari ke arah Rin. Begitu juga dengan Kohaku yang berada di kejauhan, mereka semua berlari menuju arah wanita manusia yang berdiri sendiri dalam genangan darah merah secepat yang mereka bisa.
"Rin!!"
"Rin-kecil!"
"Rin-sama!!"
"Rin!!"
Rin membalikan badan ke belakang pada sumber suara yang memanggil namanya. Mata coklatnya melihat Inuyasha, Inukimi, Kiri, Kira dan Kohaku yang mendekatinya.
"Kenapa kau ada di sini, Rin-kecil?" tanya Inukimk cepat dan mengenggam erat tangan Rin.
"Kembali ke kamarmu, Rin," perintah Inuyasha, wajahnya serius menatap Rin yang menatap mereka polos. "Jangan membuat masalah di sini."
"Di sini berbahaya, Rin." tambah Kohaku cepat. Kekhawatiran dan kepanikan terlihat jelas di wajahnya.
"Kami akan mengantar anda kembali ke kamar anda, Rin-sama." sela Kiri dan Kira bersamaan dengan wajah mereka yang tanpa ekspresi, tapi kekhawatiran terlihat di mata emas mereka yang identik.
Sikap dan ucapan Inuyasha, Inukimi, Kohaku, Kiri dan Kira membuat Rin kembali tersenyum. Menarik tangannya yang digenggam Inukimi, dia menggeleng kepala. "Tidak. Rin tidak akan kembali—tidak untuk sekarang."
"Rin!!" suara Inuyasha meninggi. Kedua mata emasnya menatap tajam Rin, terlihat jelas jika wanita manusia itu tidak bersedia, dia akan memaksanya kembali ke dalam istana.
Baik Inukimi, Kohaku, Kiri maupun Kira diam membisu. Tapi, pandangan mata mereka jelas tidak berubah yakni; tidak ingin Rin berada di tempat berbahaya ini lagi.
Rin tetap tersenyum. Menurunkan pandangan mata pada perut besarnya, dia mengelusnya pelan. Lalu, saat dia mengangkat kepalanya lagi ke atas, dia tertawa kecil. "Maafkan Rin."
Bersamaan dengan ucapannya, angin kuat yang berpusat pada Rin tiba-tiba berhembus dan menghempas Inuyasha, Inukimi, Kohaku, Kiri dan Kira jauh ke belakang.
Wajah Inuyasha, Inukimi, Kohaku, Kiri dan Kira memucat luar biasa saat melihat apa yang terjadi. Angin yang tidak wajar ini, mereka tahu, adalah kekuatan meido seki. Tapi, yang paling penting, mereka tahu jelas, apa efek samping dari menggunakan meido seki bagi wanita manusia itu.
Melompat dan mendarat ke belakang, Inuyasha, Inukimi dan yang lainnya bersiap sedia berlari ke depan ke arah Rin lagi. Namun, baru beberapa langkah mereka ambil, sebuah kekkai kasat mata menghentikan mereka.
__ADS_1
"Rin!! Kembali!!" panggil Inuyasha panik melihat Rin yang masih berdiri dengan senyum di wajah. Lalu, kepanikannya semakin menjadi saat melihat badan besar Sesshoumaru yang berada dalam wujud aslinya tiba-tiba berlari ke arah wanita manusia tersebut.
Kondisi Sesshoumaru sekarang tidak stabil, Inuyasha yang melihatnya tahu. Dia tidak tahu apa yang akan dilakukannya pada Rin, bagaimana jika kakak seayahnya itu tidak mengenali wanita manusia itu?
"Rin!!!"
....xOxOx....
Sesshoumaru tidak bisa merasakan apapun kecuali niat untuk membunuh. Tidak ada yang mampu menghentikannya sekarang, dan semakin dia membunuh, semakin gembira dirinya. Suara teriakan kesakitan, ketakutan serta permintaan maaf para manusia yang ditangkap telinga tidak dipedulikannya. Merasakan tulang yang remuk diinjaknya, merasakan darah merah yang membasahi bulu putihnya, serta merasakan badan manusia yang putus dan hancur karena taring serta cakarnya—dia merasa puas.
Sesshoumaru tidak pernah membunuh seperti ini sebelumnya, menyerahkan dirinya sepenuhnya pada insting youkainya yang haus darah. Tapi—perasaan ini juga tidak buruk baginya.
Manusia yang datang mengusik keluarganya, Sesshoumaru tidak memiliki belas kasihan sedikitpun. Dia akan membunuh mereka semua hingga tidak tersisa.
"Sesshoumaru-sama.."
Suara pelan bagaikan dentingan lonceng yang dibawa angin tertangkap telinga Sesshoumaru. Dalam segala suara teriakan, tangisan dan perminta maaf para manusia, penguasa tanah barat dapat mendengar jelas suara dari seorang wanita memanggil namanya lembut.
Tertegun, Sesshoumaru berhenti membunuh. Menoleh pandangannya, di kejauhan, dia bisa melihat sosok seorang wanita manusia berjalan di atas genangan darah merah.
Dalam balutan kimono putih, dengan kaki tidak beralas dan melangkah pelan. Kedua tangannya menyentuh perut besar dengan hati-hati, dan seulas senyum memenuhi wajah cantiknya yang pucat.
Rin.
Perasaan tertegun Sesshoumaru berubah menjadi kebingungan, dan sedetik kemudian, kebingungan berubah menjadi ketakutan. Di kejauhan, dia bisa melihat Inuyasha, Inukimi, Kohaku, Kiri dan Kira mendekati Rin. Rin yang membalikkan badan berbicara dengan mereka, lalu—angin kuat yang berpusat pada wanita manusia itu menghempas Inuyasha dan yang lainnya ke belakang.
Ketakutan dalam hati semakin kuat, sebab Sesshoumaru tahu, angin yang menghempas Inuyasha dan yang lainnya adalah kekuatan meido seki. Dia bisa melihat jelas juga kekkai kasat mata yang kemudian muncul memisahkan Rin dan Inuyasha.
Kenapa Rin ada di sini, Sesshoumaru tidak tahu, dan bagaimana Rin masih menggunakan meido seki saat keadaannya sudah melemah seperti itu?
Bayangan Rin yang berbaring dengan wajah pucat dan jantung terhenti memenuhi pikiran Sesshoumaru. Tidak mempedulikan apapun, sang penguasa tanah barat berlari ke arah wanita manusia yang paling berharga baginya—tidak dipedulikan sedikitpun para manusia yang terseret olehnya.
Bagaimana kalau jantung wanita manusia itu berhenti lagi? Bagaimana kalau wanita manusia itu tidak akan membuka matanya lagi?—tidak! Sesshoumaru tidak mengijinkan itu terjadi!!
Rin yang membalikkan badan kembali menatap Sesshoumaru bisa melihat inuyoukai itu berlari ke arahnya. Semakin dekat jarak mereka, semakin jelas dia melihat betapa besar sosok asli dari pria yang dicintainya.
Kembali melangkah, Rin bergerak maju. Tatapan mata merah kehitaman serta gigi taring tajam yang terarah padanya tidak membuat dia gentar. Mengangkat tangan kanannya ke atas, dia kembali tersenyum. "Sesshoumaru-sama.."
Inuyasha, Inukimi, Kohaku, Kiri dan Kira, serta Kagome, Sango dan Miroku yang masih berada di atas benteng istana hanya dapat menahan napas melihat apa yang dilakukan Rin. Dengan kondisi Sesshoumaru sekarang, mereka hanya berharap inuyoukai itu mengenal dan tidak akan melukai wanita manusia itu. Akan tetapi, ketakutan mereka terbukti salah.
Seringai mengerikan di wajah Sesshoumaru menghilang. Menurunkan kepalanya yang besar ke depan Rin, dia bisa merasakan tangan mungil yang hangat menyentuh hidungnya.
"Sesshoumaru-sama," panggil Rin lagi dengan pelan. Menutup mata, dia kemudian tersenyum dan menempelkan keningnya pada hidung Sesshoumaru. "Tenanglah.."
Tangan dan kening Rin mengantarkan kehangatan pada seluruh tubuh raksasa Sesshoumaru. Menangkan semua perasaan dan insting membunuhnya yang ada, ketakutan dalam hatinya perlahan menghilang tanpa bekas. Menutup kedua mata, inuyoukai itu membiarkan kehangatan yang ada menyelimuti.
Inuyasha dan yang lainnya tidak berani bergerak. Melihat keadaan yang tidak tertebak ini, mereka diam membisu tidak tahu harus berbuat apa.
Pemandangan yang mereka lihat sekarang adalah sebuah pemandangan yang sangat kontras. Di bawah langit biru akhir musim gugur, dalam genangan darah merah dan tumpukan mayat manusia di sekitarnya, badan raksasa seekor anjing putih yang penuh bercak darah dan tubuh munggil seorang wanita manusia dalam kimono putih berdiri—youkai dan manusia.
Para prajurit manusia yang masih hidup menatap tidak percaya sosok wanita yang tiba-tiba muncul dan sang penguasa tanah barat di depan. Mereka tidak tahu siapa wanita itu, tapi melihat wajahnya yang sangat cantik dan perutnya yang besar, mereka sadar bahwa wanita itu kemungkinan besar adalah kisaki dari tanah barat; istri dari Sesshoumaru, sang penguasa tanah barat.
Namun, yang paling penting, tidak ada yang mengerti kenapa Sesshoumaru yang terus membunuh membabi buta tiba-tiba berhenti. Apakah kisaki tanah barat yang menghentikannya? Mungkin kah?
Harapan baru muncul dalam hati para manusia yang hidup. Melihat wanita manusia yang berhasil menenangkan sang penguasa tanah barat, mereka bagaikan melihat cahaya dalam kegelapan.
Beberapa prajurit yang terluka parah dan terseret kaki Sesshoumaru hingga cukup dekat dengan inuyoukai dan kisakinya berusaha bangkit berlutut menyembah. Suara tangisan mereka kembali terdengar memecahkan langit.
"Kisaki-sama!! Maafkan kami! Selamatkan kami!!"
"Kami yang salah!! Maafkan kami!!"
"Maafkan kami!! Ampuni kami!!"
Suara teriakan manusia yang keras membuat Rin membuka mata, begitu juga dengan Sesshoumaru. Bersamaan mereka berdua menoleh mata pada para prajurit yang berlutut menyembah meminta pengampunan.
Kemarahan kembali menguasai hati Sesshoumaru, mengeram mengerikan, dia menatap tajam para manusia yang menangis ketakutan. Beraninya para manusia ini meminta pengampunan?—lupakah mereka dengan apa tujuan mereka datang kemari pada awalnya?
Suara geraman Sesshoumaru yang mengerikan membuat Rin kembali menatap inuyoukai itu. Tersenyum sekali lagi, dia tahu apa yang membuatnya marah hanya dengan sekali lihat.
Perlahan, mata Rin kemudian menatap sekeliling. Di kejauhan dia bisa melihat sisa para prajurit manusia yang masih hidup. Dari prajurit para bangsawan, taijiya, miko, pendeta maupun biksu, mereka semua mengarahkan pandangan pada dirinya. Lalu, mata Rin juga bisa melihat, tumpukan mayat manusia yang hancur tidak dikenali lagi.
Pemandangan di depan adalah pemandangan yang menakutkan, Rin mengakuinya. Tapi, dari pada takut, jauh dalam hati dia lebih merasa—bersalah.
Rin tahu mengenai manusia yang akan datang, dan dia juga tahu, Sesshoumaru yang akan maju menghadapinya. Konsekuensi dan akhir bagi para manusia itu adalah; kematian. Tapi, meski memgetahui itu semua—dia tidak menghentikan Sesshoumaru.
Rin tidak meminta atau memohon pada Sesshoumaru untuk mengampuni para manusia. Kenapa? karena—dia egois.
__ADS_1
Manusia yang mengincar hidupnya dan Shura, Rin berpikir, mungkin ada baiknya jika mereka menghilang semua, sebab dengan begitu, di masa depan nanti, Shura tidak akan menghadapi mereka lagi. Mereka tidak akan dapat menganggu putranya lagi, dan putranya akan tumbuh besar dengan baik dan bahagia.
Rin berpikir, bolehkan dia melakukan itu? Bolehkan dia menutup mata dan berpura-pura tidak tahu akan apa yang terjadi? Ya, dia boleh membiarkan para manusia itu mati. Karena itu, dia membiarkan Sesshoumaru menciptakan neraka di depan mata.
Tapi, melihat neraka itu dengan kepala mata sendiri, Rin tahu—keputusannya; salah.
Sampai detik ini, sejujurnya, Rin tidak mengerti, kenapa semua ini bisa terjadi? Di mana letak kesalahan hingga keadaan menjadi seperti ini?—dirinya tidak mengharapkan apa-apa selain; bersama mereka yang dia cintai dan mencintainya.
Kebahagiaan.
Apa itu kebahagiaan? Kebahagiaan adalah saat kau bersama orang yang kau cintai dan mencintaimu. Bagi Rin, bersama Sesshoumaru dan Shura sekarang adalah kebahagiaan terbesar dalam keberadaannya—karena dia adalah seorang istri dan juga; ibu.
Namun juga, hari ini, dari sekian banyak manusia yang datang dan mati, berapa banyak yang merupakan seorang suami?—semua yang ada di sini merupakan anak dari seorang wanita yang dipanggil; ibu.
Seperti Sesshoumaru dan Shura yang merupakan kebahagiaannya, semua manusia di hadapannya adalah juga merupakan kebahagiaan dari orang lain.
Rin tidak ingin kehilangan Sesshoumaru maupun Shura, jadi bagaimana dengan istri dan ibu lainnya? Betapa menderitanya mereka jika mereka kehilangan keberadaan yang begitu penting bagi mereka.
Kebahagiaan.
Kebahagiaan yang begitu dia dambakan untuk terus belanjut tidak terputuskan, Rin ingin membangunnya, namun, dia tidak bisa membangunnya di atas penderitaan orang lain.
Rin menutup mata dan menghela napas pelan. Mengelus perutnya penuh kasih sayang, seulas senyum sendu menghiasi wajahnya—Ah, maafkan Rin, Shura. Maafkan ibundamu yang tidak bisa egois. Ibundamu ini tidak bisa membantumu menghilangkan salah satu masalah di masa depanmu.
Membuka mata, Rin mengangkat kedua tangannya menyentuh meido seki merah di dadanya. Meido seki berdetak seperti biasa seirama jantungnya dan Sesshoumaru.
Tertawa kecil, Rin teringat akan perang barat dan selatan. Saat itu meido seki bersinar di tangannya untuk pertama kali. Hari itu, dia juga berpikir tentang kebahagiaan. Jika hari itu, dia memikirkan kebahagian para youkai, maka hari ini, dia berpikir lagi akan kebahagiaan; kebahagiaan para manusia. Karena itu—ne, meido seki-sama, bisakah anda bersinar sekali lagi?
Bagaikan matahari di atas langit, meido seki di dada Rin kembali bersinar. Angin kuat berhembus, cahaya yang sangat terang dan menyilaukan, menyapu pandangan menghantarkan kehangatan—seimei no hikari.
Cahaya yang bersinar, kehangatan yang dihantarkan, Sesshoumaru yang ada di belakang Rin terkejut dan kembali ketakutan. Cahaya ini dia kenal, cahaya yang sama dengan cahaya dalam perang barat dan selatan, cahaya meido seki yang menghidupkan semua yang mati.
Badan Sesshoumaru bergerak maju, seketika sosok aslinya yang merupakan seekor anjing besar kembali pada sosok manusianya. Mengkat kedua tangan kanannya, tidak mempedulikan cahaya menyilaukan mata yang ada, dia memeluknya erat badan Rin dari belakang. "Rin!! Hentikan!! Sesshoumaru ini memerintahkanmu berhenti!!!"
Cahaya yang muncul tiba-tiba, menghilang juga dengan tiba-tiba. Dalam beberapa kedipan mata, cahaya yang begitu menyilaukan mata sirna tidak berbekas.
Kedua kaki Rin kehilangan kekuatan, Sesshoumaru yang menyadarinya segera berjongkok ke bawah. Menatap wajah wanita manusia yang masih berada dalam pelukannya, kepanikan dan ketakutan luar biasa tidak tersembunyi lagi dari wajah. "Rin."
Yang dilihat Sesshoumaru adalah seulas senyum lemah di wajah cantik yang pucat. Senyum yang selalu sama dan sangat dicintainya—senyum musim semi abadi yang terukir abadi dalam keberadaannya.
"Rin tidak apa-apa, Sesshoumaru-sama," mengangkat tangan kanannya pelan, Rin menyentuh pipi Sesshoumaru."Jangan berwajah seperti ini.."
Sesshoumaru tidak membalas ucapan Rin. Menangkat tangan kanan menangkap tangan yang menyentuh pipinya, dia menutup mata dan menciumnya kuat, seakan berusaha menyakinkan yang dilihatnya sekarang bukanlah ilusi dan kisakinya tidak apa-apa.
Perlahan, Rin kemudian menolehkan pandangan matanya ke depan, ke arah para manusia yang ada. Senyum di wajahnya semakin melembut, begitu juga dengan pandangan matanya.
Di hadapannya sekarang, semua manusia menatapnya tidak percaya. Genangan darah merah memang masih ada, tapi, tidak ada lagi mayat manusia yang hancur tidak berbentuk. Semua yang mati, kini hidup kembali, begitu juga dengan luka di badan.
Keheningan memenuhi tempat, para manusia tidak tahu apa yang terjadi, tapi mereka bisa melihat mereka yang mati telah di hidupkan kembali. Kisaki tanah baratkah yang melakukannya?—wanita yang mereka harapkan kematiannya kah yang menyelamatkan mereka?
"Pulanglah.." suara Rin yang pelan memecahkan keheningan. "Pulang dan jangan kemari lagi.."
Tidak semua manusia bisa mendengar ucapan Rin, tapi, mereka yang berada paling dekat bisa mendengarnya jelas.
"Pulanglah pada keluarga yang menunggu kalian.." lanjut Rin lagi dengan senyuman lembut di wajah yang tidak berubah. "Jangan membuat mereka bersedih.. Berbahagialah..."
Para manusia kebingungan, tidak mengerti. Menatap senyum lembut Rin, mereka tidak tahu harus berbuat apa.
Rin tidak mengatakan apa-apa lagi. Menatap semua yang telah hidup dan baik-baik saja, perlahan, dia menutup matanya. Kelelahan luar biasa dirasakannya, tapi kedamaian memenuhi hati. Semuanya telah baik-baik saja—dia sudah boleh beristirahat.
Tangan kanan Rin yang berada di pipi Sesshoumaru jatuh ke bawah. Membuka mata, kepanikan di wajah Sesshoumaru kembali memenuhi wajah. Tapi, melihat wajah yang tertidur damai, dia hanya dapat memeluk kembali badan mungil itu sambil menutup mata kuat dan mengertakkan giginya kuat.
Para manusia tetap kebingungan tidak berani bergerak. Keheningan kembali memenuhi tempat, hingga akhirnya suara Sesshoumaru terdengar.
"Enyah." suara Sesshoumaru datar dn pelan. Namun, penuh dengan emosi tidak terjelaskan dan membuat para manusia menatap sang penguasa tanah barat dengan kebingungan yang tidak berubah.
Mengangkat wajah kembali pada para manusia, mata emas Sesshoumaru berubah kembali menjadi merah darah kehitaman, ujung bibirnya terangkat menunjukkan taring yang tajam dan kemarahan luar biasa.
"Enyah dari sini!!"
Suara teriakan kuat Sesshoumaru terdengar jelas. Seketika juga, para manusia yang ada segera berlari meninggalkan tempat mereka. Kamarahan sang inu daiyoukai penguasa tanah barat, mereka tidak mau menghadapinya lagi untuk kedua kali.
Membuang senjata di tangan, para manusia berlari cepat menyelamatkan diri mereka sendiri, tidak terkecuali para bangsawan. Para taijiya, miko pendeta dan biksu yang ada juga segera lari. Mereka tahu, tidak peduli apa yang mereka lakukan, mereka tidak akan mungkin dapat mengalahkan sang penguasa tanah barat.
Sesshoumaru tidak mempedulikan lagi para manusia yang melarikan diri. Kembali menatap Rin, dia berdiri dan mengangkat badan mungil dalam pelukan terbang kembali ke dalam istana.
....xOxOx....
__ADS_1