![Till The End Of Time [ Inuyasha Fanfiction ]](https://asset.asean.biz.id/till-the-end-of-time---inuyasha-fanfiction--.webp)
Akihiko menatap dalam diam adegan peluk-pelukan yang ada di depannya, kebingungan, tidak tahu harus berbuat apa. Melihat Shura yang membalas pelukan mereka, membenamkan wajahnya di dada Shiro, ada kesedihan yang memenuhi dirinya.
Keluarga.
Pemandangan di depannya memang merupakan pemandangan sebuah keluarga. Shura mengakui mereka. Inuyoukai yang selalu dingin dan tidak mempedulikan sekelilingnya, dari dalam hatinya telah mengangap mereka sebagai keluarganya, tidak seperti dirinya...
"Lepaskanlah Shura-sama, Akihiko-sama," ujar Tsubasa pelan tiba-tiba dari samping Akihiko. "Sudah saatnya anda melepaskannya. Shura-sama bukan milik selatan. Meski raga berada di selatan, jiwanya selalu berada di barat, berada di tempat di mana dirinya berasal. Beliau bukan anak anda, Akihiko-sama...."
"Aku tidak ingin dia terluka, Tsubasa." Potong Akihiko pelan.
"Maafkan kelancangan hamba. Tapi, hentikanlah sikap anda itu. Anda tahu sendiri, bukan? Beliau kuat, sangat kuat. Beliau pasti mampu menghadapi kenyataan itu."
Akihiko kembali diam membisu.
Tsubasa kemudian menolehkan wajah menatap Shura yang masih berada dalam pelukan Shiro dan lainnya. "Dan juga, lihatlah, ada yang berdiri di sampingnya sekarang. Beliau tidak sendirian lagi..."
Akihiko tetap diam membisu, tapi dia juga tahu. Apa yang dikatakan Tsubasa benar. Shura tidak sendirian lagi, kini, di sampingnya telah ada mereka yang akan membantu, membela dan melindunginya dari apapun—keluarganya. Hanya saja, Tsubasa mungkin tidak pernah tahu, betapa berat hatinya untuk mengijinkan Shura meninggalkan selatan. Walau rupa dan juga sikap inuyoukai itu bagaikan Sesshoumaru yang dibencinya, dia selalu bisa melihat bayangan dari gadis manusia yang begitu dicintainya. Dia bisa mengingat wajah, suara, senyum dan tawa gadis itu hanya dengan melihat wajah Shura—mengingat Rin yang telah tiada dengan sejelas-jelasnya.
Melihat Shura, dia hanya bisa bertanya-tanya pada diri sendiri, kenapa Shura bukanlah anaknya? Bukan darah dagingnya? Kenapa satu-satunya peninggalan Rin yang begitu berharga bukanlah anaknya? Dulu dia bisa menyerah dan melepaskan Rin karena dia bisa melihat betapa bahagianya gadis itu saat berada di samping Sesshoumaru. Tapi, Sesshoumaru membiarkannya mati. Tanpa melakukan apa pun, dia membiarkan Rin mati begitu saja. Betapa dia membenci inuyoukai tersebut untuk hal itu. Jika saja dia tahu, inilah yang akan terjadi, seharusnya dia tidak menyerah dulu. Seharusnya dia merebut Rin tidak peduli apa pun yang terjadi, sebab dengan begitu, gadis itu pasti masih hidup, tersenyum dan tertawa sebagaimana mestinya.
Tsubasa hanya diam membisu menatap Akihiko. Melihat mata biru yang menatap sosok Shura. Dia tahu apa yang ada dalam pikiran Penguasa Tanah Selatan.
Rin.
Akihiko pasti memikirkan gadis itu lagi. Betapa Akihiko mencintai Rin, dia tahu. Tapi, betapa sakit hatinya melihat itu, Akihiko mungkin tidak pernah tahu. Meski dia adalah Selir kesayangan yang setia menemaninya, dia tidak pernah berhasil mendapatkan cinta dari youkai Penguasa Tanah Selatan. Dan dia sadar, itu sudah sewajarnya, sebab dirinya tidak mungkin bisa dibandingkan dengan gadis yang begitu istimewa itu—gadis yang dipuja dan dihormati oleh semua yang ada di barat dan selatan.
Dulu sekali, saat dia pertama kali mengetahui Akihiko mencintai Rin, dia pernah berusaha untuk membenci gadis itu. Tapi, itu mustahil. Sebab, siapa yang mampu membenci gadis itu jika sudah mengenalnya? Saat gadis itu menghembuskan napas terakhir dan menghilang dari dunia ini, dia pernah berpikir, mungkin Akihiko akan berhenti mencintai gadis itu seiring waktu berjalan. Namun, betapa salahnya dia. Akihiko tidak pernah berhenti mencintai Rin. Dia tetap mencintainya hingga kini.
Bodoh.
Mencintai seorang manusia, mencintai seorang wanita yang tidak mencintainya, mencintai seorang wanita yang merupakan milik orang lain sejak awal hingga akhir, betapa bodohnya Akihiko, Sang Penguasa Tanah Selatan.
__ADS_1
Lalu, betapa bodohnya dirinya. Dirinya yang masih saja terus mencintai youkai itu dan berharap suatu hari nanti akan mendapatkan cinta yang begitu didambakannya. Ya, dirinya mungkin lebih bodoh. Tapi, apa dayanya? Apa yang bisa dilakukannya? Tidak ada.
Youkai adalah makhluk paling superior di dunia. Tidak ada gunanya berperasaan. Perasaan hanya akan membuatmu lemah. Perasaan hanya akan membuatmu musnah. Youkai adalah makhluk yang bisa hidup sendirian.
Kalimat yang selalu diajarkan dan didengarnya sejak dulu terlintas dalam pikirannya. Sebuah senyum kecil terlintas di wajah cantik Tsubasa. Jika saja dia benar-benar bisa hidup dengan prinsip itu, betapa hidupnya akan menjadi lebih mudah, sederhana dan bahagia.
Cinta.
Cinta membelenggu mereka—dirinya dan Akihiko. Cintanya membuat dirinya terperangkap di sini. Cintanya adalah sebuah sangkar yang menahan dirinya untuk terbang di atas langit biru. Namun, untuk Akihiko, cintanya membuat Shura yang terperangkap di sini, cintanya pada Rin kini telah menjadi sebuah penjara bagi inuyoukai kecil itu, dan Tsubasa tahu, betapa salahnya itu.
Melangkahkan kakinya dengan pelan, Tsubasa mendekati Shura dan yang lainnya. Shura, Shiro dan yang lainnya segera menatap penuh kebingungan Selir itu. Sebuah senyum mengembang di wajah cantik Tsubasa melihat reaksi mereka itu. Dengan pelan lagi, dia kemudian membalikkan badannya menatap Akihiko dengan senyum lembut yang masih ada di wajah. "Hamba juga, Akihiko-sama. Hamba memihak Shura-sama."
Mata Shura, Shiro dan yang lainnya terbelalak karena terkejut, begitu juga dengan Akihiko. Tidak pernah mereka menyangka akan ada hari di mana Tsubasa akan menentang Akihiko. Shiro dan yang lainnya segera melepaskan pelukan mereka. Shura berjalan mendekati Tsubasa, menatap penuh kebingungan Selir tersebut, "Apa maksud ucapan anda barusan, Tsubasa-sama?" tanyanya.
Tsubasa tidak menjawab pertanyaan tersebut, dia hanya tersenyum lembut menatap Shura dan membuat semua yang di sana kebingungan. Dengan pelan, dia kemudian mengangkat wajah menatap Akihiko lagi. "Bebaskanlah Shura-sama, Akihiko-sama. Hentikan kegoisan anda ini. Sudah saatnya semua ini berakhir..."
Sudah saatnya ini semua terselesaikan. Tsubasa tahu, tidak lagi demi cara mencintai yang salah, tidak lagi demi kebodohan yang sangat lucu. Sudah saatnya Shura bebas, dan juga, sudah saatnya dirinya bebas.
Akihiko tertegun mendengar ucapan Tsubasa. Kedua matanya terbelalak. Namun, sejenak kemudian, ekspresi wajahnya segera kembali seperti semula.
Egois.
Dia memang egois, sangat egois. Dia sebenarnya sudah tahu, tidak peduli betapa keras dia mengubahnya, dia tidak akan pernah berhasil. Shura tidak akan pernah menjadi miliknya, sama seperti halnya Rin yang tidak pernah menjadi miliknya.
Menatap wajah Tsubasa sekarang. Dia hanya bisa merasakan dua hal, yakni; penderitaan dan kesedihan. Kepada Tsubasa yang telah melayani dan mencintainya selama ratusan tahun, yang dapat dia berikan hanyalah penderitaan dan kesedihan. Dia pernah berpikir, kenapa dia tidak mencintai Tsubasa saja? Kenapa dia tidak memberikan cintanya pada Tsubasa saja? Hidupnya dan Tsubasa pasti akan sangat memuaskan dan bahagia jika benar seperti itu. Tapi, cinta memang aneh. Dia tidak bisa melakukan itu. Tidak peduli berapa keras dia mencoba untuk melupakan Rin dan mencintai Tsubasa, dia terus saja gagal. Dia tidak bisa mencintai Tsubasa sebagaimana dia mencintai Rin.
Menghela napas, Akihiko mengangkat kepala menatap langit biru di atas.
Sudah saatnya semua ini berakhir.
Kalimat itu terus berputar dalam kepala Akihiko. Dan dia tahu, itu benar. Sudah saatnya dia menghentikan keegoisannnya yang membuat Shura serta Tsubasa menderita. Sudah saatnya dia membebaskan mereka berdua.
__ADS_1
"Pergilah," ujar Akihiko pelan tiba-tiba. "Pergilah ke mana kau mau. Aku tidak menginginkanmu menjadi penerusku lagi, Shura..."
Mata Shura dan yang lainnya terbelalak mendengar ucapan Akihiko.
"A-apa kata anda?" tanya Shura terbata-bata, terkejut dengan kejadian yang tidak pernah diduganya.
"Aku tidak akan mengulang kataku lagi. Pergi. Lupakan taruhan kita dulu. Pulanglah ke barat." Jawab Akihiko sambil menatap Shura.
Tidak percaya dengan apa yang didengarnya, Shura kembali membuka mulut untuk bertanya. Namun, Shiro yang ada di sampingnya menutup mulutnya. Hanyou itu segera menoleh wajah menatap Mamoru, Aya dan Maya. Mengerti apa maksud tatapan Shiro, Mamoru segera bersiul memanggil Kirara.
Kirara, Youkai kucing itu segera berlari mendekat dalam wujud aslinya yang besar. Tidak membuang waktu, Mamoru segera membopong Sakura. Bersama dengan kedua saudaranya, mereka melompat ke punggung youkai tunggangan mereka. Begitu juga dengan Shiro, dia tidak membuang waktu yang ada, dia segera mengendong Shura di punggungnya. Kirara segera meloncat terbang ke atas langit. Namun, saat Shiro akan meloncat, Shura tiba-tiba mengangkat tangan menarik telinga anjing hanyou tersebut.
"Ahhh! Apa yang kau lakukan?" teriak Shiro kesakitan dan menoleh kepala menatap inuyoukai di punggungnya.
"Aku yang seharusnya bertanya, apa yang kau lakukan?" tanya Shura kembali dengan wajah tanpa ekspresi.
"Tentu saja meninggalkan selatan, bodoh!" balas Shiro kesal. Youkai seperti Akihiko adalah youkai yang sangat egois dan tidak dapat ditebak sikapnya. Dia mengatakan akan membiarkan Shura meninggalkan barat sekarang, namun, mungkin saja, sedetik mendatang, keputusannya itu akan berubah. Dia mungkin tidak akan mengijinkan Shura pergi sebentar lagi, karena itu, mereka tidak boleh menyiakan kesempatan emas yang mereka miliki. Jujur saja, meski mereka semua menggabungkan kekuatan, dia ragu mereka dapat mengalahkan Penguasa Tanah Selatan itu.
"Turunkan aku." perintah Shura kemudian.
"Turunkan?" tanya Shiro frustasi. "Enak saja! Tidak akan!"
"Pergilah Shura-sama," sela Tsubasa tiba-tiba dengan pelan. "Pulanglah ke barat. Anda sudah tidak perlu lagi berada di sini."
Kebingungan, Shura kemudian menoleh kepala menatap Akihiko lagi. Penguasa Tanah Selatan itu tetap diam membisu. Wajahnya tetap santai seperti biasa, tapi, melalui matanya, inuyoukai kecil itu bisa melihat adanya kesedihan. Akihiko tidak berbohong, dia benar-benar akan membiarkan dirinya pulang ke barat.
Melihat Shura yang tidak memberontak lagi, Shiro langsung berlari menjauh meninggalkan tempat mereka. Namun, baru tiga langkah diambilnya, lagi-lagi Shura menarik telinga hanyou itu dan menghentikannya.
"Tarik sekali lagi, dan aku benar-benar akan melemparmu keluar dari istana ini, Shura!" teriak Shiro penuh kemarahan.
Shura tidak mempedulikan Shiro, dia menoleh kepala menatap Akihiko dan juga Tsubasa. Dia tidak tahu mengapa Akihiko membebaskannya, megijinkannya pulang ke barat. Dan meski, ini adalah hal yang sangat diharapkannya, dia tidak merasa puas. Dia memang ingin pulang ke barat dan meninggalkan selatan untuk selamanya, tapi, ini salah. Bukan seperti ini. Memusatkan pandangannya pada Penguasa tanah Selatan lagi, Shura membuka mulutnya. "Aku akan kembaii lagi ke sini setelah urusanku di barat selesai. Aku tidak akan benar-benar pulang ke barat sebelum berhasil mengalahkan anda dan memenangkan pertarungan kita, Akihiko-sama.."
__ADS_1
.xOxOx.