![Till The End Of Time [ Inuyasha Fanfiction ]](https://asset.asean.biz.id/till-the-end-of-time---inuyasha-fanfiction--.webp)
"Shiro! Tunggu!" panggil Mamoru panik sambil mengejar Shiro.
Shiro tidak mempedulikannya, dia terus saja berlari mengikuti bau yang dicarinya. Dengan kecepatan yang dimilikinya sebagai hanyou, hanya dalam hitungan perdetik saja, Mamoru yang ada dibelakang telah kehilangan dirinya. Hati hanyou itu sedang dipenuhi kemarahan. Saat dia mendengar cerita dari Tsubasa, mengenai kenapa Shura ada di selatan, dan juga alasan kenapa inuyoukai kecil itu terus bertarung -dia tidak bisa tidak berdiam diri lagi, sebab semua ini salah.
"Akihiko!" teriak Shiro sambil membuka pintu ruang kerja Akihiko. Dia tahu, youkai itu ada di dalam, bau dan youki-nya jelas telah menunjukkan keberadaannya.
Akihiko yang sedang duduk di atas kursi membaca gulungan-gulungan dokumen kerjanya mengangkat kepala menatap hanyou di depannya. Dia sudah tahu Shiro berlari mencarinya penuh dengan kemurkahan. Dan secara pribadi, dia sebenarnya tidak tertarik sedikit pun untuk mengetahui kemarahan hanyou itu, tidak peduli apapun penyebabnya.
Shiro berjalan mendekati meja Akihiko. Kedua telapak tangannya langsung memukul meja Sang Penguasa Tanah Selatan dan menciptakan bunyi yang sangat keras. Sedangkan kedua mata emasnya menatap tajam youkai di depannya.
"Jangan pernah kau kira karena kau adalah sepupu Shura, aku akan mentoleransi semua tingkahmu, hanyou." Kata Akihiko pelan dan kembali membaca gulungan di tangannya, walau tidak dapat dipungkiri ada ancaman di dalamnya.
"Apa maksudmu itu, hah?! Kenapa kau melakukan semua itu pada Shura?!" teriak Shiro penuh kemarahan, tidak mempedulikan ancaman yang didapatkannya.
Pertanyaan Shiro membuat Akihiko berhenti membaca gulungan di tangannya, kepalanya terangkat ke atas menatap hanyou tersebut. "Karena ini adalah yang terbaik."
Jawaban yang diberikan Akihiko tidak membuat surut kemarahan yang ada dalam hati Shiro, malahan kemarahan itu semakin memucak. "Apanya yang terbaik?!"
"Shura lebih baik tidak pernah tahu siapa itu Rin sebenarnya," balas Akihiko menatap tajam Shiro. Sikap yang ditujukan hanyou itu benar-benar membuat jengkel dirinya.
Shiro tertegun mendengar jawaban Akihiko. Namun, sedetik kemudian, kemarahan kembali menyelimutinya. "Apanya!?" teriaknya lagi.
"Rin mati karena Shura. Itu adalah kenyataan yang tidak pernah dapat diubah lagi. Dan yang paling penting, anjing itu juga tidak pernah menginginkannya."
Frustasi dengan jawaban Akihiko, Shiro mngangkat kedua tangannya mengacak-acak rambut perak panjangnya. "Ahhh! Tutup mulutmu, serigala sialan!"
Perintah dan juga hinaan Shiro berhasil membuat marah Akihiko. Kedua matanya langsung berubah menjadi merah darah. "Beraninya kau memerintahku diam, hanyou kecil!" katanya sambil menaikkan intonasi suaranya.
"Kenapa aku tidak berani! Kalian orang dewasa memang suka seenaknya saja!" balas Shiro keras. Tidak ada sedikitpun ketakutan di wajahnya melihat kemarahan di wajah Penguasa Tanah Selatan.
"Ka—"
"Kau tahu apa mengenai Shura, Rin dan Paman Sesshoumaru!" teriak Shiro lagi. "Tahu apa kau mengenai mereka?!"
Kata-kata Shiro membuat Akihiko tertegun. Dirinya langsung terdiam.
"Shura lebih baik tidak tahu siapa Rin itu sesungguhnya?! Rin mati karena Shura?! Paman Sesshoumaru tidak pernah menginginkan Shura?! Kau sama sekali tidak tahu apa-apa! Karena itu, jangan sembarangan mengambil asumsi seenak perutmu!"
__ADS_1
Akihiko tetap diam membisu mendengar kata-kata Shiro yang sedang mengatur napasnya karena berteriak keras tanpa henti penuh kemarahan. Sejenak kemudian saat napasnya telah kembali teratur, dia menatap youkai di depannya. Suaranya kemudian melemah hingga normal seperti biasanya. Kemarahan di matanya menghilang dan digantikan dengan sepasang mata sendu penuh kesedihan. "Kau tidak pernah melihatnya. Hubungan diantara mereka... Kau tahu apa tentang ikatan yang ada diantara mereka bertiga..."
Kalimat Shiro itu benar-benar membuat Akihiko terguncang hingga tidak tahu harus berkata apa.
Ikatan.
Ikatan yang ada diantara mereka bertiga. Penguasa Tanah Selatan teringat lagi akan jawaban yang pernah diberikan Shura padanya dulu, saat inuyoukai kecil itu memutuskan untuk melawannya dengan segenap kemampuannya, demi pulang mencari kebenaran.
Karena ikatan abadi yang ada...
Dia tidak pernah tahu. Akihiko mengakuinya, dia memang tidak pernah mengetahui ikatan yang mengikat mereka betiga. Sama seperti Rin, Shura tidak akan mungkin pernah menghianati Sesshoumaru, tidak peduli apa yang terjadi.
"Aku tidak akan membiarkamu," kata Shiro tiba-tiba dan menyadarkan Akihiko dari lamunannya. Mata biru langit itu langsung menatap kembali wajah hanyou di depannya. Kedua mata emas itu kini bersinar penuh keyakinan. "Aku tidak akan membiarkanmu. Aku akan membantu Shura untuk megalahkanmu. Dan aku akan membawanya kembali ke barat."
Akihiko tidak bergerak atau mengatakan sepatah kata pun. Tidak mempedulikannya, Shiro langsung membalikkan badan dan berjalan menjauh. Namun, sebelum dia meninggalkan ruang kerja Penguasa Tanah Selatan, dia menolehkan kepala menatap youkai serigala tersebut sekali lagi. "Aku lupa memberitahumu, kau mengatakan Shura tidak tahu siapa Rin itu sebenarnya, kan?"
Kalimat Shiro berhasil mendapat perhatian dari Akihiko. Wajahnya kembali menatap sosok hanyou di depannya.
"Shura tahu siapa Rin sebenarnya. Di dalam hatinya yang terdalam, dia sudah tahu siapa Rin itu sesungguhnya..."
Dia bisa mencium bau itu. Bau yang akan selalu dicintainya. Bau yang seperti seperti laut, seperti langit, seperti bunga, seperti musim semi-bau Rin.
"Shura..."
Suara dentingan lonceng itu terdengar lagi-suara Rin. Dengan pelan, dia membuka matanya. Senyum langsung merekah di wajahnya saat dia melihat senyum musim semi di wajah cantik yang begitu dicintainya.
Sebuah tangan besar dan hangat tiba-tiba menyentuh kepalanya, mengelus rambut peraknya dengan lembut. Dia segera menutup matanya dan tertawa. Dia kenal tangan hangat ini. Tangan pria yang selalu menjanjikannya keamannan dan pelindungan.
Dia tahu dimana dirinya berada sekarang. Dia berada dalam gendongan Rin yang sedang duduk di pangkuan pria itu -dalam dekapan pria itu.
"Shura, kami mencintaimu..."
Dia tertawa bahagia. Dia dicintai. Ya, dia dicintai oleh mereka berdua. Sayang sekali dia tidak dapat mengeluarkan suaranya. Jika saja bisa, dia ingin sekali memberitahu mereka berdua; cinta. Dia juga mencintai mereka berdua, sungguh-sungguh mencintai mereka.
Tangan pria itu kemudian bergerak memeluk Rin yang sedang mengendongnya. Pelukan itu sangat kuat, namun juga sangat lembut. Dia bisa merasakannya, betapa berharganya dirinya dan Rin bagi pria itu. Mereka adalah hidupnya, nyawanya, miliknya yang paling berharga-sesuatu yang tidak tergantikan dalam keberadaannya.
Dalam kebahagiaan dan kehangatan yang dirasakannya, tiba-tiba dia merasakan sesuatu yang cair dan hangat jatuh membasahi pipinya. Kebingungan, dia segera membkua kedua mata emasnya untuk melihat apa itu. Namun, betapa terkejutnya dia, saat menemukan sepasang bola mata coklat jernih besar yang menatapnya kini telah penuh dengan air mata kesedihan dan penyesalan.
__ADS_1
"Maaf... Maafkan Rin yang tidak beguna, Shura.."
Dia tidak mengerti. Dia memang sering melihat air mata di wajah itu. Namun, air mata yang dilihatnya selalulah air mata kebahagiaan, bukan air mata penuh kesedihan dan penyesalan. Tidak! Dia tidak ingin ekspresi dan air mata ini ada di wajah cantik itu. Sejak pertama kali membuka mata dan melihat wajah itu, dia sudah memutuskan, hanya senyum dan tawa penuh kebahagiaan yang boleh ada.
"Maafkan Rin, Maafkan Rin, Maafkan Rin...."
Pelukan pria itu semakin erat, begitu juga dengan tangis gadis manusia yang telah pecah. Dia tidak mau! Dia tidak mau mendengar suara tangis itu. Dia hanya mau mendengar tawa, hanya mau mendengar suara lembut yang membisikkan kata-kata yang bisa menenangkannya. Kenapa Rin terus meminta maaf padanya? Apakah karena dia berpikir dia telah melakukan suatu kesalahan kepadanya? Tidak apa-apa. Dia tidak akan pernah mempermasalahkannya. Rin tidak perlu meminta maaf padanya. Di dunia ini, Rin adalah salah satu dari dua orang yang tidak perlu mengatakan kata 'Maaf' padanya. Karena itu, Hentikan! Hentikan! Jangan meminta maaf!
Hentikan!
"Hentikan!"
"Kak Shura! Sadarlah!" panggil Sakura penuh kepanikan sambil memukul kedua pipi Shura.
Mata emas Shura terbuka. Dia langsung bangkit dari atas futon tempatnya berbaring. Napasnya tidak beraturan, dan keringat dingin mengalir menuruni wajahnya.
"Kak Shura! Kak Shura tidak apa-apa? Kak Shura bermimpi buruk, ya?" tanya Sakura sambil menatap wajah Shura penuh kekhawatiran.
Melihat wajah penuh kekhawatiran Sakura, Shura langsung menolehkan wajah menatap sekeliling. Dia berada dalam kamarnya. Napasnya yang tidak beraturan pun segera kembali normal. Yang barusan dialaminya hanyalah mimpi. Sebuah mimpi buruk...
"Kak Shura, ap- " kata Sakura lagi. Bingung melihat sikap Shura yang tidak seperti biasanya. Hanya saja, belum selesai dia menyelesaikan kalimatnya, pintu shoji kamar tiba-tiba terbuka.
"Shura!" teriak seseorang tiba-tiba.
Shura dan Sakura segera menolehkan wajah menatap pemilik suara itu, walau mereka berdua sebenarnya juga sudah tahu yang membuka pintu itu adalah Shiro melalui bau yang ditangkap hidung mereka.
Shiro berjalan masuk ke dalam diikuti ketiga saudara taijiya yang terlihat sangat kebingungan. Mata hanyou itu menatap lekat-lekat inuyoukai yang masih ada di atas futon. Tidak mempedulikan ekspresi semua yang ada, dia langsung berjalan ke depannya. Mengangkat kedua tangannya menyentuh pundak inuyoukai tersebut. "Aku akan membantumu." katanya penuh keyakinan. Mata emasnya bersinar penuh keyakinan.
Ucapan dan juga sikap Shiro yang tiba-tiba membuat bingung Shura walau wajahnya tetap saja tenang tanpa ekspresi, begitu juga dengan Sakura adn ketiga bersaudara taijiya yang ada dalam ruangan.
"Aku akan membantumu mengalahkan serigala berengsek itu." Ulang Shiro lagi.
Ya. Shiro tahu dan yakin sekarang. Dia akan membantu Shura agar dapat kembali ke barat. Pulang ke tempat seharusnya dia berada. Mungkin inilah penyebabnya dia memimpikan Rin tadi pagi, mimpi itu adalah mimpi untuk mengingatkan dirinya akan janji yang pernah dibuatnya saat masih kecil; janji untuk menjaga Shura.
Jika kelak, Shura mengalami kesulitan, apakah Shiro bersedia membantunya? Bersediakah Shiro membantu Rin menjaga Shura kelak?
Aku janji, Rin. Aku, Shiro berjanji padamu, Shiro pasti akan menjaga Shura kelak.
__ADS_1