![Till The End Of Time [ Inuyasha Fanfiction ]](https://asset.asean.biz.id/till-the-end-of-time---inuyasha-fanfiction--.webp)
"Sesshoumaru-sama."
Mata emas Sesshoumaru tidak berubah sedikitpun saat mendengar suara Rin yang meluncur keluar dari mulut Shui. Ekspresinya wajah datar tanpa emosi seperti biasa seakan suara yang didengarnya bukanlah sesuatu yang istimewa.
Shui tersenyum semakin lebar melihat reaksi Sesshoumaru yang tetap tenang. Suaranya sekarang pasti memiliki dampak yang luar biasa pada inuyoukai tersebut walau terlihat tetap tenang. Dulu maupun sekarang dan tidak akan pernah berubah untuk ke depannya, Rin adalah satu-satunya keberadaan yang dapat menguncang dunia penguasa tanah barat.
Meloncat ke belakang, Shui tertawa keras masih menggunakan suara Rin. Mendarat, dia menatap Sesshoumaru dengan senyum lebar di wajah yang tidak kunjung menghilang. "Sesshoumaru-sama."
Inuyasha, Kagome, Jaken dan yang lainnya kecuali Sakura yang memang tidak mengenal Rin tertegun. Mereka tidak mengucapkan sepatah katapun, suara yang familiar, suara anggota keluarga mereka yang telah tiada—mereka tidak menyangka akan mendengarnya seperti ini. Namun, sejenak kemarahan mememuhi hati.
Jika suatu hari nanti Rin benar-benar telah tiada. Bakarlah raga Rin. Biarkan abu Rin hilang dibawa angin. Sebab Rin tidak ingin raga tanpa jiwa Rin digunakan sebagai senjata untuk melawan Sesshoumaru-sama bagi siapa pun juga...
Keinginan Rin, mereka benar-benar tidak bisa menerima suara itu digunakan sebagai senjata dalam menghadapi Sesshoumaru.
Inukimi, Kenji, Kiri dan Kira yang tersegel dalam botol kaca juga memperlihatkan ekspresi kemarahan yang luar biasa. Untuk Rin yang rela raganya menjadi abu dibawa angin karena tidak ingin dijadikan senjata untuk melawan Sesshoumaru, apa yang dilakukan Shui adalah penghinaan untuk pengorbanan wanita manusia tersebut.
Shura yang mendengar suara Rin tidak marah, dia tertegun dan hanya dapat; diam melihat. Suara yang didengarnya memanggil nama ayah kandungnya adalah suara yang selalu didengarnya dalam mimpi. Suara indah bagaikan dentingan lonceng yang membawakan kedamaian—suara ibu kandungnya.
"Berengsek!! Kurang ajar!! Berani-beraninya kau!!!" teriak Inuyasha penuh kemarahan. Melangkah maju, dengan tessaiga di tangan, Inuyasha bersiap sedia menyerang Shui. Namun, tombak Asano dengan segera menghentikannya. Youkai rubah itu muncul di depan inuhanyou tersebut menahan pedangnya. "Inuyasha, itu adalah pertarungan antara Shui dan Sesshoumaru—kau tidak boleh ikut campur." ujarnya sambil tersenyum.
Inuyasha tidak peduli dengan ucapan Asano. Dia bukan bangsawan besar atau penguasa, dia tidak peduli dengan norma ataupun aturan-aturan yang ada, dan bukannya mereka yang duluan memulai semua keributan ini? menggunakan cara kotor dan licik.
Mengumpulkan kekuatan dan memusatkannya pada kedua tangan, Inuyasha menekan tombak Asano dengan tessaiga. Inuhanyou itu tahu, dia harus mengalahkan youkai rubah ini terlebih dahulu jika ingin menyerang Shui.
Asano juga tidak mengalah, dia ikut memusatkan tenaga untuk menahan kuatnya tekanan dari pedang Inuyasha. Ini adalah pertama kalinya dia melawan hanyou putra dari Inu no taisho, dan dia tahu, dia tidak boleh lengah atau gegabah, sebab inuhanyou tersebut diakui sebagai hanyou terkuat yang ada di dunia.
Akiko tidak bergerak sedikitpun dari tempatnya berada. Dia diam membisu dengan senyum di wajah menatap Shura, Kagome dan yang lainnya, lalu, sedetik kemudian, dia melesat maju ke arah mereka dengan tangannya yang memiliki cakar panjang.
Shura bersiap sedia, jika Akiko bermaksud membunuhnya, maka dia tidak akan segan-segan membunuh youkai rubah yang dipanggilnya 'ibunda' selama beberapa tahun ini. Namun, sebelum dia melakukan itu, Miroku dan Kohaku telah berlari maju untuk menghadapinya.
Melempar kusarigama senjatanya, Kohaku dengan sigap menghentikan Akiko yang melesat ke arah Shura dan yang lainnya. Tidak memberikan kesempatan, Miroku juga melempar kertas mantranya yang mana dengan gesit juga dapat dihindari youkai rubah tersebut.
"Ayah, paman! Aku akan membantu kali—aduh!! Ibu!!!" teriak Mamoru, dia juga bermaksud maju, tapi Sango segera menarik kerah belakang kimono putranya.
"Kalian jaga Kagome dan yang lainnya-aku yang maju." Perintah Sango. Kedua matanya menatap Mamoru dan kemudian terarah pada Aya dan Maya yang segera mengangguk kepala mengerti.
"Ibu! Aku sudah besar dan aku cuku—" protes Mamoru, tapi Sango telah berlari membantu Miroku dan Kohaku sebelum ucapannya terselesaikan.
Sango bukan tidak mempercayai kemampuan Mamoru. Tapi, dia adalah seorang ibu, dan seorang ibu dalam kondisi apapun akan selalu menempatkan anaknya pada tempat yang aman dan jauh dari bahaya. Jadi, dia tidak mungkin membiarkan anak-anaknya maju.
Kagome tidak bergerak dari tempatnya. Dia tidak ikut membantu Miroku, Sango dan Kohaku, karena dirinya tidak mungkin meninggalkan Sakura yang masih kecil. Dia tahu, dirinya tidak boleh sembarangan bertindak, youkai-youkai yang ada dihadapan mereka adalah youkai-youkai terkuat penguasa wilayah jepang, kekuatan dan dampak pertarungan mereka adalah kehancuran di sekeliling, belum lagi mereka tidak dapat dipredeksi dan licik.
Shiro mengepal tangan tidak bergerak dari tempatnya berada. Sejujurnya, dia juga ingin ikut membantu, tetapi dia tidak bisa. Dari semua yang ada, dia tidak bisa meninggalkan Kagome dan Sakura. Meskipun memiliki kekuatan spritual yang kuat, secara fisik, Kagome adalah yang paling lemah, sedangkan untuk Sakura, adiknya terlalu kecil dan tidak tahu apa-apa. Karena itulah, disaat seperti ini, dia harus ada disamping untuk melindungi mereka.
Di sisi lain, Sesshoumaru kembali maju menyerang Shui, mengayunkan bakusaiga. Aliran listrik meluncur mengincar youkai naga tersebut, dan sekali lagi, dengan gesit, Shui menghindar dengan meloncat ke belakang.
Sesshoumaru tidak memberikan kesempatan pada Shui, dia melesat dengan cepat dan megayunkan bakusaiga. Walau sekali lagi, youkai naga itu berhasil menahannya dengan pedang di tangan.
Kekuatan Sesshoumaru, Shui tahu, dirinya terdesak. Inuyoukai itu terus menyerang dan Shui tidak menemukan sedikitpun celah untuk menyerang balik. Gelar sebagai youkai terkuat di dunia yang diberikan pada penguasa tanah barat memang tidak salah.
Mendorong pedang Sesshoumaru ke belakang, Shui kemudian kembali meloncat dan terbang ke atas langit. Lalu, saat dia membalikkan badannya untuk menatap mereka yang ada di bawah, seketika juga, wajah dan seluruh badannya berubah.
Rambut sehitam langit tanpa bintang, kulit seputih salju, hidung yang mancung, bibir munggil serta pipi sewarna mawar merah, mata coklat besar—rupa Shui sekarang tidak lain adalah musim semi tanah barat yang dicintai, sang kisaki tanah barat yang telah tiada; Rin.
"Sesshoumaru-sama, Rin mencintai anda." Tertawa dengan wajah dan suara Rin yang bagaikan dentingan lonceng, Shui menatap Sesshoumaru.
Sesshoumaru tertegun sejenak melihat sosok Shui yang kini menyerupai Rin. Namun, sedetik kemudian dia tidak memperlihatkan emosi sedikitpun lagi. Inuyoukai itu tetap tenang dengan wajah tanpa emosinya.
Shui kembali tertawa dengan rupa Rin. Melihat ketenangan Sesshoumaru, dia menyukainya. Berapa lama, inuyoukai itu bisa menahan dirinya? Bagaimana perasaan saat melihat kembali sosok berharga yang telah tiada tersebut seperti ini?—sang penguasa tanah barat itu pasti tidak pernah menyangka ada hari ini.
Ikut meloncat terbang ke atas langit, Sesshoumaru kembali mengayunkan bakusaiga menyerang tanpa mempedulikan sosok Shui sekarang. Dia tahu yang ada di depannya bukanlah Rin melainkan Shui, jadi dia tidak ragu dalam menyerangnya. Merubah wujudnya menyerupai Rin—Shui memang tidak pernah berubah.
Menangkis serangan demi serangan Sesshoumaru, Shui tertawa semakin keras. "Sesshoumaru-sama, Sesshoumaru-sama, Sesshoumaru-sama." panggilnya terus masih dengan suara Rin.
Sesshoumaru tetap tenang mendengar suara Rin yang meluncur keluar dari mulut Shui memanggil namanya. Mata emasnya menatap sosok wanita cantik yang dilawannya dan dia tidak memperlihatkan perubahan ekspresi sedikitpun.
Di bawah, dalam taman paviliun timur istana tanah barat, Inuyasha dan Asano telah memulai pertarungan mereka. Mengunakan tessaiga, inuhanyou itu menyerang Asano yang dengan lihainya menggerakkan tombak di tangan untuk menangkis tanpa berusaha untuk melawan balik.
"Lawan aku dengan benar, sialan!!" teriak Inuyasha kesal. Dia tidak akan kalah dengan Asano, namun, juga tidak berarti dia akan menang mudah. Hanya saja, apa maksud rubah ini yang hanya bertahan padahal dia jelas juga bisa membalas serangannya?
Asano tidak membalas ucapan Inuyasha. Tersenyum, dia hanya terus mempertahankan dirinya dari serangan Inuhanyou tersebut. Penguasa tanah timur tahu, dia tidak akan mampu membunuh Inuyasha sendirian, karena itu kenapa dia harus menyerangnya untuk sesuatu yang tidak mungkin tersebut? Dia tidak mau membuang tenaga—tidak untuk sekarang. Saat tanah barat sudah sepenuhnya berada dalam genggaman tangan mereka, itulah waktunya.
__ADS_1
Di sisi Miroku, Sango dan Kohaku yang melawan Akiko, pertarungan mulai terlihat tidak seimbang. Meski Miroku, Sango dan Kohaku adalah manusia, kekuatan mereka bertiga cukup dapat menekan youkai rubah tersebut, walau mereka cukup ragu mampu membunuhnya—setidaknya dewi keberuntungan masih dipihak mereka.
Sedangkan untuk Kagome, Jaken dan anak-anak yang melihat petarungan dalam diam, mereka sangat terkejut saat melihat sosok Rin yang digunakan Shui. Kelicikan youkai naga itu benar-benar luar biasa, bukan hanya suara, dia bahkan menggunakan Rin yang telah tiada sebagai senjata. Namun, sepertinya dia salah predeksi kali ini, sebab Sesshoumaru tidak terlihat terganggu dengan rupanya sekarang, malahan serangannya semakin menguat.
Shura juga tidak bergerak, menatap sosok Shui yang menyerupai Rin, dia benar-benar tertegun. Wajah itu dan juga suara itu—Itu adalah rupa ibu kandungnya, karena itu, melihat ayah kandungnya mengayunkan pedang seperti itu untuk menyerang, walau dia sadar sepenuhnya itu adalah Shui, dia tetap merasa semua itu; salah.
Shura tahu, jika dia ada di posisi ayah kandungnya, dia tidak akan dapat melawan, karena ibunya adalah yang terpenting dalam dunianya. Tapi, ayahandanya bisa tanpa keraguan menyerang, seakan—ibundanya adalah sosok yang tidak penting dalam hidupnya.
Ikatan abadi. Selamanya, ikatan kita bertiga tidak akan pernah terputuskan...
ikatan abadi—satu-satunya hal yang membuat Shura terus maju walau seorang diri, karena dia tahu dirinya tidak pernah sendirian. Ada ayah dan ibu yang akan selalu ada untuknya—mereka yang sangat mencintainya.
Tapi sekarang—Shura tidak tahu lagi.
Ayahanda yang tidak mau menjawab pertanyaannya, ayahanda yang menyerang sosok seperti ibu tanpa beban—apakah ikatan yang dipegangnya adalah sebuah ikatan semu? Khayalannya semata. Ayah kandung yang tidak menginginkannya, ibu kandung yang mati karena melahirkannya, serta ayah yang mungkin tidak mencintai ibu seperti yang dikiranya—dia mungkin memang sosok yang tidak seharusnya lahir di dunia.
Masih di atas langit, Sesshoumaru dan Shui yang dalam sosok Rin terus bertarung. Pedang dan pedang mereka beradu. Kedua youki kuat yang bertabrakan menciptakan angin kuat dan beberapa kehancuran pada taman di bawah.
"Kenapa Sesshoumaru-sama? Kenapa anda menyerang Rin? Apakah anda telah melupakan Rin, Sesshoumaru-sama? Apakah anda tidak mencintai Rin lagi?" tanya Shui. Sambil menahan dan menyerang sebisa mungkin, tidak ada senyum di wajahnya yang menyerupai Rin. Air mata menumpuk di mata coklat besarnya, kesedihan luar biasa terpancar jelas.
Sesshoumaru menatap tanpa membalas pertanyaan yang ada. Serangan demi serangan pedang bakusaiga sama sekali tidak terhenti.
"Kenapa? Kenapa anda membiarkan Rin mati? Kenapa anda tidak menyelamatkan Rin, Sesshoumaru-sama? Apakah anda tahu, apa yang anda lakukan sama saja dengan membunuh Rin?"
Pertanyaan Shui kali ini membuat Sesshoumaru tertegun sejenak. Namun, sedetik kemudian, dia kembali menyerang dengan kekuatan dan kecepatan yang lebih dari sebelumnya.
Shui menyadarinya, walau hanya sedetik, dia bisa melihat perubahan pada sepasang mata emas tanpa emosi tersebut. Meski tidak dapat membaca pikiran Sesshoumaru, dia tahu katanya barusan 'membunuh' berefek pada inuyoukai tersebut, dan dia segera tahu apa yang harus dilakukan.
Seketika juga, saat bakusaiga terangkat dan akan menyerangnya, Shui menarik pedang di tangannya kebelakang. Dengan sengaja, dia mendorong badannya ke depan, dan membiarkan bahu kanannya tertusuk pedang. Sesshoumaru memincingkan matanya melihat sikap Shui. Apa lagi yang direncanakan youkai naga ini?
Menggerakkan kedua tangannya, Shui menarik tangan Sesshoumaru. Mencondongkan wajahnya tepat di depan wajah inuyoukai yang di lawannya, kedua mata coklatnya terbuka lebar. "Pembunuh. Kenapa anda membunuh Rin?"
Mata Sesshoumaru terbelalak dengan pertanyaan Shui. Seketika badannya mematung karena pertanyaan yang terarah padanya.
Tersenyum melihat reaksi Sesshoumaru, Shui kemudian mendorong ke belakang tubuh Inuyoukai tersebut. Pedang bakusaiga yang tertancap di bahu kirinya terlepas, dan menatap Sesshoumaru yang tidak bergerak, dia kembali bertanya dengan suaranya yang keras. "Kenapa? Kenapa anda membunuh Rin, Sesshoumaru-sama?? Apa salah Rin? Apa salah Rin sehingga anda membunuh Rin?"
Sesshoumaru tidak bergerak. Di atas langit paviliun timur istana tanah barat, dia mematung dengan pertanyaan yang terus terarah padanya.
Reaksi Sesshoumaru yang seperti ini membuat Shui sangat gembira. Tapi, ini tidak cukup, dia tahu, cepat lambat kata ini tidak akan berefek lama, karena itu, dia butuh sesutu yang lebih. Menoleh wajahnya ke bawah menatap Shura yang balas menatapnya, youkai naga itu tersenyum semakin lebar. "Shura," panggilnya dengan suara lembut Rin.
"Shura!!!" teriak Shui keras memanggil nama Shura. Senyum lembut di wajahnya berubah, kebencian terlihat jelas di wajah cantiknya. "Sama seperti ayahmu, kau adalah pembunuh!! Jika saja kau tidak ada, maka aku pasti masih hidup!! Kau adalah pembunuhku!!!"
Shura tidak bisa bergerak mendengar ucapan Shui. Pembunuh?
Shura, aku mencintaimu
Suara penuh kasih sayang dalam mimpinya adalah kebohongan. Senyum dan tawa lembut yang ada mungkin hanyalah khayalan. Wajah asli ibunya mungkin adalah wajah Shui sekarang, penuh kebencian, karena dia adalah pembunuhnya. Tidak akan ada orang yang dapat memaafkan pembunuhnya, tidak ada orang yang akan mencinta orang yang membunuhnya—ibunya tidak mencintainya.
"Diam!!!" suara keras Sesshoumaru tiba-tiba terdengar jelas. Mengayunkan bakusaiga, aliran listrik kuat dengan cepat mengenai Shui yang berusaha menahannya dengan pedang di tangan.
Meski berhasil menahannya, badan Shui terdorong dan terhempas dengan kuat jatuh ke bawah. Menghantam tanah, retakan dan kehancuran tercipta, begitu juga dengan suara keras yang memenuhi seluruh paviliun timur istana tanah barat.
Inuyasha dan Asano yang bertarung segera berhenti, begitu juga dengan Miroku, Sango dan Kohaku yang sedang melawan Akiko. Menatap Shui, mereka melihat youkai naga itu berdiri masih dengan wujud Rin. Dengan bahu kiri yang terluka penuh darah, kesakitan terlihat jelas di wajahnya.
"Berengsek!!! Beraninya kau memakai rupa Rin!!!" teriak Inuyasha. Inuhanyou itu benar-benar sangat marah sekarang, dia yang tadi bertarung dengan Asano baru menyadari sosok yang terluka tersebut. Rupanya benar-benar persis seperti Rin, tapi bau yang diciumnya tidak akan pernah berbohong—yang ada dihadapan mereka adalah Shui.
Miroku, Sango dan Kohaku juga sangat terkejut, dan melihat kemarahan Inuyasha, mereka juga segera tahu, itu bukan Rin melainkan Shui. Bukan hanya suara bahkan rupa juga—youkai naga itu benar-benar keterlaluan
Asano dan Akiko yang telah berhenti bertarung kemudian meloncat dan mendarat di samping Shui. Diam membisu, mereka berdua tidak mengatakan sepatah katapun. Menyerahkan semuanya pada youkai naga tersebut dan melihat adalah pilihan mereka.
"Shura, putraku..," panggil Shui lagi dan menatap Shura dengan senyum lembut di wajah. Dia tahu, Sesshoumaru tidak akan bergeming sedikitpun dengan sosoknya sekarang, namun tidak untuk putranya. Inuyoukai kecil tersebut tidak akan dapat mengontrol diriinya. Terlebih lagi, reaksi Sesshoumaru tadi—mungkin kelemahan inuyoukai penguasa tanah barat bukanlah hanya Rin seorang saja. "Rin membencimu. Rin membencimu!!! Rin membencimu!!!"
Mata emas Shura terbelalak. Mengepal kuat kedua jari-jemarinya, dia mati-matian menahan ekspresi wajahnya.
Benci.
Tidak mau mengakui, tidak berani menerima, tapi mungkin memang inilah perasaan ibu kandungnya kepada dirinya—sang pembunuh.
"Kurang ajar!!! Diam kau!! Jangan sembarangan!!!!" mengayunkan pedangnya, Inuyasha yang tidak peduli lagi melancarkan serangan bakuryuha dengan sekuat tenaga. Dia tidak peduli dengan kehancuran yang ada, sebab yang paling penting adalah membunuh musuh di depan mata.
Shui, Asano dan juga Akiko meloncat menghindari serangan Inuyasha. Terbang di atas langit, mata mereka menatap Inuhanyou tersebut, dan sedetik kemudian, Sesshoumaru tiba-tiba telah berada di dekat mereka. Mengangkat bakusaiga, penguasa tanah barat kembali menyerang Shui.
__ADS_1
Shui segera mengangkat pedang menangkis, namun, sekali lagi, dia kembali terhempas ke bawah. Jatuh menabrak atap paviliun timur istana tanah barat, sosoknya yang menyerupai Rin menghilang dari pandangan.
Inuyasha dan yang lainnya tidak dapat tersenyum meski Shui kini menerima serangan secara langsung, sebab, melihat sosoknya sekarang yang menyerupai Rin, semua terasa sangat salah. Bayangan wanita yang terbaring lemah sambil tersenyum lembut terbayang dalam pikiran, walau itu adalah Shui, mereka sungguh tidak ingin melihat sosok itu menderita lebih lagi walau dia tahu itu bukan Rin yang sebenarnya.
"Hahahaha," suara tawa keras Shui dalam suara Rin kembali terdengar. Bangkit berdiri di dalam kamar paviliun timur istana tanah barat yang hancur sebagian, dia menatap Sesshoumaru. "Kenapa? Kenapa? Kenapa?!!"
Bagaikan telah gila, suara tawa Shui dalam wujud Rin kemudian berubah menjadi tangis, lalu sesaat kemudian menjadi kemarahan dan kebencian. "Rin membencimu Sesshoumaru-sama!!! Rin membencimu, Shura!!"
Menggerakkan pedang di tangannya, Shui melancarkan serangan youkinya. Namun, serangan itu tidak menyerang Sesshoumaru atau siapapun, melainkan serangan itu menyerang kamar tempatnya berada, yakni; kamar tidur penguasa tanah barat.
"Rin membenci kalian!! Mati!! Hancur!! Mati!!!!"
Serangan yang ada menghancurkan kamar yang memang telah hancur sebagian karena pertarungan sebelumnya. Lukisan-lukisan indah di dinding terbelah dan terkoyak, begitu juga dengan shamisen dari kayu mahoni yang retak dan hancur. Lantai tatami menjadi hancur—dan tidak tahu dari mana, api kemudian menyala melahap sekeliling.
Semua terjadi dengan sangat cepat dan tidak terhentikan, lalu, saat api yang menyala mulai merayap naik mengapai kimono putih yang terpajang serta lukisan wanita manusia yang tersenyum memeluk bunga yang ada, Shura tidak dapat menyembunyikan kepanikannya lagi. "Tidak!!"
Berteriak keras, kaki Shura segera bergerak. Dia berlari cepat tidak mempedulikan apapun, kedua matanya menatap lekat lukisan wanita manusia yang tersenyum.
Shura, aku mencintaimu.
Sama seperti mimpinya-terbakar. Wanita manusia paling berharga baginya, wanita manusia yang paling dicintainya-satu-satunya lukisan sang ibunya tercinta terbakar. Jika lukisan itu menghilang, di mana lagi dia dapat melihat senyum indah ibundanya? Jika lukisan itu lenyap, dimana lagi dia dapat menatap wajah wanita manusia yang melahirkannya?
"Hentikan!! Hentikan!!!"
Kaki Shura yang terus melangkah tidak terhentikan. Dalam kedipan mata, inuyoukai kecil itu telah mencapai lukisan sang ibu. Mengangkat tangannya, dia segera memeluk lukisan tersebut erat bagikan memeluk ibunya.
Inuyasha, Kagome dan yang lainnya sangat terkejut dengan apa yang terjadi dalam hitungan perdetik, namun yang lebih mengejutkan dan membuat takut mereka adalah Shui yang berada dalam wujud Rin kini telah melesat cepat ke arah Shura yang membelakanginya memeluk lukisan. Pedang terhunus terarah padanya.
"Shura!!!"
"Shura-sama!!!"
"Kak Shura!!!"
Shura bisa mendengar dan juga merasakannya, dia tahu, Shui kini telah melesat ke arahnya. Membalikkan badannya, dia ingin menahan serangan yang akan terarah kepadanya. Namun, melihat wajah ibunya yang digunakan Shui menatapnya penuh kebencian, dia terpana.
Wajah lembut yang dilihat dalam mimpi tertimpah dengan wajah penuh kebencian di hadapannya. Yang berada di depannya bukanlah ibunya, Shura tahu itu, tapi dia tetap saja, dia tidak bisa berbuat apa-apa. Melihat wajah yang begitu dirindukannya, dia tidak dapat bergerak.
"Shura!!"
"Shura-sama!!"
"Kak Shura!!!"
Teriakan yang ada terasa sangat dekat namun juga jauh, lalu, dalam kebingungan yang ada, Shura melihat sosok berambut perak tiba-tiba muncul dan berdiri di depannya. Tidak tahu kapan, sosok itu telah berada di depannya, dengan pedang di tangan yang terangkat untuk menahan serangan Shui, ayah kandungnya; Sesshoumaru.
Cahaya menyilaukan memenuhi pandangan, membuat Shura menutup matanya. Tidak bisa melihat, tapi dia bisa merasakan dan mendengarya, pedang dan pedang yang kembali beradu, serta suara ledakan kuat setelahnya.
Masih memeluk erat lukisan ibunya, Shura kemudian membuka matanya. Paviliun timur istana tanah barat hancur sepenuhnya, baik dinding, lantai maupun atapnya hilang tersapu angin ledakan, menyisahkan kobaran api yang masih melahap apa yang tersisa di dalamnya.
Tidak peduli dengan sekelilingnya, mata emas Shura dengan cepat kembali menatap ke depan. Dia bisa melihat jelas, di depannya, Sesshoumaru dan Shui dalam sosok Rin berdiri kokoh dengan pedang yang beradu.
"Ayahanda..." panggil Shura tidak percaya dengan kemunculan Sesshoumaru yang melindunginya.
Sesshoumaru tidak menjawab panggilan Shura, kedua mata emasnya masih menatap lurus Shui dalam sosok Rin yang tersenyum penuh kegilaan.
Tiba-tiba saja, punggung Shui membesar dengan luar biasa, mengoyak punggung kimono yang dipakainya. Bongkahan daging muncul dan dalam hitungan perdetik berubah menjadi badan, sepasang tangan dan kepala. Sosok yang di depan adalah sosok yang aneh dan mengerikan, badan mungil wanita manusia dengan punggungnya yang terhubung oleh badan youkai dari kepala hingga pinggang. Berambut biru dan bermata merah darah, senyum menyeringai penuh kegilaan memenuhi wajahnya-sosok youkai itu adalah sosok asli dari Shui, sang mantan penguasa tanah netral.
Shura sangat terkejut melihat apa yang terjadi, dia masih berdiri di tempat dengan lukisan sang ibu dalam dekapan. Namun, tangan kanan Shui dengan cepat terangkat ke atas dan melesat meluncur menyerang inuyoukai kecil yang belum dapat mencerna apa yang terjadi dalam satu kedipan mata.
"Shura!!! Awas!!"
"Shura-sama!!"
Suara teriakan kembali terdengar, dan dalam kekacauan yang ada, Shura kembali melihat ayah kandungnya bergerak. Dengan tangan kanan yang masih menggengam bakusaiga menahan pedang Shui yang berada di tangan sosok menyerupai Rin, tangan kiri penguasa tanah barat bergerak menangkap tangan kanan sosok asli Shui yang bergerak menyerang putranya.
"Ayahanda.." panggil Shura bingung melihat Sesshoumaru yang terus melindunginya. Namun, seketika juga, ketakutan memenuhi wajah Shura. Di depannya dia bisa melihat, tangan kiri sosok asli Shui bergerak. Sebuah lubang dimensi kecil terbuka di depan youkai naga tersebut dan tangan itu melesat masuk dengan cepat.
Lalu—'Tut'.
Suara 'tut' terdengar. Pintu dimensi lain kembali terbuka, dan pintu dimensi kecil itu berada tepat di depan dada Sesshoumaru. Tangan Shui melesat maju dengan kecepatan luar biasa, menusuk tembus dada inuyoukai sang penguasa tanah barat hingga punggung, sebongkah organ berada di genggamnnya, penuh darah dan berdetak cepat cepat; jantung.
__ADS_1
"Ayahanda!!!!"
....xOxOx....