![Till The End Of Time [ Inuyasha Fanfiction ]](https://asset.asean.biz.id/till-the-end-of-time---inuyasha-fanfiction--.webp)
Akiko menatap lurus sosok inuyoukai penguasa tanah barat yang kini berada di depannya. Sosok itu tidak pernah berubah, selalu rupawan dan penuh kebanggaan—sosok bangsawan youkai sejati yang paling sempurna.
Akiko teringat dengan saat pertama kali dia melihat inuyoukai itu. Saat itu, Sesshoumaru yang baru menjabat sebagai penguasa tanah barat datang mengunjungi tanah timur untuk urusan perbatasan kedua wilayah.
"Sesshoumaru, perkenalkan, ini putriku, Akiko." Asano tersenyum memperkenalkan putri satu-satunya pada inuyoukai penguasa tanah barat yang berdiri diam di depannya.
Akiko tidak mengucapkan salam meski Asano memperkenalkannya, sebab mata birunya terfokus pada inuyoukai di depannya. Berambut perak panjang dan sepasang bermata emas. Wajahnya yang rupawan tidak berekspresi, namun, pembawaannya yang tenang dan juga aura mengerikan yang terpancar—dia sungguh sempurna.
"Akiko," panggil Asano lagi sambil tertawa. "Jangan bersikap tidak sopan."
Akiko segera tersadar dengan sikapnya yang tidak sopan. Membungkuk badan, dia segera memberikan hormat dengan senyum terbaiknya. "Akiko, Hime dari timur memberikan salam pada anda, Sesshoumaru-sama."
Sesshoumaru tidak membalas salam Akiko. Diam membisu dengan ekspresi wajah tidak berubah, dia kemudian menatap Asano. "Sesshoumaru ini tidak ingin membuang waktu—kita langsung ke inti pembicaraan."
Akiko tertegun dengan sikap Sesshoumaru. Mengangkat kepala, dia melihat penguasa tanah barat itu tidak menatapnya sama sekali. Ada kemarahan dalam hatinya yang muncul, dia tidak suka dengan sikap inuyoukai itu yang tidak peduli dengannya.
Asano kembali tertawa. Dengan perlahan, dia kemudian menggerakkan tangan dan membimbing Sesshoumaru duduk dalam ruang kerjanya. "Akiko, seduhkan teh." perintahnya.
Akiko tersenyum dan menyembunyikan emosi dalam hatinya. Tidak membuang waktu, dengan segera, dia menyeduhkan teh untuk ayahnya dan juga Sesshoumaru.
Berdiri di samping Asano, Akiko hanya diam membisu melihat ayahnya dan Sesshoumaru membahas masalah wilayah, dan semakin dia melihat, semakin dia menyukai inuyoukai tersebut.
Sesshoumaru sangat tampan dan dari aura yang terpancar, Akiko tahu. Inuyoukai ini juga sangat kuat. Lalu, yang paling penting dia adalah penguasa dari tanah barat yang begitu makmur dan besar. Jika dia menjadi kisakinya, dia akan menjadi wanita di atas semua wanita. Kehormatan, kedudukan dan kekuasaan—semua itu akan menjadi miliknya.
"Akiko," panggil Asano kemudian. Dia tersenyum menatap putrinya yang masih ada di samping saat pembicaraan mereka telah selesai. "Antarkan Sesshoumaru ke kamar yang telah disiapkan."
Senyum segera memenuhi wajah Akiko. Dia tahu, apa yang diinginkan ayahnya. Jauh sebelum Sesshoumaru tiba di istana tanah timur, Asano telah mengingatkannya untuk merebut perhatian inuyoukai yang berkuasa itu, dan—Akiko sangat menyukai itu.
"Mari, Sesshoumaru-sama," ujar Akiko pelan. "Hamba akan mengantarkan anda ke kamar anda yang telah kami sediakan."
Sesshoumaru tidak mengatakan apa-apa, tapi dia mengikuti Akiko melangkah keluar dari ruang kerja Asano.
Melangkah pelan, Akiko berusaha membuka pembicaraan dengan Sesshoumaru, tapi tidak peduli apa yang dikatakannya, inuyoukai itu tidak memberikan reaksi sedikitpun—seakan dia memang tidak ada.
Namun, saat mereka memasuki taman, sebatang pohon sakura yang mekar dengan indah menarik perhatian Sesshoumaru. Meninggalkan Akiko, inuyoukai berjalan mendekati pohon sakura dan menatapnya lurus.
Akiko mengikuti Sesshoumaru binggung. Diam membisu, dia melihat inuyoukai itu perlahan mengangkat tangan kanannya menyentuh bunga sakura dengan lembut.
"Apakah anda menyukai bunga sakura, Sesshoumaru-sama?" tanya Akiko pelan. Dia bisa melihat jelas mata emas yang tanpa emosi kini bersinar lembut seakan sedang melihat sesuatu yang sangat disukainya.
Sesshoumaru tetap diam membisu, dan Akiko juga tidak mempermasalahkannya, sebab dia sadar, inuyoukai ini bukan tipe youki yang suka berbicara. Namun, diluar dugaannya, kali ini penguasa tanah barat itu menjawabnya.
"Sesshoumaru ini tidak menyukai sakura. Tapi, Rin menyukainya."
Akiko tersadar dari ingatannya beberapa tahun yang lalu. Kemarahan menguasai hatinya. Hari itu adalah hari di mana dia bertemu Sesshoumaru untuk pertama kalinya, sekaligus juga, hari di mana dia menyadari kehadiran seorang manusia bernama—Rin.
Rin.
Rin adalah seorang gadis manusia yang dihidupkan Sesshoumaru dan mengikutinya. Kebingungan adalah hal yang pertama kali dirasakan Akiko saat mengetahui keberadaan gadis bernama Rin itu—bukankah Sesshoumaru itu sangat membenci manusia?
Namun, begitu mengetahui lebih lanjut mengenai gadis manusia itu, kebingungan dalam hati segera berubah menjadi kemarahan. Gadis manusia itu adalah gadis yang menjadi anak angkat dari Inukimi sang mantan penguasa tanah barat, dan tidak hanya itu, gadis manusia itu juga dicintai dan dipuji semua yang di barat—hime dari tanah barat.
Di dunia youkai, selama ratusan tahun ini, Akiko adalah satu-satunya hime yang ada. Namun, tiba-tiba saja, muncul lagi seorang hime baru.
Pujian demi pujian untuk hime tanah barat terus berbunyi. Tentang betapa cantiknya dia, betapa pintarnya dia, betapa baik, lembut dan menawannya gadis manusia itu. Lalu, tidak tahu sejak kapan, jika seseorang youkai membahas hime dari dunia youkai, hime dari tanah baratlah yang akan mereka ingat terlebih dahulu, bukanlah lagi, Akiko, hime dari tanah timur sekaligus pewaris tanah timur.
Bagi Akiko, itu adalah penghinaan terbesar dalam ratusan tahun hidupnya. Dirinya seorang youkai sejati kalah dengan seorang gadis manusia?—bagaimana dia bisa menerimanya?
Hingga akhirnya, Akiko melihat hime dari barat yang terkenal itu untuk pertama kali. Dalam malam ulang tahun Sesshoumaru, gadis manusia itu muncul dengan tarian dan nyanyiannya—menghipnotis dan merebut perhatian semua yang ada, termasuk; Sesshoumaru.
Pandangan Sesshoumaru yang terarah pada gadis manusia itu membuat Akiko sadar, gadis itu adalah ancaman terbesarnya—dan itu terbukti benar.
Perlahan, di depan matanya, Akiko melihat segala yang dia inginkan menjadi milik gadis manusia itu. Dimulai dari meido seki lambang sang kisaki tanah barat, Sesshoumaru dan seluruh youkai barat yang bersedia berperang dengan selatan menyelamatkannya, meido seki yang bersinar dan memenangkan kehormatan serta rasa terima kasih dari semua youkai barat dan selatan, lalu, Sesshoumaru yang mengangkatnya menjadi kisaki tanah barat yang sah dan meberikannya tanda—gadis manusia itu telah merebut segala yang seharusnya merupakan miliknya, Akiko dari tanah timur.
Tidak pernah Akiko membenci seseorang seperti ini. Jika saja dia bisa, dia ingin membunuhnya saat itu juga. Tapi, dia tidak bisa berbuat apa-apa, karena dia sadar, timur bukanlah lawan barat. Keputusasaan memenuhi hatinya, hingga akhirnya satu kata Asano, ayahnya menyadarkannya.
Pewaris.
Kenapa Sesshoumaru memilih seorang manusia? Akiko yakin, meski inuyoukai penguasa tanah barat itu memang tertarik pada gadis manusia itu, meido sekilah alasan terbesarnya. Kekuatan yang begitu luar biasa, Sesshoumaru tidak mungkin membiarkannya jatuh pada orang lain.
Tapi, ke depannya, untuk tanah barat yang begitu besar dan makmur, Sesshoumaru akan membutuhkan seorang pewaris yang kuat–pewaris yang merupakan youkai sejati; bukan seorang hanyou, dan saat itulah inuyoukai itu akan tahu, siapa yang sesungguhnya harus dipilihnya, siapa kisaki tanah barat yang sebenarnya.
Akiko tahu, dia harus menunggu hingga saat itu tiba, dan untuk menghancurkan gadis manusia yang dibencinya, dia juga sengaja menciptakan rumor ambigu tentanganya di dunia manusia—dia ingin melihat seperti apa hidup gadis manusia itu setelah dibuang Sesshoumaru.
Seakan memang keinginannya itu dikabulkan, waktu yang ditunggunya tiba dengan sangat cepat, baru beberapa bulan mereka menikah, Akiko mendengar berita bahwa Sesshoumaru murkah saat mengetahui kisakinya mengandung seorang hanyou—inuyoukai itu ingin manusia itu mengugurkan kandungannya.
Kesempatan yang ada, Akiko tahu dia harus memanfaatkannya sebaik mungkin, jika dia berhasil masuk ke dalam mereka dan melahirkan seorang pewaris tanah barat, maka tinggal tunggu waktu saja dia menjadi kisaki tanah barat.
Tidak apa-apa jika dia tidak memiliki tanda Sesshoumaru, sebab sejak awal, dia tidak memerlukannya. Yang dibutuhkan Akiko adalah gelar sebagai Kisaki tanah barat dan juga seorang pewaris tanah barat. Sebab, dengan begitu, saat dia mewarisi tanah timur dari Asano, tidak akan ada yang berani melawannya yang memiliki dukungan penuh dari tanah barat. Kekuasaan, kehormatan dan kemewahan—dunia akan berada dalam tangannya.
Membulatkan tekadnya dan bungkuk badannya, Akiko tersenyum memberi salam. "Akiko dari tanah timur memberikan salam pada anda, Sesshoumaru-sama."
Sesshoumaru tidak membalas salam Akiko, dan seperti biasa, dia hanya menatap youkai rubah di depannya dalam ruang tamu dengan wajah tanpa ekspresi.
Menegakkan lagi badannya, senyum Akiko semakin lebar. "Hamba datang untuk menawarkan diri hamba untuk melahirkan seorang pewaris tanah barat untuk anda, Sesshoumaru-sama."
Sesshoumaru adalah youkai yang tidak menyukai basa-basi, karena itu, Akiko langsung mengatakan maksud kedatangannya.
"Anda tidak menginginkan seorang anak hanyou menjadi pewaris tanah barat, bukan?—Hamba bisa membantu anda melahirkan seorang putra dengan darah youkai sejati, bukanlah seperti wanita manusia itu seorang han—" lanjut Akiko lagi. Namun, suara teriakan penuh kemarahan tiba-tiba terdengar bersamaan dengan pintu ruangan yang terbanting terbuka.
"Sialan kau Sesshoumaru!!! Apa maksudnya ini!!!!"
__ADS_1
Akiko menoleh wajah ke belakang, dan melihat Inuyasha berjalan masuk dengan wajah penuh kemarahan. Namun, inuhanyou itu tidak mempedulikannya, dia langsung menuju arah Seashoumaru.
"Jadi ini alasan utamamu memaksa Rin mengugurkan anaknya pertama kali?!" mencengkeram kerah kimono Sesshoumaru, Inuyasha menatapnya tajam. "Kau benar-benar berengsek!!"
Sesshoumaru membalas tatapan mata Inuyasha datar. Dia sudah mengetahui dari tadi inuhanyou yang bersembunyi dan mendengarkan pembicaraan dalam ruang ini di luar. Tapi, jauh dalam hati, dia benar-benar tidak mengerti dengan cara pikirnya itu. Apa maksud ucapannya barusan?
"Aku tidak akan membiarkanmu mempermainkan Rin!! Aku akan membawanya kembali ke desa manusia!!" lanjut Inuyasha lagi tidak peduli, cengkeramannya semakin kuat.
Perlahan, tangan kanan Sesshoumaru terangkat mengenggam lengan Inuyasha. Wajahnya tetap datar, namun pandangan matanya menjadi sangat tajam penuh intimidasi. "Inuyasha," panggilnya pelan. "Diam."
Perintah dan tatapan Sesshoumaru dengan seketika membuat Inuyasha terdiam. Namun, suara tawa Akiko yang ada di belakangnya tiba-tiba terdengar.
"Ini bukanlah tempatmu untuk berbicara, hanyou." Senyum Akiko, matanya menatap penuh kejijikan pada Inuyasha.
"Apa katamu??" melepaskan cengkeraman tangannya pada kerah kimono Sesshoumaru, Inuyasha membalikkan badan menatap Akiko. "Ulangi satu kali lagi!!"
Senyum Akiko semakin lebar. "Ini bukan tempatmu berbicara Hanyou. Meski kau memiliki darah Inu No Taisho di nadimu, kau tetap hanyalah seorang hanyou lemah."
"Apa salahnya dengan hanyou??" hardik Inuyasha. Kedua matanya bersinar penuh kemarahan terarah pada Akiko.
"Karena hanyou lemah." Tawa Akiko keras, kedua mata birunya menatap Inuyasha dengan hina, seakan inuhanyou itu adalah sosok yang tidak boleh ada di dunia ini. "Karena hanyou adalah makhluk paling hina di dunia."
"Kau!!!!" teriak Inuyasgha lagi. Dia sungguh ingin sekali mencabut pedang tessaiga dan menyerang Akiko sekarang.
Akiko tidak mempedulikan Inuyasha, dia kemudian menoleh wajahnya menatap Sesshoumaru yang diam membisu. "Hamba akan melahirkan seorang putra youkai sejati untuk anda, Sesshoumaru-sama. Bukanlah hanyou seperti kisaki tanah barat—putra yang kuat dan akan menjayakan barat untuk anda."
"Hei!! Apa maksud ucapanmu!!?" Inuyasha sekali lagi berteriak dan menatap tidak suka Akiko. Sungguh, youkai rubah ini behkan lebih tidak tahu malu dari pada Miroku. Setidaknya, temannya itu tidak pernah meminta wanita yang telah bersuami melahirkan anaknya. Ini! Akiko dengan senang hati dan penuh kebanggaan menawarkan diri untuk melahirkan anak dari suami orang lain??
Sesshoumaru menatap Akiko dalam diam. Tidak menginginkan anak seorang hanyou? Pewaris tanah barat? Youkai sejati? Putra?—inuyoukai itu hanya dapat berpikir dalan hati, seperti apa sesugguhnya rumor yang beredar di dunia youkai seputar kehamilan Rin.
Tidak menginginkan anak dari Rin yang seorang hanyou—Sesshoumaru memang pernah berpikir seperti itu. Tapi, itu karena hidup Rin, bukan karena anaknya seorang hanyou.
Lalu..
Gerakan kecil yang dirasakannya dari perut Rin, gerakkan kecil anak mereka yang membekas dalam ingatan serta rasa hangat dalam hati—bagaimana mungkin dia tidak menginginkan bukti kehidupan yang begitu menakjudkan itu?
Hubungannya dengan anaknya yang belum lahir, Sesshoumaru tahu, dia tidak akan pernah mempedulikan anaknya itu seorang youkai atau hanyou, bahkan jikapun anaknya jelek atau cacat—di matanya, anak itu akan selalu menjadi satu-satunya anak yang dia inginkan. Anak yang diberikan oleh satu-satunya wanita yang dia cintai, akan selalu menjadi kebanggaannya. Untuk darah daging mereka, dia akan menjaga, melindungi, membimbing dan mewariskan segala yang dimiliki untuknya. Pedangnya, istananya, kekuasaannya; segala yang dimilikinya—anak itulah satu-satunya pewaris dari tanah barat.
"Anak Sesshoumaru ini," ujar Sesshoumaru kemudian dengan pelan. Suaranya datar tanpa emosi seperti biasa. "Selamanya hanya akan ada satu orang, dan dia adalah anak yang akan dilahirkan Rin, Kisaki tanah barat—dialah satu-satunya pewaris tanah barat yang sah."
Senyum Akiko menghilang begitu mendengar ucapan Sesshoumaru. Perasaan terkejut dan tidak percaya memenuhi hatinya. Apakah dia tidak salah dengar? Satu-satunya pewaris tanah barat yang sah?
Inuyasha juga tertegun mendengar ucapan Sesshoumaru. Terdiam dia menoleh kepala menatap kakak seayahnya itu.
"Anak yang dilahirkannya adalah seorang hanyou!! Anda tidak berniat menjadikan seorang hanyou yang lemah sebagai pewaris tanah barat kan?—barat akan hancur!!" teriak Akiko penuh kemarahan.
"Putra Sesshoumaru ini tidak akan pernah lemah." Balas Sesshoumaru tenang.
"Hah!! Kau dengar itu?!" tawa Inuyasha gembira menatap Akiko. Mungkin ini adalah pertama kalinya dia merasa Sesshoumaru mengatakan sesuatu yang benar selama ini. "Sesshoumaru tidak memerlukanmu, jadi pergi dari sini!!"
Ucapan Akiko tidak terselesaikan, karena tidak tahu sejak kapan, Sesshoumaru telah berada di depannya. Tangan inuyoukai pemguasa tanah barat itu mencekik lehernya kuat dan mengangkatnya ke atas.
"Inuyasha memang lemah dan tidak berguna.." ujar Sesshounaru pelan.
"Hei!! Apa maksud ucapanmu itu, berengsek!!??" hardik Inuyasha kesal. Apa Sesshoumaru ini tidak pernah berubah? Akiko hanya menyebutnya lemah, dan inuyoukai itu dengan seenakanya menambah kata 'Tidak berguna'. Namun, ucapan Sesshoumaru selanjutnya membuat inuhanyou itu tertegun.
"—tapi, hanya Sesshoumaru ini yang boleh menyebutnya seperti itu."
Akiko yang tidak bernapas, memukul dan mencakar tangan Sesshoumaru. Namun, cekikkan di lehernya tidak melemah sedikitpun. Terlebih lagi sepasang mata emas yang menatapnya—dia bisa merasakan nafsu membunuh yang ada.
"Darah dari barat, darah dari ayahku, dan juga darah dariku—tidak akan pernah lemah; tidak ada seorangpun yang boleh meremehkannya."
Selesai mengucapkan itu, Sesshoumaru melepaskan leher Akiko yang segera jatuh terduduk ke bawah dan terbatuk-batuk. Tidak mempedulikannya sedikitpun, Inuyoukai itu kemudian melangkah keluar meninggalkan ruangan tempat mereka berada.
Inuyasha tidak bergerak. Berdiri di tempatnya, perlahan, mata emasnya mengikuti sosok Sesshoumaru. Jantungnya berdetak sangat cepat, kata-kata yang diucapkan inuyoukai itu membekas di hatinya.
'Hanya Sesshoumaru ini yang boleh menyebutnya seperti ini.'
'Darah dari barat, darah dari ayahku, dan juga darah dariku—tidak akan pernah lemah; tidak ada seorangpun yang boleh meremehkannya.'
Apakah Sesshoumaru membelanya dari Akiko? Lalu, darah barat, darah ayahku—apakah Sesshoumaru telah mengakui darah ayah mereka yang sama mengalir di nadinya? Apakah Sesshoumaru mengakui ikatan darah yang terjalin diantara mereka?
Tidak dapat disadari dan juga tidak bisa dihentikan, perlahan, kedua ujung bibir Inuyasha terangkat ke atas, membentuk seulas senyum lebar. Dengan mata berbinar penuh semangat, dia berlari mengejar Sesshoumaru meninggalkan Akiko sendirian.
"Tunggu aku, berengsek!!"
....xOxOx...
Rin duduk di atas futon dalam kamarnya dan Sesshoumaru menatap Inukimi serta Kagome. Dari beranda yang terbuka, dia juga bisa melihat Shiro, Mamoru, Aya dan Maya yang sedang bermain di halaman.
"Akiko dari tanah timur? Ada apa dia kemari?" gumam Kagome pelan.
Inukimi tidak mengatakan apa-apa, tapi dia juga berpikir apa tujuan dari Akiko datang ke barat untuk mengunjungi Sesshoumaru. Tidak ada perubahan dalam hubungan barat dan timur akhir-akhir ini, kecuali Sesshoumaru yang menolak pernikahan—mata Inukimi segera terbelalak saat teringat apa yang ditawarkan Asano pada awal musim semi tahun ini.
Kagome bisa melihat perubahan ekspresi wajah Inukimi yang tenang menjadi terkejut dan kemudian menjadi marah. "Inukimi-san, kau bisa menebak apa alasan Akiko datang kemari?" tanya miko masa depan itu pelan.
Inukimi tidak menjawab pertanyaan Kagome. Kemarahan di wajahnya membuat dia menyeringai dan mengesek taring tajamnya hingga bersuara.
"Ada apa, Ibunda?" tanya Rin khawatir dengan sikap Inukimi.
Suara Rin dengan segera menyadarkan Inukimi dari kemarahannya. Menutup mata, dia kemudian menarik napas dan menenangkan diri. Saat dia membuka mata lagi, mantan penguasa tanah barat itu menatap menantunya dan tersenyum. "Ibunda tidak apa-apa, Rin kecil."
__ADS_1
Senyum Inukimi membuat Rin ikut tersenyum, "Apa yang menganggu pikiran anda, ibunda?" tanya Rin lagi pelan.
"Aku memikirkan apa alasan rubah itu kemari dan aku merasa, dia kemari karena mengincar—Sesshoumaru." Jawab Inukimi pelan. Dia tahu, Akiko tertarik pada Sesshoumaru. Tapi, dia lebih tahu, jika yang sesungguhnya diinginkan Akiko adalah—penguasa tanah barat.
Tanah timur adalah wilayah yang lemah, dan kekuasan Asano sebagai penguasa juga tidak kuat, apalagi posisi Akiko sebagai pewaris tanah timur. Karena itulah, dia membutuhkan dukungan yang kuat—barat yang jaya.
"Eh??" seru Rin dan Kagome terkejut.
"Maksud anda, hime datang ke barat untuk mengincar nyawa Kakak?" tanya Kagome cepat.
"Bukan," balas Inukimi sambil mengeleng kepala. "Maksudku dia datang ke sini dengan maksud untuk menghangatkan tempat tidur Sesshoumaru."
"Eh??" seru Kagome dan juga—Rin.
"Akiko sudah lama mengincar Sesshoumaru dan berniat menjadi kisaki tanah barat," jelas Inukimi tidak mempedulikan reaksi Rin dan Kagome. "Walau aku tidak mengerti kenapa di berani datang terang-terangan seperti ini sekarang—apakah dia tidak melihat menantuku sedang mengandung?"
Kagome terdiam mendengar penjelasan Inukimi. Dia tidak tahu harus berkata apa, cara pikir youkai dan manusia memang sangat berbeda, sepertinya mereka memang tidak ada moral etika ataupun tenggang rasa. Namun, seketika miko masa depan itu sadar dengan Rin yang ada di sampingnya. Kepanikan memenuhi hati, bagaimana perasaan seorang wanita jika dia tahu ada wanita lain yang dengan terang-terangan datang dan bermaksud menghangatkan tempat tidur suaminya?
Rin tidak mengatakan apa-apa, raut wajahnya juga tidak berubah. Mencerna ucapan Inukimi, perlahan dia menurunkan pandangannya pada perutnya.
"Rin," panggil Kagome cepat. Kepanikan dalam hatinya semakin besar melihat reaksi ibu hamil itu. "Tenanglah, kakak tidak mungkin menghianatimu."
Ucapan Kagome membuat Rin mengangkat kepalanya menatap miko masa depan itu dan tersenyum. Mengelus perutnya, dia mengangguk kepala pelan.
Inukimi yang melihat senyum Rin, segera tersadar dengan apa yang barusan dikatakannya. Tapi, dia merasa menantunya lebih baik mengetahui hal ini secepatnya daripada terlambat.
"Rin kecil," Menghela napas, Inukimi kemudian memanggil Rin pelan dan membuat wanita manusia itu dan Kagome menoleh wajah menatapnya.
"Kau tahu," ujar Inukimi pelan. Namun, wajahnya sangat serius. "Sesshoumaru itu—anjing."
"Eh????" seru Rin dan Kagome lagi bersamaan. Tapi kali ini terkejut dengan hal yang berbeda. Apa Inukimi sedang memaki anaknya sendiri?
"Iya, Sesshoumaru itu anjing, " ulang Inukimi sambil mengangguk kepala dengan ekspresi wajah yang tidak berubah. "Meski dia punya rupa seperti manusia, jangan pernah lupa bahwa wujud aslinya itu adalah seekor anjing dari tanah barat."
Rin dan Kagome segera tersadar dari perasaan terkejut mereka mendengar penjelasan Inukimi. Mereka jelas ingat wujud asli Sesshoumaru, tapi—mendengar Inukimi dengan lantang dan wajah serius mengatakan Sesshoumaru itu anjing, tidak tahu kenapa terasa sangat—aneh.
Inukimi yang tidak sadar dengan apa yang dipikirkan Rin dan Kagome meneruskan ucapannya. "Dan, anjing itu—setia. Sesshoumaru tidak akan pernah dapat menghianatimu. Insting nalurinya tidak akan mengijinkan."
Ucapan Inukimi, Rin tahu, itu adalah untuk menyakinkannya pada Sesshoumaru. Tersenyum lembut, dia kemudian mengangguk kepala. "Rin mengerti. Terima kasih, ibunda."
Wanita lain.
Rin tidak pernah berpikir tentang kemungkinan itu selama ini. Tapi, sekarang dia mau tidak mau memikirkannya. Sesshoumaru yang rupawan, kuat dan berkuasa—seorang penguasa dari ribuan youkai yang dihormati. Dalam hidupnya, apakah dirinya akan menjadi satu-satunya wanita yang dimilikinya? Di masa mendatang, saat dia telah tiada, apakah inuyoukai itu akan tetap memilikinya dalam hati?—ataukah, akan ada penggantinya?
Berbeda dengannya yang seorang manusia, Sesshoumaru adalah seorang daiyoukai yang dapat hidup ribuan tahun. Dalam hidup panjang itu—betapa egoisnya dia, jika dirinya berharap tidak akan ada wanita lain.
Rin mencintai Sesshoumaru, tapi, dari semua itu, dia berharap youkai yang dicintainya itu; bahagia. Bisa bersamanya hingga akhir hidupnya, Rin sudah puas, bisa menjadi istrinya dan ibu dari anaknya, Rin sudah tidak akan meminta apa-apa. Karena itu, jika suatu saat, Sesshoumaru memiliki wanita lain—dia tidak akan keberatan.
Mencintai Sesshoumaru, Rin melakukannya dengan sepenuh jiwa dan raganya. Jika inuyoukai itu menginginkan, jika inuyoukai itu senang dan puas—dia tidak akan mempermasalahkan; dia hanya ingin Sesshoumaru bahagia.
Srettt.
Suara pintu shoji yang terbuka segera membuat semua yang ada dalam ruangan menolehkan wajah mereka pada sumber suara, dan senyum di wajah Rin melebar saat melihat siapa yang datang; Sesshoumaru dan Inuyasha.
"Sesshoumaru-sama." panggil Rin sambil tertawa.
Seperti biasa, Sesshoumaru berjalan ke arah Rin. Tidak mengatakan apa-apa dengan ekspresi wajah yang tidak berubah, dia segera duduk di belakang wanita manusia itu.
"Baiklah," tawa Inukimi keras melihat sikap Sesshoumaru yang tidak aneh lagi baginya. Dia sama sekali tidak bertanya pada putranya maksud kedatangan Akiko. Melangkah keluar melewati Inuyasha, tawanya semakin keras. "Karena kau sudah kembali, aku akan kembali ke kamarku juga. Rin kecil, kau istirahat saja."
"Kami juga akan kembali ke kamar," sambung Kagome. Dia bisa melihat Shiro, Mamoru, Aya dan Maya yang berada di taman ketakutan akan kehadiran Sesshoumaru yang tiba-tiba. "Panggil aku jika butuh bantuan."
Rin tertawa dan mengangguk kepala. "Terima kasih, Kagome-sama."
Berdiri, Kagome kemudian memanggil anak-anak yang dengan segera berlari menuju kamar mereka. Menghela napas, perlahan, dia menggeleng kepala dan berjalan keluar. Miko masa depan itu tidak mengatakan apa-apa lagi, tapi dia tersenyum kecil saat melihat kedekatan sepasang suami istri dalam kamar sebelum menutup pintu kamar.
Menarik tangan Inuyasha yang anehnya dari diam membisu menuju kamar mereka, sebuah kerutan kecil memenuhi wajah Kagome. "Inuyasha, kau kenapa?"
"Memangnya ada apa denganku?" tanya Inuyasha kembali.
"Kau—tersenyum terus," jawab Kagome bingung. Dia bisa melihat jelas, seulas senyum lebar di wajah suaminya yang biasanya selalu cuek dan ketus. "Kau terlihat senang sekali."
"Cih," berdecak tidak suka, Inuyasha membuang muka. Tapi, senyum tetap mengembang di wajah tampannya. "Bukan urusanmu."
"Apa katamu??? Jelaskan padaku apa yang terjadi!!" teriak Kagome penuh kekesalan. Melihat sikap Inuyasha, dia tahu, dirinya telah ketinggalan sesuatu yang penting.
Suara Kagome dan Inuyasha semakin jauh, dan saat keadaan telah kembali hening, Rin segera menyandarkan punggungnya pada dada Sesshoumaru. Menoleh wajahnya menatap inuyoukai itu, dia tersenyum. "Ada urusan apa Akiko-sama datang ke barat, Sesshoumaru-sama?"
Sesshoumaru tidak langsung menjawab pertanyaan Rin. Perlahan, dia melingkarkan kedua tangannya memeluk wanita itu serta anak dalam perutnya. "Bukan urusan penting."
"Baiklah." Tertawa, Rin tidak bertanya lebih lanjut lagi akan maksud kedatangan Akiko. Sesshoumaru mengatakannya tidak penting—dan tidak pentinglah apapun itu.
Seakan menyetujui pikiran sang ibu, anak dalam kandungan Rin kembali bergerak, membuat dirinya dan Sesshoumaru terkejut.
"Anak ini benar-benar anakmu, Rin." senyum Sesshoumaru menatap Rin dengan sepasang matanya yang lembut. Anak mereka benar sungguh aktif.
Rin tertawa lebar, tapi, dia tidak membalas ucapan Sesshoumaru. Mungkin ucapan inuyoukai itu benar, mungkin anak mereka nanti akan mirip dengannya. Perlahan, dengan senyum lembut di wajah, dia mengelus perutnya pelan penuh kasih sayang. "Rin mencintaimu, Sesshoumaru-sama juga mencintaimu—kami selalu mencintaimu..."
Senyum Sesshoumaru hanya bertambah lebar mendengar ucapan lembut Rin. Menutup mata, dia kemudian membenamkan wajahnya pada celah leher wanita manusia dalam pelukannya, mencium bau musim semi abadi yang sedikit berubah karena kehamilannya. Perlahan, tangannya juga ikut bergerak mengelus perut di mana dia tahu anak mereka berada.
Anak mereka.
__ADS_1
Anaknya dan Rin. Pembicaraan hari ini membulatkan keputusan Sesshoumaru, selamanya, dia tidak akan memiliki anak lain lagi selain anak ini. Karena itu untuk selamanya juga, posisi anak ini tidak akan pernah tergantikan—satu-satunya pewaris tanah barat yang ada.
....xOxOx....