![Till The End Of Time [ Inuyasha Fanfiction ]](https://asset.asean.biz.id/till-the-end-of-time---inuyasha-fanfiction--.webp)
"Kita pasti akan memenggal kepala inuyoukai dari barat, wanita penghianat serta hanyou dalam perutnya!!"
Suara bangsawan Mio yang keras terdengar memenuhi lapangan di mana semua pasukan para bangsawan, taijiya, miko, pendeta dan biksu berkumpul. Sedetik kemudian, sorak sorai penuh semangat segera memenuhi lapangan. Semua senjata terangkat ke atas.
"Bunuh penghianat dan youkai!!"
"Bunuh hanyou!!"
"Bebaskan tanah kita dari para youkai!!"
Wajah para prajurit, taijiya, miko, pendeta dan biksu yang bergabung penuh dengan tekad dan keseriusan. Tidak ada rasa takut sedikitpun di wajah mereka. Mereka percaya, dengan jumlah mereka yang hampir mencapai lima belas ribu orang, istana youkai tanah barat pasti dapat mereka taklukkan.
Para masyarakat yang melihat dari samping juga ikut bersorak gembira. Mereka memberikan semangat dan menanjatkan doa dengan tulus kepada pasukan yang akan menjaga kedamaian di tanah mereka di lahirkan.
Menatap pasukan gabungan terkuat yang mereka yakin mampu menguncang seluruh tanah di jepang, para bangsawan dan pemimpin aliansi taijiya, miko, pendeta dan biksu tersenyum puas. Penyerangan ini pasti akan tertulis dalam sejarah, dan menjadi langkah pertama para manusia menumpas seluruh youkai yang ada.
Dalam kerumunan masyarakat yang bersorak gembira, Kaeda menghela napas menatap pemandangan di depan. Perlahan, dia kemudian menolehkan mata menatap Kohaku yang berdiri di sampingnya. "Keputusan mereka telah bulat, kita berdua tidak bisa melakukan apa-apa lagi, Kohaku."
Kohaku tidak membalas ucapan Kaeda, tapi ekspresi wajahnya sangat muram. Taijiya muda itu tahu, apa yang dikatakan miko tua itu benar, mereka tidak akan dapat menghentikan lagi pasukan besar yang akan berangkat ke tanah barat sekarang. Beberapa hari yang telah dia dan Kaeda habiskan di kota ini, berusaha menghentikan niat para bangsawan, taijiya, miko, pendeta dan biksu menyerang istana tanah barat, semuanya berakhir dengan; sia-sia.
"Aku akan mengikuti pasukan ini ke istana tanah barat dan melihat apa yang bisa kulakukan sebisa mungkin," ujar Kohaku kemudian. Memaksa seulas senyum di wajah, dia kemudian mengangkat kepala menatap langit biru di atas. "Kurasa, kita hanya dapat berharap kakak dan yang lainnya dapat menemukan solusi untuk menghindari perang ini."
Kaeda tidak mengatakan apa-apa mendengar ucapan putus asa Kohaku. Perlahan, dia kemudian menoleh wajahnya menatap pasukan di depan yang mulai bergerak meninggalkan lapangan.
Perang manusia dan youkai.
Wajah tersenyum dan tawa seorang wanita manusia yang penuh kebahagiaan terlintas dalam pikiran Kaeda. Wajah dari seorang wanita yang menjadi penyebab perang yang akan terjadi—Rin, sang kisaki tanah barat.
Siapa yang pernah menyangka hubungan antara Rin dan Sesshoumaru akan menciptakan keadaan seperti ini? Dia tidak bisa membayangkan bagaimana perasaan wanita manusia yang lembut itu dengan perang yang akan terjadi?—apakah Rin ketakutan? Sedih? Bingung?
Kaeda hanya dapat menghela napas. Jika saja dia tahu inilah masa depan yang ada, mungkin dulu saat Rin kecil, saat wanita manusia itu memilih Sesshoumaru, dia seharusnya menghentikan. Jika Rin tidak bersama Sesshoumaru, semua ini tidak akan terjadi. Tapi, jika Rin tidak bersama Sesshoumaru, akankah dia bahagia?
Youkai dan manusia.
Hubungan yang terjalin, cinta yang hadir, Kaeda tidak tahu lagi, apakah itu benar atau—salah.
....xOxOx....
"Korban di pihak laba-laba emas mencapai dua belas orang, dan kebanyakan adalah wanita dan anak kecil. Rumah penduduk desa terbakar begitu juga dengan gudang penyimpanan makanan mereka," lapor Koga menatap Akihiko yang duduk di depannya dengan Tsubasa berdiri di samping. "Namun, secara garis besar, keadaan sudah terkendali."
Akihiko diam membisu mendengar laporan dari Koga. Wajahnya datar tanpa ekspresi, seakan laporan yang baru saja didengarnya bukanlah sebuah masalah.
Koga tetap tidak bergerak, dia menelan ludahnya. Berada dalam ruang kerja Akihiko bersama dengan pemilik ruangan sekarang, dia merasa tekanan yang berat di pungungnya.
"Pelakunya," ujar Akihiko tiba-tiba. Suaranya seperti biasa datar penuh kemalasan, tapi Koga bisa merasa tekanan yang ada semakin berat. "Apakah sudah di temukan?"
"Belum, Akihiko-sama," jawab Koga dan menelan ludah sekali lagi. "Aku dan pasukanku telah mencari sekeliling desa untuk keberadaan pasukan yang menghancurkan desa laba-laba emas. Tapi, kami tidak menemukannya."
Akihiko kembali terdiam dengan jawaban yang didapatkannya, dan itu membuat Koga merasa takut, sebab dia tidak bisa menebak pikiran penguasa tanah selatan tersebut. Bagaimana jika dia murkah dan ingin membunuhnya?—Ayame dan anak mereka masih menunggu di rumah.
"Akihiko-sama," Tsubasa yang berdiri di samping Akihiko tiba-tiba mengeluarkan suaranya. Sikapnya seperti biasa, penuh kesopanan saat berbicara dengan sang penguasa tanah selatan tersebut. "Hamba merasa ada yang janggal."
Akihiko menoleh mata biru langitnya menatap Tsubasa. Dia tetap diam membisu membiarkan selirnya itu mengeluarkan pendapatnya.
"Beberapa bulan ini, hamba telah mendengar berita pasukan manusia yang telah menyerang dan membinasakan beberapa desa di tanah netral, timur dan utara tanpa sisa," lanjut Tsubasa lagi dengan suaranya yang pelan. "Kecuali beberapa mayat dan bendera bangsawan manusia yang tersisa, sebenarnya tidak ada bukti jelas bahwa pelakunya adalah manusia."
Tsubasa mengikuti berita tentang desa yang hancur di tanah netral, timur dan utara. Informasi yang didapatkannya memang tidak banyak, dan walau ketiga wilayah tersebut dengan yakin mengumukan bahwa pelakunya adalah manusia, selir penguasa tanah utara tersebut tidak percaya. Sudah hukum alam bahwa selemah apapun youkai itu, tidak mungkin ada manusia yang bisa membunuh dan menghancurkan mereka tanpa sisa.
"Kau berpendapat pelakunya adalah youkai?" sela Koga yang dari tadi diam membisu mendengar ucapan Tsubasa.
Tsubasa menoleh wajahnya pada Koga dan mengangguk kepala. "Apakah ada hal aneh yang anda temukan di desa laba-laba emas, Koga-sama?"
Koga menarik napas dan berusaha menjelasjan apa yang ditemukannya. "Bekas dan juga senjata yang digunakan pelaku membunuh semua laba-laba emas jelas merupakan senjata manusia, dan tidak ada bau youkai lain yang tertinggal selain bau Shui serta pengawalnya, youkai dari wilayah netral."
"Anda yakin?" tanya Tsubasa pelan menatap tajam Koga. "Anda yakin dengan indera penciuman anda?"
__ADS_1
Ditatap seperti itu oleh Tsubasa, Koga menjadi ragu. Tapi, bagaimanapun juga, dia tetap yakin dengan indera penciumannya. Dalam udara desa yang terbakar hebat, dia benar-benar tidak mencium bau lain selain bau Shui dan para youkai dari wilayah netral. Wilayah netral adalah wilayah yang berada di sekitar laut, karena itu, bau asin laut selalu tercium jelas dari youkai netral. Jadi, dia tidak mungkin salah.
"Kau curiga, Shui?" ujar Akihiko yang dari tadi diam membisu kemudian.
Tsubasa segera menoleh wajahnya menatap Akihiko dan mengangguk kepala penuh kesopanan. "Iya. Shui-sama bisa berada di tanah selatan tanpa pemberitahuan dan menyelamatkan desa laba-laba emas, menurut hamba bukanlah suatu kebetulan."
Tsubasa memang mencurigai Shui. Dia percaya dengan indra penciuman Koga yang masih merupakan kerabat langsung dari Akihiko, sang youkai serigala dari selatan. Karena itulah, Shui semakin dicurigai. Selain mayat manusia, tidak ada bau youkai lain selain bau youkai dari wilayah netral yang tertinggal. Tapi, bagaimana jika pelakunya juga merupakan youkai dari netral itu sendiri?—semua akan tersembunyi dengan baik, kan?
Akihiko tidak mengatakan apa-apa, dia kembali terdiam. Menutup matanya, jauh dalam hati, dia setuju dengan ucapan Tsubasa. Siapa Shui?—penguasa tanah selatan jelas tahu. Dia bukanlah karakter yang tenang dan damai seperti yang dikira semua orang.
"Jika itu memang Shui dari netral, apa yang dia inginkan? Bukankah ada desa yang hancur juga di wilayahnya?" potong Koga bingung. Dia memang tidak begitu pintar membaca keadaan, hanya saja, jika memang Shui terlibat, maka kejadian yang terjadi akhir-akhir ini pasti memiliki makdus dan tujuan tersembunyi.
"Tsubasa, Koga," panggil Akihiko kemudian. Membuka mata biru langitnya lagi, wajah tampannya tetap tanpa ekspresi. "Berikan bantuan untuk membangun desa laba-laba emas."
"Hamba mengerti." Balas Koga dan Tsuubasa bersamaan mendengar perintah Akihiko.
"Lalu," lanjut Akihiko lagi. Pandangan matanya menajam, begitu juga dengan suaranya. "Awasi Shui dan netral."
"Mengerti." Balas Koga dan Tsubasa sekali lagi secara bersamaan.
Akihiko tidak mengatakan apa-apa lagi. Apa yang diinginkan Shui dari menghancurkan desa-desa youkai, dia tidak tahu. Tapi, penguasa tanah selatan percaya, cepat atau lambat, semuanya akan jelas pada waktunya. Jika saat itu tiba, jika netral berani menyentuh selatan, dia akan menghancurkannya dengan senang hati.
"Akihiko-sama." panggil Koga tiba-tiba dengan pelan, meski dia tahu Akihiko telah menyudahi pertemuan ini. Perintah sudah diberikan, keberadaannya sudah tidak dibutuhkan. Namun, dia merasa harus memberitahu penguasa tamah selatan itu akan satu informasi lagi.
Menelan ludah kesekian kalinya, Koga menatap Akihiko dengan ekspresi wajah yang penuh keraguan dan juga tidak dapat dipungkiri ketakutan. "Hamba ingin melaporkan sesuatu pada anda."
Akihiko hanya kembali menoleh pandangannya pada Koga. Pandangan matanya tajam dan membuat youkai serigala yang masih merupakan kerabatnya menjadi gugup.
Jauh dalam hati, Koga sebenarnya tidak ingin melaporkan informasi yang tidak berhubungan dengan desa laba-laba emas pada Akihiko. Tapi, menilai penguasa tanah selatan ini sampai menginjakkan kaki ke istana tanah barat untuk seorang wanita manusia, dia merasa lebih baik melaporkan informasi yang didapatkannya tersebut sebelum terlambat.
"Pasukan manusia di kota Ame telah bergerak menyerang istana tanah barat."
....xOxOx....
Sesshoumaru duduk di samping futon menatap Rin yang meminum ramuan di tangan. Ramuan hitam pekat itu adalah ramuan yang dibuat oleh Inukimi. Penguasa tanah barat tersebut tidak tahu dari apa ramuan itu terbuat, tapi dari bau yang ada, dia tahu bahwa ramuan itu pastilah sangat pahit.
Menurunkan mangkuk ramuan yang telah selesai diminumnya, Rin kemudian merasakan jari-jemari hangat yang menghapus sisa ramuan di bibirnya. Menoleh pada pemilik jari-jemari tersebut, sekali lagi dia tersenyum sangat lembut.
"Pahit, kah?" tanya Sesshoumaru pelan. Wajahnya tanpa ekspresi, tapi kedua mata emasnya menatap Rin yang ada di depan penuh kelembutan.
Rin tertawa kecil dan menggeleng kepala pelan. Menggerakkan tangan menangkap jari jemari Sesshoumaru di ujung bibirnya, dia menutup mata. "Tidak. Tidak pahit, Sesshoumaru-sama."
Senyum dan tawa Rin membuat Sesshoumaru ingin sekali mengucapkan satu kata; bohong. Tapi, dia tidak dapat menemukan kekuatan untuk mengucapkannya. Diam membisu, inuyoukai itu kemudian menggerakkan badannya dan mencium pelan kening wanita manusia tersebut.
Sentuhan hangat di kening membuat Rin membuka mata, tapi sejenak kemudian dia kembali menutupnya. Kehangatan ini adalah kehangatan yang sangat disukainya, menjalar memenuhi seluruh relung hatinya.
Melepaskan ciuman di kening Rin, perlahan, Sesshoumaru dengan hati-hati memindahkan tubuh mungil tersebut ke atas pangkuannya. Membiarkan kepala wanita manusia itu tersandar di dada, dia menggerakkan tangan kanannya mengelus lembut rambut hitam panjang selembut sutra di depan mata.
Rin tetap tidak membuka mata, dia juga tidak bergerak. Berada dalam pelukan Sesshoumaru, telinganya bisa mendengar jelas suara detakan jantung mereka dan meido seiki yang seirama.
Ketenangan dan kedamaian dirasakan Rin. Hari ini adalah hari di penghujung musim gugur, hari di mana semua daun pohon marpel di taman telah gugur—hari yang tenang dan damai.
Perlahan, Rin kemudian menggerakkan kedua tangannya menyentuh perut besarnya. Musim gugur akan segera berakhir, musim dingin akan datang, dan Shura, anak mereka akan segera lahir.
"Sesshoumaru-sama," panggil Rin pelan. Membuka matanya, dia mengangkat kepala menatap Sesshoumaru. "Anda tahu, bagi Rin sekarang, selain anda, Shura adalah keberadaan yang paling penting."
Sesshoumaru tidak membalas ucapan Rin, dia menurunkan pandangan matanya pada wajah cantik wanita manusia tersebut.
"Bagi Rin yang merupakan seorang manusia dan juga seorang wanita," lanjut Rin lagi dengan pelan, sedangkan kedua mata coklatnya menatap semakin lembut Sesshoumaru. "Suami dan anak adalah keberadaan paling berharga."
Ada kehangatan dirasakan Sesshoumaru mendengar ucapan Rin. Tersenyum kecil, dia menggerakkan tangan kiri dan kembali menyandarkan wajah wanita manusia itu pada dadanya. "Sesshoumaru ini tahu."
Rin tertawa kecil mendengar ucapan Sesshoumaru. Tidak mengatakan apa-apa lagi, dia kembali menutup mata dan membiarkan dirinya larut dalam kehangatan yang ada. Rasa kantuk dengan segera menyerangnya, dan tidak butuh waktu lama, diapun segera terlelap dalam tidurnya yang damai.
Sesshoumaru tidak melepaskan pandangannya sedikitpun dari wajah Rin yang telah tertidur, begitu juga dengan tangan kanannya yang terus mengelus lembut rambut hitam wanita itu.
__ADS_1
Wajah yang pucat pasi, badan yang tidak bertenaga—Rin yang semakin melemah. Ada rasa sakit dan tidak berdaya yang dirasakan Sesshoumaru melihatnya.
Shura—anak mereka yang berharga. Anak yang sama penting seperti dirinya dalam keberadaan seorang wanita manusia bernama Rin. Karena itulah, Rin bersedia menanggung semua kesakitan dan penderitaan yang ada.
Menurunkan matanya, pandangan mata Sesshoumaru kemudian jatuh pada perut Rin. Menggunakan tangan kanannya yang dari tadi mengelus rambut wanita dalam pelukan, dia kemudian menyentuh perut besar itu. Seperti biasa, ada kehangatan yang dia rasakan saat menyentuhnya.
"Lahirlah secepat yang kau bisa, Shura," ujar Sesshoumaru pelan sambil mengelus perut besar tersebut. "Kau sudah cukup membuat ibundamu menderita."
Tidak ada suara yang membalas ucapan Sesshoumaru, tapi dia bisa merasakan gerakan pelan dari anak dalam perut Rin. Senyum kecil segera memenuhi wajah tampannya. Sepertinya, Shura mendengar dan mengerti ucapannya barusan. "Jangan pernah membuat ibundamu menderita lagi jika kau telah lahir. Ukirkanlah selalu senyum dan tawa kebahagiaan di wajahnya, hanya itu yang ayahandamu ini inginkan darimu."
Sekali lagi, anak dalam perut Rin bergerak seakan memang sedang membalas ucapan ayah kandungnya. Sedetik kemudian, senyum di wajah Sesshoumaru berubah menjadi tawa kecil.
Shura—anak mereka yang berharga. Betapa dia mencintai anak ini sekarang, mungkin tidak ada yang tahu. Seperti halnya Rin, Shura juga telah menjadi yang terpenting dalam keberadaan seorang inuyoukai bernama Sessgoumaru.
Bergerak pelan dan hati-hati, Sesshoumaru kemudian membaringkan badan Rin kembali ke atas futon. Menyelimutinya, mata emasnya menatap lembut wajah yang tertidur damai tersebut.
Bangkit berdiri, Sesshoumaru kemudian bergerak dan berjalan ke arah pedang tensaiga dan bakusaiga, serta baju jirahnya yang terletak tidak jauh dari futon di mana Rin tertidur. Penguasa tanah barat tersebut tidak pernah memakai baju jirah dan membawa kedua pedang itu saat berada dalam istana, namun, tidak untuk hari ini.
Memakai baju jirahnya, pandangan mata emas itu kemudian jatuh pada pedan tensaiga dan bakusaiga. Dulu saat memiliki kedua pedang taring yang dikagumi dan ditakuti semua orang, Sesshoumaru berpikir betapa kuat dirinya. Namun, sekarang, memiliki kedua pedang taring tersebut, dia hanya berpikir, betapa lama pedang ini akan bertahan melindungi sesuatu yang ingin dilindunginya.
Dalam klan inuyoukai dari barat, pedang adalah taring, dan taring adalah untuk melindungi. Kata itu benar, hari ini, pertama kali Sesshoumaru paham kata-kata itu. Pedangnya, taring yang ada adalah untuk melindungi dua keberadaan paling penting dalam hidupnya—istri dan anaknya.
Menyelipkan kedua pedang tersebut di pinggangnya, Sesshoumaru membalikkan badannya dan kembali berjalan mendekati Rin. Berlutut, inuyoukai itu membungkukkan badan ke bawah. Mengelus dan menutup mata, dia mencium lembut kening kisakinya. "Istirahatlah dengan tenang, Rin."
Lalu, saat Sesshoumaru membuka kedua matanya, tidak ada lagi kelembutan di mata tersebut. Mata emas itu bersinar tajam penuh tekad dan juga keseriusan.
Berdiri, dengan wajahnya yang tanpa ekspresi, Sesshoumaru berjalan keluar dari kamar tidurnya dan Rin. Mata emas kemudian menangkap sosok Kiri dan Kira yang berlutut memberi hormat di depan pintu kamar.
Sesshoumaru tidak mengucapkan sepatah katapun, begitu juga dengan Kiri dan Kira. Melangkah pelan, penguasa tanah barat kemudian berjalan melewati kedua saudara kembar inuyoukai yang segera berdiri mengikutinya.
Melewati koridor dan taman yang ada, semua dayang, prajurit yang ada dalam istana tanah barat menatap sang penguasa mereka. Tapi, tidak ada seorangpun yang berani mendekatinya. Meski mereka semua tetap menjalankan tugas harian mereka seperti biasa, ekspresi wajah mereka semua rumit tidak terjelaskan.
Hari ini adalah hari yang tidak biasa di istana tanah barat, seluruh penghuni istana tahu itu. Namun, Sesshoumaru telah memberikan perintah bahwa hari ini adalah salah satu hari di akhir musim gugur seperti biasa, dan mereka cukup menjalankan apa yang menjadi tugas mereka.
Terus melangkah, Sesshoumaru kemudian tiba di depan pintu dari benteng istana tanah barat yang tertutup rapat. Inuyasha, Kagome, Miroku, Sango dan juga Inukimi berada di sana. Mereka berdiri dalam diam menatap sosok penguasa tanah barat yang berjalan mendekat.
Ekspresi wajah Inuyasha seperti biasa; cuek tidak peduli. Namun tidak untuk Kagome, Sango, Miroku dan Sango, ekspresi mereka penuh kesulitan dan juga keputusasaan. Hanya Inukimi seorang saja yang tersenyum bahagia melihat Sesshoumaru.
Mendekati Sesshoumaru, Inukimi tertawa. "Ibundamu ini akan menonton, tunjukkanlah kebesaran tanah barat pada dunia."
Sesshoumaru tidak membalas ucapan Inukimi. Diam membisu, dia hanya menatap mantan penguasa tanah barat tanpa ekspresi.
"Kakak.." Panggil Kagome pelan. Dia menguatkan hati dan keberaniannya untuk menghentikan Sesshoumaru. Namun, saat sepasang mata emas penguasa tanah barat itu terarah menatapnya, dia langsung terdiam seribu bahasa. Ada ketakutan yang muncul saat dia melihat mata itu. Mata itu seperti biasa dingin tanpa ekspresi, namun sekaligus sangat mengerikan.
Menoleh wajah menatap Inuyasha, Kagome yang putus asa tidak mengatakan apapun, tapi kedua matanya terlihat jelas meminta pertolongan pada suaminya tersebut.
"Cih," cibir Inuyasha kemudian, sambil melipat kedua tangan di dada. Ekspresi wajah tidak berubah meskipun dia tahu apa yang dimaksud Kagome. "Aku tidak akan ikut campur urusan ini."
Miroku dan Sango tidak bisa berkata apa-apa. Melihat ekspresi wajah Sesshoumaru, mereka berdua tahu, keputusan inuyoukai itu sudah bulat dan tidak terhentikan.
Tetap diam membisu tidak mempedulikan mereka yang ada di depannya, Sesshoumaru kemudian mengangkat tangan kanannya. Dia membuka lebar telapak tangan tersebut, sedetik kemudian, dia mengenggamnya kembali dengan kuat.
Prankkk
Suara sesuatu yang pecah terdengar memenuhi langit. Terkejut, Inuyasha, Kagome, Miroku dan Sango mengangkat kepala menatap langit. Mata mereka terbelalak saat melihat apa yang terjadi. Bagaikan pecahan kaca, langit di atas istana tanah barat terpecah dan menunjukkan langit yang sama lagi di belakangnya.
Kekai.
Inuyasha dan yang lainnya tahu, yang pecah tersebut adalah kekai yang selama ini menyelimuti seluruh istana tanah barat—kekai yang selama ini menyembunyikan istana dari mata para manusia.
Lalu, bersamaan dengan suara kekai yang hancur, suara derap kuda dan teriakan manusia memenuhi langit.
"Istananya!!! Itu istana youkai tanah barat!!!"
"Serang!!!"
__ADS_1
....xOxOx....