![Till The End Of Time [ Inuyasha Fanfiction ]](https://asset.asean.biz.id/till-the-end-of-time---inuyasha-fanfiction--.webp)
"Aku tidak bisa melakukan apapun." ujar Shui pelan. Dalam ruang kerja pemimpin tanah netral, kedua mata putihnya menatap Hima dan Koharu yang berlutut di depan.
"Shui-sama!!" panggil Hima dan Koharu bersamaan. Mata mereka menatap Shui, sang pemimpin youkai netral penuh permohonan.
Badan kedua youkai yang berlutut di depan pemimpin mereka tidak bergerak sedikitpun. Mereka datang menghadap Shui dengan harapan penuh youkai bermata putih itu akan membantu mereka. Sebab, mereka tahu, tidak ada orang lain yang dapat membantu mereka selain sang terhormat dari tanah netral.
Para pemimpin klan youkai di tanah netral telah berunding akan apa yang harus mereka lakukan untuk mengatasi masalah yang akan datang ke depannya, dan keputusan yang mereka sepakati adalah dengan memperbaiki keseimbangan yang rusak, yakni; menurunkan kisaki tanah barat dari tahtanya dan juga menghentikan niat sang penguasa tanah barat yang akan mewariskan tanah barat pada anaknya yang merupakan seorang; hanyou.
Tapi, mereka semua juga tahu, keputusan yang mereka sepakati itu adalah sesuatu yang mustahil. Mereka bukanlah bagian dari tanah barat dan juga, suara mereka yang merupakan youkai lemah tidak akan pernah dianggap siapapun. Kemugkinan terburuk jika mereka tetap berani melakukannya sendiri tidak lain adalah menghadapi kemarahan Sesshoumaru, sang penguasa tanah barat; kematian.
Karena itulah, mereka menghadap Shui. Shui adalah pemimpin dari para youkai tanah netral, dia adalah satu-satunya sosok dimana mereka bisa bergantung. Terlebih lagi, youkai bermata putih itu adalah adik angkat dari Inu No Taisho, penguasa tanah barat sebelum Inukimi—dia pasti bisa melakukan sesuatu untuk memperbaiki keseimbangan yang hancur ini.
"Aku mengerti maksud dan tujuan kalian," ujar Shui dengan pelan. Wajah cantiknya tenang seperti biasa. "Meski aku adalah adik dari Inu No Taisho, itu hanyalah gelar kosong. Aku tidak bisa ikut campur di tanah barat."
"Shui-sama," sela Koharu dengan suaranya yang keras. Dia membungkukkan badan dan menurunkan kepala ke bawah memohon. "Keseimbangan di dunia ini sudah hancur. Jika anda membiarkan ini berlanjut, suatu hari nanti, manusia akan mengungguli kita para youkai!!"
Shui diam membisu mendengar ucapan Koharu. Ekspresi wajahnya tidak berubah sedikitpun, tetap tenang.
"Manusia tidak seharusnya menjadi kisaki youkai, begitu juga dengan gelar pewaris sang penguasa youkai yang tidak seharusnya diberikan pada seorang hanyou!!" lanjut Koharu lagi, dia tetap tidak putus asa dengan penolakan Shui.
"Aku tahu maksudmu, Koharu-san," Shui menghela napas mendengar ucapan Koharu. "Tapi, aku benar tidak bisa melakukan apapun."
Koharu mengangkat kepalanya menatap Shui. Tapi tekad di wajahnya tetap tidak berubah.
"Aku tidak memiliki kekuatan," lanjut Shui pelan. "Meskipun aku mengerakkan seluruh kekuatan tanah netral, aku tetap tidak akan dapat menekan Sesshoumaru sang penguasa tanah barat."
Ucapan Shui membuat Koharu dan Hima menurunkan kepala ke bawah penuh keputus asaan. Mereka tahu apa yang dikatakan pemimpin mereka itu benar, dari semua daerah di jepang, tanah barat adalah yang terkuat. Kenyataan itu tidak pernah berubah sejak dulu hingga sekarang.
"Kekuatan barat, kalian semua tahu," Shui bisa melihat jelas ekspresi kedua youkai di depannya. Wajahnya tetap datar tanpa ekspresi, tapi jauh dalam hati, dia cukup gembira karena semuanya berjalan sesuai keinginannya. "Tidak ada yang dapat menekan barat, termasuk selatan—kecuali semua tanah lainnya bersatu."
Kalimat terakhir yang diucapkan Shui seketika membuat Koharu dan Hima kembali mengangkat kepala menatap sang terhormat dari tanah netral. Keputus asaan di wajah mereka menghilang, dan secercah harapan muncul dalam mata.
"Shui-sama," panggil Koharu cepat. "Apa yang anda ucapkan benar! Kita tidak akan dapat menekan tanah barat jika sendiri. Tapi, jika kita bisa menggabungkan semua tanah di jepang, maka itu tidaklah mustahil lagi!"
"Benar, Shui-sama," sambung Hima menyetujui ucapan Koharu. "Baik tanah timur, utara maupun netral juga mengalami keadaan yang sama dengan kita—mereka pasti akan mengerti inti dari tujuan kita."
Sampai hari ini, kecuali tanah barat di mana Sesshoumaru berhasil memukul mundur semua pasukan manusia, baik tanah timur, utara dan juga selatan mengalami kerugian. Timur dan utara kehilangan beberapa desa youkai tanpa sisa, dan desa tanah selatan bisa bertahan tanpa kehancuran juga berkat bantuan Shui. Karena itu, baik Koharu dan Hima yakin, ketiga daerah itu tidak akan menolak permintaan dari tanah netral untuk mengabungkan kekuatan demi memperbaiki keseimbangan yang hancur.
"Tidak, timur, utara dan selatan belum tentu setuju. Terlebih lagi, ini..." Shui tidak tahu harus mengatakan apa. Dia menutup mata seakan sedang memikirkan apa yang diucapkan Koharu dan Hima.
Koharu dan Hima tidak membuang kesempatan yang ada. Mereka baru saja menemukan secercah harapan, dan mereka berdua tidak akan membiarkan Shui menolak satu-satunya jalan yang ada. Apalagi mereka berdua kini berada disini mewakili seluruh klan youkai di tanah netral.
"Ini semua adalah demi masa depan dunia youkai, Shui-sama!" ujar Koharu dengan suaranya yang lantang. "Setidaknya kita harus mencoba!"
"Kami mohon, Shui-sama," tambah Hima sambil membungkukkan badan memohon. "Jangan menolak satu-satunya jalan yang ada! Kami mohon, pikirkanlah!!"
Shui tidak membalas ucapan Koharu dan Hima yang terus berusaha menyakinkannya untuk memilih jalan yang ada. Pemimpin youkai tanah netral tersebut diam membisu dengan mata tertutup.
"Shui-sama," panggil Hima dengan pelan. "Anda adalah pemimpin kami, pelindung dari semua klan youkai di tanah netral."
Ucapan Hima yang pelan membuat Shui membuka mata putihnya kembali. Menghela napas, dia kemudian membuka mulutnya. "Aku mengerti. Biarkan aku memikirkannya—aku akan memberikan jawaban pada kalian besok."
Senyum dan tawa memenuhi wajah Koharu dan Hima begitu mendengar apa yang diucapkan Shui. Menatap youkai bermata putih itu, sekali lagi, mereka berdua membungkukkan badan. "Terima kasih, Shui-sama!!"
Penuh suka cita, Koharu dan Hima kemudian memohon pamit dan berjalan keluar dari ruang kerja sang terhormat dari netral. Mereka tidak imgin menganggu lagi dan bermaksud memberikan waktu pada Shui untuk berpikir dengan baik.
Shui memang belum menyetujui keinginan mereka, tapi baik Koharu dan Hima yakin, sang terhormat dari netral pasti akan memberikan jawaban yang mereka inginkan besoknya. Gelar sang terhormat bukan tidaklah berdasar, youkai bermata putih itu tidak mungkin membiarkan keseimbangan dunia hancur.
Shui tidak mengatakan apa-apa melihat kedua youkai yang datang mencarinya menghilang dari pandangan. Ekspresi wajahnya tidak berubah, tetap datar.
Plok-plok-plok
Suara tepuk tangan tiba-tiba terdengar memenuhi ruang kerja Shui yang sunyi.
Shui perlahan menoleh pandangannya pada jendela yang terbuka di sampingnya. Tidak tahu sejak kapan, sosok seorang youkai telah duduk di sana dengan seulas senyum di wajah tampannya—Takeru sang penguasa tanah utara.
"Kau tahu," ujar Takeru sambil tersenyum. "Daripada menjadi pemimpin tanah netral, kurasa, kau lebih berbakat menjadi seorang pemain sandiwara."
Shui tersenyum mendengar ucapan Takeru. Tapi, dia tidak mengatakan apa-apa.
"Ahh—tidak," tawa Takeru gembira sambil mengelus-ngelus dagunya sendiri. "Daripada pemain sandiwara, lebih tepat penulis naskah sandiwara. Kau benar berbakat."
Shui tetap diam membisu. Senyum di wajah cantiknya juga tidak berubah saat mendengar ucapan Takeru. Bangkit berdiri, dia kemudian berjalan mendekati meja kerjanya. Mengambil kuas yang ada, dengan pelan dan elegan, sang terhormat dari netral menulis sesuatu di atas kertas yang tersedia.
Dengan tawa yang tidak berubah di wajah, Takeru berjalan mendekati Shui. Mata hijaunya menatap apa yang ditulis youkai bermata putih itu dan tersenyum lebar. "Sebagai saudara sepupumu, aku dengan senang hati akan membantumu," ujarnya pelan. "Tapi, sebagai formalitas, kau tetap harus menuliskan surat kepadaku."
__ADS_1
Shui tertawa mendengar ucapan Takeru. Menggeleng-geleng kepala, dia tersenyum. "Ya. Aku akan menulis surat untukmu juga."
Takeru mengangguk kepala dan ikut tertawa. Masih menatap surat yang ditulis Shui, dia kembali tersenyum. "Rubah tua itu pasti akan membantumu—ah, kurasa dia akan berterima kasih padamu."
"Ya," senyum Shui. Kedua matanya tertuju pada surat yang ditulisnya. "Bagi Asano-san ini adalah kesempatan. Dia tidak mungkin melepaskannya."
Takeru setuju dengan apa yang dikatakan Shui. Timur tidak pernah menjadi masalah, tapi, tidak untuk selatan. Mengangkat pandangan matanya, penguasa tanah utara itu menatap wajah sepupunya tersebut. "Bagaimana dengan serigala itu?" tanyanya pelan.
Kuas yang berada di tangan Shui berhenti bergerak begitu mendengar pertanyaan Takeru. Mengangkat kepala, mata putih pemimpin tanah netral menatap youkai ular di depannya dengan seulas senyum di wajah. "Akihiko-san tidak akan menjadi masalah—dia akan membantuku."
"Kau yakin sekali?" tanya Takeru lagi.
Shui mengangguk kepala. Senyum di wajahnya semakin melebar. "Tentu."
Takeru menatap lurus pada Shui. Dia sebenarnya sangat penasaran dengan kepercaya dirian youkai bermata putih itu bahwa Akihiko sang penguasa tanah selatan akan berdiri bersamanya kali ini. Sebab, youkai serigala dengan kebanggaan tinggi itu tidak mungkin akan menyukai rencana tanah netral yang dalam pandangannya—pecunda. Apa rencana Shui?
Tapi, sepenasaran apapun dalam hatinya, Takeru tidak bertanya lebih lama lagi. Kali ini, dia hanya ingin melihat dari samping sebagai seorang penonton.
Tersenyum kembali, Takeru kemudian mengganti topik pembicaraan. "Masalah monyet itu, bagaimana kau akan menanganinya?"
Monyet yang dimaksud Takeru tidak lain adalah Kenji. Penguasa tanah utara sendiri juga sudah tahu apa yang terjadi antara Shui dan Kenji tidak lama ini.
"Jika aku adalah kau," tambah Takeru dengan seulas senyum menyeringai di wajahnya. "Aku akan membunuhnya detik itu juga."
Shui kembali tertawa. Kedua mata putihnya berbinar gembira. "Aku ingin Kenji-san melihat akhir dari ini semua—melihat siapa yang akan berdiri di pucak dan tertawa."
"Obsebsimu yang aneh," Takeru mendengus dan menggeleng kepala. "Saranku, lebih baik kau mengawasi monyet itu."
Shui membalas Takeru dengan anggukan kepala. Tidak perlu disarani, dia juga tahu. Kenji sekarang memang tidak memiliki bukti yang akan menganggu rencananya, tapi, selicik apa saru shogun itu, pemimpin youkai tanah netral tahu—dia tidak mungkin membiarkannya tanpa pengawasan.
Tersenyum kembali tanpa mempedulikan Takeru, dengan perlahan, Shui kembali memusatkan perhatian pada surat yang ditulisnya. Sekali lagi, dia kembali menggerakkan kuas di tangannya menulis.
Takeru juga tidak mengatakan apa-apa lagi. Menatap Shui sejenak, dia kemudian membalikkan badan dan berjalan ke arah jendela lagi. "Aku tidak akan menganggumu lagi. Aku menunggu suratmu."
....xOxOx....
Akihiko duduk mendengar informasi yang disampaikan oleh seorang prajurit istana tanah selatan dalam ruang kerjanya. Sebuah kerutan kecil muncul di dahinya, sedangkan kedua mata biru langitnya bersinar tidak suka dengan apa yang didengarnya.
Di belakang Akihiko, Tsubasa berdiri diam membisu. Wajahnya tenang tanpa ekspresi. Tapi, mata merahnya perlahan tertuju pada punggung sang penguasa tanah selatan. Dalam hati, dia bertanya-tanya, apa yang dipikirkan youkai serigala itu mendengar informasi ini?
"Bagaimana dengan kondisi Rin sekarang?" tanya Akihiko kemudian. Suaranya datar seperti biasa, tapi, siapapun yang mendengar bisa merasakan jelas kekhawatiran yang ada.
Prajurit tersebut tahu Rin yang dimaksud Akihiko adalah Kisaki tanah barat. Sudah bukan rahasia lagi jika penguasa tanah selatan sangat tertarik kepada kisaki tanah barat yang terkenal itu. "Dari informasi yang hamba dapatkan, kesehatan Rin-sama kembali memburuk walau tidak sampai membahayakan nyawa beliau."
Akihiko menutup mata mendengar jawaban yang didapatkannya. Kesehatan Rin yang memburuk walau tidak sampai membahayakan nyawa karena menghidupkan mereka yang mati—wanita manusia itu memang tidak pernah berubah. Dari pertama kali dia mengenalnya sampai sekarang, wanita itu selalu dipenuhi keberanian dan juga; kebaikan.
Perang barat dan selatan tahun lalu, Rin menghidupkan semua youkai yang mati tanpa membedakan barat maupun selatan, dan kali ini sekali lagi, dia menghidupkan manusia yang datang membunuhnya. Di mata coklatnya, sepertinya tidak pernah ada yang namanya; musuh.
Rin adalah makhluk hidup dengan hati terbaik yang dikenal Akihiko, dan sekaligus juga makhluk terbodoh. Bagaimana bisa dia begitu baik? Begitu bodoh hingga bersedia mengorbankan kesehatannya untuk orang lain—begitu berbeda.
Rin yang begitu berbeda dengan semua yang ada di dunia ini. Wanita manusia itulah satu-satunya jiwa m?urni yang ada dalam dunia yang kotor dan hina ini. Tidak akan ada lagi dalam hidupnya panjang, dia menemukan keberadaan sepertinya. Karena itu, Akihiko hanya dapat jatuh semakin dalam dan dalam—mencintainya.
Akihiko ingat setiap senyum dan tawa Rin yang menyilaukan, suara dan gerak-geriknya, kehangatan dan kepolosannya, keberanian dan kebaikan hati—betapa dia ingin melindungi dan tidak mengijinkannya terluka.
Kesehatan Rin yang semakin memburuk, Akihiko tidak bisa melakukan apa-apa, tapi untuk itu, kebencian dan kemarahan yang tertuju pada Sesshoumaru semakin membesar.
Mengandung anak Sesshoumaru, Rin telah mengalami semua hal yang tidak seharusnya dialami, dan pada saat penyerangan manusia ke istana tanah barat, seharusnya Sesshoumaru bisa mempredeksi apa yang mungkin dilakukan Rin yang begitu lembut—menghidupkan mereka yang mati. Tapi anjing itu; gagal.
Kemarahan luar biasa memenuhi hati Akihiko. Sesshoumaru tidak bisa melindungi Rin. Dari hari ke hari, itu semakin jelas. Kesehatan yang semakin memburuk adalah buktinya—Sesshoumaru tidak pantas untuk Rin. Tapi, anjing itu tidak mau melepaskan Rin, dan Rin sendiri juga tidak bisa melihatnya.
Hanya karena Sesshoumarulah yang menyelamatkan Rin saat kecil. Hanya karena Sesshoumarulah yang menghabiskan waktu lebih banyak bersama Rin—hanya karena kesempatan dan waktulah Akihiko kalah dari Sesshoumaru. Bagaimana penguasa tanah selatan bisa menerimanya??
Aura kemarahan yang tiba-tiba dipancarkan Akihiko membuat prajurit yang ada di depannya ketakutan. Tapi, dia tetap tidak berani bergerak, begitu juga dengan Tsubasa.
Membuka matanya, Akihiko kembali menatap prajurit yang masih ada di depan. Mata biru langitnya telah berubah menjadi merah darah. "Kembali pada tugasmu."
Perintah Akihiko, membuat prajurit tersebut segera memberikan hormat dan kemudian berjalan keluar meninggalkan ruang kerja sang penguasa tanah selatan. Ada perasaan bersyukur dalam hatinya tidak berada dalam ruangan itu lagi, sebab dia tahu, salah sedikit, nyawanya akan melayang.
Tsubasa masih menatap punggung Akihiko. Dia masih menebak pikiran youkai serigala itu. Namun, semakin dia menebak semakin sakit dan kemarahan dirasakannya. Kemarahan sang penguasa tanah selatan, dia tahu adalah karena—wanita manusia itu.
Akihiko yang masih belum menyerah dan terobsebsi, serta dirinya yang penuh keirian dan kecemburuan—Tsubasa tidak tahu sampai kapan mereka akan seperti ini.
"Akihiko-sama." suara Koga yang berada di luar ruangan tiba-tiba terdengar memecahkan keheningan yang ada.
Akihiko menutup mata merah darahnya dan berusaha mengendalikan kemarahan dalam hati. Membuka mata lagi, warna merah darah matanya telah kembali menjadi biru langit. "Masuk."
__ADS_1
Membuka pintu shoji yang tertutup, Koga berjalan masuk. Matanya menatap sosok Akihiko dan Tsubasa yang tidak berekspresi. Memberikan hormat pada Akihiko terlebih dahulu, tanpa membuang waktu, youkai serigala itu mulai melaporkan apa yang ditemukannya. "Akihiko-sama, hamba menemukan sesuatu yang janggal di hutan Hara yang terletak sepuluh kilometer dari desa klan youkai laba-laba emas."
Ucapan Koga dengan seketika membuat Akihiko dan Tsubasa menatap youkai serigala itu dengan pandangan serius.
"Dalam hutan hara, hamba menemukan bekas pertarungan," lanjut Koga dengan ekspresi wajah yang tidak berubah. "dan dari bau yang tertinggal, hamba yakin itu adalah bau Shui sang terhormat dari netral dan Kenji, Saru Shogun dari barat."
Nama Kenji yang meluncur keluar dari mulut Koga membuat Akihiko dan Tsubasa berpikir. Keberadaan Shui tidaklah aneh, sebab youkai bermata putih itu memang berada di tanah selatan pada malam desa laba-laba emas diserang, tapi—Kenji? Pertarungan?
"Apakah ada hal lain yang anda temukan, Koga-sama?" tanya Tsubasa pelan namun serius.
"Ada," jawab Koga cepat. Dia kembali menoleh mata menatap Akihiko. "Hamba menemukan bau api merah dalam hutan."
"Api merah?" ujar Akihiko pelan. Kerutan kecil muncul di dahinya.
Api merah adalah api youkai. Api yang dapat membakar tanpa sisa objek yang dibakarnya. Tidak meninggalkan abu, bau maupun bekas.
"Lalu, di sekitar sana juga," tambah Koga lagi. "Hamba menemukan bau dari tiga youkai kecil. Dua diantaranya hamba tidak kenal, tapi ada satu hamba kenal, yakni, bau rubah kecil yang selalu mengikuti, Inuyasha, adik seayah Sesshoumaru."
Apa yang dikatakan Koga membuat Akihiko dan Tsubasa memikirkan kemungkinan dan kaitan antar Shui, Kenji dan tiga youkai kecil.
"Di mana Kenji berada sekarang?" tanya Akihiko dengan suaranya yang datar.
"Hamba tidak menemukan keberadaannya. Dia telah menghapus semua jejaknya," jawab Koga dengan cepat. "Namun, dia juga tidak kembali ke tanah barat."
Jawaban Koga sekali lagi membuat Akihiko dan Tsubasa menebak apa yang sesungguhnya terjadi dalam gunung hara. Namun, mereka tidak menemukannya.
"Koga," panggil Akihiko kemudian. "Periksa lebih dalam masalah ini dan cari Kenji."
"Baik." Koga menjawab lantang perintah baru yang diberikan Akihiko. Tugas ini tidak akan mudah, tapi, Koga yakin dia bisa menyelesaikannya.
"Akihiko-sama." Suara seorang prajurit istana tanah selatan tiba-tiba terdengar.
"Masuk." Balas Akihiko. Mata biru langitnya menatap prajurit yang kemudian berjalan masuk dan memberikan hormat padanya. Hari ini adalah hari yang sibuk baginya, sudah berapa banyak orang yang datang melaporkan sesuatu padanya?
"Ada apa?" tanya Akihiko. Wajah datarnya tetap tidak berubah, begitu juga dengan suaranya yang datar.
"Shui, pemimpin youkai tanah netral mengirimkan surat untuk anda."
....xOxOx....
Akiko tidak dapat berhenti tertawa saat membaca surat yang ada di tangannya. Kedua matanya berbinar gembira penuh kebahagiaan. Menurunkan surat ditangannya, dia mematap Asano, sang penguasa tanah timur. "Anda harus menyetujui permintaan Shui ini, ayahanda."
Asano tersenyum kecil mendengar ucapan Akiko. Mengangguk kepala pelan, dia meneguk teh yang ada di tangannya.
Meletakkan surat di tangannya ke atas meja, Akiko tersenyum lebar kepada Asano. "Ini kesempatan yang tidak boleh kita lewatkan, ayahanda."
Surat dari Shui, sang pemimpin youkai tanah netral tidak lain berisi permintaan mengabungkan kekuatan untuk menekan Sesshoumaru, sang penguasa tanah barat.
Surat tersebut ditulis Shui setelah mendapat desakan dari seluruh youkai tanah netral yang merasa terancam dengan keseimbangan yang hancur, serta—ketakutan akan manusia yang menyerang.
Manusia yang menyerang, desa youkai yang hancur dan klan yang binasa—baik tanah netral, utara, timur mengalaminya. Bahkan tanah selatan juga tidak luput dari sasaran para manusia walau efeknya tidak separah daerah lain. Karena itu, netral tidak bisa berdiam diri—mereka tidak menginginkannya terulangi lagi.
Akar permasalahan yang ada, semua orang tahu, yakni; kisaki tanah barat dan anak hanyou dalam kandungannya. Baratlah yang seharusnya bertangung jawab, namun ironisnya, barat tidak terluka sedikitpun—manusia tidak dapat menyentuh barat.
Dalam kondisi dunia youkai dan manusia sekarang ini, menurunkan kisaki tanah barat serta menghentikan niatnya mengangkat anak hanyounya sebagai pewaris tanah barat—tanah netral percaya, itulah satu-satunya cara memperbaiki keseimbangan yang ada.
Tapi, tanah netral yang lemah juga tahu, mereka tidak akan sanggup menghadapi barat yang besar. Mereka akan hancur jika berani melakukannya. Karena itu, mereka mencari bantuan, kepada tanah utara, timur dan juga—selatan.
Kisaki manusia, pewaris yang merupakan seorang hanyou, manusia yang menyerang, desa youkai yang hancur di setiap wilayah, lalu—permintaan Shui dari tanah netral.
Sungguh, Asano merasa kagum dengan Shui sekarang. Apa yang terjadi, semua youkai di dunia yakin baratlah sumbernya, tapi kenyataannya, penguasa tanah timur tahu—Shuilah dalangnya.
Sikap Shui yang aneh, Asano tidak pernah percaya bahwa manusialah yang menghancurkan desa youkai. Yang menghancurkan desa-desa tersebut tidak lain adalah Shui sendiri untuk menciptakan kondisi sekarang—youkai bermata putih itu ternyata sudah mulai memainkan dunia ini di atas telapak tangannya sejak awal tanpa diketahui seorangpun.
Yang diincar Shui adalah barat yang tidak tersentuh, dan dengan sempurnanya dia menempatkan dirinya pada posisi sebagai orang tengah; tidak akan ada yang mencurigainya.
Sekarang, semuanya tinggal menunggu waktu untuk menjawabnya. Untuk barat yang besar dan kuat tidak terkalahkan—apakah barat akan cukup kuat menghadapi tanah netral, timur, utara dan selatan bersamaan? Lalu, bersediakah Sesshoumaru, sang penguasa tanah barat menghadapi seluruh dunia youkai hanya untuk kisaki manusia dan pewaris hanyounya?—atau dia akan menuruti tuntutan dari netral?
Jawaban Sesshoumaru tidaklah penting lagi sekarang, sebab semua telah terlihat jelas. Jika Sesshoumaru menuruti tuntutan tanah netral, maka Akiko dengan pasti akan menjadi kisaki tanah barat, dan kalaupun Sesshoumaru menolak tuntutan tanah netral, maka kemungkinn bukan hanya kisaki tanah barat yang akan berubah lagi, penguasa tanah barat juga akan berubah. Apapub hasilnya, dia berada pada sisi yang menguntungkan.
Asano tertawa gembira dan membalas tatapan Akiko. "Memang kaulah kisaki tanah barat yang sesungguhnya, putriku."
Akiko tersenyum semakin melebar mendengar ucapan Asano. Kata ayahnya itu tidaklah salah; dialah kisaki tanah barat yang sesungguhnya, bukahlah wanita manusia itu.
....xOxOx....
__ADS_1