Till The End Of Time [ Inuyasha Fanfiction ]

Till The End Of Time [ Inuyasha Fanfiction ]
Chapter 112


__ADS_3

Kenji berdiri di atas pohon menatap sisa desa youkai klan kelinci biru di tanah timur. Dia bisa melihat jelas desa yang hancur terbakar, bendera-bendera bangsawan manusia yang tertinggal serta mayat-mayat youkai klan kelinci biru maupun manusia yang ada di mana-mana.


Seperti desa youkai klan burung air, Kenji tidak menemukan banyak petunjuk, terlebih lagi Akiko juga ada di sana. Sebagai salah satu jendral besar di tanah barat, dia tidak mungkin dapat bertindak dan menyelidiki desa yang berada di bawah tanah timur sesuka hatinya. Karena itulah dia hanya dapat mengamati dan menyelidiki dari jauh.


"Kenji-sama," panggi Myoga yang duduk di bahu Kenji dari tadi tiba-tiba. "Apa yang sebenarnya terjadi?


"Jika aku tahu apa yang terjadi, aku tidak akan ada disini, Myoga." Ujar Kenji sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


Myoga diam membisu mendengar ucapan Kenji. Meninggalkan tanah barat dan mengikuti youkai monyet temannya sejak dulu, youkai kutu itu sebenarnya berpikir untuk bersembunyi dan menghindar dari Sesshoumaru. Tapi, dia tidak menyangka dia akan melihat pemandangan di mana ada desa youkai yang musnah tanpa menyisahkan seorangpun.


"Hei, Myoga," panggil Kenji pelan dan menolehkan wajahnya kepada temannya itu "Netral, lalu timur, menurutmu setelah itu di mana?"


"Maksudnya??" tanya Myoga kembali penuh kebingungan.


"Aku tidak merasa penyerangan terhadap desa-desa youkai seperti ini akan berakhir," jawab Kenji pelan, tapi wajah penuh keseriusan. "Dan aku merasa ini bukanlah perbuatan manusia, melainkan perbuatan—youkai."


"Youkai?? Jika memang benar, siapa yang berani melakukan ini??" tanya Myoga panik. "Menyerang netral, lalu timur. Apa dia cari mati??


Kenji tidak mempedulikan Myoga yang ketakutan dan panik di bahunya. Menutup mata, youkai monyet itu berusaha memeras otaknya mencari jawaban dari pertanyaan yang ditanyakannya barusan pada Myoga.


Netral, lalu timur. Jika penyeangan masih belum berakhir, di mana sasaran pelaku berikutnya? Masih timur, kembali pada netral, utara, selatan atau—barat?


Kenji berusaha memposisikan dirinya sebagai pelaku. Memang dia tidak tahu apa tujuan dari penyerangan ini, tapi jika netral adalah korban pertama dan timur adalah korban kedua. Maka, korban berikutnya kemungkinan adalah; utara


Pelaku hanya menyerang dan menghancurkan desa youkai klan lemah dan kecil. Di seluruh jepang ini, siapa yang tidak tahu kekuatan barat dan selatan yang kuat?—tidak ada klan lemah dan kecil seperti desa-desa yang telah hancur di barat dan selatan, dan kalaupun ada, klan tersebut dilindungi dengan baik. Siapapun yang menyerang kedua wilayah itu harus berhati-hati untuk tidak membangkitkan kemarahan sang penguasa wilayah. Tapi, jika pelaku memang berencana membuat kegaduhan dalam dunia youkai, cepat atau lambat, dia akan menyerang selatan dan juga; barat. Jadi, dimana sasaran berikutnya?


Masih menutup mata, Kenji kemudian teringat akan keberadaan Akihiko sang penguasa tanah selatan tidak berada di wilayahnya. Youkai serigala itu ada di barat, dan secara tidak langsung, itu secara menciptakan kesempatan yang baik jika pelaku ingin menyerang selatan.


"Myoga," panggil Kenji kemudian dan membuka matanya. "Ayo, kita ke tanah selatan."


"Eh??" seru Myoga terkejut. "Tanah selatan?"


Kenji menganguk kepala. Kenji tidak tahu apa yang terjadi, tapi, instingnya mengatakan padanya, daripada menuju tanah utara yang kemungkinan besar menjadi sasaran berikutnya, akan lebih baik dia menuju tanah selatan.


"Instingku tidak pernah salah."


....xOxOx....


"Kita tidak bisa mengikuti mereka lagi, Yuki, Sora." ujar Shippo menatap Yuki dan Sora yang duduk di depannya.


"Kenapa?" tanya Yuki bingung. Sora tidak mengucapkan apa-apa, youkai kecil itu menatap Shippo sama bingungnya.


"Kita sama sekali tidak melakukan apa-apa," balas Shippo menatap Yuki lurus. "Kita harus mencari bantuan. Informasi yang kita kumpulkan kurasa sudah cukup untuk menentukan langkah ke depannya."


Shippo mulai merasa benar-benar putus asa dengan apa yang mereka lakukan. Sepanjang hidupnya, hari yang dilaluinya setelah mengenal kedua youkai tikus putih di depannya tidak akan pernah dilupakannya lagi—saat dimana dia merasa sungguh tidak berguna.


Kini mereka ada di tanah utara, dan kemarin, sekali lagi, Shippo melihat satu desa youkai musnah. Prajurit youkai yang menyamar menjadi manusia menghancurkan desa youkai klan kadal api dari utara. Seperti desa-desa sebelumnya, mereka tidak menyisakan seorangpun dan meninggalkan bendera serta beberapa mayat manusia yang mereka dandani seakan merupakan prajurit yang menyerang.


Dengan bendera dan beberapa mayat manusia tersebut, siapapun yang melihat akan percaya pelakunya adalah manusia. Rencana mereka benar-benar disiapkan dengan baik.


"Shippo-kun, bagaimana kalau menurutmu kita meninggalkan pesan." Usul Yuki pelan. Dia bisa melihat keputusasaan di mata Shippo yang semakin hari semakin besar, dan dia juga tahu penyebabnya adalah mereka yang tidak bisa melakukan apa-apa.


"Pesan??" seru Shippo bingung.


Yuki mengangguk kepala. "Kita masih berada di dekat desa kadal api yang hancur. Kita bisa meninggalkan pesan bahwa pelakunya adalah youkai kepada siapapun yang akan datang ke desa itu."


Shippo terdiam mendengar penjelasan Yuki. Apa yang dikatakan youkai tikus putih itu benar, desa yang hancur, pasti akan membuat penguasa mereka menyelidikinya. Jika mereka meninggalkan pesan akan informasi yang mereka miliki, maka mungkin keadaan akan berubah—setidaknya semua orang akan tahu pelakunya adalah youkai bukan manusia dan kemungkinan siapa yang ada dibaliknya.


"Ide yang bagus, Yuki!!" senyum Shippo lebar. "Kenapa aku tidak memikirkan ide ini sebelumnya!!"


Yuki ikut tersenyum melihat senyum Shippo. Ada kelegaan dan kebahagiaan dalam hatinya melihat mata Shippo yang kembali bersinar penuh semangat. Tidak tahu mengapa, dia tidak menyukai mata redup dan putus asa youkai rubah yang ada di depannya sekarang.


"Kita harus mencari kertas, daun atau apapun yang bisa kita gunakan sebagai media tulis." ujar Shippo lagi sambil meluhat sekelilingnya.


"Shippo-kun," panggil Sora yang diam membisu dari tadi tiba-tiba. Tangannya dengan cepat mengoyak lengan kimono yang dipakainya dan memberikannya pada Shippo. "Pakai ini saja."


"Sora, tidak perlu sampai seperti itu!!" teriak Shippo panik melihat sikap diluar dugaan Sora, begitu juga dengan Yuki.


Sora tersenyum kecil dan menggeleng kepala. Mata merahnya menatap Yuki dan Shippo lurus. "Aku juga ingin berguna untuk Kakak dan Shippo-kun. Aku tidak ingin menjadi beban..."


Shippo tertegun mendengar ucapan Sora. Namun, sejenak kemudian dia tertawa dan mengambil lengan kimono yang diberikan youkai tikus api itu. "Terima kasih, Sora—dan jangan berkecil hati, kau bukan beban bagi kami."


"Iya, Sora. Jangan berpikir seperti itu," sambung Yuki cepat, kedua tangannya bergerak memeluk Sora erat. "Kau bukan beban."


Pelukan hangat Yuki membuat Sora tersenyum. Mengangguk kepala, dia membalas pelukan kakaknya sama erat.


Shippo tersenyum melihat Yuki dan Sora. Namun, tiba-tiba saja, dia merasakan aura youkai yang mendekat. Tidak membuang waktu, dia menarik kedua youkai tikus putih di depannya bersembunyi di balik pohon.


Yuki dan Sora segera sadar dengan apa yang terjadi tanpa perlu dijelaskan, sebab, ini sudah terjadi beberapa kali. Shippo hanya bersikap seperti ini jika ada youkai yang mendekat. Diam membisu, mereka menahan napas dan berusaha menyembunyikan keberadaan mereka sebaik mungkin.


Mencuri lihat dari balik pohon, Shippo bisa melihat dua orang youkai yang menyamar menjadi prajurit berjalan melewati tempat persembunyian mereka.


"Kita ke selatan, dan setelah itu, pekerjaan kita selesai," ujar salah satu youkai sambil tersenyum lebar. "Aku sudah tidak sabar kembali ke rumah."


"Aku juga," balas temannya dengan senyum yang sama lebarnya. "Kita tinggal menghancurkan satu desa di utara, bergabung dengan Shui-sama, lalu pulang ke netral."


"Iya," tawa youkai yang pertama kali berbicara. "Aku tidak tahu kenapa Shui-sama memerintahkan kita memusnahkan para youkai lemah itu. Tapi, aku percaya beliau memiliki tujuan besar dibaliknya."

__ADS_1


"Siapa kau sehingga bisa tahu tujuan beliau?" tawa temannya lebar. "Kita sebagai bawahan cukup menjalankan tugas dari atasan."


Apa yang dibicarakan kedua youkai itu dapat didengar jelas oleh Shippo, Yuki serta Sora, dan itu bagaikan sambaran petir bagi mereka. Tetap diam membisu, mereka saling menatap dengan wajah pucat pasi.


Pembicaraan yang mereka dengar barusan telah menjawab semua teka-teki siapa dalang dari penyerangan desa youkai, terkaan mereka tidak salah, pelakunya memang adalah; Shui sang terhormat dari netral.


....xOxOx....


"Selamat datang, Arata-san," sambut bangsawan Mio saat melihat pemimpin aliansi taijiya yang berada di depan pintu kota Ame. Senyum lebar memenuhi wajahnya, terlebih lagi saat dia melihat ratusan taijiya yang berada di belakang Arata. "Aku senang anda bersedia membantu."


Arata membalas sambutan bangsawan Mio dengan seulas senyum juga. "Ini sudah sewajarnya."


"Aku sudah menyiapkan tempat untuk pasukan anda. Anda dan pasukan anda adalah yang pertama kali tiba," tawa bangsawan Mio gembira. "Aliansi Miko, pendeta dan biksu juga akan tiba dalam waktu dekat."


Arata mengangguk kepala menendengar apa yang dikatakan bangsawan Mio. Tidak mengatakan sepatah katapun lagi, dia mengikuti bangsawan yang membimbingnya memasuki kota Ame dengan penuh semangat.


Saat kakinya menginjak memasuki kota Ame, yang pertama kali dilihat Arata adalah sambutan dari para penduduk kota yang meriah; senyum, tawa dan sorakan memenuhi kota.


"Terima kasih telah berjuang melawan youkai demi kami!!"


"Kalian bisa!! Kalian pasti bisa menaklukkan para youkai!!"


"Kalian selamanya adalah pahlawan di mata kami!"


Sorakan demi sorakan memberi semangat ataupun pujian yang dilontarkan para penduduk kota membuat hati Arata dan para taijiya yang memasuki kota Ame merasa sangat gembira dan juga bangga.


'Datanglah, dan barat akan menyambut kalian semua.'


Pesan daiyoukai penguasa tanah barat yang disampaikan oleh bawahannya pada akhir musim panas melintas dalam pikiran Arata. Seketika kemarahan memenuhi hatinya—dia tidak melupakan penghinaan pada hari itu.


Arata ingat jelas kekalahan dirinya dan juga bawahannya dari pengawal penguasa tanah barat. Youkai yang dengan sengaja membuat keributan di markas taijiya—dia akan membuatnya membayar mahal.


Menoleh ke belakang menatap lima ratusan lebih taijiya pasukannya, mata hitam Arata bersinar penuh kegembiraan. Pasukan taijiya ini adalah para elit yang ada di tanah jepang, ditambah aliansi miko, pendeta, biksu dan juga pasukan bangsawan yang mampu menghancurkan desa youkai—mereka akan meratakan istana youkai tanah barat.


Sorakan penduduk kota terus bergema memenuhi setiap jalan, dan di dalam kerumuran yang ada di samping jalan, Kohaku berdiri menatap pasukan taijiya putus asa. Wajah tampannya tidak dapat menyembunyikan apa yang ada dalam pikirannya. Perang manusia dan youkai sudah di depan mata, dan perang itu sudah tidak dapat terhindari lagi.


Pasukan taijiya yang di depannya memang kuat, mereka adalah para elit yang terpilih, Kohaku bisa merasakannya. Hanya saja—itu tidak cukup untuk menghadapi barat.


Manusia tidak pernah melihatnya secara langsung, bagaimana kekuatan youkai tanah barat yang sesungguhnya. Tapi, Kohaku pernah melihatnya. Pada malam itu di istana tanah barat, saat Sesshoumaru, sang penguasa tanah barat memimpin pasukannya menuju medan perang barat selatan. Dalam kegelapan malam, dalam cahaya lemburan, sosok penguasa dan pasukannya itu adalah mimpi buruk bagi semua manusia.


Para bangsawan, taijiya, miko, pendeta dan biksu yang penuh keangkuhan, jika mereka menyerang, maka nasib mereka telah tertulis—kematian.


....xOxOx....


"Kau tahu ada yang aneh, kan, Sesshoumaru?" tanya Inukimi pelan. Kedua mata emasnya menatap lurus punggung Sesshoumaru yang berdiri di depannya.


Hari ini, surat dari Kenji tiba di istana tanah barat. Tidak tertulis lengkap, tapi dia meminta mereka untuk berhati-hati dengan kejadian yang akhir-akhir ini terjadi. Empat desa youkai yang hancur di tangan manusia tanpa menyisakan seorangpun, jelas sangat aneh, dan—youkai monyet percaya ada rencana yang tidak menyenangkan dibaliknya.


"Apa kau akan memutuskan orang untuk menyelidikinya?" tanya Inukimi lagi.


"Tidak." Jawab Sesshoumaru datar. Kedua matanya masih menatap langit musim gugur.


Inukimi terdiam mendengar jawaban Sesshoumaru. Menatap putra kandungnya, meski wajah cantiknya datar tanpa emosi, jauh dalam hati dia kebingungan dengan keputusan yang diambil.


"Ibunda," panggil Sesshoumaru pelan. Kedua matanya yang menatap langit musim gugur kemudian turun pada daun-daun pohon yang menguning. "Barat di bawah Sesshoumaru ini tidak akan kalah."


Inukimi tertegun mendengar ucapan Sesshoumaru yang diluar dugaan.


"Sesshoumaru ini tidak berniat menerka dan mencari tahu maksud tersembunyi dari apa yang terjadi," lanjut Sesshoumaru lagi pelan. "Sesshoumaru ini juga tidak peduli siapa yang ada dibalik ini semua."


Sesshoumaru tahu ada yang aneh dengan apa yang terjadi. Desa youkai yang hancur memang bukanlah desa di tanah barat, tapi dia merasa, tujuan utama dari semua ini sebenarnya adalah; tanah barat.


Desa-desa yang hancur memang tidak memiliki kaitan dengan tanah barat. Namun, kenyataannya, ada satu benang tipis yang menghubungkan mereka, yaitu; pelaku tertunjuk pada para manusia yang menyatakan perang terhadap tanah barat. Cepat atau lambat, jika ini masih berlanjut, maka pasti akan muncul orang yang akan mengaitkan apa yang terjadi dengan tanah barat, atau kemungkinan besar—akan dikaitkan dengan Rin dan Shura.


Orang yang merencanakan ini semua pasti bukanlah orang sembarangan, dan penyelidikan juga pasti tidak akan mudah. Karena itu, Sesshoumaru tidak mau membuang waktu. Apa yang menjadi tujuan penyerangan ini? Siapa yang merupakan dalang dibaliknya? Tanpa diselidiki, cepat atau lambat, akan muncul ke permukaan.


Lalu, jika hari itu tiba, jika pelakunya benar bermaksud melimpahkan segalanya pada tanah barat atau mungkin pada dua keberadaan paling penting baginya, maka dia—Sesshoumaru sang penguasa tanah barat tidak akan berdiam diri.


Membalikkan badannya, mata emas Sesshoumaru menatap lurus Inukimi. Matanya bersinar cemerlang penuh kepercaya dirian dan juga wibawa sebagai seorang penguasa. "Mereka boleh datang, sebab, Sesshoumaru ini akan memusnahkan mereka."


Inukimi tertegun mendengar jawaban serta melihat tatapan mata Sesshoumaru. Tatapan mata itu, dia pernah melihatnya—itu adalah tatapan mata Inu No Taisho. Tatapan dari seorang penguasa sejati yang tidak pernah takut dan selalu penuh percaya diri menghadapi apapun.


"Kau," ujar Inukimi pelan. Perlahan seulas senyum memenuhi wajahnya. "Kau benar-benar putra Taisho, Sesshoumaru. Kau benar-benar mirip dengannya."


Sesshoumaru tidak mengatakan apa-apa mendengar ucapan Inukimi. Mirip Inu No Taisho—ya, dia harus mengakui, dia memang mirip dengan sosok ayahnya itu sekarang. Tidak takut dan tidak mempedulikan apapun untuk melindungi istri dan anak. Tapi, Sesshoumaru bukanlah Inu No Taisho, sama halnya dengan Rin yang bukan Izayoi, serta Shura yang bukan Inuyasha. Keluarganya tidak akan berakhir seperti mereka, dia tidak akan mati seperti ayahnya, Rin tidak akan sendirian membesarkan Shura, dan Shura—putranya akan tumbuh besar dengan kedua orang tua di sampingnya.


Sesshoumaru tidak akan membiarkan cerita masa lalu itu terulangi lagi. Apapun yang terjadi, siapapun yang datang, renacana apapun yang ada—dia akan menang dan hidup bersama keluarganya.


"Dan kau benar," tawa Inukimi dengan keras kemudian. Kedua matanya bersinar penuh kegembiraan menatap Sesshoumaru. "Kita tidak perlu menyelidiki apapun yang terjadi, kita hanya perlu membunuh mereka jika berani datang."


....xOxOx....


"Kau mau mempertahankan anak itu meskipun nyawamu adalah bayarannya, Rin?" suara datar Akihiko terdengar membuat mata semua yang ada dalam berandan kamar tidur penguasa tanah barat menatapnya.


"Gugurkan anak itu, Rin," lanjut Akihiko lagi tidak peduli dengan pandangan semua orang. "Itu adalah yang terbaik."


"Hei!!! Serigala sialan!! Tarik kembali ucapanmu!!" teriak Inuyasha penuh kemarahan menatap Akihiko yang duduk tidak jauh dari Rin.

__ADS_1


                      


Kiri dan Kira yang berada di samping Rin menyeringai penuh kemarahan tanpa mengatakan apa-apa, sedangkan untuk Kagome, Miroku dan Sango, mereka tertegun dan tidak tahu harus berbuat apa. Namun, tidak untuk kisaki tanah barat, wanita manusia itu tertawa pelan mendengarnya.


Akihiko datang mengunjungi Rin hari ini, dan sejujurnya, itu bukanlah sesuatu yang aneh lagi. Sudah berapa lama youkai serigala itu ada dalam istana tanah barat seakan ini adalah rumahnya, tidak ada yang menghitungnya lagi. Dia akan muncul di depan kisaki tanah barat setiap hari tidak peduli siapa yang ada disampingnya, tidak peduli meski itu adalah; Sesshoumaru, sang penguasa tanah barat.


Akihiko selalu muncul dengan mainan, makanan, permata atau apapun sebagai hadiah dan mengobrol serta bercanda dengan wanita manusia tersebut. Namun, hari ini ada yang berbeda, hari ini adalah hari di mana Akihiko untuk pertama kali mengungkit keberadaan anak dalam kandungan Rin.


"Rin tidak akan mengugurkan Shura, Akihiko-sama," senyum Rin lembut. Perlahan, dia yang duduk tenang menggerakkan tangannya mengelus perutnya penuh kasih sayang. "Rin tidak akan mati. Baik Rin maupun Shura tidak akan apa-apa."


Ucapan Rin membuat semua yang ada dalam berandan kamar terdiam. Sudah berapa kali mereka mendengar wanita manusia itu mengatakan kalimat itu.


"Kau sungguh bodoh atau terlalu berani untuk bermain dengan nyawamu, Rin." ujar Akihiko lagi. Suaranya datar, dan sepasang mata biru langitnya menatap lurus Rin yang tersenyum semakin lebar.


"Tidak dua-duanya," senyum Rin kemudian berubah kembali menjadi tawa kecil. "Rin tidak pernah bermain dengan nyawa Rin maupun nyawa Shura. Kondisi tubuh Rin, Rinlah yang paling tahu, Akihiko-sama."


Senyum dan tawa Rin yang pelan membuat Akihiko terdiam tidak tahu harus mengatakan apa lagi. Kondisi tubuhnya? Tidak kah wanita manusia ini bisa melihat dirinya yang semakin lemah dari hari ke hari? Apa yang membuat dia bertahan seperti ini?—anak itu kah?


"Kau sungguh menginginkan anak itu, Rin?" tanya Akihiko kemudian.


Pertanyaan Akihiko membuat Rin tertegun, sejenak kemudian dia kembali tertawa.


Menginginkan anak itu—menginginkan Shura.


Pertanyaan Akihiko sungguh membuatnya tertawa. Darah dagingnya dengan pria yang dicintainya, bagaimana Rin tidak menginginkannya? Dia sudah jatuh cinta sangat dalam pada anak dalam kandunganya pada hari pertama dia mengetahui keberadaannya, dan seiring hari yang berlalu, cintanya yang dalam hanya bisa semakin dalam.


Apakah ada yang tahu betapa gembiranya dia saat merasakan gerakan atau tendangan anak dalam kandungan? Apakah ada yang tahu betapa hangat hatinya saat dia mengelus lembut perut besarnya? Adakah yang mengerti betapa bahagianya dia saat menyanyikan lagu pengantar tidur untuk putranya? Seperti Sesshoumaru, Shura telah menjadi dunianya sekarang.


"Shura adalah harta Rin yang paling berharga, Akihiko-sama," senyum Rin lembut, matanya kembali terarah pada perutnya, begitu juga dengan tangan yang mengelusnya penuh kasih sayang. "Shura adalah keajaiban dalam hidup Rin."


"Keajaiban?" gumam Akihiko dan tersenyum sinis. "Tidak ada gunanya keajaiban itu kalau kau mati, Rin."


Rin menggeleng kepala dan mengangkat kepala menatap Akihiko. Senyum indah di wajahnya yang pucat semakin melebar. "Anda akan mengerti keajaiban hidup Rin ini kelak, Akihiko-sama."


Akihiko mendengus tidak suka dengan ucapan Rin, dan itu membuat Rin kembali tertawa. "Jika kelak anda memiliki anak, maka—anda akan mengerti perasaan Rin ini, Akihiko-sama."


Apa yang dikatakan Rin seketika membuat Akihiko tertegun. Anak?—jika saja, anak dalam perut Rin adalah darah dagingnya mungkin kah dia akan berusaha mengerti perasaan Rin?—tidak! Jikapun anak dalam kandungan wanita manusia itu adalah darah dagingnya, cara pikirnya tetap tidak akan berubah; dia tidak membutuhkan anak yang akan menyebabkan wanita yang dicintainya mati.


"Tidak perlu mempedulikan dia, Rin," sela Inuyasha yang dari tadi diam membisu mendengar pembicaraan Rin dan Akihiko. "Jangan membuang tenagamu untuk berbicara dengannya."


Mata emas Inuyasha menatap tajam Akihiko yang tidak mempedulikannya. Sejak dulu hingga sekarang, dia tidak menyukai youkai serigala itu. Seperti Kouga—tidak! Bahkan lebih parah dari pada Kouga, dia adalah youkai yang masih berniat seorang wanita meski tahu wanita itu sudah bersuami.


Rin sekali lagi kembali tertawa melihat interaksi Inuyasha dan Akihiko. Mengangkat tangan menutp mulutnya, kedua matanya tertutup—dia terlihat bahagia sekali.


Kagome, Miroku dan Sango yang melihat dari samping tawa bahagia Rin hanya dapat menghela napas dan tersenyum kecil. Namun, dibalik senyum mereka, dalam hati terdalam, mereka merasa tidak nyaman dan juga—sedih.


Kemarin, surat dari Kohaku tiba. Kohaku menulis dengan jelas aliansi taijiya, miko, pendeta dan biksu yang telah tiba di kota Ame. Tidak lama lagi, pasukan besar itu akan bergerak ke istana tanah barat dengan tujuan membunuh kisaki tanah barat dan anak dalam kandungannya.


Perang yang akan pecah tidak lama lagi, sampai sekarang, semua orang tahu. Tapi, hanya Rin seorang saja yang tidak tahu. Tidak ada seorangpun yang ada dalan istana tanah barat ini yang berani memberitahunyanya.


Apa perasaan Rin jika perang telah pecah? Apa yang akan dia lakukan jika para manusia benar-benar telah berdiri di depan istana dan menghunuskan pedang kepadanya? Kisaki tanah barat adalah seorang wanita manusia yang memiliki hati hangat, jadi tidak ada yang berani membayangkan perasaan bersalah dan sedih dalam hatinya jika banyak yang mati dalam perang manusia-youkai dengan dirinya sebagai penyebab.


"Akihiko-sama." Suara pelan Tsubasa tiba-tiba terdengar dan membuat semua yang ada menatap youkai burung yang tidak tahu sejak kapan berada di belakang Akihiko.


"Tsubasa-sama, selamat siang." Sapa Rin bahagia melihat selir penguasa tanah selatan tersebut.


Senyum sapa Rin membuat Tsubasa mengangguk kepala pelan penuh kesopanan. "Selamat siang, Rin-sama."


"Apakah semua kebutuhan anda selama di istana tanah barat terpenuhi Tsubasa-sama?" tanya Rin lagi dengan senyum yang semakin melebar. "Katakan pada Rin jika ada yang kurang."


Tsubasa menggeleng kepala dan ikut tersenyum menatap Rin. "Terima kasih, Rin-sama. Segala kebutuhan hamba telah disediakan para dayang dengan baik."


"Baguslah kalau begitu." tawa Rin bahagia. Selama dia di istana tanah selatan dulu, Tsubasa selalu mengurus dan menyediakan segala kebutuhannya dengan baik, karena itu, dia ingin membalas kebaikan youkai burung itu tanpa kekurangan sedikitpun.


Tsubasa tidak mengatakan apa-apa lagi. Mempertahankan senyum di wajahnya, dia menatap kisaki tanah barat serta perut besarnya saksama. Wajahnya sangat pucat, suaranya pelan dan lemah, tapi—senyumnya tidak pernah berubah. Wanita manusia ini tetap saja sangat menawan.


Cinta anda, Rin mengerti.


Ucapan Rin dulu terlintas dalam pikiran Tsubasa, dan itu membuat dia ingin sekali tertawa. Wanita manusia yang mendapatkan cinta dari inuyoukai yang dicintainya—perasaan cinta tidak terbalas, bagaimana dia bisa mengerti?


Kisaki tanah barat yang dicintai banyak orang—sungguh, Tsubasa sangat membencinya. Jadi, jangan tersenyum dengan begitu menawan kepadanya, jangan bersikap baik padanya—jangan mengerti dirinya.


"Ada apa kau kemari, Tsubasa?" tanya Akihiko kemudian. Kedua mata biru langitnya menatap Tsubasa tidak suka. Dia tidak menyukai keberadaan selirnya ini di dekat Rin, sebab dia tidak tahu sepenuhnya apa yang ada dalam pikiran youkai burung itu sekarang.


Pertanyaan Akihiko membuat Tsubasa kembali mengarahkan pandangannya pada penguasa tanah selatan tersebut. Wajahnya datar tanpa emosi, tapi kedua mata merahnya bersinar penuh keseriusan. "Hamba menerima surat dari tanah utara, dan mereka menginginkan anda pulang."


"Ha!!" teriak Inuyasha semangat. Dia berdiri menatap Akihiko penuh tawa. "Kau dengar?? Kau sudah dicari serigala sialan!! Pulang ke ruma—"


"Osuwari." potong Kagome yang ada di samping Inuyasha pelan.


"Ahhh!! Kagome!!" teriak Inuyasha saat gravitasi tidak terlihat menekan tubuhnya hingga jatuh terkapar di atas lantai.


"Abaikan saja dia," tawa Kagome sambil mengibas-ngibaskan tangannya melihat semua orang menatapnya. "Inuyasha memang selalu seperti itu."


Perlahan, Akihiko kembali menoleh wajahnya menatap Tsubasa. Wajahnya tetap datar tanpa emosi, tapi, melihat mata serius selirnya itu sekarang, dia tahu ada sesuatu yang telah terjadi. Meski hubungan antara mereka telah berbeda dengan dulunya, Tsubasa tetaplah salah satu bawahannya yang tidak mungkin menghianati selatan. "Ada isi suratnya?"


"Manusia menyerang desa youkai klan laba-laba emas," jawab Tsubasa pelan. Berhenti berbicara sejenak, dengan wajah yang datar dia kembali melanjutkan ucapannya yang belum selesai. "Dan, Shui dari netral muncul dan mengusir para manusia itu."

__ADS_1


....xOxOx....


__ADS_2