Till The End Of Time [ Inuyasha Fanfiction ]

Till The End Of Time [ Inuyasha Fanfiction ]
Chapter 160


__ADS_3

"Lama tidak bertemu—Shui."


Inuyasha dan yang lainnya terkejut mendengar ucapan Sesshoumaru. Mereka tidak mengerti kenapa Sesshoumaru memanggil Takeru sebagai Shui, sebab yang ada di hadapan mereka sekarang jelas adalah youkai ular sang penguasa tanah utara.


"Sesshoumaru! Kau buta, ya? Yang di hadapanmu jelas adalah Takeru dari utara!" Inuyasha menyela tidak peduli dengan situasi dan kondisi yang ada. Bau yang tercium jelas adalah bau dari youkai ular penguasa tanah utara, karena itu bagaimana bisa Sesshoumaru salah mengenali Takeru sebagai Shui?


Sesshoumaru tidak memberikan reaksi apapun pada ucapan Inuyasha, mata emasnya hanya menatap lurus sosok Takeru yang masih tersenyum dengan tenang.


"Hahahaha!!" Takeru tiba-tiba tertawa keras. Mengangkat kepala ke atas dan menggunakan tangan kanan menyusuri rambut hitamnya, dia kemudian kembali menatap Sesshoumaru. "Bagaimana kau bisa tahu?"


Inuyasha, Kagome dan yang lainnya tertegun begitu mendengar suara Takeru. Kini saat penguasa tanah utara itu membuka mulut untuk berbicara, suaranya menjadi berat, dalam dan tidak hanya satu, tapi; dua.


Sesshoumaru tidak menjawab pertanyaan yang dilontarkan padanya. Bagaimana dia bisa tahu? Aura dan bau yang terpancarkan mungkin bisa menipu Inuyasha dan yang lainnya, tapi tidak untuk dirinya—dia tahu jelas yang ada di hadapannya sekarang adalah Shui bukan Takeru.


Takeru kembali tertawa melihat reaksi Sesshoumaru yang diam membisu tidak memberikan jawaban. Sepuluh tahun berlalu, inuyoukai itu tetaplah inuyoukai yang dikenalnya. "Kau memang tidak pernah berubah."


Perlahan tubuh Takeru berubah. Aura mengerikan terpancar dan dari lehernya, sesuatu kemudian tumbuh dengan sangat cepat—sebongkah daging. Tumbuh dan terus tumbuh hingga memiliki rambut, mata, mulut, lalu akhirnya menjadi wajah yang dikenali semua yang ada dalam ruangan, yakni; wajah Shui.


Inuyasha dan yang lainnya tidak dapat menyembunyikan perasaan terkejut mereka saat melihat wajah Shui. Mereka semua ingat jelas Shui telah mati di tangan Sesshoumaru sepuluh tahun yang lalu, kepala youkai naga itu telah putus ditaring sang penguasa tanah barat. Jadi bagaimana dia masih bisa hidup?


Satu tubuh dengan dua wajah. Namun, kedua wajah itu memperlihatkan ekspresi yang berbeda. Wajah Takeru kini terlihat kosong tidak berekspresi seakan sebuah boneka, sedangkan untuk wajah Shui, wajahnya memperlihatkan senyum menyeringai yang tidak wajar dan mengerikan, terlebih lagi sepasang matanya memancarkan kegilaan tidak terbendung.


Inuyasha dengan cepat melangkah maju dan berdiri di samping Shura, Kagome dan Sakura. Begitu juga dengan Shiro, Kohaku, Miroku, Sango dan anak-anak. Mereka semua tahu, dalam kondisi tidak tertebak seperti ini, lebih baik berkumpul daripada terpisah.


Menghunuskan pedang tessaiganya, Inuyasha menatap tajam Shui yang tersenyum lebar. "Bagaimana kau masih bisa hidup??!"


Pertanyaan Inuyasha membuat Shui tertawa. Bersamaan dengan tawanya, wajah Takeru juga ikut tertawa, tapi terlihat jelas tanpa perubahan emosi seakan tanpa kehidupan. "Kau tidak perlu tahu itu, Inuyasha."


"Parasit."


Suara tenang dan datar Sesshoumaru tiba-tiba memotong. Inuyasha dan yang lainnya segera menoleh pandangan menatap inuyoukai penguasa tanah barat terkejut.


"Kau hidup dengan sangat rendah sekarang." Lanjut Sesshoumaru lagi pada Shui yang kini telah berhenti tertawa.


Perang lima wilayah sepuluh tahun yang lalu, perang di mana dia menang dan memutuskan kepala Shui, Takeru membawa pergi sisa tubuh youkai naga tersebut. Apa yang kemudian dilakukan Takeru, Sesshoumaru tidak tahu, tapi dia bisa menebak, youkai ular itu mungkin ingin mengambil kekuatan Shui. Hanya saja, semua diluar dugaan, bukan dia yang berhasil mengambil kekuatan, melainkan dirinya yang dikuasai.


Shui yang berhenti tertawa kemudian kembali tertawa lagi, kedua matanya yang penuh kegilaan menatap remeh Sesshoumaru. "Rendah?—bukankah barat yang terdesak olehku lebih rendah?"


"Hei!!" teriak Inuyasha mendengar percakapan Sesshoumaru dan Shui yang menurutnya tidak pada tempatnya, sebab ada hal yang lebih penting. "Di mana Inukimi-san, Kiri dan Kira, berengsek??!"


Shui menoleh wajah menatap Inuyasha dan tertawa gembira. "Kau tidak berubah Inuyasha, selalu meledak-ledak."


"Cih," cibir Inuyasha tidak suka. Kemarahan memenuhi hatinya melihat tawa Shui. "Jawab pertanyaanku berengsek!!"


Shui tidak mempedulikan Inuyasha, perlahan pandangannya kemudian jatuh pada Shura yang berada di belakang inuhanyou tersebut, seulas senyum memenuhi wajahnya. "Kau adalah Shura, bukan?"


Shura menatap Shui lurus tanpa emosi dan diam membisu. Inuhanyou kecil itu tidak mengenal Shui, tapi dia tahu siapa Shui itu, dan dia juga tahu youkai naga itu seharusnya telah mati di tangan ayahnya dulu. Catatan akan perang lima wilayah yang dibacanya jelas menuliskan kematian mantan penguasa tanah netral tersebut, walau catatan itu tidak pernah lengkap dibacanya. Dia tidak pernah tahu apa penyebab perang tersebut, dan juga bagaimana perang itu sesungguhnya berakhir.


"Kau sama sekali tidak mirip dengan Rin," lanjut Shui lagi dan membuat Shura tertegun. "Kau hanya mirip dengan ayahmu, Sesshoumaru."


Shura tetap diam membisu seribu bahasa, tapi sesungguhnya, dia tidak tahu harus berkata apa. Pertanyaan yang sama dan menyakitkan kembali memenuhi dirinya. Kenapa semua orang bisa mengenal Rin? Tapi kenapa selama ini dia bisa tumbuh besar tanpa ada seorangpun yang menyebut nama wanita manusia itu di depannya?

__ADS_1


Sakura yang berada di belakang Shura bisa merasakan ketidak stabilnya emosi inuyoukai kecil tersebut. Menjulurkan tangan, dia yang masih berada dalam gendongan Kagome berusaha mengapainya. "Kak Shura, kakak kenapa?"


Suara pelan Sakura dengan segera menyadarkan Shura dari pikirannya. Menoleh ke belakang menatap inuhanyou kecil itu, dia melihat tangan kecil yang terjulur dengan sepasang mata emas penuh kekhawatiran.


"Ada yang sakit, kah?"


Pertanyaan penuh kekhawatiran Sakura tidak tahu bagaimana, seketika juga membuat tenang Shura. Ada yang mengkhawatirkan dirinya, meski kenyataan yang ingin dia ketahui mungkin sangat menyakitkan, setidaknya dia tidak sendirian. Tangan kecil yang terarah padanya sekarang merupakan satu-satunya berkas cahaya yang dapat dilihatnya.


Ikut menjulurkan tangan, jari jemari Shura segera menaut jari jemari kecil Sakura. Mengenggamnya erat, inuyoukai kecil itu menggeleng kepala dengan wajahnya yang tanpa ekspresi. "Aku tidak apa-apa."


Sakura balas mengenggam erat jari jemari Shura dan tersenyum. "Sakura mengerti."


Kagome, Sango, Miroku dan Kohaku tertegun melihat interaksi Shura dan Sakura yang terlihat sangat dekat, sedangkan untuk Mamoru, Aya dan Maya, mereka tidak merasakan apa-apa karena mereka sudah melihat jalinan yang ada pada kedua saudara sepupu tersebut sebelumnya. Untuk Shiro, dia hanya menarik napas tidak suka. Tapi, tidak untuk Inuyasha.


Inuyasha dengan segera menggerakkan tangannya berusaha untuk melepaskan genggam kedua jari-jemari yang tertaut itu. Dia tidak mengatakan sepatah katapun, tapi kedua mata emasnya melotot menatap Shura tidak suka. Apa-apaan anak Sesshoumaru ini? Kenapa seenaknya menyentuh putrinya seperti ini??


Shura balas menatap Inuyasha tajam tanpa takut. Dia juga tidak mengatakan apa-apa, tapi genggaman jari jemarinya semakin kuat, inuyoukai kecil itu tidak berniat melepaskan tangan yang digenggamnya sama sekali.


Shiro bersorak gembira dalam hati melihat sikap Inuyasha. Akhirnya! Setelah sekian lama, ada juga orang yang sepihak dengannya. Ayahnya memang hebat, dia pasti tau bahwa mereka memang harus segera menjauhkan Sakura sejauh mungkin dari Shura. Jika tidak, cepat lambat mereka akan kehilangan Sakura.


"Sesshoumaru," Asano yang diam membisu semenjak kemunculan Shui tiba-tiba bersuara dan merebut perhatian semua yang ada. "Apakah tanah barat bersedia menyerah sekarang?"


"Menyerah apaan??!!" teriak Jaken mendengar ucapan tidak masuk akal Asano. Mengancung-ngancung jari telunjuk penuh kemarahan, dia menatap tanpa takut sang penguasa tanah timur."Kalian tunggu saja!! Tanah barat pasti akan meratakan tanah timur setelah ini!!"


Asano hanya tersenyum mendengar ucapan Jaken, sedangkan untuk Akiko, dia tiba-tiba tertawa dengan sangat gembira. "Aku menantikannya," ujarnya. "Aku ingin melihat bagaimana tanah barat meratakan tanah timur sekarang."


Tawa Akiko membuat bingung Jaken, Inuyasha dan yang lainnya. "Apa maksud ucapanmu?" tanya Jaken lagi.


"Inuyasha," panggil Shui tiba-tiba dengan senyuman di wajah. "Kau bertanya padaku dimana Inukimi-san, Kiri dan Kira, bukan?"


Pertanyaan Shui membuat Inuyasha dan yang lainnya menatap youkai naga itu penuh tanda tanya. Tapi, perasaan tidak enak memenuhi hati mereka, sepertinya jawaban yang ada tidak akan menguntungkan mereka.


Tetap sambil tersenyum, Shui kemudian mengeluarkan sesuatu dari lengan kimononya. Memperlihatkan pada semua yang ada, dia tidak mengatakan apa-apa, tapi senyum Asano dan Akiko yang ada disampingnya semakin lebar.


Yang diperlihatkan Shui adalah dua botol kaca. Botol kaca itu tidak berukuran besar,dengan tutup berwarna hitam. Panjangnya sekitar dua puluh senti meter dan diameter lima sentimeter. Tidak ada yang istimewa pada kedua botol tersebut sampai Shura, Inuyasha, Shiro, Sakura dan Jaken melihat isinya.


Mata para manusia tidak dapat melihat jelas, tapi untuk youkai dan hanyou yang memiliki penglihatan tajam, mereka dapat melihat jelas isi dari kedua tabung tersebut, yakni; youkai.


Salah satu tabung berisi penuh youkai yang dapat dikenali Shura, Inuyasha dan Jaken sebagai para pemimpin klan youkai di tanah barat, sedangkan satu lagi berisi Inukimi, Kiri, Kira dan juga seorang youkai monyet; Kenji.


"Berengsek!! Kenapa kalian selalu menggunakan cara licik seperti ini!?? Kalau berani, lawan kami dengan terang-terangan bukan menyegel para youkai tanah barat seperti itu!!!" teriak Inuyasha penuh kemarahan. Sejak mengenal Shui, Asano dan Akiko sampai sekarang, inuhanyou itu merasa mereka selalu saja menggunakan cara licik untuk melawan tanah barat.


Shui tertawa. "Ini namanya stategi Inuyasha. Tidak ada namanya licik dalam seni berperang."


Inuyasha tidak mengucapkan apapun lagi mendengar ucapan Shui. Kagome, Miroku, Sango serta Kohaku juga segera menyadari apa yang terjadi, inikah alasan kenapa tanah barat bisa terdesak?


Tersenyum lebar, Shui menaikkan botol kaca di tangan setinggi pandangan matanya. Dia bisa melihat para pemimpin klan youkai tanah barat yang mengamuk dan berusaha menghancurkan botol kaca yang menyegel mereka. Lalu, pandangannya jatuh pada botol kaca lainnya yang berisi Inukimi, Kenji, Kiri dan Kira.


Berbeda dengan para pemimpin klan youkai tanah barat yang berusaha menghancurkan botol kaca, baik Inukimi, Kenji, Kiri dan Kira terlihat sangat tenang. Inukimi duduk anggun dengan Kenji yang juga duduk di depannya sambil melipat tangan. Untuk si kembar dari barat, mereka berdua berdiri dengan menyandarkan punggung pada dinding kaca. Tidak ada kemarahan ataupun kepanikan, wajah mereka datar tanpa ekspresi.


Shui tahu, keempat youkai itu pasti sadar tidak ada gunanya menghabiskan tenaga untuk menghancurkan botol kaca yang menyegel mereka, sebab itu tidak mungkin. Botol kaca ini adalah hasil dari penyatuan kekuatan dirinya, Takeru dan Asano—menghancurkannya dari dalam adalah tidak mungkin.

__ADS_1


"Kenji-san," panggil Shui pelan. Suaranya penuh dengan tawa. Mereka yang ada dalam botol kaca bisa mendengar jelas suara dari luar botol kaca. "Tidakkah kau merasa ini familiar?"


Kenji menatap Shui sejenak. Namun, dia tidak bergerak atau memperlihatkan perubahan ekspresi sedikitpun.


"Aku mendapatkan ide ini darimu, jadi aku harus  berterima kasih padamu." Tawa Shui gembira. Sepuluh tahun yang lalu, dia ingat jelas bagaimana youkai monyet itu menipunya dengan menyembunyikan dua youkai tikus putih dan seorang youkai rubah dalam botol kecil. Tipuan yang kemudian menghancurkan rencananya.


Kenji membuang muka mendengar ucapan terima kasih Shui. Wajahnya tetap datar?—tidak ada yang tahu bagaimana perasaannya terperangkap dalam botol kaca sekarang.


Akiko kembali tertawa keras. Kedua matanya menatap lurus mereka yang ada di depannya penuh binar kegembiraan. "Kalian mengerti sekarang? Barat sudah tamat!!"


Tanah barat kuat, Akiko tahu itu. Tanpa Tanah selatan, hanya dengan tanah utara dan timur mereka tidak mungkin mampu melawan tanah barat. Namun, bagaimana jika para pemimpin klan youkai dan youkai-youkai kuat di tanah barat tiada? Tanah barat hanya akan menjadi seekor harimau tanpa taring dan cakar.


"Tamat apanya!!"


"Kalian yang tamat!!"


Suara teriakan Inuyasha dan Jaken bersamaan terdengar membalas ucapan Akiko. Penuh kemarahan, mereka berdua menatap lekat putri penguasa tanah timur tersebut.


"Selama aku, Inuyasha dan kakakku, Sesshoumaru masih ada, kalian ini tidak akan pernah dapat mengalahkan barat!!" Lanjut Inuyasha keras penuh rasa percaya diri tidak peduli dengan pandangan mata semua orang yang terarah padanya.


"Tanpa hanyou lemah ini, cukup Sesshoumaru-sama seorang saja, beliau sudah dapat mengalahkan kalian semua!!" sela Jaken tidak mau kalah.


"Apa maksudmu Jaken??!!!" Hardik Inuyasha sambil menatap tajam Jaken. Beraninya dia mengatakan dirinya lemah?? Apa katak ini tidak pernah bercermin?? Siapa yang lemah??


Shura hanya menatap Inuyasha. Dia mengerti sekarang, bahwa inuhanyou di depannya adalah saudara ayah kandungnya. Dari awal dia sudah curiga karena bau yang ada, hanya saja dia tidak menyangka hubungan darah yang ada begitu dekat. Tapi, melihat sikap dan sifat Inuyasha sekarang, inuyoukai kecil itu sepertinya mengerti kenapa ayahnya atau siapapun juga tidak pernah memberitahu dirinya keberadaan kerabat mereka ini.


"Hais, sudah dalam keadaan seperti ini, Inuyasha tetap saja tidak berubah." gumam Miroku sambil menggeleng kepala, sepertinya Inuyasha benar-benar tidak menyadari betapa gentingnya keadaan mereka sekarang ini. Kagome, Sango, Kohaku dan anak-anak kecuali Shiro dan Sakura hanya ikut menghela napas mengerti maksud ucapan Miroku. Usia dapat mematangkan karakter seseorang, tetapi sepertinya itu tidak berlaku pada Inuyasha.


Shui kembali tertawa dan menolehkan wajahnya pada Sesshoumaru. "Sesshoumaru, keadaan sudah seperti ini. Kau sudah terdesak, tapi tenang, aku bukanlah seorang pengecut, apakah kau bersedia bertarung satu lawan satu untuk menentukan sang pemenang?"


Apa yang dikatakan Shui membuat Inuyasha dan yang lainnya tertegun. Namun sedetik kemudian mereka memincingkan mata tidak percaya. Tidak ada seorangpun yang percaya dengan ucapan youkai naga itu, sebab sejak perang lima wilayah hingga sekarang, cara yang dia gunakan untuk menyerang tanah barat dan Sesshoumaru selalu saja penuh kelicikan.


Namun, Sesshoumaru dengan suaranya yang datar dan tenang menerima tantangan Shui. "Sesshoumaru ini terima tantanganmu."


"Sesshoumaru!!" panggil Inuyasha terkejut dan menoleh kepalanya menatap kakak seayahnya tersebut. Bagaimana bisa Sesshoumaru menerima tantangan mencurigakan Shui tersebut?


Tidak peduli dengan panggilan penuh peringatan Inuyasha, Sesshoumaru mencabut bakusaiga di pinggangnya dan berlari maju ke arah Shui. Wajahnya tetap tenang tanpa ekspresi seperti biasanya.


Shui tertawa melihat Sesshoumaru yang bergerak maju. Melempar kedua tabung kacanya pada Asano, dia juga ikut mencabut pedangnya dan bergerak maju.


Pedang dan pedang beradu, menciptaan ledakan kuat yang membuat ruangan yang sudah hancur semakin hancur.


Shura tidak dapat berbuat apa-apa melihat ruangan yang hancur, menoleh wajahnya ke belakang, dia menatap lukisan wanita yang paling berharga baginya. Lukisan itu masih ada di sana, perasaan lega memenuhi hatinya karena lukisan itu tidak rusak sama sekali, begitu juga dengan kimono yang tergantung, sepertinya ada yang memberikan kekai pelindung pada kedua barang berharga tersebut.


Menggerakkan pedangnya dengan mengumpulkan kekuatan, Sesshoumaru kemudian mendorong Shui keluar dari ruangan yang telah hancur ke taman.


Shui terdorong keluar dengan mudah oleh Sesshoumaru. Senyum memenuhi wajahnya, meski dia telah menelan seluruh kekuatan Takeru dan jauh lebih kuat dari sepuluh tahun yang lalu, ternyata itu masih tidak cukup untuk mengungguli inuyoukai penguasa tanah barat. Tapi, sayang sekali, tidak peduli seberapa kuat inuyoukai itu sekarang, dia telah mengetahui kelemahannya.


Sambil menahan pedang Sesshoumaru, Shui yang tersenyum membuka mulutnya. "Sesshoumaru-sama."


Bukan lagi suara Shui yang biasa, suara yang meluncur keluar dari mulut youkai naga itu adalah suara yang familiar. Suara lembut bagaikan dentingan lonceng, suara jernih yang selalu dicintai tanah barat—suara Rin.

__ADS_1


....xOxOx....


__ADS_2