Till The End Of Time [ Inuyasha Fanfiction ]

Till The End Of Time [ Inuyasha Fanfiction ]
Chapter 163


__ADS_3

"Shura, lupakanlah.."


Shura menatap penuh ketakutan Sesshoumaru yang ada di depannya. Dia juga bisa mendengar suara teriakan Kagome, Jaken dan yang lainnya.


"Kakak!!"


"Sesshoumaru-sama!!"


"Sesshoumaru-san!!!"


Darah merah membasahi pandangan Shura. Mata emasnya bisa melihat jelas tangan yang menembus punggung ayah kandungnya serta jantung yang berdetak dalam genggaman.


"Berengsek!!" suara teriakan Inuyasha terdengar keras, tidak tahu sejak kapan, inuhanyou itu telah berada di belakang Shura. Mengayunkan tessaiga, dia menyerang Shui.


Shui meloncat menghindar ke belakang. Tangan yang menembus tubuh Sesshoumaru dan menggenggam jantungnya ikut mundur ke belakang memasuki pintu dimensi yang terbuka, menghilang dari pandangan.


Badan Sesshoumaru ambruk ke bawah, dan dengan segera Shura menangkapnya. Terduduk di atas tanah, dia menatap tidak percaya dan juga takut akan kondisi ayah kandungnya yang tidak sadarkan diri. Perasan takut inuyoukai kecil itu semakin besar saat dia merasakan badan itu mendingin dengan cepat.


"Sesshoumaru!!" Inuyasha berlutut ke bawah. Wajahnya pucat pasi saat melihat kedua mata Sesshoumaru tertutup, dan yang paling menakutkannya adalah, dia tidak bisa merasakan aura kehidupan sedikitpun dari kakak seayahnya lagi.


"Oi!! Sesshoumaru!! Bangun kau!!! Bangun!!!" penuh kepanikan, tidak peduli Shura yang masih shock, Inuyasha menarik kerah kimono Sesshoumaru dan menguncangnya kuat. "Kakak!!! Buka matamu!!!"


Kagome, Jaken, Miroku dan yang lainnya tidak bergerak sedikitpun dari posisi mereka berada. Kepala mereka masih berusaha mencerna apa yang terjadi di depannya. Apakah yang mereka lihat sekarang nyata?


"Hahahaha!!!!" Suara tawa keras Shui terdengar menyadarkan semua yang ada. Tertawa bahagia bagaikan orang gila, dia mengangkat tangannya yang mengenggam jantung Sesshoumaru ke atas. "Satu atau dua tusukan di jantung tidak akan membunuh Sesshoumaru. Tapi, bagaimana jika jantungnya tercabut keluar??"


Ucapan Shui membuat semua yang ada menoleh menatap youkai naga tersebut. Berdiri di kejauhan, sosoknya yang aneh dengan badan manusia seorang wanita dan youkai yang terhubung menatap Shura dan Inuyasha penuh kegembiraan. Lalu, dengan kuat di mata semua yang ada, dia meremas jantung Sesshoumaru hingga hancur. "Bagaimana jika jantungnya hancur seperti ini?"


"Kubunuh kau!! Akan kubunuh kau!!!" gelap mata dan dipenuhi kemarahan luar biasa, tanpa mempedulikan apapun lagi, Inuyasha melesat maju ke arah Shui. tessaiga terangkat ke atas. "Bakuryuha!!!"


Shui tertawa melihat kemarahan Inuyasha. Tidak gentar sedikitpun melihat serangan bakuryuha yang diarahkan padanya, dia menggunakan aura youkinya untuk merubah arah serangan tersebut.


Inuyasha tidak berhenti meski melihat serangannya dialihkan oleh Shui, masih penuh kemarahan dia masih berlari maju. Namun, dari sampingnya, sebuah tombak meluncur mengincar kepalanya.


"Inuyasha!!!"


"Ayah!!!"


"Inuyasha!! Sampingmu!!"


Suara teriakan Kagome, Shiro, Sakura dan yang lainnya terdengar. Sadar dengan serangan yang tiba-tiba tersebut, Inuyasha segera memutar badannya untuk menghindar.


Serangan fatal tiba-tiba itu berhasil dihindari Inuyasha, tapi mata tombak tersebut tetap berhasil melukainya. Mendarat di atas tanah, luka sebetan panjang di tangan kanannya tidak terelakkan. Darah merah mengalir turun membasahi tanah.


"Berengsek!!" penuh kemarahan, Inuyasha menatap pemilik tombak tersebut yang tidak lain adalah Asano. Bukannya dari tadi saat mereka bertarung, youkai rubah itu tidak menyerang sama sekali, kenapa sekarang dia malah menyerang dan ikut campur?


Berdiri, Inuyasha ingin menyerang Asano. Tapi pandangannya tiba-tiba menjadi tidak fokus dan kedua kakinya kehilangan tenaga. Menancapkan tessaiga di atas tanah sebagai penyanggah dirinya yang hampir jatuh ke atas tanah, dia menatap tajam Asano yang tersenyum lebar kepadanya.


Racun.

__ADS_1


Inuyasha tidak tahu racun apa ini. Tapi, dia yakin mata tombak Asano mengandung racun yang menyebab keadaannya menjadi seperti ini.


"Berengsek!!" umpat Inuyasha lagi. Bagaimana bisa mereka hanya terus melancarkan serangan-serangan yang penuh kelicikan dan pengecut seperti ini?


"Meski hanya seorang hanyou, kau memang kuat Inuyasha," ujar Asano dengan wajahnya yang penuh senyum. "Racunku ini cukup kuat untuk membunuh youkai pada umumnya, tapi kau tetap saja hidup, bahkan masih bisa berbicara. Darah inuyoukai memang luar biasa"


Inuyasha tidak membalas ucapan Asano, kedua mata emasnya menatap tajam penguasa tanah timur penuh kebencian.


Masih dengan senyum di wajah, Asano kemudian mengeluarkan botol kaca dimana mereka menyegel Inukimi, Kiri, Kira, Kenji dan youkai tanah barat lainnya. "Inukimi-san, Kenji-san dan kalian semua, apakah kalian siap menyambut penguasa tanah barat yang baru?"


Inukimi, Kenji, Kiri, Kira tidak memperlihatkan perubahan ekpresi sedikitpun melihat apa yang terjadi. Wajah mereka dingin tanpa emosi. Tapi, tidak untuk para youkai tanah barat lainnya. Mereka menatap tidak percaya dan kemudian marah.


Shui tersenyum lebar melihat itu. Kematian Sesshoumaru adalah sesuatu yang tidak akan pernah mereka bayangkan. Dengan kematian Sesshoumaru, maka artinya, tanah barat yang selalu penuh kejayaan telah jatuh ke tangannya.


Namun, tiba-tiba saja, Shura yang dari tadi membisu tidak bergerak melesat maju. Dengan pedang terhunus di tangannya, dia menyerang Shui. Mata emasnya telah berubah menjadi merah seperti darah, bibirnya terangkat memperlihatkan seringai penuh kemarahan-dia hampir kembali ke sosok asli youkainya.


Shui cukup terkejut dengan serangan Shura. Tapi, sejenak kemudian dia segera menghindar serangan inuyoukai kecil itu sambil tertawa.


Shura tidak peduli, menyerang terus tanpa henti, dia melancarkan serangan demi seranganya. Hanya saja, bagaimana dia menyerang, dia tetap saja tidak berhasil menyentuh Shui sedikitpun. Perbedaan kekuatan mereka sungguh sangat besar.


"Shura, putraku..." panggil Shui menggunakan sosok Rin. Tersenyum, dia menatap lembut Shura. "Kenapa kau menyerangku?"


Shura menatap sosok ibunya sejenak dan kembali menyerang. Yang di depannya bukanlah ibunya, dia tidak akan ragu lagi. Tapi, Shui tiba-tiba menggerakkan tangannya yang bersosok Rin menangkap tangan inuyoukai kecil itu. Kedua mata coklatnya melotot menatap pewaris tanah barat, senyum di wajah cantik itu menghilang digantikan seringai penuh kegilaan. "Tidak hanya membunuhku, kau kini juga mencelakai ayahandamu."


Mata Shura terbelalak mendengar ucapan Shui, gerakannya seketika terhenti, dan kesempayan itu tidak disia-siakan youkai naga tersebut. Mengangkat kakinya, dengan kuat dia menendang badan inuyoukai kecil tersebut hingga terpental ke belakang.


"Shura!!!"


"Kecil!!!"


"Kak Shura!!"


Suara penuh kepanikan terdengar. Berusaha berdiri dengan terhuyung-huyung, Shura terbatuk dan memuntahkan darah. Dia bisa merasakan beberapa tulang rusuknya yang patah dan hampir menusuk jantung. Pandangannya menjadi tidak fokus, seketika, dia merasakan sepasang tangan menahan badannya.


Mengangkat kepalanya, Shura melihat Shiro telah berada di depannya. Wajah inuhanyou itu penuh kekhawatiran. "Kau tidak apa-apa, Shura?"


"Kau pembunuh!!" Shui kembali berteriak menggunakan suara Rin. Wajah Rin yang digunakannya memperlihatkan kebencian menatap Shura, sedangkan wajah aslinya yang berada di atas tersenyum bahagia bagaikan sedang menonton sandiwara komedi. "Kau membunuhku!! Kau juga membunuh Sesshoumaru, ayahandamu sendiri!!"


Shura mengigit erat giginya. Mata merah darahnya penuh dengan kemarahan, dan dia ingin maju lagi menyerang musuh di depan. Mati-matian menjaga kesadarannya, inuyoukai kecil itu tidak peduli lagi apapun yang terjadi pada dirinya, yang penting dia harus membunuh Shui hari ini juga.


Akan tetapi, baru dua langkah Shura melangkah, Shiro telah menghentikannya. Inuhanyou itu dengan sigap menarik lengan pewaris tanah barat itu.


"Lepaskan!!!" teriak Shura. Matanya kini terarah pada Shiro, begitu juga dengan seringainya yang penuh kemarahan.


Shiro tidak melepaskan Shura seperti yang diperintahkan, malahan genggaman tangannya di lengan inuyoukai kecil itu semakin kuat. Bagaimana mungkin dia melepaskan Shura dan membiarkannya melawan Shui sendiri?—sebab itu sama saja dengan bunuh diri.


Kagome, Miroku, Sango dan yang lainnya tidak bergerak sedikitpun melihat apa yang terjadi. Semua terjadi dengan sangat cepat. Namun, mereka sadar, keadaan mereka sekarang sama sekali tidak memguntungkan, bahkan boleh dikatakan sangat berbahaya. Tanpa Sesshoumaru dan Inuyasha yang kini terluka—kemungkinan mereka mengalahkan Shui, Asano dan juga Akiko bersamaan adalah nihil.


Lalu, dalam keadaan genting yang ada, suara seorang anak kecil tiba-tiba terdengar memecahkan keheningan.

__ADS_1


"Miroku!!!!"


Tanpa perintah apapun, Miroku yang mendengar suara itu tersadar dan segera bergerak cepat. Menarik tangan Sango dan Kohaku yang berada di dekatnya, dia langsung berlari dan berteriak memanggil youkai kucing milik keluarganya, "Kirara!!!"


Beberapa bola kecil tiba-tiba jatuh dari langit. Saat menyentuh tanah, bola kecil itu langsung meledak dan menciptakan asap tebal berwarna-warni menutupi seluruh paviliun timur istana tanah barat.


Inuyasha yang kebingungan dengan apa yang terjadi, tiba-tiba merasakan seseorang mengangkat badannya dan berlari cepat dalam asap tebal yang ada. "Apa-apaan ini!!!??" teriaknya terkejut.


Tapi, orang atau lebih tepatnya youkai yang mengangkat Inuyasha ke pundak kanannya tidak menjawab, dia berlari ke arah Shura serta Shiro yang juga kebingungan dan mengangkat mereka berdua.


Meletakkan Shura dan Shiro bersamaan di pundak kirinya, youkai itu berujar pelan. "Pegang kuat-kuat."


"Eh? Siapa kau!!?? Apa-apaan ini??" teriak Shiro penuh kepanikan, sedangkan untuk Shura, dia memberontak dan menatap tajam youkai yang mengangkatnya dengan wajah pucat penuh kemarahan. "Turunkan aku."


Shura tidak mau meninggalkan tempat ini. Ayahnya masih ada di sini, dan yang paling penting, dia masih belum membunuh Shui.


"Maaf, Shura-sama, hamba tidak bisa melakukan itu." Balas youkai tersebut dan tanpa basa-basi menggunakan tangan kanannya yang menahan Inuyasha di pundak kirinya untuk memukul pingsan Shura.


Sedangkan untuk Kagome yang juga sama bingungnya, dia masih belum mencerna apa yang terjadi, tapi suara barusan yang memanggil Miroku tidaklah asing, suara itu adalah suara—"Kagome!! Semuanya!! Jangan berdiri di tempat saja, ayo cepat!!!"


Tangan kecil seseorang tiba-tiba menarik tangan Kagome, dan tidak perlu memikirkannya lagi, miko masa depan itu tahu siapa pemilik suara ini. "Shippo??"


Shippo, youkai rubah kecil yang menarik tangan Kagome tidak menoleh menatapnya. Dalam asap tebal berwarna-warni yang ada, dia membimbing miko masa depan berserta Sakura, Mamoru, Aya, Maya dan Jaken pada Ah-un yang tidak tahu sejak kapan ada di depannya. "Kita harus kabur secepat mungkin!!!"


"Eh???"


Shui, Asano dan Akiko yang terperangkap dalam asap tebal tidak dapat melakukan apa-apa. Tidak hanya menganggu pandangan mereka, asap aneh ini juga mengacaukan aura youki yang ada sehingga mereka tidak bisa merasakan apapun.


Mengumpulkan youkinya, Asano kemudian mengelembungkan pipinya dan meniup keluar udara dari mulutnya. Udara atau lebih tepat angin kuat kemudian tercipta dan menyapu hilang asap warna-warni yang menutup paviliun timur istana tanah barat.


Saat pandangan menjadi jelas, Shui, Asano dan Akiko bisa melihat baik, Shura, Inuyasha dan yang lainnya telah menghilang dari pandangan mereka, kecuali Sesshoumaru yang berbaring tidak bernyawa di atas tanah penuh darah.


"Mereka kabur." ujar Akiko kesal. Setelah sekian lama menunggu, dia kira dirinya bisa melihat Shura, anak wanita manusia itu mati dengan menyedihkan hari ini.


Asano tidak membalas ucapan Akiko. Dia tidak tahu siapa yang muncul dan menganggu mereka, tapi suara anak kecil yang mereka dengar jelas tidak asing. Tapi, meski mereka berhasil melarikan diri, setiaknya tujuan mereka telah tercapai, yakni; kematian Sesshoumaru.


Melangkah pelan, Asano mendekati Sesshoumaru. Namun, tiba-tiba saja, pilar api yang sangat kuat muncul dan membatasi pergerakannya yang mendekati inuyoukai tersebut.


Terkejut, Asano segera meloncat ke belakang dan bersiap siaga untuk melawan siapapun yang muncul. Yang dapat menciptakan pilar api seperti ini jelas bukanlah youkai sembarangan. Namun, tidak ada yang muncul, dan saat pilar api itu menghilang, sosok Sesshoumaru yang ada di atas tanah juga ikut menghilang.


Asano, Akiko terkejut melihat Sesshoumaru yang menghilang. Efek dari asap yang mengacaukan mereka merasakan aura youki masih tersisa, sehingga mereka sama sekali tidak mengetahui siapa yang membawa jasad Sesshoumaru.


Asano dan Akiko kemudian menoleh kepala mereka menatap Shui yang tetap tenang meski apa yang terjadi. Mereka berdua tidak tahu apa yang ada dalam pikiran youkai naga tersebut.


Shui tidak bergerak, dia diam membisu. Tapi, tidak lama kemudian, dia tertawa terbahak-bahak bagaikan orang gila. "Kabur!! Larilah!! Tidak apa-apa. Tapi ingat, konsekuensinya tetap ada!!!"


Bersamaan dengan tawanya, dari belakang Shui, sebuah pintu dimensi besar kemudian terbuka. Tawa serta suara tangis terdengar, dan dari dalam pintu dimensi tersebut, para youkai berlari keluar. Mata mereka semua penuh kegilaan dan senyum menyeringai memenuhi wajah.


"Musnahkan!! Duduki istana tanah barat!!"

__ADS_1


....xOxOx....


__ADS_2