![Till The End Of Time [ Inuyasha Fanfiction ]](https://asset.asean.biz.id/till-the-end-of-time---inuyasha-fanfiction--.webp)
Malam semakin larut, di taman paviliun timur, pesta semakin meriah. Dinginnya malam musim dingin tidak menganggu para hadirin yang ada sedikitpun. Tawa yang ada terus memenuhi langit malam, hingga aura youki seorang youkai terasa.
Keheningan segera memenuhi sekeliling, dan bersamaan, para youkai yang ada segera berhenti berpesta. Berlutut tanpa sepatah katapun, mereka memberikan hormat pada siapa yang datang—Sesshoumaru, sang penguasa tanah barat berserta kisaki dan pewarisnya.
Inuyasha dan yang lainnya juga tidak mengatakan apa-apa dengan kedatangan Sesshoumaru, Rin dan Shura. Mata mereka semua tertuju pada keluarga penguasa tanah barat yang memasuki taman.
Kemunculan keluarga penguasa tanah barat memang telah ditunggu, hanya saja, tidak ada seorangpun yang menyangka mereka akan muncul seperti ini. Dengan Kiri dan Kira samping sebagai pengawal, Sesshoumaru berjalan tegap dan pelan sambil membopong Rin yang memeluk Shura. Wajahnya datar dan tanpa ekspresi seperti biasanya, namun tidak untuk sang kisaki tanah barat, wanita manusia itu menunduk malu dengan kemunculan mereka yang menurutnya tidak sopan. Sedangkan untuk Shura, inuyoukai kecil tersebut menatap tajam dan tidak suka sekelilingnya karena merasa mereka telah menganggu suasana hati sang ibu.
Melangkah terus menuju tempat duduk mereka yang berada di ujung taman di mana tempat para youkai yang berada bisa melihat jelas mereka, Sesshoumaru tidak menurunkan Rin pada bantal duduk sang kisaki yang tersedia. Duduk bersila ke bawah bantal tempatnya berada, sang penguasa tanah barat menempatkan wanita manusia yang memeluk putra mereka di kakinya dengan Kiri dan Kira yang berdiri di samping sebagai pengawal.
"S-sesshoumaru-sama.." panggil Rin terbata-bata. Wajahnya tidak dapat menyembunyikan sedikitpun perasaan terkejut dalam hatinya—inuyoukai ini tidak bermaksud untuk menghadiri pesta ini dengan posisi duduk seperti ini sampai selesai, kan?
Namun, Sesshoumaru tidak peduli. Mata emasnya menatap semua bawahan yang masih membungkuk memberikan hormat tanpa emosi. "Bangkitlah."
Semua youkai yang ada segera berdiri, dan seketika, pandangan semua yang ada tertuju pada keluarga sang penguasa tanah barat. Posisi duduk sang penguasa dan kisaki memang tidak seperti biasanya, namun, tidak ada seorangpun yang mengatakan apa-apa. Betapa penting dan berharga kisaki tanah barat bagi sang penguasa, mereka semua tahu—bukankah dua perang yang dikobarkan berkaitan dengan wanita manusia tersebut?
Lalu, dari pada itu keberadaan sang pewaris yang lebih menarik minat mereka semua. Pewaris tanah barat, inuyoukai dengan darah paling murni yang terlahir dari seorang wanita manusia. Keberadaan yang mustahil tapi nyata. Pada perang beberapa hari yang lalu, mereka telah melihatnya dengan jelas, namun malam ini; pada pesta ini, mereka yang melihat sang tokoh utama pesta dengan sejelas-jelasnya mau tidak mau kembali terpukau. Berbulu putih dengan sepasang sklera merah darah dengan iris berwarna biru, sepasang garis di pipi serta bulan sabit di dahi—pewaris tanah barat benar-benar merupakan kopian sempurna dari ayah kandungnya; Sesshoumaru sang penguasa tanah barat.
Shura sendiri, meski ribuan pasang mata tertuju padanya, tidak ada sedikitpun ketakutan dan kegetiran muncul dalam matanya. Bagaikan menantang mereka, sepasang mata sklera merah darah dan iris berwarna biru itu menatap balik semua yang ada dengan kuat—pandangan mata pemimpin masa depan mereka.
"Ayah, itu Shura, kan?" tanya Shiro yang menatap Shura tiba-tiba. Dari bau yang tercium, dia yakin anjing kecil dalam pelukan Rin adalah Shura, saudara sepupunya. "—kenapa dia berwujud seekor anjing?"
Shiro tidak pernah melihat sosok asli inuyoukai selama ini meskipun ada darah inuyoukai mengalir dalam nadinya, karena itu, dia cukup bingung dengan sosok asli Shura yang dilihatnya sekarang.
"Ah—iya,"Inuyasha mengaruk kepalanya. Dia cukup kebingungan juga menjelaskan pada putranya perbedaan antara youkai dan hanyou. "Anjing kecil itu adalah Shura."
"Bagaimana Shiro bisa bermain bola dengan Shura kalau Shura seperti itu?" menoleh menatap Inuyasha, mata Shiro penuh dengan kepolosan.
Kenji yang mendengar pertanyaan Shiro tertawa. Menepuk pelan kepala inuhanyou kecil tersebut, dia tersenyum. "Tenang, inuyoukai biasanya baru mendapatkan wujud manusianya setelah sebulan dilahirkan—kau bisa bermain bola dengannya saat itu."
Ucapan Kenji membuat semua yang ada menoleh wajah menatapnya. Mereka tidak mengatakan apa-apa, mereka semua berusaha membayangkan rupa manusia Shura. Namun, tanpa membayangkan juga, mereka yakin, rupanya pasti akan sangat mirip dengan Sesshoumaru, ayah kandungnya.
"Tidak—" suara Inukimi yang tertawa tiba-tiba terdengar dari samping Inuyasha dan yang lainnya. "Cucu tampanku tidak akan bermain bola, dia akan bermain pedang denganmu."
Menoleh menatap sumber suara, Inuyasha dan yang lainnya melihat Inukimi yang tidak tahu sejak kapan telah duduk tenang meminum sake sambil tersenyum. "Cucu tampanku akan lebih menyukai pedang daripada bola."
Ucapan Inukimi membuat semua yang ada terdiam. Tapi mereka setuju dengan ucapan mantan penguasa tanah barat tersebut. Jika Shura mirip Sesshoumaru, mereka bisa membayangkannya bermain pedang, tapi tidak akan pernah bisa membayangkannya bermain bola.
"Selamat untuk kelahiran pewaris tanah barat!" tawa suara seseorang tiba-tiba terdengar keras memecahkan keheningan yang ada.
Menatap sumber suara, mata semua yang ada di taman paviliun istana tanah barat bisa melihat Asano, sang penguasa tanah timur berserta rombongannya berjalan mendekati keluarga penguasa tanah barat. Seulas senyum memenuhi wajah tuanya, begitu juga dengan Akiko yang ada di sampingnya.
"Putra yang luar biasa," lanjut Asano lagi dengan senyum lebar penuh kebahagiaan. "Dia akan menjadi penguasa yang luar biasa sepertimu kelak."
Sesshoumaru tidak membalas ucapan selamat Asano. Duduk tidak bergeming, dia menatap Asano dan rombongannya yang berada di depan dengan ekspresi wajah yang tidak berubah sedikitpun, begitu juga dengan semua youkai di bawah kepemimpinan penguasa tanah barat.
Asano tetap tersenyum menatap Sesshoumaru meskipun dia bisa merasakan pandangan mencemooh sekeliling yang kini tertuju padanya serta rombongannya.
Pada perang lima wilayah yang berlangsung, tanah barat keluar sebagai pemenang-menang tanpa kerugian sedikitpun karena tensaiga menghidupkan mereka yang mati. Namun tidak untuk tanah timur di bawah kepemimpinannya. Dia kalah dengan sangat menyakitkan.
Sebagai penguasa tanah timur, Asano tahu, akan sangat memalukan jika dirinya kini berada di sini dan mengucapkan selamat akan kelahiran putra Sesshoumaru setelah apa yang dilakukannya. Tapi, dia tidak punya pilihan lain.
Tanah timur sejak awal bukanlah tandingan tanah barat, apalagi sekarang setelah tanah timur mengalami kekalahan dan kehilangan banyak youkai kuat. Jika tanah barat memutuskan menyerang sekarang, maka Asano tahu; tanah timur akan lenyap dari jepang untuk selamanya.
"Tidak seberapa, tapi ini hadiah dari tanah timur untuk menyelamati kelahiran sang pewaris tanah barat." Dari belakang Asano, beberapa prajurit tanah timur berjalan maju dengan dua peti besar berisi emas permata.
Sesshoumaru tetap diam membisu, tidak mengucapkan sepatah katapun akan hadiah yang diberikan oleh tanah timur. Pandangan mencemooh mata emasnya tertuju pada Asano dan rombongannya, membuat suasana menjadi sangat canggung.
Rin yang masih duduk dipangkuan Sesshoumaru kemudian tersenyum. Dia tahu maksud kedatangan Asano kemari, namun, dia tidak berniat menyulitkannya. Kisaki tanah barat lebih menyukai kedamaian daripada perang.
"Terima kasih untuk hadiahnya, Asano-sama." suara pelan Rin terdengar memecahkan keheningan. Mata coklatnya bersinar ramah menatap Asano, Akiko dan yang lainnya. "Tapi, dari pada hadiah ini, Rin sudah senang anda dan Akiko-sama berserta rombongan bersedia menghadiri upacara pengenalan Shura ini."
Suara indah bagaikan dentingan lonceng dan juga senyum sehangat musim semi Rin membuat Asano tersenyum semakin lebar. Meski marah karena diperlakukan seperti ini, setidaknya keberadaan mereka disini tidak begitu menyedihkan karena masih diterima oleh kisaki tanah barat.
Akiko tidak mengatakan apa-apa, kedua mata birunya menatap lurus sosok wanita manusia yang duduk dipangkuan Sesshoumaru. Wajahnya tanpa ekspresi, tapi dia menyembunyikan keirian dan kemarahan luar biasa dalam hati. Kenapa harus wanita manusia itu dan bukan dirinya? Dia terlahir lebih dari segalanya—kuat, cantik dengan status lebih tinggi; youkai sejati dengan garis penguasa. Tapi, kenapa Sesshoumaru lebih memilih wanita manusia itu? Lalu, kenapa wanita manusia itu bisa melahirkan seorang putra inuyoukai berdarah murni untuk tanah barat?
Pandangan penuh keirian dan kemarahan Akiko kemudian tanpa sengaja jatuh pada sosok Kiri yang berdiri sambil tersenyum menyeringai padanya di samping Rin. Seketika, hime dari tanah timur segera menundukkan kepala ke bawah ketakutan. Melihat senyum inuyoukai pengawal pribadi kisaki tanah barat, dia teringat lagi dengan satu ekornya yang putus.
Shura yang berada dalam pelukan Rin merasa tidak suka. Melihat pandangan dan senyum indah ibunya tertuju pada orang lain selain dirinya dan ayahnya, dia mengongong penuh kemarahan pada Asano, Akiko dan rombongan yang ada di depan mereka. "Grr.. Guk-guk-guk!"
"Shura, ada apa?" Rin segera membelai lembut kepala Shura dan berusaha menenangkan kemarahan putranya.
Tapi, Shura tidak berhenti, dia mengonggong semakin kuat. Mata merah darahnya menatap Asano dan rombongannya semakin penuh kemarahan dan kengerian tidak seperti anak inuyoukai yang baru lahir tidak lama.
Rin menghela napas putus asa dengan sikap Shura. Menatap Sesshoumaru, dia melihat penguasa tanah barat tidak berniat sedikitpun menghentikan putranya, malahan—sepasang mata emasnya berbinar senang.
Menghela napas sekali lagi, Rin kemudian kembali menatap Asano, Akiko dan rombongannya. Wajahnya penuh dengan ekspresi meminta maaf. "Maafkan sikap Shura, Asano-sama, Akiko-sama. Silakan menikmati pesta ini."
Ucapan Rin adalah ucapan yang diucapkan untuk mengendalikan keadaan yang semakin canggung. Dia tahu Sesshoumaru tidak akan menghentikan Shura dan akan membiarkan Tanah timur dipermalukan di depan semua yang ada.
Asano mengangguk kepala dan membiarkan beberapa dayang istana tanah barat membimbing dirinya dan rombongannya ke tempat duduk yang ada. Wajahnya masih tersenyum meskipun dia terus merasakan pandangan mencemooh, menghina dan merendahkan yang tertuju padanya.
Akiko juga tidak mengatakan apa-apa, dia diam membisu dan masih menundukkan kepala ke bawah. Penghinaan demi penghinaan yang didapatkannya ini, suatu hari nanti dia pasti akan membalasnya.
Setelah Asano, Akiko dan rombongannya duduk, giliran rombongan tanah utara yang maju. Sesuai tradisi dan hubungan yang terjalin antara empat wilayah, baik timur maupun utara tidak berani mengabaikan pesta pengenalan sang pewaris tanah barat ini, sebab mereka berada dalam posisi yang tidak menguntungkan.
Tanah utara juga mengalami kerugian yang sangat besar dalam perang empat wilayah. Namun, Takeru selaku sang penguasa tanah utara tidak hadir, yang hadir hanyalah bawahan kepercayaannya yang datang dengan hadiah emas permata seperti halnya tanah timur.
"Takeru-sama mengucakan selamat untuk kelahiran sang pewaris tanah barat. Beliau juga mengucapkan maaf karena tidak bisa menghadiri pesta pengenalan ini karena ada banyak hal mendesak yang harus di selesaikan."
Sesshoumaru tidak mengatakan apapun seperti biasanya. Hal mendesak?—apakah Takeru yang sibuk merangkul para klan youkai tanah netral yang kehilangan pemimpin berpikir dengan melakukan itu dapat menguatkan tanah utara? Lucu sekali, sebab tanah netral yang lemah tidak akan menambah kekuatan, dan terlebih lagi, apakah mereka bersedia? Bergabung dengan dirinya licik dan tidak bisa dipercaya.
Belum sempat Rin mengucapkan terima kasih, dari belakang rombongan tanah utara suara ribut terdengar bersamaan dengan aura youkai yang mengerikan.
Rombongan tanah utara segera membuka jalan dan mundur. Tanpa diumumkan, dari aura yang terasa, mereka tahu siapa yang datang, yakni; Akihiko sang penguasa tanah selatan.
__ADS_1
Suasana seketika menjadi mencekam. Mata semua yang ada bisa melihat jelas, Akihiko yang berjalan di depan ke arah keluarga penguasa tanah barat dengan Tsubasa dan Koga di samping serta bawahan kepercayaannya di belakang.
Sampai sekarang, hubungan antara tanah barat dan tanah selatan cukup rumit untuk dijelaskan, dalam satu tahun ini, mereka telah berperang dua kali; perang dimana mereka mengerakkan seluruh kekuatan dan sang penguasa saling membunuh. Namun, dengan santai juga, tanah selatan berani datang dan dengan tenang pula, tanah barat membuka pintu untuk mereka—seakan tidak pernah terjadi apa-apa antara mereka. Mereka bukan musuh, walaupun juga tidak bisa dikatakan teman.
"Akihiko-sama." Panggil Rin, tawa dan senyum lebar segera memenuhi wajah cantiknya melihat kehadiran sang penguasa tanah utara.
Akihiko tidak membalas panggilan Rin. Matanya menatap lekat sosok wanita manusia yang dicintainya, dan ada rasa sakit dirasakannya, sebab melihat Rin yang duduk dengan begitu anggun dan nyaman dipangkuan Sesshoumaru—dia tidak bisa melakukan apapun untuk memisahkan mereka. Tapi meski begitu, perasaannya tetap sama. Tidak pernah berubah dan selalu lebih menyilaukan daripada matahari—Rin yang seperti itu, sang penguasa tanah selatan selalu mengharapkannya; masih sangat mencintainya.
Sesshoumaru tetap diam membisu. Mata emasnya menajam menatap Akihiko yang terus berjalan mendekati dirinya dan keluarganya. Namun, dia tidak berwaspasa seperti Kiri, Kira dan para youkai di sekeliling. Sang penguasa tanah barat tidak menyukai youkai serigala tersebut, tapi melebihi siapapun, dia juga tahu, penguasa tanah selatan tidak akan pernah menyerangnya sekarang, sebab Rin ada di pangkuannya. Arti Rin bagi Akihiko-Sesshoumaru tahu.
Terus berjalan mendekat, Akihiko kemudian duduk tepat di depan Sesshoumaru, Rin dan Shura. Tsubasa dan Koga tidak ikut duduk, berdiri beberapa meter di belakang sang penguasa tanah selatan, mereka diam membisu.
Masih diam membisu dengan wajah tanpa ekspresi, mata biru langit Akihiko kemudian jatuh pada Shura dalam pelukan sang kisaki tanah barat tersebut.
Shura menatap balik Akihiko tajam, tidak ada ketakutan sedikitpun dalam matanya meski berhadapan dengan penguasa tanah selatan.
Tertawa, Rin membuka tangannya yang memeluk Shura dan menunjukkannya pada Akihiko. Suara tawa lembutnya terdengar, dan mata coklatnya berbinar penuh kebanggaan. "Perkenalkan padamu Akihiko-sama. Shura, sang putra dari barat, pewaris tanah barat-putra Rin tercinta."
Akihiko tetap tidak mengatakan apa-apa, dia terus menatap sosok Shura yang begitu luar biasa mirip dengan Sesshoumaru dalam wujud aslinya.
"Shura adalah inuyoukai sejati seperti ayahandanya, Sesshoumaru-sama," lanjut Rin lagi, kedua tangan bergerak mengangkat badan Shura ke atas dan mencium keningnya lembut penuh kasih sayang. Tertawa dia kembali menatap Akihiko. "Shura akan tumbuh dewasa seperti beliau, mirip seperti beliau. Apakah anda mau bertaruh dengan Rin untuk itu, Akihiko-sama?"
Akihiko tetap diam membisu, dia hanya dapat kembali menatap tawa dan senyum yang tidak kunjung menghilang dari wajah Rin. Setelah menjadi seorang ibu, betapa cantik dan menawannya wanita manusia ini sekarang. Kelembutan dan kasih sayang yang dipancarkannya, kehangatan dan cinta dalam matanya—bagaimana dia bisa melupakannya?
Rin yang memeluk putranya, betapa Akihiko berharap bahwa anak itu adalah anaknya; berharap wanita manusia itu bisa berubah seperti ini adalah karena dirinya dan putra mereka.
"Akihiko-sama," panggil Rin lagi dengan pelan. Dia tetap tersenyum lembut menatap Akihiko yang tidak bergeming sedikitpun. "Apakah anda akan mengucapkan selamat pada Rin akan kelahiran Shura?"
"Selamat Rin." Ucap Akihiko kemudian. Seulas senyum kecil memenuhi wajah tampannya. "Ya, ayo kita bertaruh—aku akan bertaruh untuk dia akan mirip denganmu di masa depan."
Rin tertawa mendengar ucapan Akihiko. Tersenyum lebar, dia menatap youkai serigala yang baginya sangat berharga; teman yang disayanginya.
Perlahan, Rin kemudian mengangkat tangan kanannya dan menarik pita merah yang mengikat rambutnya. Dengan senyum yang masih di wajah, dia kemudian memberikannya pada Akihiko. "Akihiko-sama, untuk anda."
Akihiko tertegun dengan apa yang dilakukan Rin, begitu juga dengan semua yang ada. Memberikan pita yang pakainya pada pria lain di hadapan suaminya serta semua youkai di jepang-apa maksudnya?
"Anda seorang pelupa, Akihiko-sama," tawa Rin lagi. Dia tidak peduli dengan semua pandangan yang tertuju padanya. "Dulu, anda telah berjanji pada Rin untuk tidak menyerang tanah barat. Tapi, anda melupakannya."
Akihiko tidak bisa berkata apa-apa mendengar ucapan Rin. Ya, benar. Dia dulu memang pernah berjanji untuk tidak akan menyerang tanah barat. Janji yang dia buat dengan ganti wanita manusia ini akan mengunjungi istana tanah selatan saat musim semi tiba. Tapi, dia melupakan janji itu karena dirinya hanya memikirkan apa yang terbaik saat perang lima wilayah akan berlangsung.
"Karena itu-pita Rin ini untuk anda." tawa Rin pelan. Dia tidak pernah menyalahkan Akihiko untuk apa yang telah terjadi, sebab melebihi semua yang ada dia tahu, semua yang dilakukan youkai serigala ini; bergabung menyerang tanah barat pada perang lima wilayah adalah untuk dirinya. Bagaimana dia bisa menyalahkannya mengingkari janji yang dibuat mereka hari itu?
"Rin berharap—kelak, jika keadaan menjadi kacau. Jika api perang akan berkobar lagi, anda akan mengingat janji kita hari itu saat melihat pita ini," senyum Rin semakin lembut, begitu juga dengan mata coklatnya yang menatap Akihiko. "Jangan pernah melupakan janji anda pada Rin lagi, Akihiko-sama. Rin tidak mengharapkan perperangan—Rin mengharapkan kita semua bisa melewati tiap hari penuh kedamaian, tawa dan senyum—kebahagiaan."
Ucapan yang diucapkan Rin pelan. Namun membuat para youkai yang ada tertegun. Dari awal hingga akhir, meski berada di pusat kekuatan dan kekacauan, wanita manusia tersebut tidak pernah mengharapkan hal lain selain; kedamaian—kebahagiaan semua yang ada.
Bagi semua youkai tanah barat, bagaimana mereka tidak mencintai kisaki mereka yang seperti itu? Begitu juga dengan sebagian besar youkai yang ada—dimana mereka akan menemukan manusia yang mengharapkan dengan tulus kedamaian dan kebahagiaan para youkai? Hanya Asano, Akihiko dan sebagian kecil yang merasa betapa bodoh pemikiran sang kisaki tanah barat, sebab bagi mereka kekuasaan dan kekuatan jauh lebih bernilai dibandingkan apapun di dunia.
Sesshoumaru tidak menghentikan apapun yang dilakukan Rin. Dia menatapnya dengan lembut—hati kisakinya yang begitu polos dan murni, di dunia yang luas ini. Mungkin hanya dialah satu-satunya manusia yang berpikir seperti ini.
Bagaimana Akihiko bisa menolak Rin lagi? Untuk segala yang ada dan membentuk seorang wanita manusia bernama Rin, dari tawa dan senyum, kehangatan dan kelembutan, hingga tekad dan kepribadian—sejak awal hingga sekarang, meski tahu dirinya tidak akan dapat memiliki wanita manusia ini lagi, wanita ini selamanya akan menjadi matahari dalam hidupnya-selalu dicintainya.
Rin ikut tertawa bersama Akihiko. Dirinya hanya berharap, dengan janji antaranya dan Akihiko ini, di masa depan yang ada kelak, tidak akan ada lagi perperangan dimana kematian dan kesedihan ditinggalkan; berharap dunia di mana putranya kelak akan tumbuh dewasa adalah dunia yang damai penuh senyum dan tawa.
Shura yang mendengar tawa Rin bersama Akihiko kemudian mengongong tidak suka. Sekali lagi, dia merasa perhatian sang ibu terebut darinya. "Guk-guk-guk!"
Menurunkan pandangannya, Rin kemudian kembali membelai kepala Shura dengan penuh kasih sayang. "Iya-iya, Rin akan tertawa untukmu Shura."
Mata Akihiko juga ikut turun menatap Shura yang mengeram penuh kemarahan padanya. Taruhannya dengan Rin, dia tahu Rinlah yang akan menang kelak, putranya sungguh mirip dengan Sesshoumaru.
"Jangan bersikap seperti ini, Shura," Rin menggeleng kepala melihat sikap Shura yang tidak dapat dikendalikannya. "Akihiko-sama sudah datang jauh-jauh untuk menghadiri pestamu."
"Apa yang kau inginkan untuk putramu, Rin?" tanya Akihiko menyela ucapan Rin. Mata birunya masih menatap lembut wanita manusia tersebut. "Apapun itu, aku akan mengabulkannya untukmu."
Ucapan Akihiko sekali lagi membuat semua yang ada tertegun. Apa yang diinginkan? Apapun itu? Apakah penguasa tanah selatan serius dengan ucapannya tersebut?
"Untuk Shura?" gumam Rin pelan, kebingungan dengan pertanyaan Akihiko.
Akihiko mengangguk kepala. "Aku tidak membawa apa-apa kemari. Karena itu, katakanlah apa yang kau inginkan untuk putramu—apapun itu, aku akan mengabulkannya untukmu."
"Apapun yang Rin inginkan untuk putra kami, Sesshoumaru ini akan mengabulkannya untuknya," sela Sesshoumaru yang dari tadi diam membisu tiba-tiba. Mata emasnya menatap tajam Akihiko yang menurutnya mulai lupa lagi dengan statusnya. "Tidak perlu kau yang mengabulkannya, serigala."
Akihiko membalas tatapan Sesshoumaru. Namun, penguasa tanah selatan tersebut sama sekali tidak mengalah atau mundur dari apa yang ingin dia lakukan.
"Rin ingin Shura tumbuh dewasa dengan baik," ujar Rin yang berada antara Sesshoumaru dan Akihiko pelan. Tidak mempedulikan sedikitpun ketegangan antara kedua penguasa, dia menurunkan pandangannya menatap Shura yang mengoyangkan ekornya gembira karena tatapan lembut ibunya. "Rin ingin Shura aman, sehat dan selalu bahagia."
Tertawa kecil, Rin kemudian mengangkat kepalanya menatap Akihiko. "Akihiko-sama, bersediakah anda membantu kami menjaga dan melindungi Shura kelak."
"Rin." panggil Sesshoumaru. Ada perasaan tidak suka dalam hatinya mendengar apa yang dikatakan Rin. Dia tahu, kami dalam ucapan wanita manusia itu adalah Rin sendiri dan dirinya.
Rin menoleh kepalanya menatap Sesshoumaru dan tertawa. "Semakin banyak yang bersedia menjaga Shura kelak, Rin akan semakin lega dan tenang. Rin ingin putra Rin yang berharga tumbuh besar dengan baik."
Sesshoumaru tidak dapat mengatakan apa-apa lagi begitu mendengar ucapan Rin. Dia ingin memberitahu bahwa Shura tidak membutuhkan pelidungan dari Aikihiko dan tanah selatan, tapi tawa yang ada di wajah wanita manusia itu membuatnya tidak berdaya.
Menatap Akihiko lagi, Rin tersenyum. Kedua mata coklatnya berbinar indah penuh kegembiraan. "Apakah anda mau membantu menjaga dan melindungi Shura kelak, Akihiko-sama?"
Akihiko hanya bisa tertawa dan mengangguk kepala.
"Janji?" menyodorkan jari kelingking kanannya, senyum Rin semakin lebar.
Tawa Akihiko semakin keras. Dia tidak mempedulikan sedikitpun sekeliling yang menatapnya sekarang. Mengaitkan jari kelingking kanannya, dia tersenyum. "Janji."
Akihiko berjanji-janji yang dibuat dan akan dia tepati seumur hidupnya. Untuk Rin yang begitu mencintai Shura, untuk putra wanita manusia yang dicintainya—sang penguasa tanah selatan bersumpah dalam hatinya; selamanya, dia akan menjaga dan melindunginya anak itu tidak peduli apapun yang terjadi.
Tsubasa yang ada di belakang Akihiko menutup mata mendengar janji Akihiko. Wajahnya tenang tanpa ekspresi, tapi jauh dalam hati dia merasa sedih. Youkai burung tersebut tahu, Akihiko sudah sadar, dia tidak akan pernah dapat memiliki wanita manusia itu. Tapi, itu tetap tidak cukup untuk menghentikan cinta yang ada dalam hati. Seperti dirinya yang tidak bisa berpaling dari Akihiko, Akihiko juga tidak bisa berpaling dari wanita manusia tersebut.
__ADS_1
Siapa yang menyangka mereka akan seperti ini pada akhirnya? Tapi, Tsubasa juga cukup puas dalam kesedihannya. Setidaknya Akihiko tidak akan dimiliki siapapun, tidak untuk wanita manusia itu, maupun; dirinya.
Kagome yang melihat apa yang terjadi menghela napas. Sampai sekarang, miko masa depan itu tidak membenci Akihiko. Dia tahu, youkai serigala itu benar-benar mencintai Rin dengan tulus, hanya saja nasib berkata lain, cintanya adalah cinta yang tidak terbalas.
"Aku berharap Akihiko-san bisa bahagia," ujar Sango tiba-tiba dengan pelan. Seulas senyum kecil memenuhi wajah cantiknya. "Dia adalah pria sangat yang baik."
"Pria baik apa maksudmu, istriku?" tanya Miroku cepat. Sango yang memuji pria lain di depannya jelas membuat harga dirinya terluka, sebab selama ini, taijiya itu tidak pernah memujinya seperti ini.
"Kau buta ya, Sango? Serigala seperti itu, apanya yang baik?!" tambah Inuyasha tidak suka. Matanya menatap sinis Akihiko dan kemudian terarah pada Shiro yang ada dalam gendongannya. "Shiro, ingat! Selamanya, serigala adalah makhluk yang tidak dapat dipercayai! Mereka itu tidak tahu malu, muka tebal—"
"Inuyasha," potong Kagome pelan. Kedua tangannya bergerak cepat merebut Shiro yang berada dalam gendongannya. Tersenyum ramah dia kemudian tertawa. "Osuwari."
"Kagome!!!" teriak Inuyasha seketika memenuhi sekeliling karena gravitasi kasat mata yang mendorongnya jatuh di atas tatami.
Shura yang berada dalam pelukan Rin tidak dapat menahan kemarahan dalam hatinya lagi melihat jari kelingking Rin yang tertaut dengan jari kelingking Akihiko. Menggeram penuh kemarahan, dia meloncat untuk mengigit tangan sang penguasa tanah selatan.
Rin yang sadar dengan apa yang ingin dilakukan Shura segera melepaskan jari kelingkingnya yang tertaut dengan jari kelingking Akihiko. Menangkap badan inuyoukai kecil itu, sebuah kerutan kecil muncul di wajahnya. "Tidak boleh seperti itu, Shura."
Shura menatap Rin, menjulurkan lidahnya, dia kemudian menjilat-jilat jari kelingking sang ibu untuk menghilangkan bau orang lain yang tertinggal. Baginya, dia hanya menginginkan bau dirinya dan ayah kandungnya tertinggal di badan sang ibu.
Rin hanya bisa menggeleng kepala dan tertawa pasrah dengan sikap posesif Shura kepadanya. Apakah kelak saat tumbuh besar, sikapnya ini masih akan tetap ada?
Sesshoumaru mendengus pelan penuh kepuasan dengan sikap Shura. Baginya, sikap putranya sekarang sangat benar. Rin adalah milik mereka berdua, tidak ada yang boleh menyentuhnya seenaknya selain mereka.
Akihiko tidak mengatakan apa-apa, diam membisu dia menatap Shura yang menjilat kelingking Rin dan kemudian menyeringai penuh kemarahan menatapnya. Sebuah kerutan kecil muncul di wajah tampannya "Kau—"
"Ya!!!" suara teriakan penuh tawa Inukimi tiba-tiba terdengar menyela pembicaraan. Tidak tahu sejak kapan, mantan penguasa tanah barat tersebut telah berdiri di belakang Akihiko. "Waktunya telah tiba."
Suara Inukimi seketika membuat semua yang ada kembali menoleh wajah menatap mantan penguasa tanah barat tersebut. Mereka tahu pesta yang berlangsung ini akan mencapai puncaknya sekarang.
Berjalan mendekati Sesshoumaru, Rin, Shura dan Akihiko, Inukimi tersenyum penuh kebanggaan menatap cucunya yang balas menatapnya. Sungguh, sosok Shura benar-benar mengingatkannya pada Sesshoumaru saat kecil dulu.
Tiba di depan Sesshoumaru, Rin dan Shura, tidak mempedulikan Akihiko di dampingnya, Inukimi berjongkok ke bawah dan mengulurkan kedua tangannya pada Shura. Tersenyum lebar, dia menatap menantunya yang dengan segera membalas senyumnya.
Senyum berubah menjadi tawa. Rin kembali menurunkan pandangannya pada Shura yang terlihat bingung dengan apa yang terjadi. Mengangkat badan putranya pelan, Rin menutup mata dan sekali lagi mencium lembut kening Shura.
Membuka mata dan melihat Shura yang mengoyangkan ekornya gembira karena ciumannya, Rin kemudian menyerahkan putranya pada Inukimi.
Inukimi dengan segera menerima Shura dengan senyum yang semakin lebar. Tidak peduli dengan protes cucunya yang mengeram tidak suka padanya karena dipisahkan dari sang ibu, dia bangkit berdiri.
Inukimi kemudian membalikkan badannya dan berjalan ke tengah taman di mana pandangan semua youkai yang ada terpusat. Di tengah taman, dia bisa melihat Jaken berlari dan meletakkan sebuah bantal duduk di atas lantai tatami yang tersedia.
"Silakan, Inukimi-sama." ujar Jaken gembira. Matanya berbinar menatap sosok Shura sejenak sebelum kemudian mundur ke belakang.
Dengan senyum yang tidak berubah, perlahan, mantan penguasa tanah barat kemudian menempatkan cucunya di sana.
Tradisi pengenalan inuyoukai dari keluarga penguasa tanah barat adalah upacara sakral. Pada malam ketujuh, sang inuyoukai yang baru lahir akan diperkenalkan pada semua youkai yang ada dan ditandai oleh sang tetua secara langsung. Upacara ini adalah bukti bahwa darah yang mengalir dalam nadinya adalah darah dari garis keluarga pemimimpin tanah barat. Lalu untuk Shura yang terlahir sebagai pewaris tanah barat, malam ini jugalah dia akan menerima salam hormat dari semua youkai tanah barat pertama kali secara resmi dan mengukuhkan kesahan dirinya sebagai pemimpin masa depan tanah barat.
Tetua dari tanah barat yang ada sekarang adalah Inukimi, dan dia dengan senang hati akan menandakan kemurnian darah keluarga mereka yang mengalir dalam nadi Shura.
Tersenyum penuh kebanggaan, Inukimi mengigit jari telunjuk kanannya hingga berdarah. Menggunakan darahnya, dia mengoleskannya pada tanda bulan sabit di dahi Shura. "Berayah seorang inuyoukai dan beribu seorang manusia. Tapi, terlahir sebagai inuyoukai sejati dengan darah murni—bau tidak akan dapat dibohongi, rupa tidak akan menipu, darah yang mengalir tidak akan salah. Aku Inukimi dari tanah barat mengakuinya dengan sah bahwa kau adalah putra dari Sesshoumaru sang penguasa tanah barat dan Rin sang kisakinya—sang putra dari tanah barat."
Tersenyum semakin lebar, Inukimi sekali mengoles darah di jari telunjuknya pada dahi Shura. Memggunakan kekuatan youkinya, dia mengeraskan suaranya hingga terdengar memenuhi seluruh taman. "Dengan darahku sebagai sang tetua dalam garis keluarga inuyoukai tanah barat, hari ini juga aku mensahkan dirimu—statusmu, warisanmu, hakmu; tanah barat yang besar dan jaya selamanya adalah milikmu. Kaulah penguasa tanah barat di masa depan, Shura dari barat."
Shura yang tidak mengerti apa yang dilakukan Inukimi terus menatap tajam neneknya tersebut. Namun belum sempat dia melakukan apapun, mantan penguasa tanah barat itu kemudian mundur dan membiarkannya yang duduk sendirian di atas bantal di hadapan semua youkai.
Sedetik kemudian, bersamaan dengan itu, dari Kenji yang berdiri di samping Inuyasha, Kiri dan Kira yang ada di samping Sesshoumaru dan Rin, Jaken yang menangis keras serta seluruh youkai tanah barat berlutut dan memberikan salam hormat pada Shura yang ada di tengah taman.
"Hamba Kenji, saru shogun memberikan salam pada Shura-sama."
"Hamba, Kiri sang kembar dari tanah barat memberikan salam pada Shura-sama."
"Hamba, Kira sang kembar dari tanh barat memberikan salam pada Shura-sama."
"Hamba, Jaken memberikan salam pada Shura-sama."
Suara keras yang sahut menyahut. Seluruh youkai tanah barat tidak peduli usia, status dan jabatan bersatu dan mengakui keberadaan Inuyoukai kecil di hadapan mereka sebagai pewaris; tuan mereka di masa depan.
Rin melihat dari jauh, dan air mata mengalir tidak terhentikan dari wajahnya. Tapi, seulas senyum indah memenuhi wajahnya. Hatinya terasa sangat-sangat sesak—sesak karena bahagia.
Di bawah malam musim dingin, inuyoukai kecil itu duduk sendirian tanpa takut. Bulu putihnya yang indah, tatapan matanya yang kuat—putranya tercinta. Tidak akan ada yang akan meragukan darah yang mengalir di nadi putranya meski dia memiliki ibu seorang manusia, selamanya dia tidak akan ditolak oleh dunia youkai di mana dia terlahirkan.
Untuk putra yang dia kandung dan lahirkan dengan begitu sulit, untuk anak dari satu-satunya pria yang dicintai sepenuh hati—Rin tahu, dia tidak bisa memberikan apapun pada Shura selain; melahirkan dan mendoakan kebahagiaannya.
"Shura akan tumbuh kuat," suara pelan Sesshoumaru terdengar. Datar namun penuh kelembutan. Kedua tanganya bergerak memeluk erat pinggang Rin. "Dia akan tumbuh besar dan kuat melebih ayah kandungnya, Sesshoumaru ini. Karena itu—jangan khawatir Rin."
Ucapan Sesshoumaru membuat Rin mengangguk kepala. Namun, air mata yang ada mengalir semakin deras.
Jangan khawatir.
Rin mengangguk kepala membalas ucapan Sesshoumaru. Tapi, dia juga tahu, tidak peduli bagaimana kuat Shura kelak, dia akan selalu menghawatirkannya. Anak akan tetap menjadi anak bagi seorang ibu, tidak peduli bagaimana dia tumbuh besar kelak, di mata sang ibu, dia selamanya akan menjadi sosok yang dikhawatirkan, dan bagi Rin, Shura selamanya adalah anak inuyoukai kecil yang dia peluk pada hari dia terlahir di dunia ini; hangat, kecil, tidak berday dan—berharga.
Shura terus menatap sekeliling tidak suka, lalu saat pandangan matanya jatuh pada sosok Rin yang tersenyum lebar penuh kebahagiaan sambil menangis, dia kembali menggeram penuh kemarahan. Inuyoukai kecil itu berpikir ada yang membuat ibunya menangis lagi.
Rin menyadari apa yang dirasakan Shura. Seketika, senyumnya berubah menjadi tawa, menggeleng kepala, dia segera menghapus air mata yang ada. Pandangan matanya yang terarah pada putranya melembut luar biasa, membuka mulutnya, dia mengucap pelan isi hatinya dengan segenap perasaannya. "Mencintaimu—selalu dan selamanya, Rin akan mencintaimu, Shura. Ibu selamanya akan selalu mengharapkan yang terbaik untukmu, putraku dari barat.."
Sesshoumaru tersenyum mendengar ucapan Rin. Ikut menatap Shura, mata emasnya melembut seperti mata kisakinya terarah pada putranya. Putranya mereka yang dibanggakan—harta mereka yang tidak ternilai.
Shura berhenti mengeram penuh kemarahan melihat tawa Rin yang sangat disukainya dan juga senyum di wajah ayahnya. Dia tidak bisa mendengar dan juga mengerti apa yang diucapkan ibunya. Namun, dia tahu apapun itu, pandangan lembut, tawa senyum yang terarah padanya, ibu dan ayah kandungnya mengangap penting dirinya.
Kebahagiaan dan kepuasan memenuhi hati Shura. Ekornya bergoyang pelan, tidak peduli dengan semua yang masih membungkuk ke arahnya, dia kemudian mengangkat kepalanya ke atas dan menglolong. "Au..Au..Au..."
Bagi Shura, tidak ada yang lebih penting dari kedua orang tuanya, ibunya tertawa dan ayahnya tersenyum—itulah yang paling membahagiakannya. Karena itu dia melolong sekeras yang dia bisa—lolongan kemenangan dan kebahagiaannya.
"Au..Au...Au..."
__ADS_1
....xOxOx....