Till The End Of Time [ Inuyasha Fanfiction ]

Till The End Of Time [ Inuyasha Fanfiction ]
Chapter 115


__ADS_3

"Serang!!!"


"Serang dan hancurkan!!!


Suara teriakan terdengar memenuhi langit di penghujung musim gugur. Tanah bergetar karena derap kuda serta langkah kaki manusia yang begitu banyak dan serentak menuju satu arah.


"Hentikan!!!"


Suara teriakan keras seseorang laki-laki terdengar. Dari atas langit, seorang taijiya muda terbang turun di atas punggung seekor nekotama dengan senjata kusarigama di tangan. Dia berdiri menghadang semua pasukan yang bergerak menuju istana tanah barat, ekspresi wajahnya penuh keseriusan. Taijiya muda itu tidak lain adalah Kohaku.


"Hentikan!! Kumohon, jangan menyerang!!" teriak Kohaku lagi memohon pada pasukan di depannya untuk berhenti melakukan penyerangan.


Langkah kaki pasukan yang bergerak maju terhenti dengan kemunculan Kohaku yang tiba-tiba. Namun, suara seorang laki-laki tiba terdengar keras. "Kau manusia, Kohaku!! Kenapa kau menghianti bangsamu sendiri dan memihak youkai??"


Kohaku menatap pemilik suara yang tidak lain adalah Arata, sang pemimpin taijiya.


"Apa kau lupa bahwa ayahmu dan rekan-rekanmu mati ditangan youkai?? Youkai adalah musuh kita para manusia!!"


Ucapan Arata membuat Kohaku mengepal kuat jari jemarinya. Ayah dan rekan-rekannya mungkin memang mati ditangan youkai disebabkan rencana Naraku. Tapi, itu tidak itu tidak ada hubungannya dengan mereka yang menyerang istana tanah barat.


Youkai adalah musuh para manusia? Kohaku tidak bisa berpikir seperti itu. Ada berapa banyak youkai yang dia kenal tapi selalu memperlakukannya dengan baik? Kirara, Shippo, Totosai, Myoga, lalu—untuk Sesshoumaru sang penguasa tanah barat itu sendiri. Bagaimana bisa dia melupakan kebaikan inuyoukai itu menyelamatkan dirinya saat kecil? Lalu, untuk wanita manusia yang bagaikan matahari musim semi, bagaimana dia mengijinkan dia terluka?—Perang yang ingin dikobarkan para manusia di depannya sekarang sejak awal adalah kesalahan.


"Bunuh saja taijiya muda di depan itu jika dia berani menghentikan kita!!" suara teriakan bangsawan Mio yang duduk di atas kuda lengkap dengan baju jirahnya tiba-tiba terdengar. Kedua matanya menatap tidak suka Kohaku. "Siapapun yang menghentikan kita adalah penghianat manusia!!"


Api perang telah dikobarkan, apapun yang terjadi, bangsawan Mio tidak akan membiarkannya padam. Sebab, tanah dan sumber daya alam melimpah akan menjadi miliknya jika istana youkai di depan berhasil mereka taklukkan.


Teriakan ucapan bangsawan Mio seketika membuat para prajurit yang sempat terhenti kembali bergerak. Dengan senjata di tangan mereka berteriak maju siap sedia membalas jika Kohaku berani menyerang.


Namun, baru beberapa meter mereka bergerak, langkah kaki semua prajurit kembali terhenti. Tekanan yang luar biasa dari dalam istana tanah barat tiba-tiba menyelimuti mereka. Perlahan, pintu gerbang benteng istana yang tertutup rapat terbuka.


Mata semua prajurit gabungan tersebut bisa melihat jelas. Dari balik pintu yang kini terbuka, sosok seorang youkai berjalan keluar dengan pelan di bawah cahaya matahari musim gugur.


Youkai itu sangat rupawan. Dengan rambut panjang berwarna putih keperakan dan sepasang mata emas cemerlang. Dia berjalan pelan, tapi di setiap langkah kakinya, aura bangsawan dan tekanan berat terpancar jelas. Lalu, dengan dua pedang terselip di pinggangnya, semua yang melihat tahu youkai di depan itu bukanlah youkai sembarangan.


Kohaku menoleh kepalanya ke belakang. Wajahnya tidak bisa menyembunyikan perasaan terkejutya saat melihat youkai itu. "S-sesshoumaru-sama.."


Para taijiya, miko, pendeta dan biksu tidak dapat menyembunyikan perasaan terkejut saat menyadari siapa youkai bermata emas tersebut. Sesshoumaru adalah penguasa tanah barat. Namanya terkenal, tapi tidak banyak yang pernah melihatnya. Kekuatan yang selalu diceritakan orang selama ini sama sekali tidak dipercayai siapapun. Karena itu, sekarang, melihat dengan kepala maya sendiri, betapa mengerikannya aura youki yang terpancar, ketakutan memenuhi hati mereka. Inikah Sesshoumaru, sang inu daiyoukai penguasa tanah barat yang terkenal itu?


Para bangsawan dan prajuritnya yang  merupakan manusia biasa tanpa kekuatan spritual tidak berani bergerak. Ketakutan luar biasa memenuhi hati mereka. Melihat Sesshoumaru, insting manusia mereka terus memperingati bahaya di depan mata.


Sesshoumaru berdiri diam menatap prajurit yang berada di depannya. Wajahnya tanpa ekspresi, begitu juga dengan mata emasnya.


Para manusia yang ingin membunuh pasangan sah penguasa tanah barat berserta anak dalam kandungan. Lalu, sang penguasa yang  bertarung demi melindungi mereka.


Sesshoumaru merasa sungguh lucu, sebab itu adalah kisah yang sangat terkenal di tanah barat. Kisah cinta antara seorang inuyoukai penguasa tanah barat dan seorang putri manusia—kisah Inu No Taisho dan Izayoi.


Kini, kisah yang sama kembali terjadi. Hanya saja, sang tokoh utama bukanlah lagi Inu No Taisho dan Izayoi, melainkan; Sesshoumaru dan Rin.


Seperti Inu No Taisho, Sesshoumaru kini mengikuti semua jejak ayah kandung yang begitu dihormatinya. Mencintai seorang wanita manusia dan bersedia melawan dunia untuk wanita itu berserta anak mereka yang masih berada dalam kandungan.


Mengangkat kepala menatap langit biru di atas dan menutup mata emasnya, Sesshoumaru ingin sekali bertanya pada Inu No Taisho jika dia bisa sekarang—seperti inikah, ayahanda? Seperti inikah perasaan anda saat berdiri menghadapi para manusia pada malam kelahiran Inuyasha?—tidak ada yang lebih penting dari keberadaan istri dan anak mereka.


Pasukan manusia masih tidak bergerak. Namun, saat mereka melihat tidak ada seorangpun lagi yang berjalan keluar dari dalam pintu istana tanah barat yang terbuka selain Sesshoumaru, keberanian dalam hati mereka kembali muncul. Lawan mereka hanya satu orang, sedangkan jumlah mereka semua hampir mencapai lima belas ribu orang—mereka tidak akan kalah.


Mengumpulkan segenap keberanian yang ada dalam dirinya, bangsawan Mio yang berada dalam barisan terdepan mengancungkan pedangnya pada Sesshoumaru. "Dia hanya sendiri!! Jangan takut!! Kita datang untuk memenggal kepalanya dan wanita penghianat itu!! Serang!!"


Teriakan bangsawan Mio dengan seketika menyadarkan sekaligus memberanikan pasukannya. Lalu, tanpa dapat dihentikan lagi, mereka semua kembali bergerak maju melewati Kohaku untuk menyerang Sesshoumaru.


Sesshoumaru menurunkan kepalanya. Tanpa membuka matanya, dia juga bisa merasakan pasukan manusia yang bergerak ke arahnya.


Wanita penghianat.


Manusia memanggil Rin seperti itu. Tidak hanya itu, semua sebutan yang merendahkan mereka berikan pada wanita pemilik hati termurni di dunia. Karena, bagaimana Sesshoumaru dapat memaafkan?


Manusia datang dengan niat membunuh dirinya, istri dan juga anaknya. Bukankah dirinya telah menyampaikan?—jika mereka berani datang, maka dirinya, Sesshoumaru sang penguasa tanah barat akan menyambut mereka.


Sendirian?


Kenapa hanya dia sendiri yang muncul untuk menghadapi para manusia ini? Apa karena dia tidak membutuhkan bantuan?—tidak. Alasan Sesshoumaru tidak mengijinkan siapapun membantunya adalah karena—dia ingin menggila.


Tidak perlu menyembunyikan lagi perasaan dalam hatinya. Kesedihan, kebingungan, ketidakberdayaan, keputusasaan dan ketakutan—lalu yang paling penting; kemarahan. Dia akan mengeluarkan itu semua sekarang dan melampiskannya pada para manusia tidak berguna di depan mata.


Ya! Sesshoumaru ingin membunuh mereka semua! Dengan cara paling menyakitkan dan mengerikan, dia akan menciptakan lautan darah serta gunung mayat—menciptakan neraka di dunia. Dia akan menunjukkan pada dunia konsekuensi jika berani mengusik keluarganya.


Membuka kedua matanya, warna emas cemerlang telah berubah menjadi merah darah hingga seperti hitam. Kedua ujung bibirnya melebar dan terangkat ke atas, memperlihatakan taringnya yang panjang. Tidak ada lagi rupa rupawan di wajah itu, yang ada hanyalah wajah mengerikan dari seorang youkai. Lalu, dengan suara tawanya yang tidak normal, sang penguasa tanah barat mencabut bakusaiga dan berlari maju menyerang.


....xOxOx....


Rin membuka kedua matanya yang tertutup. Perlahan, pandangannya yang awalnya tidak fokus kembali fokus. Matanya kemudian jatuh pada Jaken yang tidak tahu sejak kapan telah berada di samping futonnya.


"Kau sudah bangun, Rin? Kau lapar?" tanya Jaken begitu melihat Rin yang telah terbangun dari tidur lelapnya.


"Jaken-sama?" bangkit duduk di atas futon, Rin menatap bingung Jaken yang berada di sampingnya. Perlahan, dia kemudian menggeleng kepala. "Rin tidak lapar. Kenapa anda ada di sini?"


"Kenapa??" balas Jaken sambil berdiri dan berteriak penuh kekesalan. "Aku tidak boleh berada di sini??"


Reaksi Jaken membuat Rin tertawa, menggeleng kepala, dia kemudian tersenyum lembut pada youkai katak tersebut. "Tidak. Rin malah senang Jaken-sama ada di sini, sebab sudah beberapa hari Rin tidak melihat anda."


Jawaban Rin membuat kekesalan dalam hati Jaken menghilang tanpa bekas. Tidak mengatakan apa-apa, dengan wajahnya yang masih menggerutu, dia kembali duduk.


Senyum Rin bertambah lebar melihat Jaken. Kedua mata coklat jernihnya menatap lurus youkai katak tersebut. "Jaken-sama, anda masih belum menjawab pertanyaan Rin, kenapa anda di sini?"


"T-terserah aku." Jawab Jaken ketus tidak peduli walau sedikit terbata-bata. Menundukkan kepala ke bawah, dia tidak berani menatap kembali mata jernih tersebut. Tidak mungkin dia memberitahu Rin alasan dia berada dalam kamar ini, kan?


Kenapa dirinya berada dalam kamar ini?—sebenarnya itu karena Jaken tidak tahan berada di luar kamar lagi. Kamar tidur penguasa tanah barat ini adalah kamar yang terpasang kekai, jadi selama berada dalam kamar, dirinya tidak akan mendengar suara, mencium bau atau merasakan apapun yang terjadi di luar.


Youkai adalah makhluk dengan indera pendengaran, penciuman dan perasa yang lebih baik melebihi manusia. Karena itu, semua penghuni istana bisa mendengar, mencium dan merasakan jelas apa yang terjadi di depan istana sekarang tanpa perlu melihatnya.


Suara teriakan ketakutan dan keputus asaan, suara memohon pengampunan dan permintaan maaf dari para manusia—itu semua terdengar jelas di telinga mereka. Bau anyir darah yang menusuk hidung tercium kuat, dan yang paling penting; aura youki mengerikan yang terasa.


Sesshoumaru memerintahkan bahwa hari ini adalah hari dipenghujung musim gugur seperti biasa, dan semua penghuni istana cukup melakukan tugas mereka, tapi—tidak ada seorangpun yang sanggup melakukannya. Apa yang sedang dilakukan sang penguasa tanah barat di luar istana membuat semua penghuni istana merasakan; ketakutan.

__ADS_1


Jawaban dan sikap Jaken yang tidak berani menatap matanya membuat Rin merasakan keanehan. Tapi, dia juga tidak bertanya lebih lanjut lagi


Dengan senyum yang masih ada di wajah, kisaki tanah barat itu kemudian menatap sekelilingnya. Lalu saat matanya jatuh pada tempat baju jirah, tensaiga dan bakusaiga yang telah kosong, senyum di wajahnya segera menghilang—tertegun.


Perlahan, Rin menggerakkan kedua tangan memeluk perutnya.  Menurunkan pandangannya, dia menatap dan mengelus perutnya pelan dalam diam. Berbagai perasaan memenuhi hati, menutup mata, dia berusaha menenangkan diri.


Jaken yang duduk di samping Rin sama sekali tidak menyadari perubahan pada wajah wanita manusia itu. Youkai katak itu masih larut dalam pikirannya sendiri, hingga suara pelan Rin menyadarkannya.


"Jaken-sama," perlahan, Rin kembali membuka matanya dan menatap Jaken. Seulas senyum kecil memenuhi wajah pucatnya. "Kebahagiaan itu sebenarnya apa?"


"Hah??" kebingungan dengan pertanyaan Rin yang tiba-tiba, Jaken mengangkat kepala menatap Rin.


Rin kembali menatap perutnya dan mengelusnya pelan. "Kebahagiaan terbesar Rin sekarang, menurut Rin adalah bisa selalu bersama Sesshoumaru-sama dan Shura."


Jaken semakin bingung dengan penjelasn Rin. Tidak mengerti, dia membuka mulutnya bertanya, "Apa maksud ucapanmu, Rin?"


Rin tertawa kecil dan menolehkan kepala menatap Jaken sekali lagi. "Jaken-sama, kapan anda merasa paling bahagia?"


"Hah?" seru Jaken bingung. Tapi, sedetik kemudian dia berusaha memikirkan jawaban pertanyaan tersebut. "Hm—saat paling bahagiaku adalah saat aku menjadi mentri tangan kanan Sesshoumaru-sama."


Sekali lagi Rin tertawa mendengar jawaban Jaken. Dia ingat, dulu saat dia kecil, youkai katak itu pernah mengatakan tentang masa depannya yang akan menjadi mentri dalam kerajaan Sesshoumaru—sayangnya keinginan ini masih belum terpenuhi.


"Apa yang kau tertawakan, bocah??" hardik Jaken kesal. Melihat Rin yang tertawa akan ucapannya, dia melupakan perbedaan status mereka. Di matanya, wanita manusia di depannya tetaplah merupakan seorang gadis kecil yang liar di alam bebas.


"Tidak, tidak. Rin tidak mentertawakan anda Jaken-sama," ujar Rin segera sambil menahan tawa. Kedua mata coklatnya berbinar bahagia. "Anda tidak pernah berubah sejak dulu. Anda tetap saja sama seperti saat Rin masih kecil."


"Hmnn," Jaken membuang muka mendengar jawaban Rin. "Tentu saja, aku ini tidak akan pernah berubah."


Rin mengangguk kepala dan tersenyum dengan penyataan Jaken. Ada perasaan hangat memenuhi hatinya saat dia mengingat masa kecilnya dulu—saat di alam liar nan bebas bersama Jaken, Ah-un dan juga; Sesshoumaru.


"Jaken-sama," panggil Rin lagi pelan. Seulas senyum manis memenuhi wajahnya. "Sepertinya saat Rin kecil, walau belum ada Shura, bersama anda, Ah-un dan Sesshoumaru-sama juga merupakan salah satu kebahagiaan dalam hidup Rin."


"Apa maksud ucapanmu, gadis bodoh??" tanya Jaken bingung. Dia sungguh tidak mengerti arah dari pembicaraan Rin hari ini yang sangat aneh.


"Lalu, saat tinggal di desa manusia dan istana tanah barat juga merupakan saat kebahagiaan Rin. Bersama Inuyasha-sama, Kagome-sama, Sango-sama, Miroku-sama, nenek Kaeda, anak-anak,—lalu, Ibunda, Kiri-sama, Kira-sama dan semuanya," lanjut Rin terus tanpa mempedulikan Jaken. Matanya berbinar gembira. "Itu juga salah satu kebahagiaan dalam hidup Rin."


Jaken tidak mengatakan apa-apa lagi mendengar penjelasn Rin. Dia merasa apapun yang dikatakannya tidak akan didengarkan oleh wanita manusia tersebut.


"Kebahagiaan terbesar Rin adalah bersama Sesshoumaru-sama dan Shura, tapi, bersama dengan kalian yang Rin sayangi, juga merupakan salah satu kebahagiaan terbesar Rin."


Jaken hanya diam membisu berusaha mencerna semua yang diucapkan Rin penuh kegembiraan.


Perlahan, Rin kembali menoleh kepala menatap perutnya. Senyum lembut penuh kasih sayang memenuhi wajahnya. "Kebahagiaan itu, Rin ingin menunjukkannya pada Shura. Rin ingin Shura juga mengalami semua kebahagiaan Rin."


"Apa susahnya itu?" sela Jaken yang sudah tidak tahan. Dia menatap Rin lurus. "Jika kau ingin Shura-sama merasakan itu, kau tinggal melakukannya, kan?"


"Eh?" kali ini, giliran Rin kebingungan dengan ucapan Jaken. Dia menatap youkai katak itu penuh kebingungan.


"Shura-sama adalah pewaris tanah barat, tentu saja beliau akan tinggal di istana tanah barat bersamamu, Sesshoumaru-sama, Inukimi-sama, Kiri dan Kira—kau tidak berpikir tinggal di tempat lain, kan?" tanya Jaken menatap Rin tajam.


Rin segera menggeleng kepala saat ditanya dan ditatap Jaken seperti itu.


Ucapan panjang lebar Jaken membuat Rin tertegun hingga tidak bisa berkata.


"Lalu, terakhir—tentu saja kita akan mengembara lagi, bodoh. Sesshoumaru-sama pasti ingin Shura-sama melihat dunia dan menjadi kuat. Beliau pasti akan membawa Shura-sama, Ah-un dan diriku melakukan perjalanan sewaktu-waktu. Jadi, kau tinggal ikut saja saat itu tiba."


Selesai mengucapkan semua isi hatinya, Jaken mendengus tidak suka menatap Rin lagi. "Kenapa hal segampang ini saja kau tidak tahu?"


Pertanyaan terakhir Jaken kembali membuat Rin tertegun. Namun, seketika, senyum lebar memenuhi wajah cantiknya. Penjelasan panjang lebar yang didengarnya membuatnya tersadarkan. Perlahan, senyum lebar Rin kemudian berubah menjadi tawa penuh kebahagiaan, dan saking bahagianya, air mata bahkan mengalir menuruni pipi.


Tinggal melakukannya? Jaken benar. Rin memang tinggal melakukan itu untuk Shura saat putranya lahir dan besar. Dia pasti bisa melakukannya, kan?—ya! Dia pasti bisa!


"Apa yang kau tangisi, bodoh?" hardik Jaken melihat Rin yang tertawa sambil berlinang air mata.


Rin segera menghapus air matanya, dengan tawa yang mati-matian ditahannya. "Anda benar, Jaken-sama. Rin memang bodoh sehingga tidak bisa tahu hal segampang itu."


"Bagus kalau kau tahu kau itu bodoh." balas Jaken cuek. Tapi ada perasaan syukur saat dia melihat air mata telah berhenti mengalir di wajah Rin.


Rin hanya kembali tertawa. Menurunkan kepala menatap perutnya, dia kembali mengelusnya pelan. "Jaken-sama." panggilnya kemudian dengan pelan.


"Apa?" tanya Jaken dengan nada suara ketusnya yang tidak berubah.


Mengangkat kepala kembali menatap Jaken, Rin tersenyum lembut. "Kelak, jika Shura sudah lahir dan bisa mengembara, ayo kita bertiga mengembara bersama Sesshoumaru-sama dan Ah-un. Mengembara seperti saat Rin masih kecil lagi."


"Tentu saja." Ucapan Rin kali ini membuat Jaken mau tidak mau tersenyum. Membayangkan dirinya bersama Sesshoumaru, Rin, Ah-un dan juga Shura kelak, ada kebahagiaan memenuhi hatinya.


"Saat itu tiba, anda tiap malam harus menyalakan api unggun untuk Rin dan Shura," lanjut Rin. Matanya berbinar membayangkan masa depan penuh kebahagiaan yang ada. "Anda juga harus membantu kami mencari makanan, dan juga, anda harus menceritakan semua cerita tentang kehebatan Sesshoumaru-sama pada Shura."


"Memangnya siapa lagi yang bisa melakukan itu kecuali aku??" sela Jaken penuh kebanggaan sambil memukul dada. Matanya berbinar gembira mendengar setiap kata Rin.


Rin tertawa dengan sikap Jaken. Mengangkat jari kelingking kanannya, dia mengarahkannya pada Jaken. "Janji?"


Jaken langsung mengaitkan kelingking tangan kanannya pada jari kelingking Rin tersebut. "Janji."


Sekali lagi, untuk kesekian kalinya, Rim tertawa bahagia. Menurunkan tangan tangan kanannya, dia kembali mengelus perut besarnya.


Masa depan yang bahagia. Bersama semua yang dicintainya, Rin bisa membayangkannya. Lalu, Rin juga tahu sekarang; apa itu kebahagiaan?—kebahagiaan itu sederhana; kebahagiaan adalah saat kau bersama dengan mereka yang kau cintai dan mencintaimu.


Kebahagiaan di masa depan. Kebahagiaan itu sangat dekat namun sekaligus cukup jauh. Namun, yang paling penting, kebahagiaan itu indah. Saking indahnya selalu menyilaukan mata, karena itu, Rin tahu dengan apa yang seharusnya dia lakukan sekarang.


"Ne, Jaken-sama," Rin kembali menoleh pandangan matanya pada Jaken. Senyum lembut penuh kedamaian memenuhi wajahnya. "Bisakah anda membantu Rin membawakan Ah-un kemari?"


....xOxOx....


Berdiri di atas benteng istana tanah barat, menatap apa yang terjadi di depan, baik Kagome maupun Sango menolehkan kepala ke samping. Mereka tidak memiliki keberanian menatap lebih lanjut lagi pemandangan di depan mata. Wajah mereka berdua pucat pasi penuh ketakutan.


Inuyasha dan Miroku sendiri tidak bergerak. Berdiri mematung, wajah mereka juga sama pucatnya seperti istri mereka. Bahkan, sebenarnya, begitu juga dengan semua youkai prajurit yang berada di atas benteng istana tanah barat—ketakutan.


Hanya Kiri dan Kira saja yang mampu berdiri diam dengan wajah tanpa ekspresi, seakan pemandangan di depan bukanlah apa-apa, serta Inukimi yang tertawa bahagia penuh kebanggaan.


"Bunuh! Bunuh mereka semua!!" teriak Inukimi gembira. Kedua mata emasnya bersinar cemerlang penuh kebahagiaan di bawah limpahan sinar matahari musim gugur.

__ADS_1


Yang di depan mereka semua sekarang adalah perang. Namun, siapapun yang melihatnya tidak akan berpikir itu adalah perang, melainkan—pembantaian.


Lautan darah menggenang di atas tanah, melukiskan warna merah saat mata memandang. Badan-badan prajurit manusia yang tidak lagi bernyawa terputus-putus menjadi berpuluh-puluh bagian tertumpuk berserakan. Bau anyir darah memenuhi udara, dan suara teriakan penuh ketakutan memecahkan langit.


Pembantaian yang sangat mengerikan dan membuat siapapun yang melihat merinding penuh ketakutan—sebuah neraka.


Di tengah neraka tersebut, Sesshoumaru berdiri tegak. Dengan bakusaiga di tangan dan badan yang telah berumuran darah merah, inuyoukai itu mengangkat kepalanya ke atas dan tersenyum lebar.


Tidak ada lagi kekaleman dan aura seorang bangsawan yang tersisa dari inuyoukai itu. Wajahnya yang menyunggingkan senyum mengerikan serta mata merah darah seakan hitam, kini telah menjadi mimpi terburuk para prajurit yang masih hidup.


Arata, sang pemimpin para taijiya meloncat ke atas dan melempar kunai ke arah Sesshoumaru, sedangkan Yukina, sang pemimpin miko dan Hisei pemimpin biksu membacakan doa untuk mengunci gerakan inuyoukai penguasa tanah barat. Di belakang mereka Hikamaru, pemimpin pendeta juga melemparkan kertas mantra yang berubah menjadi rantai untuk mengikat musuh di depan.


Lalu, seakan mengikuti pemimpin mereka, para taijiya, miko, pendeta dan biksu yang masih hidup ikut menyerang. Panah suci, kertas mantara dan berbagai senjata tajam meluncur cepat mengincar nyawa Sesshoumaru.


Tidak ada rasa gentar sedikitpun dirasakan Sesshoumaru melihat semua serangan yang terarah kepadanya. Menghentakkan kaki kanannya, aura youkinya dengan segera menciptakan angin kuat dan menghempas serangan yang ada kembali ke belakang. Rantai yang mengikat badannya terlepas.


Terkejut, semua taijiya, miko, pendeta dan biksu menatap apa yang terjadi tidak percaya. Namun, dalam satu kedipan mata, Sesshoumaru telah meloncat ke dalam kerumunan mereka.


Mengangkat bakusaiga di tangan, sang penguasa tanah barat menggerak pedang dengan kecepatan yang tidak tertangkap mata manusia. Suara teriakan kesakitan dan ketakutan kembali terdengar. Bagaikan air hujan, darah merah kembali jatuh membasahi tanah.


Tidak tehentikan, dengan membabi buta dan tidak mempedulikan apapun, Sesshoumaru terus menggerakan bakusaiga membunuh. Merasakan darah merah yang hangat membasahi badannya, senyum di wajah Sesshoumaru semakin lebar hingga akhirnya berubah menjadi tawa keras.


Arata, Yukina, Hikmaru dan Hisui menatap tidak percaya dengan apa yang terjadi. Tidak peduli apa yang mereka lakukan, mereka sama sekali tidak dapat menghentikan Sesshoumaru yang terus membunuh bawahan mereka bagaikan sedang membunuh semut. Ketakutan dalam hati mereka semakin besar hingga tidak tertahankan. Melihat youkai itu, mereka tidak tahu lagi bagaimana cara untuk menaklukkannya.


Para bangsawan dan prajuritnya yang  berada tidak jauh dari pembantain di depan mata tidak dapat berhenti bergetar penuh ketakutan. Wajah mereka pucat pasi, dan mereka tahu, kematian mengerikan seperti di depanlah yang akan menjadi takdir mereka jika masih tinggal di tempat ini.


Tidak tahu siapa yang memulai, para bangsawan dengan segera memutar balik kuda mereka ke belakang. Mencambuk kuda mereka, mereka berteriak keras. "Mundur!! Mundur!!!"


Teriakan para bangsawan menjadi pembuka dari keributan baru dalam pasukan. Tidak peduli apapun, para prajurit yang tersisa segera berlari untuk menyelamatkan hidup mereka sendiri.


"Lari!!!"


"Mundur!!!"


Suara keributan yang ada membuat Sesshoumaru yang sedang melawan para taijiya, miko, pendeta dan biksu tersadar dengan apa yang terjadi. Melihat para manusia yang mulai mundur dan melarikan diri penuh ketakutan, dia tertawa semakin keras. "Jangan kabur."


Asap merah pekat tiba-tiba muncul mengelilingi badan Sesshoumaru. Dengan tawa yang tidak terhenti, dari atas tanah, inuyoukai penguasa tanah barat meloncat ke atas langit.


Di atas mata semua prajurit yang ada, di langit biru musim gugur, mereka melihat sosok Sesshoumaru yang berubah. Wajahnya memanjang dan membesar tidak wajar, begitu juga dengan badannya. Asap merah yang ada berputar cepat mengelilinginya, lalu sedetik kemudian, mereka melihat seekor anjing raksasa berwarna putih terbang di atas langit.


Anjing putih itu sangat besar, ukurannya bahkan bisa sebesar gunung. Tanda bulan sabut di dahi, dua garis ungu di pipi, mata merah kehitaman serta mulut terbuka memperlihatkan taring besar nan tajam—semua orang tahu, itu adalah sosok asli dari Sesshoumaru, Inu daiyoukai dari barat.


Terbang turun menghadang para bangsawan dan prajurit yang berusaha melarikan diri, wajah besar Seshoumaru menyeringai menatap mereka. Mata merah kehitamannya bersinar penuh kegilaan.


"M-maafkan kami.." ujar salah satu prajurit yang berada di barisan terdepan sambil menangis. Badannya bergetar hebat penuh ketakutan.


"A-ampuni kami, youkai-sama.." tambah salah satu prajurit lagi. Membuang pedang ditangan, dia berlutut menyembah meminta maaf. "Ampuni kami!! Maafkan kami!!"


Semua prajurit yang ada segera mengikuti. Membuang senjata di tangan, mereka berlutut menyembah meminta maaf. Air mata mengalir turun, wajah pucat pasi penuh ketakutan. Mereka hanya dapat berharap youkai di depan bersedia melepaskan mereka.


"Maaf!! Maafkan kami!!"


"Ampuni kami!! Kami mohon, jangan membunuh kami!!


Suara yang ada sambung menyambung tidak terhentikan bagaikan sebuah mantra. Seringai Sesshoumaru yang berada dalam bentuk aslinya menjadi semakin lebar. Membuka mulutnya yang besar, dia kemudian bergerak maju dan menerkam para prajurit yang tidak dapat bergerak—mengigit badan mereka hingga terputus.


"Ah!!!! Tidak!!"


"Tolong!!!"


"Maafkan kami, youkai-sama!!!"


Suara teriakan penuh ketakutan kembali terdengar. Dalam bentuk aslinya yang besar, Sesshoumaru kembali bergerak dan menggila menciptakan neraka di dunia.


"Hahaha," tawa Inukimi yang berada di atas benteng terdengar sangat bahagia. Kedua mata emasnya menatap penuh kebanggaan pada sosok asli Sesshoumaru. "Kau benar-benar sudah melebihi Si berengsek Taisho, Sesshoumaru! Bagus, bagus sekali!!"


Kebesaran tanah barat, sosok asli inu daiyoukai yang ditakuti semua makhluk hidup, Inukimi benar-benar sangat gembira melihat Sesshoumaru sekarang. Mantan penguasa tanah barat itu yakin, sekarang, di dunia ini, tidak akan ada lagi youkai yang mampu menyaingi putra kandungnya. Dengan kekuatannya, Sesshoumaru dapat menghancurkan dunia ini jika dia mau.


Wajah Rin yang tersenyum lembut mengelus perutnya terbayang dalam pikiran Inukimi, dan itu membuatnya tertawa semakin keras. Menatap para manusia yang tidak berdaya di depan, dia merasa ingin berterima kasih, sebab Sesshoumaru mumgkin tidak akan mungkin bisa mencapai titik ini jika mereka tidak datang.


Rin dan Shura.


Inukimi tahu, mereka berdualah yang membuat Sesshoumaru mencapai kekuatan luar biasa ini sekarang. Karena Sesshoumaru ingin melindungi dua keberadaan terpenting dalam hidupnya; istri dan anaknya.


Cinta adalah perasaan manusiawi. Cinta adalah perasaan tidak berguna. Cinta akan membuatmu lemah dan musnah;cinta adalah kelemahan.


Kata-kata yang terangkai dan diajarkan di dunia youkai. Semua orang mengatakan itu benar, tapi melihat Sesshoumaru sekarang, Inukimi tahu, kata-kata itu salah.


Cinta tidak pernah melemahkan, malahan justru sebaliknya. Saat kau benar-benar mencintai, cinta akan menjadi kekuatan tak terbatas.


Berbeda dengan Inukimi yang tertawa bahagia, Inuyasha, Kagome, Miroku dan Sango hanya dapat menelan ludah melihat wujud asli Sesshoumaru sekarang. Wujud asli inuyoukai itu besar, mereka tahu, sebab mereka telah melihatnya beberapa tahun yang lalu. Namun, ukuran inuyoukai di depan mereka sekarang tidak lagi wajar.


Perasaan takut menghampiri mereka, tidak terkecuali Inuyasha. Mereka hanya dapat melihat dari kejauhan, tidak ada keberanian sedikitpun dalam hati mereka untuk menghentikan kebrutalan di depan.


Siapa yang dapat menghentikan Sesshoumaru yang berada dalam keadaan ini sekarang? Mendekatinya saja, tidak akan ada yang berani. Cukup dengan menatap badan anjing raksasa yang penuh darah, badan semua makhluk hidup akan bergetar ketakutan, insting bertahan hidup akan terus memperingati bahaya di depan dan menghindar.


Para manusia yang datang dengan niat membunuh dan menaklukkan istana tanah barat, semua yang ada tahu, tidak akan seorangpun yang akan selamat untuk menyampaikan apa yang terjadi—kematian adalah satu-satunya jalan yang tersedia untuk mereka.


Kohaku yang berada cukup jauh dengan tempat di mana Sesshoumaru membantai para manusia tidak dapat bergerak. Wajahnya pucat pasi penuh ketakutan, tidak tahu harus melakukan apa.


Sesshoumaru, Inu daiyoukai dari barat. Hari ini, pertama kali taijiya muda itu melihat kebrutalan dari inuyoukai yang selalu tenang tersebut, dan dia—tidak ingin melihatnya lagi untuk kedua kalinya.


Tidak tahan melihat pemandangan di depan lagi, Kohaku kemudian menoleh kepalanya ke samping. Mata hitamnya kemudian terbelalak saat melihat pintu benteng istana yang terbuka.


Ketakutan luar biasa segera memenuhi hati Kohaku saat dia melihat siapa yang melangkah keluar dari balik pintu yang terbuka.


Perlahan, melangkah kaki pendeknya, Jaken berjalan paling depan penuh ketakutan. Tangannya yang bergemetaran memegang tali kekang Ah-un yang mengikutinya, dan di atas punggung Ah-un, seorang wanita manusia duduk menyamping sambil menyentuh perut besarnya.


"Rin.."


....xOxOx....

__ADS_1


__ADS_2