![Till The End Of Time [ Inuyasha Fanfiction ]](https://asset.asean.biz.id/till-the-end-of-time---inuyasha-fanfiction--.webp)
Duduk diam melipat tangan di dada, Inuyasha menatap Kagome, Miroku, Sango dan Kenji yang ada di depannya. Wajah tampannya datar tanpa ekspresi. Pagi sudah tiba, malam yang panjang telah berlalu—perang telah usai, dengan kemenangan di pihak mereka.
"Keadaan Rin-chan baik-baik saja, kan?" tanya Miroku pada Kagome.
"Rin-chan baik-baik saja," jawab Kagome cepat dan tersenyum kecil. "Namun, dia memerlukan istirahat."
Sango yang mendengar jawaban Kagome hanya dapat teringat kembali dengan apa yang terjadi semalam. Youki Shura yang mengamuk, Rin yang membelah perutnya sendiri dan melahirkan bayinya yang merupakan seorang—inuyoukai.
Apa yang terjadi selanjutnya juga penuh kekacauan. Shura yang tenang setelah lahir dalam pelukan Rin, Rin yang pingsan, Inukimi yang mengendong Shura keluar dan Kagome yang menjahit perut Rin—semua itu tidak akan pernah terlupakan oleh Sango seumur hidupnya.
Pintu ruangan mereka tiba-tiba terbuka, dan semua yang ad melihat Kohaku berjalan masuk dengan pelan.
"Bagaimana keadaan di luar?" tanya Kenji cepat. Dia tahu Kohaku baru saja selesai mengamati keadaan perang yang telah usai.
"Pasukan netral, selatan, timur dan utara sudah mundur," jawab Kohaku sambil tersenyum. Kegembiraan terpancar jelas di wajahnya. "Kiri-san dan Kira-san juga sudah mulai menggerakkan prajurit mengumpulkan sisa tubuh para youkai tanah barat yang gugur dalam perang."
"Kau yakin Sesshoumaru akan menghidupkan mereka?" potong Inuyasha menatap Kenji. Dia masih ingat jelas ucapan youkai monyet itu bahwa Sesshoumaru akan menghidupkan kembali mereka yang mati dengan tensaiga.
"Kakakmu meski terlihat seperti itu—dia adalah penguasa yang bijaksana. Dia tahu apa yang harus dia lakukan, Inuyasha," balas Kenji sambil tersenyum puas. "Terlebih lagi—kan sudah kubilang ada; Rin-rin."
Inuyasha diam membisu mendengar jawaban Kenji. Tidak bertanya lagi, inuhanyou itu membuang muka dan menutup mata.
"Lalu, sisa badan Shui dibawa oleh Takeru, penguasa tanah utara," lanjut Kohaku lagi dan duduk di samping Sango. "Tapi, secara keseluruhan, keadaan sudah terkendali dengan baik."
Sisa badan Shui yang dibawa Takeru tidak mengejutkan, sebab meski merupakan pemimpin tanah netral, youkai bermata putih itu masih termasuk dalam keluarga utama penguasa tanah utara.
"Bagus-bagus-bagus." tawa Kenji gembira sambil mengelus-ngelus jengotnya. "Perang sudah di menangkan, pewaris sudah terlahir—kita harus merayakannya nanti."
Kata pewaris yang diucapkan Kenji membuat Inuyasha teringat dengan sosok kecil Shura yang menggeram penuh kemarahan padanya. Menatap Kagome dan yang lainnya, dia kemudian bertanya, "Hei, ada yang bisa memberitahuku, kenapa si kecil itu bisa terlahir sebagai inuyoukai?"
Pertanyaan tiba-tiba Inuyasha mrmbuat semua yang ada menoleh wajah pada inuhanyou tersebut. Tapi, tidak ada seorangpun yang menjawabnya, sebab pertanyaan itu juga ada dalam hati mereka.
Persatuan youkai dan manusia adalah hanyou-itu adalah hukum alam. Tapi, kenapa Shura terlahir sebagai inuyoukai sejati dengan darah paling murni?
"Hmnn," suara gumaman Kenji tiba-tiba terdengar memecahkan keheningan. "Menurutku ada beberapa kemungkinan kenapa Shura terlahir sebagai inuyoukai berdarah murni."
Ucapan Kenji seketika membuat Inuyasha, Kagome, Miroku, Sango dan Kohaku menoleh wajah mereka menatap youkai monyet tersebut.
"Kemungkinan pertama adalah—karena darah youkai Sesshoumaru yang terlalu kuat. Darah youkainya berhasil menekan darah manusia Rin-rin."
Sesshoumaru adalah seorang inu daiyoukai yang sangat kuat, bahkan, dia jauh lebih kuat dari pada ayah kandungnya, Inu No Taisho. Karena itu, betapa kuatnya darah youkainya—tidak ada seorangpun yang meragukannya.
"Kedua," menghela napas, Kenji menggaruk-garuk kepalanya. "Mungkin karena—meido seki."
Kemungkinan kedua yang diucapkan Kenji membuat Inuyasha dan yang lainnya tertegun.
"Meido seki melekat dan menjadi satu dengan Rin-rin sekarang. Kemungkinan dia mempengaruhi Shura yang berada dalam kandungan sangatlah besar."
Inuyasha, Kagome, Miroku, Sango dan Kohaku tidak mengatakan apa-apa. Mereka berusaha mencerna kemungkinan—kemungkinan yang dikatakan Kenji.
"Lalu, ketiga," perlahan, mata Kenji menatap serius Inuyasha dan yang lainnya. "Mungkin karena pada dasarnya, Rin-rin tidaklah sepenuhnya—manusia."
"Eh??"
"Apa???"
Seruan terkejut memecahkan keheningan ruangan begitu Inuyasha, Kagome, Miroku, Sango dan Kohaku mendengar kemungkinan ketiga yang diucapkan Kenji. Mata mereka terbelalak menatap tidak percaya youkai monyet tersebut.
"Tidakkah kalian merasa Rin-rin itu aneh?" tanya Kenji menatap lurus Inuyasha dan yang lainnya. "Sebagai manusia biasa tanpa kekuatan spritual, dia tidak pernah takut pada youkai, dan juga dia bisa beradaptasi dengan sangat baik di dunia youkai."
Pertanyaan Kenji membuat Inuyasha, Kagome, Miroku, Sango dan Kohaku berpikir. Sejak dulu sampai sekarang, Rin memang tidak pernah terlihat takut pada youkai sebagai mana mestinya seorang manusia tanpa kekuatan spritual, dan untuk adaptasi di dunia youkai—wanita manusia itu bahkan terlihat lebih nyaman bersama youkai daripada bersama manusia.
"Lalu, yang paling penting," lanjut Kenji lagi dengan pelan. "Rin-rin bisa menggunakan—meido seki."
"Hah?"
"Apakah menurut kalian seorang wanita manusia biasa tanpa kekuatan spritual bisa menggunakan pusaka youkai dari tanah barat?—pusaka yang bahkan tidak dapat digunakan sepenuhnya oleh para penguasa tanah barat selama ini."
Pertanyaan Kenji sekali lagi membuat Inuyasha dan yang lainnya tertegun. Alasan Rin bisa menggunakan Meido seki, mereka sama sekali tidak pernah memikirkannya lebih dalam. Mereka mengira, wanita manusia itu bisa menggunakannya adalah karena keajaiban—karena dia dicintai Meido seki sebagaimana yang dikatakan Inukimi.
"Jadi," ujar Miroku kemudian. Wajahnya masih penuh ketidak percayaan. "Menurutmu, ada darah youkai yang mengalir dalam nadi Rin-chan, Kenji-san? Karena itulah dia bisa melakukan begitu banyak hal yang tidak seharusnya mungkin terjadi?"
Kenji mengangguk kepala pelan. "Aku tidak bisa menyelidiki silsilah keluarga Rin-rin, karena Rin-rin sendiri tidak mengingat jelas lagi keluarga kandungnya. Tapi, kemungkinan dalam nadinya mengalir darah youkai sangatlah tinggi, karena itulah dia begitu berbeda dengan semua yang ada di dunia ini."
Inuyasha dan yang lainnya tidak tahu harus memberikan reaksi apa untuk informasi yang mereka dengar.
"Darah youkai dari leluhurnya yang sudah berusia ratusan bahkan mungkin ribuan tahun—darah yang pasif namun sangat dominan, dan darah itulah jugalah yang diwariskan Rin-rin kepada putranya—Shura," sambung Kenji lagi dan kembali mengaruk kepala. "Walau ya, meski jika asumsiku benar bahwa Rin-rin memiliki darah youkai, kemungkinan kelahiran Shura sebagai inuyoukai sejati berdarah murni hanyalah satu dibanding ribuan juta kelahiran. Jadi kelahirannya memanglah—keajaiban."
Keajaiban.
Seorang wanita manusia yang bisa melahirkan seorang youkai sejati dan keberadaan anomali yang melawan hukum alam, keajaiban yang nyata dan hidup—siapa keajaiban sebenarnya? Rin atau Shura? Inuyasha dan yang lainnya tidak tahu lagi.
"Itu semua hanya asumsiku," tawa Kenji kemudian sambil mengusap-ngusap jenggotnya. Keseriusan di wajahnya menghilang digantikan kejahilan seperti biasanya. Dia bisa melihat efek yang dihasilkan ucapannya barusan. "Jangan terlalu dipikirkan."
Diam membisu, Inuyasha dan yang lainnya tidak memberikan reaksi pada tawa Kenji. Mereka masih terus memikirkan kemungkinan—kemungkinan yang dikatakan youkai monyet tersebut.
Darah manusia Rin tidak akan membuatnya menjadi hanyou. Shura akan lahir sebagai Inuyoukai sejati berharga diri tinggi. Tampan, bijaksana dan kuat, seperti anda Sesshoumaru-sama.
Ucapan yang diucapkan Rin dulu tiba-tiba tergiang dalam ingatan Kagome, dan bersamaan dengan itu, bayangan seorang wanita yang duduk dengan mata tertutup mengelus perut besarnya penuh kasih sayang melintas dalam pikiran—Rin yang sedang berdoa pada Kami-sama.
Senyum kemudian menghiasi wajah Kagome. Tidak! Kenji salah—ada kemungkinan keempat kenapa Shura terlahir sebagai inuyoukai sejati dengan darah murni.
"Kagome," panggil Inuyasha kebingungan melihat senyum di wajah Kagome. "Kenapa kau tersenyum seperti ini?"
Kagome tidak menjawab, senyumnya dengan seketika berubah menjadi tawa. Alasan kenapa Shura terlahir sebagai youkai mungkin selamanya akan menjadi teka-teki, jawaban yang ada juga tergantung dengan asumsi setiap orang yang mungkin berbeda-beda. Tapi, jika seseorang bertanya padanya, maka miko masa depan akan menjawab—doa.
Kata orang, doa seorang ibu adalah doa yang paling mustajab, doa paling tulus di dunia—doa yang bisa menembus langit. Kenapa? Karena doa seorang ibu adalah doa yang penuh dengan cinta untuk anaknya. Cinta yang sangat besar hingga tidak terukur, cinta abadi yang menyentuh langit—cinta Rin pada Shuralah yang menciptakan keajaiban ini.
"Tidak apa-apa, Inuyasha," senyum Kagome gembira. Kedua matanya berbinar penuh kebahagiaan. "Alasan kenapa Shura terlahir sebagai inuyoukai sejati tidaklah penting—yang paling penting adalah baik Rin-chan dan Shura selamat."
Ucapan Kagome dengan segera membuat Inuyasha, Miroku, Sango, Kohaku dan Kenji tertegun. Yang dikatakan miko masa depan itu benar, alasan kenapa Shura terlahir sebagai inuyoukai sejati tidaklah penting, sebab yang paling penting adalah kedua ibu dan anak-selamat.
__ADS_1
Ekspresi tertegun segera berubah menjadi senyum. Lalu senyum berubah menjadi tawa lepas tanpa beban.
"Kau benar, Kagome," tawa Sango lebar. Kedua matanya berbinar gembira. "Tidak ada berita yang lebih baik dari keselamatan Rin dan Shura."
Miroku dan Kohaku mengangguk kepala. Inuyasha tidak mengatakan apa-apa, dia terlihat tidak peduli, tapi kedua mata emasnya terlihat jelas setuju dengan ucapan Kagome.
"Baiklah," ujar Kenji sambil menepuk kakinya. Berdiri, dengan penuh semangat, dia kemudian melangkah keluar. "Hari ini adalah hari yang patut dirayakan—aku akan menyuruh semua yang ada dalam istana menyiapkan sake dan makanan untuk merayakan hari bahagia ini."
....xOxOx....
Sesshoumaru menatap Rin yang tertidur tenang di atas futon besar dalam kamar mereka dipaviliun timur. Di sampingnya, Inukimi sedang memeriksa kondisi kisakinya dalam diam.
Sesshoumaru sudah mengetahui apa yang terjadi pada Kisakinya semalam, tentang—kelahiran putra mereka yang berat. Rasa sakit yang dia rasakan dalam perang semalam, rasa sakit yang dia tidak tahu itu rasa sakit apa, ternyata adalah rasa sakit Rin yang berjuang melahirkan Shura.
Perlahan, mata Sesshoumaru turun pada Shura yang tertidur tenang atas kakinya yang duduk bersila. Mengangkat tangan kanannya, dia menepuk pelan kepala putranya.
"Kau tidak boleh lagi merepotkan ibundamu, Shura."
Shura yang masih tertidur bergerak dan mengesek-gesek kepalanya ke telapak tangan Sesshoumaru. Mendengus pelan penuh kepuasan, pewaris tanah barat terus melanjutkan tidurnya.
Sesshoumaru tersenyum melihat reaksi Shura. Betapa mirip putranya dengan Rin, bisa tidur dengan tenang tidak peduli apapun yang terjadi.
"Temani Rin kecil, Sesshoumaru," suara Inukimi yang pelan tiba-tiba terdengar dari samping Sesshoumaru. "Dia tidak apa-apa, tapi dia memerlukan istirahat yang cukup untuk memulihkan dirinya."
Menoleh wajahnya pada Inukimi, Sesshoumaru menemukan ibu kandungnya tersebut tersenyum lembut. "Serahkan tugas penguasa padaku—seminggu ini, temanilah Rin kecil dan Shura."
Sesshoumaru mengangguk kepala pelan dengan ucapan Inukimi. Dia tidak keberatan, malahan dia sesungguhnya sangat berterima kasih—dirinya ingin menghabiskan waktu bersama istri dan anaknya.
Senyum di wajah Inukimi hanya semakin lebar dengan reaksi Sesshoumaru. Menatap sejenak Shura yang masih tertidur nyenyak, dia mengelus kepala cucunya pelan penuh kasih sayang sejenak.
Tidak mengatakan apapun lagi, Inukimi kemudian berdiri dan berjalan keluar dari dalam kamar dengan pelan tanpa mengeluarkan suara sedikitpun. Dirinya tidak ingin menganggu tidur menantu dan cucunya yang damai.
Sepeninggalan Inukimi, Sesshoumaru menggerakkan tangannya untuk membelai lembut rambut hitam Rin. Menatap wajah kisakinya yang tertidur damai, dia berpikir; apa yang sedang dimimpikannya?
Apakah Rin sedang memimpikan mereka?—dirinya dan Shura. Memimpikan masa depan mereka yang terbentang luas dan penuh dengan senyum tawa—masa depan keluarga kecil mereka yang bahagia.
"Tadaima, Rin," ujar Sesshoumaru pelan. "Sesshoumaru ini dan juga Shura sudah pulang.."
Bergerak pelan, tangan Sesshoumaru kemudian mengelus lembut pipi Rin. Melihat matanya yang tertutup, dia berharap mata tersebut akan segera terbuka dan tersenyum kepadanya.
....xOxOx....
Duduk sendirian dalam kegelapan tidak berujung, Rin membuka matanya perlahan. Menarik napas menatap sekeliling, seulas senyum kemudian memenuhi wajah cantiknya.
"Rinku sayang.."
Suara aneh itu terdengar memanggil pelan namanya. Senyum di wajah Rin segera berubah menjadi tawa—tanpa melihatpun dia tahu siapa pemilik suara tersebut.
"Meido seki-sama!!" menoleh wajahnya ke belakang, Rin melihat sebuah bolah cahaya yang bersinar terang tidak jauh darinya.
Berdiri, Rin segera berlari mendekati Meido Seki. Tawa tidak kunjung menghilang dari wajahnya—tawa indah yang bagaikan dentingan lonceng.
"Meido seki-sama, lihat!" membuka kedua tangannya, Rin memperlihatkan perutnya yang kini telah rata. "Shura sudah lahir!!"
Rin tersipu malu mendengar ucapan Meido Seki, namun senyum tidak kunjung menghilang dari wajahnya. Mengangkat dan menatap kedua tangannya, pandangan matanya melembut penuh kasih sayang, begitu juga dengan suaranya. "Rin telah memeluk Shura dengan kedua tangan ini. Dia sangat kecil, sangat-sangat kecil dan—berharga."
Air mata mengalir turun menuruni pipi Rin. Dia ingat sensasi itu—perasaan saat pertama kali menyentuh dan memeluk Shura. Hangat dan kecil, hidup dan bergerak, darah dagingnya dan Sesshoumaru, bayi kecil dalam rupa seekor anak anjing kecil yang tidak berdaya—keajaiban dalam hidupnya.
Tertawa, Rin menghapus air matanya dan kembali menatap Meido Seki. "Rin memang tidak dapat mengamatinya dengan saksama karena kehilangan kesadaran, tapi Shura benar-benar mirip dengan Sesshoumaru-sama."
Meido Seki tidak membalas ucapan Rin, tapi wanita manusia itu tahu, bola cahaya tersebut tersenyum.
"Shura akan tumbuh kuat seperti Sesshoumaru-sama," lanjut Rin lagi. Matanya berbinar penuh kebanggaan membayangkan masa depan putranya yang cemerlang. "Shura akan menjadi inuyoukai paling kuat—Ah, tidak! Shura akan menjadi youkai paling kuat di dunia ini. Tidak akan ada yang bisa mengalahkannya kelak."
Meido Seki kembali tertawa mendengar ucapan Rin yang begitu membanggakan putranya. "Ya, kau benar, Rinku tercinta," ujar bola cahaya tersebut pelan. "Kelak, putramu akan menjadi youkai paling kuat di dunia."
Rin mengangguk kepala. Kebahagiaan memenuhi hatinya mendengar Meido Seki memuji Shura seperti itu.
"Kau tahu, Rinku tercinta, aku bermaksud memberikan putramu hadiah," lanjut Meido seki dan kembali tertawa. "Tapi, ternyata aku tidak perlu lagi. Putramu terlalu luar biasa. Selama dalam kandunganmu dia ternyata juga telah menwarisi—kekuatanku."
"Menwarisi?" tanya Rin bingung.
"Iya," balas Meido Seki pelan, suaranya sangat lembut namun penuh kebanggaan, seakan yang anak yang dipujinya adalah anaknya sendiri. "Dia terlahir dengan kemungkinan tidak terbatas yang tidak pernah dibayangkan siapapun di dunia."
Rin tidak mengerti sepenuhnya jawaban Meido Seki. Tapi, selama sesuatu itu kelak akan membantu dan memperkuat putranya, dia akan mensyukurinya.
"Karena itu," terbang mendekati Rin, Meido seki berhenti tepat di depan wanita manusia itu dan bersinar hangat. "Tenang dan jangan khawatir lagi, Rinku tercinta. Shura, putramu memiliki masa depan paling cemerlang yang ada."
Senyum lebar seindah musim semi merekah memenuhi wajah cantik Rin. Hatinya merasa sangat lega dan juga damai mendengar masa depan Shura yang akan cemerlang. Mengangguk kepala cepat, dia kemudian kembali tertawa. "Iya. Terima kasih, Meido Seki-sama."
Meido Seki tidak membalas ucapan terima kasih Rin. Tapi, wanita manusia itu tahu, bola cahaya itu mengerti dan menerima ucapan terima kasihnya.
"Rinku tercinta.." panggil Meido Seki lagi dengan pelan. Suaranya anehnya tetap sama, hanya saja semakin pelan. "Aku ingin memberitahumu; waktumu yang terus bergerak akan segera mencapai batasnya."
Ucapan Meido Seki yang tiba-tiba membuat Rin tertegun. Seketika senyum di wajahnya menghilang.
"Aku tidak bisa membimbingmu lebih lama lagi, Rinku sayang," kata-kata yang diucapkan Meido Seki pelan, tapi membuat Rin tidak bisa bergerak. "—aku tidak bisa mencuri waktu untukmu lagi."
Rin menundukkan kepala ke bawah. Maksud ucapan Meido Seki dia mengerti. Waktunya yang akan mencapai batas, tapi—wajah Sesshoumaru dan Shura terbayang dalam pikirannya.
"Berapa banyak?" tanya Rin pelan. Mengangkat kepalanya, dia memaksa seulas senyum di wajah. "Berapa waktu yang masih Rin miliki, Meido Seki-sama?"
Meido Seki tidak langsung menjawab pertanyaan Rin. Diam membisu beberapa saat mengamati wanita manusia di depannya, dia kemudian menghela napas pelan. "Kau tetap pada pendirianmu untuk tinggal, Rinku tercinta?"
Rin tertawa dan mengangguk kepala. Wajahnya sendu, tapi senyum tidak kunjung menghilang. "Iya. Rin memutuskan untuk tinggal—selalu."
"Kau akan sangat menderita, Rinku tercinta," suara pelan Meido Seki kembali terdengar penuh dengan kekhawatiran. "Kau adalah jiwa yang tidak seharusnya berada di dunia kehidupan lagi. Jika kau memaksa untuk tinggal, maka kau akan terus merasakan jiwa dan tubuhmu tercabik-cabik—rasa sakit yang lebih menyakitkan dari pada kematian itu sendiri."
Rin tidak mengubah senyum di wajahnya sedikitpun dengan penjelasan Meido Seki akan apa yang akan dilaluinya kelak.
"Lalu, perlahan, jiwamu akan terkikis. Kau tidak akan dapat berenkarnasi lagi—jiwamu akan menghilang tanpa bekas."
__ADS_1
Rin menutup mata mendengar penjelasan Meido Seki. Konsekuensi yang akan diterimanya jika terus tinggal di tempat di mana dia tidak seharusnya berada tidaklah ringan. Tapi—
'Hadiah yang Sesshoumaru ini inginkan adalah ingin bersama dengan Rin selamanya.'
Hadiah ulang tahun yang Sesshoumaru inginkan saat dia bertanya, serta kehangatan badan Shura dalam pelukannya—bagaimana Rin bisa meninggalkan mereka?
Membuka mata, Rin menatap lembut Meido Seki. "Rin tetap akan tinggal."
"Rinku.."
"Rin sudah berjanji akan tinggal," sela Rin cepat dengan suaranya yang lembut dan tenang. Ekspresi wajahn tidak berubah sedikitpun, senyum tetap menghiasi wajah cantiknya. "Rin akan selalu bersama Sesshoumaru-sama dan Shura."
Meido seki tidak mengatakan apa-apa dengan ucapan Rin, tertegun dengan keberanian atau mungkin kebodohan wanita manusia di depannya—ah, bukan, tertegun karena; cintanya.
Sesshoumaru dan Shura.
Meido Seki merasa iri dengan dua inuyoukai itu sekarang. Tahukah mereka, betapa beruntungnya mereka? Betapa wanita manusia lemah dan kecil ini mencintai mereka?—mencintai dengan seluruh jiwanya, mencintai hingga keberadaannya menghilangpun tidak apa-apa.
"Aku benar-benar iri dengan mereka berdua, Rinku tercinta," ujar Meido Seki pelan kemudian. Dia tahu, tidak peduli apa yang dikatakannya, Rin tidak akan mengubah keputusannya. "Cintamu pada mereka adalah cinta terindah yang pernah kulihat dalam ribuan juta tahun hidupku."
Rin tertawa dan tersipu malu dengan ucapan Meido Seki. Tapi, dia tidak mengatakan apa-apa lagi. Keputusannya yang tidak akan pernah berubah, cintanya yang akan selalu abadi untuk dua inuyoukai yang dicintainya.
Meido seki kemudian terbang naik ke atas. Bersinar sangat terang namun hangat, dia berujar pelan. "Pulanglah, Rinku tercinta, mereka yang begitu kau cintai menunggu kepulanganmu.."
Rin mengangguk kepala dan menutup mata. Dia juga ingin segera bangun dari alam bawah sadarnya ini—dia ingin melihat wajah mereka yang begitu dicintainya—Sesshoumaru dan Shura.
Membuka mata, Rin melihat langit-langit yang tidak asing dan menemukan dirinya berbaring di atas futon besar. Seluruh badannya terasa sangat sakit dan tidak bertenaga.
"Rin." Suara yang selalu dikenal memanggil namanya. Menoleh ke samping, Rin menemukan Sesshoumaru yang menatapnya.
"S-sesshoumaru-sama.." Balas Rin pelan. Seulas senyum memenuhi wajah cantiknya yang pucat.
"Tadaima, kami sudah pulang," ujar Sesshoumaru. Kedua mata emasnya menatap lembut kisakinya. "Sesshoumaru ini dan Shura sudah pulang.."
Senyum Rin semakin lebar mendengar ucapan Sesshoumaru. Tertawa kecil, kedua matanya berbinar bahagia. "Okaeri, Sesshoumaru-sama.." pandangan Rin kemudian jatuh pada sosok Shura yang tertidur dipangkuan Penguasa tanah barat. "Okaeri, Shura.."
Mata Rin yang menatap Shura penuh dengan kasih sayang. Perlahan, Sesshoumaru kemudian mengangkat badan kecil putranya dan memberikannya pada wanita manusia tersebut.
Dengan tangan bergetar, Rin memeluk dan mendekap Shura penuh kasih sayang. "Shura.." panggilnya pelan dan mencium kening putranya. "Selamat datang ke dunia, Shura. Selamat datang ke dunia ini, anakku, putraku..."
Mendengar suara dan mencium bau ibu kandungnya, Shura yang tertidur bergerak dan menyamankan kepala pada dada Rin. Ekornya bergoyang pelan penuh kebahagiaan dalam tidurnya.
"Shura.."
Rin tersenyum dengan tingkah Shura. Menatap putranya, kehangatan dan kebahagiaan memenuhi hati. Ini adalah pertama kalinya dia melihat Shura dengan saksama. Tidak berbeda jauh dengan putra dalam ingatannya sebelum dia kehilangan kesadaran sesaat setelah melahirkannya—inuyoukai yang sangat tampan.
Ukuran tubuh Shura yang baru terlahir tidak lama terlihat sebesar anak anjing berusia satu bulan. Berbulu putih keperakan dengan sepasang garis—dia adalah kopian dari ayah kandungnya, Sesshoumaru, sang penguasa tanah barat.
"Shura.."
Nama putranya bagaikan mantra terindah di dunia. Menatap anak yang dilahirkannya, Rin terus menyebut nama Shura—mengukirnya dalam keberadaannya.
Perlahan, kedua mata Shura yang tertutup terbuka—sepasang sklera merah darah dengan iris berwarna biru cemerlang. Menatap Rin, kedua mata tersebut tidak bergerak sama sekali karena terpana.
Shura..."
Mata yang menatapnya lurus, putra kandungnya yang berharga. Senyum di wajah Rin hanya bertambah lebar dan lebar, lalu tanpa disadari, air mata mengalir menuruni pipinya—air mata kebahagiaan.
Melihat air mata Rin, Shura menggerakkan badannya, menatap kiri-kanan dan bawah, inuyoukai kecil itu kebingungan.
"Shura..."
Senyum Rin hanya bertambah lebar dan lebar. Mengangkat pelan badan Shura, dia kemudian menundukkan kepala dan menempelkan keningnya pada kening anjing anaknya. Kedua matanya tertutup, kehangatan yang tersalurkan melalui sentuhan antara mereka tidak terjelaskan.
Perlahan, Shura kembali bergerak. Menggerakkan kepala ke samping, dia menjulurkan lidah kecilnya untuk menjilat air mata yang ada, seakan meminta ibunya berhenti menitikkan air mata.
Terkejut, Rin segera membuka mata, air matanya langsung terhenti saat merasakan apa yang dilakukan putranya. Lalu, mata coklat besarnya bertemu dengan mata Shura yang menatapnya lurus.
Seketika, senyum berubah menjadi tawa. Mendekap kembali inuyoukai kecil ke dalam pelukannya, Rin tersenyum bahagia. "Aku mencintaimu, Shura.."
Shura mengoyang-goyangkan ekor kecilnya. Menutup mata, dia mengeluarkan suara kecil dan kembali menyamankan dirinya dalam pelukan Rin, siapapun yang melihat bisa mengetahui bahwa inuyoukai kecil itu—bahagia.
Sesshoumaru tidak bergerak, melihat Rin yang menangis bahagia dan tersenyum memeluk Shura, hatinya terasa sangat sesak—sesak karena bahagia dan juga; haru.
Sesshoumaru sering membayangkan saat Rin hamil; seperti apa sosok wanita manusia itu kelak saat memeluk anak mereka? Cantikkah?—hari ini pertanyaan tersebut terjawab; cantik tidak terjelaskan.
Gadis kecil yang dihidupkannya, gadis kecil yang selalu mengikutinya, tersenyum dan tertawa untuknya, gadis kecil yang kini telah dewasa dan menjadi istrinya—menjadi ibu dari anaknya.
Bagi Sesshoumaru, Rin akan selalu menjadi yang paling cantik. Lebih cantik dari bulan, lebih cantik dari musim semi—tidak akan ada apapun yang bisa menandingi cantiknya wanita manusia ini dalam hatinya.
"Sesshoumaru-sama," panggil Rin pelan. Menoleh wajahnya menatap Sesshoumaru, dia kembali tertawa. Tangannya kanannya bergerak pelan mengelus-ngelus kepala Shura penuh kasih sayang. "Shura.."
Sesshoumaru tersenyum kecil melihat sikap Rin. Sejak membuka mata sampai sekarang, sudah berapa kali kisakinya menyebut nama dari putra mereka.
Bergerak, Sesshoumaru kemudian menutup mata dan mencium lembut kening Rin. Menyatukan kening mereka, tangan kanannya menyentuh lembut pipi kiri wanita manusia tersebut.
"Rin," panggil Sesshounaru pelan. Membuka mata, dia menatap lembut sepasang mata coklat yang balik menatapnya. "Terima kasih."
"Eh?" tertegun, Rin menatap Sesshoumaru.
"Terima kasih telah memberikan Shura padaku, terima kasih telah berjuang, terima kasih telah menepati janjimu, terima kasih karena telah—hidup."
Ucapan terima kasih paling tulus dalam hatinya, Sesshoumaru memgucakannya untuk Rin. Segala yang dilalui wanita manusia itu demi keluarga kecil mereka—dia tidak akan pernah melupakannya seumur hidup.
Ucapan terima kasih Sesshoumaru membuat air mata kembali mengalir menuruni pipi Rin. Menggeleng kepala, dia tersenyum seindah musim semi. "Rin yang seharusnya berterima kasih. Terima kasih, Sesshoumaru-sama. Terima kasih karena telah memberikan kesempatan pada Rin untuk menjadi ibu dari Shura."
Ucapan terima kasih yang terucap, air mata kebahagiaan yang mengalir, serta—senyum musim semi yang terukir abadi dalam keberadaannya. Sesshoumaru mengangkat kedua tangan dan memeluk, mendekap Rin yang mengendong Shura.
Kebahagiaan yang menyesakkan, kebahagiaan yang bahkan membuat napas menjadi sulit. Apa itu kebahagiaan? Sesshoumaru benar-benar tahu dan bisa menyentuhnya sekarang, kebahagiaan adalah; Rin dan Shura.
Rin tertawa pelan dalam pelukan Sesshoumaru. Hatinya sangat hangat dan bahagia. Kebahagiaan yang paling dia harapkan kini benar-benar telah menjadi kenyataan—keluarga kecil mereka yang telah sempurna.
__ADS_1
Menutup mata, Rin menyamankan dirinya dalam pelukan Sesshoumaru. Pilihannya tidaklah salah, tidak peduli bagaimana menderita dan sakitnya kelak, dia akan selalu tinggal—demi Sesshoumaru dan Shura; demi kebahagiaan yang akhirnya mereka dapatkan.
....xOxOx....