Antara Cinta Dan Kasih

Antara Cinta Dan Kasih
Apa semuanya akan berakhir?


__ADS_3

Shasa telah selesai di periksa, dan kini bangun dari tempat iya berbaring.


Dia keluar dari ruang periksa dan mendapati dokter Antoni tengah duduk untuk menunggunya


"Om.." panggil Shasa


Dokter Antoni, mendongakkan kepalanya saat mendengar suara shasa sedang memanggilnya!


Dengan cepat dokter Antoni berdiri dari duduknya dan menghampiri Shasa yang masih berdiri di dekat pintu


"Shasa,, bagaimana apa sudah selesai? Tanya dokter Antoni dengan raut wajah yang terlihat cemas! saat melihat shasa tengah keluar dari dalam ruang pemeriksaan


Shasa hanya mengangguk sebagai jawaban dari pertanyaan dokter antoni. Dalam hati Shasa ada kekhawatiran mengenai dengan penyakitnya itu, namun dia tetap berusaha untuk terlihat tenang, agar orang disekitarnya yang menyayangi dirinya tidak merasa cemas padanya


Dari dalam ruang pemeriksaan dokter yang sudah memeriksa shasa pun juga keluar, dokter Antoni yang melihatnya segera menyambutnya dan bertanya


"Dokter Bob terimahkasih sudah membantuku! bagaimana dengan hasil pemeriksaannya?" Tanyanya dengan penasaran


"Hasilnya tidak bisa kita ketahui sekarang, tunggu sampai tiga atau empat hari baru bisa keluar," jelas dokter Bobi sambil memegang bahu dokter Antoni


"Om jangan cemas begitu, tetaplah untuk tenang, Shasa pasti tidak akan kenapa-kenapa itu om sendiri yang mengatakannya, lihat Shasa saja tenang," Tutur Shasa sambil tersenyum manis pada dokter Antoni


"Benar yang dikatakan Shasa, kamu jangan khawatir," jelas dokter Bobi untuk membuat dokter Antoni lebih tenang.


"Baiklah jika begitu, aku dan Shasa akan kembali setelah tiga hari, atau dokter Bobi bisa menghubungiku jika hasil pemeriksaannya sudah keluar" jelas dokter Antoni


"Jangan kawatir aku akan segera menghubungimu" tutur dokter Bobi


Dokter Antoni dan Shasa berjalan keluar menuju mobilnya di parkirkan, dan setelah sampai mereka naik dan melajukan mobilnya dengan Pelang. Didalam mobil sangat tenang dan sunyi tanpa adanya suara dari mereka berdua


Cukup lama mereka berdua berdiam diri, sampai akhirnya dokter Antoni buka mulut


"Apa om perlu membawamu langsung ke warung bibi mu?" Tanya dokter Antoni


" Tidak om, Shasa akan singgah di depan saja, ucapnya sambil menggelengkan kepalanya

__ADS_1


" Baiklah jika itu mau mu" ucap dokter Antoni sambil memberhentikan mobilnya


"Ingat untuk hati-hati dan cepat pulang ke warung bibi mu jangan sampai dia mengkhawatirkan mu" jelas dokter Antoni saat Shasa sudah turun dari mobil


"Baik om" ucap Shasa sambil mengangguk


Shasa berjalan menelusuri jalanan yang ramai, mengikuti langkah kakinya akan membawanya ke mana, setelah mobil dokter Antoni sudah menghilang dari pandangannya.


Shasa dengan raut wajahnya yang datar Tampa memiliki ekspresi duduk di bangku taman, duduk terdiam sendiri dengan cukup lama


Shasa menghela nafas mendongakkan kepalanya ke langit melihat langit biru di ketinggian sana


"Apa semuanya akan berakhir?" Ucapnya dalam hati, sambil mengangkat tangannya menjulurkannya seakan mencoba untuk menggapai sesuatu yang ada di atas sana


"Kakak apa kamu sedang bersedih?" Tiba-tiba seorang anak kecil menanyainya, membuat Shasa kaget dan dengan cepat melihat anak itu!


Shasa tersenyum melihat anak kecil yang sedang membawa beberapa barang jualan yang ada di depan perutnya


"Kakak aku sedang menjual beberapa macam Snack dan juga permen, apa kamu tidak berniat untuk membelinya? Jika Kakak sedang dalam suasana hati yang buruk, sekarang makan permen akan membuatmu jauh lebih tenang" ucap anak kecil itu, membuat suara tawa dari Shasa terdengar


"Ini,,, kembaliannya ambil saja ucap Shasa memberikan uang itu dan menerima permen dari anak itu


"Terimakasih kak" ucap anak itu dan pergi meninggalkan shasa


Shasa melihat permen yang kini ada di tangannya sambil tersenyum


"Mungkin saja setelah memakannya hidupku akan semanis permen ini" ucapnya sambil membuka bungkusan permen dan memakannya.


***


Santoso yang duduk di ruang kerjanya mengepalkan kedua jemari tangannya saat melihat ponsel di tangannya, dimana di dalam ponsel terlihat foto Raka dan Fiona sedang duduk bersama di dalam restoran, dan foto yang kedua terlihat Raka yang sedang bergandengan tangan dengan Fiona, itu semua membuat Santoso, jadi marah


"Ini tidak bisa dibiarkan, wanita itu tidak boleh berlanjut terus menerus menempel pada Raka," ucap Santoso dengan marah


"Pertunangan Raka dan Laura tidak boleh hancur hanya karena wanita itu, aku tidak boleh membiarkan itu terjadi" ucap Santoso lagi pada dirinya sendiri

__ADS_1


Tok.. tok.. tok..


Suara ketukan pintu dari luar terdengar membuat Santoso menahan emosi dalam hatinya dia duduk sambil memijit sendiri dahinya


"Masuk" ucapnya


Tak lama, Dara dari luar pintu terlihat berjalan masuk dan menghampiri Santoso


"Mas apa kamu merasa sakit kepala lagi?" Tanya dara dan mencoba untuk memijit kepala Santoso


"Mas cobalah untuk bersantai sementara waktu! jangan terus menerus bekerja yang tanpa henti, tubuhmu butuh istirahat juga" jelas Dara dengan lembut


Santoso terlihat menikmati pijikan dari dara


"Mas aku merindukan Danil putra kita, entah sekarang dia sedang apa! Mas bagaimana jika kita berlibur ke Amerika untuk mengunjunginya," Ucap Dara lagi hingga membuat Santoso menghela nafas


"Sekarang dia sudah besar, dia sudah tahu mana yang baik dan buruk, biarkan dia untuk mandiri di sana! jangan selalu mengganggunya dengan perasaanmu yang tak jelas itu" jelas Santoso


"Mas apa maksudmu? Ini sudah hampir dua tahun dia di luar negeri seorang diri, tidakkah kamu merindukannya? mas ingat dia itu juga putramu, darah dagingmu sesekali untuk menjenguknya di sana apa salahnya?" Jelas Dara yang terdengar marah saat mendengar perkataan dari Santoso


"Mas jangan hanya selalu memerhatikan Raka seorang, Danil juga butuh perhatian darimu! Sesekali perhatikan dia juga, Danil akan merasa di abaikan jika sikapmu padanya seperti ini" jelas Dara lagi


"Sudahlah jangan coba-coba untuk menghakimiku, jika ingin pergi pergilah sendiri" jelas santoso


"Mas..


"Sudah,, Dara kamu sangat tahu aku paling tidak suka di desak, sekarang keluarlah jangan membuatku marah dengan kekonyolan mu itu" tegas santoso


Dara dengan Amara yang terpasang di raut wajahnya melangkahkan kakinya berjalan keluar dari dalam ruang kerja Santoso, kekesalan hatinya dan kepalan kedua tangannya menyertai hatinya yang benar-benar sudah tidak bisa di toleransi lagi


Dia berjalan menuju kamarnya dan masuk! Barang-barang yang ada di dalam kamar menjadi pelampiasan dari amarahnya yang sudah membuatnya tidak bisa mengendalikan diri


Dara terduduk di tepi ranjang sambil menatap tajam pada pintu seolah-olah dia dapat melihat Santoso dari sana


"Dara tetaplah untuk bersabar, ingat ini tinggal sedikit lagi, jangan menyerah kamu pasti bisa mendapatkan semuanya" ucapanya dalam hati, untuk menyemangati diri sendiri

__ADS_1


"Raka ini semua karena dirimu, seharusnya dulu aku tidak membiarkanmu di lahirkan


__ADS_2