
Di sisi lain, Raka yang masih mencari Shasa terus melajukan mobilnya dengan pelan dan terus mengamati setiap orang yang sedang berjalan di tepi jalanan.
"Shasa aku harus mencari mu kemana lagi?" Tanyanya pada diri sendiri dengan nada yang terdengar berat.
Di depan sana, Raka melihat ada seorang gadis yang sedang berdiri membelakanginya agak mirip dengan penampilan dan postur tubuh Shasa, Raka membulatkan matanya untuk memastikan itu adalah Shasa atau bukan, tapi itu terlalu jauh di depan Raka tidak bisa untuk melihatnya dengan jelas, Raka kerena penasaran dengan cepat menepi dan memarkirkan mobilnya dan turun dari mobil, berjalan menghampiri gadis itu, untuk memastikan dia siapa.
Tampa basa basi Raka langsung memegang bahu gadis itu dari belakang.
"Shasa,,!" Panggilnya
Gadis itu dengan cepat menoleh karena merasa kaget
"Tuan ada apa?" Tanya gadis itu melihat pria yang tidak dikenalnya memegang bahunya dengan tiba-tiba.
Ada kekecewaan di hati Raka, melihat itu bukan gadis yang ingin di temui nya.
"Maaf aku salah mengenali orang" tutur Raka sambil menundukkan kepalanya di hadapan gadis itu.
Raka bingung mau kemana lagi, dia tidak tahu lagi harus mencari Shasa kemana lagi! dalam hatinya yang sangat kawatir mengingat akan gadis yang di cintainya menghilang begitu saja, membuatnya sesekali menghela nafas dengan kasar
Raka melihat jam tangan di pergelangan tangannya.
" Ini sudah hampir sore! Kamu kemana?" Tanyanya pada diri sendiri dengan hati yang terasah pedih dan sedih
Raka berjalan menuju mobilnya, tapi tetap memerhatikan setiap orang yang berlalu lalang di area itu.
Dari kejauhan sana, Shasa yang terus berjalan sambil menutupi sebagian wajahnya dengan brosur yang didapatkannya, berjalan ke arah Raka.
Raka sempat melihatnya, tapi tidak mengenalinya, karena penampilannya sudah begitu lusuh dan berantakan, dan dia pun tidak melihat wajahnya karena sengaja ditutupinya.
Raka kini telah sampai di dekat mobilnya yang terparkir, Sebelum dia masuk kedalam mobil Raka menyempatkan diri untuk melihat-lihat sekelilingnya lagi
Shasa, dari kejauhan melihat sosok yang dia rasa mengenal orang itu, berdiri di samping mobil, Shasa mempercepat langkahnya dengan harapan bisa sampai ke tujuannya karena sudah melihat Raka hendak menaiki mobil.
__ADS_1
Shasa berlari, karena sudah yakin itu orang yang di kenalnya.
"Tuan Raka..!" Panggil Shasa, tapi karena kebisingan dari kendaraan yang melintas Raka tidak mendengar panggilan itu
"Tuan Raka..! Tunggu..." Teriak dan panggilan Shasa sambil terus berlari ke arah Raka, tapi karena sudah seharian tidak meminum obatnya Shasa kini merasa sakit lagi dalam hatinya, dadanya kembali sesak, penyakitnya kini kambuh lagi, hingga membuatnya harus berhenti.
Shasa berhenti untuk melangkahkan kakinya, dia terdiam dan berdiri sambil memegangi dadanya, mencoba mengatur nafasnya yang terasa sesak.
Shasa menatap lurus ke arah Raka yang berdiri sambil terlihat membuka pintu mobilnya.
Shasa memejamkan matanya dan membukanya kembali dengan harapan Raka menoleh dan melihatnya, namun baginya itu hanya sebuah harapan, air mata Shasa pun tak bisa di tahannya, air mata itu mengalir deras di pipinya. Dia menggelengkan kepalanya dan merasa ini sudah akhir dari hidupnya.
"Bibi,," nama itu muncul tiba-tiba di dalam pikiran Shasa, dia tersenyum dan terus berdiri mematung
Raka yang sudah membuka pintu mobil tidak langsung untuk memasuki mobilnya, dia tetap melihat sekelilingnya, dia merasa dia akan menemukan Shasa di sana, entah dari mana perasaan itu berasal tapi Raka tetap mencoba untuk mendengarkan kata hatinya, dia kembali menutup pintu mobilnya dan terus melihat sekelilingnya, memerhatikan setiap orang yang berjalan melintasinya, lagi dan lagi Raka berputar melihat kanan kirinya bahkan depan belakan nya.
Harapan yang tidak sia-sia, benar di kejauhan sana Raka melihat Shasa yang berdiri menghadap ke arahnya.
Raka berdiri dan terdiam melihatnya untuk sesaat, rasa lega dan bahagia kini tercampur aduk, perasaan yang tidak bisa di ungkapkan nya dengan kata-kata, kini muncul dalam hatinya, Raka tersenyum dan melangkahkan kakinya ke arah Shasa, melangkahkan nya dengan cepat dan berlari agar bisa dengan cepat memeluknya dan melepaskan semua rasa cemas dan kawatir yang sudah menyiksanya.
"Shasa,,;" teriak Raka memanggil namanya, saat melihat gadis pujaan hatinya itu terjatuh dan tak sadarkan diri di hadapannya.
Raka terus berlari dan menghampiri Shasa yang sudah di kerumuni oleh orang banyak.
("Ada apa dengannya?" Kata salah satu dari mereka yang hingga untuk melihat keadaan Shasa)
("Cepat panggil ambulans, gadis ini sedang kritis" kata dari mereka lagi")
Raka yang mendengarnya tidak percaya dengan perkataan orang itu, dengan cepat Raka mengangkat kepala shasa dan meletakkan ke pangkuannya, dengan tak sadar air mata Raka menetes jatuh ke pipinya.
"Shasa,, buka matamu! Apa yang terjadi?" Tanya Raka dengan suara yang gemetar
"Shasa,, Shasa,," panggil Raka dan menepuk-nepuk Wajahnya.
__ADS_1
("Tuan aku sudah memanggil ambulans, sebentar lagi akan datang, tetaplah untuk bersabar" ucap salah satu wanita paru baya yang hinggap untuk melihat Shasa)
"Tidak,,, aku tidak bisa menunggu," tutur Raka yang sudah panik
"Taksi,," teriak Raka dengan tiba-tiba melambaikan tangannya memanggil taksi yang tengah melintas.
Taksi itu pun berhenti, Raka dengan cepat mengangkat tubuh Shasa dan memopongnya masuk kedalam taksi.
Raka mendudukkan Shasa di sampingnya dan menyandarkannya di bahunya dengan perasaan takut, Raka melihat sopir taksi itu dengan mata yang memerah dan pipi yang basah akibat air mata yang tak berhenti mengalir
"Pak supir antar kami ke rumah sakit" tutur Raka dengan suara yang gemetar
"Tidak,, jangan membawaku ke rumah sakit" tiba-tiba Shasa tersadar dan memegang tangan Raka mencoba untuk menghentikan Raka agar tidak membawanya ke rumah sakit
"Shasa,," Raka melihatnya dengan cepat
"Kamu sudah sadar" Raka memeluknya dengan erat dan tersenyum
"Jangan membawaku ke rumah sakit" ucap Shasa lagi dengan suara yang masih berat dan lemah
"Tidak..!! Kamu harus ke rumah sakit kamu sedang terluka" tutur Raka dan melepaskan pelukannya melihat Shasa yang masih begitu lemah dan pucat
Shasa kembali menggelengkan kepalanya.
"Kamu harus janji tidak membawaku ke rumah sakit," ucap Shasa sambil memegang erat tangan Raka dan kembali menutup matanya
"Baik,, aku tidak akan membawamu ke sana, tapi tolong jangan membuatku takut seperti ini, tetaplah untuk membuka matamu" ucap Raka lagi dengan di iringi air mata
Shasa memperlihatkan senyum manisnya pada Raka namun tetap dengan mata tertutup.
Raka kembali memeluk Shasa.
"Paka sopir,, bawa kami ke perumahan taman anggrek" jelas Raka pada sopir mobil taksi itu.
__ADS_1
"Baik tuan" pak sopir pun mengangguk patuh.