
Didalam ruang kamar pasien, Andra duduk di sofa yang tersedia dalam kamar VIP yang sekarang di tempati oleh shasa, dia duduk sambil menahan rasa sakit akibat luka-luka yang ada di tubuhnya
Tubuhnya yang terdapat begitu banyak luka, di balut oleh perawat di dalam kamar yang di tempati Shasa.
Karena Andra enggang untuk meninggalkan Shasa yang masih tak sadarkan diri di dalam kamar sendiri
"Tuan Andra,, luka anda semuanya sudah di olesi obat dan juga sudah di balut perban, habis ini sebaiknya anda istirahat setelah minum obat!" Jelas sang perawat yang sudah merawat lukanya
"Terimakasih aku mengerti" ucap Andra mengangguk
Perawat itu berdiri dan melangkahkan kakinya berjalan keluar dari dalan kamar tempat Shasa di rawat
Setelah sang perawat berlalu pergi, Andra berdiri dan melangkahkan kakinya, dan menghampiri Shasa, dia melihat Shasa dengan penuh dengan tanda tanya yang terukir di dalam matanya
"Hari ini! Hari dimana kita baru saja di pertemukan, tapi didalam satu hari ini, sudah dua kali kamu menutup mata seperti ini, tak sadarkan diri di hadapanku! Apa kehidupan masa lalumu begitu sulit? Tanya Andra sambil duduk di kursi yang sudah tersedia, dia tersenyum
"Kenapa tidak,, anak sekecil di usiamu dulu! Yang baru menginjak tujuh tahun berkeliaran sendiri, tanpa adanya pengawasan dari orang tua. Shasa,,, kakak sadar semua derita yang kamu alami di masa lalu itu semua adalah kesalahan dari kakak, andai saja saat itu kakak mendengarkan mu semua ini tidak akan terjadi." Ucap Andra dengan rasa menyesal yang terdengar begitu melukainya
"Maafkan kakak! apa yang kakak alami saat ini, mungkin itu tidak seberapa dengan sakit yang kamu derita selama ini" ucapnya lagi
Andra yang terus menatap Shasa, yang masih terbaring dan menutup mata, melihatnya meneteskan air mata
"Shasa apa kamu mendengarkan kakak?" Ucapnya sambil mengusap air mata Shasa
"Maafkan kakak! Andra memegang tangan Shasa dan menundukkan kepalanya meletakkan di atas tangan Shasa yang iya pegang
Shasa pelan-pelan membuka matanya dan melihat Andra, yang duduk di samping tempat iya terbaring sambil tertunduk, Shasa mencoba untuk bangun, dan duduk melihat Andra yang penuh luka di tubuhnya
"Kak andra maaf karena telah meragukan mu" ucapnya dan menyentuh kepala Andra yang tertunduk di disampingnya sambil memegang satu tangannya
Andra mendongakkan kepala dan dengan cepat memeluk Shasa yang sudah duduk di sampingnya. Andra mengangguk-anggukkan kepalanya
" Jangan minta maaf, kamu tidak bersalah," ucapnya!
Pria yang terlihat gagah dan kuat itu pun juga tidak bisa selamanya menjadi tegar, ada kala dia akan merasa sedih dan lemah dengan ke adaan yang tidak bisa iya tanggung dan kala iya menyerah dengan semua hal-hal yang harus di jalaninya sendiri
__ADS_1
Begitupun dengan Andra, yang tak mampu menahan air matanya, saat melihat adiknya yang iya sayangi menderita karenanya
Shasa melepas pelukan Andra padanya dan melihat tubuh andra yang sudah di perban, Shasa menyentuh perban di dahi Andra
"Apa itu sakit? Tanya Shasa
Andra menggelengkan kepalanya
"Tidak,, ini sama sekali tidak sakit! jelas Andra dan tersenyum manis pada Shasa dan mengusap pipi Shasa dengan penuh kasih sayang
"Shasa apa kakak boleh bertanya?
Shasa menatapnya dan menganggukkan kepalanya
"apa kamu tahu siapa yang ingin mencoba untuk mencelakaimu? Apa kamu pernah menyinggung seseorang?" Tanya Andra
"Tidak,," Shasa menggelengkan kepalanya
"Aku tidak pernah membuat masalah dan tidak memiliki masalah dengan siapapun," jelas Shasa dan terdiam mencoba untuk berfikir dan mengingat siapa yang memiliki dendam padanya
"Apa kamu mencurigai seseorang? Beritahu Kakak siapa dia! Kakak janjikan dengan cepat membawa dia di hadapanmu" tegas Andra dengan cepat
Shasa kembali menggelengkan kepalanya
"Shasa tidak tahu pasti, Shasa hanya mersa mungkin ini ada hubungannya dengan si penculik itu," ucapnya
"Si penculik?"
Shasa mengangguk
"Beberapa hari yang lalu seseorang telah menculik Shasa, tapi Shasa tidak tahu dan tidak sempat melihat mereka siapa sebelum shasa berhasil kabur" jelas shasa lagi
Shasa melihat Andra yang tengah berpikir keras dengan apa yang baru saja di katakan olehnya, Shasa tidak ingin dia bekerja keras untuk mendapatkan si penculik itu dengan keadaannya yang seperti itu, Shasa mencari cara agar bisa mengalihkan perhatiannya
"Kak andra,, Shasa ingin pulang! Shasa tidak suka rumahsakit, Shasa tidak ingin berlama-lama di sini"
__ADS_1
"Apa kamu ingin tinggal dengan kakak? Kakak janji akan menjagamu dan melindungi mu" ucapnya dengan penuh harap
Shasa mengangguk dan bersediah tinggal di rumah Andra, meski Shasa belum sepenuhnya yakin dengan semuanya itu,
***
Di dalam kamar sebuah apartemen Seorang wanita yang terlihat ketakutan dengan luka di dahinya dan memar-memar di tubuhnya, telah mengunci diri di dalam kamar mengacak semua barang-barang yang ada di dekatnya.
"Siapa dia? Siapa yang sudah melindunginya? Seharusnya dia sudah mati saat ini! Aaaahk...." Wanita itu berteriak histeris di dalam ruang kamar yang iya tempati
Dia mengamuk dan membuat semua seisi kamar jadi berantakan
"Ternyata selain Raka kamu masih punya pelindung lagi, kita lihat saja sampai kapan kamu bisa bertahan" wanita itu tersenyum dalam kekecewaan yang terlihat di raut wajahnya
Dia menyentuh dahinya yang terluka dan melihat dara yang menempel di tangannya
"Shasa meskipun kamu memiliki sembilan nyawa, aku pastikan kamu tidak akan bisa lolos dariku" ucap wanita itu sambil melihat tangannya yang di penuhi tangannya
"Aku tidak akan melepaskan mu, meskipun kamu dan Raka telah putus, aku tidak ingin Raka mengenang seseorang dalam hatinya," ucapnya dengan senyum jahat di bibirnya
"Raka hanya milikku, aku tidak akan membiarkan siapapun untuk memilikinya, siapa pun itu" ucap wanita itu sambil mengepalkan kedua tangannya
Wanita itu berjalan menuju meja dan membuka laci mengambil kotak obat yang ada di dalamnya, dia mengobati lukanya sendiri, karena tidak ingin seseorang tahu! Apa yang baru saja iya lakukan.
***
Sedangkan David mengerahkan semua anak buahnya untuk mencari tahu siapa otak yang ada di balik kejadian yang sudah mencelakai majikannya
"Kalian semua dengarkan aku, ini sangat penting tuan Andra tidak mau polisi mendahului kita untuk menemukan orang yang sudah mencelakainya! Kita harus bergerak cepat untuk menemukan pelakunya, dan membawanya ke hadapan tuan Andra" jelas David pada semua anggotanya yang sudah berkumpul. dia membagi kelompok untuk berpencar, agar itu bisa memudahkan pekerjaannya
"Periksa semua cctv yang ada di dekat situ, dan bertanya pada orang-orang yang melihat kejadian itu" jelasnya lagi
"Baik tuan," jawab mereka serentak, mereka pun bubar dan mengikuti kelompok masing-masing.
Dan sedangkan David berjalan sendiri dan bekerja sendiri, untuk mencari pelaku dari tabrak lari itu
__ADS_1