
"Soal semalam itu tidak terjadi apa-apa, kamu ketiduran hingga Reza tidak bisa untuk mengobati mu" jelas Raka, menyembunyikan fakta tentang insiden yang di alami Shasa semalam, dia tidak ingin mengungkapkan hal itu lagi, karena tidak ingin melihat Shasa menderita dengan rasa sakit yang di deritanya.
"Oh.." balas Shasa singkat, tapi tetap merasa ragu dengan jawaban yang di dapat dari raka
"Tapi semalam..
"Sudahlah jangan membuang waktu, bergegas untuk mandi dan kita akan sarapan, selepas itu aku akan mengantarmu pulang, dan juga aku harus ke kantor" tegas Raka dengan cepat, memotong perkataan dari Shasa
"Oh,,," ucap singkat Shasa lagi, dan berjalan keluar dari kamar Raka,
Shasa berjalan menuruni anak tangga dan berfikir ada yang aneh pada sifat Raka.
"Apa aku sudah berbuat kesalahan atau aku melakukan hal yang memalukan pada dokter Reza, atau jangan-jangan aku sudah menghancurkan cara pengobatan dokter Reza" ucap Shasa pada diri sendiri.
"Tidak,,, tidak,,, aku tidak mungkin melakukan hal seperti itu" gumamnya lagi pada diri sendiri,
Shasa berjalan sambil berusaha mengingat akan kejadian semalam, tentang di mana Reza yang sedang mengobatinya semalam dan tentang, soal dia tidur berjalan sampai ke kamar Raka,
Shasa menggelengkan kepalanya karena hal itu benar-benar tidak bisa dia ingat. Itu semua di luar pemikirannya
Shasa membuka pintu kamar tamu yang seharusnya menjadi tempat istirahatnya semalam dan menutup pintu kamar, dia berjalan santai menuju kamar mandi, dan berniat untuk mandi.
Tapi mengenai dokter Reza dan pengobatan yang dilakukannya semalam, telah sangat mengganggu pikiran Shasa.
"Aku tertidur di saat melakukan pengobatan? Apa itu benar? Ini tidak masuk akal," tanda tanya itu terus menerus muncul di pikiran Shasa.
Setelah mandi telah usai, Shasa keluar dari dalam kamar mandi berjalan dan membuka lemari, yang di penuhi dengan pakaian wanita yang cantik dan indah, dan juga dengan harga yang selangit untuk wanita sepertinya.
Shasa terdiam sesaat melihat isi lemari itu,
"Fiona kamu sangat beruntung" ucapan itu tiba-tiba muncul dari mulut Shasa, ada rasa iri yang tiba-tiba muncul di hatinya sambil terus melihat pakaian-pakaian itu
"Itsss,, apa yang aku pikirkan? Gumamnya lagi.
Shasa menggelengkan kepalanya dan menjernihkan pikirannya, dia keluar kamar saat selesai berpakaian dan berjalan menuju ruang makan, dimana Surti telah menunggunya.
"Pagi bibi,," sapa Shasa dengan perasaan ceria.
Surti mengangguk dan tersenyum
__ADS_1
"Pagi nona" balas Surti sambil menarik kursi untuk Shasa.
"Tidak perlu bibi,, Shasa bisa sendiri" ucapnya dan dengan cepat mengambil kursi yang telah di tarik Surti.
Shasa duduk dan melihat sarapan makanan yang ada di atas meja,
"Bibi ini semua, kamu yang membuatnya? tanya Shasa dan tidak sengaja memasukkan garpu ke dalam mulutnya
"Benar," Surti mengangguk
"Itu semua makanan kesukaan tuan Raka, beliau jarang sarapan di rumah, karena pagi ini ada waktu untuk sarapan jadi, aku sekaligus membuat semuanya." Jelas surti
Shasa menelan air liurnya karena menurutnya itu semua adalah makanan yang pasti sangat enak
Tidak menunggu lama, Raka pun berjalan masuk ruang makan,
Shasa tersenyum melihat kedatangannya,
Shasa berdiri dengan cepat dan menyediakan kursi untuk Raka.
"cepat duduk aku Sekarang sudah lapar" ucapanya dan melangkahkan kakinya mendekat pada meja makan, mengambil beberapa macam-macam sarapan yang sudah tersedia di atas meja.
"Bibi ini sangat enak, masakan mu sama dengan masakan bibi Rita. Aku suka" jelas Shasa sambil mengunyah makanan yang ada di mulutnya.
Surti tersenyum
"Terimakasih nona, dan syukur jika Anda menyukai masakan ku, aku bisa memasak untuk anda kapang saja, maka sering-seringlah kemari, bibi akan Menjamu anda dengan masakan ku yang paling enak" ucap Surti yang membuat Raka mengangguk-anggukkan kepalanya karena merasa senang dengan Surti yang mencoba untuk membuat Shasa terus datang di kediamannya itu.
"Beneran bi,,? Kalau begitu Shasa kapan saja bisa datang kemari?" Tanya Shasa dan melihat kearah Raka seolah-olah meminta izin padanya
Raka tersenyum melihat tingkah polos Shasa, dan mengangguk
"Benar kata Surti, masakannya itu sangat enak-enak, dia bisa membuat masakan dengan banyak menu. Makanya sering-sering kemari, untuk mencicipi setiap masakannya itu" jelas Raka hingga membuat Surti merasa bahagia, selama hidupnya ini baru pertama kalinya Surti mendengar Raka memuji masakannya.
" Kalau begitu makan yang banyak, agar kamu cepat besarnya" tegas Raka sambil tersenyum meledek padanya
Mendengar perkataan itu, Shasa menatap sinis pada raka
"Cccceeh,, Tuan Raka, kamu mengejekku karena tubuhku yang kecil ini? Aku sudah dewasa tau! Dua hari lagi ulang tahunku yang ke 20, itu artinya aku sudah cukup berumur," jelas Shasa
__ADS_1
Raka tertegun
"Jadi dua hari lagi hari ulang tahun mu?" Tanya Raka dan tersenyum manis padanya, memikirkan kejutan yang harus dia siapkan untuk shasa
"Benar," ucapnya membenarkan ucapan dari Raka sambil mengangguk.
***
Rendi terlihat kini telah menuruni anak tangga satu persatu, sambil mengancing lengan kemejanya,
Dengan kemeja putih dan setelan celana hitam yang di pakainya, membuatnya begitu tampan dan menawan.
Rendi terus melangkah dan mendapati dokter Antoni, yang sedang duduk menyantap makanannya yang iya siapkan sendiri
"Pagi pa,," sapa Rendi dan mengambil segelas susu yang sudah disiapkan untuknya dan meminumnya.
Setelah itu dia meneruskan langkahnya dan berjalan pergi dengan terburu-buru, hingga dokter antoni menegur dan bertanya padanya
"Rendi setidaknya duduk dan sarapan dulu, Kamu mau kemana? Teguran dan tanya dokter antoni kepada rendi, dan memandangi Rendi yang sudah memunggunginya.
"Rendi ada urusan penting pa,, di luar rumah sakit" jawabnya Tampa melihat Antoni, dan terus berjalan, keluar dari rumah dan menuju mobilnya yang terparkir
Rendi mengendarai mobilnya dan melajukan nya dengan kecepatan yang tinggi, dia menyetir mobilnya menuju ke arah rumah raka.
Dengan sangat kebetulan pagar pintu rumah Raka di buka lebar oleh sang security, Rendi mengambil kesempatan itu, dan melajukan mobilnya melintasi pagar yang sudah terbuka.
Melihat itu sang security membuka lebar mulutnya, dan segera berlari mengejar mobil rendi
"Hey,,, kamu tidak boleh seenaknya masuk begitu saja, teriak security itu.
Rendi memarkirkan mobilnya, Tampa menghiraukan perkataan dari sang security dan sangat kebetulan sekali saat itu, Shasa dan Raka terlihat keluar rumah berjalan bersama, sambil saling melemparkan senyuman.
Sang security yang Melihat atasannya itu dengan cepat berlari ke arahnya, dia menundukkan kepalanya dengan penuh hormat dan membuka pintu mobil untuknya.
Sedangkan Raka tidak langsung masuk dan malah balik membukakan pintu mobil untuk Shasa.
Rasa cemburu di hati Rendi muncul dengan tiba-tiba, dia mengepalkan tangannya dan dengan cepat turun dari mobilnya saat melihat Shasa hendak masuk kedalam mobil Raka.
"Shasa,,," panggil Rendi
__ADS_1
Shasa menoleh kearah Suara yang sedang memanggil namanya