
Laura melepas kedua tangannya dari bahu Raka dan menahan tubuh bagian dada bidang Raka, yang sudah hampir menyimpitnya dengan dinding ruangan kantornya
"tuan Raka apa yang kau lakukan? Apa kamu sudah gila?" Tanya Laura sambil mendorong tubuh Raka dengan sekuat tenaga agar Raka menjauh darinya
"Kenapa? Bukannya kamu mendambakan ku untuk berdampingan denganmu?" Raka tersenyum dan menatap Laura yang kini begitu dekat dengannya
"Apa sekarang kamu berubah pikiran? Untuk melanjutkan pertunangan itu?" Tanya Raka lagi
Laura tersenyum, meski tidak begitu nyaman dengan posisi Raka yang terlalu dekat padanya, dan Laura tetap memperlihatkan wajah tegasnya untuk membalas setiap perkataan dan pertanyaan Raka padanya.
"Tuan Raka, aku bukan wanita yang gampang menyerah, kamu salah jika mengira bisa membuatku menolak untuk menerima perjodohan ini, hanya karena sikapmu yang seperti ini." Tegas laura Tampa melihat Raka, yang wajahnya sangat dekat dengan wajah Raka
Laura terus menahan tubuh Raka yang begitu kekar, dan sesekali melihat tangannya yang telah menyentuh dada bidang Raka
"Tuan Raka apa yang ingin kamu lakukan?" tanya Laura saat merasakan Raka tidak berdalih untuk menjauh darinya, malah makin mendorong tubuhnya sampai benar-benar menempel di tubuh Laura,
Laura memalingkan wajahnya
"Tuan Raka kamu benar-benar tidak tahu malu, kamu mengatakan tidak menyukaiku tapi apa yang kamu lakukan?" Tegas laura lagi
Dalam hati Raka tiba-tiba mengagumi sikap tegas wanita yang kini ada di hadapannya itu, dia berbalik dan melangkahkan kakinya dan tersenyum
"Nona Laura, waktu itu saat aku melihatmu untuk pertama kalinya, aku sudah tau dengan bagaimana kamu bersikap, aku tahu saat ini bukan dirimu yang sebenarnya, aku sangat tahu jelas ini sikap papaku yang sudah mengajarimu," tutur Raka dan melangkahkan kakinya mendekat lagi pada Laura dan memegang bahunya
"Jujur aku katakan aku tidak bisa bertunangan denganmu, aku sudah terlanjur mencintai orang lain. Perjodohan ini hanya kamu yang bisa membatalkannya, jadi aku berharap padamu" jelas Raka dan menatap mata laura
"Tuan Raka,, seperti yang aku katakan, aku bukan wanita yang gampang menyerah, papa dan mamaku mengajarkan ku untuk selalu mencapai yang aku harapkan kan, dan dari itu aku akan selalu mendapatkan apa yang aku inginkan" tutur Laura
Raka melepas kedua tangannya dari bahu laura dan kembali melangkahkan kakinya menuju kursi besarnya dan duduk.
"Nona Laura, apa anda sangat menginginkan menjadi keluarga Santoso?" Tanya Raka pada Laura sambil memegangi dahinya dan tersenyum.
"itu tidak jadi masalah, cukup ajak papaku untuk menikahi mu saja" jelas Raka dengan kata yang kurang ajar.
__ADS_1
"Raka kamu..
"Aku tidak ingin menjalin hubungan denganmu, jika kamu sangat ingin masuk kedalam bagian dari keluarga Santoso, jalan satu-satunya hanya itu." Jelas Raka dengan memotong perkataan dari laura
"Tuan Raka aku tidak menyangka kamu, sebagai orang yang ternama, bisa memiliki sifat yang seperti ini" tutur Laura dengan tatapan yang tajam
"Itulah aku,, dan kamu perlu tahu itu" ucap Raka dengan nada yang arogan, sengaja untuk memancing Laura agar dia mau membatalkan pertunangan yang sudah di atur oleh keluarga mereka.
"nona Laura, sekarang aku masih punya banyak pekerjaan sebaiknya anda pergi dari sini," ucapnya lagi yang membuat Laura menggertakkan giginya dan merasakan panas di hatinya akibat rasa marah yang kini mulai menjalar
"Kamu mengusirku?" Tanya Laura dengan nada yang tinggi
"Anggap saja seperti itu, aku tidak bisa menjamu tamu yang tak di undang dengan baik, apa lagi harus meladeninya dengan urusan yang sama sekali tidak penting intukku" tutur Raka sambil berjalan keluar dan pergi meninggalkan Laura.
Raka menghentikan langkahnya saat melihat Romi dan Lola yang tengah duduk santai di kursi kerjanya, sambil mendengarkan musik dan berbagi handset. dia melihat mereka dan memberi perintah pada romi
"Usir wanita yang ada di dalam, aku tidak ingin melihatnya dan ini yang terakhir kalinya aku melihatnya di kantor ini," tegas Raka pada Romi yang duduk Tampa menyadari atasannya itu telah ada di ruangannya.
Romi tidak merespon apa yang di katakan oleh Raka dia begitu asyik mendengar lagu yang di putarnya itu melalui handset.
" Bos,, ada apa" tanya Romi dengan cepat, dengan melihat tatapan mata raka yang terlihat sangat jelas ada kemarahan
"Usir wanita yang ada di dalam, aku tidak ingin melihatnya dan ini yang terakhir kalinya aku melihatnya di kantor ini," Raka mengulangi perintahnya lagi pada tomi dan kembali melangkahkan kakinya dan berjalan menuju lift.
Laura yang terdiam mematung di dalam ruangan kantor Raka, memandang pintu dengan tatapan yang seakan ingin menghancurkan pintu itu, dia mengepalkan tangannya, karena ucapan Raka yang menyebabkan rasa sakit dan rasa marah di hatinya membuat Laura sampai meneteskan air matanya.
Romi membuka pintu dan mendapati wanita itu berdiri tidak bergerak, Romi berjalan dan menghampirinya.
"Nona, maaf. Aku dapat perintah..
Sebelum Romi melanjutkan perkataannya, Laura berjalan keluar dari ruangan dan pergi Tampa berkata apapun,
Raut wajahnya terlihat sangat sedih, Laura kini berpikir dua kali untuk melanjutkan pertunangannya dengan Raka, dengan sifat Raka yang sangat tidak sopan menurutnya sama sekali tidak pantas untuk mendapatkan dirinya.
__ADS_1
Romi menaikkan satu alisnya, dan merasa bingung dengan apa yang terjadi di dalam ruangan itu barusan, dan melangkahkan kakinya berjalan keluar dari ruangan kantor atasannya
***
Shasa yang tengah duduk bersantai di luar warung Rita sambil memakan cemilan yang di buat oleh bibi Rita bersama dengan Rendi.
Dan Tampa mereka sadari di kejauhan sana seseorang telah memerhatikan nya di dalam mobil.
Seseorang yang duduk di dalam mobil terlihat begitu serius memandangi Shasa dan Rendi yang selalu saling melemparkan senyum, dan terlihat sesekali tertawa bahagia
"Nona dialah gadis itu, yang membuat tuan Raka saat itu menjadi sangat kawatir, tuan Raka sangat peduli padanya, dan terlihat di wajah tuan Raka saat melihat gadis itu, dia memiliki emosi tersendiri dalam hatinya." Ucap seseorang yang berpakaian serba hitam itu, yang berada dalam mobil bersama dengan wanita cantik yang terus melihat kearah Shasa
Wanita yang tak lain adalah Dona tersenyum
"Apa karena gadis itu yang membuat Raka tidak bisa menerima cintaku" tutur dona
"Maaf nona, tapi pria di sampingnya sekarang juga terlihat sangat peduli padanya, dia berani melawan tuan Raka demi gadis itu" ucap seseorang yang berpakaian serba hitam itu
Dona menaikkan satu alisnya, dia melepaska kecamatan hitam yang di pakainya. Dia terus memandangi Rendi yang begitu tampan sambil terus memperlihatkan senyum manisnya pada gadis di dekatnya itu.
"Kalian tahu siapa pria itu?"tanya Dona pada algojonya itu
Lelaki bayaran itu mengangguk
"Dia adalah seorang dokter, dia bernama dokter rendi, dia putra dari dokter Antoni yang terkenal itu. Menurut informasi yang kami dapat, mereka semua yang sudah membesarkan gadis itu, terutama pemilik warung itu, dia yang memiliki hak asuh untuknya, sedangkan dokter Antoni juga begitu menyayangi gadis itu seperti putri kandungnya sendiri." Jelas dari algojo itu.
Dona mengangguk-anggukkan kepalanya dia kembali memakai kacamata hitamnya, dan menyuruh algojonya itu untuk menjalangkan mobil dan pergi dari tempat itu.
Sesekali senyum jahatnya terlihat di wajah Dona.
"Hanya karena gadis itu, Raka sampai menolak ku? Raka kita lihat saja, bagaimana aku memperlakukan gadis pujaan mu itu." Ucap Dona pada dirinya sendiri
"Tetap untuk mencari informasi tentang gadis itu, dan juga dengan dokter Rendi cari tahu apa hubungan dari mereka" perintah Dona pada algojonya itu.
__ADS_1
"Baik nona," algojo itu mengangguk dan terus melajukan mobilnya itu