
Pernyataan dokter Antoni, membuat Raka jadi hampir gila, dia tersenyum tapi sebenarnya dia menangis, tak ada kata-kata lagi yang bisa iya ucapkan selain terus menggelengkan kepalanya
Andra yang ada di luar kamar melangkahkan kakinya, berjalan menuju ruang pribadinya, dia tidak tega dengan ke adaan Shasa yang tidak sadarkan diri.
Andra belum bisa mempersiapkan diri untuk menerima kenyataan jika harus kehilangan Shasa
"Shasa,, bangun ini bibi.. lihat disini juga ada Rendi dan Antoni, apa kamu tega melihat kami bersedih seperti ini? Shasa bangun.. bibi janji setelah kamu bangun bibi akan sering-sering memberimu libur, bibi tidak akan selalu menyuruhmu untuk menjaga warung, bibi mohon bangun" Rita yang di dekat Shasa mencoba untuk terus membangungkannya
"Shasa jika kamu tidak mendengarkan bibi, jika kamu tidak bangun bibi akan marah padamu, bibi akan benar-benar marah dan tidak akan memaafkanmu."
Antoni dan Rendi hanya bisa melihat dan mendengar Rita, terus berusaha untuk membuat Shasa sadar, mereka berdua tidak bisa melakukan apa-apa yang membuatnya merasa kecewa pada diri sendiri, mereka hanya bisa meneteskan air mata kesedihan, yang tidak akan bisa membantu apa-apa.
("Shasa jika kamu benar-benar akan pergi maka bawa aku bersamamu, aku mencintaimu dan akan selalu bersamamu, cinta dan kasih sayangku tidak akan pernah membiarkan mu pergi sendiri, di dunia ini kita tidak bisa bersama dan berbahagia, maka aku nantikan kebahagian kita di dunia lain") Ucap Raka dalam hatinya
Raka berdiri, dan melangkahkan kakinya berjalan menuju pintu kamar, tanpa menoleh untuk melihat Shasa yang masih terbaring, tidak melihat Rita, Antoni ataupun Rendi
Rita yang memegang tangan Shasa merasakan jika Shasa sedang menggerakkan jemari tangannya
"Shasa,," ucap Rita dan melihat jemari tangan Shasa, memastikan bahwa yang iya rasakan itu benar nyata.
Tidak menunggu lama, jari-jari Shasa bergerak lagi, Rita Tersenyum
"Shasa.." ucap Rita dengan keras
"Kamu sudah bangun?" Ucap Rita lagi dengan sangat bahagia, Rendi dan Antoni dengan cepat mendekat, dan memastikannya.
Raka yang sudah berada di luar kamar menghentikan langkahnya, saat mendengar Rita menyebut nama Shasa dengan keras, dengan air mata yang terus menetes dia tersenyum
David yang terus berdiri di dekat pintu, mengetahui Shasa sudah tersadar dengan cepat berjalan menuju ruang kerja Andra. Dia terus berjalan tanpa menghiraukan Raka yang berdiri mematung di luar kamar
Shasa dengan pelan membuka matanya, mengedip-ngedipkan matanya, dia mengucek matanya setelah lama tertidur dan ketika iya mulai sadar jika Rita, Rendi dan Antoni sudah ada di dekatnya, Shasa yang lemah dengan pelan mencoba untuk bangun
"Tidak,, jangan bangun tetaplah berbaring," ucap dokter Antoni
Shasa menurut dengan apa yang dikatakan oleh dokter Antoni
__ADS_1
"Bibi kamu menangis?" Tanya shasa saat melihat pipi Rita yang masih basah.
"Tidak,," Rita menggelengkan kepalanya
"ini hanya air yang belum kering setelah bibi membasuh muka," jawab Rita sambil menghapus air matanya
***
Tok.. tok.. tok..
Andra yang terus berdiri menatap foto Rossa (ibunya) menoleh saat mendengar pintu ruangannya
Kleek... Pintu terbuka dari luar dan David pun masuk tanpa menunggu ijin dari Andra
"Tuan nona Shasa sudah sadar" ucap David
Mendengar kabar yang di bawakan oleh David Membuat Andra begitu bahagia, dia kembali menatap foto ibunya dan Tersenyum
"Terimakasih," ucapanya sambil berjalan keluar dari ruang pribadinya
Raka yang masih tetap terus berdiri di luar kamar, melihat Andra yang tengah berjalan melewatinya, masuk kedalam kamar Shasa.
"Kak Andra" ucap Shasa saat melihat Andra berjalan masuk kedalam kamarnya, sambil mencoba untuk bangun dan di bantu oleh rita dan Rendi
Andra Tersenyum bahagia melihat saudarinya itu tersadar
"Kamu sudah bangun?" Ucap Andra dan langsung memeluk Shasa
Shasa menganguk
"Kak ada apa? Apa sesuatu terjadi?" Tanya Shasa yang sudah merasa heran dengan tingkah mereka yang ada di dekatnya.
disaat masih ada di dalam pelukannya Andra, Shasa melihat Raka yang sudah berdiri di ambang pintu, Shasa dengan cepat melepas pelukan Andra darinya
"Raka,, kamu juga ada disini?" Shasa yang melihat Raka, sudah mengerti dengan apa yang terjadi sebenarnya.
__ADS_1
Semuanya menoleh saat mendengar Shasa menyebut nama Raka
"Apa yang sudah terjadi padamu?" Tanya Shasa lagi, saat melihat tampang Raka yang babak belur akibat, pukulan dari para bawahan Andra
Raka tidak menjawab pertanyaan dari Shasa, dia terus memperlihatkan senyum bahagia di bibirnya, meski mencoba untuk menyembunyikan rasa sedihnya, namun itu tidak bisa iya lakukan, air matanya tetap terus mengalir, Meski senyum di bibirnya terlihat begitu bahagia
"Shasa,," suara yang serak dan gemetar terdengar keluar dari mulutnya.
Shasa yang Mengetahui jika Raka sudah tahu akan penyakitnya, tidak membuatnya untuk terlihat dingin lagi padanya, Shasa Tersenyum menyambut kedatangannya
"Apa aku bisa bicara denganmu?" Tanya Raka, yang terus melangkahkan kakinya yang terasa berat
Mendengar pertanyaan Raka, Shasa tidak langsung menjawab, dia melihat Andra, Rita, Rendi dan dokter Antoni.
Andra mengangguk, dengan mengisyaratkan agar dia setuju.
Selain Shasa dan Raka semua yang ada dalam kamar keluar tapi tetap membiarkan pintu kamar tetap terbuka
Setelah semuanya sudah keluar, Raka yang sudah berdiri di dekat Shasa duduk di sisi ranjang menghadap pada Shasa dan langsung memeluknya, dan diiringi dengan air mata
Shasa Tersenyum
"Jangan menangis? Aku masih hidup. aku tidak ingin melihat air matamu jatuh karena ku, itu yang membuatku selalu ingin menjauh darimu, aku tidak ingin melihatmu bersedih setelah tahu semuanya, tapi.. itupun tidak terelakkan kamu tetap mengetahui semuanya Sebelum aku pergi"
Mendengar ucapan dari Shasa Raka mempererat pelukannya
"Jangan mengatakan apapun lagi, kamu akan baik-baik saja, semuanya akan baik-baik saja, tidak akan ada yang akan terjadi padamu," Raka terus memeluk Shasa
Shasa kembali tersenyum
"Dulu aku selalu menginginkan kematian datang padaku, aku merasa sudah cukup menderita dengan penyakit yang setiap saat menyiksaku, setiap hari aku harus terus berpura-pura bahagia dan jadi gadis yang periang" Shasa menghela nafas
"tapi setelah bertemu denganmu, aku jatuh cinta padamu! Dan Saat itu aku mulai takut" kini pun suara tangisan Shasa terdengar, Raka melepas pelukannya, dan menatap mata Shasa dengan Memegang wajahnya dengan kedua tangannya
"Raka.. aku pun juga ingin hidup lebih lama lagi, aku juga ingin merasakan hidup bahagia bersama orang yang aku cintai, aku takut.. tapi penyakit ini tidak ingin pergi dariku.
__ADS_1
"Dulu dokter selalu menyarankan agar aku mau melakukan operasi tapi meski aku selalu menginginkan kematian saat itu, aku tetap takut" Shasa mulai mengeluarkan semua pikiran yang ada di kepalanya
"Jika tahu akan seperti ini, dulu aku akan melakukan operasi, mati atau hidup itu tidak akan ada bedanya