
"Baiklah,," Santoso terdiam lagi untuk sesaat dan kemudian menghela nafas dengan kasar
"kedatanganku kemari, ingin mengabari mu, jika aku sudah memutuskan untuk membuatmu bertunangan dengan Laura, putri dari Irawan.
Mata Raka seketika membulat mendengar pernyataan dari papanya Santoso, dan menatapnya dengan tajam.
"Papa merencanakannya, tepat di hari ulang tahunmu nanti! papa akan mengumumkannya, di media dan seluruh kolega bisnis papa dan kamu." Jelas Santoso dengan wajah yang tidak memiliki rasa bersalah.
Raka berdiri menghentakkan kedua tangannya di atas meja dan menatap marah pada Santoso yang masih duduk di hadapannya.
"Aku tidak akan bertunangan!" Jelas Raka dengan wajah yang memerah akibat rasa marah dalam hatinya
"Tidak,,,, kamu harus melakukan itu. Itu sudah menjadi keputusanku," tegas Santoso lagi
"Atas dengan dasar apa kamu dengan begitu percaya diri menjodohkan ku Tampa persetujuan dariku?" Tutur Raka
"Raka, kamu adalah putraku, dan aku punya hak untuk mengatur hidupmu dan mengatur perjodohan untukmu, ingat kamu itu adalah Raka Santoso, namaku masih tercantum di belakang namamu! Dari itu aku punya hak untuk mengatur kebahagiaanmu" jelas Santoso hingga membuat Raka mengepalkan tangannya dengan amarah yang sudah berkobar dalam hatinya.
Raka tersenyum sinis
"Kamu sungguh lucu, apa kamu sudah lupa dari dulu aku sudah memutuskan hubungan denganmu, dan nama itu aku bisa saja dengan muda menghapusnya, jadi jangan mengurusku lagi. Tampa ikut campur darimu aku bisa bahagia" jelas Raka dengan tatapan yang marah
"Raka, nama bisa dirubah tapi hubungan dara itu tidak bisa di pungkiri, dan papa sudah mengatakan yang ingin papa sampaikan, kamu harus ingat di hari ulang tahunmu kamu harus hadir, seseorang akan menjemputmu di waktu yang tepat" tegas Santoso lagi sambil berdiri dari duduknya dan berjalan keluar dari ruangan raka
Lola dan Romi yang dari tadi berdiri di dekat pintu, menundukkan kepalanya dengan penuh hormat saat melihat Santoso melihat ke arahnya. Dan dengan cepat membuka pintu untuknya
Setelah Santoso telah berlalu pergi, Raka dengan marah meninju meja kerjanya hingga membuat luka di jari-jarinya, dia melemparkan benda yang ada di atas meja sebagai pelampiasan dari amarahnya itu.
"Bos,, tenangkan diri anda" Romi yang melihat atasannya itu marah di luar kebiasaannya mencoba untuk menegurnya, ini baru pertama kalinya dia melihatnya marah seperti itu hingga membuatnya memberanikan diri untuk menenangkannya.
Dengan kemarahan yang masih menyelimuti hatinya, tiba-tiba telpon kantornya berbunyi, Raka mendengarnya namun tidak menghiraukannya dari itu Romi dengan cepat mengangkat dan berbicara dengan orang yang sedang menelfon itu.
"Halo,," jawab Romi saat mendekatkan telfon itu di telinganya
"Tuan Anton,, ada apa?" Tanya Romi sambil melihat Raka
__ADS_1
Mendengar nama Anton di sebut oleh Romi, dengan cepat Raka berdiri dan mengambil telfon itu dari tangan Romi
"Ada apa? Tanyanya dengan nada dingin.
"Tuan aku dari tadi menghubungi ponsel anda tapi tidak ada jawaban, nona Shasa keluar rumah dari itu aku menghubungi anda melalui telepon kantor anda
"Dia kemana? Tanya Raka penasaran.
"Tidak tahu tuan, nona Shasa tidak mengatakannya, Tapi dia berjanji hanya sebentar dan kemudian kembali lagi" jelas Anton
"Baik aku mengerti" ucap Raka dan menutup panggilan dari Anton
Raka berjalan dan mengambil ponsel dan melihatnya! memang ada beberapa panggilan tak terjawab dari anton, dan Raka juga melihat ada beberapa panggilan dari fiona.
***
Tok.. Tok.. tok..
Shasa terlihat mengetuk pintu dan terlihat membuka pintu itu saat sudah mengetuknya, meski tak ada Jawaban dari dalam, kebiasaan Shasa masuk kedalam ruangan itu Tampa ada persetujuan dari orang yang ada di dalam.
Orang itu yang tak lain adalah dokter Antoni berdiri saat melihat Shasa berjalan masuk.
"Shasa kamu datang?" Ucap dokter Antoni dengan wajah yang terlihat senang.
"Kamu,, apa yang terjadi padamu, Rendi mengabari om jika kamu menghilang, sini om lihat apa kamu terluka?" Tanya dokter Antoni sambil melihat-lihat bagian tubuh Shasa
"Tidak om.. Shasa baik-baik saja, Shasa Hanya mengalami luka kecil dan ini juga sudah di obati pada dokter Reza" jelas Shasa sambil tersenyum
"Apa om boleh tahu! Memangnya apa yang terjadi kemarin?" Tanya dokter Antoni dengan rasa ingin tahu
Shasa tersenyum
"Om Shasa tidak ingin mengungkit masalah kemarin dan Shasa tidak ingin mengingat kejadian itu lagi" tegas shasa dengan wajah yang terlihat sedih
"Baiklah jangan di pikirkan!" Ucap dokter Antoni yang selalu tidak tega saat melihat Shasa memperlihatkan wajah sedihnya itu.
__ADS_1
Shasa mengangguk dan melangkahkan kakinya menarik kursi yang ada di depan meja dokter Antoni dan duduk tanpa menunggu untuk di persilahkan
"Om,, obat Shasa sudah mau hampir habis," tuturnya pada dokter antoni hingga membuat dokter antoni mengangguk-anggukkan kepalanya
"Om mengerti, bagaimana perasaanmu akhir-akhir ini, apa penyakitmu itu sering kambuh" tanyanya dengan nada yang cemas
Shasa hanya tersenyum tidak menjawab pertanyaan dari dokter Antoni.
Melihat tatapan dari mata Shasa, dokter Antoni sudah mendapat Jawaban dari apa yang di pertanyakan nya.
Dia berdiri dan terlihat membuka lemari yang di penuhi dengan macam-macam obat di dalamnya.
"Shasa,, om ada mengenal seorang dokter yang ahli dari penyakit yang seperti kamu derita, om ingin bermaksud untuk mengajakmu menemuinya dan memeriksakan penyakitmu itu. Dan juga om ada teman dekat, dokter ahli bedah! jika kamu tidak keberatan om ingin mengajakmu untuk menemui mereka." Jelas dokter Antoni sambil berjalan dan duduk di depan Shasa.
"Pikirkan saja dulu, jangan terburu-buru untuk mengambil keputusan, om tidak memaksamu dan tidak akan mendesak mu, om hanya menginginkanmu untuk sembuh." Ucapnya lagi sambil memberi obat pada Shasa
"Terimakasih om,, Shasa akan memikirkannya" tuturnya sambil tersenyum
"Jangan memberitahu bibi jika aku kemari dan juga tentang lukaku ini, om tahu jelas bagaimana dengan sifatnya" jelas Shasa lagi
"Baik om mengerti" sambil menganggukkan kepalanya
Shasa tersenyum melihat anggukan dari dokter antoni
" Kalo begitu Shasa balik dulu, Shasa tidak ingin orang di kediaman Raka mencari ku karena berlama-lama diluar" ucap Shasa dan berdiri dari duduknya
"Kamu tinggal di rumah Raka Santoso?" Tanya dokter Antoni
"Bener om,, karena Shasa tidak ingin membuat bibi sedih jadi aku harus menghindar darinya untuk beberapa waktu, dan om jangan kawatir Raka sangat baik pada Shasa dan semua yang ada di dalam rumah itu sangat ramah pada shasa" jelasnya dengan senyum manis di bibirnya
Dokter Antoni melihat ada kebahagian dalam tatapan matanya, saat Shasa menyebut akan kebaikan Raka padanya, dan disitu dokter Antoni menangkap sebuah kebenaran jika Shasa mulai menyukai Raka
"Jika itu membuatmu merasa nyaman, om akan turut senang," tutur dokter Antoni
"Kamu hati-hati di jalan, jangan sampai hal kemarin terjadi lagi
__ADS_1
Shasa mengangguk lagi dan berjalan keluar dari dalam ruangan dokter Antoni dan pergi meninggalkan klinik dokter Antoni dengan mengendarai taksi