
Setelah beberapa hari telah berlalu, luka di kaki Shasa sudah sembuh, Shasa yang bagaikan putri di dalam kediaman Andra, sangat di perhatikan oleh para pembantu ataupun para pelayan di kediaman itu, dan sangat di segani oleh mereka! karena Andra sangat peduli dan memperhatikannya, shasa hidup bak putri raja.
Karena kebahagiaan yang di dapatkan oleh saudara kandungnya, oleh Rita, dokter Antoni, dan Rendi yang sudah sering mengunjunginya, membuatnya Sesekali berpikir jahat dan egois, karena tidak ingin mati dan meninggalkan kebahagiaan yang seharusnya dia rasakan untuk selamanya.
Shasa sering berpikir untuk meminta Andra agar mau mencarikan, orang yang mau mendonorkan hati untuknya, tapi sifat akan merasa puas dan bersyukur membuatnya membuang pemikirannya itu, yang sudah membuatnya akan rakus dalam kehidupan.
Shasa yang tengah duduk di ruang tamu, dengan wajah yang makin hari makin memucat, lingkar mata menghitam dan rambutnya pun kini mulai menipis.
Sesekali dia menghela nafasnya, untuk bisa menenangkan pikirannya yang selalu saja memikirkan tentang penyakitnya yang bisa saja membuatnya mati dalam sekejap.
Ada rasa tak rela, jika harus pergi secepat itu! namun dia pun terus meyakinkan hati dan pikirannya dan mulai pasrah dengan apa yang akan terjadi di kemudian hari
"Apa yang sedang kamu pikirkan?" Tiba-tiba suara tanya terdengar membuat Shasa yang terlihat sedang bersantai menoleh dan melihat Andra yang berjalan ke arahnya.
"Kak Andra,," Shasa Tersenyum
"kakak tidak ke kantor hari ini?" Tanya balik Shasa sambil bersandar di sofa dengan perasaan yang malas
Andra membalas senyuman Shasa dan duduk di sampingnya
"Hari ini tidak ada pekerjaan yang penting, mereka yang ada di sana bisa menyelesaikan semuanya Tampa adanya kakak" jelas Andra
"Ada apa? Apa kamu merasa bosan di rumah?" Tanya Andra sambil menatap Shasa dan menyentuh wajah pucat saudarinya itu
Tok... Tok.. tok.. tiba-tiba dari luar terdengar suara ketukan! Andra dan Shasa menoleh dan melihat ART masuk dan menghadap Andra
"Tuan,, seseorang membawa surat undangan untuk anda," jelas ART itu
Andra menerima undangan itu dan membukanya membaca isi dalam undangan itu dan Tersenyum
"Undangan dari siapa kak?" Tanya Shasa sambil memperbaiki posisi duduknya dan melihat Andra yang tengah Memegang surat undangan itu
"Undangan dari Irawan, besok malam akan mengadakan pesta ulang tahun untuk putrinya Laura" jelas Andra
"Bagaimana menurutmu? Apa kamu berniat untuk hadir?" Tanya Andra
__ADS_1
Dengan cepat Shasa menggelengkan kepalanya
"Tidak,, Shasa tidak ingin kesana!"
"Kenapa? Apa karena Raka? Apa kamu tidak ingin bertemu dengannya dan melihatnya?" Tanya Andra, dan sedang menggoda Shasa
"Kak Andra,," Shasa memukul lengan Andra dan Tersenyum malu
Setelah kejadian di hotel itu Shasa tidak pernah melihat Raka lagi, rasa rindu di hatinya, membuatnya berpikir untuk ikut hadir di pesta itu karena meyakini Raka pun pasti akan hadir! Tapi lagi-lagi Shasa menggelengkan kepalanya
"Tidak,, aku tidak ingin bertemu dengannya, jika aku menemuinya itu akan membuatnya sakit hati lagi, luka di hatinya akan bertambah jika bertemu denganku" ucap Shasa
"Baiklah,, kakak tidak akan mengajakmu." Jelas Andra
***
Di luar ruangan kantor Raka, Romi berdiri dan mengetuk pintu meski sebenarnya dia malas untuk masuk kedalam ruangan atasannya itu
Tok.. tok.. tok.., meski merasa malas, namun Romi tetap harus mengetuknya.
Tok.. tok.. tok.., namun tetap saja tak ada jawaban! Romi nekat untuk masuk meskipun tidak mendapat izin dari atasannya itu.
Kleek... Suara pintu terbuka dari luar, Romi melangkahkan kakinya berjalan masuk dan berdiri di depan meja atasannya itu
"bos,,," Romi yang merasa ragu, memberanikan diri untuk menjulurkan tangannya memberi undangan pada Raka yang tengah duduk di kursi besarnya sambil memijit keningnya, tapi usahanya itu tidak mendapat respon dari si bos yang berwajah dingin! Akhirnya Romi menyimpan surat undangan yang ada di tangannya di atas meja.
Raka yang memasang wajah murung, tidak menoleh ataupun bereaksi saat Romi menaruh undangan itu di atas mejanya
"Bos,, Undangan ini dari tuan Irawan. Nona Laura akan merayakan hari ulangtahunnya dan mengundang anda untuk hadir," jelas romi
"dan bukan hanya anda! seluruh kolega bisnisnya di undang termasuk juga dengan Andra" Romi yang menginginkan Raka merespon setiap ucapannya, Mencoba untuk memasukkan nama Andra dalam ucapannya, namun itu tidak dengan apa yang iya pikirkan, Raka menatap jutek padanya, hingga membuatnya merasa tak nyaman. Untuk mengalihkan perhatian atasannya itu dari ucapanya yang sudah lewat, dia mengganti topik untuk di jadikan pengelakan dari tatapan mata yang seram itu.
"Bos maaf,, jika baru memberitahu anda, beberapa hari yang lalu dokter Reza mencari anda, dia ingin bertemu dan mengatakan sesuatu pada anda" ucap Romi
Raka yang mendengarnya mengerutkan kening,.
__ADS_1
"Apa yang ingin iya bicarakan?" Tanya Raka
"Aku juga kurang tahu pasti bos, Dokter Reza tidak memberitahuku," Jawab Romi.
***
Di sisi lain Santoso duduk terdiam, dan dia hanyut dalam lamunannya, membuatnya tidak sadar jika Irawan yang dari tadi mengetuk pintu masuk Tampa di persilahkan olehnya.
Irawan berjalan masuk dan menghampiri Santoso yang menatap sebuah dokumen di depannya dengan tatapan yang kosong.
Irawan melambaikan tangan di depan wajahnya namun Santoso tidak memberi ekspresi apapun, membuat Irawan menepuk bahu temannya itu
Santoso tercengang dan melihat Irawan yang sudah berdiri di hadapannya.
"Sejak kapan kamu berdiri di situ?" Tanya Santoso pada Irawan
"Apa yang kamu pikirkan, sampai-sampai tidak menyadari keberadaanku?" Tanya balik Irawan
"Hheeemmm..." Santoso menghela nafas panjang, dan berdiri dari duduknya
"Selama ini aku termakan oleh kebohongan dara, aku sudah begitu mempercayainya, tapi dia malah menyalah gunakan kepercayaan ku itu!" Santoso tertunduk malu
" Sekarang aku merasa malu dan bersalah pada Ratna, selama tiga belas tahun aku terlihat bodoh di hadapannya, karena mempercayai Dara yang sudah mempermainkan ku" tutur santoso
Irawan menarik kursi yang ada di dekatnya dan duduk di hadapan Santoso
"Jadi apa rencana mu sekarang?" Tanya Irawan dengan tatapan serius
Santoso menggelengkan kepalanya
"Mungkin aku hanya bisa untuk mendengarkan dan menuruti perkataan darinya, untuk menebus kesalahanku padanya! Aku hanya bisa mengikuti aturannya untuk membatalkan pertunangan Raka dengan Laura" jelas Santoso
"Benar apa yang kamu ucapkan, sekarang kita sudah tua, sebaiknya kita jangan ikut campur dengan kehidupan anak muda, aku pun berpikiran sama denganmu! Laura tidak menginginkan pertunangan itu, ada baiknya jika kita membatalkannya" ucap Irawan
Santoso pun mengangguk setuju dengan apa yang dikatakan oleh Irawan
__ADS_1
"Besok hari ulang tahun Laura, sebaiknya kita mengumumkan tentang pembatalan perjodohan Mereka" jelas Irawan