
Disisi lain Rita dan Shasa sedang sibuk untuk menutup warungnya.
Setelah selesai mengunci pintu, Rita dan Shasa berjalan sambil bergandengan tangan menuju rumah yang mereka tempati.
"Bibi.. Lihat sekarang langit malam terlihat sangat indah, bulan bersinar terang dan langit malam di penuhi dengan bintang-bintang yang berkilau." Ucap Shasa sambil menunjuk kearah langit
Rita mengangguk membenarkan ucapan shasa
"Benar,, sangat indah mungkin ini akan bertanda baik." Jelas Rita
"Menurut bibi hal baik apa yang akan terjadi? Apa mungkin seseorang akan datang dan melamar bibi?" Ucap Shasa
Setelah mengucapkan itu, Tawa Shasa terdengar meledek, Dia berlari di jalan berusaha menjauh dari rita.
"Dasar gadis nakal, Awas saja jika aku mendapatkan mu,"bTeriak Rita dengan nada marah
Shasa terus tertawa, Mereka berdua terus berjalan sambil bercanda gurau di jalan dan pada akhirnya mereka pun sampai di pekarangan rumah.
"Bibi.. sudah jangan marah lagi, Shasa hanya bercanda" Ucap Shasa menenangkan Rita sambil memeluk lengan rita
Melihat Shasa yang kini ada di dekatnya, dengan cepat rita menjewer telinga Shasa.
"Aaaa.. aaaohk.. Bibi ini sakit, tolong lepasin. Shasa janji tidak akan mengulanginya lagi." Ucap Shasa dengan cepat dan menjerit kesakitan
Rita pun melepaskan tangannya, Dan dengan cepat Shasa memeluknya lagi dan mencium pipi bibi rita
"Bibi terlihat sangat cantik jika sedang marah" Ucap Shasa sambil menatap Rita yang memasang wajah murung dan tersenyum
"Shasa.." Bentak surti
Shasa langsung mengangkat kedua tangannya, menandakan jika dia menyerah.
"Sudah jangan bercanda lagi, cepat masuk," Ucap Rita yang kini membuka pintu rumah,
Namun saat Shasa hendak berjalan masuk, tiba-tiba sebuah mobil mewah yang hilang kendali melaju begitu kencang, masuk dalam pekarangan rumah Rita,
Mobil yang jaraknya dengan Shasa tinggal beberapa langkah lagi, Di rem mendadak oleh si pengemudi. Kejadian itu membuat Jantung Shasa hampir melompat keluar dari dalam.
Dengan hal itu dengan cepat Rita berlari keluar, menghampiri Shasa yang kini terdiam mematung.
"Kamu tidak apa-apa?" Rita memeriksa tubuh Shasa dengan panik, dan memeluknya
"Bi Shasa baik-baik saja, Tapi bi.. sepertinya pengemudi dalam mobil itu sepertinya tidak." Ucap Shasa melihat kearah mobil yang tengah terparkir paksa itu
__ADS_1
"Syukurlah jika kamu baik-baik saja," Ucap Rita dan melepaskan pelukannya, dan melihat ke arah mobil.
Rita berjalan menghampiri mobil mewah itu dan memukul-mukul kaca jendela mobil. Dan mengomeli si pengemudi yang masih ada di dalam mobil
"Hey.. Jangan bersembunyi di dalam
keluar kamu" Ucap Rita dengan marah
"Kamu tidak bisa menyetir ya?" Ucap Rita lagi
Pintu mobil pun terbuka, Raka yang tengah mabuk berat keluar dari mobil dan memuntahkan semua isi dalam perutnya di hadapan Rita.
Uaaakk..
Melihat itu Rita dengan segera menghindar dan menjauh dari Raka Dan mendekat pada Shasa. Rita dan Shasa terlihat menutup hidung memasang wajah yang terlihat jijik, sambil mengipas-ngipasi tangannya di depan hidung dan mulutnya.
Setelah memuntahkan semua isi perutnya,
Raka mencoba berdiri tegak, meski tetap tidak bisa. Dia melangkahkan kakinya mencoba menghampiri Rita dan Shasa, namun langkah kakinya sepoyongan akibat mabuk berat, Sesekali Raka hampir terjatuh, tapi dia tetap berusaha untuk menyeimbangkan tubuhnya
Rita dan Shasa yang melihatnya berjalan menghampiri Raka,
"Kamu mabuk?" Tanya Shasa polos
"Maaf jika membuat anda kaget, Itu di luar kesengajaan" Ucap Raka yang berdiri di depan Rita dan Shasa, dengan yang tubuh yang melemas
Raka yang tidak bisa mengendalikan rasa mabuknya, hampir terjatuh di depan Rita dan Shasa, Namun dengan sigap Rita dan Shasa menangkapnya
"Ya.. ya... Ya .. Hey Kamu jangan pinsang di sini!" Ucap Rita yang berusaha menahan tubuh Raka yang berat
Raka yang hampir jatuh tersungkur di tahan oleh Rita dan shasa. Mereka menopong tubuh pria yang kini tidak bisa berjalan dengan normal, Membawanya ke teras rumah mereka dan mendudukkannya di lantai
Raka yang setengah sadar, tiba-tiba memeluk kaki rita
"mama.. Kamu sudah kembali? Kenapa baru sekarang? Setelah dua belas tahun telah berlalu, kenapa baru menemui Raka?" Tanya Raka dengan suara yang serak menahan tangis sambil memeluk kaki Rita yang sedang berdiri di dekatnya.
Dalam mabuk Raka hilang kesadaran, dia seperti orang yang kehilangan jatih diri, Pria dingin dan angkuh itu dalam sekejap hilang menjadi seperti seorang anak kecil.
"Mama Jangan tinggalin Raka lagi, Raka mohon. Saat ini Raka sangat merindukanmu" Raka terus memeluk kaki Rita dengan erat hingga Rita susah untuk melepaskannya
Rita menjadi bingung melihat tingkah Raka yang merengek sambil memeluk kedua kakinya
"Apa yang kamu lakukan, Cepat lepaskan
__ADS_1
Kamu sudah salah mengenali orang" Jelas rita sambil memukul-mukul tangan Raka yang menempel seperti lem di kakinya
Shasa yang melihat Tak tinggal diam, Shasa pun ikut membantu, melepaskan tangan pria itu dengan cara menarik tangannya.
"Kamu gila ya? Dia bukan mamamu. Cepat lepaskan! Hey .. Apa kamu tidak mendengarku? Dia itu bibi Rita bukan mama kamu " Ucap Shasa yang terus menjelaskan jika bibi Rita bukan mamanya.
Dengan susah payah Tangan Raka pun berhasil di lepaskan, Namun Raka berbalik memeluk Shasa yang berada di depannya
"Tidak.. tidak.." Raka menggelengkan kepalanya
"Jangan pergi, jangan tinggalkan Raka,
Raka mohon" Ucap Raka dengan air mata yang sudah menetes membasahi pipinya.
"Mama Raka tidak ingin tinggal dengan papa, jangan pergi.." Ucap Raka lagi.
Mendengar itu hati Shasa menjadi tersentuh. Dengan air mata yang jatuh bercucuran, membuat baju di bahu Shasa menjadi basah. Dengan tidak sadar shasa mengelus-elus punggung Raka,
"Jangan kuatir tidak ada yang akan meninggalkanmu, Tenanglah" Ucap Shasa, dengan nada yang berat seakan mengerti rasa sakit yang di rasakan oleh raka.
"Tenanglah,, Tidak akan ada yang meninggalkanmu." Ucap Shasa lagi
Rita yang berdiri melihat adegan itu seakan ikut terharu dalam suasana yang
Mengharukan itu. Melihat Shasa terbawah emosi, Rita pung mengelus punggung Shasa.
Rita melihat mata Shasa yang mulai berkaca-kaca, melihat ada kesedihan dalam tatapan matanya itu. Namun Rita sangat yakin masa lalu Shasa sudah pasti dia lupakan, di usianya yang dulu tidak mungkin dapat mengingat akan kejadian pahit yang menimpanya. Rita duduk di samping Shasa yang masih ada dalam pelukan Raka, yang terus mengucapkan kata-kata yang membuat mereka jadi terharu
Shasa terus mengelus-elus punggung Raka yang memeluknya dengan erat. Terus menenangkan Raka yang menangis seperti anak kecil. Dan saat itu pun Raka tidak bersuara lagi, dia pun tertidur sambil memeluk Shasa.
Dengan tubuh kecil Shasa, Dia tidak mampu menahan berat badan Raka yang begitu berat, Shasa ikut jatuh terlentang dari duduknya, akibat dia tidak kuasa menahan timpahan tubuh Raka yang kini masih memeluknya.
Suasana haru yang baru saja terjadi berubah menjadi mengesalkan
"Uhuk.. uhuk.. uhuk.. Bibi... Shasa tidak bisa bernafas, Tolong shasa, Uhuk.. uhuk.. uhuk..
Pelukan erat dan timpahan tubuh dari Raka yang berat membuat Shasa sulit untuk bernafas
"Hey.. Bangun.." Shasa memukul-mukul lengan Raka dan sesekali mencoba untuk mendorongnya agar Raka melepaskan pelukannya
"Kamu sangat berat cepat bangun. Kamu akan membunuhku jika menimpaku seperti ini" Ucap Shasa dan berusaha terlepas diri dari pelukan raka
Rita yang duduk di samping Shasa berusaha membatunya, dengan sekuat tenaga menarik tubuh Raka yang ada di atas tubuh Shasa dengan posisi memeluknya.
__ADS_1