
Triwijaya dan Dona terlihat sedang berjalan dengan santai, memasuki sebuah restoran mewah yang ada di kota itu
"Pa,, apa menurut papa! Tuan Santoso akan menerima undangan dari kita? Melihat kesibukan dirinya yang selalu bekerja, apa papa yakin dia memiliki cukup waktu untuk bertemu dengan kita?" Tanya Dona yang terlihat tidak yakin pada papanya
Triwijaya hanya tersenyum dan tidak menjawab pertanyaan dari dona, dan terus melangkahkan kakinya berjalan menuju meja yang sudah di pesannya
Mereka berdua duduk sambil menunggu kedatangan Santoso yang sudah iya undang untuk menemuinya di restoran itu
"Dona tidak yakin dengan hal ini, bukannya papa mengatakan akan mendatangi kediamannya, kenapa malah mengundangnya kemari?" Tutur Dona
"Tenang saja dan percaya pada papa, Santoso tidak lama akan muncul, dia itu lelaki yang tepat waktu" jelas triwijaya dengan sangat yakin
Dan benar juga tidak lama kemudian Santoso terlihat berjalan seorang diri menuju meja yang sudah di pesan oleh triwijaya.
Triwijaya tertawa sambil menyambut kedatangan Santoso
"Ha-ha-ha,, Tuan Santoso lama tidak bertemu, maaf jika mengajakmu bertemu dengan secara tiba-tiba" ucap triwijaya sambil menjabat tangan Santoso dan mempersilahkan Santoso untuk duduk
"Silahkan duduk" ucap triwijaya lagi
"Terimakasih, wah.. triwijaya aku tidak bisa mengingat kapan terakhir kali kita bertemu! Ini sudah sangat lama, sampai-sampai mengenali wajahmu saja rasanya aku sudah lupa di masa mudah kita" tutur Santoso dan duduk di kursi
Mereka terlihat begitu akrab membuat Dona merasa tidak percaya jika papanya, begitu kenal dan akrab dengan Santoso, tapi itu juga membuat Dona senang, melihat kedekatan papanya dengan Santoso membuatnya merasa jika dirinya memiliki kesempatan untuk mendapatkan Raka.
"Oh iya,, apa yang membuatmu sampai harus mengundangku kemari?" Tanya Santoso yang langsung pada intinya
Triwijaya tertawa lagi, dan Sebelum menjawab pertanyaan Santoso dia menunjuk Dona yang tengah duduk di dekatnya dan memperkenalkannya pada santoso
"Oh iya ini perkenalkan dia putriku" ucap triwijaya
Santoso melihat Dona dan merasa tidak asin padanya
__ADS_1
"Sepertinya kita pernah bertemu! Tapi om tidak yakin itu di mana," tutur Santoso dan menjulurkan tangannya
"Benar om," Dona membenarkan perkataan Santoso dan membalas uluran tangan Santoso, untuk memperkenalkan diri
"Aku Dona, aku adalah mitra bisnis dari Raka, kita pernah bertemu sebelumnya di acara pertemuan pembangian saham" jelas Dona
"Benar, benar om sudah mengingat." Tutur Santoso sambil melepaskan tangannya dari Dona
"Triwijaya kamu sangat beruntung memiliki putri yang cantik dan sepintar dirinya, aku jadi merasa Irih hati terhadapmu!" Ucap Santoso dan ditanggapi langsung dari triwijaya
"Kenapa harus Irih hati, kamu bisa menjadikannya sebagai putrimu jika kamu mau" tegas triwijaya
"Apa maksudmu?" Tanya Santoso dengan wajah yang keheranan
"Santoso,, maksud aku mengundangmu kemari, itu ada hubungannya dengan putriku ini" jelas triwijaya
"Dia menyukai putramu raka, dan sebagai orangtuanya aku harus mengutamakan kebahagiaan putriku, aku berniat untuk menjalin hubungan keluarga denganmu" jelas triwijaya lagi, dengan kata lain mencoba untuk melamar Raka
Santoso terdiam dan menatap Dona yang terlihat malu saat papanya menyatakan perasaannya terhadap Raka kepada santoso.
"Aku harus bagaimana, kamu bukan yang pertama untuk mengajakku menjalin hubungan keluarga bersama, keluarga dari Irawan juga memberiku ide untuk hal yang seperti ini, dan itu aku sudah terlanjur menerima dan menyetujuinya" jelas Santoso dengan nada yang terdengar tidak bersemangat
"Triwijaya aku minta maaf, ada yang mendahului mu, putrimu sangat cantik dan elegan dan yang pastinya dia juga pintar, aku yakin tidak akan ada pria yang mampu untuk menolaknya, tapi sayang sekali, aku benar-benar menyesal wanita secantik dirinya tidak bisa aku terima karena sudah menetapkan tanggal pertunangan Raka pada Laura putri dari Irawan." Jelas Santoso dengan panjang lebar hingga membuat Dona merasa kecewa
Karena kekecewaan dona setelah mendengar penjelasan Santoso, dia pun sampai mengeluarkan air mata.
Dan melihat papanya yang juga memasang wajah kecewa di raut wajahnya
"Om aku jujur sangat menyukai dan mencintai Raka, dan aku tidak bisa hidup tanpanya" jelas Dona yang sudah tidak bisa menyembunyikan harga dirinya lagi
"Apa tidak ada cara! agar om bisa membatalkan pertunangan Raka dengan wanita itu?" Tanya dona yang membuat Santoso melihat ke arah triwijaya yang tidak bisa berkata apa-apa lagi
__ADS_1
"Sayang, kamu terlambat selangkah, seandainya kamu datang sebelum mereka, om pasti menerimamu dan akan membuatmu bertunangan dengan Raka, tapi ini sudah tidak mungkin! Om terlanjur sudah menetapkan pertunangan mereka di hari ulang tahun raka jelas Santoso sambil mengelus rambut Dona yang terlihat sangat kecewa
"Tapi om.." kata-kata Dona terhenti seketika triwijaya memegang tangannya
"Aku mengerti' ucap triwijaya sambil memegang tangan Dona saat masih ingin mengatakan sesuatu pada Santoso
"Baiklah,, aku masih banyak hal yang harus aku kerjakan," tutur Santoso sambil melihat jam yang ada di pergelangan tangannya, sambil berdiri
Dan mengulurkan tangan pada triwijaya untuk bermaksud bersalaman dengannya!
Dengan senang hati triwijaya menggapai tangan Santoso dan tersenyum manis padanya
"Terimakasih karena telah meluangkan waktu untuk bertemu dengan kami," ucap triwijaya
"Itu sama sekali tidak masalah bagiku, aku akan melakukan hal yang sama jika lain kali kamu mengundangku lagi. bertemu dengan teman lama itu hal yang membahagiakan bagiku" jelas Santoso dengan penuh maksud dari ucapannya
"Sayang om pergi dulu, jangan bersedih om yakin kamu akan mendapatkan yang jauh lebih baik daripada Raka" Tegas Santoso dan berpamitan untuk pergi
Santoso melangkahkan kakinya berjalan keluar dari dalam restoran sambil tersenyum bahagia, saat mengingat akan raut wajah triwijaya yang sedang kecewa
"Triwijaya,, salahmu karena telah mengundangku datang kemari. Mungkin kamu sudah melupakan kejadian di masa lalu, tapi tidak bagi diriku! Sekarang terima pembalasanku melalui putrimu itu" ucap Santoso dari dalam hatinya
Setelah Santoso berlalu pergi, Dona terduduk di kursi terdiam dan dengan raut wajah yang terlihat kecewa, air matanya kini sudah mengalir jatuh ke pipinya.
Triwijaya yang merasa kasihan pada putrinya, menepuk-nepuk bahunya
"Santoso benar, jangan bersedih kamu pasti akan mendapatkan yang jauh lebih baik dari raka" ucap triwijaya mencoba untuk membujuk putrinya yang tengah bersedih
"Tapi pa,, aku hanya mencintai Raka, kenapa dia harus bertunangan dengan wanita lain?" Tegas Dona
"Tidak,, aku tidak akan membiarkan itu terjadi, Dona harus melakukan sesuatu" ucapnya sambil berdiri
__ADS_1
"Apa yang ingin kamu lakukan? Dona jangan gegabah, cobalah untuk menerima kenyataan" jelas triwijaya pada Dona yang sudah menebak apa yang ada dalam pikiran putrinya itu, dia sangat mengenal akan sifat Dona yang selalu bersikap tak mau kalah dan akan merebut apa yang menurutnya harus menjadi miliknya.
Dona terus melangkahkan kakinya berjalan meninggalkan triwijaya Tampa menghiraukan kata-kata darinya