
"Kak Rendi hati-hati di jalan" ucap Shasa memperingati Rendi
Rendi mengangguk dan berjalan keluar dari kamar Tampa melihat Raka yang terus menatapnya. Kemarahan dalam hati Rendi terus dia tenangkan hingga membuatnya tidak menyadari bahwa Raka mengikutinya keluar dari kamar, di mana Shasa tengah beristirahat
"Dokter Rendi jangan mencap Shasa sebagai milik anda, untuk saat ini dia bukan milik siapa-siapa, tapi tidak lama lagi dia akan menjadi milikku, jadi aku ingatkan jangan mengganggunya lagi" jelas Raka sengaja memancing Rendi agar marah dalam hatinya itu biasa dia lampiaskan pada dirinya.
Penjelasan dari Raka yang tiba-tiba, membuat Rendi berhenti dari langkahnya dan menoleh pada Raka yang tengah berdiri di belakangnya
Rendi yang dari tadi menahan rasa amarahnya mengambil kesempatan itu untuk meninju muka Raka, melampiaskan kemarahan dalam hatinya, sampai dia puas dan rasa marahnya itu hilang.
Raka menerima pukulan dari Rendi tanpa mengatakan apapun dan tanpa melakukan pelawanan, karena dia sudah tahu itu akan terjadi, kemarahan yang ada dalam hati Rendi itu semua karena dirinya.
"Tuan,,," panggilan dari Anton Terdengar saat melihat majikannya itu terjatuh ke lantai dan sudah mengeluarkan darah dari mulutnya dan dengan cepat berjalan menghampirinya.
"Tuan anda tidak apa-apa?" tanya Anton dengan rasa cemas.
Raka berdiri dan di bantu oleh Anton yang sudah ada di dekatnya, sambil mengusap darah yang ada di mulutnya dan tersenyum pada rendi
"Dokter Rendi apa yang anda lakukan?" Tanya Anton dengan nada yang membentak.
Rendi tidak menjawab dan tidak menghiraukan imbauan dari Anton, dia hanya menatap Raka penuh dengan kebencian
"Kenapa? Kenapa tidak mengelak dan kenapa tidak membalas ku?" Tanya Rendi yang melihat Raka dengan tatapan yang keheranan, karena Raka menerima pukulan darinya dengan terlihat pasrah, padahal Raka bisa saja mengelak.
Raka tersenyum lagi.
"Untuk apa aku membalas mu? dan pukulan ini sengaja aku terima untuk sebagai balasan yang pantas aku dapatkan, karena sudah membuat Shasa berpaling darimu, jujur aku merasa bersalah padamu, dengan perasaan yang sudah kamu pendam selama ini terhadap Shasa aku hancurkan begitu saja." Jelas Raka sambil menepuk bahu Rendi.
"Ehe,, Apa kamu tidak merasa kamu sekarang begitu percaya diri," tutur Rendi sambil tersenyum
__ADS_1
"Dokter Rendi itulah kenyataannya, sekarang Shasa memilihku.
aku menghargai persaudaraanmu dengan Shasa dari itu aku merasa bersalah padamu, Dan aku sudah membuatmu melampiaskan kemarahanmu, jadi untuk kedepannya aku harap kamu tidak menggangu Shasa lagi. Dia menganggap mu hanya sekedar saudaranya saja, jadi berperilaku saja Sebagai seorang kakak yang baik, jangan membuatnya menjauhimu dengan perasaan yang kamu pendam itu" jelas Raka lagi.
"Kamu,, kamu pikir kamu siapa? Aku peringatkan padamu! setelah Shasa pergi dari sini jauhi dia," jelas Rendi yang membuat Raka hanya tersenyum melihatnya.
"Dokter Rendi jujur aku katakan, aku sangat mencintai dan menyayangi Shasa lebih dari rasa cinta pada diriku sendiri, anda sebagai orang terdekatnya yang di anggap sebagai seorang kakak darinya. dari itu aku ingin mendapat restu darimu! Biarkan kami bersama aku janji akan membuatnya bahagia dan tidak akan pernah menyakitinya" tutur Raka lagi yang membuat Amara dalam hati Rendi berkobar lagi.
"Kamu..." Rendi melangkahkan kakinya lagi maju untuk mendekat pada Raka , namun dengan sigap Anton mencegahnya
"Dokter Rendi, ini sudah larut kami bisa saja melaporkan anda jika membuat keributan lagi di rumah ini, ada baiknya anda pergi dari sini" ucap Anton memperingati Rendi
Raka tidak lagi menghiraukan Rendi yang masih menatapnya dengan penuh kemarahan, dia berjalan menuju di mana Shasa tengah beristirahat sambil sesekali menyentuh pipinya yang terasa sakit
"Aku peringatkan padamu, jangan sekali kali kamu memiliki niat untuk menyentuhnya, aku akan mematahkan tulang-tulang tanganmu itu jika kamu berani melakukannya" teriak Rendi pada Raka yang sudah membuka pintu kamar dan masuk kedalam kamar.
Anton yang di bantu oleh pembantu laki-laki lainnya, termasuk dengan sang security mencoba untuk menahan Rendi dan, agar tidak melakukan hal yang tidak di inginkan lagi, dia di dorong untuk keluar dari dalam rumah.
Anton melihat san security dan beberapa pembantu yang ada di hadapannya menundukkan kepalanya.
"Kalian semua tidak ada yang becus" ucap Anton dengan nada yang jutek, dan melangkahkan kakinya pergi dari tempat itu,
Mereka yang masih berdiri saling bertatapan
"Sudah-sudah kalian bubar, dan beristirahat dan jangan lupa obati luka kalian" tiba-tiba Surti datang dan menyuruh semuanya untuk istirahat
"Baik" ucap mereka serentak.
Raka berjalan menghampiri Shasa yang sudah tertidur pulas, dia mendekat dan duduk di tepi ranjang sambil menatapnya.
__ADS_1
Raka meraih tangan Shasa dan menggenggamnya dengan kedua tangannya, sambil menghela nafas dan tetap terus memandanginya.
Shasa membuka mata, dan melihat Raka yang menatapnya, untuk sejenak mereka saling bertatap mata.
"Ada apa?" Tanya Shasa yang tiba-tiba, membuat Raka tersentak kaget
"Shasa apa aku sudah membangunkan mu?" Tanya Raka dengan cepat setelah tersadar dari lamunannya
"Kamu memegang erat tanganku, bagaimana aku tidak terbangun?" Jelas Shasa
"Hah.." Raka dengan cepat melepaskan tangan Shasa dari genggaman tangannya.
"Aku tidak bermaksud untuk, mengganggu tidurmu! sekarang tidurlah aku akan menemanimu disini
"Tuan Raka Sekarang sudah larut, sebaiknya kamu kembali ke kamarmu dan tidur, besok kamu harus bekerja" ucap Shasa dengan lemah lembut
"Kenapa aku harus ke kamarku, aku bisa tidur disini, sambil menjagamu, aku ingin setelah terbangun bisa langsung melihatmu," tutur Raka yang mulai lagi untuk menggoda Shasa.
"Jangan berfikir yang tidak-tidak, aku tidak mengijinkan mu berada di sini"
"Aku tidak butuh ijin darimu, ini kediamanku dan kamar ini termasuk kamarku, aku bebas ingin tidur di mana saja aku mau" ucap raka yang membuat Shasa jadi kesal padanya
"Tuan Raka, jangan macam-macam denganku. Kak Rendi akan membunuhmu jika aku mengaduhkan mu padanya!" Mendengar sebutan nama Rendi dari mulut Shasa membuat Raka merasa cemburu lagi, Dengan cepat Raka menutup mulut Shasa dan menatap matanya.
"Aku sudah mendapat pukulan darinya lihat wajahku yang memar akibat tinju darinya, aku sudah mendapat hukumanku, dari apa yang ingin aku lakukan malam ini padamu, jadi tidak perlu repot-repot untuk mengadukan ku lagi" jelas Raka yang sengaja membuat Shasa takut akan tingkahnya itu
Raka mendekatkan wajahnya lebih dekat lagi pada Shasa hingga membuat jarak di antara mereka tersisa beberapa sentimeter lagi
"Raka apa yang ingin kamu lakukan?
__ADS_1
"Menurutmu apa?
Shasa selalu memundurkan kepalanya di saat Raka memajukan wajahnya, sampai akhirnya kepala Shasa sudah berada di atas bantal.